Anda di halaman 1dari 5

Dalam tulisan ini saya membahas hanya 6 variabel saja dari ekonomi makro, diantaranya adalah konsumsi, inflasi,

pertumbuhan ekonomi, investasi, kebijakan ekonomi dan tingkat pengangguran. 1. Teori Konsumsi a. Teori Keynes ( Keynesian Consumption Model ) Hubungan Pendapatan Diposable dan Konsumsi Keynes menjelaskan bahwa konsumsi saat ini (current consumption) sangat dipengaruhi oleh pendapatan diposabel saat ini (current diposable income). Jika pendapatan disposabel meningkat, maka konsumsi juga akan meningkat. Hanya saja peningkatan konsumsi tersebut tidak sebesar peningkatan pendapatan diposabel. C = Co + bYd Ket : C = konsumsi Co = konsumsi otonomus b = marginal propensity to consume (MPC) Yd = pendapatan diposable 0<b<1 Kecenderungan Mengonsumsi Marjinal Kecenderungan mengonsumsi marjinal (Marginal Propensity to Consume, disingkat MPC) adalah konsep yang memberikan gambaran tentang berapa konsumsi akan bertambah bila pendapatan disposabel bertambah satu unit. 0 < MPC < 1 Kecenderungan Mengonsumsi Rata-Rata Kecenderungan mengonsumsi rata-rata (Average Propensity to Consum, disingkat APC) adalah rasio antara konsumsi total dengan pendapatan disposabel total. Karena besarnya MPC < 1, maka APC < 1 Hubungan Konsumsi dan Tabungan Pendapatan disposabel yang diterima rumah tangga sebagian besar digunakan untuk konsumsi, sedangkan sisanya ditabung. Kita juga dapat mengatakan setiap tambahan penghasilan disposabel akan dialokasikan untuk menambah konsumsi dan tabungan. Besarnya tambahan pendapatan disposabel yang menjadi tambahan tabungan disebut kecenderungan menabung marginal (Marginal Propensity to Save/MPS). Sedangkan rasio antara tingkat tabungan dengan pendapatan disposabel disebut kecenderungan menabung rata-rata (Avarage Propensity to Save/APS) Rumus : Yd = C + S (saving) MPS = 1 - MPC APS = 1 APC b. Karl Mark Bahwa hasil produksi tidak secara langsung terkait dengan kebutuhan masyarakat. Barang produksi adalah komoditas yang mendahulukan nilai tukar daripada nilai guna. Dalam kondisi demikian, masyarakat merupakan obyek yang didorong produsen untuk mengkonsumsi. Masyarakat berada pada

subordinat produksi, di mana produsen mampu menciptakan kebutuhan masyarakat. c. Weber Pada saat kapitalisme mulai meletakkan dasar-dasarnya dengan kuat. Berikutnya Weber muncul dengan ide tentang Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme. Kritik Weber bahwa, etika Protestan bukan hanya menghabiskan barang konsumsi sebagaimana yang dilakukan masyarakatnya saat itu. Namun, pada investasi dan kerja keras. Weber tampak ingin semakin memperjelas dan memperkokoh kapitalisme dengan bentuk investasi kembali keuntungan produksi. Meskipun masyarakat kental dengan semangat Kalvinisme ini, namun perilaku konsumsi tidak berhenti. Masyarakat mulai sadar akan kesenangan berkat kemajuan industri. d. George Simmel Munculnya uang sebagai alat tukar dan munculnya perkotaan memunculkan model baru dalam mengkonsumsi. Pertumbuhan kelas sosial urban dan model konsumsi baru tersebut tidak bisa dipisahkan dari modifikasi barang konsumsi. Pertumbuhan imajinasi mengenai barang konsumsi muncul dari penilaian terhadap barang konsumsi. Puncak imajinasi itu bergantung dan berperan pada munculnya masyarakat urban yang berorientasi pada pemasaran mode (fashion) (Chaney, 2006: 55). Simmel menyimpulkan bahwa mengkonsumsi membentuk konstruksi masyarakat dan menimbulkan budaya baru masyarakat. Di sini terjadi pergeseran dari masyarakat konsumen (consumer society) menjadi budaya konsumen (consumer culture). e. Pierre Bourdieu Seorang sosiolog dari Prancis, Pierre Bourdieu, yang yang menurut buku ini mempelopori kemunculan periode sosiologi konsumsi. Bourdieu menghubungkan konsumsi dengan simbol-simbol sosial dalam masyarakat. Dalam pandangannya produk konsumsi, merupakan simbol status dan kelas sosial seseorang. Musik klasik misalnya, hanya dinikmati orang-orang tertentu (biasanya dari kelas atas). Konsumsi dibentuk oleh ide, simbol, selera, yang kemudian secara tidak langsung maupun tidak menciptakan pembedaan dalam masyarakat. Dalam konsumsi, selera, preferensi, gaya hidup, dan standar nilai ditentukan oleh kelas yang lebih superior. Kelas atas bukan hanya unggul secara ekonomi politik, namun juga budaya dengan menentukan dan melakukan hegemoni dalam pola-pola konsumsi. f. Baudrillard Pada perkembangan kapitalisme akhir, dalam teori-teori sosial muncul posmodernisme. Posmodernitas menurut Baudrillard adalah dunia yang penuh dengan simbol dan citra. Termasuk dalam konsumsi. Ketika orang mengkonsumsi, maka yang dikonsumsi sebenarnya bukan nilai barang, namun citra atas barang tersebut. Konsumsi dirayakan seiring dengan munculnya pusat perbelanjaan (super)modern, kapitalisme neoliberal, dan pasar bebas. Melihat konsumerisme sebagai logika untuk memenuhi kepuasan hasrat. Melimpahnya barang konsumsi bukan lagi karena kebutuhan masyarakat, namun lebih pada pemuasan nafsu mereka. Dalam pandangan Baudrillard, kapitalisme akhir memanfaatkan mesin hasrat tersebut untuk terus membelenggu masyarakat dalam jerat konsumerisme. Praktik-praktik konsumsi selanjutnya menjadi gaya hidup masyarakat. Konsumsi menjadi cara pandang (baru) masyarakat. Seiring dengan terus beroperasinya industri lintas negara dan tumbuhnya supermarket,

hipermarket, dan mall. Bahkan dengan strateginya yang cantik, barang konsumsi disesuaikan dengan pengalaman dan pandangan filosofis masyarakat setempat (fordisme). Munculnya strategi fordisme tersebut terus-menerus menempatkan masyarakat dalam kubangan konsumerisme. g. Featherstone Featherstone menjelaskan budaya konsumen dengan membaginya ke dalam tiga tipe Chaney, 2006: 67); pertama, konsumerisme merupakan tahap tertentu kapitalis. Kedua, konsumerisme dan konsumsi merupakan persoalan yang lebih sosiologis mengenai relasi benda-benda dan cara melukiskan status. Praktik konsumsi merupakan strategi untuk menciptakan dan membedaan status sosial. Tipe kedua dari konsumsi ini dapat kita lihat dengan munculnya komunitas pengguna barang tertentu, misalnya klub motor merk tertentu. Pandangan ini berbeda dengan pandangan Baudrillard di atas. Ketiga, Featherstone melihat munculnya kreativitas konsumsi. Kreativitas konsumsi ini terkait dengan estetikasi konsumsi yang pada perkembangan selanjutnya menciptakan mode, estetisasi bentuk, dan gaya hidup.

Teori Konsumsi

Persoalan penghasilan bulanan selalu saja habis terkonsumsi, sementara tabungan tidak bertambah, bukan hanya persoalan mereka yang bergaji kecil, tapi juga bergaji besar dan sangat besar. Jika ada dua opsi penggunaan pendapatan yaitu konsumsi dan tabungan, maka setelah semua kebutuhan konsumsi terpenuhi, sisa pendapatan akan masuk tabungan. Logis kita berpikir mereka yang berpenghasilan besar, tentu punya sisa pendapatan (tabungan) yang besar pula. Benarkah demikian? Dari setiap anda tentu punya jawaban. Boleh jadi Anda dan teman Anda punya jawaban berbeda. Ada yang jumlah tabungannya menggunung seiring meningkatnya tabungan. Ada juga yang tetap saja kehabisan uang sebelum akhir bulan, padahal, gaji saat itu sudah hampir dua kali lipat dua tahun lalu. Dan, bisa jadi dengan besar gaji yang sama, keuangan mereka yang masih single justru tertatih di paruh akhir bulan, sementara mereka yang sudah berkeluarga justru masih tenang saja. Semua itu serba mungkin.

Kenyataan seperti ini kadang tampak tidak masuk akal. Dan sepertinya banyak dari kita yang mengalami ketidak masuk akalan ini. Saya masih ingat di masa awal bekerja. Gaji yang tidak seberapa besar itu dapat saya kelola dengan baik, bahkan sempat saya sisihkan menjadi tabungan. Rupanya ini hanya berlaku pada satu dua bulan awal saja. Ketika bulan berjalan, konsumsi meningkat, selera menignkat, dan saya mulai tekor. Ketika gaji mulai naik, sempat

kodisi keuangan membaik. Tapi lagi-lagi itu hanya berlaku beberapa bulan, selanjutnya kembali terperangkap dalam ketidak berimbangan pendapatan dan pengeluaran.

Seharusnya, ketika pendapatan naik, maka tabungan juga naik. Ini baru masuk akal. Dan seperti ini pulalah prediksi teori konsumsi dari ekonom terkenal John Maynard Keynes, 1936: konsumsi akan meningkat ketika pendapatan meningkat, tetapi tidak sebanyak kenaikan pendapatan. Teori ini sangat logis, jika pendapatan meningkat Rp1 juta, maka konsumsi juga akan meningkat, tetapi hanya sebesar misal, Rp600.000,00. Sehingga tabungan meningkat Rp400.000,00.

Sekali lagi pada kenyataannya tidak semua dari kita mampu berpikir logis sebagaimana prediksi teori konsumsi tersebut. Yang banyak terjadi, ketika gaji meningkat Rp1 juta, tabungan meningkat Rp0. Apa penyebabnya? Pola konsumsi. Ketika pendapatan seseorang meningkat, sebenarnya dia sudah merencanakan dengan rapi untuk mengerem konsumsi, sehingga terbayang tabungan meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Rencana tinggal rencana, program promo dari suatu pusat perbelanjaan bisa-bisa dengan mudah mengacaukan rencana. Mumpung lagi murah, sekalian juga belanja untuk suami dan anak, sambil berjanji dalam hati setelah ini dan beberapa bulan ke depan tidak akan berbelanja lagi.

Penelitian konsumsi oleh Profesor David Laibson dari Harvard (1997) mengindikasikan bahwa perilaku seperti ini dialami banyak orang. Beliau mengistilahkan dorongan gratifikasi instan (instant gratification). Dorongan ini telah menyebabkan keputusan seseorang menjadi tidak konsisten dengan waktu (time-inconsistent). Akibat dari gratifikasi instan tadi, besar kemungkinan kawan kita yang berjanji tidak berbelanja lagi beberapa bulan ke depan tadi, saat ini tengah kembali sibuk berbelanja.

Begitulah, sepertinya memang keputusan konsumsi tidak dibuat oleh homo economicus yang ultrarasional tetapi oleh manusia yang tindakannya bisa jauh dari rasional. Oleh karena itu saya harus mengakui keberhasilgunaan cara unik teman saya agar tidak semua penghasilan bulanannya habis terkonsumsi. Beberapa waktu lalu dia mengajukan pinjaman ke sebuah bank Rp50 juta. Bukan karena beliau butuh uang atau butuh modal. Ternyata uang Rp50 juta itu didepositokan! Kini, selama dua tahun ke depan, gajinya harus dipotong Rp2,5 juta untuk membayar angsuran dan bunga. Aneh memang, meminjam uang untuk ditabung lagi. Bagi Anda yang biasa berpikir rasional, tentu mengkritik cara teman saya ini. Bunga pinjaman pasti

lebih tinggi dari bunga deposito, secara matematik cara ini tentu tidak menguntungkan, dia tombok.

Keputusan kawan saya ini tidak rasional, tetapi realistis. Dengan meminjam ke bank, maka dia dipaksa untuk konsisten membayar setiap bulan. Dengan begitu konsumsi dapat ditekan pada level terendah, dan gratifikasi instan dengan mudah tertolak karena uang di dompet memang sudah kosong. Hasilnya, dua tahun ke depan pada rekening depositonya tersimpan Rp57 juta. Butuh perjuangan mengendalikan hasrat konsumsi.

Kenapa tidak kita sisihkan saja setiap bulan Rp2,5 juta lalu kita tabung? Tentu akan lebih menguntungkan. Cara ini rasional, tetapi sering tidak realistis. Jika Anda yakin mampu konsisten, cara ini lebih menguntungkan. Masalahnya, berapa banyak dari kita yang mampu konsisten untuk ini?

Anda mungkin juga menyukai