Anda di halaman 1dari 29

TUGAS ILMU KEPERAWATAN ANAK II

IMUNISASI

Oleh : KELOMPOK I
NURUL FAUZIAH NOVA SUSANTI RAHMI DIA MELISA RAFDI ARAAFI DIAN ARMINA NOFIRA"UANA RIZAL ELFA ZULNAS MARIZA ARFIANTI 04121001 04121005 04121009 0412101 0412101! 04121021 04121025 04121029 041210 4

D#$e% &e'()'()%*

DESWITA+ S,K&

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS P-.-%*+ Se&/e'(e0 200!

"A" I PENDAHULUAN Sepanjang proses tumbuh kembang, anak memerlukan asupan gizi yang adekuat, penanaman nilai budaya dan agama, pembiasaan disiplin yang konsisten, dan upaya pencegahan penyakit. Salah satu upaya pencegahan penyakit yaitu melalui pemberian imunisasi. Pemahaman tentang imunisasi diperlukan sebagai dasar dalam memberikan asuhan keperawatan terutama pada anak sehat dan implikasi konsep imunisasi pada saat merawat anak sakit khususnya pada kasus tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak, dan hepatitis (PD3 !. Dalam "# bulan pertama usianya, anak sudah harus menerima imunisasi tak kurang dari "$ kali. %enyataannya masih kalah banyak dengan anak&anak di 'merika yang memperoleh lebih dari () kali selama periode usia yang sama. Penyakit infeksi dan kurang gizi masih termasuk penyebab kematian balita di ndonesia, sehingga 'ngka %ematian *ayi ('%*! masih tinggi atau $( per ".))) kelahiran hidup setahun saat ini. Demikian kata spesialis anak +S'* ,arapan %ita -akarta dr Srikusumo 'mdani. .sai simposium nfeksi Penyebab %ematian pada 'nak *alita Sabtu, di -akarta, seperti dilaporkan 'ntara, Srikusumo mengatakan '%* di ndonesia tertinggi dibandingkan dengan negara 'S/'0 seperti 1alaysia, Singapura, 2ilipina, dan 3hailand. 0amun begitu, '%* di ndonesia sebesar $( itu telah menurun jauh dibandingkan pada "45) yang mencapai "6$ berkat program imunisasi dari pemerintah kepada balita secara gratis di Puskesmas sejak "455. Program imunisasi itu meliputi *78 (antituberkulosis!, tetanus, polio, campak, dipteri (antiinfeksi saluran pernapasan!, pertusis (antibatuk rejan!, dan ,epatitis *, selain didukung pemberian gizi cukup seperti air susu ibu, makanan ber9itamin, maupun buah&buahan.

%edua aspek imunisasi dan gizi yang cukup merupakan suatu keharusan bagi orang tua dalam menyiapkan anak&anak mereka agar tumbuh sehat dan cerdas, sehingga memiliki SD1 yang tinggi. Sementara itu, spesialis anak dr *udi Purnomo mengatakan imunisasi menjadi salah satu faktor yang sangat penting bagi para ibu untuk menjaga agar bayi dan balitanya tetap dalam kondisi sehat dan terlindungi dari berbagai macam penyakit. Dalam hal imunisasi saat ini telah diperkenalkan imunisasi kombinasi yang menggabungkan 9aksin untuk beberapa penyakit, sehingga lebih praktis, ekonomis, dan mempersingkat kunjungan ke dokter. Sebagai contoh, orang tua kini bisa mempersingkat jadwal imunisasi anak, yakni jika biasanya bayi harus diimunisasi tiga kali untuk 9aksin DP3 (dipteri, pertusis, tetanus! dan tiga kali untuk ,epatitis * (,*!, maka 9aksin kombinasi DP3& ,* dapat mempersingkat. munisasi telah diakui oleh dunia secara global telah berhasil menurunkan berbagai infeksi, seperti difteria, batuk rejan, tetanus, campak, hepatitis *, meningitis dan pneumonia yang disebabkan oleh Haemophillus influenzae tipe * (,ib!: malahan penyakit cacar (variola! telah musnah dari muka bumi akibat semua orang telah dicacar. ,arapan terbuka lebar dalam waktu dekat penyakit poliomielitis akan tidak dapat dijumpai lagi di seluruh dunia. 8erakan pemberian imunisasi secara berkala, telah menurunkan jumlah kematian akibat campak dari #5".))) kematian pada tahun "444 dan menjadi 36).))) kematian pada tahun ())6. Pada makalah ini akan diuraikan tentang konsep imunisasi, pentingnya imunisasi bagi kesehatan anak, cara dan waktu pemberian imunisasi, penyimpanan 9aksin.

"A" II ISI 2,1 2,1,1 KONSEP DASAR IMUNISASI Pe%*e0/)-% munisasi adalah suatu proses untuk membuat sistem pertahanan tubuh kebal terhadap in9asi mikroorganisme (bakteri dan 9irus! yang dapat menyebabkan infeksi sebelum mikroorganisme tersebut memiliki kesempatan untuk menyerang tubuh kita. Dengan imunisasi, tubuh kita akan terlindung dari infeksi begitu pula orang lain karena tidak tertular dari kita. ;leh karena itu, imunisasi harus dilakukan oleh semua orang (pengecualian pada kelompok orang dengan keadaan&keadaan tertentu, red! agar pada akhirnya nanti infeksi dapat musnah dari muka bumi. munisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. munisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. 7ontohnya adalah imunisasi polio atau campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. 7ontohnya adalah penyuntikan '3S ('nti 3etanus Serum! pada orang yang mengalami luka kecelakaan. 7ontoh lain adalah yang terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah placenta selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap campak. 2,1,2 Me1-%)$'e I'2%)$-$) D-l-' P0#$e$ Pe%3e*-h-% Pe%4-1)/ munisasi bekerja dengan cara merangsang pembentukan antibodi terhadap mikroorganisme tertentu tanpa menyebabkan seseorang sakit terlebih dahulu. <aksin, zat yang digunakan untuk membentuk imunitas tubuh, terbuat dari mikroorganisme ataupun bagian dari mikroorganisme penyebab infeksi yang telah dimatikan atau dilemahkan, sehingga tidak akan membuat penderita jatuh sakit. <aksin kemudian dimasukkan ke dalam tubuh yang biasanya melalui suntikan.

Sistem pertahanan tubuh kemudian akan bereaksi terhadap 9aksin yang dimasukan ke dalam tubuh tersebut sama seperti apabila mikroorganisme menyerang tubuh dengan cara membentuk antibodi. 'ntibodi kemudian akan membunuh 9aksin tersebut layaknya membunuh mikroorganisme yang menyerang tubuh. %emudian antibodi akan terus berada di peredaran darah membentuk imunitas. %etika suatu saat tubuh diserang oleh mikororganisme yang sama dengan yang terdapat di dalam 9aksin, maka antibodi akan melindungi tubuh dan mencegah terjadinya infeksi. 2,1, Pe%4-1)/ 4-%* D-&-/ D)3e*-h .e%*-% I'2%)$-$) ,ingga saat ini terdapat ") jenis 9aksinasi yang dapat mencegah terjadinya infeksi pada anak, yaitu: polio, campak, gondongan, rubella (campak -erman!, difteria, tetanus, batuk rejan (pertusis!, meningitis, cacar air, dan hepatitis *. Sedangkan terdapat 3 jenis 9aksinasi yang dapat diberikan pada kelompok anak&anak ataupun dewasa dengan risiko tinggi menderita infeksi, yaitu: hepatitis ', flu (influenza!, pneumonia. 2,1,4 A1)(-/ T).-1 D) I'2%)$-$)

Secara garis besar, ada ( kemungkinan: Pertama, jika anak tidak pernah terpapar dengan mikroorganisme penyebab infeksi, maka tidak akan terjadi apa&apa, anak akan tumbuh sehat. Kedua, jika anak terpapar dengan mikroorganisme penyebab infeksi, kemungkinan anak akan menderita penyakit atau tidak, tergantung bagaimana kekebalan tubuhnya apakah dapat melawan mikroorganisme tersebut atau tidak. 'nak dapat sakit ringan saja dan hanya perlu beristirahat di rumah, ataupun gejalanya cukup berat hingga harus dirawat di rumah sakit, ataupun dapat berakibat fatal hingga menyebabkan kematian. Selain itu, dengan =membawa> mikrooragisme dalam tubuhnya, ia dapat menularkan penyakit ke orang lain di sekitarnya yang juga tidak memiliki perlindungan terhadap mikroorganisme tersebut dan pada akhirnya dapat menimbulkan epidemi dengan begitu banyak penderita yang sakit hingga meninggal.

2,1,5

Pe%/)%*%4- V-1$)%-$) D)%) &-.- A%-1 <aksin diberikan pada usia sangat dini karena penyakit&penyakit yang dapat

dicegah dengan pemberian 9aksinasi biasanya menyerang anak pada awal kehidupannya ataupun memberikan gejala yang berat, menimbulkan berbagai komplikasi, hingga mengancam jiwa jika diderita anak&anak tersebut. ?aktu pemberian 9aksinasi juga disesuaikan dengan pola penyakit yang biasanya menyerang anak pada usia tertentu, sehingga imunisasi akan melindungi anak lebih awal sebelum penyakit tersebut memiliki kesempatan menyerang tubuh anak. 2,1,5 "21/) 1e(e0h-$)l-% I'2%)$-$) Pada tahun "455, setelah berkampanye selama " dekade, melibatkan 33 negara, cacar berhasil dieradikasi di seluruh dunia. Polio yang disebabkan oleh 9irus liar telah berhasil dieradikasi di belahan dunia *arat: tingkat 9aksinasi anak&anak di 'merika Serikat selalu tinggi: dan penyakit serta kematian akibat difteri, pertusis, tetanus, campak, gondongan (mumps!, rubela, dan ,i* rendah. ;rganisasi %esehatan Sedunia atau ?orld ,ealth ;rganization (?,;! mengumumkan keberhasilan ") tahun program pemberantasan cacar pada tahun "454. 7acar merupakan penyakit yang cepat berkembang selama berabad&abad, yang telah menyebabkan kematian dari 3)@ penderitanya. Penderita yang sembuh mengalami bekas luka yang merusak wajah dan kebutaan diakibatkan adanya kerusakan kornea. 2,1,! Pe'-h-'-% 4-%* S-l-h Te0h-.-& I'2%)$-$) Saat ini banyak orangtua yang enggan melakukankan imunisasi karena berbagai informasi yang beredar di masyarakat mengenai efek samping 9aksinasi yang dapat terjadi, misalnya 9aksinasi 11+ menyebabkan autisme, beberapa 9aksinasi menyebabkan sindroma kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome!, kadar thimerosal (zat pengawet! yang terdapat dalam 9aksin begitu tinggi sehingga bisa menyebabkan keracunan merkuri, dan lain sebagainya. nformasi&informasi tersebut menyebabkan terjadinya penurunan drastis dalam jumlah bayi&bayi yang mendapatkan imunisasi dan secara langsung menyebabkan jumlah penderita infeksi kembali meningkat. 3ernyata pendapat&pendapat tersebut tidak didasarkan pada bukti&bukti ilmiah, hanya berupa dugaan belaka.

*erbagai penelitian yang telah dilakukan tidak menemukan hubungan secara langsung kejadian&kejadian tersebut dengan pemberian 9aksinasi. Selain itu, berbagai teknologi terus dikembangkan untuk membuat 9aksin yang lebih aman dan tidak menimbulkan efek samping. Sekali lagi harus diingat bahwa setiap tindakan yang dilakukan manusia selalu ada risikonya namun janganlah hanya mengkhawatirkankan risiko yang mungkin terjadi dari suatu tindakan yang akan dilakukan tanpa mempertimbangkan manfaat yang akan didapat. -elas&jelas manfaat pemberian imunisasi jauh lebih besar dari kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi. 3ernyata, begitu banyak manfaat yang didapat dari pemberian imunisasi. munisasi merupakan tanda cinta dan perwujudan rasa tanggung jawab untuk melindungi anak. %arena itu, tidak ada lagi keragu&raguan untuk tidak memberikan imunisasi. munisasi tidak hanya melindungi indi9idu dari serangan penyakit, tapi juga melindungi komunitasA .ntuk itu ajaklah anak tetangga, anak tukang kebun, anak pak hansip, dan semua anak&anak yang belum mendapatkan 9aksinasi untuk segera melakukan imunisasi. <aksinasi, atau imunisasi, adalah suntikan yang merangsang ketahanan tubuh kita terhadap infeksi tertentu. 1isalnya, sebagian besar orang diimunisasi terhadap beberapa infeksi waktu bayi. Dibutuhkan beberapa minggu setelah disuntik sehingga sistem kekebalan tubuh bereaksi pada 9aksin yang disuntikkan. Sebagian besar 9aksin dipakai unjtuk mencegah infeksi. 3etapi, beberapa yang lain membantu tubuh kita untuk melawan infeksi yang sudah ada. <aksin ini disebut B9aksin terapeutik.C 'da beberapa 9aksin terapeutik sedang ditelitikan dan diuji coba terhadap , <. <aksin BhidupC memakai bentuk kuman yang dilemahkan. <aksin jenis ini dapat menimbulkan penyakit yang ringan, kemudian sistem kekebalan mengambil alih untuk mencegah terhadap penyakit yang parah. <aksin lain yang BdinonaktifkanC (inactivated! tidak memakai kuman yang hidup. Dengan 9aksin jenis ini, kita tidak mengalami penyakit, tetapi tubuh kita masih dapat membentuk keamanannya. <aksin dapat menimbulkan efek samping. Dengan 9aksin hidup, kita mungkin mengalami penyakit yang ringan. *ahkan dengan 9aksin yang dinonaktifkan, sistem kekebalan kita akan bereaksi. %ita mungkin mengalami kesakitan, kemerahan, dan

bengkak di tempat yang disuntik. %ita juga mungkin merasa lemas, kelelahan, atau mual selama satu&dua hari 2,1,6 Ke-'-%-% V-1$)%-$) Suntikan 9aksinasi sangat aman, tapi tidak selalu "))@. Seperti obat&obatan lainnya 9aksinasi dapat menyebabkan beberapa reaksi yang biasanya ringan seperti nyeri lengan pada tempat suntikan dan demam dengan suhu tidak terlalu tinggi. 0amun, reaksi yang berat dapat terjadi, tapi sangat jarang sekali (" diantara " juta suntikan!, misalnya reaksi alergi yang begitu hebat terhadap komponen zat&zat yang terdapat dalam 9aksin. 1eskipun begitu, yang harus selalu diingat adalah menderita penyakit& penyakit yang dapat dicegah jauh lebih berbahaya daripada kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi akibat suntikan 9aksinasi. 2,1,9 "e%-01-h T)'e0#$-l -1)(-/1-% -2/)$'e7 3elah beredar kabar dengan luas bahwa zat pengawet yang mengandung merkuri dalam 9aksin yaitu timerosal dapat menyebabkan penyakit autisme. Situasi ini semakin berkembang karena sampai sekarang beberapa 9aksin masih mengandung timerosal, zat pengawet yang mengandung merkuri yang tidak digunakan lagi. 'da beberapa alasan mengapa kecemasan mengenai timerosal dalam 9aksin sebenarnya merupakan informasi yang menyesatkanD

-umlah merkuri yang terkandung sangat kecil. 3idak ada hubungan merkuri dan autisme yang terbukti. 3idak ada alasan yang masuk akal untuk mempercayai bahwa autisme terjadi karena sebab keracunan. 3imerosal telah digunakan sebagai pengawet pada makhluk hidup dan 9aksin

sejak tahun "43) karena dapat mencegah kontaminasi bakteri dan jamur, terutama pada tabung yang digunakan untuk beberapa kali pemakaian. Pada tahun "444, 2D' (2ood and Drug 'dministration! memeriksa catatan bahwa dengan bertambahnya jumlah 9aksin yang dianjurkan pada bayi, jumlah total merkuri pada 9aksin yang mengandung timerosal dapat melebihi batas yang dianjurkan oleh badan pengawas lain.

-umlah merkuri yang ditentukan oleh 2D' memiliki batas aman yang lebar, dan belum ada informasi mengenai bayi yang sakit akibatnya. 1eski demikian untuk berhati&hati, US Public Health Service dan The American Academy of Pediatrics meminta dokter untuk meminimalkan paparan terhadap 9aksin yang mengandung timerosal dan kepada perusahaan pembuat 9aksin untuk menghilangkan timerosal dari 9aksin sesegera mungkin. Pada pertengahan ())) 9aksin hepatitis * dan meningitis bakterial yang bebas timerosal tersedia luas. %ombinasi 9aksin difteri, pertusis, dan tetanus sekarang juga tersedia tanpa timerosal. <aksin 11+, cacar air, polio inaktif, dan konjugasi pneumokok tidak pernah mengandung timerosal. Pusat pengawasan dan pencegahan penyakit (7D7! telah membandingkan angka kejadian autisme dengan jumlah timerosal yang ada dalam 9aksin. ,asil menunjukkan bahwa tidak ada perubahan relatif angka kejadian antara autisme dengan jumlah timerosal yang diterima anak dalam E bulan pertama kehidupan (dari )&"E) mikrogram!. ,ubungan yang lemah ditemukan antara asupan timerosal dan beberapa kelainan pertumbuhan saraf (seperti gangguan pemusatan perhatian! pada satu penelitian saja, namun tidak terbukti pada penelitian selanjutnya (6!. Penelitian lain yang direncanakan sepertinya juga tidak akan menunjukkan hubungan bermakna. %omite Intitute of Medicine ( ;1! yang telah menyebarkan luaskan laporannya pada bulan ;ktober ())" menemukan tidak ada bukti hubungan antara 9aksin yang mengandung timerosal dan autisme, gangguan pemusatan perhatian, keterlambatan bicara dan bahasa, atau kelainan perkembangan saraf lainnya. 2,1,10 "-*-)'-%- 'e%.-&-/ h-$)l 4-%* /e0(-)1 )'2%)$-$)7 munisasi anak sedini mungkin. Setelah anak lahir, segera tanyakan atau mintalah jadwal imunisasi dari +umah Sakit, dokter atau bidan. -angan tunggu anak bisa jalan, sudah bisa makan, atau sudah umur setahun untuk diimunisasi.

munisasi

tepat

waktu.

Supaya

anak

bisa

diimunisasi

tepat

pada

waktunyamintalah jadwal imunisasi tanyakan dan catat jenisnya imunisasi setelah anak diimunisasi, tanyakan jadwal dan jenis imunisasi berikutnya. 2,1,11 K#%/0-)%.)1-$) I'2%)$-$) Seperti dikatakan di atas, 9aksinasi pada umumnya adalah aman dan manfaat imunisasi jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan komplikasi yang mungkin terjadi, namun ada beberapa keadaan khusus yang membuat anak&anak atau dewasa tidak boleh atau menunda diimunisasi. %eadaan ini kita sebut kontra indikasi. %ontra indikasi imunisasi adalahD Secara umum berla!u untu! semua va!sin"#

alergi terhadap 9aksin (setelah 9aksinasi pertama timbul reaksi alergi, bahkan sampai syok!, alergi terhadap zat lain yang terdapat di dalam 9aksin (antibiotika yang terdapat di dalam 9aksin, pengawet, dll!, sakit sedang atau berat, dengan atau tanpa demam (sakit akut ringan dengan atau tanpa demam bukan indikasi kontra imunisasi!

Secara !husus untu! beberapa va!sin"

munodefisiensi (keganasan darah atau tumor padat, imunodefisiensi kongenital, terapi dengan obat&obatan yang menurunkan daya tahan tubuh seperti kortikosteroid (prednisone, metal prednisolon! jangka panjang.&&F imunisasi polio oral, 11+, 9arisela

nfeksi , < (polio oral dan 9arisela! atau kontak , < serumah (polio oral! munodefisiensi (gangguan kekebalan tubuh! penghuni rumah G polio oral %ehamilan &F 11+, <arisela (tapi bila ibunya yang hamil, tidak apa&apa bila anaknya diimunisasi!

2,1,12 K-&-% I'2%)$-$) H-02$ D)l-121-%7 Seorang anak harus mendapatkan suntikan pertama sebelum berumur ( bulan dan kemudian mendapatkan 6 atau lebih suntikan berikutnya sebelum berusia ( tahun. *eberapa 9aksinasi harus dilakukan suntikan booster (suntikan penguat! pada tahun& tahun berikutnya hingga anak belajar di sekolah dasar.

2,1,1

A&- 4-%* h-02$ .)l-121-% 8)1- $e#0-%* -%-1 /e0l-'(-/ 'e%.-&-/1-% -ika anak belum mendapatkan imunisasi sama sekali, segeralah rencanakan

)'2%)$-$)7 untuk memulai pemberian imunisasi. 3enaga medis akan memberikan 9aksinasi sesuai umur anak saat ini, yang jadwalnya biasanya berbeda dengan jadwal anak yang mendapat imunisasi sesuai dengan ketentuan umur. Pemberian yang terlambat tidak akan mengurangi efekti9itas 9aksinasi untuk membentuk imunitas tubuh, hanya saja anak tidak mendapatkan perlindungan terhadap penyakit infeksi sedini mungkin. *egitu pula apabila anak tidak lengkap mendapatkan 9aksinasi, segeralah lengkapi sesuai jadwal tanpa harus memulainya dari awal lagi. Sebenarnya, imunisasi di ndonesia secara teratur dimulai sejak tahun "4$E sehingga ndonesia dinyatakan bebas cacar oleh ;rganisasi %esehatan Dunia (?,;! pada tahun "456. 3ahun "455 ?,; memulai program imunisasi yang di ndonesia disebut Program Pengembangan munisasi (PP !. Pemerintah sebenarnya tidak mewajibkan berbagai jenis imunisasi harus dilakukan semua. ,anya lima jenis imunisasi pada anak di bawah satu tahun yang harus dilakukan, yakni *78 (bacillus calmette&guerin!, DP3 (difteri pertusis tetanus!, polio, campak, dan hepatitis *. 2,2 9ENIS IMUNISASI DASAR+ :ARA+ TEMPAT DAN 9ADWAL PEM"ERIAN, munisasi *78 dilakukan sekali pada bayi usia )&"" bulan, lalu DP3 diberikan tiga kali pada bayi usia (&"" bulan dengan inter9al minimal empat minggu. munisasi polio diberikan empat kali pada bayi )&"" bulan dengan inter9al minimal empat minggu. Sedangkan campak diberikan satu kali pada bayi usai 4&"" bulan. 3erakhir, imunisasi hepatitis * harus diberikan tiga kali pada bayi usia "&"" bulan, dengan inter9al minimal empat minggu. -ika ingin lebih teliti lagi, masih ada imunisasi yang harus dilakukan, yakni imunisasi tetanus toHoid (33!. -enis imunisasi ini minimal dilakukan lima kali seumur hidup untuk mendapatkan kekebalan penuh. 33" (dengan perlindungan tiga tahun!. munisasi 33 yang pertama bisa dilakukan kapan saja, misalnya sewaktu remaja. Ialu 33( dilakukan sebulan setelah

3ahap

berikutnya

adalah

333,

dilakukan

enam

bulan

setelah

33( (perlindungan enam tahun!, kemudian 336 diberikan satu tahun setelah 333 (perlindungan ") tahun!, dan 33$ diberikan setahun setelah 336 (perlindungan ($ tahun!. ;leh karena imunisasi 33 ini kerap diabaikan, pemerintah biasanya menganjurkan imunisasi 33 dilakukan pada calon suami&istri sebagai kelengkapan mendapatkan surat nikah. munisasi ini sangat berguna untuk melindungi bayi yang nantinya akan dilahirkan. Setelah mendapatkan suntikan pertama menjelang pernikahan, imunisasi 33 tetap dilanjutkan hingga lima kali. nilah $ jenis imunisasi yang wajib diperoleh bayi sebelum usia setahun. Penyakit&penyakit yang hendak dicekalnya memiliki angka kesakitan dan kematian yang tinggi, selain bisa menimbulkan kecacatan. 1. IMUNISASI BCG %etahanan terhadap penyakit 3* (3uberkulosis! berkaitan dengan keberadaan 9irus tubercle bacili yang hidup di dalam darah. tulah mengapa, agar memiliki kekebalan aktif, dimasukkanlah jenis basil tak berbahaya ini ke dalam tubuh, yaitu 9aksinasi *78 ($acillus %almette&'uerin!. Seperti diketahui, ndonesia termasuk negara endemis 3* (penyakit 3* terus&menerus ada sepanjang tahun! dan merupakan salah satu negara dengan penderita 3* tertinggi di dunia. 3* disebabkan kuman Mycrobacterium tuberculosis, dan mudah sekali menular melalui droplet, yaitu butiran air di udara yang terbawa keluar saat penderita batuk, bernapas ataupun bersin. 8ejalanya antara lainD berat badan anak susah bertambah, sulit makan, mudah sakit, batuk berulang, demam dan berkeringat di malam hari, juga diare persisten. 1asa inkubasi 3* rata&rata berlangsung antara #&"( minggu. .ntuk mendiagnosis anak terkena 3* atau tidak, perlu dilakukan tes rontgen untuk mengetahui adanya 9lek, tes Mantou( untuk mendeteksi peningkatan kadar sel darah putih, dan tes darah untuk mengetahui ada&tidak gangguan laju endap darah. *ahkan, dokter pun perlu melakukan wawancara untuk mengetahui, apakah si kecil pernah atau tidak, berkontak dengan penderita 3*.

-ika anak positif terkena 3*, dokter akan memberikan obat antibiotik khusus 3* yang harus diminum dalam jangka panjang, minimal E bulan. Iama pengobatan tak bisa diperpendek karena bakteri 3* tergolong sulit mati dan sebagian ada yang JtidurJ. %arenanya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Selain menghindari anak berkontak dengan penderita 3*, juga meningkatkan daya tahan tubuhnya yang salah satunya melalui pemberian imunisasi *78. K 92'l-h Pe'(e0)-%: 7ukup " kali saja, tak perlu diulang (booster!. Sebab, 9aksin *78 berisi kuman hidup sehingga antibodi yang dihasilkannya tinggi terus. *erbeda dengan 9aksin berisi kuman mati, hingga memerlukan pengulangan. K U$)- Pe'(e0)-%: Di bawah ( bulan. -ika baru diberikan setelah usia ( bulan, disarankan tes Mantou( (tuberkulin! dahulu untuk mengetahui apakah si bayi sudah kemasukan kuman Mycobacterium tuberculosis atau belum. <aksinasi dilakukan bila hasil tesnya negatif. -ika ada penderita 3* yang tinggal serumah atau sering bertandang ke rumah, segera setelah lahir si kecil diimunisasi *78 K L#1-$) Pe%42%/)1-%: Iengan kanan atas, sesuai anjuran ?,;. 1eski ada juga petugas medis yang melakukan penyuntikan di paha.

K E;e1 S-'&)%*:

.mumnya tidak ada. 0amun pada beberapa anak timbul pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak atau leher bagian bawah (atau di selangkangan bila penyuntikan dilakukan di paha!. *iasanya akan sembuh sendiri.

K T-%.- Ke(e0h-$)l-%: 1uncul bisul kecil dan bernanah di daerah bekas suntikan setelah 6&E minggu. 3idak menimbulkan nyeri dan tak diiringi panas. *isul akan sembuh sendiri dan meninggalkan luka parut. -ikapun bisul tak muncul, tak usah cemas. *isa saja dikarenakan cara penyuntikan yang salah, mengingat cara menyuntikkannya perlu keahlian khusus karena 9aksin harus masuk ke dalam kulit. 'palagi bila dilakukan di paha, proses menyuntikkannya lebih sulit karena lapisan lemak di bawah kulit paha umumnya lebih tebal. -adi, meski bisul tak muncul, antibodi tetap terbentuk, hanya saja dalam kadar rendah. munisasi pun tak perlu diulang, karena di daerah endemis 3*, infeksi alamiah akan selalu ada. Dengan kata lain, anak akan mendapat 9aksinasi alamiah. K I%.)1-$) K#%/0-: 3ak dapat diberikan pada anak yang berpenyakit 3* atau menunjukkan Mantou( positif. 2. IMUNISASI HEPATITIS B Iebih dari ")) negara memasukkan 9aksinasi ini dalam program nasionalnya. 'palagi ndonesia yang termasuk negara endemis tinggi penyakit hepatitis. -ika menyerang anak, penyakit yang disebabkan 9irus ini sulit disembuhkan. *ila sejak lahir telah terinfeksi 9irus hepatitis * (<,*!, dapat menyebabkan kelainan&kelainan yang dibawanya terus hingga dewasa. Sangat mungkin terjadi sirosis atau pengerutan hati (kerusakan sel hati yang berat!. *ahkan yang lebih buruk bisa mengakibatkan kanker hati. *anyak jalan masuknya <,* ke tubuh si kecil. Lang potensial melalui jalan lahir. *isa sejak dalam kandungan sudah tertular dari ibu yang mengidap hepatitis * atau saat proses kelahiran. 7ara lain melalui kontak dengan darah penderita, semisal transfusi darah. *isa juga melalui alat&alat medis yang sebelumnya telah

terkontaminasi darah dari penderita hepatitis *, seperti jarum suntik yang tidak steril atau peralatan yang ada di klinik gigi. *ahkan juga lewat sikat gigi atau sisir rambut yang digunakan antar anggota keluarga. 1alangnya, tak ada gejala khas yang tampak secara kasat mata. *ahkan oleh dokter sekalipun. 2ungsi hati kadang tak terganggu meski sudah mengalami sirosis. 3idak cuma itu. 'nak juga terlihat sehat, nafsu makannya baik, berat tubuhnya pun naik dengan bagus pula. Penyakitnya baru ketahuan setelah dilakukan pemeriksaan darah. 8ejala baru tampak begitu hati si penderita tak mampu lagi mempertahankan metabolisme tubuhnya. .paya pencegahan adalah langkah terbaik. -ika ada salah satu anggota keluarga dicurigai kena <,*, biasanya dilakukan screenin) terhadap anak&anaknya untuk mengetahui apakah membawa 9irus atau tidak. Pemeriksaan harus dilakukan kendati anak tak menunjukkan gejala sakit apa pun. Selain itu, imunisasi merupakan langkah efektif untuk mencegah masuknya <,*. K 92'l-h Pe'(e0)-%: Sebanyak 3 kali, dengan inter9al " bulan antara suntikan pertama dan kedua, kemudian $ bulan antara suntikan kedua dan ketiga. K U$)- Pe'(e0)-%: Sekurang&kurangnya "( jam setelah lahir. Dengan syarat, kondisi bayi stabil, tak ada gangguan pada paru&paru dan jantung. Dilanjutkan pada usia " bulan, dan usia antara 3&E bulan. %husus bayi yang lahir dari ibu pengidap <,*, selain imunisasi yang dilakukan kurang dari "( jam setelah lahir, juga diberikan imunisasi tambahan dengan imunoglobulin antihepatitis * dalam waktu sebelum berusia (6 jam.

K L#1-$) Pe%42%/)1-%: Pada anak di lengan dengan cara intramuskuler. Sedangkan pada bayi di paha lewat anterolateral (antero M otot&otot di bagian depan: lateral M otot bagian luar!. Penyuntikan di bokong tak dianjurkan karena bisa mengurangi efekti9itas 9aksin.

K E;e1 S-'&)%*: .mumnya tak terjadi. -ikapun ada (kasusnya sangat jarang!, berupa keluhan nyeri pada bekas suntikan, yang disusul demam ringan dan pembengkakan. 0amun reaksi ini akan menghilang dalam waktu dua hari K T-%.- Ke(e0h-$)l-%: 3ak ada tanda klinis yang dapat dijadikan patokan. 0amun dapat dilakukan pengukuran keberhasilan melalui pemeriksaan darah dengan mengecek kadar hepatitis *&nya setelah anak berusia setahun. *ila kadarnya di atas "))), berarti daya tahannya # tahun: di atas $)), tahan $ tahun: di atas ()), tahan 3 tahun. 3etapi kalau angkanya cuma ")), maka dalam setahun akan hilang. Sementara bila angkanya nol berarti si bayi harus disuntik ulang 3 kali lagi. K T)%*1-/ Ke1e(-l-%: 7ukup tinggi, antara 46&4E@. .mumnya, setelah 3 kali suntikan, lebih dari 4$@ bayi mengalami respons imun yang cukup. K I%.)1-$) K#%/0-: 3ak dapat diberikan pada anak yang menderita sakit berat

3. IMUNISASI POLIO *elum ada pengobatan efektif untuk membasmi polio. Penyakit yang dapat menyebabkan kelumpuhan ini, disebabkan 9irus poliomyelitis yang sangat menular. Penularannya bisa lewat makananNminuman yang tercemar 9irus polio. *isa juga lewat percikan ludahNair liur penderita polio yang masuk ke mulut orang sehat. <irus polio berkembang biak dalam tenggorokan dan saluran pencernaan atau usus, lalu masuk ke aliran darah dan akhirnya ke sumsum tulang belakang hingga bisa menyebabkan kelumpuhan otot tangan dan kaki. *ila mengenai otot pernapasan, penderita akan kesulitan bernapas dan bisa meninggal. 1asa inkubasi 9irus antara E&") hari. Setelah demam (&$ hari, umumnya akan mengalami kelumpuhan mendadak pada salah satu anggota gerak. 0amun tak semua orang yang terkena 9irus polio akan mengalami kelumpuhan, tergantung keganasan 9irus polio yang menyerang dan daya tahan tubuh si anak. 0ah, imunisasi polio akan memberikan kekebalan terhadap serangan 9irus polio. K 92'l-h Pe'(e0)-%: *isa lebih dari jadwal yang telah ditentukan, mengingat adanya imunisasi polio massal. 0amun jumlah yang berlebihan ini tak akan berdampak buruk. ngat, tak ada istilah o9erdosis dalam imunisasiA K U$)- Pe'(e0)-%: Saat lahir () bulan!, dan berikutnya di usia (, 6, E bulan. Dilanjutkan pada usia "# bulan dan $ tahun. %ecuali saat lahir, pemberian 9aksin polio selalu dibarengi dengan 9aksin D3P. K :-0- Pe'(e0)-%: *isa lewat suntikan ( nacti9ated Poliomyelitis <accineN P<!, atau lewat mulut (;ral Poliomyelitis adalah ;P<. <accineN;P<!. Di tanah air, yang digunakan

K E;e1 S-'&)%*: ,ampir tak ada. ,anya sebagian kecil saja yang mengalami pusing, diare ringan, dan sakit otot. %asusnya pun sangat jarang. K T)%*1-/ Ke1e(-l-%: Dapat mencekal hingga 4)@. K I%.)1-$) K#%/0-: 3ak dapat diberikan pada anak yang menderita penyakit akut atau demam tinggi (di atas 3#)7!: muntah atau diare: penyakit kanker atau keganasan: , <N' DS: sedang menjalani pengobatan steroid dan pengobatan radiasi umum: serta anak dengan mekanisme kekebalan terganggu

4. IMUNISASI DTP Dengan pemberian imunisasi D3P, diharapkan penyakit difteri, tetanus, dan pertusis, menyingkir jauh dari tubuh si kecil. %ekebalan segera muncul seusai diimunisasi. K U$)- < 92'l-h Pe'(e0)-%: Sebanyak $ kali: 3 kali di usia bayi ((, 6, E bulan!, " kali di usia "# bulan, dan " kali di usia $ tahun. Selanjutnya di usia "( tahun, diberikan imunisasi 33 K E;e1 S-'&)%*: .mumnya muncul demam yang dapat diatasi dengan obat penurun panas. -ika demamnya tinggi dan tak kunjung reda setelah ( hari, segera bawa si

kecil ke dokter. 0amun jika demam tak muncul, bukan berarti imunisasinya gagal, bisa saja karena kualitas 9aksinnya jelek, misal. .ntuk anak yang memiliki riwayat kejang demam, imunisasi D3P tetap aman. %ejang demam tak membahayakan, karena si kecil mengalami kejang hanya ketika demam dan tak akan mengalami kejang lagi setelah demamnya hilang. -ikapun orangtua tetap khawatir, si kecil dapat diberikan 9aksin D3P asesular yang tak menimbulkan demam. %alaupun terjadi demam, umumnya sangat ringan, hanya sekadar sumen). K I%.)1-$) K#%/0-: 3ak dapat diberikan kepada mereka yang kejangnya disebabkan suatu penyakit seperti epilepsi, menderita kelainan saraf yang betul&betul berat atau habis dirawat karena infeksi otak, dan yang alergi terhadap D3P. 1ereka hanya boleh menerima 9aksin D3 tanpa P karena antigen P inilah yang menyebabkan panas Pe%4-1)/ DTP 4-%* "ER"AHA=A 1. Difteri Penyakit yang disebabkan kuman %orynebacterium diphtheriae ini, gejalanya mirip radang tenggorokan, yaitu batuk, suara serak, dan tenggorokan sakit. 0amun, difteri tak disertai panas sebagaimana yang terjadi pada radang tenggorokan. 8ejala lain difteri adalah kesulitan bernapas (leher seperti tercekik dan napas berbunyi!, sehingga wajah dan tubuh membiru, serta adanya lapisan putih pada lidah dan bibir. *akteri penyebab difteri ditularkan saat batuk, bersin, atau kala berbicara. 1asa inkubasinya "&E hari. Penderita harus mendapatkan perawatan di rumah sakit dalam waktu cukup lama, sekitar (&3 minggu, dan baru boleh pulang setelah penyakitnya benar&benar hilang "))@. Soalnya, difteri bisa kambuh lagi kalau belum betul&betul sembuh. 2. Tetanus Disebabkan oleh bakteri %lostridium Tetani, penyakit ini berisiko menyebabkan kematian. nfeksi tetanus bisa terjadi karena luka, sekecil apa pun luka itu. 3etanus rawan menyerang bayi baru lahir, biasanya karena tindakan atau perawatan yang tidak steril.

8ejala&gejala yang tampak antara lain kejang otot rahang, rasa sakit dan kaku di leher, bahu atau punggung. %ejang&kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha. Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik untuk mematikan kuman, antikejang untuk merilekskan otot&otot, dan antitetanus untuk menetralisir toksinnya. 3. Pertusis Disebut juga !in)hoest, batuk rejan, atau batuk ")) hari lantaran batuknya memang berlangsung lama, bisa sampai 3 bulan. Penyakit ini mudah sekali menular melalui udara yang mengandung bakteri $ordetella pertussis* 1asa inkubasinya E&() hari. 8ejala awalnya seperti flu biasa, yaitu demam ringan, batuk, dan pilek, yang berlangsung selama "&( minggu. %emudian, gejala batuknya mulai nyata dan kuat, batuk panjang secara terus&menerus yang berbeda dengan batuk biasa. 3ak jarang, karena kuatnya batuk ini, anak bisa sampai menungging& nungging, muntah&muntah, mata merah, berair, dan napasnya susah. 8ejalanya sangat berat. *ahkan beberapa penderita bisa mengalami perdarahan. Setelah (&6 minggu berlalu, batuk mulai berkurang dan kondisi anak mulai pulih. Penderita akan diberi obat antibiotik untuk mematikan kuman, dan obat untuk mengurangiNmenghentikan batuknya. stirahat yang cukup, banyak minum, dan konsumsi makanan bergizi akan membantu mempercepat kesembuhan . IMUNISASI CAMPA! Sebenarnya, bayi sudah mendapat kekebalan campak dari ibunya. 0amun seiring bertambahnya usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan lewat pemberian 9aksin campak. 'palagi penyakit campak mudah menular, dan mereka yang daya tahan tubuhnya lemah gampang sekali terserang penyakit yang disebabkan 9irus Morbili ini. .ntungnya, campak hanya diderita sekali seumur hidup. -adi, sekali terkena campak, setelah itu biasanya tak akan terkena lagi.

Penularan campak terjadi lewat udara atau butiran halus air ludah (droplet! penderita yang terhirup melalui hidung atau mulut. Pada masa inkubasi yang berlangsung sekitar ")&"( hari, gejalanya sulit dideteksi. Setelah itu barulah muncul gejala flu (batuk, pilek, demam!, mata kemerah&merahan dan berair, si kecil pun merasa silau saat melihat cahaya. %emudian, di sebelah dalam mulut muncul bintik& bintik putih yang akan bertahan 3&6 hari. *eberapa anak juga mengalami diare. Satu& dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 3#&6),$O7. Seiring dengan itu, barulah keluar bercak&bercak merah yang merupakan ciri khas penyakit ini. .kurannya tidak terlalu besar, tapi juga tak terlalu kecil. 'walnya hanya muncul di beberapa bagian tubuh saja seperti kuping, leher, dada, muka, tangan dan kaki. Dalam waktu " minggu, bercak&bercak merah ini akan memenuhi seluruh tubuh. 0amun bila daya tahan tubuhnya baik, bercak&bercak merah ini hanya di beberapa bagian tubuh saja dan tidak banyak. -ika bercak merah sudah keluar, umumnya demam akan turun dengan sendirinya. *ercak merah pun akan berubah jadi kehitaman dan bersisik, disebut hiperpigmentasi. Pada akhirnya bercak akan mengelupas atau rontok atau sembuh dengan sendirinya. .mumnya, dibutuhkan waktu hingga ( minggu sampai anak sembuh benar dari sisa&sisa campak. Dalam kondisi ini, tetaplah meminum obat yang sudah diberikan dokter. -aga stamina dan konsumsi makanan bergizi. Pengobatannya bersifat simptomatis, yaitu mengobati berdasarkan gejala yang muncul. ,ingga saat ini, belum ditemukan obat yang efektif mengatasi 9irus campak. -ika tak ditangani dengan baik campak bisa sangat berbahaya. *isa terjadi komplikasi, terutama pada campak yang berat. 7iri&ciri campak berat, selain bercaknya di sekujur tubuh, gejalanya tidak membaik setelah diobati "&( hari. %omplikasi yang terjadi biasanya berupa radang paru&paru ( broncho pneumonia! dan radang otak (ensefalitis!. %omplikasi inilah yang umumnya paling sering menimbulkan kematian pada anak.

> U$)- < 92'l-h Pe'(e0)-%: Sebanyak ( kali: " kali di usia 4 bulan, " kali di usia E tahun. Dianjurkan, pemberian campak ke&" sesuai jadwal. Selain karena antibodi dari ibu sudah menurun di usia 4 bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak usia balita. -ika sampai "( bulan belum mendapatkan imunisasi campak, maka pada usia "( bulan harus diimunisasi 11+ ( Measles Mumps +ubella!. > E;e1 S-'&)%*: .mumnya tidak ada. Pada beberapa anak, bisa menyebabkan demam dan diare, namun kasusnya sangat kecil. *iasanya demam berlangsung seminggu. %adang juga terdapat efek kemerahan mirip campak selama 3 hari 2, PEN=IMPANAN VAKSIN Penyelenggaraan program imunisasi di ndonesia telah terbukti efektif antara lain dengan terbasminya penyakit cacar, dimana ndonesia dinyatakan bebas cacar sejak tahun "456. Dalam penyelenggaraan program imunisasi dibutuhkan dukungan 9aksin, alat suntik dan rantai dingin (cold chain! agar kualitas 9aksinasi sesuai dengan standar guna menumbuhkan imunitas yang optimal bagi sasaran imunisasi. <aksin adalah suatu produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen kuman, atau racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan yang berguna untuk merangsang timbulnya kekebalan tubuh seseorang. *ila 9aksin diberikan kepada seseorang, akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu. Sebagai produk biologis, 9aksin memiliki karakteristik tertentu dan memerlukan penanganan yang khusus sejak diproduksi di pabrik hingga dipakai di unit pelayanan. Suhu yang baik untuk semua jenis 9aksin adalah P ( Q7 sNd P # Q7. Penyimpangan dari ketentuan yang ada dapat mengakibatkan kerusakan 9aksin sehingga menurunkan atau menghilangkan potensinya bahkan bila diberikan kepada sasaran dapat menimbulkan kejadian ikutan pasca imunisasi (% P ! yang tidak diinginkan. %erusakan 9aksin dapat mengakibatkan kerugian sumber daya yang tidak

sedikit, baik dalam bentuk biaya 9aksin, maupun biaya&biaya lain yang terpaksa dikeluarkan guna menanggulangi masalah % P atau kejadian luar biasa. Selama ini masih banyak petugas kesehatan yang beranggapan bahwa bila ada pendingin maka 9aksin sudah aman, malahan ada yang berfikir kalau makin dingin maka 9aksin makin baik. Pendapat itu perlu diluruskanA Semua 9aksin akan rusak bila terpapar panas atau terkena sinar matahari langsung. 3etapi beberapa 9aksin juga tidak tahan terhadap pembekuan, bahkan dapat rusak secara permanen dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan bila 9aksin terpapar panas. *erdasarkan sensiti9itas terhadap suhu, penggolongan 9aksin adalah sebagai berikut D a* ,a!sin sensitive be!u -reeze sensitive . -S", adalah golongan 9aksin yang akan rusak terhadap suhu dingin dibawah )Q7 (beku! yaituD ,epatitis *, DP3, DP3&,*, D3, 33 b* ,a!sin sensitive panas Heat Sensitive . HS", adalah golongan 9aksin yang akan rusak terhadap paparan panas yang berlebih yaituD *78, Polio, 7ampak Pemantauan suhu 9aksin sangat penting dalam menetapkan secara cepat apakah 9aksin masih layak digunakan atau tidak. .ntuk membantu petugas dalam memantau suhu penyimpanan dan pengiriman 9aksin ini, ada berbagai alat dengan indikator yang sangat peka seperti <accine <ial 1onitor (<<1!, 2reeze watch atau 2reezetag serta 3ime 3emperatur 1onitor (331!. Dengan menggunakan alat pantau ini, dalam berbagai studi diketahui bahwa telah terjadi berbagai kasus paparan terhadap suhu beku pada 9aksin yang peka terhadap pembekuan seperti ,epatitis *, DP3 dan 33. Dengan adanya temuan ini maka telah dilakukan penyesuaian pengelolaan 9aksin untuk mencegah pembekuan 9aksin. !erusa"an #a"sin Ter$a%a& Su$u Suhu tempat penyimpanan yang tidak tepat akan menimbulkan kerusakan 9aksin. ,al ini dapat dilihat dari keterangan di bawah iniD ". <aksin Sensitif *eku

-,

S2h2 /e0l-l2 .)%*)% Pada 9aksin ,epatitis *, DP3&,* di suhu & ),$ Q7 dapat bertahan selama maksimum R jam dan DP3, D3, 33 pada suhu & $ Q7 SND &") Q7 dapat bertahan selama maksimum ",$ S ( jam.

(,

S2h2 /e0l-l2 &-%-$ Sedangkan 9aksin DP3, DP3&,*, D3 pada suhu beberapa Q7 diatas suhu udara luar (ambient temperature T 36 Q7! dapat bertahan "6 hari sedangkan ,epatitis * dan 33 dapat bertahan 3) hari.

V-1$)% Se%$)/); P-%-$ Sementara Poliobeberapa Q7 diatas suhu udara luar (ambient temperature T 36 Q7! dapat bertahan selama ( hari sedangkan 7ampak dan *78 beberapa Q7 diatas suhu udara luar dapat bertahan 5 hari 3erlihat bahwa rusaknya 9aksin sensitif beku akibat terpapar suhu terlalu dingin, jauh lebih cepat daripada rusaknya 9aksin sensitif panas akibat terpapar suhu terlalu panas. ;leh karena itu tidak mengherankan bila lebih banyak 9aksin yang rusak akibat terpapar suhu terlalu dingin dibandingkan terpapar suhu terlalu panas. K "e(e0-&- :-/-/-% Pe%/)%* Paparan panas secara kumulatif akan mengurangi umur dan potensi semua jenis 9aksin. .ntuk memantau hal tersebut dipergunakan alat pemantau suhu panas <accine <ial 1onitor (<<1! dimana untuk 9aksin dari Departeman %esehatan + sudah ditempelkan pada semua kemasan 9aksin kecuali *78. 'lat ini berupa gambar lingkaran berwarna ungu dengan segi empat didalamnya yang berwarna putih pada <<1 '. Dengan pengaruh panas akan berubah menjadi <<1 * dimana segi empat sudah berwarna ungu muda, <<1 7 dimana segi empat sudah berwarna ungu sama seperti lingkaran diluarnya dan <<1 D dimana segi empat sudah berwarna lebih ungu dari pada lingkaran diluarnya. <aksin dengan <<1 7 dan D pertanda sudah terpapar panas dan tidak boleh digunakan lagi.

<aksin DP3, 33, D3, ,* dan DP3&,* akan rusak bila terpapar suhu beku. 1asing&masing 9aksin tersebut memiliki titik beku tersediri, yaitu 9aksin ,epatitis * beku pada suhu &),$ Q7, sedang 9aksin DP3, D3 Dan 33 akan beku pada suhu &$ Q7 <aksin yang tidak rusak oleh paparan suhu beku adalah Polio, 7ampak dan *78. .ntuk memantau suhu beku dapat dilakukan dengan menggunakan 2reeze ?atch dan 2reeze tag yaitu alat yang sensitif terhadap suhu beku dimana bila alat ini terpapar suhu dibawah &) Q7 akan terlihat pada monitor berupa warna biru untuk 2reeze ?atch atau tanda silang untuk 2reeze tag. Ditingkat puskesmas semua 9aksin disimpan pada suhu P( sNd P# Q7 sedang freezer yang ada hanya diperuntukkan bagi pembuatan cold pack (es batu!. .ntuk pendistribusian 9aksin ke lapangan seperti posyandu sebaiknya menggunakan air dingin (cool pack! dan bila situasinya mengharuskan menggunakan cold pack, karena tempat yang panas atau jauh, sebaiknya 9aksin diatur berdasarkan sensitifitasnya terhadap suhu dan diberi pelapis untuk jenis 9aksin yang berbeda. 2,4 9ADWAL PEM"ERIAN IMUNISASI

"A" III PENUTUP ,1 KESIMPULAN munisasi telah diketahui oleh dunia sebagai salah satu faktor yang dapat menurunkan infeksi berbagai penyakit. Sepanjang proses tumbuh kembang anak, anak memerlukan upaya pencegahan terhadap serangan penyakit yang dapat dilakukan melalui imunisasi. munisasi adalah salah satu cara untuk memberi kekebalan bagi tubuh terhadap serangan mikroorganisme sebelum mikroorganisme tersebut memiliki kesempatan untuk menyerang tubuh. Pemberian 9aksinasi secara dini sangat penting karena penyakit&penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian 9aksinasi biasanya menyerang anak pada awal kehidupannya sehingga dapat mengancam jiwa jika diderita anak&anak tersebut. ,2 SARAN Secara global imunisasi telah menjadi hal yang sangat esensial, sehingga pengetahuan tentang imunisasi penting sekali diketahui masyarakat untuk menjaga agar bayi dan balitanya tetap dalam kondisi sehat dan terlindungi dari berbagai penyakit.

DAFTAR PUSTAKA 'ngka kematian bayi masih tinggi. www.penyakitmenular.info munisasi anak. majalah sehat anak.www.sehatanak.com munisasi cegah campak dan tingkatkan kekebalan anak. www.dinkes&sulsel.go.id munisasi perlu tidak, yaU ?ww.harian&global.com munisasi wajib.www.tabloid&nakita.com munisasi. ?ww.e&smartschool.com nfo imunisasi terkiniA. ?ww.parenting.co.id nformasi perihal imunisasi. ?ww.rssa.ppimk.or.id -adwal imunisasi anak.www.biomed.ee.itb.ac.id -adwal imunisasi. ?ww.infobunda.com -angan mengabaikan jadwal imunisasi A.www.depkes.go.id Perlukah anak sehat diimunisasiU. ?ww.republika.or.id Satrio widianto hib dan ancaman kematian bayi. ?ww.pikiran&rakyat.com Seluk&beluk imunisasi. ?ww.sumeks.co.id Sri reze!i s* Hadine)oro* Sepatah kata dari satgas imunisasi ikatan dokter anak indonesia.www.idai.or.id 3anya jawab sebelum imunisasi anak anda.www.medicastore.com <aksinasi dan hi9. ?ww.spiritia.or.id <aksinasi sebabkan anak autis, betulkahU. ?ww.tabloid&nakita.com ?aspada online. Penyimpanan 9aksin. ?ww.waspada.co.id ?ong, Donna. I. ())6. Pedoman %linis %eperawatan Pediatrik. /87D -akarta Lang salah dan benar tentang imunisasi. ?ww.tabloidno9a.com

Anda mungkin juga menyukai