Anda di halaman 1dari 5

2.1. Pendekatan Insourcing 2.1.1.

Pengertian Insourcing Insourcing adalah mengoptimalkan karyawan dalam perusahaan untuk diperkerjakan di luar perusahaan berdasarkan kompetensi dan minat karyawan itu sendiri dan difasilitasi oleh Perusahaannya secara fulltime, fifty-fifty, atau temporary. Kompensasi yang diterima juga mengikuti pola tersebut. Artinya mereka akan dibayar secara penuh oleh perusahaan yang menggunakannya, atau sharing dengan perusahaan asalnya atau perusahaan asal hanya menanggung selisih gaji (Zilmahram, 2009). Insourcing dapat juga diartikan sebagai pemanfaatan sumber daya yang terdapat didalam suatu organisasi atau suatu perusahaan, seperti sumberdaya manusia, sumberdaya teknologi , sumberdaya sistem informasi, sumberdaya hardware , sumberdaya software, sumberdaya jaringan, sumberdaya data, sumberdaya ekonomi, yang diubah melalui berbagai proses bisnis menjadi barang atau jasa. Dalam kaitannya dengan Sistem Informasi, Insorcing dapat diartikan sebagai model pengembangan sistem informasi yang hanya melibatkan sumberdaya di dalam suatu organisasi atau suatu perusahaan. Dalam mekanisme Insourcing, perusahaan mempertahankan dan mengelola semua peralatan IT secara langsung dan In-house. 2.1.2. Alasan Penggunaan Insourcing Menurut Zilmahram (2009), penggunaan Insourcing di sebuah Perusahaan dapat terjadi karena hal-hal sebagai berikut: 1. Kompetensi karyawan yang tidak optimal dimanfaatkan di dalam perusahaan. 2. Terjadinya perubahan yang mengakibatkan beberapa kompetensi tertentu tidak dibutuhkan lagi di dalam perusahaan. 3. Sebagai persiapan karyawan untuk menempuh karir baru di luar perusahaan. 2.1.3. Keuntungan dan Kelemahan Insourcing Beberapa keuntungan dari penggunaan Insourcing dalam pengimplementasian dan pengelolaan Sistem Informasi di sebuah perusahaan antara lain: 1. Karyawan yang ditugaskan mengerti kebutuhan sistem dalam perusahaan karena pada umumnya sistem informasi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan 2. Mudah untuk melakukan modifikasi atau penambahan feature dan pemelihaan

terhadap sistem informasi karena proses pengembangannya dilakukan oleh karyawan perusahaan tersebut. 3. Kendala terhadap aplikasi strategi dan pengambilan keputusan dalam pengembangan sistem informasi sepenuhnya berada di tangan perusahaan tersebut. 4. Peningkatan kualitas SDM dimana karyawan mendapatkan kesempatan untuk belajar dan membangun sistem informasi perusahaan. 5. Lebih mudah dalam melakukan pengawasan (security acsess) pada proses pengembangan sistem dan keamanan data lebih terjamin karena hanya melibatkan pihak perusahaan. 6. Dalam pengembangannya membutuhkan biaya yang relatif lebih rendah karena hanya melibatkan pihak perusahaan. 7. Sistem informasi yang dibutuhkan dapat segera direalisasikan dan dapat segera melakukan perbaikan untuk menyempurnakan sistem tersebut. 8. Dalam jangka panjang akan meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan. Beberapa kelemahan penggunaan insourcing dalam pengimplementasian dan pengelolaan Sistem Informasi di sebuah perusahaan antara lain: 1. Pengembangan sistem informasi membutuhkan waktu yang relatif lama karena konsentrasi karyawan harus terbagi-bagi dengan pekerjaan rutin harian. 2. Keterbatasan jumlah dan kemampuan SDM dalam perusahaan yang menguasai teknologi informasi. 3. Resiko kegagalan penerapan Sistem Informasi menjadi tanggung jawab perusahaan sepenuhnya. 4. Perubahan dalam teknologi informasi yang terjadi secara cepat belum tentu diikuti oleh cepatnya perusahaan dalam mengadaptasi perubahan tersebut sehingga bisa saja menyebabkan teknologi yang digunakan oleh perusahaan tidak up to date. 5. Membutuhkan waktu dan biaya tambahan untuk melakukan pelatihan bagi operator dan programmer dalam pengembangan sistem informasi perusahaan. 6. Perusahaan dalam jangka pendek belum bisa merasakan hasil dari pengembangan sistem informasi perusahaan. 7. Kurangnya tenaga ahli (expert) di bidang sistem informasi dapat menyebabkan kesalahan persepsi dalam pengembangan sistem dan hal tersebut menjadi tanggung jawab perusahaan

8. Pada umumnya penggunaan sumber daya sistem informasi dalam perusahaan belum optimal karena karyawan tidak memiliki spesialisasi (core competency) dalam bidang pengembangan sistem informasi. 2.2. Pendekatan Outsourcing 2.2.1. Pengertian Outsourcing Outsourcing merupakan pendekatan manajemen yang memberikan kewenangan pada sebuah agen luar (pihak ketiga) untuk bertanggung jawab terhadap proses atau jasa yang sebelumnya dilakukan oleh perusahaan. Bisa juga diartikan sebagai membeli barang atau jasa yang sebelumnya disediakan secara internal (Franceschini et all dalam Wahyuni, 2011). Dalam kaitannya dengan Sistem Informasi, outsourcing dapat diartikan sebagai penggunaan atau pembelian produk maupun jasa teknologi informasi dari vendor diluar perusahaan. Berikut merupakan diagram yang menggambarkan hal-hal yang terjadi pada mekanisme outsourcing Berikut merupakan gambaran proses yang terjadi pada mekanisme outsourcing 2.2.2. Alasan Penggunaan Outsourcing Dewangga (2010) menyatakan bahwa terdapat beberapa alasan perusahaan menggunakan outsourcing dalam pengelolaan Sistem Informasinya yaitu: 1. Membagi resiko operasional, karena resiko operasional perusahaan bisa terbagi kepada pihak lain. 2. Sumberdaya perusahaan yang ada bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lainnya. 3. Mengurangi biaya karena dana yang sebelumnya digunakan untuk investasi bisa difungsikan sebagai biaya operasional. 4. Memperkerjakan sumberdaya manusia yang berkompeten karena tenaga kerja yang disediakan oleh perusahaan outsourcing adalah tenaga kerja yang sudah terlatih dan kompeten dibidangnya. 5. Mekanisme kontrol menjadi lebih baik 6. Meningkatkan fokus bisnis karena telah melimpahkan sebagaian operasionalnya kepada pihak lain. Melalui penggunaan outsourcing Perusahaan diharapkan dapat mengurangi biaya tetap dan biaya operasional serta Perusahaan bisa lebih fokus pada bisnis utamanya dan perbaikan proses bisnis internal. Ketika perusahaan dapat

memfokuskan perhatiannya hanya pada inti bisnisnya saja dan menyerahkan penanganan kebutuhan Sistem Informasinya kepada pihak lain, maka perusahaan akan semakin dapat berkonsentrasi dalam mengatur strategi dan rencana bisnisnya secara matang, sehingga dapat memenangkan persaingan yang ada. 2.2.3. Keuntungan dan Kelemahan Outsourcing Beberapa keuntungan dari penggunaan Outsourcing dalam pengimplementasian dan pengelolaan Sistem Informasi di sebuah perusahaan antara lain: 1. Mengurangi berbagai biaya tetap dan biaya selama proyek berjalan (fixed and recurrent cost), seperti biaya mempersiapkan perangkat keras atau perangkat lunak untuk membangun sistem. 2. Memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk lebih memfokuskan diri pada kegiatan bisnis utamanya (core bussiness), seperti melayani pelanggan, pemasaran, pembuatan design produk, dsb. 3. Perusahaan dapat menjadi lebih fleksibel dan lebih dinamis dimana perusahaan dapat melakukan perubahan dengan cepat sesuai dengan kondisi yang ada dan tuntutan bisnis. 4. Jasa yang diberikan oleh outsourcer bisa lebih berkualitas dibandingkan dikerjakan sendiri secara internal oleh Perusahaan karena outosurcer memang memiliki keahlian spesifik dibidang tersebut. 5. Pengembangan sistem informasi relatif lebih cepat, efisien, dan efektif karena dikerjakan oleh orang yang profesional di bidangnya. 6. Mendapatkan ide yang inovatif dan akses pada kemampuan Sistem Informasi yang berkelas dunia. 7. Memudahkan akses pada pasar global jika bekerjasama dengan vendor IT yang yang mempunyai kualitas dan reputasi yang baik. 8. Mengurangi resiko penggunaan sumber daya Sistem Informasi yang belum optimal dan meningkatkan kas dalam aset perusahaan karena tidak perlu ada pos aset untuk Sistem Informasi. Beberapa kelemahan dari penggunaan Outsourcing dalam pengimplementasian dan pengelolaan Sistem Informasi di sebuah perusahaan antara lain: 1. Kehilangan kendali atau kontrol terhadap data perusahaan karena bisa saja data dijual pihak outsourcer kepada pesaing bisnis.

2. Menjadi sangat bergantung pada pihak luar sehingga sangat sulit bagi perusahaan untuk mengambil alih kembali sistem yang sedang berjalan teruta apabila sedang terjadi gangguan atau kerusakan mendadak pada Sistem Informasi perusahaan. 3. Tidak ada transfer pengetahuan dari pihak luar kepada pihak perusahaan. 4. Adanya peluang penyalahgunaan sistem Infirmasi oleh pihak outsoucer dalam bentuk pembajakan atau pembocoran informasi perusahaan. 5. Resiko tidak kembali biaya investasi yang telah dikeluarkan apabila terjadi ketidakcocokan Sistem Informasi yang dikembangkan. 6. Mengurangi keunggulan kompetitif perusahaan karena semua pengembangan sistem informasi diserahkan kepada perusahaan lain. 7. Jika bargaining psosition berada ditangan outsourcer, maka perusahaan dapat kehilangan kendali dalam memutuskan sesuatu terlebih jika terjadi konflik diantara pihak perusahaan dan outsourcer. 8. Perusahaan akan kehilangan kesempatan untuk belajar dan membangun dan mengoperasokan aplikasi Sistem Informasi