Anda di halaman 1dari 17

TABLET FLOATING

Kelompok 5

PENDAHULUAN

Floating system merupakan sistem mengapung pada lambung berisi obat yang pelepasannya perlahan-lahan dari sediaan yang memiliki densitas yang rendah/Floating Drug Delivery System (FDDS) juga biasa disebut Hydrodynamically Balanced System (HBS). FDDS/ HBS memiliki densitas bulk yang lebih rendah daripada cairan lambung. FDDS tetap mengapung di dalam lambung tanpa mempengaruhi motilitas dan keadaan dari lambung. Sehingga obat dapat dilepaskan pada kecepatan yang diinginkan dari suatu sistem Bentuk floating system banyak diformulasi dengan menggunakan matriks matriks hidrofilik dan dikenal dengan sebutan hydrodynamically balanced system (HBS), karena saat polimer berhidrasi intensitasnya menurun akibat matriknya mengembang, dan dapat menjadi gel penghalang di permukaan luar.

Bentuk-bentuk ini diharapkan tetap dalam keadaan mengapung selama tiga atau empat jam dalam lambung tanpa dipengaruhi oleh laju pengosongan lambung karena densitasnya lebih rendah dari kandungan gastrik. Hidrokoloid yang direkomendasikan untuk formulasi bentuk floating adalah cellulose ether polymer, khususnya hydroxypropyl methylcellulose (Moes, 2003)

Formulasi bentuk sediaan ini harus memenuhi kriteria sebagai berikut : Harus memiliki struktur yang cukup untuk membentuk sebuah penghalang gel kohesif. Harus menjaga berat jenis keseluruhan lebih rendah dari isi lambung (1,004-1,010). Harus perlahan sehingga sesuai sebgai reservoir obat Untuk merancang sediaan mengapung ada dua pendekatan yang dapat digunakan. Yang pertama adalah pendekatan sistem bentuk sediaan tunggal (seperti tablet atau kapsul), sedangkan yang kedua adalah pendekatan sistem bentuk sediaan jamak (seperti granul atau mikrosfer).

Bentuk Sediaan Tunggal

Sistem yang seimbang secara hidrodinamis (Hydrodynamically Balance Systems = HBS) yang dapat berupa tablet atau kapsul, dirancang untuk memperpanjang waktu tinggal sediaan di dalam saluran cerna (dalam hal ini di lambung) dan meningkatkan absorpsi. Sistem dibuat dengan menambahkan 20-75% b/b hidrokoloid tunggal atau campuran ke dalam formula tablet atau kapsul. Pada sistem ini akan dicampurkan bahan aktif obat, hidrokoloid (20-75% dari bobot tablet) dan bahan bahan pembantu lain yang diperlukan (pada umumnya proses pencampuran ini diikuti dengan proses granulasi), selanjutnya granul dicetak menjadi tablet atau diisikan ke dalam kapsul. Setelah dikonsumsi, di dalam lambung, hidrokoloid dalam tablet atau kapsul berkontak dengan cairan lambung dan menjadi mengembang.

Bentuk Sediaan Jamak

Tujuan merancang bentuk sediaan jamak adalah untuk mengembang kan suatu formulasi yang handal yang memiliki semua keuntungan dan mengurangi kerugian dari bentuk sediaan tunggal Sediaan jamak ini dapat berupa granul atau mikrosfer yang mengandung komponen polimer yang dapat mengembang saat berkontak dengan cairan lambung sehingga membentuk koloid penghalang yang mengendalikan kecepatan penetrasi cairan ke dalam sistem dan kecepatan pelepasan obat dari sistem sediaan. Adanya udara yang terperangkap dalam polimer yang mengembang akan menurunkan bobot jenis sehingga mikrosfer dapat mengapung. Bentuk sediaan jamak yang sudah dikembangkan saat ini adalah mikrosfer yang menggunakan resin akrilat, Eudragit, polietilenoksid, dan selulosa asetat Selain itu juga sudah dikembangkan cangkang polistiren balon polikarbonat dan granul menngunakan Gelucire

Bahan tambahan yang digunakan untuk formulasi FDDS

Hidrokoloid (20% - 75%) : dapat berupa sintetik, anionik atau non-ionik seperti gom hidrofilik, modifikasi derivat selulosa. Misalnya : Akasia, pektin, kitosan, agar, kasein, bentonit, veegum, HPMC (K4M, K100M dan K15M), gom gellan (Gelrite), Na CMC, MC, HPC Bahan matriks yang sering digunakan adalah hydroxypropyl methylcellulose (HPMC). Bahan Lemak inert (5% - 75%): Edible, bahan lemak inert memiliki berat jenis kurang dari 1 dapat digunakan untuk mengurangi sifat hidrofilik dari formulasi dan sebaliknya dapat meningkatkan keterapungan. Misalnya : Beeswax (Cera), asam lemak, lemak alkohol rantai panjang, Gelucires 39/01 dan 43/01. Bahan effervesent : NaHCO3, asam sitrat, asam tartrat, dinatrium glisin karbonat , Sitroglisin. Meningkatkan kecepatan pelepasan (5% - 60%) : laktosa, manitol Memperlambat kecepatan pelepasan (5% - 60%) Misalnya : Dikalsium phospat, talk, magnesium stearat Bahan meningkatkan keterapungan (di atas 80%), misalnya etil selulosa Bahan densitas rendah : serbuk busa polypropilen (Accurel MP 1000)

EVALUASI
1.

Pemeriksaan Mutu Fisik Granul

Penentuan Kecepatan Alir dan Sudut Diam Granul


Kecepatan alir dan sudut diam ditentukan dengan cara mengalirkan sejumlah granul melalui corong. Ditimbang 50 gram granul, dimasukkan ke dalam corong dengan dasar lubang yang tertutup, waktu pengukuran dilakukan pada saat dibukanya lubang corong sampai seluruh granul keluar dari corong. Satuan kecepatan alir ditulis dalam gram/detik. Pengukuran sudut diam dilakukan dengan mengukur tinggi serta jari-jari lingkaran atas kerucut granul yang terbentuk yang terbentuk setelah pengaliran kemudian dihitung dengan rumus : Tg

Keterangan :
= sudut diam h = tinggi kerucut (cm) r = jari-jari kerucut (cm)

3.

Uji Kerapuhan Tablet Diambil 20 tablet, tablet dijepit dengan pinset kemudian dibersihkan dengan kuas secara hati-hati, kemudian ditimbang, lalu dimasukkan ke dalam alat penguji kerapuhan Erweka Friabilator Type TAP selama 4 menit dengan kecepatan 25 rpm. Setelah diputar tablet dikeluarkan dari alat dan dibersihkan dengan kuas secara hati-hati, kemudian ditimbang kembali dan dihitung persentase pengurangan beratnya. Nilai kerapuhan yang diperbolehkan adalah kurang dari 1% (Lachman et al., 1986). Uji Floating Lag Time Tablet dimasukkan ke dalam beker gelas 100 ml yang berisi larutan HCL 0,1 N (pH 1,2) dan dijaga pada suhu 370 C, diamati waktu yang diperlukan tablet ranitidin HCl untuk mengapung (floating) dan dilakukan secara visual. Pengaruh Manitol terhadap Ranitidine HCl Uji Total Waktu Floating Tablet dimasukkan ke dalam beker gelas 100 ml yang berisi larutan HCl 0,1 N (pH 1,2) dijaga pada suhu 370 C dan diamati sifat pengapungan selama 8 jam.

CONTOH FORMULA
FORMULA
Ranitidin HCl HPMC K 100M Manitol Na bikarbonat Mg stearat Laktosa PVP K30 120 mg 6o mg 20% 15% 5 mg 80 mg 4%

ALASAN PENAMBAHAN BAHAN Ranitidin HCl


Ranitidin Hidroklorida merupakan antagonis reseptor histamin H2 secara selektif dan reversibel. Perangsangan reseptor H2 akan merangsang sekresi asam lambung, sehingga pada pemberian ranitidin HCl sekresi asam lambung akan dihambat. Obat ini digunakan secara luas untuk tukak duodenum, tukak lambung, zollinger-Ellison syndrome, gangguan refluks lambung-esofagus, dan erosi esophagus (Raval et al., 2007). Untuk memperpanjang efek, perlu dikembangkan sediaan lepas lambat yang dapat bertahan pada lambung dalam waktu yang lama, mengingat bahwa ranitidin HCl hanya di absorpsi pada bagian awal dari usus halus, dan juga untuk mencegah metabolisme ranitidin HCl di kolon Manitol Dalam formula digunakan manitol untuk menghasilkan tablet ranitidin HCL dengan

floating characteristic

HPMC Formulasi bentuk floating direkomendasikan menggunakan polimer eter selulosa ,khususnya hidroksipropil (HPMC) (Moes, 2003), karena memiliki sifat yang inert, nonionik, tidak berinteraksi merugikan baik dengan obat yang bersifat asam maupun basa, dapat digunakan untuk memformulasi obat yang larut maupun tidak larut air (Ojoe et al., 2007). HPMC K100M , memiliki viskositas 80000-120000 mPa s (Rowe et al., 2009), sehingga mempunyai kemampuan yang sangat baik sebagai matrik dengan sistem floating Mg stearat Digunakan sebagai lubrikan, glidan dan anti adheren pada tablet daan kapsul dengan kadar 0,25-2,0 % Laktosa Laktosa digunakan sebagai bahan tambahan pada pembuatan tablet Banyak digunakan sebagai pengisi pada tablet dan kapsul (Exp : 278)

Natrium bikarbonat Natrium bikabonat digunakan sebagai bahan effervescent Bentuk effervescent mempunyai kemampuan mengapung lebih besar. Lama mengapung diharapkan selama 3 atau 4 jam dalam lambung tanpa dipengaruhi oleh laju pengosongan lambung karena densitasnya lebih rendah dari cairan lambung (Saifullah et al., 2007).

CARA KERJA
Pembuatan Tablet Floating Ranitidin HCL dengan Metode Granulasi Basah
1.

Ditimbang Ranitidin HCl, HPMC K100M) dan Manitol dalam jumlah yang sesuai dengan formula. Ditimbang Natrium Bikaronat, Mg Stearat, Laktosa dan PVP K30 Ranitidin, HPMC , Manitol dan laktosa dicampur dalam tumbling mixer secara geometric dilution. Campuran serbuk digranulasi dengan larutan pengikat PVP K-30 dalam aquadest 4% dari berat total serbuk sedikit demi sedikit sampai terbentuk massa granul. Massa granul kemudian diayak dengan pengayak ukuran mesh 12, kemudian dikeringkan pada suhu kamar 25C selama 30 menit. Granul kering selanjutnya diayak dengan ayakan ukuran mesh 18, lalu ditambah dengan natrium bikarbonat ditumbling selama 5 menit dan dilakukan uji kandungan lengas, kecepatan alir, sudut diam dan jumlah fines.

2. 3.

4.

5.

Selanjutnya ditambahkan magnesium stearat dan ditumbling selama 5 menit kemudian dilakukan uji kualitas granul yang meliputi: kecepatan alir dan sudut istirahat serta dilakukan pula penetapan kadar ranitidin dalam granul. Granul ditambah Natrium Bikarbonat, kemudian dicetak menjadi tablet matrik. Tablet yang telah dicetak dilakukan uji kualitas tablet yang meliputi penetapan kadar ranitidin dalam tablet, uji kerapuhan, uji kekerasan, uji floating lag time dan total waktu floating serta uji disolusi tablet floating ranitidin HCL dalam matriks HPMC .

EVALUASI
Pemeriksaan Mutu Fisik Granul Uji Mutu Fisik Tablet Ranitidin HCl Uji Kekerasan Tablet Uji Kerapuhan Tablet Uji Floating Lag Time Uji Pelepasan Ranitidin HCl dari Matriks HPMC K100LV

Anda mungkin juga menyukai