Anda di halaman 1dari 54

Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK)

Anis Rohmana Malik Elsya Ristia Nova Rizky Prakoso Nurazizah

RUANG LINGKUP

UU No. 3 Tahun 1992 tentang jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek) Permenaker No. 01 tahun 1998 PP No. 53 tahun 2012 PP No. 22 tahun 2004

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 3 TAHUN 1992


TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA

BAB I KETENTUAN UMUM


Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua, dan meninggal dunia.

Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja, guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja, dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.

BAB II PENYELENGGARAAN JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA


Untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja diselenggarakan program jaminan sosial tenaga kerja yang pengelolaannya dapat dilaksanakan dengan mekanisme asuransi. Setiap tenaga kerja berhak atas jaminan sosial tenaga kerja.

BAB III PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA


RUANG LINGKUP : a. Jaminan Kecelakaan Kerja b. Jaminan Kematian c. Jaminan Hari Tua d. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

Jaminan Kecelakaan Kerja


Tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja berhak menerima Jaminan Kecelakaan Kerja. Meliputi: a) biaya pengangkutan; b) biaya pemeriksaan, pengobatan, dan/atau perawatan; c) biaya rehabilitasi; d) santunan berupa uang yang meliputi: o santunan sementara tidak mampu bekerja; o santunan cacad sebagian untuk selama-lamanya; o santunan cacad total untuk selama-lamanya baik fisik maupun mental. o santunan kematian. Daftar jenis penyakit yang timbul karena hubungan kerja serta perubahannya ditetapkan dengan Keputusan Presiden

Jaminan Kematian
Tenaga kerja yang meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja, keluarganya berhak atas Jaminan Kematian. Meliputi: a) biaya pemakaman; b) santunan berupa uang. Urutan penerima yang diutamakan dalam pembayaran santunan kematian dan Jaminan Kematian ialah: a) janda atau duda; e) kakek atau nenek; b) anak; f) saudara kandung; c) orang tua; g) mertua. d) cucu;

Jaminan Hari Tua


Jaminan Hari Tua dibayarkan secara sekaligus, atau berkala, atau sebagian dan berkala, kepada tenaga kerja karena: a) telah mencapai usia 55 (lima puluh lima) tahun, atau b) cacad total tetap setelah ditetapkan oleh dokter. Dalam hal tenaga kerja meninggal dunia, Jaminan Hari Tua dibayarkan kepada janda atau duda atau anak yatim piatu. Jaminan Hari Tua sebagaimana dapat dibayarkan sebelum tenaga kerja mencapai usia 55 (lima puluh lima) tahun, setelah mencapai masa kepesertaan tertentu, yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Jaminan Pemeliharaan Kesehatan


Tenaga kerja, suami atau isteri, dan anak berhak memperoleh Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. Meliputi: a) rawat jalan tingkat pertama; b) rawat jalan tingkat lanjutan; c) rawat inap; d) pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan; e) penunjang diagnostik; f) pelayanan khusus; g) pelayanan gawat darurat

BAB IV KEPESERTAAN
Pengusaha dan tenaga kerja wajib ikut serta dalam program jaminan sosial tenaga kerja.

BAB V IURAN, BESARNYA JAMINAN, DAN TATA CARA PEMBAYARAN


Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja, luran Jaminan Kematian, dan Iuran Jaminan Pemeliharaan Kesehatan ditanggung oleh pengusaha. Iuran Jaminan Hari Tua ditanggung oleh pengusaha dan tenaga kerja. Pengusaha wajib membayar iuran dan melakukan pemungutan iuran yang menjadi kewajiban tenaga kerja melalui pemotongan upah tenaga kerja serta membayarkan kepada Badan Penyelenggara dalam waktu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Besarnya iuran, tata cara, syarat pembayaran, besarnya denda, bentuk iuran program jaminan sosial tenaga kerja, pembayaran Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, Jaminan Hari Tua, dan tata cara pelayanan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

BAB VI BADAN PENYELENGGGARA


Penyelenggaraan program jaminan sosial tenaga kerja dilakukan oleh Badan Penyelenggara yaitu Badan Usaha Milik Negara yang dibentuk dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya mengutamakan pelayanan kepada peserta dalam rangka peningkatan perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja beserta keluarganya. Badan Penyelenggara wajib membayar jaminan sosial tenaga kerja dalam waktu tidak lebih dari 1 (satu) bulan.

BAB VII KETENTUAN PIDANA


Barang siapa tidak memenuhi kewajiban diancam dengan hukuman kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 50.000.000,(lima puluh juta rupiah). Dalam hal pengulangan tindak pidana untuk kedua kalinya atau lebih, setelah putusan akhir telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka pelanggaran tersebut dipidana kurungan selama-lamanya 8 (delapan) bulan.

BAB VIII PENYIDIKAN


Selain penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, juga kepada pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di Departemen yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi ketenagakerjaan, diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini.

BAB IX KETENTUAN LAIN-LAIN


Kelebihan pembayaran jaminan yang telah diterima oleh yang berhak tidak dapat diminta kembali.

BAB X KETENTUAN PERALIHAN


Selama peraturan perundang-undangan sebagai pelaksanaan Undang-undang ini belum dikeluarkan, maka semua peraturan perundang-undangan yang mengatur program asuransi sosial tenaga kerja, dan penyelenggaraannya yang ada pada waktu Undang-undang ini mulai berlaku, telah berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini.

BAB XI KETENTUAN PENUTUP


Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini, maka Undang-undang Nomor 2 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-undang Kecelakaan Tahun 1947 Nomor 33 dari Republik Indonesia untuk seluruh Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 3) dinyatakan tidak berlaku lagi. Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. (17 Pebruari 1992)

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER.01/MEN/1998 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMELIHARAAN KESEHATAN BAGI TENAGA KERJA DENGAN MANFAAT LEBIH BAIK DARI PAKET JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN DASAR JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA

BAB I PENYELENGGARA
Perusahaan yang menyelenggarakan sendiri pemeliharaan kesehatan dapat dengan cara : Menyediakan sendiri atau bekerjasama dengan fasilitas Pelaksana Pelayanan Kesehatan (PPK). Pelaksana pelayanan kesehatan yang ditunjuk harus memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelaksana pelayanan kesehatan harus mudah dijangkau oleh tenaga kerja dan keluarganya.

BAB II KEPERSERTAAN
Kepesertaan meliputi tenaga kerja laki-laki maupun wanita dan keluarga yang terdiri suami atau istri dan anak yang sah. Anak sebagaimana dimaksud adalah anak kandung, anak angkat dan anak tiri yang berusia sampai dengan 21 tahun, belum bekerja, belum menikah dengan pembatasan sebanyak-banyaknya 3 (tiga) orang anak.

BAB III PAKET PELAYANAN KESEHATAN


Paket jaminan pemeliharaan kesehatan dengan manfaat lebih baik daripada jaminan kesehatan dasar Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang diberikan kepada tenaga kerja dan keluarganya sekurang-kurangnya meliputi: rawat jalan tingkat pertama. rawat jalan tingkat lanjutan. rawat inap. pemeriksaan kehamilan dan persalinan. penunjang diagnostik. pelayanan khusus dan. gawat darurat.

Tambahan
Batas maksimal hari rawat inap harus lebih besar dari 60 (enam puluh) hari termasuk perawatan ICU/ICCU untuk setiap jenis penyakit dalam satu tahun. Batas maksimal dari perawatan ICU/ICCU sebagaimana dimaksud diatas harus lebih besar dari 20 (dua puluh) hari. Standar rawat inap ditetapkan sebagai berikut: a. sekurang-kurangnya kelas dua pada rumah sakit pemerintah; atau b. sekurang-kurangnya kelas tiga pada rumah sakit swasta.

BAB IV KETENTUAN LAIN-LAIN


Pengaturan Penyelenggaraan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi tenaga kerja dan keluarganya harus tercantum secara rinci dalam Peraturan Perusahaan dan Kesepakatan Kerja Bersama atau pada tempat yang mudah dilihat dan dibaca oleh pekerja. Perusahaan yang telah mendapat persetujuan untuk menyelenggarakan sendiri Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi tenaga kerja dan keluarganya, wajib membuat laporan secara triwulan kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja setempat. Penyelenggaraan Pemeliharaan Kesehatan yang telah disetujui oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja tidak boleh meniadakan Pelayanan Kesehatan Kerja yang telah ada di perusahaan dan harus memanfaatkan untuk meningkatkan penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan.

BAB V KETENTUAN PENUTUP


Perusahaan yang memenuhi ketentuan Peraturan Menteri ini dinyatakan telah menyelenggarakan program pemeliharaan kesehatan dengan manfaat lebih baik dari Paket Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Dasar Jaminan Sosial Tenaga Kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDELAPAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA

Pasal 9 Jaminan Tenaga Kerja


Jaminan Kecelakaan Kerja berdasarkan kelompok jenis usaha: Kelompok I : 0,24% dari upah sebulan; Kelompok II : 0,54% dari upah sebulan; Kelompok III : 0,89% dari upah sebulan; Kelompok IV : 1,27% dari upah sebulan; Kelompok V : 1,74% dari upah sebulan;

Jaminan Hari Tua, sebesar 5,70% dari upah sebulan; Jaminan Kematian, sebesar 0,30% dari upah sebulan;

Lanjutan.....

Jaminan Pemeliharaan Kesehatan, sebesar 6% dari upah sebulan bagi tenaga kerja yang sudah berkeluarga, dan 3% dari upah sebulan bagi tenaga kerja yang belum berkeluarga. Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan ditanggung sepenuhnya oleh pengusaha.

Lanjutan......

Iuran Jaminan Hari Tua, sebesar 3,70% ditanggung oleh pengusaha dan sebesar 2% ditanggung oleh tenaga kerja. Dasar perhitungan iuran Jaminan Pemeliharaan Kesehatan paling tinggi 2 (dua) kali PTKP K1 (Pendapatan Tidak

Kena Pajak Tenaga Kerja Kawin dengan Anak 1 (satu))


perbulan.

Pasal 22 Jaminan Kematian


Santunan kematian dibayar sebesar Rp14.200.000,00
(empat belas juta dua ratus ribu rupiah); Biaya pemakaman dibayar sebesar Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah); dan Santunan berkala dibayar sebesar Rp200.000,00 (dua ratus

ribu rupiah) perbulan selama 24 (dua puluh empat) bulan


atau dibayar sebesar Rp4.800.000,00 (empat juta delapan ratus ribu rupiah) atas pilihan Janda atau Duda atau Anak

tenaga kerja yang bersangkutan.

Penerima Jaminan Kematian


Janda atau duda Anak

Orang tua
Cucu Kakek atau nenek

Saudara kandung
Mertua Pihak yang ditunjuk oleh tenaga kerja dalam wasiatnya Badan Penyelenggara kepada Balai Harta Peninggalan sesuai peraturan perundang-undangan

Lanjutan....
Dalam hal tenaga kerja tidak ada wasiat, biaya pemakaman dibayarkan kepada pengusaha atau pihak lain guna pengurusan pemakaman. Dalam hal magang atau murid dan mereka yang memborong pekerjaan, serta narapidana meninggal

dunia bukan karena akibat kecelakaan kerja, maka


keluarga yang ditinggalkan tidak berhak atas Jaminan Kematian.

Pasal 26

Jaminan Hari Tua


Tenaga kerja yang menerima pembayaran Jaminan Hari Tua secara berkala meninggal dunia, maka menerima sebesar sisa Jaminan Hari Tua yang belum dibayarkan yang diajukan kepada

Badan Penyelenggara; Urutan penerima Jaminan Hri Tua jika tenker meninggal dunia Janda atau duda Anak

Orang tua
Cucu Kakek atau nenek Saudara kandung

Mertua
Pihak yang ditunjuk oleh tenaga kerja dalam wasiatnya Badan Penyelenggara kepada Balai Harta Peninggalan sesuai peraturan perundangundangan

Pasal II
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan


pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG PENGELOLAAN DAN INVESTASI DANA PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA

BAB I KETENTUAN UMUM


Pasal 1 Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah Badan Usaha Milik Negara yang bidang usahanya menyelenggarakan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang ketenagakerjaan. Pasal 3 Kekayaan Badan Penyelenggara terdiri dari: a. Investasi b. Bukan Investasi

BAB II KEKAYAAN
Pasal 4

Badan Penyelenggara hanya dapat menempatkan kekayaan dalam bentuk Investasi dalam jenis: a. deposito berjangka atau sertifikat deposito pada Bank, termasuk deposit on call dan deposito berjangka 1 bulan b. saham yang tercatat di bursa efek c. surat utang, sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang pasar modal peringkat paling rendah A atau yang setara pada saat penempatan d. surat utang yang diterbitkan oleh Pemerintah atau Bank Indonesia e. unit penyertaan reksadana f. Repurchase Agreement yang selanjutnya disebut REPO, dengan jenis jaminan terbatas pada:

i. surat utang yang diterbitkan oleh Pemerintah atau Bank Indonesia ii. obligasi korporasi dengan peringkat paling rendah A- atau yang setara pada saat pembelian iii. saham yang termasuk dalam kelompok LQ 45 iv. unit penyertaan reksadana g. penyertaan langsung h. tanah, bangunan atau tanah dengan bangunan.

Pasal 5 Setiap penempatan investasi dalam bentuk REPO harus memenuhi ketentuan: a. jangka waktu tidak melebihi 90 hari b. nilai REPO tidak lebih dari: i. 85% dari nilai pasar surat utang ii. 70% dari nilai pasar obligasi korporasi iii. 50% dari nilai pasar saham iv. 50% dari nilai aktiva bersih reksadana c. surat berharga sebagai jaminan investasi dalam bentuk
REPO harus disimpan pada penerima titipan (kastodian);

d. transaksi REPO harus dituangkan dalam surat perjanjian


dengan akte notaris.

Pasal 6 peringkat sesuai pasal 4 dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat yang terdaftar pada instansi yang berwenang Pasal 7 Penilaian atas kekayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4: a. nilai nominal b. nilai tunai c. nilai pasar d. nilai pasar atau nilai tunai dalam hal nilai pasar tidak tersedia e. nilai pasar, atau nilai tunai dalam hal nilai pasar tidak tersedia f. nilai aktiva bersih g. nilai tunai h. tidak dilakukan penilaian oleh lembaga penilai Pasal 8 Penempatan kekayaan dalam bentuk investasi tidak dapat melebihi: a. 20% dari jumlah investasi b. 75% dari jumlah ekuitas Bank Perkreditan Rakyat dan penempatan pada seluruh Bank Perkreditan Rakyat tidak melebihi 2% dari jumlah investasi

c. 5% dari jumlah investasi, dan untuk keseluruhan tidak melebihi 50% dari jumlah investasi d. 5% dari jumlah investasi, dan untuk keseluruhan tidak melebihi 50% dari jumlah investasi e. 5% dari jumlah investasi, dan untuk keseluruhan tidak melebihi 50% dari jumlah investasi f. 2% dari jumlah investasi dan seluruhnya tidak melebihi 10% dari jumlah investasi g. 1% dari jumlah investasi dan seluruhnya tidak melebihi 5% dari jumlah investasi h. 10% dari jumlah investasi. Pasal 9 Penempatan investasi pada satu pihak tidak dapat melebihi 25 % dari jumlah investasi. Pihak perusahaan atau sekelompok perusahaan yang memiliki hubungan kepemilikan langsung yang bersifat mayoritas.

Pasal 10 Penempatan investasi dalam jenis surat utang tidak dikenakan pembatasan jumlah dan prosentase. Pasal 11 Jumlah investasi sebagai dasar perhitungan batasan nilai seluruh jenis investasi Pasal 12 Penggabungan 2 (dua) atau lebih badan hukum tempat Badan Penyelenggara melakukan investasi hasil penggabungan menjadi lebih besar kelebihan jumlah investasi dapat diperhitungkan dalam perhitungan tingkat solvabilitas untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun sejak tanggal penggabungan.

Pasal 13 Badan Penyelenggara dapat menunjuk satu atau lebih pihak lain yang tidak terafiliasi untuk melakukan pengelolaan investasi. Pihak lain memiliki keahlian dan pengalaman di bidang pengelolaan investasi, serta memiliki ijin usaha Pengelolaan investasi oleh pihak lain harus sesuai dengan ketentuan Badan Penyelenggara tetap bertanggung jawab terhadap pengelolaan investasi Pasal 14 Jenis kekayaan bukan investasi : a. kas dan bank b. piutang iuran c. piutang investasi d. piutang hasil investasi.

Pasal 15 Penilaian kekayaan bukan investasi a. kas dan bank nilai nominal b. piutang iuran nilai sisa tagihan c. piutang investasi nilai sisa tagihan d. piutang hasil investasi sisa tagihan Pasal 16 Pembatasan atas kekayaan bukan investasi a. piutang iuran tidak lebih dari 3 (tiga) bulan dihitung sejak jatuh tempo pembayaran b. piutang investasi tidak lebih dari 3 (tiga) bulan dihitung sejak tanggal transaksi divestasi c. piutang hasil investasi tidak lebih dari 3 (tiga) bulan dihitung sejak tanggal hasil investasi menjadi hak Badan Penyelenggara.

BAB III KEWAJIBAN


Pasal 17 Kewajiban Badan Penyelenggara: a. Kewajiban Jaminan Hari Tua; b. Kewajiban Non Jaminan Hari Tua. Kewajiban Jaminan Hari Tua utang Jaminan Hari Tua, baik tempo pembayarannya jangka pendek maupun jangka panjang. Kewajiban Non Jaminan Hari Tua Cadangan Teknis dan Utang Klaim. Cadangan Teknis: a. Cadangan Jaminan Kecelakaan Kerja b. Cadangan Jaminan Kematian c. Cadangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.

Pasal 18 Pembentukan besar utang Jaminan Hari Tua didasarkan kepada akumulasi jumlah iuran peserta ditambah dengan hasil pengembangannya. Pasal 19 Pembentukan besar cadangan Jaminan Kecelakaan Kerja dan cadangan Jaminan Kematian untuk masa kepesertaan lebih dari 1 (satu) tahun dilakukan dengan ketentuan: a. harus menggunakan metode prospektif b. tingkat bunga yang diterapkan tidak melebihi 8% Pembentukan besar cadangan Jaminan Kecelakaan Kerja dan cadangan Jaminan untuk pertanggungan dengan jangka waktu paling lama 1 tahun terdiri dari: a. 40% dari iuran peserta b. kewajiban klaim yang masih dalam proses penyelesaian Pembentukan besar cadangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan sekurangkurangnya 10% dari jumlah iuran Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. Pasal 20 Badan Penyelenggara membentuk cadangan katastrofa menghadapi risiko keuangan yang mungkin timbul akibat kejadian atau keadaan yang luar biasa

BAB IV TINGKAT SOLVABILITAS


Pasal 21 Badan Penyelenggara wajib memenuhi tingkat solvabilitas Tingkat solvabilitas selisih antara kekayaan dan kewajiban Pasal 22 Tingkat solvabilitas paling sedikit sebesar 120 dari batas tingkat solvabilitas minimum. Batas tingkat solvabilitas minimum 20% dari jumlah seluruh kewajiban non Jaminan Hari Tua. Pasal 23 Badan Penyelenggara pemisahan pengelolaan kekayaan dari Program Jaminan Hari Tua dan program non Jaminan Hari Tua. Pasal 24 Kekayaan tingkat solvabilitas kekayaan yang memenuhi ketentuan tentang jenis, penilaian, dan batasan Kewajiban tingkat solvabilitas kewajiban yang memenuhi ketentuan Pasal 25 Badan Penyelenggara harus memiliki kekayaan dalam bentuk investasi non Jaminan Hari Tua

BAB V BIAYA, PENGELOLAAN PROGRAM JAMINAN HARI TUA


Pasal 26 Badan Penyelenggara hanya dapat membebankan biaya setinggi-tingginya 2% per tahun dari dana investasi Program Jaminan Hari Tua. Besarnya persentase ditetapkan oleh Menteri Keuangan BAB VI PELAPORAN TINGKAT SOLVABILITAS DAN PENGUMUMAN LAPORAN KEUANGAN Pasal 27 Badan Penyelenggara wajib menyusun laporan keuangan non-konsolidasi Laporan keuangan non-konsolidasii untuk menghitung tingkat solvabilitas.

Pasal 28 Badan Penyelenggara wajib menyampaikan kepada Menteri, Menteri Keuangan, dan Pemegang Saham: a. laporan perhitungan tingkat solvabilitas semesteran per 30 Juni dan 31 Desember b. laporan perhitungan tingkat solvabilitas tahunan per 31 Desember Pasal 29 Badan Penyelenggara wajib mengumumkan neraca dan perhitungan laba rugi serta informasi lainnya pada 2 (dua) surat kabar harian di Indonesia Bukti pengumuman disampaikan kepada Menteri, Menteri Keuangan, dan Pemegang Saham paling lambat 2 (dua) minggu setelah pengumuman

BAB VII LARANGAN

Pasal 30 Badan Penyelenggara dilarang memiliki dan atau menempatkan kekayaannya pada: a. jenis investasi selain kekayaan investasi b. instrumen turunan surat berharga c. instrumen perdagangan berjangka d. kekayaan di luar negeri e. perusahaan milik. Direksi, Komisaris, Menteri, Menteri Keuangan atau Pemegang Saham selaku pribadi f. perusahaan milik keluarga Badan Penyelenggara dilarang menempatkan kekayaan investasi yang menyebabkan jumlah investasi melebihi batasan

Pasal 31 Direksi dan Komisaris Badan Penyelenggara dilarang melakukan tindakan yang mengakibatkan Badan Penyelenggara menjual, memindahtangankan, menyewakan dll kekayaan Badan Penyelenggara selain untuk kepentingan Badan Penyelenggara

BAB VIII PEMANTAUAN DAN EVALUASI


Pasal 32 Menteri, Menteri Keuangan, dan Pemegang Saham kondisi kesehatan keuangan Badan Penyelenggara. Menyelenggarakan rapat koordinasi sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. Pasal 33 Badan Penyelenggara wajib menunjuk kantor konsultan aktuaria independen untuk melakukan evaluasi atas perhitungan cadangan Jaminan Kecelakaan Kerja dan cadangan Jaminan Kematian Auditor independen wajib melakukan audit kinerja terhadap Badan Penyelenggara

BAB IX KETENTUAN PERALIHAN


Pasal 35 Penempatan kekayaan dalam bentuk investasi oleh Badan Penyelenggara yang telah dilakukan sebelum ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini, wajib disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini paling lama 2 (dua) tahun sejak tanggal ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini, kecuali obligasi korporasi yang tidak memenuhi ketentuan Obligasi korporasi dapat dimiliki oleh Badan Penyelenggara paling lama sampai dengan jatuh tempo.

BAB X KETENTUAN PENUTUP


Pasal 37 Dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini, Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1996 tentang Pengelolaan dan Investasi Dana Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3635) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1997 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun '1997 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3719) dinyatakan TIDAK BERLAKU LAGI.

PENERAPAN DAN KESESUAIAN DENGAN KONDISI INDONESIA SAAT INI

Di Indonesia, UU tentang Jasmostek sudah terlaksana cukup baik. Hal ini terbukti dari adanya pengelolaan dengan baik oleh BPJS Ketenagakerjaan tentang berbagai jaminan untuk para tenaga kerja. Namun, ada beberapa pasal yang penerapannya masih perlu ditingkatkan karena cenderung belum optimal, bahkan ada yang belum terlaksana. UU jamsostek sangat dibutuhkan tenaga kerja

Kewajiban yang membayar Jamsostek


Jenis Jamsostek Jaminan Kecelakaan Kerja Jaminan Kematian Jaminan Hari Tua Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pengusaha Pekerja -

Keterangan: Jaminan Kecelakaan Kerja berdasarkan kelompok jenis usaha: Kelompok I : 0,24% dari upah sebulan Kelompok II : 0,54% dari upah sebulan Kelompok III : 0,89% dari upah sebulan Kelompok IV : 1,27% dari upah sebulan Kelompok V : 1,74% dari upah sebulan Jaminan Kematian: 0,30% dari upah sebulan Jaminan Hari Tua: 3,70% pengusaha dan 2% tenaga kerja Jaminan Pemeliharaan Kesehatan: 6% jika sudah berkeluarga dan 3% jika belum berkeluarga

Kelompok-kelompok jenis usaha sebagai penerima JKK Kelompok I


Penjahitan/Konvensi, Pabrik Topi Industri pakaian lainnya (paying, kulit ikat pinggang, gantungan celana/bretel) Pembikinan layar dan krey dari tekstil Pabrik keperluan rumah tangga (sprei, selimut, terpal, gorden, dan lain-lain yang ditenun) Perdagangan ekspor impor, Perdagangan besar lainnya (agen-agen perdagangan besar, distributor, makelar, dan lain-lain) Toko-toko koperasi konsumsi, dan lain-lain Bank dan Kantor-kantor Dagang, Perusahaan pertanggungan Jasa Pemerintahan (organisasi tentara, polisi, Departemen) Pengobatan dan kesehatan lainnya Organisasi-organisasi keagamaan Lembaga kesejahteraan, Persatuan perdagangan dan organisasi buruh Balai penyidikan yang berdiri sendiri Jasa-jasa umum lainnya seperti museum, perpustakaan, kebun binatang, perkumpulan sosial Pemangkas rambut dan salon kecantikan Peternakan

Kelompok II
Pertanian rakyat, Perkebunan gula, Perkebunan tembakau Perkebunan bukan tahunan, terkecuali gula dan tembakau Perkebunan tahunan seperti karet, coklat, kelapa, dan lain-lain Pabrik the, Penggorengan dan pembuatan kopi bubuk Pabrik gula, Pabrik sigaret, Pabrik cerutu Pabrik rokok kretek, dan lain-lain, Perusahaan tembakau lainnya Pabrik cat, Pabrik tinta dan lem, Pabrik kina, Pabrik alat-alat pengangkutan lainnya, Industri alat-alat Pekerjaan, Pengetahuan pengukuran dan pemeriksaan laboratorium Reparasi arloji dan loncengIndustri alat-alat musik. Pabrik alat-alat olah raga, Pabrik mainan anak, Perdagangan barang tak bergerak (penyewaan alat, tanah, rumah, garasi dan lain-lain), Jasa perhubungan seperti PTT Radio, Perusahaan pembuatan film dan pengedar film Bioskop, Sandiwara, komedi, opera, sirkus, band, dll Jasa hiburan selain sandiwara dan bioskop Perusahaan binatu, celup Perusahaan potret

Kelompok III
Pelayanan pengairan, Perusahaan kehutanan, Pengumpulan hasil hutan, Pembakaran arang (di hutan), Perburuan, Pemeliharaan ikan tawar, Pemeliharaan ikan laut, Penangkapan ikan tawar, Pembantaian, Pemotongan dan pengawetan daging, Pemotongan susu dan mentega, Pabrik pengawetan sayuran dan buah, Pabrik Pengawetan ikan, Penggilingan padi, Pabrik tepung (beras, tapioca, dan lainlain), Perusahaan pengupasan (kacang tanah, dan lain-lain), Pabrik roti dan kue, Pabrik biskuit, Pabrik gula (perkebunan), Pabrik kembang gula, coklat dan lain-lain, Pabrik mie dan bihun, Pabrik kerupuk, Pabrik tahu, Pabrik kecap, Pabrik es krim dan es lilin, Pabrik margarine, minyak goreng dan lemak, Industri makanan lainnya, Pabrik alkohol dan spiritus, Pabrik minuman dan alkohol, Pabrik anggur, Pabrik bir, Pabrik air soda, sari buah dan minuman, Pabrik pemintalan, Pemintalan tali sepatu, perban, Pertenunan, Permadani. Dan lain-lain

Kelompok IV
Pabrik dari hasil minyak tanah Pabrik barang-barang dari minyak tanah atau batu bara Pabrik bata merah dan genteng Pabrik dan reparasi dan mesin-mesin (bengkel motor, mobil dan mesin) Pembikinan dan reparasi kapal dari baja Pembikinan dan reparasi alat-alat perhubungan kereta api Pabrik kendaraan bermotor dan bagian-bagiannya Reparasi kendaraan bermotor (mobil, truk, dan sepeda motor) Pabrik dan reparasi kapal udara Perusahaan kereta api Perusahaan trem dan bus Pengangkutan penumpang di jalan selain bus Penimbunan barang/veem

Kelompok V
Penebangan dan pemotongan kayu/panglong, Penangkapan ikan laut, Penangkapan ikan laut lainnya, Pengumpulan hasil laut, terkecuali ikan Asam belerang Pabrik pupuk, Pabrik kaleng Perbaikan rumah, jalan-jalan, terusan-terusan konstruksi berat, pipa air, jembatan kereta api dan instalasi listrik Pengangkutan barang-barang dan penumpang di laut Pengangkutan barang dan penumpang di udara, Pabrik korek api Pertambangan minyak mentah dan gas bumi Penggalian batu, Penggalian tanah liat, Penggalian pasir, Penggalian gamping, Penggalian belerang, Tambang intan dan batu perhiasan, Pertambangan lainnya Tambang emas dan perak, Penghasilan batu bara, Tambang besi mentah, Tambang timah, Tambang bauksit, Tambang mangan, Tambang logam lainnya Lori perkebunan, Pabrik bahan peledak, bahan petasan, pabrik kembang api

DAFTAR PUSTAKA

BPJS Ketenagakerjaan. Diakses pada tanggal 28 Maret 2014 pukul 08.50 dari http://www.bpjsketenagakerjaan.go.id Susanto, Teguh. 2011. ANALISIS PENERAPAN JAMSOSTEK PADA PROYEK KONSTRUKSI. S1 thesis, UAJY. Diakses pada tanggal 28 Maret 2014 pukul 08.58 dari http://ejournal.uajy.ac.id/1503/