Anda di halaman 1dari 25

Zat Pew warna dan Pencel lup

MAKALAH
Disusun pada tanggal 25 Maret 2011 diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kimia Industri di prodi Pendidikan Kimia semester 6 dibimbing oleh Dr. Siti Suryaningsih, M.Pd.

Oleh:
Nama : Rofa Yulia Azhar NIM : 208 204 137 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2011 20 M/1423 H

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kimia industri adalah salah satu cabang dari ilmu kimia yang mempelajari proses pengolahan zat kimia dalam skala industri. Produk dalam kimia industri sangat mudah sekali kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah mengenai zat pewarna dan pencelup. Semua orang pasti pernah memanfaatkannya karena kedua teknik ini diaplikasikan pada kain yang sering digunakan manusia untuk menutup auratnya. Lebih jauh lagi, zat pewarna tidak hanya digunakan pada proses pencelupan kain agar menghasilkan warna tetapi sudah merambah ke dunia makanan. Kekhawatiran juga semakin membesar ketika penyalahgunaan dilakukan oleh sebagian orang yaitu dengan cara menggunakan zat pewarna kain untuk zat pewarna makanan. Dengan dalih efisiensi produksi, para produsen makanan mencoba meraup untuk sebanyak mungkin dengan mengganti zat pewarna makanan dengan zat pewarna pakaian yang lebih murah dan lebih berbahaya bagi kesehatan. Perlunya kesadaran akan pentingnya penyalahgunaan zat pewarna khususnya bagi produsen dan umumnya bagi konsumen mendorong keinginan penulis untuk membahas masalah zat pewarna dan pencelup lebih mendalam lagi.

1.2 Rumusan Masalah


Dalam menyusun makalah ini penyusun menyesuaikan isi makalah dengan situasi dan kondisi serta tuntutan yang relevan bagi kehidupan yang berkaitan dengan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi. Rumusan Masalah dari penyusunan makalah ini adalah: Bagaimana sejarah zat pewarna dan pencelup dimulai? Apa saja klasifikasi yang ada dalam zat pewarna?

Apa dampak dari penggunaan zat pewarna? Apa saja teori-teori yang terdapat pada proses pencelupan tekstil? Bagaimana mekanisme pencelupan tekstil dilakukan?

BAB II PEMBAHASAN

1.1 Sejarah Zat Pewarna


Bukti arkeologi menunjukkan bahwa, khususnya di India dan Timur Tengah, pewarna telah digunakan selama lebih dari 5000 tahun. Bahan pewarna dapat diperoleh dari hewan, tumbuhan, atau mineral. Pewarna yang diperoleh dari bahan-bahan ini tidak memerlukan proses pengolahan yang rumit. Sampai sejauh ini, sumber utama bahan pewarna adalah tumbuhan, khususnya akar-akaran, beri-berian, kulit kayu, daun, dan kayu.

Sebagian dari pewarna ini digunakan dalam skala komersil. Di Indonesia, sejak dahulu orang banyak menggunakan pewarna makanan tradisional yang berasal dari bahan alami, misalnya kunyit untuk warna kuning, daun suji untuk warna hijau dan daun jambu untuk warna merah. Pewarna alami ini aman dikonsumsi namun mempunyai

kelemahan, yakni ketersediaannya terbatas, dan warnanya tidak homogen sehingga tidak cocok digunakan untuk industri makanan dan minuman. Penggunaan bahan alami untuk produk massal akan meningkatkan biaya produksi menjadi lebih mahal dan lebih sulit karena sifat pewarna alami tidak homogen sehingga sulit menghasilkan warna yang stabil. Kemajuan teknologi pangan pangan memungkinkan zat pewarna dibuat secara sintetis. Dalam jumlah yang sedikit, suatu zat kimia bisa memberi warna yang stabil pada produk pangan. Dengan demikian produsen bisa menggunakan lebih banyak pilihan warna untuk menarik perhatian konsumen

1.2 Definisi Zat Pewarna


Zat pewarna secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu benda berwarna yang memiliki afinitas kimia terhadap benda yang diwarnainya. Bahan pewarna pada umumnya memiliki bentuk cair dan larut di

air. Pada berbagai situasi, proses pewarnaan menggunakan mordant untuk meningkatkan kemampuan menempel bahan pewarna. Zat warna menurut Witt (1876:70) merupakan gabungan zat organik tidak jenuh, kromofor dan auksokrom. Zat organic tidak jenuh adalah molekul zat warna yang berbentuk senyawa aromatik yang terdiri dari hidrokarbon aromatic, fenol dan senyawa yang mengandung nitrogen. Kromofor adalah pembawa warna sedangkan auksokrom adalah pengikat antara zat warna dengan serat. Menurut Irvan (2004) zat warna adalah bahan yang banyak digunakan dalam proses perindustrian antara lain tekstil, kertas, kosmetik, plastic, makanan dan rokok. Bahan pewarna dan pigmen terlihat berwarna karena mereka menyerap panjang gelombang tertentu dari cahaya. Berlawanan dengan bahan pewarna, pigmen pada umumnya tidak dapat larut, dan tidak memiliki afinitas terhadap substrat.

1.3 Klasifikasi Zat Pewarna


Berdasarkan sumbernya zat warna dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: a) Zat warna alami, yaitu zat warna yang dibuat dengan menggunakan tumbuh-tumbuhan, binatang dan mineral. b) Zat warna buatan, yaitu zat warna yang dibuat dari hasil penyulingan residu dan minyak bumi.

Berdasarkan bentuk kimianya zat warna dapat diklasifikasikan menjadi: 1. Zat warna nitro, 2. Zat warna nitroso, 3. Zat warna azo, 4. Zat warna antrakuinon 5. Zat warna lakton, dll.

Berdasarkan cara pemakaiannya zat warna dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu: 1. Zat warna yang larut dalam air. Zatwarna ayng larut dalam air diantaranya zat warna asam (dipergunakan dalam suasana asam memiliki daya serap langsung terhadap protein atau poliamida), zat warna basa (disebut zat warna kation daya serap langsung terhadap protein), zat warna direk (merupakan garam asam organik untuk mencelup seratserat selulosa), zat warna mordan dan kompleks logam (digunakan untuk mewarnai serat wol atau poliamida), zat warna belerang (mengandung belerang pada setiap kromofornya dan digunakan untuk mencelup serat selulosa), zat warna reaktif (zat warna yang dapat bereaksi dengan selulosa dan protein), dan zat warna dispersi (digunakan untuk mencelup serat-serat selulosa). 2. Zat warna yang tidak larut dalam air, diantaranya adalah zat warna pigmen (tidak memiliki daya serap terhadap serat-serat tekstil, penggunaannya harus dicampur resin, kegunaanya untuk pelapisan kulit dan kosmetik), zat warna dispersi(dibuat secara sintetik untuk serat tekstil yang bersifat termoplastik dan hidrofob)

Zat warna dispersi digolongkan kedalam empat macam berdasarkan ketahanan sublimasinya, yaitu: 1. Zat warna dispersi golongan A, BM kecil dan ketahanan sublimasi rendah. 2. Zat warna dispersi golongan B, memiliki sifat sublimasi sedang. 3. Zat warna dispersi golongan C, memiliki sifat tahan sublimasi tinggi. 4. Zat warna dispersi golongan D, memiliki sifat tahan sublimasi tinggi. 5. Zat warna dispersi memiliki beberapa sifat, diantaranya: BMnya kecil, Tidak larut dalam air Tidak mengion dalam air, Mempunyai titik leleh yang tinggi yaitu 150oC, Mempunyai tingkat kejenuhan 30-200 mg zat warna/gram serat,

Warnanya lengkap Jumlah warnanya banyak Warna yang dihasilkan merata, Tahan luntur. bahan pewarna secara keseluruhan dapat dibagi menjadi empat kelompok utama, yaitu, bahan-celup (dyes), pigmen (pigmen or lake), noda (stains), dan kotoran (dirts).

1.4 Dampak Zat Pewarna


Berikut ini beberapa alasan utama menambahkan zat pewarna pada makanan : a. Untuk memberi kesan menarik bagi konsumen. b. Menyeragamkan warna makanan dan membuat identitas produk pangan. c. Untuk menstabilkan warna atau untuk memperbaiki variasi alami warna. Dalam hal ini penambahan warna bertujuan untuk untuk menutupi kualitas yang rendah dari suatu produk sebenarnya tidak dapat diterima apalagi bila menggunakan zat pewarna yang berbahaya. d. Untuk menutupi perubahan warna akibat paparan cahaya, udara atau temperatur yang ekstrim akibat proses pengolahan dan selama penyimpanan. e. Untuk menjaga rasa dan vitamin yang mungkin akan terpengaruh sinar matahari selama produk disimpan. Dampak Negatif Zat Pewarna Pemerintah (Permenkes) Indonesia melalui Peraturan menetapkan Menteri 30 zat Kesehatan pewarna

No.239/Menkes/Per/V/85

berbahaya. Rhodamine B termasuk salah satu zat pewarna yang dinyatakan sebagai zat pewarna berbahaya dan dilarang digunakan pada produk pangan (Syah et al. 2005). Namun demikian, penyalahgunaan rhodamine B sebagai zat pewarna pada makanan masih sering terjadi di lapangan dan diberitakan di beberapa media massa. Sebagai contoh, rhodamine B ditemukan pada

makanan dan minuman seperti kerupuk, sambal botol dan sirup di Makassar pada saat BPOM Makassar melakukan pemeriksaan sejumlah sampel makanan dan minuman ringan (Anonimus 2006). Rhodamine B termasuk zat yang apabila diamati dari segi fisiknya cukup mudah untuk dikenali. Bentuknya seperti kristal, biasanya berwarna hijau atau ungu kemerahan. Di samping itu rhodamine juga tidak berbau serta mudah larut dalam larutan berwarna merah terang berfluorescen. Zat pewarna ini mempunyai banyak sinonim, antara lain Food Red 15, ADC Rhodamine B, Aizen Rhodamine, Brilliant Pink B Tetra Ethyl, Rheonine B, D & C Red No. 19, CI Basic Violet 10, dan CI No. 45179. . Rhodamine biasa digunakan dalam industri tekstil. Pada awalnya zat ini digunakan sebagai pewarna bahan kain atau pakaian. Campuran zat pewarna tersebut akan menghasilkan warna-warna yang menarik. Bukan hanya di industri tekstil, rhodamine B juga sangat diperlukan oleh pabrik kertas. Fungsinya sama yaitu sebagai bahan pewarna kertas sehingga dihasilkan warna-warna kertas yang menarik. Sayangnya zat yang seharusnya digunakan sebagai pewarna tekstil dan kertas tersebut digunakan pula sebagai pewarna makanan. Ciri - ciri pangan mengandung Rhodamin B : Berwarna merah menyala, bila produk pangan dalam bentuk

larutan/minuman warna merah berpendar atau berflueresensi. Dalam pengelolaan tahan terhadap pemanasan (direbus/digoreng warna tidak pudar). Banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada kerupuk, es puter).

Penggunaan zat pewarna ini dilarang di Eropa mulai 1984 karena rhodamine B termasuk karsinogen yang kuat, juga sangat berbahaya jika rhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan tertelan. Akibat yang

ditimbulkan dapat berupa: iritasi pada saluran pernapasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi saluran pencernaan, dan bahaya kanker hati. Bahaya akut Rhodamin B bila sampai tertelan maka dapat

menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan dan air seni akan berwarna merah atau merah muda. Apabila terpapar Rhodamin B dalam waktu yang lama, maka dapat menyebabkan gangguan pada fungsi hati dan kanker hati. Penyalahgunaan Rhodamin B untuk pewarna pangan telah ditemukan untuk berapa jenis pangan. Pangan tersebut antara lain adalah kerupuk, terasi, dan pangan jajanan yang berwarna merah.Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa zat pewarna tersebut memang berbahaya bila digunakan pada makanan. Hasil suatu penelitian menyebutkan bahwa pada uji terhadap mencit, rhodamine B menyebabkan terjadinya perubahan sel hati dari normal menjadi nekrosis dan jaringan di sekitarnya mengalami disintegrasi. Kerusakan pada jaringan hati ditandai dengan adanya piknotik (sel yang melakukan pinositosis) dan hiperkromatik dari nukleus, degenerasi lemak dan sitolisis dari sitoplasma (Anonimus 2006). Dalam analisis yang menggunakan metode destruksi yang kemudian diikuti dengan analisis metode spektrofometri, diketahui bahwa sifat racun rhodamine B tidak hanya disebabkan oleh senyawa organik saja tetapi juga oleh kontaminasi senyawa anorganik terutama timbal dan arsen (Subandi 1999). Keberadaan kedua unsur tersebut menyebabkan rhodamine B berbahaya jika digunakan sebagai pewarna pada makanan, obat maupun kosmetik sekalipun. Hal ini didukung oleh Winarno (2004) yang menyatakan bahwa timbal memang banyak digunakan sebagai pigmen atau zat pewarna dalam industri kosmetik dan kontaminasi dalam makanan dapat terjadi salah satu diantaranya oleh zat pewarna untuk tekstil.

1.5 Sejarah Pencelupan


Sejarah pencelupan tidak terlepas dari sejarah penemuan kain. Penemuan kain yang diawali dengan penemuan benang sebenarnya tidak

didokumentasikan secara pasti. Tapi semoga sejarah yang masih simpang siur

itu bisa berguna..menurut sebuah kisah, konon kain sutra berasal dari negeri Tiongkok alias negeri Cina. Makanya,tembok Cina yang tersohor itu juga dikenal sebagai jalur jalan perdagangan sutra. Menurut

cerita ini, benang sutra yang didapat dari ulat sutra, pertama kali ditemukan oleh Ratu Xi Ling-Shi ribuan tahun lalu.Ceritanya, suatu hari ketika Ratu Xi Ling-Shi sedang bertamasya, ia menemukan kepompong ulat sutra.Karena penasaran, kepompong itu pun disentuh dengan jarinya. Ia pun mencoba menarik selembar benang yang keluar dari kepompong itu. Dan, sungguh menakjubkan, semakin ia tarik benangnya semakin panjang hingga menutupi dan membalut jarinya. Ratu pun berhenti menarik benang karena tangannya terasa panas. Ketika benang itu habis, ratu melihat kepompong kecil.Akhirnya dia menyadari bahwa kepompong itu merupakan sumber benang yang kemudian disebut benang sutra. Ratu pun lalu bercerita kepada semua orang sehingga penemuan ini dikenal secara luas.

1.6 Definisi Pencelupan


Menurut Jumaeri (1977: 263), pencelupan adalah proses pemasukan zat warna kedalam serat tekstil atau penempelan zat warna pada permukaan tekstil yang merata dengan bantuan air, uap air atau pemanasan kering. Pada proses pencelupan tekstil zat warna yang bisa digunakan adalah zat warna alami dan zat warna buatan. Umumnya zat warna buatan lebih diminati karena memiliki banyak warna, lebih mudah memperoleh komposisi yang tetap, dan cara pemakaiannya mudah. Pencelupan bahan tekstil dapat dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu: a. Pencelupan dengan serat, tujuannya agar benang atau serat yang dihasilkan mempunyai efek warna yang tidak sama. b. Pencelupan benang, tujuannya agar kain yang dihasilkan

mempunyai corak tertentu. c. Pencelupan kain, dengan tujuan hasil pewarnaannya rata dan sama pada seluruh permukaan kain.

10

1.7 Teori-Teori Pencelupan Serat-Serat Tekstil


Serat tekstil sebagai bahan baku utama untuk industri tekstil memegang peranan sangat penting. Serat tekstil yang digunakan pada industri tekstil bermacam macam jenisnya. Ada yang langsung diperoleh dari alam dan ada juga yang berupa serat buatan. Sifat serat tekstil yang digunakan akan mempengaruhi proses pengolahannya dan juga akan sangat menentukan sifat bahan tekstil jadinya. Pemilihan zat warna yang sesuai untuk serat merupakan suatu hal yang penting. Pewarnaan akan memberikan nilai jual yang lebih tinggi. Efisiensi zat warna sangat penting dimana harga bahan kimia cenderung mengalami kenaikan. Selain itu efektifitas kecocokan warna harus diperhatikan kerena merupakan faktor utama penentu mutu produk tekstil. Pencelupan adalah suatu proses pemberian warna pada bahan tekstil secara merata dan baik, sesuai dengan warna yang diinginkan. Sebelum pencelupan dilakukan maka harus dipilih zat warna yang sesuai dengan serat. Pencelupan dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik dengan menggunakan alat alat tertentu pula. Pencelupan pada umumnya terdiri dari melarutkan atau mendispersikan zat warna dalam air atau medium lain, kemudian memasukkan bahan tekstil kedalam larutan tersebut sehingga terjadi penyerapan zat warna kedalam serat. Penyerapan zat warna kedalam serat merupakan suatu reaksi eksotermik dan reaksi kesetimbangan. Beberapa zat pembantu misalnya garam, asam, alkali atau lainnya ditambahkan kedalam larutan celup dan kemudian pencelupan diteruskan hingga diperoleh warna yang dikehendaki. Vickerstaf menyimpulkan bahwa dalam pencelupan terjadi tiga tahap, yaitu : Tahap pertama merupakan molekul zat warna dalam larutan yang selalu bergerak, pada suhu tinggi gerakan molekul cepat. Kemudian bahan tekstil dimasukkan kedalam larutan celup. Serat tekstil dalam larutan bersifat negatif pada permukaannya sehingga dalam tahap ini terdapat dua kemungkinan yakni molekul zat warna akan tertarik oleh serat atau tertolak menjauhi serat.

11

Oleh karena itu perlu penambahan zat zat pembantu untuk mendorong zat warna lebih mudah mendekati permukaan serat. Peristiwa tahap pertama tersebut sering disebut difusi zat warna dalam larutan. Dalam tahap kedua molekul zat warna yang mempunyai tenaga cukup besar dapat mengatasi gaya gaya tolak dari permukaan serat, sehingga molekul zat warna tersebut dapat terserap menempel pada permukaan serat. Peristiwa ini disebut adsorpsi. Tahap ketiga yang merupakan bagian yang terpenting dalam pencelupan adalah penetrasi atau difusi zat warna dari permukaan serat kepusat. Tahap ketiga merupakan proses yang paling lambat sehingga dipergunakan sebagai ukuran menentukan kecepatan celup.

Gaya gaya ikat pada pencelupan Agar supaya pencelupan dan hasil celupan baik dan tahan cuci, maka gaya ikatan antara zat warna dengan serat harus lebih besar daripada gaya gaya yang bekerja antara zat warna dengan air. Pada dasarnya dalam pencelupan terdapat empat jenis gaya ikatan yang menyebabkan adanya daya serap yaitu ; 1. Ikatan Hidrogen Merupakan ikatan sekunder yang terbentuk karena atom hidrogen pada gugus hidroksil atau amina mengadakan ikatan yang lemah dengan atom lainnya. Contoh : zat warna direk, naftol, dispersi. 2. Ikatan Elektrovalen Ikatan antara zat warna dengan serat yang kedua merupakan ikatan yang timbul karena gaya tarik menarik antara muatan yang berlawanan. Contoh : Zat warna asam, zat warna basa. 3. Ikatan non polar/ Van der Waals Pada proses pencelupan daya tarik antara zat warna dan serat akan bekerja lebih sempurna bila molekul molekul zat warna tersebut berbentuk memanjang dan datar. Contoh : zat warna direk, zat warna bejana, belerang, dispersi, dan sebagainya.

12

4. Ikatan kovalen Misalnya zat warna reaktif terikat pada serat dengan ikatan kovalen yang sifatnya lebih kuat daripada ikatan ikatan lainnya sehingga sukar dilunturkan.

Sifat sifat pencelupan suatu zat warna sering direpresentasikan dalam suatu kurva pencelupan tertentu. Dari kurva tersebut diharapkan dapat diperoleh interpretasi yang lebih nyata tentang karakteristik zat warna dalam proses pencelupan. Afinitas sesuatu zat warna umumnya merefleksikan kurva isotherm penyerapan, yakni kurva yang melukiskan perbandingan antar azat warna yang tercelup di dalam serat dengan zat warna di dalam larutan pada berbagai konsentrasi, diukur pada suhu yang sama. Apabila isotherm tersebut merupakan larutan sesuatu zat dalam sistem cairan dua fasa, maka akan diperoleh isotherm garis lurus menurut rumus Nerst. Isotherm Langmuir, yaitu yang kerap kali dipergunakan dalam peristiwa pencelupan dimana serat-serat tekstil dianggap mempunyai tempat-tempat tertentu yang aktif dan terbatas yang dapat ditempati oleh molekul-molekul zat warna. Apabila tempat-tempat tersebut telah terisi, maka penyerapan zat warna akan berhenti meskipun konsentrasinya dalam larutan ditambah. Kemudian isotherm yang ketiga yang juga banyak dipergunakan dalam pencelupan adalah isotherm Freundlich. Isotherm tersebut tidak mempunyai batas penempatan molekul-molekul zat warna dalam molekul serat, dan dapat dituliskan dalam suatu rumus atau bentuk kurva. Pencelupan adalah suatu proses pemberian warna pada bahan tekstil secara merata dan baik, sesuai dengan warna yang diinginkan. Dalam pencelupan mempunyai tujuan tujuan dan sasaran yang hendak dicapai antara lain :

13

Kerataan hasil pencelupan 1. Keadaan bahan sebelum celup


Bebas dari minyak Scouring/ Bleaching yang merata Hasil merserisasi yang merata Bahan tidak kusut Tidak terjadi kostiksasi setempat Penempatan bahan dalam mesin yang rapi

2. Karakteristik zat warna


Kurva penyerapan zat warna Kurva fiksasi zat warna Sifat migrasi zat warna

3. Proses pencelupan

Ikuti program yang telah ditentukan Perhatikan urutan proses pemasukan zat warna dan obat bantu Pemasukan zat warna garam alkali sesuai dengan waktu yang ditentukan.

4. Pengaruh mekanisme bahan, mesin dan larutan.


Penempatan bahan dimesin Kecepatan bahan dalam mesin mesin menit per cycle Bahan terlalu cepat terjadi kemacetan, friksi dan berbulu. Bahan terlalu lambat mengakibatkan belang Reproduksi yang baik

5. Pengaruh liquor ratio

Jumlah garam dan alkali yang sama zat warna, dengan LR yang tinggi warna akan menjadi muda

Konsentrasi garam dan alkali berubah

14

6. Stabilitas kualitas bahan


Gunakan asal material yang sama Proses merserisasi yang sama Proses dan kondisi S/B yang konsisten Hilangkan sisa sisa hidrogen peroksida dari S/B

7. Pengaruh temperatur

Reaksi antara zat warna dengan bahan ditentukan oleh jenis dan jumlah alkali dan temperatur.

Effisiensi yang tinggi. Menyangkut beberapa hal : a. Faktor waktu, berhubungan ke produktifitas dan biaya. b. Penggunaan air, berhubungan dengan bagian konservasi air. c. Penyabunan, hubungannya dengan daya tahan luntur. d. Fiksasi yang tinggi, hubungannya dengan penyabunan dan air limbah. Proses persiapan pencelupan meliputi pelarutan zat warna, penggunaan

air dan zat pelunak air yang dipakai, persiapan bahan, pemasakan, pengelantangan. Metode pencelupan bermacam macam tergantung efektifitas dan efisiensi yang akan diharapkan. Metode pencelupan bahan tekstil diantaranya adalah :

Metode pencelupan, Mc Winch, Jet/ over flow, package, dan beam. 1. 2. 3. 4. Metode normal proses, penambahan garam secara bertahap. Metode all in proses. Metode migrasi proses. Metode isotermal proses.

Metode pencelupan cara jigger Metode pencelupan cara pad batch.

Teknik pencelupan lainnya adalah sistem kontinyu atau semi kontinyu, exhoution, teknik migrasi, caracarrier atau pengemban, cara HT/HP atau

15

tekanan dan suhu tinggi, cara thermosol, dengan pelarut organik, dengan larutan celup tuggal/ ganda, cara satu bejana celup, dengan pemeraman, dan sebagainya. Sebelum dilakukan pencelupan maka bahan tekstil harus

dilakukan pretreatment terlebih dahulu supaya hasil celup sempurna. Diantara proses tersebut adalah : Singieng : Menghilangkan bulu bulu yang timbul pada benang atau kain akibat gesekan gesekan yang terjadi pada proses pertenunan, proses ini dimaksudkan supaya permukaan kain akan menjadi rata, sehingga pada proses pencelupan akan didapatkan warna yang rata dan cemerlang. Dezising : Menghilangkan zat zat kanji yang melapisi permukaan kain atau benang, sehingga dengan hilangnya kanji tersebut penyerapan obat obat kimia kedalam kain tidak terhalang. Scouring : Menghilangkan pectin, lilin, lemak dan kotoran atau debu debu yang ada pada serat kapas. Zat zat ini akan menolak pembasah air sehingga kapas yang belum dimasak susah dibasahi yang menyebabkan proses penyerapan larutan obat obat kimia dalam proses proses berikutnya tidak terjadi dengan sempurna. Bleaching : Menghilangkan zat zat pigmen warna dalam serat yang tidak bisa hilang pada saat proses scouring, sehingga warna bahan menjadi lebih putih bersih dan tidak mempengaruhi hasil warna pada saat proses pencelupan dan pemutihan optical. Mercerizing : Memberikan penampang serat yang lebih bulat dengan melepaskan putaran serat atau reorientasi dari rantai rantai molekul selulosa menyebabkan deretan kristalin yang lebih sejajar dan teratur. Proses ini akan menambah kilap, daya serap terhadap zat warna bertambah, memperbaiki kestabilan dimensi, kekuatan tarik bertambah, memperbaiki dan menghilangkan efek negative kapas yang belum matang/kapas mati.

16

Beberapa pretreatment kadang tidak harus semua dilakukan hal ini tergantung pada kebutuhan. Setelah selesai pengerjaan tersebut pencelupan dapat dilakukan misalnya pencelupan dengan sistem exhoution/ perendaman dan sistem kontinyu.

Hal hal yang mempengaruhi proses pencelupan. 1. Pengaruh elektrolit Pada intinya penambahan elektrolit kedalam larutan celup adalah memperbesar jumlah zat warna yang terserap oleh serat, meskipun beraneka zat warna akan mempunyai kesepakatan yang berbeda.

2. Pengaruh Suhu Pada umumnya peristiwa pencelupan adalah eksotermis. Maka dalam keadaan setimbang penyerapan zat warna pada suhu yang tinggi akan lebih sedikit bila dibandingkan penyerapan pada suhu yang rendah. Akan tetapi dalam praktek keadaan setimbang tersebut sukar dapat dicapai hingga pada umumnya dalam pencelupan memerlukan pemanasan untuk mempercepat reaksi

3. Pengaruh perbandingan larutan Perbandingan larutan celup artinya perbandingan antara besarnya larutan terhadap berat bahan tekstil yang diproses. Dalam kurva isotherm terlihat bahwa kenaikan konsentrasi zat warna dalam larutan akan menambah besarnya penyerapan. Maka untuk mencelup warna-warna tua diusahakan untuk memakai perbandingan larutan celup yang kecil, sehingga zat warna yang terbuang atau hilang hanya sedikit. Untuk mengurangi pemborosan dalam pemakian zat warna dapat mempergunakan larutan simpan bekas (standing bath) celupan. Dengan menambahkan zat warna baru pada larutan bekas tadi maka dapat diperoleh larutan celup dengan konsentrasi seperti semula.

17

4. Pengaruh pH Penambahan alkali mempunyai pengaruh menambah penyerapan. Meskipun demikian kerap kali dipergunakan soda abu untuk mengurangi kesadahan air yang dipakai atau untuk memperbaiki ke larutan zat warna.

Hal hal yang perlu diperhatikan pada proses pencelupan. Untuk memperoleh kerataan pencelupan ada dua cara yang dapat ditempuh yaitu dengan pengendalian adsorpsi dan peningkatan migrasi terutama dengan adisi Leveling Agent. Kurva pencelupan diproyeksikan untuk mengendalikan proses pencelupan. Beberapa kurva yang sering dipakai adalah : 1. Exhoustion curve (kurva isotermis) Yaitu kurva yang menunjukkan jumlah zat warna yang teradsorpsi sebagai persentasi dari jumlah zat warna yang digunakan mula mula pada berbagai unit waktu dan temperatur yang konstan. 2. Temperature curve Kurva ini menggambarkan persentasi penyerapan zat warna pada berbagai temperatur pencelupan pada suatu konsentrasi tertentu. 3. Time, Temperature curve Kurva ini dibuat terlebih dahulu menentukan waktu dan temperatur yang dicapai sehubungan dengan waktu tersebut. Zat warna yang terserap pada setiap waktu/ temperatur dinyatakan sebagai persentasi dari konsentrasi yang digunakan, pada temperatur maksimum penerapan zat warna dinyatakan sebagai fungsi dari waktu. 4. Adsorption curve Kurva adsorpsi ini dapat diperoleh dengan mencelup bahan dengan zat warna pada konsentrasi tertentu. 5. Daerah Pencelupan Kritis Berdasarkan uji statistik diperoleh ketentuan bahwa kerataam

pencelupan ditentukan oleh kerataan distribusi dari 80% zat warna yang

18

dipakai. Penyerapan zat warna pada prinsipnya mengikuti kurva distribusi statistik normal. Karena kerataan pencelupan ditentukan pada daerah penyerapan 80% zat warna maka daerah ini disebut pula daerah pencelupan kritis. Karena pada daerah pencelupan kritis pembagian zat warna yang menentukan kerataan terserap, maka sudah selayaknya pada daerah ini kecepatan pemanasan dilakukan lebih perlahan. 6. Diagram Proses Pencelupan Proses pencelupan yang optimal ialah proses yang mengatur parameter parameter pencelupan sedemikian rupa hasil pewarnaan yang baik diperoleh dalam waktu yang sesingkat mungkin tanpa mengurangi daya kerataan dan reproduksi yang baik. Parameter proses pencelupan yang paling utama adalah waktu dan temperatur.

Diagram proses pencelupan adalah diagram yang menunjukkan hubungan antara temperatur dan waktu pencelupan atau dengan kata lain diagram yang menunjukkan kecepatan penaikan/ penurunan temperatur dan lamanya waktu pada suatu temperatur tertentu. Makin lambat penaikan temperatur makin kecil resiko ketidakrataan tapi dilain pihak makin rendah produktivitas. Diagram proses pencelupan yang rasional adalah diagram yang mengatur kecepatan penaikan temperatur sehingga hasil yang baik dapat dicapai dalam waktu yang sesingkat mungkin. Hal ini dapat dicapai dengan jalan memperlambat penaikan temperatur pada daerah pencelupan kritis dan mempercepat penaikan temperatur diluar daerah kritis tersebut.

1.8 Polyester dan Mekanisme Pencelupannya


Poliester Poliester adalah serat sintetik yang merupakan ester yang dihasilkan dari kondensasi antara dua komponen dasar glikol. yaitu asam tereftalat dan etilen

19

Beberapa sifat fisika polyester: Kekuatan mulur yang tinggi, Elastisitasnya baik, Kandungan air serat polyester pada suhu 27oC, Berat jenisnya 1,38 gram/cm, Titik lelehnya pada suhu 250oC, Penampang serat polyester berbentuk silinder dengan penampang lintang bulat.

Beberapa sifat kimia polyester: Mempunyai ketahanan yang baik terhadap reduktor, Ketahanan terhadap asam kuat kurang baik tetapi terhadap asam lemah baik, Tahan terhadap oksidator, Tahan terhadap alkali lemah pada suhu kamar tetapi ketahananya menurun jika suhu dinaikkan. Larut dalam metakresol panas, asam trifluoroasetat-orto-klorofenol,

Mekanisme Pencelupan Polyester Mekanismenya menyerupai distribusi zat padat kedalam dua pelarut yang tidak bercampur. Mekanismenya antaralain sebagai berikut: 1. Zat warna disperse berpindah dalam larutan celup dari bentuk agregat kedalam serat dalam bentuk molekuler (0,5-2 mikron), 2. Bagian amorf dan bagian yang terorientasi akan ditempati zat warna, 3. Rantai molekul menyusup ke celeh-celah rantai, 4. Warna terserap keseluruh permukaan kain. 5. Proses difusi fiksasi 6. Proses pendinginan 7. Proses pencucian

20

Bagan proses pencelupan polyester


Tahap migra i

Tahap a! "rp i

Tahap !i&' i &i( a i

#$%!i%gi%a%

#$%)')ia%

Metode Pencelupan Polyester Dengan Zat Warna Dispersei Ada tiga cara pencelupan polyester dengan zat warna disperse, yaitu: a. Metode pencelupan dengan bantuan zat pengemban (carier) Dilakukan pada suhu 80-100oC dalam suasana asam (pH 4,5-5,5) dengan menggunakan zat pengemban. Prosesnya: zat epngemban berdifusi kedalam serat molekul zat warna disperse masuk kedalam serat polyester metode ini jarang dilakukan karena mahal, prosesnya lam dan warna yang dihasilkan tidak rata.

21

Mesin yang dipergunakan adalah sebagai berikut: Mesin Winc untuk kain Rope Mesin Jigger untuk kain open Widht

b. Metode pencelupan suhu dan tekanan tinggi (high temperature/high pressure) Tekanan berfungsi untuk manaikan suhu larutan celup dan untuk membantu penyerapan zat warna kedalam serat. Dilakukan pada mesin yang tertutup diatas suhu 100oC. metode ini banyak digunakan karena memiliki banyak keuntungan, yaitu adsorpsi zat warna cepat, hemat bahan kimia dan zat warna, waktu cepat, warnanya merata, tahan gosok, cusi dan sublimasi lebih baik karena penetrasi zat warna kedalam molekul serat lebih sempurna. Mesin yang digunakan untuk kain bentuk Rope adalah sebagai berikut: Vertical jet dyeing horizontal jet dyeing

Mesin yang digunakan untuk kain bentuk Open Width adalah sebagai berikut:

22

Beam Dyeing

c. Metode pencelupan thermosol Merupakan pencelupan kain dengan skala besar/ industry, dan dilakuakn pada suhu diatas 180oC. urutan prosesnya adalah sebagai berikut: Penyerapan zat warna kepermukaan serat, Pengeringan pendahukuan pada suhu 120-220oC, Pencucian kontinyu yang meliputi pencucian reduksi dan penyabunan Keuntungan metode ini kain dapat terwanai dengan sempurna meskipun dalam jumlah besar, namun kontruksi kain menjadi berat dan zat warna yang digunakan terbatas pada zat warna disperse golongan D saja.

Proses pencelupan dengan metode thermosol adalah sebagai berikut: a) Pengeringan pendahuluan dan perendaman (padding and predarying), b) Pencelupan kain kedalam larutan zat warna (dyeing) c) Prose fiksasi zat warna (thermosoling), d) Pencucian (washing) e) Pengeringan (drying)

23

BAB III PENUTUP


3.1 Simpulan
Zat pewarna telah lama digunakan sebagai bumbu daya tarik terhadap suata barang. Zat pewarna paling umum digunakan pada makanan. Tetapi pada perkembangannya, zat pewarna diaplikasikan untuk pakaian.

Pemanfaatan teknologi yang tidak dibarengi pengetahuan menyanyebabkan terjadi penyelewengan dalam penggunaan zat pewarna. Zat pewarna pakaian sering digunakan untuk mewarnai makanan. Alasan utama adalah keuntungan yang sebesar-besarnya yang menyebabkan produsen makanan melakukannya. Padahal sangat jelas jika pewarna pakaian berdampak buruk bagi kesehatan. Pencelupan pakaian ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Tinggal memilih warna lalu memasakukan pakaian ke dalam zat pewarna. Dalam pencelupan pakaian diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai kurva isotermis, kurva waktu, kurva suhu, kurva adsorpsi, daerah pencelupan kritis dan diagram proses pencelupan.

24

DAFTAR PUSTAKA
Cooper, Randall L, 1986. Color Removal Using Alum and Cationic Polymers. USA : Pennsylvania state university park dept of civil engineering. Darmojo S, Hardjito. 2003. Teknologi Pencelupan II Terapan, Metode Teori dan

Praktisi. Tangerang : FT Teknik Kimia Tekstil Unis Tangerang


Lee TA, Sci BH, Counsel. 2005. The food from hell: food colouring. The Internet

Journal of Toxicology. Vol 2 no 2. China: Queers Network Research.


Nn. Isminingsih. dkk. 1978/1979. Pengantar Kimia Zat Warna. Bandung : Institut Teknologi Tekstil Pratikto, Eko. Kimia Zat Warna. Tangerang : FT Teknik Kimia Tekstil Unis Tangerang. Subandi. 1999. Penelitian kadar arsen dan timbal dalam pewarna rhodamine B

dan auramine secara spektrofotometri: Suatu penelitian pendahuluan.


http://www.malang.ac.id/jurnal/fmipa/mipa/1999a.htm. [30 September 2006 ] Syah et al. 2005. Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB.

25