Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas penyusunan makalah ini tepat pada waktunya. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu referensi bagi pembaca dalam hal mengenai Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit. Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan informasi bagi para pembaca tentang mengenai Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit. Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki masih sangatlah kurang. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Bandung, 11 Desember 2013

Penyusun

Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 1

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................................................. 1 DAFTAR ISI................................................................................................................................................. 2 BAB I ............................................................................................................................................................ 3 PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 3 1.1 Latar Belakang .................................................................................................................................... 3 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................................... 3 1.3 Tujuan ................................................................................................................................................. 3 BAB II........................................................................................................................................................... 4 PEMBAHASAN ........................................................................................................................................... 4 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 Jenis-Jenis Pengujian .................................................................................................................... 4 Memilih Jenis Pengujian yang Tepat Untuk Dilaksanakan= ........................................................ 6 Dampak Teknologi Informasi Terhadap Pengujian Audit ............................................................ 8 Bukti Gabungan ............................................................................................................................ 9 Merancang Program Audit .......................................................................................................... 10

2.6 Hubungan Tujuan Audit Terkait Transaksi dengan Tujuan Audit Terkait Saldo serta Tujuan Audit Terkait Penyajian dan Pengungkapan ........................................................................................... 16 2.7 2.8 Ikhtisar Istilah-Istilah Penting Terkait Bukti............................................................................... 16 Ikhtisar Proses Audit ................................................................................................................... 18

BAB III ....................................................................................................................................................... 20 PENUTUP .................................................................................................................................................. 20 KESIMPULAN ............................................................................................................................... 20

Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 2

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keseluruhan perencanaan audit dan program audit merupakan langkah terakhir dalam fase perencanaan audit. Langkah yang paling penting ini akan menentukan keseluruhan program audit yang akan diikuti oleh auditor, termasuk semua prosedur audit, ukuran sampel, unsur-unsur yang dipilih, serta waktunya. Hal yang berkaitan dengan pentingnya membuat keputusan yang tepat dalam membentuk perencanaan audit secara keseluruhan dan mengembangkan suatu program audit yang terperinci, dengan mempertimbangkan efektivitas bukti maupun efisiensi audit.

1.2 Rumusan Masalah


1. 2. 3. 4. 5. 6. Apa saja jenis-jenis pengujian? Bagaimana memilih jenis pengujian yang tepat untuk dilaksanakan? Bagaimana dampak teknologi informasi terhadap pengujian audit? Apa yang dimaksud dengan bukti gabungan? Bagaimana merancang program audit? Bagaimana hubungan tujuan audit terkait transaksi dengan tujuan audit terkait saldo serta tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan? 7. Apa saja ikhtisar istilah-istilah penting terkait bukti? 8. Apa saja ikhtisar proses audit?

1.3 Tujuan
1. 2. 3. 4. 5. 6. Untuk mengetahui jenis-jenis pengujian. Untuk mengetahui cara memilih jenis pengujian yang tepat untuk dilaksanakan. Untuk mengetahui dampak teknologi informasi terhadap pengujian audit. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan bukti gabungan. Untuk mengetahui cara merancang program audit. Untuk mengetahui hubungan tujuan audit terkait transaksi dengan tujuan audit terkait saldo serta tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan. 7. Untuk mengetahui ikhtisar istilah-istilah penting terkait bukti 8. Untuk mengetahui ikhtisar proses audit.

Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 3

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Jenis-Jenis Pengujian
Dalam mengembangkan rencana audit keseluruhan, auditor menggunakan lima jenis pengujian untuk menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar. Auditor menggunakan prosedur pengukuran risiko untuk menilai risiko salah saji material, yang digambarkan oleh gabungan antara risiko bawaan dan risiko pengendalian. Empat jenis pengujian audit lainnya menggambarkan prosedur audit lanjutan yang dilakukan untuk menhadapi risiko-risiko yang teridentifikasi. Masing-masing prosedur audit masuk kedalam satu, dan terkadang lebih dari satu. Dari kelima kategori ini.

Prosedur Pengukuran Risiko Standar pekerjaan lapangan kedua mengharuskan auditor untuk mendapatkan pemahaman atas entitas dan lingkungannya, termasuk pengendalian internalnya, untuk mengukur risiko salah saji material dlam laporan keuangan klien. Secara bersamaan, prosedur yang dilakukan untuk mendapatkan pemahaman atas entitas dan lingkungannya, termasuk pengendalian internal, merupakan prosedur penilaian risiko yang dilakukan auditor. Prosedur pengukuran risiko dilakukan untuk menilai risiko salah saji material dalam laporan keuangan. Auditor melakukan pengujian pengendalian, pengujian substantif transaksi, prosedur analitis serta pengujian atas perincian saldo dalam melakukan penilaian terhadap salah saji material sebagaimana diharuskan dalam PSA 26 (SA 350). Gabungan dari keempat jenis prosedur audit lanjutan ini akan memberikan dasar bagi opini auditor. Pengujian Pengendalian Untuk mendapatkan bukti yang tepat dan mencukupi untuk mendukung pengukuran tersebut, auditor melakukan pengujian pengendalian. Pengujian pengendalian, baik secara manual maupun otomatis, dapat mencakup jenis bukti berikut: - Melakukan tanya jawab yang memadai dengan personel klien. - Memeriksa dokumen, catatan, dan laporan. - Mengamati aktivitas terkait pengendalian. - Mengerjakan ulang prosedur-prosedur klien. Pengujian pengendalian juga digunakan untuk menentukan apakah penggunaan pengendalian tersebut telah efektif dan biasanya digunakan untuk menguji sebuah sampel transaksi. prosedur yang dilakukan untuk mendapatkan pemahaman atas pengendalian internal biasanya tidak memberikan bukti tepat yang memadai untuk
Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 4

mendukung bahwa pengendalian telah berjalan efektif. Jumlah bukti tambahan yang diharuskan untuk menguji pengendalian bergantung pada dua hal berikut : 1. Keluasan bukti yang didapatkan dalam memperoleh pengendalian internal. 2. Pengurangan risiko pengendalian yang direncanakan. pemahaman atas

Pengujian Substantif Transaksi Pengujian substantif merupakan prosedur yang dirancang untuk menguji salah saji rupiah (salah saji moneter) yang secara langsung berpengaruh pada ketepatan saldo laporan keuangan. Auditor mengandalkan tiga jenis pengujian substantif. Pengujian substantif transaksi digunakan untuk menentukan apakah keenam tujuan audit terkait transaksi telah terpenuhi untuk setiap kelompok transaksi. dua dari enam tujuan untuk transaksi penualan adalah transaksi penjualan benar-benar tejadi dan transaksi penjualan yang ada telah dicatat. Auditor dapat melakukan pengujian pengendalian secara terpisah dari semua pengujian lainnya, namun sering kali lebih efisien untuk melakukannya bersamaan dengan pengujian substantif transaksi. Prosedur Analitis Prosedur analitis melibatkan perbandingan-perbandingan jumlah yang tercatat dengan ekspektasi yang dikembangkan oleh auditor. Standar audit mengharuskan prosedur analitis dilakukan selama perencanaan dan penyelesaian audit. Dua tujuan utama dari prosedur analitis dalam mengaudit saldo akun adalah untuk : 1. Mendandai adanya kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan. 2. Memberikan bukti substantif. Standar audit menyatakan bahwa prosedur analaitis merupakan salah satu jenis pengujian substantif (yaitu prosedur analitis substantif) ketika dilakuakn utuk memberikan bukti mengenai suatu saldo akhir tahun.

Pengujian Terperinci Saldo Pengujian terperinci saldo memfokuskan pada saldo akhir buku besar baik untuk akun-akun neraca maupun laba rugi. Penekanan utama dalam sebagian besar pengujian atas perincian saldo adalah pada neraca. Seperti halnya untuk transaksi, pengujian auditor atas perincian saldo juga harus memenuhi semua tujuan audit terkait saldo untuk setiap akun-akun neraca yang signifikan. Pengujian terperinci saldo membantu menciptakan ketepatan moneter akun-akun yang terkait, sehingga merupakan pengujian substantif.

Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 5

Ikhtisar Jenis-Jenis Pengujian Pengujian pengendalian membantu auditor dalam mengevaluasi apakah pengendalian terhadap transaksi dalam siklus tersebut telah cukup efektif untukmendukung pengurangan penilaian risiko pengendalian, sehingga memungkinkan pengurangan pengujian substantif. Pengujian pengendalian juga membentuk dasar laporan auditor atas pengendalian internal terhadap laporan keuangan untuk klien-klien yang merupakan perusahaan publik. Dengan menggabungkan jenis pengujian audit, auditor mendaapatkan keyakianan keseluruhan yang lebih tinggi untuk transaksi dan akun dalam siklus penjualan dan penagihan dibandingkan dengan keyakinan yang didapatkan dari setiap pengujian lainnya.

2.2 Memilih Jenis Pengujian yang Tepat Untuk Dilaksanakan=


Biasanya auditor menggunakan kelima jenis pengujian ketika melakukan audit atas laporan keuangan, namun beberapa jenis pengujian mendapatkan penekanan yang lebih dibandingkan dengan yang lain, bergantung pada kondisi. Dalam prosedur analitis diharuskan dalam semua audit untuk menilai resiko salah saji material, sementara keempat jenis pengujian lainnya dilakukan untuk menghadapi risiko yang teridentifikasi untuk memberikan dasar bagi opini auditor. Terdapat beberapa factor yang memengaruhi pilihan auditor terhadap jenis pengujian yang dipilih, termasuk ketersediaan kedelapan bukti audit, biaya relative untuk setiap pengujian, efektivitas pengendalian internal serta risiko bawaan. Ketersediaan Jenis Bukti Prosedur Audit Lanjutan Tabel 11-2 Hubungan antara prosedur Analitis Lanjutan dan Bukti Jenis Bukti Tanya Jawab Klien Dokumentasi Pemeriksaan Fisik Prosedur Audit Lanjutan Penghitunga n Ulang Konfirmasi Pengerjaan Ulang Observasi

Pengujian atas pengendalian (termasuk prosedur untuk mendapatkan pemahaman atas pengendalian internal) Pengujian substantive atas transaksi Prosedur analitis Pengujian terperinci atas saldo
Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 6

Prosedur Analitis

Kita dapat melakukan beberapa pengamatan mengenai table di atas. Makin banyak jenis bukti, yang jumlah totalnya 6, digunakan untuk menguji peperincian saldo dibandingkan ntuk setiap jenis pengujian lainnya. Hanya pengujian terperinci saldo yang melibatkan pemeriksaan fisik dan konfirmasi. Tanya jawab dengan klien dilakukan untuk setiap jenis pengujian. Dokumentasi digunakan di setiap jenis pengujian kecualian prosedur analitis. Pengerjaan ulang dilakukan di setiap jenis pengujian kecuali prosedur analitis. Penghitungan ulang digunakan untuk memverifikasi akurasi matematis atas transaksi ketika melakukan pengujian substantive transaksi dan saldo akun ketika melakukan pengujian atas perincian saldo.

Biaya-biaya Relatif Terdapat jenis pengujian yang disusun dalam daftar berikut berdasarkan urutan biaya yang terendah ke yang tertinggi 1. Prosedur analitis 2. Prosedur penilaian risiko, termasuk prosedur untuk mendapatkan pemahaman atas pengendalian internal 3. Pengujian pengendalian 4. Pengujian substantive transaksi 5. Pengujian terperinci saldo Dalam melakukan pengujian, seorang auditor memerlukan bukti-bukti yang dapat mendukung proses audit. Prosedur analitis memakan biaya yang paling rendah karena relative lebih mudah untuk membuat perhitungan dan perbandingan. Sedangkan pengujian terperinci saldo hamper selalu lebih mahal dibandingkan dengan jenis prosedur lainnya karena biaya prosedur seperti pengiriman konfirmasi dan perhitungan persediaan. Hubungan Pengujian pengendalian degan Pengujian Substantif Suatu pengecualian dalam pengujian pengendalian hanya mengindikasikan kemungkinan salah saji yang memengaruhi nilai rupiah dari laporan keuangan, sedangkan suatu pengecualian dalam pengujian substantive transaksi atau pengujian terperinci saldo merupakan suatu salah saji dalam laporan keuangan. Hubungan Prosedur Analitis dan Pengujian Substantif Prosedur analitis hanya mengindikasikan kemungkinan salah saji yang berpengaruh pada nilai rupiah laporan keuangan. Ketika prosedur analitis mengidentifikasikan fluktuasi yang

Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 7

tidak biasa, auditor harus melakukan pengujian substantive transaksi atau pengujian terperinci saldountuk menentukan apakah salah saji rupiah benar-benar terjadi. Dilema Antara Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Jika pengujian pengendalian mendukung penilaian risiko pengendalian, risiko deteksi yang direncanakan dalam model risiko audit meningkat, sehingga pengujian substantive yang direncanakan dapat dikurangi. Pemahaman auditor terhadap pengendalian internal dilakukan sebagai suatu bagian dari prosedur pengukuran risiko yang memberikan dasar bagi penilaian awal auditor terhadap pengendalian internal klien.

2.3 Dampak Teknologi Informasi Terhadap Pengujian Audit


PSA 07 (SA 326) dan PSA 69 (SA 319) memberikan panduang bagi para auditor dari entitas-entitas yang menyebarkan, memproses dan menyimpan atau mengakses informasi penting secara elektronik. Standar audit mengakui bahwa ketika sejumlah besar bukti audit muncul dalam bentuk elektronik, akan tidak praktis atau tidak mungkin untuk mengurangi risiko deteksi hingga ke tingkat yang dapat diterima dengan hanya melakukan pengujian substantif. Meskipun beberapa pengujian substantif masih dibutuhkan, auditor dapat secara signifikan mengurang pengujian substantif jika hasil pengujian pengendalian mendukung efektivitas pengendalian. Dalam audit atas suatu perusahaan public, pengendalian yang dilakukan oleh komputer (yang disebut dengan pengendalian otomatis) harus diuji jika auditor menganggapnya sebagai pengendalian kunci untuk mengurangi kemungkinan salah saji material dalam laporan keuangan. Karena konsistensi bawaan dalam pemrosesan yang berdasarkan teknologi informasi, auditor mungkin dapat mengurangi pengujian pengendalian otomatis. Jika seorang auditor memutuskan bahwa pengendalian otomatis berjalan dengan tepat, auditor dapat memfokuskan pada pengujian selanjutnya untuk menilai apakah setiap perubahan yang terjadi akan membatasi efektivitas pengendalian.Jika keberadaan pengendalian umum yang efektif akan menyebabkan efisiensi audit yang signifikan, Standar 2 PCAOB mengharuskan auditor perusahaan public untuk menguji pengendalian setiap tahun. Untuk menguji pengendalian otomatis atau data, auditor mungkin memerlukan teknik audit yang dibantu oleh komputer atau menggunakan laporan yang dihasilkan oleh teknologi informasi untuk menguji efektivitas pengendalian umum teknologi informasi seperti pengendalian untuk perubahan program-program dan pengendalian atas akses. Ketika auditor menguj pengendalian manual yang berdasarkan pada laporan yang dihasilkan oleh teknologi informasi, auditor harus mempertimbangkan baik efektivitas hasil penelaahan manajemen maupun pengendalian terhadap akurasi informasi dalam laporan tersebut.

Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 8

2.4 Bukti Gabungan


Pilihan jenis pengujian mana yang akan digunakan dan seberapa luas pengujian tersebut dilakukan dapat berbeda antara audit yang memiliki tingkat efektivitas pengendalian dan risiko bawaan yang berbeda. Bahkan dalam sebuah pengauditan, perbedaan dapat terjadi dari satu siklus ke siklus lainnya. Untuk mendapatkan bukti yang tepat dengan memadai untuk menghadapi risiko-risiko yang teridentifikasi melalui prosedur penilaian risiko, auditor menggunakan kombinasi antara keempat jenis pengujian lainnya. Kombinasi ini sering kali dinamai dengan bukti gabungan (evidence mix) Analisis Audit 1 Klien ini merupakan sebuah perusahaan besar dengan pengendalian internal yang rumit dan risiko bawaan yang rendah. Sehingga, auditor melakukan pengujian pengendalian yang luas dan sangat mengandalkan pada pengendalian internal klien untuk mengurangi pengujian substantive lainnya. Hal ini menyebabkan pengujian substantif transaksi dan pengujian terperinci saldo diminimalkan. Analisis Audit 2 Perusahaan ini berukuran sedang, dengan beberapa pengendalian dan beberapa risiko bawaan. Auditor telah memutuskan untuk melakukan pengujian atas semua jenis pengujian sedang, kecuali untuk prosedur substantif, yang kemungkinan akan dilakukan secara meluas. Lebih banyak pengujian yang luas yang akan dibutuhkan jika risiko bawaan yang khusus ditemukan. Tabel Variasi dalam Bukti Gabungan Pengujian Pengendalian Pengujian Terperinci Transaksi Audit 1 Audit 2 Audit 3 Audit 4 E M N M S M E E E E M E S M E E Prosedur Analitis Pengujian Terperinci Saldo

E=pengujian luas; M=pengujian sedang; S=pengujian kecil; N=tidak ada pengujian Analisis Audit 3 Perusahaan ini berukuran sedang, namun memiliki beberapa pengendalian yang efektif dan beberapa risiko bawaan yang signifikan. Mungkin manajemen memutuskan bahwa pengendalian internal yang lebih baik memakan biaya yang cukup besar. Karena kurangnya pengendalian internal yang efektif, kita dapat menganggap perusahaan ini kemungkinan bukan perusahaan publik. Analisis Audit 4 Rencana awal untuk audit ini adalah mengikuti pendekatan yang digunakan dalam Audit 2. Namun, auditor kemungkinan menemukan deviasi uji pengendalian yang
Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 9

luas, dan salah saji yang signifikan ketika melakukan pengujian substantive transaksi dan prosedur analitis substantive.

2.5 Merancang Program Audit


Prosedur audit spesifik untuk setiap jenis pengujian harus dirancang. Prosedur audit ini kemudian digabungkan untuk membentuk suatu program audit. Pada sebagian besar audit, auditor kontrak yang bertugas merekomendasikan bukti gabungan pada manajer kontrak kerja. Setelah bukti gabungan disetujui, auditor yang bertugas menyiapkan program audit atau memodifikasi program yang sudah ada untuk memenuhi semua tujuan audit. Auditor tersebut harus mempertimbangkan hal-hal seperti materialitas, bukti gabungan, risiko bawaan, risiko pengendalian, dan risiko-risiko kecurangan lainnya, demikian pula dengan kebutuhan untuk seuatu audit terintegrasi bagi perusahaan publik. Auditor yang bertugas juga kemungminan mendapatkan persetujuan dari manajer sebelum melakukan prosedur audit atau mendelegasikan pekerjaan mereka pada para asisten.

Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Transaksi Program audit pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi biasanya termasuk bagian deskripsi yang mendokumentasikan pemahaman terhadap pengendalian internal yang didapatkan selama melakukan prosedur penilaian risiko. Pada program tersebut kemungkinan terdapat deskripsi prosedur yang dilakukan untuk mendapatkan pemahaman atas pengendalian internal dan deskripsi penilaian tingkat risiko pengendalian. Auditor menggunakan informasi ini untuk mengembangkan program audit pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi. Figur (1.1) mengilustrasikan metodologi yang digunakan untuk merancang pengujian tersebut.

Prosedur Audit Ketika merancang pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi, Auditor mengikuti pendekatan empat langkah untuk mengurangi penilaian risiko pengendalian. 1. Menerapkan tujuan audit terkait transaksi untuk kelompok-kelompok transaksi yang sedang diuji, seperti penjualan. 2. Mengidentifikasi pengendalian kunci yang dapat mengurangi risiko pengendalian untuk setiap tujuan audit terkait.
Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 10

3. Mengembangkan pengujian pengendalian yang tepat untuk semua pengendalian internal yang digunakan untuk mengurangi penilaian awal risiko pengendalian di bawah tingkat maksimum (pengendalian-pengendalian kunci). 4. Untuk kemungkinan jenis-jenis salah saji yang terkait dengan masing-masing tujuan audit terkait transaksi, merancang pengujian substantif transaksi yang tepat, dengan

mempertimbangkan kekurangan-kekurangan dalam pengendalian internal dan eskpekstasi hasil pengujian pengendalian di langkah 3.

(Figur 1.2) Hubungan Antara Prosedur Analitis Lanjutan dan Bukti Memahami pengendalian internal

Menilai risiko pengendalian yang direncanakan

Menentukan keluasan pengujian pengendalian*

Merancang pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi untuk memenuhi tujuan audit terkait transaksi

Prosedur audit Ukuran sampel Unsur yang dipilih Waktu

* keluasan pengujian atas pengendalian ditentukan oleh pengendalian atas pengendalian yang direncanakan. Untuk perusahaan-perusahaan publik. Pengujian harus memadai untuk menerbitkan suatu opini untuk pengendalian internal atas laporan keuangan.

Prosedur Analitis Dikarenakan prosedur analitis relatif tidak mahal, banyak auditor yang melakukannya pada semua pengauditan. Prosedur analitis yang dilakukan selama pengujian substantif, seperti untuk audit piutang dagang, biasanya lebih terfokus dan lebih luas daripada yang dilakukan sebagai
Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 11

bagian dari perencanaan. Selama perencanaan, auditor dapat menghitung persentase margin kotor untuk penjualan total, sementara selama pengujian substantif akun piutang dagang, auditor dapat menghitung persentase margin kotor berdasarkan bulan atau berdasarkan jumlah bulanan biasanya lebih efektif dalam mendeteksi salah saji dibandingkan dengan perhitungan berdasarkan jumlah tahunan dan perbandingan berdasarkan lini usaha biasanya lebih efektif daripada perbandingan berdasarkan persuahaan secara keseluruhan. Figur 1.2 mengikhtisarkan pendekatan pendekatan empat langkah ini dalam merancang pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi.
Figur 1.2 Pendekatan Empat Langkah dalam Merancang Pengujian Pengendalian dan Pengujian substanti Transaksi Menerapkan tujuan audit terkait transaksi pada suatu kelompok transaksi (Langkah 1)

Mengidentifikasi pengendalian-pengendalian kunci dan membuat penilaian awal pengendalian (Langkah 2)

Merancang pengujian atas pengendalian (Langkah 3) Prosedur audit Ukuran sampel Unsur yang dipilih Waktu

Merancang pengujian substantif transaksi (Langkah 4) Prosedur audit Ukuran sampel Unsur yang dipilih Waktu

Pengujian Terperinci Saldo Untuk merancang prosedur audit pengujian terperinci saldo, auditor menggunakan suatu metodologi yang berorientasi pada tujuan audit terkait saldo. Dalam merencanakan program audit pengujian terpecinci saldo untuk memenuhi tujuan tersebut. Banyak auditor yang
Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 12

mengikuti sebuah metodologi seperti yang ditunjukan Figur 1.3 untuk akun piutang dagang. Rancangan prosedur ini biasanya merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan proses perencanaan karena sifatnya yang sangat subjektif dan memerlukan pertimbangan profesional yang besar. Mengidentifikasi Risiko Risiko Bisnis Klien yang Berpengaruh pada Akun Piutang Dagang Sebagai bagian dari mendapatkan pemahaman atas bisnis dan industri klien, auditor mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko-risiko bisnis klien yang signifikan untuk menentukan apakah risiko-risiko tersebut mengakibatkan meningkatnya risiko salah saji material dalam laporan keuangan.
Figur 1.3
Metodologi untuk Merancang Pengujian Terperinci atas Saldo - Piutang

Identifikasi risiko-risiko bisnis klien yang berpengaruh pada akun piutang dagang Menetapkan salah saji yang dapat diterima dan mengukur risiko bawaan untuk akun piutang dagang

Mengukur risiko pengendalian untuk siklus penjualan dan penagihan

Identifikasi risiko-risiko bisnis klien yang berpengaruh pada akun piutang dagang Merancang dan melakukan pengujian pengendalian serta pengujian substantif transaksi untuk siklus penjualan dan penagihan

Merancang pengujian terperinci saldo akun piutang dagang untuk memenuhi tujuan audit terkait saldo

Prosedur audit Ukuran sampel Unsur yang dipilih Waktu

Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 13

Menetapkan Salah Saji yang Dapat Diterima dan Mengukur Resiko Bawaan Piutang Dagang. Auditor harus memutuskan penilaian awal materialitas untuk audit secara keseluruhan dan kemudian mengalokasikan totalnya ke saldo akun, untuk mendapatkan salah saji yang dapat diterima untuk setiap saldo yang signifikan. Untuk mendapatkan salah saji yang dapat diterima untuk setiap saldo yang signifikan. Untuk salah saji yang dapat diterima yang lebih rendah, lebih banyak pengujian terperinci saldo yang diperlukan, dan sebaliknya. Beberapa auditor mengalokasikan salah saji yang dapat diterima pada setiap tujuan audit terkait saldo, namun sebagian besar tidak demikian. Resiko bawaan diukur dengan mengidentifikasi setiap aspek dari sejarah, lingkungan atau operasi klien yang mengindikasikan kemungkinan salah saji yang tinggi pada laporan keuangan tahun berjalan.Sebuah saldo akun yang resiko bawaannya dinilai tinggi akan mengakibatkan pengumpulan bukti yang lebih banyak dibandingkan dengan akun yang memiliki resiko bawaan yang rendah. Resiko bawaan juga dapat diperluas untuk masing-masing tujuan audit terkait saldo. Resiko bawaan dapat tetap rendah untuk semua tujuan lainnya. Menilai Resiko Pengendalian Siklus Penjualan dan Penagihan. Metodologi untuk mengevaluasi resiko atas pengendalian akan diterapkan baik pada penjualan maupun penerimaan kas dalam audit piutang dagang. Pengendalian yang efektif akan mengurangi resiko pengendalian dan, demikian pula jumlah bukti yang diperlukan untuk pengujian substantif transaksi dan pengujian terperinci saldo akan berkurang. Sebaliknya pengendalian yang tidak memadai akan menaikkan jumlah bukti substantif yang diperlukan. Merancang dan Melakukan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Transaksi Siklus Penjualan dan Penagihan. Pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi dirancang dengan harapan bahwa beberapa hasil tertentu akan didapatkan. Hasil yang diharapkan ini akan berpengaruh pada rancangan pengujian terperinci transaksi. Merancang dan Melakukan Prosedur Analitis Saldo Akun Piutang Dagang. Auditor melakukan prosedur analitis substantif untuk akun-akun seperti piutang dagang untuk dua tujuan. Yaitu, untuk mengidentifikasi kemungkinan salah saji dalam saldo akun tersebut dan untuk mengurangi pengujian audit yang terperinci. Merancang Pengujian Terperinci Akun Piutang Dagang untuk Memenuhi Tujuan Audit Terkait Saldo. Pengujian terperinci saldo yang direncanakan termasuk prosedur audit, ukuran sampel, unsur yang dipilih dan penentuan waktu. Prosedur harus dipilih dan dirancang untuk setiap akun dan setiap tujuan audit terkait saldo dalam setiap akun. Kesulitan yang dihadapi auditor dalam merancang pengujian terperinci saldo adalah kebutuhan untuk memprediksi hasil dari pengujian pengendalian, pengujian substantif transaksi, dan prosedur analitis substantif sebelum pengujian-pengujian tersebut dilakukan. Hal ini penting karena
Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 14

auditor harus merancang pengujian terperinci saldo selama fase perencanaan, namun ketepatan rancangan tersebut bergantung pada hasil pengujian-pengujian lainnya. Jika hasil pengujian tidak konsisten dengan prediksi, auditor harus mengubah pengujian terperinci saldo ketika audit berlangsung. Salah satu bagian paling menantang dalam pengauditan adala pada penerapan faktor-faktor yang berpengaruh pada pengujian terperinci saldo dengan tepat. Auditor perlu menggunakan pertimbangan profesional yang besar untuk memutuskan pengaruh spesifik atas perubahan semacam itu terhadap prosedur, ukuran sampel, unsurunsur yang dipilih serta penentuan waktu auditnya Tingkat Disagregasi Kegiatan Perencanaan Tingkat disagregasi ini terbentang mulai dari keseluruhan audit hingga ke tujuan audit terkait saldo untuk setiap akun.
Tingkat Disagregasi Tujuan Audit Terkait Saldo P P P Aktivitas Perencanaan Tujuan Audit Terkait Transaksi P P P P P P P P P P Keseluruhan Audit

Siklus P P P P

Menerima klien dan melakukakan perencanaan awal Memahami bisnis dan industri klien Mengukur risiko bisnis klien Mendapatkan informasi untuk mengukur resiko kecurangan Memahami pengendalian internal: - Lingkungan pengendalian - Pengukuran resiko - Aktivitas pengendalian - Informasi dan komunikasi - Pengawasan Identifikasi pengendalian-pengendalian kunci Identifikasi kekurangan-kekurangan pengendalian internal Merancang pengujian pengendalian Merancang pengujian substantif transaksi Mengukur resiko pengendalian Mengukur resiko bawaan Mengukur resiko audit dapat diterima Menetapkan penilaian materialitas awal Menetapkan salah saji yang dapat diterima Merancang prosedur analitis substantif Merancang pengujian terperinci saldo P = Tingkat paling prioritas saat aktivitas perencanaan diterapkan.

P P P P P

Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 15

Akun

2.6 Hubungan Tujuan Audit Terkait Transaksi dengan Tujuan Audit Terkait Saldo serta Tujuan Audit Terkait Penyajian dan Pengungkapan
Auditor masih akan mengandalakan pengujian atas saldo untuk memenuhi tujuan auditnya yang berkaitan dengan saldo berikut: Nilai yang dapat direalisasikan Hak dan kewajiban Pengujian substantif tambahan saldo juga mungkin dilaksaknakan untuk tujuan audit yang berkaitan dengan saldo lainnyam tergantung pada hasil dari pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi. Auditor melakukan pengujian pengendalian untuk mendukung pengurangan penilaian risiko pengendalian untuk keempat tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan. Auditor juga melakukan prosedur substantive untuk mendapatkan keyakinan bahwa semua tujuan audit telah tercapai untuk informasi dan jumlah-jumlah yang dimasukkan dalam pengungkapan tersebut.

2.7 Ikhtisar Istilah-Istilah Penting Terkait Bukti


Fase Proses Audit, yaitu: Merencanakan dan merancang pendekatan audit Melaksanakan pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi Melaksanakan prosedur analisis dan pengjuian rincian saldo Menyelesaikan audit dengan mengeluarkan laporan audit

Tujuan Audit ini merupakan tujuan audit yang harus dipenuhi sebelum auditor dapat menyimpulkan bahwa suatu kelas transaksi atau saldo akun tertentu telah dinyatakan secara wajar. Ada enam tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi, delapan yang berkaitan dengan saldo, serta empat yang berkaitan dengan penyajian dan pengungkapan, yang semuanya tercantum pada tabel. Jenis Pengujian lima jenis pengujian audit yang digunakan auditor untuk menentukan apakah laporan keuangan telah dinyatakan secara wajar disajikan pada tabel. Keputusan Bukti Empat subkategori keputusan yang dibuat auditor dalam mengumpulkan bukti audit disajikan dalam kolom keempat tabel. Kecuali untuk prosedur analitis, keempat keputusan bukti berlaku untuk setiap jenis pengujian.

Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 16

Fase Prosedur Tujuan Audit Audit


Merencanakan dan Merancang Pendekatan Audit (Fase I)

Jenis Pengujian
Prosedur penilaian risiko Prosedur untuk memahami bisnis dan industri klien Prosedur untuk memahami pengendalian internal Perencanaan prosedur analitis Prosedur untuk memperoleh pemahaman dan pengujian pengendalian

Keputusan Bukti
Prosedur audit Penetapan waktu

Jenis Bukti
Dokumentasi tanya jawab dengan klien Prosedur analitis

Melaksanakan pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas Transaksi (Fase II)

Tujuan Audit yang Berkaitan dengan Transaksi Keterjadian Kelengkapan Keakuratan

Prosedur audit Ukuran sampel Item yang dipilih Penetapan waktu Prosedur audit Ukuran sampel Item yang dipilih Penetapanwaktu Prosedur audit Penetapan waktu Prosedur audit Ukuran sampek Item yang dipilih Penetapan waktu

Dokumentasi pengamatan Tanyajawab dengan klien Rekalkulasi

Melaksanakan Prosedur Analisis dan Pengujian Rincian Saldo (Fase III)

Menyelesaikan Audit dan Mengeluarkan Laporan Audit (Fase IV)

Postinf dan ikhtisar Klasifikasi Penetapan waktu Tujuan Audit yang berkaitan dengan saldo Eksistensi Kelengkapan Keakuratan Klasifikasi Cutoff Detail tie-in Nilai yang dapat direalisasikan Hak dan kewajiban Tujuan audit yang berkaitan dengan penyajian data dan pengungkapan Keterjadian serta hak dan kewajiban Kelengkapan Keakuratan dan penilaian Klasifikasi dan dapat dipahami

Pengujian substantantif atas transaksi

Prosedur analitis

Pemeriksaan fisik Konfirmasi Dokumentasi Tanyajawab dengan klien Pelaksanaan ulang Prosedur analitis Rekalkulasi

Pengujian rincian saldo

Prosedur analitis

Prosedur audit Penetapan waktu

Prosedur analitis Dokumentasi Tanya jawab dengan klien

Pengujian rincian saldo

Prosedur audit Ukuran sampel Item yang dipilih Penetapan waktu

Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 17

2.8 Ikhtisar Proses Audit

Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 18

Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 19

BAB III PENUTUP


KESIMPULAN

Fase dari proses audit Keempat aspek dari audit lengkap : 1) merencanakan dan merancang suatu pendekatan audit, 2) menjalankan tes pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi, 3) menjalankan prosedur analitis dan pengujian rincian saldo, 4) melengkapi audit dan mennerbitkan suatu laporan.

Jenis pengujian Kelima jenis pengujian audit yang digunakan auditor untuk menentukan apakah laporan keuangan dapat dinyatakan secara wajar yaitu : prosedur untuk memperoleh pemahaman atas prosedur pengukuran risiko, pengujian atas pengendalian, pengujian substantif atas transaksi, prosedur analitis, dan pengujian terinci atas saldo.

Jenis bukti Ketujuh jenis atau kategori besar dari bukti yang digunakan oleh auditor : pemeriksaan fisik, konfirmasi, dokumentasi, prosedur analitis, pengamatan, pemeriksaan klien dan pelaksanaan ulang.

Keseluruhan Perencanaan dan Program Audit | 20