Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang Vitamin adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita yang berfungsi untuk mambantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh. Tanpa vitamin manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya tidak akan dapat melakukan aktifitas hidup dan kekurangan vitamin dapat menyebabkan memperbesar peluang terkena penyakit pada tubuh kita. Tubuh hanya memerlukan vitamin dalam jumlah sedikit, tetapi jika kebutuhan ini diabaikan maka metabolime di dalam tubuh kita akan terganggu karena fungsinya tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Terdapat 13 jenis vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik dan salah satunya adalah vitamin E. Vitamin E adalah golongan vitamin yang larut dalam lemak. Vitamin E banyak tersedia dalam minyak yang dihasilkan dari biji-bijian, seperti; minyak kacang, minyak kulit gandum, minyak jagung dan minyak biji bunga matahari. Selain itu, vitamin E juga terdapat pada sayuran hijau, sereal, hati, kuning telur, lemak susu, kacangkacangan dan mentega. Hal yang penting diingat tentang vitamin E, adalah mudah rusak oleh panas yang tinggi (proses memasak) dan oksidasi (terpapar oksigen). Itu sebabnya, sumber vitamin E terbaik adalah makanan segar, mentah, atau makanan yang belum diproses. Selama ini kita hanya mengenal kegunaan Vitamin E sebagai anti oksidan, vitamin kecantikan dan kesuburan. Padahal kirakira lima dekade yang lalu, dua dokter dari Kanada telah menemukan bahwa suplemen Vitamin E alami dapat

membantu mengatasi penyakit jantung. Saat ini, bahkan ternyata bukan hanya penyakit jantung saja, tapi juga penyakitpenyakit lain seperti kanker dan Alzheimer disarankan untuk mengkonsumsi vitamin E setiap harinya. Banyak sekali manfaat yang diperoleh dengan mengkonsumsi vitamin E yang tidak kita ketahui. Hal-hal tersebut diataslah yang melatarbelakangi makalah ini dibuat, dengan lebih memfokuskan penulisan makalah pada peranan dan metabolisme vitamin E dalam tubuh.

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah sejarah tentang vitamin E? 2. Bagaimana struktur dan sifat vitamin E ? 3. Apa saja sumber vitamin E diperoleh? 4. Bagaimana peranan dan metabolisme vitamin E dalam tubuh? 5. Apa akibat dari kekurangan dan kelebihan vitamin E?

1.3 Tujuan Penulisan 1. Agar mahasiswa mengetahui sejarah vitamin E dan pembentukannya. 2. Agar mahasisiwa mengetahui struktur dan sifat vitamin E. 3. Agar mahasiswa mengetahui sumber dan sediaan vitamin E. 4. Agar mahasiswa mengetahui peranan dan metabolisme vitamin E dalam tubuh. 5. Agar mahasiswa memahami akibat yang ditimbulkan bila kelebihan dan kekurangan vitamin E.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Vitamin E Vitamin E pertama kali ditemukan pada tahun 1922 oleh Dr. H.M Evans dari California melalui penelitian untuk mempertahankan kehamilan normal tikus betina diperlukan suatu subtansi tak dikenal. Tanpa bahan ini, janin tikus akan mati dalam sepuluh hari saat dikandung. Tikus jantan yang kekurangan bahan ini juga mengalami kelainan pada testisnya. Sehingga saat itu vitamin E disebut sebagai vitamin anti kemandulan. Pada wanita juga dianjurkan sebagai perawatan untuk kemandulan, kelainan menstruasi, peradangan vagina, gejala menopause, mencegah keguguran dan kesuburan benih. Vitamin E pertama kali diisolasi pada tahun 1936 dari minyak tepung gandum. Disebut vitamin E karena ditemukan setelah vitamin-vitamin yang sudah ada yaitu A, B, C, dan D. Bentuk vitamin E merupakan kombinasi dari delapan molekul yang sangat rumit yang disebut tocopherol. Kata tocopherol berasal dari bahasa Yunani: Toketos yang berati kelahiran anak dan Phero berarti saya bawa, akhiran -ol ditambahkan untuk menunjukkan bahwa bahan ini merupakan salah satu dari alkohol yang menyebabkan mabuk jika dikonsumsi dalam jumlah banyak. Vitamin E adalah nama umum untuk semua metiltokol, jadi istilah tokoferol bukan sinonim dari dari vitamin E, namun pada praktek sehari-hari, kedua istilah tersebut disinonimkan.

2.2 Struktur Vitamin E Terdapat enam jenis tokoferol, (alfa), (beta), (gama), (delta), (eta),

(zeta), yang memiliki aktivitas bervariasi, sehingga nilai vitamin E dari suatu bahan pangan didasarkan pada jumlah dari aktivitas-aktivitas tersebut. Tokoferol yang terbesar aktivitasnya adalah tokoferol alfa. Strktur kima tokoferol alfa diperlihatkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Struktur kimia -tokoferol Vitamin E mempunyai 2 isomer yaitu tokoferol (Toc) dan tokotrienol (Toc-3). Tokoferol mempunyai rantai samping phytil, sedangkan tokotrienol mempunyai rantai samping yang sama dengan ikatan rangkap pada posisi 3, 7, 11. Baik tokoferol maupun tokotrienol mempunyai 4 isomer yang dinyatakan sebagai , ,

dan yang dibedakan berdasarkan jumlah dan posisi gugus metil pada cincin kroma. -tokoferol merupakan vitamin E utama in vivo dan menunjukkan aktivitas biologi tertinggi. Baik tokoferol maupun tokotrienol bersifat sangat non polar dan selalu ada pada fase lemak. Gambar vitamin E dan isomernya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 2. Struktur , , , Tokoferol

Gambar 3. Struktur , , , Tokotrienol Walaupun struktur tokoferol dan tokotrienol mirip, ada tiga ikatan rangkap pada rantai samping isoprenoid/phytil pada tokotrienol menyebabkan keduanya mempunyai potensi dan aktivitas biologi yang berbeda. Tokoferol berbentuk cairan berminyak yang bersifat transparan, kental, sedikit berbau, dan mempunyai warna berkisar dari kuning muda sampai coklat kemerahan. Tokoferol bersifat tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik seperti etanol, kloroform, dan heksana.

2.3 Sifat Vitamin E Tocopherol tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut lemak seperti minyak, lemak, alkohol, aseton, eter dan sebagainya. Vitamin E adalah golongan vitamin yang larut dalam lemak. Artinya, vitamin ini terdapat dalam bagian makanan yang berminyak, dan dalam tubuh hanya dapat dicerna oleh empedu, di hati, karena tidak larut dalam air. Vitamin E sangat di butuhkan oleh tubuh kita. Vitamin E stabil pada pemanasan namun akan rusak bila pemanasan terlalu tinggi. Vitamin E bersifat basa jika tidak ada oksigen dan tidak terpengaruh oleh asam pada suhu 100o C. Bila terkena oksigen di udara, akan teroksidasi secara perlahan-lahan. Sedangkan bila terkena cahaya warnanya akan menjadi gelap secara bertahap. Stabilitas kimia vitamin E mudah berubah akibat pengaruh berbagai zat alami. Minyak tak jenuh, seperti minyak hati ikan cod, minyak jagung, minyak kacang kedele, minyak biji bunga matahari, semuanya mempertinggi kebutuhan vitamin E. Hal ini terjadi jika minyak-minyak tersebut mengalami ketengikan oksidatif dalam makanan. Bila minyak-minyak tersebut tengik sebelum makanan dimakan, maka berarti telah terjadi kerusakan vitamin E dalam minyak dan dalam makanan yang mengandung minyak tersebut. Garam-garam besi, seperti feriklorida, kalium ferrisianida bersifat mengoksidasi tokoferol. Nitrogen klorida dan klor dioksida pada konsentrasi yang biasa digunakan untuk memutihkan tepung akan merusak sebagian besar tokoferol yang terdapat dalam tepung. Pembuatan tepung menjadi roti akan merusak 47% tokoferol yang terdapat dalam tepung.

2.4 Sumber Vitamin E Vitamin E mudah didapat dari bagian bahan makanan yang berminyak atau

sayuran. Vitamin E banyak terdapat pada buah-buahan, susu, mentega, telur, sayur-sayuran, terutama kecambah. Contoh sayuran yang paling banyak mengandung vitamin E adalah minyak biji gandum, minyak kedelai, minyak jagung, alfalfa, selada, kacang-kacangan, asparagus, pisang, strawberry, biji bunga matahari, buncis, ubi jalar dan sayuran berwarna hijau. Vitamin E lebih banyak terdapat pada makanan segar yang belum diolah. Satu unit setara dengan 1 mg alfa-tocopherol asetat atau dapat dianggap setara dengan 1 mg. Selain itu ASI juga banyak mengandung vitamin E untuk memenuhi kebutuhan bayi. Dalam perkembangannya, Vitamin E diproduksi dalam bentuk pil, kapsul, dan lain-lain sebagaimana vitamin-vitamin yang sudah terlebih dahulu ada. Vitamin yang sudah dikemas dalam berbagai bentuk ini banyak dijual bebas di pasaran serta dianggap berguna.

2.5 Fungsi Vitamin E dalam Tubuh Vitamin E adalah salah satu fitonutrien penting dalam makanan. Vitamin E merupakan antioksidan yang larut lemak. Vitamin ini banyak terdapat dalam membran eritrosit dan lipoprotein plasma. Sebagai antioksidan, vitamin E berfungsi sebagai donor ion hidrogen yang mampu mengubah radikal bebas menjadi radikal tokoferol yang kurang reaktif, sehingga tidak mampu merusak rantai asam lemak. Fungsi metabolik vitamin E dalam tubuh antara lain: (1) Sebagai antioksidan, Vitamin e adalah vitamin yang larut dengan baik dalam lemak dan melindungi tubuh dari radikal bebas. Berhubungan dengan efektifitas antioksidan masingmasing, -tokoferol yang aktif dapat diregenerasi dengan adanya interaksi dengan vitamin c yang menghambat oksidasi radikal bebas peroksi. Alternatif lain, -

tokoferol dapat membuang dua radikal bebas peroksi dan mengkonjugasinya menjadi glukuronat ketika ekskresi di ginjal. (2) Dalam pernapasan jaringan normal Berperan membantu fungsi sistem sitokrom oksidase atau untuk melindungi susunan lipida di dalam mitokondria dari kerusakan oksidasi. (3) dalam reaksi fosforilasi normal, terutama ikatan energi fosfat, seperti kreatin fosfat dan adenosin fosfat. (4) dalam metabolisme asam nukleat; (5) dalam sintesis vitamin C, dan (6) dalam metabolisme asam amino bersulfur. Vitamin E juga berfungsi mencegah penyakit hati, mengurangi kelelahan, membantu memperlambat penuaan karena vitamin E berperan dalam suplai oksigen ke darah sampai dengan ke seluruh organ tubuh. Vitamin E juga menguatkan dinding pembuluh kapiler darah dan mencegah kerusakan sel darah merah akibat racun. Vitamin E membantu mencegah sterilitas dan destrofi otot. Vitamin E (tokoferol dan tokotrienol)) adalah suatu antioksidan yang sangat efektif, yang dengan mudah menyumbangkan atom hidrogen pada gugus hidroksil (OH) dari struktur cincin ke radikal bebas sehingga radikal bebas menjadi tidak reaktif. Adanya hidrogen yang disumbangkan, tokoferol sendiri menjadi suatu radikal, tetapi lebih stabil karena elektron yang tidak berpasangan pada atom oksigen mengalami delokalisasi ke dalam struktur cincin aromatik.

Gambar 4. Mekanisme vitamin E untuk mengurangi radikal-radikal bebas menjadi

metabolit yang tidak berbahaya dengan memberikan gugus hidrogennya. Sebagai antioksidan, vitamin E berfungsi melindungi senyawa-senyawa yang mudah teroksidasi, antara lain ikatan rangkap dua pada UFA (Unsaturated Fatty Acid), DNA dan RNA dan ikatan atau gugus SH (sulfhidril) pada protein. Apabila senyawa-senyawa tersebut teroksidasi, maka akan terbentuk radikal bebas, yang merupakan hasil proses peroksidasi. Radikal bebas yang terjadi akan mengoksidasi senyawa-senyawa protein, DNA, RNA dan UFA. Vitamin E akan bertindak sebagai reduktor dan menangkap radikal bebas tersebut. Vitamin E dalam hal ini berperan sebagai scavenger. Scavenger yang lain selain vitamin E adalah vitamin C, enzim glutation reduktase, desmutase dan perosidase, yang bersifat larut dalam air. Scavenger yang larut dalam lemak adalah vitamin E dan -karoten.

2.6 Metabolisme Vitamin E Vitamin E lebih mudah diserap usus, apabila terdapat lemak dan dalam kondisi tubuh yang mempermudah penyerapan lemak. Tokoferol dari makanan diserap oleh usus digabungkan dengan kilomikron dan ditransportasikan ke hati

melalui sistim limfatik dan saluran darah. Di hati, tokoferol disebarkan ke sel-sel jaringan tubuh melalui saluran darah. Di dalam plasma darah, tokoferol bergabung dengan lipoprotein, terutama VLDL (Very Low Density Lipoprotein). Kira-kira 40 60% tokoferol dari makanan yang dikonsumsi dapat diserap oleh usus. Peningkatan jumlah yang dikonsumsi akan menurunkan persentase yang diserap. Vitamin E disimpan terutama dalam jaringan adiposa, otot dan hati. Pada orang yang sehat, jumlah vitamin C cadangan cukup digunakan dalam beberapa bulan. Secara normal, kadar vitamin E dalam plasma darah adalah antara 0,5 1,2 mg/ml. Dalam menjalankan fungsinya sebagai antioksidan, vitamin E berubah bentuk dari bentuk alkoholnya menjadi suatu bentuk antara radikal semistabil, radikal tocopheroxyl (atau chromanoxyl).

Gambar 5. Siklus Vitamin E Tidak seperti radikal bebas yang dibentuk dari PUFAs, radikal tocopheroxyl relatif tidak reaktif sehingga dapat menghentikan proses penyebarluasan perusakan oleh peroksidase lipid. Tocopheroxyl cukup stabil bereaksi dengan suatu radikal peroksil yang kedua untuk membentuk senyawa inaktif, produk nonradikal termasuk tocopherylquinone. Karena a-tokoferol dapat bersaing dengan radikal peroksil lebih

cepat dibanding PUFAs (Poly Unsaturated Fatty Acid), sejumlah kecil vitamin mampu untuk memberikan efek proteksi antioksidan dalam jumlah besar. Asam lemak tidak jenuh ganda (PUFA/Poly Unsaturated Fatty Acid), dapat menurunkan penyerapan dan penggunaan vitamin E. Hal ini berkaitan kemungkinan dengan kecenderungan vitamin E bersifat mudah teroksidasi. Oleh karena itu kebutuhan vitamin E akan bertambah seiring dengan semakin bertambahnya konsumsi PUFA. Dengan demikian, peningkatan konsumsi PUFA yang tidak diikuti dengan prningkatan asupan vitamin E akan menimbulkan penurunan secara gradual -tokoferol dalam plasma. Di dalam hati, -tokoferol diikat oleh -TPP (-tokoferol transfer protein). Setelah menjalankan fungsinya sebagai antioksidan, tokoferol dapat teroksidasi menjadi tokoferil (tokoferol bentuk radikal) bentuk radikal ini dapat direduksi kembali menjadi tokoferol oleh kerja sinergi dari antioksidan yang lain, misalnya vitamin C dan glutation.

2.7 Kelebihan dan Kekurangan Vitamin E Kelebihan vitamin E dalam tubuh akan disimpan dalam beberapa organ, antaralain hati, jaringan adiposa, otak dan lipoprotein. Vitamin E dikeluarkan oleh tubuh bersama dengan empedu melalui feses, sebagian lagi oleh urin setelah diubah oleh tubuh menjadi asam tekoferonat dan tekoferonalakton yang dapat berkonjugasi dengan glukoronat Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan tubuh tidak bertenaga, aktifitas seksual menurun, deposit lemak yang tidak normal di otot, perubahan degenerasi di hati dan otot, kulit kering, dan peningkatan resiko kanker.

Kekurangan vitamin E akan menyeabkan sel darah merah terbelah. Proses ini disebut hemolisis eritrodit dan dapat dihindari dengan vitamin E. Akibat lain kekurangan vitamin E adalah:

perubahan degeneratif pada sistem saraf dan otot kelemahan dan kesulitan berjalan nyeri pada otot betis gangguan penglihatan anemia retensi cairan (odem) kelainan kulit Pada bayi, kekurangan vitamin E dapat menyebabkan kelainan yang

mengganggu penyerapan lemak pada bayi yang prematur dan kekurangan gizi. Namun kekurangan vitamin E sesungguhnya sangat jarang terjadi karena vitamin ini banyak terdapat dalam makanan, terutama dalam minyak sayur. Pada manusia kekurangan vitamin E bisa disebabkan karena diet yang sangat buruk dalam jangka waktu lama.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Vitamin E pertama kali ditemukan pada tahun 1922 oleh Dr. H.M Evans dari California melalui penelitian untuk mempertahankan kehamilan normal tikus betina diperlukan suatu subtansi tak dikenal. Bentuk vitamin E merupakan kombinasi dari delapan molekul yang sangat rumit yang disebut tocopherol. Tocopherol tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut lemak seperti minyak, lemak, alkohol, aseton, eter dan sebagainya. Vitamin E bersifat basa jika tidak ada oksigen dan tidak terpengaruh oleh asam pada suhu 100o C. Vitamin E mudah didapat dari bagian bahan makanan yang berminyak atau sayuran. Vitamin E lebih mudah diserap usus, apabila terdapat lemak dan
dalam kondisi tubuh yang mempermudah penyerapan lemak. Tokoferol dari makanan diserap oleh usus digabungkan dengan kilomikron dan ditransportasikan ke hati melalui sistim limfatik dan saluran darah.

Beberapa fungsi vitamin E adalah sebagai antioksidan, mencegah kelelahan dan masih banyak lagi. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan tubuh tidak bertenaga,
aktifitas seksual menurun, deposit lemak yang tidak normal di otot, perubahan degenerasi di hati dan otot, kulit kering, dan peningkatan resiko kanker.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006, Vitamin E (Tekoferol dan Tekotrienol) (online), http://lordbroken.wordpress.com/2011/05/03/vitamin-e-tokoferol-dantokotrienol, diakses pada tanggal 20 Februari 2014. Anonim, Vitamin E (online), http://id.wikipedia.org/wiki/Vitamin_E, diakses pada tanggal 20 Februari 2014. Eitenmiller, R., dan Lee, J., 2006, Vitamin E: Food Chemistry, Composition, and Analysis, Marcel Dekker, New York. Febrina, K., 2011, Vitamin E dan Vitamin K (online), http://kevintifebrina.blogspot.com/2011/10/makalah-gizi-dasar-vitamin-edan-k.html, diakses pada 20 Februari 2014. Nugraheni, T., 2011, Vitamin E (online), http://www.scribd.com/doc/90065313/Makalah-Vitamin-E-19-Oktober-2011, diakses pada tanggal 20 Februari 2014. Robbert, M. K., 2009, Biokimia Harper Edisi 27, EGC, Jakarta. Sareharto, T. P., 2010, Kadar Vitamin E Rendah Sebagai Faktor Risiko Peningkatan Bilirubin Serum Pada Neonatus, Universitas Dipanegoro, Semarang.

MAKALAH BIOKIMIA LANJUTAN

PERANAN DAN METABOLISME VITAMIN E

OLEH: KELOMPOK 7 DWI NICHE NURHARDIANTI EGI HEURY P. R RACHMA SURYA M H311 12 264 H311 12 265 H311 12 266 H311 12 267

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2014

KATA PENGANTAR

Segala puji kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Peranan dan Metabolisme Vitamin E ini sebatas pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai sejarah, struktur, fungsi, peranan serta metabolisme vitamin E. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Makassar,

Februari 2014

Penyusun