Anda di halaman 1dari 18

PENGARUH PEMBERIAN KADAR PROTEIN DAN ENERGI BERBEDA DALAM PAKAN TERHADAP KINERJA PERTUMBUHAN IKAN NILA

Disusun oleh : Kikim Abdul Hakim C14120041 Fitratunisa C14120046 Fadhila Maharani Putri C14120055

Asisten: Agasthya Kuswandi Astrid Miradyas

C14100019 C14100032

TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN BUDIDAYA FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2014

ABSTRAK Protein merupakan salah satu makronutrien yang penting bagi makhluk hidup. Pada ikan protein dapat bernafaat sebagai sumber energi, selain itu protein juga sangat memperngaruhi pertumbuhan ikan. Ikan nila (Orecochromis niloticus) merupakan salah satu ikan unggulan Indonesia. Kadar protein yang dibutuhkan nila untuk dapat tumbuh optimal adalah 20 25%. Dilakukan penelitian terhadap pengaruh kandungan protein pada pakan terhadap pertumbuhan ikan nila. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa pertumbuhan terbaik diperoleh pada pakan B memiliki hasil pertumbuhan terbaik dengan laju pertumbuhan harian 1,80%. Kata Kunici: ikan nila, laju pertumbuhan, nutrient, pakan, protein

Kikim Abdul Hakim (C14120041), Fitratunisa (C14120046), Fadhila Maharani Putri (C14120055). PENGARUH PEMBERIAN KADAR PROTEIN

DAN ENERGI BERBEDA DALAM PAKAN TERHADAP KINERJA PERTUMBUHAN IKAN NILA, Dr. Ir Mia Setiawati M.sc

DAFTAR ISI

Halaman

Abstrak.................................................................. i Daftar Isi ii PENDAHULUAN 1


Latar Belakang. 1 Tujuan Praktikum 1 TINJAUAN PUSTAKA. 2 METODE 2 HASIL DAN PEMBAHASAN... 5 Hasil. 6 Pembahasan. 8 SIMPULAN DAN SARAN 9 Simpulan.. 9 Saran 9 DAFTAR PUSTAKA. 9 LAMPIRAN 11

ii

PENDAHULUAN Latar Belakang Menurut Sucipto (2007), memaparkan bahwa komoditas ikan nila memiliki sifat biologi seperti; a) memiliki resistensi yang relatif tinggi terhadap kualitas air dan penyakit, b) memilliki toleransi yang luas terhadap kondisi lingkungan c) memiliki kemampuan yang efisien dalam membentuk protein kualitas tinggi dari bahan organik, limbah dan pertanian, d) memiliki kemampuan tumbuh yang baik, dan e) mudah tumbuh dalam sistem budidaya intensif. Nila merupakan ikan yang dapat beradaptasi dalam perbedaan salinitas yang cukup besar, sehingga ikan ini dapat beradaptasi di air tawar dan air payau. Dari segi bentuknya, ikan nila memiliki bentuk tubuh yang pipih yaitu lebar tubuhnya lebih kecil dari pada panjang tubuh. Pertumbuhan semua jenis ikan nila relatif sangat cepat dan mudah berkembang biak. Proses perkembangbiakan ini dapat terjadi secara alami dengan hasil larva yang cukup banyak setiap pembuahannya. Pertumbuhan yang capat terjadi ketika berat ikan berukuran sedang atau sekitar 150-250 gram. Kemampuan mengkonsumsi pakan buatan juga dapat mempenguhi laju pertumbuhan. Ikan nila dapat dengan mudahnya beradaptasi terhadap pakan buatan dengan kandungan nutrisi yang tinggi akan mengakibatkan laju pertumbuhannya semakin cepat dan ukuran maksimumnya pun akan sedikit bertambah (Effendi 2004). Pakan adalah makanan atau asupan yang diberikan kepada hewan ternak atau peliharaan. Pakan ikan merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam proses pertumbuhan ikan. Pertumbuhan ikan dapat berjalan optimal apabila jumlah pakan, kualitas pakan dan kandungan nutrisi terpenuhi dengan baik. Nutrisi yang harus ada pada ikan adalah protein, karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin (Zaenuri R, et all. ). Pakan yang kandungan energinya rendah dapat menyebabkan ikan menggunakan sebagian protein sebagai sumber energi untuk metabolisme, sehingga bagian protein untuk pertumbuhan menjadi berkurang. Sebaliknya jika kandungan energi pakan terlalu tinggi dapat membatasi jumlah pakan yang dimakan. Keadaan ini dapat membatasi jumlah protein pakan yang dimakan ikan, akibatnya pertumbuhan ikan menjadi relatif rendah, (Lovell, 1988). Pertumbuhan ikan erat kaitannya dengan ketersediaan protein dalam pakan. Hal ini dapat dimengerti mengingat hampir 65-75% daging bobot kering ikan terdiri dari protein (Watanabe 1988). Pertumbuhan biomassa tubuh dibatasi oleh tinggi rendahnya kadar protein dan rasio energi protein (atau energi total) pakan. Keseimbangan energi dan protein di dalam pakan sangat berperan dalam menunjang pertumbuhan ikan. Menurut (NRC, 1993), keberadaan tingkat energi yang optimum dalam pakan sangat penting sebab kelebihan atau kekurangan energi mengakibatkan penurunan laju pertumbuhan. Selain itu, Cho & Watanabe (1988) juga menyatakan bahwa hewan muda umumnya memerlukan energi yang lebih tinggi per unit bobot tubuh untuk fungsi pemeliharaan dibandingkan hewan dewasa, meskipun proses reproduksi meningkatkan kebutuhan energi bagi hewan dewasa. Sekitar 50% kalori dari kebutuhan kalori yang diperlukan oleh ikan berasal dari protein. Bahan ini berfungsi untuk membangun otot, sel-sel, dan jaringan

tubuh, terutama bagi ikan-ikan muda. kebutuhan protein sendiri bervariasi tergantung pada jenis ikannya. Pada umumnya kebutuhan ikan terhadap protein dapat digolongkan secara garis besar sebagai berikut : 15-30% dari total pakan bagi ikan-ikan herbivora, dan 45% bagi ikan karnivora. Sedangkan untuk ikanikan muda diperlukan diet dengan kandungan protein 50%. Lemak merupakan sumber utama energi pada ikan, berfungsi sebagai penjaga stamina. Pada makanan ikan, lemak direkomendasikan supaya tidak terlalu tinggi kandunganya. Bahkan ikan-ikan pemakan daging pun (karnivora) kebutuhan akan lemaknya tidak lebih dari 8 %, sedangkan ikan-ikan herbivora kebutuhanya tidak lebih dari 3%. Kelebihan lemak pada ikan dapat menyebabkan kerusakan hati, menyebabkan timbulnya beberapa penyakit dan sering menimbulkan kematian dini. Karbohidrat pada ikan diperlukan untuk pertumbuhan dan energi. Meskipun demekian, ikan tidak memerlukan karbohidrat dalam jumlah besar pada makananya. Kebanyakan karbohidrat diketahui malah dapat menghambat pertumbuhan ikan. Hal ini tampaknya berkaitan dengan kenyataan bahwa kandungan kadar karbohidrat yang tinggi pada makanan ikan sering berkaitan dengan rendahnya kadar nutrisi esensial lainnya. Tujuan Mengetahui kualitas protein dan energi dalam pakan yang memberikan kinerja pertumbuhan ikan terbaik. TINJAUAN PUSTAKA Umumnya setiap makhluk hidup memiliki kebutuhan nutrien yang sama, akan tetapi dengan komposisi yang berbeda. Adapun makro dan mikto nutrien yang dibutuhkan bagi ikan nila adalah protein, karbohidrat, lemak, dam vitamin. Nutrien dibutuhkan sebagai bahan-bahan pembentuk jaringan tubuh yang baru (pertumbuhan) atau pengganti jaringan tubuh yang rusak, sebagai bahan baku untuk pembentukan enzim, hormon, antibodi dan bahan baku untuk penyusun protein plasma serta sebagai sumber energi. Kualitas protein pakan, terutama ditentukan oleh kandungan asam amino esensialnya, semakin rendah kandungan asam amino esensialnya maka mutu protein semakin rendah pula. Secara kuantitatif kebutuhan protein terkait dengan umur/ukuran, tingkat kematangan gonad, kondisi lingkungan dan kondisi fisiologis. Asam amino yang terkandung di dalam pakan dalam jumlah yang rendah akan bersifat sebagai limiting aminoacid. Untuk mengatasinya disarankan untuk meningkatkan kadar protein pakan dan menambah asam amino sintetik. Kekurangan asam amino dapat mengakibatkan penurunan pertumbuhan. Protein dalam pakan dengan nilai biologis tinggi akan memacu penimbunan protein tubuh lebih besar dibanding dengan protein yang bernilai biologis rendah. Peningkatan kelebihan energi dari pakan yang dikonsumsi menyebabkan jumlah total protein yang ditimbun menurun, akan tetapi bagian energi yang diretensi akibat meningkatnya energi yang dikonsumsi menyebabkan terjadinya penimbunan lemak tubuh. Atas dasar ini maka pemberian protein pada pakan ikan harus berada pada batas tertentu agar dapat memberikan pertumbuhan maksimum bagi ikan dan efisiensi pakan yang tinggi. Setiap ikan membutuhkan kadar protein yang berbeda-beda untuk pertumbuhannya dan dipengaruhi oleh umur/ukuran ikan, namun pada umumnya

ikan membutuhkan protein sekitar 35 50% dalam pakannya. Ikanikan omnivora seperti ikan nila (Oreochromis niloticus) yang berukuran juvenil membutuhkan protein 35%, ikan mas (Cyprinus carpio) yang berukuran 121 gram membutuhkan 31,6% protein, ikan gurame (Osphronemus gouramy) yang berukuran 0,27 gram membutuhkan 43,29% dan yang berukuran 27 31 gram membutuhkan 32% protein (Suprayudi, Setiyawati, dan Mokoginta 1994). Lemak pada pakan mempunyai peranan penting bagi ikan, karena berfungsi sebagai sumber energi dan asam lemak esensial, memelihara bentuk dan fungsi membran atau jaringan sel yang penting bagi organ tubuh tertentu, membantu dalam penyerapan vitamin yang terlarut dalam lemak, bahan baku hormon dan untuk mempertahankan daya apung tubuh (NRC 1993). Lemak pakan harus mengandung asam lemak yang tidak dapat disintetis tubuh yaitu asam lemak esensial. Watanabe (1982) dalam NRC (1993) mengemukakan bahwa ikan rainbow trout yang mengalami defisiensi asam lemak esensial memperlihatkan gejala efisiensi pakan yang menurun, pertumbuhan rendah, erosi sirip dan mortalitas meningkat. Kebutuhan ikan akan asam lemak esensial berbeda untuk setiap spesies ikan (NRC 1983; Furuichi 1988). Perbedaan ini dihubungkan dengan habitatnya. Karbohidrat merupakan sumber energi yang relatif murah dan berguna sebagai prekursor berbagai hasil metabolit intermedier yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan, misalnya biosintesis asam-asam amino non-esensial dan asamasam nukleat (NRC 1993). Karbohidrat dalam pakan ikan terdapat dalam bentuk serat kasar dan bahan ekstrak tanpa N. Ikan mempunyai kemampuan lebih rendah dalam memanfaatkan karbohidrat dibandingkan dengan hewan darat, namun karbohidrat harus tersedia dalam pakan ikan, sebab jika karbohidrat tidak cukup tersedia maka nutrien yang lain seperti protein dan lemak akan dimetabolisme untuk dijadikan energi sehingga pertumbuhan ikan akan menjadi lambat (Wilson 1994). Ikan-ikan air tawar dan air laut mempunyai kemampuan yang berbeda dalam mencerna karbohidrat. Ikan air laut umumnya hanya mampu mencerna karbohidrat sekitar 20%, sedangkan ikan air tawar mampu mencerna karbohidrat diatas 20% yakni 3040% untuk ikan Mas (Satoh 1991 dalam Wilson 1994). Vitamin adalah senyawa organik kompleks, biasanya ukuran molekulnya kecil. Vitamin dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sedikit sehingga keberadaannya dalam pakan dalam jumlah yang sedikit pula (14% dari total komponen pakan). Vitamin dibutuhkan untuk pertumbuhan normal, mempertahankan kondisi tubuh dan reproduksi. Kekurangan vitamin dalam pakan ikan selain akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan reproduksi juga dapat menimbulkan gejala penyakit kekurangan vitamin. Kebutuhan vitamin pada ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: ukuran/umur, laju pertumbuhan, suhu air dan komposisi pakan. Sebagai contoh, kebutuhan vitamin E meningkat dengan meningkatnya kandungan asam lemak tak jenuh dalam pakan. Kebutuhan ikan akan mineral bervariasi, bergantung kepada jenis ikan, stadia, status reproduksi (Shearer 1984 dalam Halver 1989), jenis pakan alami yang biasa dimakan, lingkungan hidup dan kemampuan ikan tersebut dalam menyerap mineral dari lingkungan hidupnya (Halver 1989). Pada ikan-ikan yang mempunyai kemampuan untuk menyerap mineral dari air (lingkungan hidupnya)

atau biasa memakan pakan alami maka penambahan mineral dalam pakan buatan yang diberikan tidak sebesar pada ikan yang tidak mampu menyerap mineral dari air atau memakan pakan alami dari perairan. Pada ikan-ikan pemakan plankton di dalam tubuhnya mengandung Cu dan Zn lebih banyak dibandingkan ikan bukan pemakan plankton (Halver 1989). Konsentrasi Ca, Cu, Fe, K, Mg, Mn, Na, P, Sr dan Zn pada ikan rainbow trout ukuran juvenil lebih tinggi dibandingkan pada ukuran dewasa. Selama pematangan gonad pada ikan betina terlihat adanya penurunan kandungan Mn, Fe dan Zn pada tubuh ikan rainbow trout (Shearer 1984 dalam Halver 1989). Di perairan terdapat berbagai jenis mineral terlarut, mineral-mineral tersebut dapat dimanfaatkan oleh ikan. Mineral-mineral yang ada di perairan masuk ke dalam tubuh melalui proses ingesti dan difusi. Selain dapat dipenuhi dari perairan, dan bahan pakan sumber mineral lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber mineral adalah mineral yang sudah dimurnikan dan biasanya berbentuk dalam senyawa garam yang biasanya dipakai dan dicampur dalam formulasi pakan untuk ikan dan udang. Pertumbuhan ikan sangat bergantung kepada energi yang tersedia dalam pakan dan pembelanjaan energi tersebut. Kebutuhan energi untuk maintenance harus dipenuhi terlebih dahulu, apabila berlebih maka kelebihannya akan digunakan untuk pertumbuhan (Lovell 1989). Hal ini berarti apabila energi dalam pakan jumlahnya terbatas maka energi tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan metabolisme saja dan tidak untuk pertumbuhan. Pertumbuhan atau pembentukan jaringan tubuh baru paling besar dipengaruhi oleh keseimbangan protein dan energi dalam pakan. Pakan yang mempunyai kadar protein yang tinggi belum tentu dapat mempercepat pertumbuhan apabila kandungan energi pakannya rendah. Energi pakan terlebih dahulu dipakai untuk kegiatan metabolisme standar (maintenance) seperti untuk respirasi, transpor ion dan pengaturan suhu tubuh serta untuk aktivitas fisik lainnya. Energi untuk seluruh aktivitas tersebut diharapkan sebagian besar berasal dari nutrien non protein (lemak dan karbohidrat). Apabila sumbangan dari bahan non protein rendah, maka protein akan didegradasi untuk menghasilkan energi, sehingga fungsi protein sebagai nutrien pembangun jaringan tubuh akan berkurang. Dengan kata lain, penambahan nutrien non protein berperan sebagai penghasil energi (protein sparing effect) sehingga dapat meningkatkan fungsi protein dalam menunjang pertumbuhan ikan (Furuichi 1988). Kebutuhan akan protein dan energi pada setiap spesies berbeda dan dipengaruhi oleh umur/ukuran ikan. Shiau dan Huang (1990) melakukan penelitian terhadap tilapia berukuran 1,6 2,05 gram dan menggunakan pakan berkadar protein 21 dan 24% serta beberapa tingkatan energi (190, 230, 270, 310, 350 dan 390 kkal DE/100 gram). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan meningkat seiring dengan peningkatan kadar energi. Namun ketika energi pakan mencapai lebih dari 310 kkal DE/100 gram pada kadar protein 21% dan 230 kkal DE/100 gram pada protein 24%, bobot ikan tidak lagi mengalami pertambahan, hal ini disebabkan karena kandungan protein dan energi pakan tersebut sudah melebihi kebutuhan ikan.

METODE Materi Uji Praktikum dimulai pada Senin, 3 Maret 2014. Pemeliharaan dimulai pada waktu yang sama hingga Kamis, 3 April 2014. Praktikum dan pemeliharaan dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah akuarium, aerator, botol resirkulasi, tandon, seser, selang, dan ember. Sementara bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan nila (Oreochromis nioticus) sebanyak 20 ekor per akuarium. Prosedur Kegiatan Persiapan wadah Akuarium yang telah disipakan dibersihkan terlebih dahulu, kemudian dilakukan pengisian air terhadap akurium yang telah dibersihkan untuk mengecek apakah terjadi kebocoran atau tidak. Akuarium yang telah dipastikan tidak mengalami kebocoran, diisi kembali air dengan ditambahkan bubuk PK untuk menetralisir segala macam bakteri yang ada pada akurium tersebut, serta dilakukan perendaman terhadap batu aerator, selang dalam larutan PK tersebut. Air yang telah diberikan PK yang telah diendapkan beberapa hari kemudian air tersebut dibuang dan diganti dengan air biasa yang telah diendapkan. Pemberian Pakan Pakan yang diberikan kepada ikan berupa pakan yang mempunyai protein rendah, sedang, dan pakan tinggi. Pakan diberikan dengan FR 5%. Jumlah pakan setiap minggunya didapat dari 5% bobot ikan keseluruhan, yang kemudian dikalikan dengan Sampling Ikan yang telah disiapkan untuk dimasukan ke dalam akurium disampling terlebih dahulu untuk mengetahui bobot awal sebelum dilakukan perlakuan. Ikan di sampling panjang dan bobotnya, hasil sampling ini digunakan untuk pemberian pakan. Padat tebar ikan tiap akurium adalah 20 ekor untuk satu akurium. Parameter Jumlah konsumsi Pakan JKP = bobot pakan awal bobot pakan akhir Laju Pertumbuhan Harian Laju pertumbuhan harian menggunakan rumus dari Sudrajat dan Effendi (2002) sebagai berikut: [ Keterangan: LPH : Laju pertumbuhan harian (g/hari) Wt : Rerata pada pada hari ke t (g) Wo : Rerata pada pada hari ke 0 (g)
5

: Waktu pemeliharaan (hari) Kelangsungan Hidup

Kelangsungan hidup menggunakan rumus dari Rudiyanti dan Ekasari (2009) yaitu sebagai berikut:

Keterangan : KH : Kelangsungan hidup (%) Nt : Jumlah ikan pada akhir pengamatan (ekor) No : Jumlah ikan pada awal pengamatan (ekor) Efisiensi Pakan Efisiensi pemberian pakan (EPP) dihitung dengan rumus dari Sudrajat dan Effendi (2002) sebagai berikut: EPP =
( )

X 100%

Keterangan : EPP : Efisiensi pemberian pakan (%) Wt : Bobot rata rata individu pada waktu t (g) Wo : Bobot rata-rata individu pada waktu awal (g) D : Bobot rata-rata ikan mati pada saat pemeliharaan (g) F : Jumlah total pakan yang diberikan (g) HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengaruh pemberian kadar protein yang berbeda terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) dapat diamati pada tabel berikut Tabel 1 Pengaruh kadar protein dalam pakan terhadap beberapa parameter uji
Pakan Uji Parameter Pakan A Protein Rendah KH (%) LPH (%) FCR JKP (g) LPB PM 88.33 2.89 0.54 0.26 10.21 4.98 130.18 18.61 0.03 0.02 0.68 0.57 Pakan B Protein Sedang 80 15.00 1.80 0.57 2.78 0.83 188.29 21.57 0.16 0.05 2.28 0.13 Pakan C Protein Tinggi 96 .67 2.89 1.28 0.24 2.33 0.53 191.12 40.36 0.11 0.03 2.04 0.67

Keterangan : KH : Kelangsungan Hidup LPH : Laju Pertumbuhan Harian FCR : Konversi Pakan

JKP : Jumlah Konsumsi Pakan LPB : Laju Pertumbuhan Biomassa PM : Panjang Mutlak

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa FCR terkecil di dapat pada pemberian pakan dengan kadar protein tinggi dengan nilai 2.33 0.53. Sementara laju pertumbuhan biomassa ikan tertinggi terdapat pada ikan peliharaan dengan kadar protein sedang dengan presentase 0.16 0.05 . Angka kelangsungan ikan tertinggi juga diperoleh oleh ikan dengan kadar protein tinggi dengan nilai 96 .67 2.89 %. Kelangsungan hidup ikan nila (Oreochromis niloticus) terhadap pemberian pakan dengan kadar protein yang berbeda dapat dilihat pada grafik berikut

Gambar 1 Grafik kelangsungan ikan nila (Oreochromis niloticus) Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa pada perlakuan protein sedang, kelangsungan hidup ikan hanya 80%. Pada ikan dengan kadar protein rendah, kelangsungan hidup ikan mencapai 88,33%. Sedangkan pada kadar protein tinggi kelangsungan hidup ikan mencapai 96,67%. Adapun nilai konversi pakan ikan nila dengan kadar protein yang berbeda dapat dilihat pada grafik berikut

Gambar 2 Grafik konversi pakan ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan kadar protein yang berbeda. Berdasarkan grafik di atas diketahui bahwa ikan nila memiliki nilai FCR yang rendah pada pemberian pakan dengan kadar protein tinggi, yakni: 2.33. Sementara pada kadar protein sedang, ikan nila memiliki nilai FCR sebesar 2.78. Nilai FCR terbesar diperoleh pada pemberian pakan dengan kadar protein rendah, yakni:10,21.

Laju pertumbuhan ikan nila yang dipelihara dengan kadar protein yang berbeda dapat dilihat pada grafik berikut

Gambar 3 Grafik laju pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan kadar protein yang berbeda Laju pertumbuhan ikan yang dipelihara selama 30 hari, dengan kadar protein yang berbeda, diketahui berbeda pada setiap perlakuan. Pada perlakuan protein sedang, pertumbuhan ikan sekitar 1.8% per harinya. Pada kadar protein tinggi, ikan tumbuh sekitar 1.28% per harinya. Sementara pada kadar protein rendah, ikan tumbuh sekitar 0.54% per harinya. Pembahasan Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan yang megkonsumsi plankton, perifon, dan tumbuhan seperti hydrilla, ganggang sutera, dan sebagainya. Ikan nila kemudian digolongkan sebagai jenis ikan omnivore. Ikan nila menurut Ghufran dan Kordi (2010) membutuhkan pakan buatan dengan kadar protein 20 25%. Pada kadar protein ini maka ikan akan tumbuh dengan optimal. Sementara untuk memacu pertumbuhan ikan nila, pakan yang diberikan hendaknya berkisar antara 25 -35 %. Berdasarkan hasil pengamatan kadar protein oleh Charisma dan Adha (2014) diketahui bahwa kadar protein pada pakan A 11%, sementara pada pakan B kadar protein bernilai 25%, dan pada pakan C kadar protein bernilai 32%. Hasil pemeliharaan ikan nila selama 30 hari, diketahui bahwa laju pertumbuhan tertinggi terdapat pada pakan B, dengan kadar protein sedang. Pada pakan ini didapatkan hasil presentase pertumbuhan sebesar 1,80%. Sementara untuk pakan C pertumbuhan ikan nila adalah sebesar 1,28%, dan pada pakan A laju pertumbuhan harian hanya 0,54%. Hal ini sesuai dengan pendapat Ghufran dan Kordi (2010) dimana laju pertumbuhan akan optimal pada kadar protein 20 25%. Jika dilihat dari konversi pakan, diketahui bahwa pakan C memiliki konversi pakan terbaik dengan nilai 2,33. Konversi pakan pada pakan C terbaik diperkirakan karena kadar protein yang tinggi, yang terdapat pada pakan tersebut. Pakan A memiliki konversi pakan terburuk diantara ketiga pakan dengan nilai 10,21. Hal ini terjadi akibat kurangnya kandungan protein yang terdapat pada pakan tersebut. Mengingat kadar protein pada pakan A hanya 11%.

Jumlah konsumsi pakan ikan nila pada pakan C adalah 191,12 gram. Sementara pada pakan B jumlah konsumsi pakan sejumlah 188,29 gram. Pakan C memiliki jumlah konsumsi pakan sebanyak 130,18 gram. Jumlah konsumsi pakan diperkirakan dipengaruhi oleh bentuk dari pakan itu sendiri. Pakan A, memiliki bentuk pellet yang keras dan lebih besar dari bukaan mulut ikan, sehingga sulit untuk dikonsumsi. Pellet yang berukuran lebih besar dari bukaan mulut ikan juga dialami pakan C. Perbedaan jumlah pakan yang dikonsumsi ikan pada pakan A dan pakan C diperkirakan karena ikan lebih menyukai komposisi pakan C dibandingkan pakan A. Laju pertumbuhan biomassa yang tinggi didapat pada pakan B, hal ini diperkirakan karena kadar protein pada pakan B yang tepat, menyebabkan pertumbuhna yang optimal bagi ikan. Kelangsungan hidup ikan yang rendah pada pakan B diperkirakan terjadi karena kelalaian dalam pemeliharaan. Kecernaan protein umumnya tinggi (85 95%) untuk pakan ikan, akan tetapi hasil ini dapat bervariasi berdasarkan beberapa faktor, seperti: ukuran partikel dan asal protein. Disamping itu faktor faktor yang mempengaruhi kecernaan protein adalah jumlah konsumsi pakan, ukuran ikan, suhu, dan komponen non-protein dalam pakan (Dharmawan 2014). Diperkirakan selain dikarenakan kadar protein yang rendah laju pertumbuhan biomassa ikan juga dapat dipengaruhi oleh suhu, mengingat suhu wadah pemeliharaan dapat berubah sewaktu waktu akibat tidak adanya pengontrol suhu atau heater di setiap wadah. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Protein merupakan salah satu sumber energy bagi makhlk hidup. Pada ikan protein dibutuhkan sebanyak 20 -25% untuk mencapai pertumbuhan optimum. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa pada protein rendah, laju pertumbuhan sangatlah rendah, yakni 0,54% per hari. Sementara pada ikan nila yang dipelihara dengan pakan berprotein tinggi laju pertumbuhan mencapai 1,28%. Laju pertumbuhan tertinggi didapat pada hasil pemeliharaan ikan dengan kadar protein sedang yakni 1,80% per hari. Saran Penggunaan heater pada setiap wadah pemeliharaan agar suhu tidak berubah secara drastis.

DAFTAR PUSTAKA Carisma A.N, A. Adha. 2014. Analisa kualitas nutrient pakan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Cho, C.Y, Watanabe T.1988. Laboratory work chemical evaluation of dietary nutrition p. 79-92. In. Watanabe T, editor. Fish nutrition and mariculture

JICA textbook the, General Aquaculture Course. Tokyo : Kanagawa International Fisheries Training Center. Dharmawan B. 2014. Usaha Pembuatan Pakan Ikan Konsumsi. Jakarta (ID): Pustaka Baru Press Effendi, Rizal. 2004.Pengantar Akuakultur.Penebar Swadaya : Jakarta. Muslim, Ahmadi. 2010. Budidaya Ikan Nila.http://perikanandanperairan. Furuichi, M. 1988. Dietary requirements, p. 21 78. In. Fish nutrition and mariculture. T. Watanabe (ed.), Kanazawa International FisheriesCenter, Japan International Coorperation Center Ghufran H., Kordi K. 2010. Budidaya Ikan Nila di Kolam Terpal. Yogyakarta (ID): Lily Publisher Halver, J.E. (ed.), 1989.Fish nutrition. 2nd editionAcademic Press, New York (USA), 798 p Hepher, B., 1990. Nutrition of pond fishes. Cambridge University Press. Cambridge Lovell RT. 1988. Nutrition and feeding of fish. Nostrand Reinhold, p.11-91. New York : Van

Lovell, R.T., 1989. Nutrition and Feeding of Fish Van Nostrand Reinhold Chapman and Hall, IT Pub. Co., New York, pages: 253 NRC, 1983. Nutrients Requirements of Warm Water Fishes and Shell-Fishes. 1st Edn., National Academy Press, Washington, DC., USA., pages: 102 [NRC] National Research Council, Subcommite on Warmwater Fish Nutrition. 1993. Nutrient requirements of fish. Washington DC : National Academy of science, 114 pp.Peres H. and Teles AO. 1999. Effect of dietary lipid level on growth performance and feed utilization by European sea bass juveniles (Dicentrarchus labrax). Aquculture, 179: 325-334. Satoh, S., T. Takeuchi and T. Watanabe. 1987. Availability to rainbow trout of zinc in white fish meal and of various compounds. Nippon Suisan Gakkaishi 53 (4) : 595-599. Shiau, S. Y.* and Huang, S. L., (1990). Influence of varying energy levels with two protein concentrations in diets for hybrid tilapia (Oreochromis niloticus O. aureus) reared in sea water. Aquaculture, 91: 143-152. (SCI) Sucipto Adi. 2007. Pembenihan Ikan Nila (Oreochromissp.). Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, Balai Besar Pengembangan Sukabumi. Zaenuri R, Bambang Suharto, Alexander Tunggul Sutanhaji. 2011. Kualitas Pakan Ikan Berbentuk Pelet Dari Limbah Pertanian. (terhubung berkala)http://jsal.ub.ac.id/index.php/jsal/article/view/111 (3 April 2014).

10

LAMPIRAN Lampiran 1 Jadwal Pemberian Pakan


Nama Minggu Kikim Senin Fadhila Selasa Icha Hari Rabu Kikim Kamis Bebas Jumat Fadhila Sabtu Icha

Lampiran 2 Tabel Plotting


Bobot (g) 102.21 116.63 132.83 138.62 108.18 142.86 113.69 139.65 118.52 Jumlah Pakan per Hari (g) 5.11 5.83 6.64 6.93 5.41 7.14 5.68 6.98 5.93 Jumlah Pakan 10 Hari (g) 51.11 58.32 66.42 69.31 54.09 71.43 56.85 69.83 59.26 Panjang Rata Rata (cm) 6.61 6.61 6.61 6.61 6.61 6.61 6.61 6.61 6.61

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Kelompok 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Average Weight 5.11 5.83 6.64 6.93 5.41 7.14 5.68 6.98 5.93

11

Lampiran 3 Tabel Sampling 1


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kelompok 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Biomassa (g) 95.54 107.87 116.31 142.98 114.19 151.77 122.44 161.52 130.26 Jumlah Pakan per hari (g) 5.11 5.83 6.64 6.93 5.41 7.14 5.68 6.98 5.93 Jumlah Pakan 10 Hari (g) 51.11 58.32 66.42 69.31 54.09 71.43 56.85 69.83 59.26 Panjang Rata Rata (cm) 6.58 7.11 7.14 6.05 7.36 6.95 7.04 6.17 7.18 Sisa Pakan (g) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 JKP 51.11 58.32 66.42 69.31 54.09 71.43 56.85 69.83 59.26 Ikan Hidup 18 20 19 20 19 13 20 19 20 Ikan Mati 2 0 1 0 1 7 0 1 0 0 0 5.5 35 0 Biomassa Ikan Mati (g) 7.3 0 Average Weight 5.31 5.39 6.12 7.15 6.01 11.67 6.12 8.50 6.51 Growth 3.86 -7.51 -7.83 3.15 11.11 63.44 7.70 21.75 9.91

Lampran 4 Tabel Sampling 2


No 1 2 3 4 5 6 7 Kelompok 1 2 3 4 5 6 7 Biomassa (g) 91.10 100.53 121.71 185.41 146.49 144.01 154.65 Jumlah Pakan per Hari (g) 4.78 5.39 5.82 7.15 5.71 7.59 6.12 Jumlah Pakan 10 Hari (g) 47.77 53.94 58.16 71.49 57.10 75.89 61.22 Panjang rata - rata (cm) 7.09 6.98 7.02 6.35 7.04 7.50 7.60 Sisa pakan (g) 0 27 11.63 34.31 0 0 14.47 JKP 47.77 26.94 46.53 37.18 57.10 75.89 46.75 Ikan Hidup 17 18 18 20 16 13 20 Ikan Mati 1 2 1 0 3 0 0 0 16.5 0 0 10.4 Biomassa Ikan Mati (g) Average Weight 5.36 5.59 6.76 9.27 9.16 11.08 7.73 Growth 0.96 3.55 10.46 29.68 52.34 -5.11 26.31

12

8 9

8 9

209.52 144.47

8.08 6.51

80.76 65.13

7.45 6.05

0 16.44

80.76 48.69

19 19

0 1

11.03 7.60

29.72 16.75

Lampiran 5 Tabel Sampling 3


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kelompok 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Biomassa (g) 101.67 104.62 126.19 193.55 182.10 176.15 190.81 230.62 167.42 Jumlah Pakan per Hari (g) 4.56 5.03 6.09 9.27 7.32 7.20 7.73 10.48 7.22 Jumlah Pakan 10 Hari (g) 45.55 50.27 60.86 92.71 73.25 72.01 77.33 104.76 72.24 Panjang rata - rata (cm) 6.69 7.34 7.83 8.75 8.92 9.00 8.63 9.33 8.00 Sisa pakan (g) 18.47 21.47 23.26 18.72 12.72 6.64 16.63 17.81 8.66 JKP 27.08 28.80 37.60 73.99 60.53 65.37 60.70 86.95 63.58 Ikan Hidup 17 18 18 19 16 13 20 19 19 Ikan Mati 0 0 0 1 0 0 0 0 0 Biomassa Ikan Mati (g) 0 0 0 12.56 0 0 0 0 0 Average Weight 5.98 5.81 7.01 10.19 11.38 13.55 9.54 12.14 8.81 Growth 11.60 4.07 3.68 9.88 24.31 22.32 23.38 10.07 15.89

13

14