Anda di halaman 1dari 6

Daerah Tangkapan Air ( Damit) dan Kondisi Lahan Basah di Pantai Pagatan Besar By yanuarariandy Leave a Komentar Categories:

Uncategorized Daerah Tangkapan Air (Damit) Damit merupakan daerah dataran tinggi yang termasuk di rangkaian dari Pegunungan Meratus yang terletak di Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut. Daerah ini termasuk daerah tangkapan air yang hampir seluruh kawasannya tertutup padang ilalang dan hutan-hutan kecil. Pasokan air dari daerah ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air di daerah tersebut, diantaranya untuk pengairan sawah dan kebun petani.

Daerah tangkapan air ini memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat setempat. Hanya saja, saat ini daerah tersebut lebih banyak dieksploitasi untuk kepentingan manusia. Banyak kerusakan yang dihasilkan dari eksploitasi tersebut. Kerusakan tersebut antara lain banyaknya penebangan pohon, yang mengakibatkan berkurangnya daerah tangkapan air. Tidak adanya penahan air menyebabkan rentannya resiko terjadinya banjir dan tanah longsor. Kerja bendungan akan semakin berat karena menampung semua air hujan dan air yang berasal dari aliran anak-anak sungai yang dapat mengakibatkan tanggul jebol dan banjir. Kekeringan biasanya terjadi di Damit pada musim kemarau. Daerah-daerah sekitar Damit akan mengalami pengurangan pasokan air yang cukup berpengaruh pada kebutuhan air sehari-hari. Pada masa ini, pengairan sawah menjadi terhambat sehingga tanaman yang baru ditanam terganggu pertumbuhannya. Irigasi pada musim kemarau ini diprioritaskan pada lahan palawija, sedangkan untuk

sawah tidak. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan mempercepat proses perbaikan bendungan agar dapat segera berfungsi dengan baik Apabila tidak memungkinkan untuk pengairan yang lebih baik, lahan sawah dapat dialihfungsikan untuk tanaman palawija. Banyak flora dan fauna yang ditemukan di daerah Damit ini. Variasinya pun cukup beragam. Di antara berbagai macam flora, banyak pula yang berkhasiat sebagai tanaman obat. Tanaman-tanaman berkhasiat obat tersebut antara lain rumput remason, padi, singkong, timun, kacang panjang, tomat, tebu, karamunting, jagung, kangkung, permot, dan karet. Fauna yang ditemukan antara lain kepiting, semut, lalat, cacing, semut badak (salimbada), bekicot, siput dan lebah tanah. Masyarakat di daerah Damit ini biasanya jarang terkena penyakit. Adapun penyakit yang sering dialami yakni demam berdarah dan penyakit kulit. Penyakit ini timbul dikarenakan perubahan alam dan kondisi air yang kurang bersih. Air ini biasanya digunakan masyarakat untuk mandi dan mencuci. Sedangkan untuk dikonsumsi, air yang dipakai biasanya air bersih yang mereka dapatkan dengan membelinya.

Jenis air yang terdapat di kawasan Damit ini adalah air yang berada dalam siklus hidrologi (air hujan), yang disebut dengan air meteorik. Siklus air meteorik ini erat hubungannya dengan siklus hidrogeologi atau siklus air tanah. Di dalam siklus ini, terdapat proses radiasi, evaporasi, evapotranspirasi dan presipitasi (hujan). Proses evaporasi merupakan proses penguapan air ke atmosfer dari tubuh-tubuh air yang ada di bumi baik dari laut, sungai atau danau. Gabungan dari proses penguapan air yang terkandung di tanah (soil moisture) dari zona perakaran disebut evapotranspirasi. Aktivitas vegetasi (transpirasi) dengan proses evaporasi dan presipitasi (hujan) akan mengembalikan air tersebut dari atmosfer ke daratan dan lautan. Kondisi Lahan Basah di Pesisir

Wilayah pesisir adalah suatu jalur saling pengaruh antara darat dan laut, yang memiliki ciri geosfer yang khusus, kearah darat dibatasi oleh pengaruh sifat-sifat fisik laut dan sosial ekonomi bahari, sedangkan ke arah laut dibatasi oleh proses alami serta akibat kegiatan manusia terhadap lingkungan di darat. Manfaat ekosistem pantai sangat banyak, namun demikian tidak terlepas dari permasalahan lingkungan, sebagai akibat dari pemanfaatan sumber daya alam di wilayah pantai. Permasalahan lingkungan yang sering terjadi di wilayah perairan pantai, adalah pencemaran, erosi pantai, banjir, inturusi air laut, penurunan biodiversitas pada ekosistem mangrove dan rawa, serta permasalahan sosial ekonomi. Lingkungan pantai merupakan daerah yang selalu mengalami perubahan, karena merupakan daerah pertemuan kekuatan yang berasal darat dan laut Perubahan ini dapat terjadi secara lambat hingga cepat tergantung pada imbang daya antara topografi, batuan, dan sifatnya dengan gelombang, pasang surut dan angin. Oleh karena itu didalam pengelolaan daerah pessisir diperlukan suatu kajian keruangan mengingat perubahan ini bervariasi antar suatu tempat dengan tempat lain.

Banyak faktor yang menyebabkan pola pembangunan sumber daya pesisir dan lautan selama ini bersifat tidak optimal dan berkelanjutan. Namun, kesepakatan umum mengungkapkan bahwa salah satu penyebabnya terutama adalah perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sumber daya pesisir dan lautan yang selama ini dijalankan secara sektoral dan terpilah-pilah. Beberapa usaha untuk

menanggulangi erosi dan mundurnya garis pantai telah dilakukan oleh pihak-pihak terkait, diantaranya adalah dengan melakukan kegiatan pengisian pantai (beach fill). Tetapi pada kenyataannya pantai tersebut masih terjadi erosi dan terjadi mundurnya garis pantai di sekitar pantai pasir buatan. Di daerah pesisir pantai Pagatan Besar diperoleh data bahwa pH tanah rata-rata bersifat asam. Contohnya pada stasiun1 dengan pH 6,8, stasiun 2 dengan pH 5,2 dan stasiun 3 dengan pH sebesar 5,8. Kelembaban tanah di pesisir pantai berkisar lebih dari 100%. Hal ini terjadi karena daerah tersebut kapasitas air melebih cakupan pasir dalam menangkap air. Selain itu air di daerah tersebut berwarna kecoklatan atau keruh. Hal ini terjadi karena adanya lumpur yang terbawa dari sungai Barito yang menyebabkan air di pesisir pantai tercampur dengan lumpur. Air di pesisir pantai Pagatan Besar memiliki pH yang bersifat basa yaitu berkisar dari 7-9 baik pada stasiun pertama, kedua dan ketiga. Hal ini terjadi karena salinitas air yang tinggi sehingga perairan di sekitar pesisir cenderung bersifat payau. Pengertian dari salinity atau salinitas sendiri adalah jumlah garam yang terkandung dalam satu kilogram air. Kandungan garam dalam air ini dinyatakan dalam ppt atau part per thousand karena satu kilogram sama dengan 1000 gram. Sedangkan air payau atau brackish water adalah air yang mempunyai salinitas antara 0,5 ppt s/d 17 ppt. Dari sumber literatur lain, air tawar maksimal mempunyai salinitas 1 ppt sedangkan air minum 0,5 ppt. Sementara itu air laut ratarata mempunyai salinitas 35 ppt. Pada umumnya dengan komposisi kimia air payau yang perlu diperhatikan adalah kandungan Cl-, Ca, Mg, dan Na. Logam-logam tersebut yang menyebabkan air bersifat basa. Air laut yang memiliki kadar salinitas tinggi menyebabkan air tanah yang pada mulanya tawar menjadi payau. Ini dapat dibuktikan pada observasi di lahan pesisir pantai pada masyarakat setempat dimana air sumur yang 5 tahun lalu masih bisa dipakai untuk minum, sedangkan sekarang sudah tidak bisa lagi karena kondisi payau tadi. Sehingga sekarang air sumur hanya digunakan untuk MCK (mandi, cuci, kakus). Sesuai fungsi air sumur tersebut diungkapkan warga tidak terlalu bermasalah terhadap kesehatan karena ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat bergelut dengan air payau. Namun setelah ditelusuri lebih lanjut, air payau ini juga berdampak pada kesehatan masyarakat setempat terutama pada masyarakat dengan kekebalan tubuh kurang dan sensitif terhadap air payau. Air sumur menurut para warga nampak berwarna kuning, berasa asin, dan lengket di badan. Beberapa sumur menghasilkan air yang berbau tidak sedap. Sehingga atas perubahan kualitas air ini dapat dirasakan dalam bentuk penyakit yang kadang dapat menyerang warga seperti penyakit diare. Diare merupakan penyakit karena keadaan buang air dengan banyak cairan (mencret) dan merupakan gejala dari penyakit-penyakit tertentu atau gangguan lain. Menurut teori klasik, penyakit ini disebabkan karena bertumpuknya cairan di usus akibat terganggunya resorpsi air. Diare ini sumbernya dapat dari mikroorganisme yang merugikan seperti bakteri E.Coli, Shigella, Salmonella, dan Campylobacter yang mungkin terkontaminasi pada air sumur yang igunakan oleh warga. Selain penyakit diare yang biasanya berkembang, juga penyakit kulit berupa gatal-gatal, panu, dan kutu air yang menyerang warga pesisir. Penyebab utama penyakit kulit itu adalah menurunnya kekebalan tubuh warga akibat minimnya mengonsumsi air, intensitas mandi yang mengurang, dan kualitas kebersihan pakaian. Selain itu juga dipicu oleh beberapa bakteri yang berkembang akibat kondisi air yang tidak sehat seperti kutu air yang disebabkan oleh Trichofyton dan panu oleh Malasezia furfur. Solusi untuk permasalahan ini, yaitu pendistribusian air bersih ke lokasi-lokasi tersebut. Misalnya

dengan cara bantuan air bersih dari PDAM kepada masyarakat pesisir pantai agar mereka dengan mudah mendapatkan air bersih, kalau perlu air bersih tersebut diberikan secara cuma-cuma atau gratis sehingga masyarakat tidak perlu membelinya. Solusi yang lain, yaitu dengan cara meningkatkan pelayanan kesehatan dalam upaya mencegah penyakit yang ditimbulkan dari tingginya salinitas. Peningkatan pelayanan kesehatan ini dilakukan dengan cara antara lain menambah jumlah tenaga kesehatan yang ada dan melaksanakan penyuluhan kesehatan lingkungan.

Berdasarkan pengamatan di daerah pesisir pantai Pagatan Besar telah terjadi abrasi pantai. Abrasi merupakan peristiwa terkikisnya alur-alur pantai akibat gerusan air laut. Gerusan ini terjadi karena permukaan air laut mengalami peningkatan. Proses terjadinya abrasi karena faktor alam disebabkan oleh angin yang bertiup di atas lautan yang menimbulkan gelombang dan arus laut sehingga mempunyai kekuatan untuk mengikis daerah pantai. Gelombang yang tiba di pantai dapat menggetarkan tanah atau batuan yang lama kelamaan akan terlepas dari daratan. Kekuatan gelombang terbesar terjadi pada waktu terjadi badai sehingga dapat mempercepat terjadinya proses abrasi selain itu tidak adanya pemecah gelombang di pesisir pantai yang menahan ombak sehingga abrasi tidak dapat ditanggulangi.

Abrasi pantai di daerah Pagatan Besar dapat dicegah dengan beberapa cara yaitu, penanaman mangrove terutama jenis mangrove api-api dikarenakan tanaman tersebut dapat tumbuh di daerah berrpasir namun, terdapat kendala dalam penanaman mangrove kembali yaitu jika bibit jenis mangrove ini ditanam didaerah berpasir akan mudah hanyut oleh gelombang karena belum memiliki perakaran yang kuat. Cara lain untuk mencegah abrasi dengan pembuatan siring, akan tetapi diperlukan dana yang cukup besar dalam pembuatan siring ini. Selain itu agar upaya ini dapat berjalan dengan baik, peranan dari semua elemen masyarakat sangat diperlukan.