Anda di halaman 1dari 27

I. Tujuan 1. Mengetahui cara pembuatan tablet dengan metode kempa langsung. 2.

Melakukan uji kontrol kualitas terhadap massa cetak dan tablet II. Prinsip 1. Metode kempa langsung

Pembuatan tablet dengan mengempa langsung campuran zat aktif dan eksipien kering tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu. 2. a. Evaluasi tablet berdasarkan standar quality control (QC) Kemampuan alir dan sudut istirahat

Kemampuan alir diperoleh dari waktu dalam detik yang diperlukan sejumlah tertentu serbuk untuk mengalir melewati corong. Kemampuan alir dan sudut istirahat digunakan untuk menilai efektivitas bahan pelicin, mudah tidaknya granul mengalir dan sifat permukaan granul b. Kompresibilitas

Kompresibilitas dihitung dari kerapatan serbuk, yaitu dengan memasukkan sejumlah tertentu serbuk kedalam gelas ukur. Volume awal dicatat, kemudian diketuk-ketuk sampai tidak terjadi pengurangan volume. % K= Dapt Davc x 100 % Dapt Davc = Berat jenis nyata sebelum pemampatan Dapt = Berat jenis nyata setelah pemampatan 500 x

Jika % K : 5 10 % aliran sangat baik

21 20 % aliran cukup baik 21 25 % >26 % c. aliran cukup aliran buruk

Kadar air (loss on drying)

Salah satu metode yang digunakan untuk mengukur kadar air dengan cara membandingkan bobot granul setelah dipanaskan dengan bobot granul sebelum dipanaskan d. Waktu hancur

Waktu hancur adalah waktu yang dibutuhkan sejumlah tablet untuk hancur menjadi serbuk/partikel penyusunnya yang mampu melewati ayakan no.10 yang terdapat dibagian bawah alat uji e. Kekerasan

Uji kekuatan tablet yang mencerminkan kekuatan tablet secara keseluruhan, yang diukur dengan memberi tekanan terhadap diameter tablet f. Friabilitas

Uji friabilitas digunakan untuk mengukur ketahanan permukaan tablet terhadap gesekan yang dialaminya sewaktu pengemasan dan pengiriman. Prinsipnya adalah menetapkan bobot yang hilang dari sejumlah tablet selama diputar dalam friabilator selama waktu tertentu.

g.

Keseragaman bobot dan bentuk

Pengukuran beberapa tablet yang diproduksi untuk menentukan produksi setiap tablet yang memiliki bobot yang 99% hampir sama. Kadar pemampatan %T = Vo V500 Vo %T = Kadar pemampatan Vo = Volume sebelum pemampatan V500 = Volume setelah pemampatan 500 x %T < 20 atau ^V<20 ml granul memiliki aliran yang baik

Kadar pemampatan dan berat jenis dapat untuk menilai aliran. III. Teori Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa (FI IV, 1995). Metode kempa langsung, yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung campuran zat aktif dan eksipien kering tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu. Metode ini merupakan metode yang paling mudah, praktis, dan cepat pengerjaannya, namun, hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif yang kecil dosisnya dan zat aktif yang tidak tahan terhadap panas dan lembab (Chaerunissa dkk, 2009).

Zat aktif yang cocok untuk metode kempa langsung adalah:

1. 2. 3. 4.

Alirannya baik Kompresibilitasnya baik Bentuknya Kristal Mampu menciptakan adhesifitasdan kohesifitas dalam massa tablet

(Musfikah, 2012).

Komponen-komponen dalam formulasi tablet kempa terdiri atas zat aktif, bahan pengisi, bahan pengikat, desintegran, dan lubrikan. Selain itu, tablet dapat

juga mengandung bahan pewarna dan lak (bahan warna yang diabsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut) yang diizinkan, bahan pengaroma, dan bahan pemanis (Syamsuni, 2006).

Syarat tablet kecuali dinyatakan lain, tablet harus memenuhi syarat berikut:

1.

Kemampuan alir dan sudut istirahat

Sifat aliran serbuk yang baik merupakan hal penting untuk pengisian yang seragam ke dalam lubang cetak mesin tablet dan untuk memudahkan gerakan bahan di sekitar fasilitas produksi. Sifat aliran dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk partikel, partikel yang lebih besar dan bulat menunjukkan aliran yang lebih baik. Metode untuk mengevaluasi sifat aliran granul yang sering digunakan adalah metode corong (langsung) (Sari, 2010).

Kecepatan alir diketahui melalui metode corong. Metode ini paling sederhana untuk menetapkan kemampuan alir granul secara langsung, yakni kecepatan alir granul dengan bobot tertentu melalui corong diukur dalam detik. Suatu penutup sederhana ditempatkan pada lubang keluar corong lalu diisi dengan granul yang telah ditimbang terlebih dahulu. Ketika penutup dibuka, waktu yang dibutuhkan granul untuk keluar dicatat. Dengan membagi massa serbuk dengan waktu keluar tersebut, kecepatan alir

diperoleh sehingga dapat digunakan untuk perbandingan kuantitatif granul yang berbeda.

Waktu alir adalah waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah granul untuk mengalir dalam suatu alat. Sifat alir ini dapat digunakan untuk menilai efektivitas bahan pelicin, mudah tidaknya granul mengalir dan sifat permukaan granul (Voigt, 1995).

Metode sudut istirahat telah digunakan sebagai metode tidak langsung untuk mengukur mampu alir granul karena hubungannya dengan kohesi antar partikel. Banyak metode yang berbeda untuk menetapkan sudut istirahat dan salah satunya yang digunakan adalah metode corong (Sari, 2010).

2.

Kerapatan curah dan kerapatan mampat

Tap density atau densitas ketuk adalah densitas yang ditentukan dengan membagi berat dengan volume setelah dilakukan pengetukan. Pada pengetukan ini proses yang terjadi adalah pemampatan.

Alat tap density tester terdiri dari tiga bagian yaitu holder, mesin pengetuk dan penghitung ketukan. Holder digunakan untuk menyimpan tabung berukuran. Tabung berukuran ini biasanya menggunakan gelas ukur, alat ini fungsinya untuk wadah sampel yang diuji, mesin pengetuk berfungsi untuk mengangkat gelas ukur yang tersimpan dalam holder kemudian membiarkan jatuh demikian seterusnya hingga sampel terketuk-ketuk, dan penghitung ketukan akan menghitung jumlah ketukan sesuai dengan angka yang ditentukan.

3.

Uji Susut Pengeringan (LOD)

Granul dibuat dengan maksud untuk memperbaiki sifat alir massa serbuk yang akan dibuat menjadi sediaan tablet, kapsul, puyer, ataupun suspensi kering. Salah satu cairan pembasah yang dapat digunakan adalah air sehingga setelah melalui proses pengeringan, kadar air granul harus dievaluasi untuk mengetahui kadar air yang tertinggal di granul. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur kadar air adalah metode gravimetri dengan cara membandingkan bobot granul setelah dipanaskan dengan bobot granul sebelum dipanaskan. Pada saat pemanasan berlangsung, air yang masih tertinggal dalam granul akan menguap (Lachman dkk, 1989).

Salah satu alat yang bisa digunakan untuk mengukur kadar air dengan prinsip gravimetri adalah moisture analyzer. Dilihat dari katanya moisture analyzer artinya penganalisa kelembaban. Jadi yang diukur oleh alat ini adalah kandungan lembab yang terkandung dalam zat uji yang kemudian menguap akibat panas yang dikeluarkan oleh alat ini. Temperatur moisture balance bisa di set sesuai dengan yang diinginkan. Untuk mengukur kadar air granul, moisture balance cukup diset pada temperatur 70oC untuk mencegah ikut menguapnya air kristal yang terkandung dalam bahan yang digunakan dalam pembuatan granul (Ansel, 1999).

Penentuan kadar air dapat ditentukan dengan menggunakan timbangan dengan cara menentukan nilai bobot akhir dan bobot awal dari granul. Uji kadar air dengan menggunakan metode LOD (Loss on Drying) yaitu suatu pernyataan kadar kelembaban berdasarkan bobot basah. Timbangan yang digunakan dalam melakukan uji susut pengeringan dikenal timbangan Moisture Balance. Timbangan tersebut sangatlah unik karena bisa mengeluarkan panas. Kegunaan timbangan ini adalah untuk mengetahui seberapa banyak kadar air yang tersembunyi dalam setiap barang yang diuji (Lachman dkk, 1989).

4.

Uji Keseragaman bobot

Timbangan digital sebagai alat ukur untuk satuan berat. Dibandingkan dengan neraca jaman dulu yang masih menggunakan neraca analog atau manual, neraca digital memiliki fungsi lebih sebagai alat ukur, diantaranya neraca digital lebih akurat, presisi, akuntable (bisa menyimpan hasil dari setiap penimbangan). Neraca analitik digital merupakan salah satu neraca yang memiliki tingkat ketelitian tinggi, neraca ini mampu menimbang zat atau benda sampai batas 0,0001 g (Robbins, 2011).

Neraca atau timbangan baik yang digital ataupun manual harus diletakkan pada bidang datar, dimana tiap sudut harus benar-benar setimbang. Kesetimbangan ini mutlak perlu untuk mendapatkan hasil penimbangan yang akurat, jadi kesetimbangan ini untuk menempatkan titik berat berada pada poros timbangan bukannya pada salah satu sisi. Kesetimbangan dapat dilihat pada indikator kesetimbangan yang terdapat pada setiap timbangan. Neraca digital ditunjukkan dengan water pass yang berupa bulatan besar yang didalamnya terdapat bulatan kecil (Hamdani, 2012).

5.

Uji Keseragaman Ukuran

Jangka sorong adalah instrumen presisi yang dapat digunakan untuk mengukur dimensi benda bagian dalam dan luar. Ditinjau dari cara pembacaannya, jangka sorong dapat dibagi dua yaitu jangka sorong manual dan digital. Penggunaan jangka sorong manual lebih sulit bila dibandingkan dengan yang digital, karena hasil pengukuran diinterpretasi dari skala oleh pengguna, sedangkan hasil pengukuran menggunakan yang digital dapat dibaca langsung pada layar LCD. Versi manual memilki dua skala imperial (skala dalam inci) dan metrik (skala dalam milimeter) (Koesdijanto, 2012).

Fungsi jangka sorong antara lain mengukur panjang suatu benda dengan ketelitian sampai 0,1 mm, rahang tetap dan rahang geser atas bisa digunakan untuk mengukur diameter benda yang cukup kecil seperti cincin, pipa, dll, dan tangkai ukur di bagian bawah berfungsi untuk mengukur kedalaman seperti kedalaman tabung, lubang kecil, atau perbedaan tinggi yang kecil (Admin, 2013).

Jangka sorong dapat digunakan untuk mengukur panjang, diameter luar, diameter dalam, dan kedalaman benda. Bagian-bagian utamanya adalah rahang tetap yang memiliki skala utama dengan lebar skala terkecil 1 mm dan rahang geser yang memiliki skala nonius/vernier. Lebar skala nonius masing-masing 0,9 mm. hal ini dimungkinkan karena panjang seluruh skala nonius adalah 9 mm tetapi dibagi menjadi 10 buah skala. Jadi, selisih satu skala pada rahang tetap dan rahang geser adalah (1-0,9)mm atau 0,1 mm (Tim Fisika, 2007).

5.

Uji Waktu Hancur

Waktu hancur adalah waktu yang diperlukan tablet untuk hancur di bawah kondisi yang ditetapkan dan lewatnya seluruh partikel melalui saringan berukuran mesh-10. Uji ini tidak memberi jaminan bahwa partikel-partikel itu akan melepas bahan obat dalam larutan dengan kecepatan yang seharusnya (Lachman, dkk., 1994).

Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu hancur dari tablet adalah sifat kimia dan fisis dari granulat, kekerasan dan porositasnya. Tablet biasanya diformulasi dengan bahan pengembang atau bahan penghancur yang menyebabkan tablet hancur di dalam air atau cairan lambung. Hancurnya tablet tidak berarti sempurna larutnya bahan obat dalam tablet. Kebanyakan bahan pelicin bersifat hidrofob, bahan pelicin yang berlebihan akan memperlambat waktu hancur. Tablet dengan rongga-rongga yang

besar akan mudah dimasuki air sehingga hancur lebih cepat dari pada tablet yang keras dengan rongga-rongga yang kecil (Soekemi, dkk., 1987).

7.

Uji Friabilitas Kerapuhan merupakan parameter yang digunakan untuk mengukur ketahanan permukaan tablet terhadap gesekan yang dialaminya sewaktu pengemasan dan pengiriman. Kerapuhan diukur dengan friabilator. Prinsipnya adalah menetapkan bobot yang hilang dari sejumlah tablet selama diputar dalam friabilator selama waktu tertentu. Pada proses pengukuran kerapuhan, alat diputar dengan kecepatan 25 putaran per menit dan waktu yang digunakan adalah 4 menit. Jadi ada 100 putaran (Andayana, 2009). Kerapuhan dapat dievaluasi dengan menggunakan friabilator (contoh nya Rosche friabilator) (Sulaiman, 2007). Tablet yang akan diuji memiliki berat antara rentang 6 6,5 gram, terlebih dahulu dibersihkan dari debunya dan ditimbang dengan seksama. Tablet tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam friabilator, dan diputar sebanyak 100 putaran selama 4 menit, jadi kecepatan putarannya 25 putaran per menit. Setelah selesai, keluarkan tablet dari alat, bersihkan dari debu dan timbang dengan

seksama. Kemudian dihitung persentase kehilangan bobot sebelum dan sesudah perlakuan. Tablet dianggap baik bila kerapuhan tidak lebih dari 1% (Andayana, 2009). Uji kerapuhan berhubungan dengan kehilangan bobot akibat abrasi yang terjadi pada permukaan tablet. Semakin besar harga persentase kerapuhan, maka semakin besar massa tablet yang hilang. Kerapuhan yang tinggi akan mempengaruhi konsentrasi/kadar zat aktif yang masih terdapat pada tablet. Tablet dengan konsentrasi zat aktif yang kecil (tablet dengan bobot kecil), adanya kehilangan massa akibat

rapuh akan mempengaruhi kadar zat aktif yang masih terdapat dalam tablet (Sulaiman, 2007).

Hal yang harus diperhatikan dalam pengujian friabilitas adalah jika dalam proses pengukuran friabilitas ada tablet yang pecah atau terbelah, maka tablet tersebut tidak diikutsertakan dalam perhitungan. Jika hasil pengukuran meragukan (bobot yang hilang terlalu besar), maka pengujian harus diulang sebanyak dua kali. Selanjutnya tentukan nilai rata-rata dari ketiga uji yang telah dilakukan (Andayana, 2009).

8.

Uji Kekerasan

Uji kekerasan tablet dapat didefinisikan sebagai uji kekuatan tablet yang mencerminkan kekuatan tablet secara keseluruhan, yang diukur dengan memberi tekanan terhadap diameter tablet. Tablet harus mempunyai kekuatan dan kekerasan tertentu serta dapat bertahan dari berbagai goncangan mekanik pada saat pembuatan, pengepakan dan transportasi. Alat yang biasa digunakan adalah hardness tester Kekerasan adalah parameter yang menggambarkan ketahanan tablet dalam melawan tekanan mekanik seperti goncangan, kikisan dan terjadi keretakan tablet selama pembungkusan, pengangkutan dan pemakaian. Kekerasan ini dipakai sebagai ukuran dari tekanan pengempaan (Parrott, 1971).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kekerasan tablet adalah tekanan kompresi dan sifat bahan yang dikempa. Kekerasan ini dipakai sebagai ukuran dari tekanan pengempaan. Semakin besar tekanan yang diberikan saat penabletan akan meningkatkan kekerasan tablet. Pada umumnya tablet yang keras memiliki waktu hancur yang lama (lebih sukar hancur) dan disolusi yang rendah, namun tidak selamanya demikian. Pada umumnya tablet yang baik dinyatakan mempunyai kekerasan antara 4-10 kg. Namun hal ini tidak mutlak, artinya kekerasan tablet dapat lebih kecil dari 4 atau lebih tinggi dari 8 kg. Kekerasan tablet kurang dari 4 kg masih

dapat diterima dengan syarat kerapuhannya tidak melebihi batas yang diterapkan. Tetapi biasanya tablet yang tidak keras akan memiliki kerapuhan yang tinggi dan lebih sulit penanganannya pada saat pengemasan, dan transportasi. Kekerasan tablet lebih besar dari 10 kg masih dapat diterima, jika masih memenuhi persyaratan waktu hancur/disintegrasi dan disolusi yang dipersyaratkan (Sulaiman, 2007).

IV. Alat Dan Bahan 4.1 Alat untuk Granul a ) Alat Uji Kompresibilitas b ) Alat Uji Laju Alir

c ) Alat Uji LOD

d) Ayakan

e) Mesin Granulasi Punch

f) Mesin Cetak Kaplet Single

4.2 Alat Untuk Tablet a ) Alat Uji Kekerasan b ) Alat Uji Friabilitas

c )Alat Uji Waktu Hancur

d ) Jangka Sorong

4.3 Bahan a. b c. d acetosal Na starch glycolat talkum asam stearat

V. PROSEDUR 5.1 Pembuatan Tablet Asetosal dengan metode kempa langsung Prosedur dimulai dengan menyediakan alat-alat yang diperlukan dan menimbang bahan-bahan yang diperlukan. Bahan-bahan yang digunakan diayak untuk memperolehi serbuk yang halus. Serbuk-serbuk tersebut telah di masukkan ke dalam sebuah plastic dan di ikat lalu dicampur hingga homogen. Sebanyak 25g campuran telah dipisahkan untuk melakukan uji evaluasi serbuk. Baki campuran serbuk telah dilanjutkan untuk dicetak menjadi tablet. 5.2 Evaluasi granul 5.2.1 Uji kadar air/Loss on Drying Alat dinyalakan terlebih dahulu, sebanyak 10 g sample diletakkan atas piringan logam dan alatnya ditutup rapat. Tombol start ditekan, hasil dicatat dengan melihat layar monitor pada alat. Berat akhir serbuk dalam gram dan kelembapan serbuk dalam persentase dicatat. 5.2.2 Uji waktu alir Serbuk sampel ditimbang 15g. Dipastikan dahulu bahawa bagian bawah corong tertutup rapat. Sampel dimasukkan ke dalam corong uji waktu alir. Penutup corong dibuka sehingga granul keluar dan ditampung pada bidang datar. Waktu alir granul dicatat menggunakan stopwatch dan sudut istirehat dihitung dengan mengukur diameter dan tinggi tumpukan granul yang keluar dari mulut corong, kemudian dihitung menggunakan rumus tan-1 ( tinggi) /radius. Laju alir dihitung dengan rumus bobot per waktu. Waktu alir dipersyaratkan dengan sudut diam tidak lebih dari 30 derajat. 5.2.3 Uji Tap Density/ Kerapatan

Ditimbang 15 g serbuk dimasukkan ke dalam gelas ukur dan dicatat volumenya, kemudian granul dimampatkan dengan alat uji ( tombolnya diputar ke kanan untuk menambahkan ketukan dan sebaliknya, waktu diatur selama 5 menit, volume uji sebelum dimampatkan (Vo) dan volume setelah dimampatkan(V) dicatat. Kerapatan nyata dihitung menggunakan rumus massa/volume awal dalam gr/ml dan kerapatan mampat dihitung dengan rumus massa/ volume akhir dalam gr/ml. Setelah itu, dihitung kompresibilitas granul menggunakan rumus (densitas mampat-densitas nyata) / densitas mampat x 100%. Syaratnya harus tidak lebih dari 20%.

5.3 EVALUASI TABLET 5.3.1 a. Uji Keragaman Bobot Pemeriksaan dilakukan terhadap 20 tablet yang diambil secara acak dari tiap formula lalu ditimbang bobotnya satu per satu. Dihitung bobot rata-rata untuk satu tablet dalam gram. Persyaratan keseragaman bobot atau keseragaman kandungan terletak antara 85,0 hingga 115,0 % dari yang tertera pada etiket, dan simpangan baku relatif kurang dari atau sama dengan 6,0% (FI IV,1995). b. Uji Keseragaman Ukuran Dilakukan pengukuran terhadap 20 tablet : diameter dan tebal tablet menggunakan jangka sorong. Syaratnya adalah rata-rata diameter tidak boleh lebih dari tiga kali rata-rata ketebalan dan rata-rata diameter tidak boleh kurang dari empat per tiga ratarata tebalnya. 5.3.2. Uji Waktu Hancur Air dipanaskan hingga suhu 37oC (suhu badan normal). Sebanyak 6 tablet dimasukkan ke dalam keranjang, kemudian cakram besi dimasukkan di atas masing masing tablet dengan posisi yang sama. Tablet dimasukkan ke alat disintegrator dan

alatnya dinyalakan. Waktu diperlukan hingga seluruh tablet hancur dicatat dalam menit dan detik.

5.3.3 Uji Kerapuhan/ Friabilitas 6,0-6,5 gram tablet dibersihkan dari debu, ditimbang, kemudian dimasukkan ke dalam alat uji frabilitas. Alat diputar pada kecepatan 25 rpm selama 4 menit dan alat tersebut akan menjatuhkan tablet sejauh 6 inci setiap putaran. Seluruh tablet dikeluarkan, dibersihkan dari debu dan ditimbang kembali. Dihitung kehilangan bobot dalam persentase. Syarat : lebih kecil dari 1 (%).

5.3.4 Uji Kekerasan Tablet Masing-masing 10 tablet diukur kekerasannya dengan alat pengukur kekerasan tablet. Alat dinyalakan, dan tablet diberikan tekanan hingga tablet tersebut hancur. Tekanan dicatat dalam unit Newton.

VI. Data Pengamatan dan Perhitungan

No Formula

Kegiatan

Hasil

R/ Asetosal 50gm Avisel pH 10242gm Na Starch Glycolat (Primojel) 4gm Talkum2gm Asamstearat 2gm Tablet Asetosal 100mg Bets 500 tablet

Berat tablet 200mg 1 Disiapkan sejumlah alat untuk keperluan penimbangan. Disiapkan sejumlah bahan yaitu Asetosal,Avicel,Na starch glycolat,Talkum dan asam stearat. Dilakukan pengayakan terlebih dahulu sebelum dilakukan penimbangan Asetosal,avisel pH 102,Na starch glycolat dan talkum. Ditimbang Asetosal sebanyak 50gm. Ditimbang avisel pH 102 sebanyak 42gm. Ditimbang Na Starch Glycolat (Primojel) sebanyak 4gm. Ditimbang Talkum sebanyak 2gm. Ditimbang Asam Stearat sebanyak 2gm. Semua bahan yang telah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam plastic kemudian dilakukan pencampuran secara homogen. Diambil sebanyak 25gm daripada bahan-bahan yang telah homogen untuk digunakan evaluasi serbuk yang meliputi uji kelembapan, uji daya alir granul dan uji kompresibilitas.

10

11

LOD (Ujikelembapan) - 10gm granul ditimbang lalu suhu ditetap pada 70c dan alat dihidup untuk 10menit. -% LOD dicatat.

Ujilajususutpengeringan Massa awal = 10.000 g Massa akhir = 9,809 g LOD = = = 1.91%

Surutpengeringan = 100% - 1,91% = 98,09%

12

Lajualir

Massa : 15.0 gram

Waktu = 3.18detik - 15gm granul ditimbang dan dimasukkan ke dalam alat. Tinggi (h) = 2 cm - Laju alir dihitung dengan Diameter = 8 cm mengukur waktu hingga semua granul alir kebawah dari alat. LajuAlir = - Tinggidan diameter diukur. Sudutistirehat = Tan = 15.86o

13

Kompresibilitas ( Tap density)

Massa serbuk = 15 gr

Vawal = 29.5 ml - 15gm granul ditimbang dan dimasukkan kedalam alat. Vakhir = 19.5 ml - Di ukur batas minimal dan maksimal lalu dihitung rataratanya. Kerapatannyata = - Alat dihidupkan selama 4 menit dan batas granul diukur lagi. Kerapatanmampat =

Kompresibilitas

= = = 34,03% 14 Diambil serbuk tersebut untuk dikempa langsung menjadi tablet. Kemudian dilakukan evaluasi tablet seperti uji keseragaman bobot, uji waktu hancur, uji friabilitas dan uji kekerasan tablet. Uji keseragaman bobot - Sebanyak 20 tablet ditimbang dengan menggunakan timbangan digital. - Tablet diukur diameter dan ketebalan dengan menggunakan jangkasorong. NO MASSA DIAMETER KETEBAL (g) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 0,184 0,188 0,189 0,188 0,183 0,187 0,188 0,193 0,192 0.191 0,190 0,192 0,190 0,180 0,190 0,191 ( mm ) 8.06 8.04 8.02 8.06 8.05 8.04 8.03 8.02 8.05 8.06 8.04 8,05 8.04 8.06 8.05 8.04 AN (mm) 3.51 3.61 3.56 3.56 3.55 3.55 3.54 3.53 3.54 3.51 3.50 3.54 3.52 3.55 3.54 3.56

15

16

17 18 19 20

0,188 0,192 0,189 0,192

8.03 8.04 8.03 8.04

3.54 3.53 3.55 3.65

rata-rata : massa= 0,189 gram diameter = 8.042 mm ketebalan = 3.545 mm 17 Uji Friabilitas Friabilitas

Beratawal(W1): 6,4 gram - Tablet diukur sampai 6,5g. - Tablet dimasukkan kedalam alat Beratakhir(W2): 6.4 gram friabilitas. - Alat nyalakan selama 4 minit % Friabilitas = dengan kelajuan 25. = - Tablet ditimbang kembali. - Friabilitas ditentukan. = 0% 18 Uji kekerasan No - 10 tablet diambil dan diuji kekerasannya di harder tester. - Setiap tablet diletakkan di hardness sampai pecah lalu bacaan hasilnya diambil. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tekanan(Newton) 37.5 35.2 41.0 38.0 41.0 35.0 31.5 29.5 35.5

10 rata-rata = 357.2 / 10 = 35.7 N

33.0

19

Uji Waktu Hancur Waktuhancuradalah 19 detik. - Suhu dikalibrasi sehingga 37C. - 6 biji tablet dimasukkan kedalam alat. - Waktu untuk selama tablet disintegrasi dalam air telah diukur dan dicatat.

20

Perhitungan tablet Jumalah bahan: 100g Berat tablet: 200mg (0,2g) 100g- (17,25g sisa) = 82,75g / 0,2g = 413 tablet Tablet yang dihasilkanadalah 361butir.

VII. Pembahasan Pada praktikum kali ini telah dilakukan pembuatan sediaan tablet dengan bahan aktif tunggal menggunakan metode kempa langsung. Sediaan tablet yang telah dibuat adalah tablet asetosal 100mg dengan formulasi seperti berikut : R/ Asetosal 50 gr Ancel pH 101 42 gr Na. Starch Glikolat 4 gr Talcum 2 gr As. Stearat 2 gr

untuk kemudian dibuat tablet sebanyak 500 tablet dengan komposisi tiap tablet sebesar 200mg/tablet. Kempa langsung merupakan suatu metode pembuatan tablet dengan mengempa langsung campuran zat aktif dan eksipien kering tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu. Metode ini digunakan untuk bahan yang memiliki sifat mudah mengalir sebagaimana juga sifat-sifat kohesifnya yang memungkinkan untuk langsung dikompresi dalam mesin tablet tanpa memerlukan granulasi basah atau kering. Pada formula diatas, zat aktif yang digunakan adalah asetosal. Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah sejenis obat turunan dari salisilat yang sering digunakan sebagai senyawa analgesik (penahan rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi (peradangan). Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan dapat digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung. Na Starch Glicolat adalah eksipien di dalam formula ini. Na Starch Glicolat merupakan turunan amilum solani, digunakan sebagai disintegrator tablet terutama dalam pembuatan tablet dengan metode kempa langsung. Konsentrasi yang biasa digunakan untuk Na Starch Glicolat yang dapat berfungsi sebagai distintegrator tablet adalah antara 2% hingga 8% dengan konsentrasi optimum adalah 4%.Na Starch Glicolat dapat berfungsi sebagai disintegrator. Pemerian Na Starch Glicolat adalah sebagai berikut, putih, higroskopis, Talkum merupakan zat tambahan yang digunakan sebagai anticaking agent, glidant, pembawa dalam sediaan tablet, dan sebagai pelincir tablet. Talkum juga dapat berfungsi sebagai penghambat disolusi zat aktif dari tablet untuk sediaan lepas lambat. Talkum merupakan senyawa dengan rumus molekul Mg6(Si2O5)4(OH)4 dengan pemerian serbuk sangat halus, serbuk keputihan dan agak abu. Talkum merupakan senyawa dengan pemerian serbuk kristal yang sangat halus dan berwarna putih. Asam stearat pula digunakan sebagai pelincir tablet. Dalam formulasi ini

digunakan asam stearat sebanyak 2% dan menurut literatur, jumalah asam stearat yang digunakan sebagai pelincir tablet adalah sebanyak 1-3 %. Selanjutnya dilakukan evaluasi serbuk,yang pertama dilakukan pengujian uji alir. Massa serbuk adalah sebanyak 15.0 gram,waktunya 3,81 saat,diameter 8 cm,tinggi 2 cm dan laju alir selepas dihitung adalah 4,72 g/s. Sudut istirehat yang didapat adalah 15,86. Seterusnya dilakukan pengujian kompresibilitas.Massa serbuk yang digunakan sebanyak 15 gram,volume awal 29,5 dan volume akhir19,5. Kerapatan nyata sebanyak 0,0508 gr/ml dan kerapatan mampat 0,77 gr/ml. Kompresibilitasnya adalah 34,03 %. Evaluasi serbuk yang terakhir adalah uji kelembapan (LOD),massa awalnya adalah 10 gram dan massa akhir adalah 9,809 gram. LOD yang didapat adalah sebanyak 98,09 %. Setelah evaluasi serbuk dilakukan, serbuk dipersiapkan untuk dicetak. Serbuk yang telah dicampur, telah diaduk hingga homogen supaya terdistribusi homogen dan hasil tiap tablet yang dicetak memiliki kualitas yang sama. Setelah itu, tablet dicetak dengan menggunakan mesin kempa single punch. Terlebih dahulu, dilakukan beberapa kali pencetakan awal, dimana setiap satu tablet yang dibuat kemudian diuji bobot supaya tablet yang dicetak memenuhi rentang bobot teoritis yang diizinkan, yaitu sekitar 200mg. Setelah dilakukan beberapa pencetakan tablet awal, didapatkan berat yang memenuhi syarat.

Setelah seluruh tablet dicetak, dilakukan evaluasi tablet. Pengujian keseragaman bobot dan ukuran dilakukan untuk melihat keseragaman dosis pada masing-masing tablet. Pada evaluasi keseragaman bobot, didapatkan bobot rata-rata sebesar 0,189 g dari pengukuran sejumlah 20 tablet. Berdasarkan FI III, untuk uji keseragaman bobot pada tablet yang telah dibuat dengan bobot rata-rata tersebut (bobot rata-rata 151-300 mg), dinyatakan bahwa tidak boleh ada lebih dari dua tablet yang bobotnya menyimpang dari 7,5% bobot rata-rata (0,01575 g) dan tidak boleh

ada satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari 15% bobot rata-rata (0,0315 g). Dari data yang diapatkan, kesemua 20 tablet menyimpang dari kedua-dua 7,5% dan 15% bobot rata-rata .Hal ini tidak sesuai dengan persyaratan uji keseragaman bobot yang tertulis di farmakope. Penyimpangan-penyimpangan tersebut terjadi akibat volume yang tercetak tidak seragam karena penyumbatan serbuk.

Pada pengujian keseragaman ukuran, didapatkan diameter rata-rata sebesar 8,0425 mm dan ketebalan rata-rata sebesar 3,5425 mm dari sebanyak 20 tablet. Pada farmakope disebutkan bahwa kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari 3 kali tebal tablet (11,52 mm) dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet (5,12 mm). Dari data yang didapatkan, tablet yang dicetak memenuhi persyaratan keseragaman ukuran.

Pengujian kekerasan pula dilakukan untuk melihat seberapa kuat tablet sehingga mempengaruhi pengemasan dan penyimpanannya. Pada pengujian kekerasan, 10 tablet telah diuji, dimana setiap tablet diletakan dengan posisi vertikal dimana permukaan tablet bagian tebal menyentuh permukaan alat uji hardness tester, karena pada posisi ini tekanan maksimalnya dapat terukur. Nilai rata-rata bagi kekerasan tablet yang didapat adalah 35,72 N. Menurut teoritas, tablet yang baik memiliki tekanan di antara 35-80 N.

Data friabilitas digunakan untuk mengukur ketahanan permukaan tablet terhadap gesekan yang dialaminya sewaktu pengemasan dan pengiriman. Pada pengujian friabilitas, digunakan 31 tablet dengan bobot total 6,4g. Alat friabilitator dihidupkan selama 4 menit dengan kelajuan 25. Kemudian, bobot akhir diukur sebanyak 6,4g lalu %friabilitas dihitung. Seharusnya, %friabilitas tidak boleh lebih dari 1%. Namun, %friabilitas sebesar 0% telah diperoleh dari hasil pengujian dan ini memenuhi syarat friabilitas yang baik.

Akhir sekali, pengujian waktu hancur dilakukan untuk melihat seberapa lama tablet akan hancur pada kondisi yang menyerupai tubuh manusia. Berdasarkan FI III, waktu hancur yang baik tidak lebih dari 15 menit. Pada pengujian ini, didapatkan waktu hancur 19 detik apabila 6 tablet dimasukkan dalam disintegrator tester dengan medium air pada suhu tubuh, yaitu 370C. Hal ini sesuai dengan persyaratan yang tercantum pada FI III.

Sebagai tahapan terakhir, jumlah tablet yang dihasilkan dihitung, yaitu sebanyak 316 butir tablet. Secara teoritas, 500 tablet dengan 0,2g/tablet harusnya dihasilkan. Namun, jumlah tablet kurang karena beberapa butir tablet telah digunakan untuk uji evaluasi tablet dan serbuk. Selain itu, ketika proses pengempaan tablet, sebagian serbuk telah terisisa. Tablet hasil produksi telah dikemas di dalam wadah yang sesuai dan disimpan didalam kardus yang berisi brosur dengan

maklumat/informasi mengenai tablet asetosal. VIII. Kesimpulan 1. Pembuatan tablet dengan metode kempa langsung dilakukan dengan memproses campuran zat aktif dengan eksipien dengan mengempa tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu. 2. Uji Quality Control (QC) terhadap tablet dilakukan dengan evaluasi berikut ini : a. Kemampuan alir dan sudut istirahat = 15.86o (Sudut istirahat) waktu alir = 4.72g/detik b. Kompresibilitas = 34,03% c. Kadar air (loss on drying) = 1,91% d. Keseragaman bobot dan ukuran

Rata-rata bobot = 0,189 g Rata-rata tebal = 63.5425 mm Rata-rata diameter = 8.042 mm e. Waktu hancur = 19 menit f. Kekerasan Rata-rata tekanan = 35.7 N g. Friabilitas = 0%

DAFTAR PUSTAKA

Andayana N. 2009. Teori Sediaan Tablet. Tersedia di : http://www. Pembuat_tablet.html [ diakses tanggal 1 April 2014] Anonym. 2012. Sodium Starch Glycolate. Tersedia di: http://www.nbent. com/SSG.htm [ diakses tanggal 1 April 2014] Ansel, H.C., et.al. 1999. Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery System. 7th edition. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. 96, 175-178 Chaerunissa, A.Y., dkk. 2009. Farmasetika Dasar. Bandung: Widya Padjadjaran Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Hamdani, S. 2012. Menyetarakan Neraca. Tersedia di http://catatankimia.com/ catatan/menyetarakan-neraca.html [ diakses tanggal 1 April 2014] Koesdijanto, D. 2012. Jangka Sorong (Vernier Caliper). Tersedia di: http://yuliarman.polinpdg.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id =36:menggunakan-jangka-sorong-vernier-caliper-&catid=13:alat-ukur&Itemid=5 [ diakses tanggal 1 April 2014] Lachman L., dkk. 1989. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi Ketiga. Jakarta: UI Press Lachman, L., dkk. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri II. Edisi Ketiga. Jakarta: UI Press. Musfikah, A. 2012. Metode Pembuatan Tablet. Tersedia di http://asiamusfika.com/2012/04/metode-pembuatan-tablet.html [ diakses tanggal 1 April 2014] Parrot, E. L. 1971. Pharmaceutical Technology Fundamental pharmaceutics Third Edition. USA: Burges Publishing Company. Robbins, J. 2011. Pengertian Timbangan Digital. Tersedia di: http://www.ziki.com/fr/johnny-robbins+585035/post/pengertian-timbangandigital+13356181 [ diakses tanggal 1 April 2014]

Sari, N. P. 2010. Skripsi: Pembuatan dan Karakterisasi Bahan Tablet Vitamin C Menggunakan Kitosan dan Amylum Manihot sebagai Matriks Melalui Metode Granulasi Basah. Departemen Kimia Falultas Matematika dan Ilmu Pegetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Medan Soekemi, R. A., dkk. 1987. Tablet. Medan: Mayang Kencana. Sulaiman. 2007. Perbandingan Availabilitas In Vitro Tablet Metronidazol Produk Generik Dan Produk Dagang. Tersedia di: http://jurnalfarmasi uiacid/pdf/2005/v02n02/ilma0202pdf [ diakses tanggal 1 April 2014] Syamsuni, H. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta: EGC Tim Fisika. 2007. Fisika. Jakarta: Grasindo Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Ed. Ke-5. Yogyakarta: UGM Press.