Anda di halaman 1dari 3

Kedaruratan Endodontik

Agus Subiwahjudi

KEDARURATAN ENDODONTIK

Kedaruratan endodontik yaitu diagnosis serta penatalaksanaan secara cepat adanya rasa nyeri atau abses akibat inflamasi pada pulpa atau jaringan periapikal, maupun terjadinya cedera trauma yang mengakibatkan gigi fraktur atau avulsi. Pada umumnya respon penderita pada waktu diagnosis cenderung bingung dan cemas. Riwayat medis dan dental perlu diketahui untuk menghindari komplikasi medis yang mungkin terjadi pada keadaan darurat. Pemeriksaan secara subyektif tentang riwayat penyakit, lokasi, keparahan, durasi, karakter dan stimulus perlu dilakukan secara lengkap. Pemeriksaan obyektif meliputi pemeriksaan secara visual, palpasi, perkusi, tes vitalitas, maupun radiografi. Prosedur perawatan dilakukan secara cepat dan efektif. Flare up Adalah komplikasi terjadinya rasa nyeri maupun pembengkaan setelah perawatan endodontik. Pada umumnya penderita merasa kesal dan menyangka perawatan telah gagal dan gigi harus dicabut. Terjadinya flare up kemungkinan iritasi dari sisa-sisa jaringan akibat irigasi yang kurang sempurna, terjadinya overinstrument & over filling maupun masuknya pasta saluran akar ke periapikal. Jika tidak terjadi pembengkaan, dilakukan debridemen dan ruang pulpa diisi kalsium hidroksida serta ditutup sementara. Pemberian analgesik dapat mengurangi kecemasan penderita. Jika ada pembengkaan perlu dilakukan drainase dan pemberian antibiotik. Perawatan ulang endodontik maupun bedah apeks perlu dipertimbangkan jika rasa nyerinya persisten.

Pulpitis Reversibel Terjadi rasa sakit setelah perawatan restorasi gigi. Pada umumnya penderita dapat menunjukkan gigi yang sakit. Timbulnya rasa sakit kemungkinan disebabkan oleh Iritasi bahan pembersih kavitas, iritasi panas akibat preparasi, traumatik oklusal setelah restorasi penambalan, maupun terjadinya kebocoran restorasi. Perawatan yang dilakukan dengan cara menghilangkan trauma oklusal, maupun restorasi ulang dengan pemberian bahan protektif untuk pulpa dibawah restorasi. Jika rasa sakit tidak hilang kemungkinan terjadi Pulpitis Irreversibel

Page 1

Kedaruratan Endodontik

Agus Subiwahjudi

Pulpitis Irreversibel Rasa sakit secara spontan dan berlangsung lama serta mengganggu tidur. Peka terhadap rangsangan termal. Jika diikuti periodontitis akan peka terhada perkusi. Kemungkinan perawatan Pulpektomi lebih baik daripada tindakan paliatif dengan pemberian sedatif dan pemberian resep analgesik saja. Prosedur pulpektomi diawali dengan injeksi anestesi sudah memberikan rasa nyaman pada penderita kemudian dilanjutkan dengan eksterpasi dan preparasi saluran akar.

Nekrosis Pulpa Jika timbulnya rasa sakit tanpa diikuti pembengkakan, kemungkinan terjadi inflamasi pada jaringan periapikal. Perawatan Endointrakanal dengan diawali injeksi anestesi akan mengurangi rasa sakit selama preparasi saluran akar. Jika terjadi pembengkaan setempat, perlu diakukan debridemen dan drainase untuk meredakan tekanan dan rasa nyeri serta pembuangan iritan yang poten. Drainase dapat dilakukan melalui saluran akar dengan menembus foramen apikal maupun dengan insisi jaringan lunak. Jika pembengkaannya progresif dan menyebar cepat ke rongga-rongga jaringan, yang penting ialah drainase pembuangan iritan dengan insisi dan pemberian drain. Pada kasus abses subkutan, insisi ekstra oral perlu dilakukan. Resep Antibiotik golongan penisilin perlu diberikan mengingat mikroorganisme penyebab adalah streptokokus, kecuali pada penderita alergi, digunakan eritromisin dan klindamisin.

Fraktur Mahkota Adanya injuri traumatik dapat menyebabkan rasa nyeri dan fraktur pada mahkota hingga akar gigi. Gigi yang retak dapat menimbulkan rasa nyeri terutama pada waktu mengunyah. Jika pulpa tidak terbuka dan tanpa rasa nyeri, maka dilakukan restorasi komposit dengan diberi liner (sedatif). Jika pulpa mengalami inflamasi dan ada keluhan spontan sebaiknya dilakukan pulpektomi.

Page 2

Kedaruratan Endodontik

Agus Subiwahjudi

Fraktur Akar Prognosis akar gigi yang mengalami fraktur tergantung dari lokasi dan arah fraktur. Jika akar mengalami fraktur horizontal di daerah krista alveolar maupun pada ujung akar, prognosisnya baik, karena akar yang teringgal masih banyak untuk restorasi pasak meskipun segmen fraktur harus diambil. Jika pulpa masih vital, sebaiknya pulpektomi ditunda untuk perbaikan akar gigi. Jika akar mengalami fraktur vertikal maka prognosisnya kurang baik, dan sebaiknya dicabut. Tindakan darurat Hemiseksi dapat dilakukan pada salah satu akar gigi dengan fraktur vertikal.

Avulsi Jika gigi terlepas dari soketnya maka prognosis untuk replantasi tergantung dari lamanya avulsi. Makin lama gigi diluar mulut, maka ligamen periodontal akan mengalami kematian dan prognosisnya makin jelek. Sebaiknya gigi yang avulsi diinstruksikan segera dibersihkan/dicuci dengan air yang mengalir tanpa disikat, dan dikembalikan pada soketnya seperti semula dan segera ke dokter gigi. Jika tidak memungkinkan gigi dicuci dengan air yang mengalir dan diletakkan pada vestibulum penderita karena gigi dapat terendam di dalam saliva dan pada temperatur tubuh. Prognosis optimal gigi gigi avulsi selama 30 menit.Fiksasi/splinting perlu dilakukan jika gigi telah dikembalikan pada soketnya sedangkan perawatan endodontik ditunda untuk tahap berikutnya.

Referred Pain Rasa nyeri daerah orofasial pada umumnya akibat inflamasi dari pulpa atau struktur penyangga gigi. Namun diagnosis dan identifikasi sumber nyeri tidaklah mudah. Nyeri dari gigi dapat beralih atau tersebar ke struktur lain, dan sebaliknya nyeri dari non dental dapat menjalar ke gigi. Nyeri non dental mungkin berasal dari otot pengunyah, mukosa hidung atau adanya sinusitis. Bila diagnosis sukar ditegakkan, yang perlu dilakukan yaitu meredakan gejalanya.

- oooOooo -

Page 3