Anda di halaman 1dari 41

TUGAS ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN DENGAN HIV

TUGAS ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN DENGAN HIV Oleh : Putu Ayu Siska A. (010912027)

Oleh :

Putu Ayu Siska A. (010912027) Azimatul Ilmiyah (010912046) Riana Trinovita S. (011112077)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIDAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

2012

1

1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Pemeriksaan kesehatan sebelum menikah atau hamil khususnya pada wanita akan mengurangi angka kesakitan dan kematian ibu dan anak. Proses kehamilan/ konsepsi adalah proses dimana bertemunya sel telur dengan sel sperma hingga terjadi pembuahan. Proses kehamilan (gestasi) berlangsung selama 40 minggu atau 280 hari dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir. Kehamilan adalah masa di mana seorang wanita membawa embrio atau fetus di dalam tubuhnya, masa ini merupakan masa yang paling penting dalam kehidupan seorang wanita. Masa ini juga merupakan tahap penyesuaian sebelum memasuki masa menjadi seorang ibu. Sehingga penting sekali dilakukannya konseling, terutama pada ibu hamil yang dideteksi dengan gangguan metabolik ataupun dengan kondisi tertular penyakit menular seksual diantaranya HIV/AIDS. Di Indonesia, hingga akhir tahun 2010 dilaporkan sekitar 24.000 kasus AIDS dan 62.000 kasus HIV. Sekitar 62,7% berjenis kelamin laki-laki dan 37,7% berjenis kelamin perempuan. Pada kehamilan dengan ibu yang mengidap HIV, hal yang perlu diperhatikan adalah resiko penularan terhadap janin. Pada penderita HIV, selama perjalanan penyakitnya akan mengalami penurunan kondisi tubuh jika tidak mendapatkan penanganan dan pemantauan yang adekuat dari petugas kesehatan. Selain adanya pengaruh fisik terhadap ibu dan bayi, hal hal lain yang tidak kalah pentingnya dan harus dipertimbangkan oleh tenaga kesehatan ketika memberikan asuhan adalah kondisi psikologis ibu yang kemungkinan akan mengalami kehilangan, cemas, depresi, dilema serta khawatir akan kesehatan bayinya. Oleh karena itu, konseling sangat bermanfaat untuk memberikan informasi dan nasehat kepada pasangan usia subur terutama memperhatikan faktor – faktor yang berpotensi mempengaruhi hasil akhir kehamilan, wanita yang bersangkutan diberi nasihat tentang resiko yang ada pada dirinya dan diberikan suatu strategi untuk mengurangi / mengeliminasi pengaruh infeksi

2

HIV pada dirinya dan yang terpenting adalah mencegah penularan terhadap bayinya.

  • 1.2. Tujuan Umum Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan HIV sesuai dengan pola pikir manajemen kebidanan.

  • 1.3. Tujuan Khusus

    • 1. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada ibu hamil dengan HIV

    • 2. Mahasiswa mampu melakukan menentukan diagnosa aktual ibu hamil dengan HIV

    • 3. Mahasiswa mampu mengidentifikasi diagnose atau masalah potensial pada ibu hamil dengan HIV

    • 4. 4.Mahasiswa mampu mengidentifikasi tindak kebutuhan segera pada ibu hamil dengan HIV

    • 5. Mahasiswa mampu merencanakan asuhan kebidanan yang menyeluruh pada ibu hamil dengan HIV

    • 6. Mahasiswa mampu melaksanakan perencanaan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan HIV

    • 7. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi terhadap asuhan kebidanan yang telah diberikan pada ibu hamil dengan HIV dan mampu melakukan pendokumentasian

3

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 HIV/AIDS 2.1.1 Pengertian HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus. Virus ini merupakan jasad renik yang dapat menyebabkan terjadinya AIDS. AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) adalah suatu penyakit yang ditandai dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh. HIV melumpuhkan sistem kekebalan tubuh, terutama sel-sel darah putih yang membantu dalam menghalau penyakit. Akibatnya tubuh akan mudah diserang oleh penyakit-penyakit yang dalam keadaan normal tidak dapat bertahan di dalam tubuh (Hutapea, R., 2003). Saat ini ada 2 jenis HIV: HIV-1 dan HIV-2 HIV-1 mendominasi seluruh dunia dan bermutasi dengan sangat mudah. Keturunan yang berbeda-beda dari HIV-1 juga ada, mereka dikategorikan dalam kelompok dan sub jenis (clades). Terdapat 2 kelompok yaitu kelompok M dan O. Dalam kelompok M terdapat sekurang-kurangnya 10 sub jenis yang dibedakan secara turun temurun. Ini adalah sub jenis A-J. Sub jenis B kebanyakan ditemukan di Amerika, Jepang, Australia. Sub jenis C ditemukan di Afrika Selatan dan India. HIV-2 semula merata di Afrika Barat. Terdapat banyak kemiripan antara HIV-1 dan HIV-2, contohnya adalah bahwa keduanya menular dengan cara yang sama, keduanya dihubungkan dengan infeksi oportunistik dan AIDS yang serupa. Pada orang yang terinfeksi HIV-2, ketidakmampuan menghasilkan kekebalan tubuh terlihat berkembang lebih lambat. Acquired Immuno Deficiency Syndrom (AIDS) sebagai suatu penyakit yang lebih banyak disebabkan oleh Human Imumunedeficiency Virus type 1 (HIV-1). HIV menyerang sistem imun tubuh dengan menyerbu dan menghancurkan jenis sel darah putih tertentu, yang sering

4

disebut dalam berbagai nama seperti sel T pembantu (helper T Cell), sel T4 atau sel CD4. Sel CD4 ini juga diberi julukan sebagai panglima dari sistem imun. CD4 mengenali patogen yang menyerang dan memberi isyarat pada sel darah putih lainnya untuk segera membentuk antibodi yang dapat mengikat patogen tersebut. Sesudah diikat, patogen itu dilumpuhkan dan diberi ciri untuk selanjutnya dihancurkan. Lalu CD4 kemudia memanggil lagi jenis sel darah putih lainnya- sel T algojo (killer T Cell), untuk memusnahkan sel yang telah ditandai tadi (Hutapea, R., 2003). HIV mampu melawan sel CD4. Dengan menyerang dan mengalahkan sel CD4, maka HIV berhasil melumpuhkan kelompok sel yang justru amat diandalkan untuk menghadapi HIV tersebut beserta dengan kuman-kuman jenis lainnya. Itulah sebabnya mengapa HIV membuat tubuh kita menjadi sangat rentan terhadap infeksi kuman- kuman lainnya dan jenis-jenis kanker yang umumnya dapat dikendalikan. Tanpa adanya sistem imun yang efektif, penyakit-penyakit ikutan ini, yang lazim disebut infeksi oportunistik, merajelela dan berakibat dengan kematian (Hutapea, R., 2003). Jumlah sel normal CD4 dalam sirkulasi darah kita adalah sekitar 800 hingga 1200 per mililiter kubik darah. Selama tahun-tahun pertama infeksi HIV jumlah ini masih dapat dipertahankan. Orang yang tertular HIV pada mulanya tidak merasakan dan tidak kelihatan sakit selama sel CD4-nya masih dalam jumlah lumayan. Barulah sesudah kira-kira 5 tahun jumlah sel CD4 ini mulai menurun hingga kira-kira separonya .. Pada tahap ini banyak penderita yang belum menujukkan gejala-gejala penyakit. Sesudah jumlah sel CD4 ini kurang dari 200 per mililiter kubik per darah, mulailah penderita memperlihatkan berbagai gejala penyakit yang nyata (Hutapea, R., 2003). Berdasar hal tersebut maka penderita AIDS di masyarakat digolongkan dalam 2 kategori yaitu :

Penderita yang mengidap HIV dan telah menunjukkan gejala klinis (penderita AIDS positif)

5

Penderita yang mengidap HIV tetapi belum menunjukkan gejala klinis (penderita AIDS negative)

2.1.2 Etiologi Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali diisolasi oleh Montagnier dan kawan-kawan di Prancis pada tahun 1983 dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo di Amerika Serikat pada tahun 1984 mengisolasi (HIV) III. Kemudian atas kesepakatan internasional pada tahun 1986 nama virus dirubah menjadi HIV (Fraser, 2009). Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD-4. Didalam sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut (Fraser,

2009).

Secara morfologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan bagian selubung (envelop). Bagian inti berbentuk silindris tersusun atas dua untaian RNA (Ribonucleic Acid). Enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis protein. Bagian selubung terdiri atas lipid dan glikoprotein. HIV termasuk virus sensitif terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan mudah dimatikan dengan berbagai disinfektan seperti eter, aseton, alkohol, jodium hipoklorit dan sebagainya, tetapi telatif resisten terhadap radiasi dan sinar ultraviolet (Fraser, 2009). Virus HIV hidup dalam darah, saliva, semen, air mata dan mudah mati diluar tubuh. HIV dapat juga ditemukan dalam sel monosit,

6

makrofag dan sel glia jaringan otak. Transmisi melalui kontak seksual merupakan salah satu cara utama di berbagai belahan dunia. Karena virus ini dapat ditemukan di dalam cairan semen, cairan vagina, cairan serviks. Virus akan terkonsentrasi, jika terjadi peningkatan jumlah limfosit dalam cairan, seperti pada keadaan peradangan genitalia misalnya uretritis, epididimitis dan kelainan lain yang berkaitan dengan penyakit menular seksual. Transmisi infeksi melalui hubungan seksual lewat anus lebih mudah karena hanya terdapat membran mukosa rektum yang tipis dan mudah robek, anus sering terjadi lesi (Prasko, 2011). Transmisi melalui darah atau produk darah, terutama pada individu pengguna narkotika intravena dengan pemakaian jarum suntik secara bersama dalam satu kelompok tanpa mengindahkan asas sterilisasi. Dapat juga pada individu yang menerima transfusi darah atau produk darah yang mengabaikan tes penapisan HIV. Diperkirakan bahwa 90-100% orang yang mendapat transfusi darah yang tercemar HIV akan mengalami infeksi. Transfusi darah lengkap, sel darah merah, trombosit, leukosit dan plasma semuanya berpotensi menularkan HIV (Prasko, 2011). Transmisi secara vertikal dapat terjadi dari ibu yang terinfeksi HIV kepada janinnya sewaktu hamil, sewaktu persalinan dan setelah melahirkan melalui pemberian Air Susu Ibu (ASI). Angka penularan selama kehamilan sekitar 5-10%, saat persalinan 10-20% dan saat menyusui 10-20%. Namun, diperkirakan penularan ibu kepada janin atau bayi terutama terjadi pada masa perinatal. Hal ini didasarkan saat identifikasi saat kultur atau Polymerase Chain Reaction (PCR) pada bayi setelah lahir (negatif saat lahir dan positif beberapa bulan kemudian). Virus dapat ditemukan dalam ASI sehingga ASI merupakan perantara penularan HIV dari ibu kepada bayi pascanatal. Bila mungkin pemberian ASI oleh ibu yang terinfeksi sebaiknya dihindari. Potensi transmisi dari cairan tubuh lain, seperti virus HIV yang pernah ditemukan dalam air liur pada sebagian kecil orang yang terinfeksi, namun tidak ada bukti yang menyatakan HIV dapat menular

7

melalui ciuman. Selain itu, air liur juga dibuktikan mengandung inhibitor terhadap aktivitas HIV. Demikian juga belum ada bukti bahwa cairan tubuh lain misalnya air mata, keringat, urine dapat merupakan media transmisi HIV. Namun, cairan tersebut tetap diperlakukan sesuai tindakan pencegahan melalui kewaspadaan universal. Transmisi pada petugas kesehatan dan laboratorium memiliki risiko tetap, terutama bila menggunakan benda tajam, seperti jarum suntik. Berbagai penelitian membuktikan bahwa risiko penularan HIV setelah kulit tertusuk jarum atau benda tajam yang tercemar oleh darah seorang yang terinfeksi HIV adalah sekitar 0,3% sedangkan risiko penularan HIV akibat paparan bahan yang tercemar HIV ke membran mukosa atau kulit yang mengalami erosi adalah 0,09%.

2.1.3 Patofisiologi HIV masuk ke dalam tubuh manusia melalui berbagai cara yaitu secara vertikal, horizontal dan transeksual. Begitu mencapai atau berada dalam sirkulasi sistemik, 4-11 hari sejak paparan pertama HIV dapat dideteksi dalam darah. Dalam sirkulasi sitemik terjadi viremia dengan disertai gejala dan tanda infeksi virus akut seperti panas mendadak, nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri otot, mual, muntah, sulit tidur, batuk pilek dan lain-lain. Keadaan ini disebut dengan sindrom retroviral akut (Nasronudin, 2007). Virus HIV terutama menyerang limfosit T. Secara perlahan tapi pasti limfosit T penderita akan tertekan dan semakin menurun dari waktu ke waktu. Individu yang terinfeksi HIV mengalami penurunan jumlah limfosit T-CD4 melalui beberapa mekanisme sebagai berikut (Nasronudin, 2007):

1. Kematian sel secara langsung karena hilangnya integritas membran plasma akibat adanya penonjolan dan perobekan oleh virion, akumulasi DNA virus yang tidak berintegrasi dengan nukleus dan terjadinya gangguan sintesis makromolekul.

8

2.

Syncytia formation yaitu terjadinya fusi antar membran sel yang terinfeksi HIV dengan limfosit T-CD4 yang tidak terinfeksi.

  • 3. Respon imun humoral dan seluler terhadap HIV ikut berperan melenyapkan virus dan sel yang terinfeksi virus. Namun respon ini dapat menyebabkan disfungsi imun akibat eliminasi sel yang terinfeksi dan sel normal di sekitarnya (innocent-bystander)

  • 4. Mekanisme autoimun dengan pembentukan autoantibodi yang berperan untuk mengeliminasi sel yang terinfeksi.

  • 5. Kematian sel yang terprogram (apoptosis).

  • 6. Kematian sel target terjadi akibat hiperaktivitas Hsp70, sehingga fungsi sitoprotektif, pengaturan irama dan waktu folding protein terganggu, terjadi missfolding dan denaturasi protein, jejas dan kematian sel. Perjalanan infeksi HIV, jumlah limfosit T-CD4, jumlah virus dan

gejala klinis melalui 3 fase, yaitu (Nasronudin, 2007):

  • 1. Fase Infeksi Akut

Setelah HIV menginfeksi sel target, terjadi proses replikasi yang menghasilkan virus-virus baru (virion) yang jumlahnya berjuta-juta. Viremia dari banyak virion menimbulkan sindrom infeksi akut dengan gejala yang mirip sindrom semacam flu yang juga mirip dengan infeksi mononukleosa. Sekitar 50-70% orang yang terinfeksi HIV mengalami sindrom infeksi akut selama 3-6 minggu, dengan gejala umum yaitu demam, faringitis, limfadenopati, artralgia, mialgia, letargi, malaise, nyeri kepala, mual, muntah, diare, anoreksia, penurunan berat badan. Dapat juga menimbulkan kelainan saraf, seperti meningitis, ensefaliits, neuropati perifer dan mielopati. Gejala pada dermatologi yaitu ruam makropapulereritematosa dan ulkus makokutan. Pada fase ini terjadi penurunan limfosit T yang dramatis dan kemudian terjadi kenaikan karena adanya respon imun. Jumlah limfosit T pada fase ini di atas 500 sel/mm 3 dan akan mengalami penurunan setelah 6 minggu terinfeksi HIV.

9

2.

Fase Infeksi Laten

Pembentukan respon imun spesifik HIV dan terperangkapnya virus dalam sel dendritik folikuler (SDF) di pusat germinativum kelenjar

limfe menyebabkan virion dan dikendalikan dan gejala hbilang dan mulai memasuki fase laten. Pada fase ini jumlah virion dalam plasma menurun karena sebagian besar virus terakumulasi di kelenjar limfe dan terjadi replikasi di kelenjar limfe. Jumlah limfosit T-CD4 menurun hingga sekitar 500-200 sel/mm 3 , meskipun telah terjadi setelah serokonversi positif individu umumnyabelum menunjukkan gejala klinis (asimptomatis). Pada beberapa pasien trdapat sarkoma kaposi’s, herpes simpleks, sinusitis bakterial, herpes Zooster dan peneumonia yang berlangsung tidak terlalu lama. Fase ini berlangsung sekitar 8-10 tahun (dapat 3-13 tahun) setelah terinfeksi HIV. Pada tahun kedelapan setelah terinfeksi HIV akan muncul gejala klinis yaitu demam, banyak berkeringat pada malam hari, kehilangan berat badan kurang dari 10%, diare, lesi pada mukosa dan kulit berulang, penyakit infeksi kulit berulang. Gejala ini merupakan tanda awal munculnya infeksi oportunistik.

  • 3. Fase Infeksi Kronis

Dalam kelenjar limfe terus terjadi replikasi virus yang diikuti kerusakan dan kematian SDF karena banyaknya virus. Fungsi kelenjar limfe sebagai penangkap virus menurun atau bahkan hilang dan virus dicurahkan ke dalam darah. Pada vase ini terjadi peningkatan jumlah virion secara berlebihan di dalam sirkulasi sistemik. Limfosit semakin tertekan karena intervensi HIV yang semakin banyak. Terjadi penurunan jumlah limfosit T-CD4 hingga di bawah 200 sel/mm 3 . Penurunan ini mengakibatkan sistem imun menurun dan pasien semakin rentan terhadap berbagai macam penyakit infeksi sekunder. Perjalanan penyakit semakin mendorong ke arah AIDS. Infeksi sekunder yang sering menyertai adalah pneumonia yang disebabkan oleh pneumonia carinii, tuberkulosis, sepsis, toksoplamosis ensefalitis, diare akibat kriptosporidiasis, infeksi virus sitomegalo, infeksi virus herpes,

10

kandisiasis esofagus, kandisiasis trakhea, kandisiasis bronkhus atau paru serta infeksi jamur jenis lain seperti histoplamosis, koksidiodomikosis. Kadang juga ditemukan beberapa jenis kanker, yaitu kanker kelenjar getah bening dan kanker sarkoma kaposi’s. Selain 3 fase tersebut juga terdapat periode masa jendela yaitu periode dimana pemeriksaan tes antibodi HIV masih menunjukkan hasil negatif walaupun virus sudah masuk dalam darah dengan jumlah yang banyak. Antibodi yang terbentuk belum cukup terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium kadarnya belum memadai. Antibodi terhadap HIV biasanya muncul dalam 3-6 minggu hingga 12 minggu setelah infeksi primer. Periode ini sangat penting diperhatikan karena pada periode ini pasien sudah mampu dan potensial menularkan HIV kepada orang lain. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada periode ini sebaiknya yang mampu mendeteksi antigen p18, p24, p31, p36, gp120,

gp41

  • 2.1.4 Manifestasi klinik Manifestasi klinik infeksi virus HIV merupakan gejala dan tanda pada tubuh akibat intervensi HIV. Manifestasi gejala dan tanda dari HIV

dapat dibagi menjadi 4 tahap. Derajat berat infeksi HIV dapat ditentukan sesuai ketentuan WHO melalui stadium klinis pada orang dewasa serta klasifikasi klinis dan CD4 dari Center for Disease Control Prevention (CDC) (Fazidah, 2004).

  • 1. Stadium Klinis 1

    • - Asimtomatis

    • - Limpadenopati persistent generalisata

Penampilan/aktivitas fisik skala 1: asimtomatis, aktivitas normal.

  • 2. Stadium Klinis 2

    • - Penurunan berat badan, 10% dari berat badan sebelumnya.

    • - Manifestasi mukokutaneus minor (dermatitis seborhhoic, prurigo, infeksi jamur pada kuku, ulserasi mukosa oral berulang, cheilitis angularis)

11

  • - Herpes Zoster, dalam 5 tahun terakhir.

  • - Infeksi berulang pada saluran pernapasan atas (misalnya sinusitis bakterial)

Dengan atau penampilan ativitas fisik skala 2 : simtomatis, aktivitas normal.

  • 3. Stadium Klinis 3

    • - Penurunan berat badan >10%

    • - Diare kronis dengan penyebab tidak jelas >1 bln

    • - Demam dengan sebab yang tidak jelas (intermittent atau tetap), >1 bulan

    • - Kandidiasis oris

    • - Oral hairy leukoplakia

    • - TB pulmoner, dalam 1 tahun terakhir.

    • - Infeksi bakterial berat (misal : pneumonia, piomiositis) Dengan atau penampilan/aktivitas fisik skala 3: lemah, berada di

tempat tidur, <50% perhari dalam bulan terakhir.

  • 4. Stadium Klinis 4

    • - HIV wasting syndrome, sesuai yang ditetapkan CDC

    • - PCP (pneumocytis carinii pneumonia)

    • - Ensefalitis toksoplasmosis

    • - Cryptococcosis ekstrapulmoner

    • - Infeksi virus sitomegalo

    • - Infeksi herper simpleks >1 bulan

    • - Berbagai infeksi jamur berat.

    • - Kandidiasis esofagus, trachea atau bronkhus

    • - Mikobakteriosis atypical

    • - Salmonelosis non tifoid disertai setikemia

    • - TB, ekstrapulmoner

    • - Limfoma maligna

    • - Sarkoma kaposi’s

    • - Ensefalopati HIV

12

Dengan atau penampilan/aktivitas fisik skala 4: sangat lemah, selalu berada di tempat tidur >50% per hari dalam bulan terakhir.

  • 2.1.5 Pemeriksaan Penunjang

Saat ini ada 2 standar untuk melakukan uji HIV yaitu dengan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dan Western Blot. Apabila setelah melakukan uji ELISA hasilnya positif maka penderita harus melakukan uji ELISA lagi, sebelum melakukan Western Blot untuk mengonfirmasi status HIV positif. ELISA awal dapat bereaksi silang untuk memberi hasil positif palsu jika digunakan tanpa uji konfirmasi. Western Blot akan dibaca positif bila ada antibody dua atau lebih “pita” protein ditemukan dalam HIV. Adanya pita tunggal tidak dapat meyakinkan dan mungkin hasil dari pajanan HIV atau sebuah temuan kronis. Diantara penyebab hasil menetap yang tidak dapat disimpulkan ini adalah autoimun atau penyakit vascular kolagen, aloantibodi dari kehamilan atau transfuse, dan infeksi HIV subtype jarang atau HIV 2. Hasil positif palsu pada ELISA dan Western Blot kurang dari 0,001 persen dalam area prevalensi yang rendah. Selain 2 uji standar tersebut, ada banyak uji lain yang digunakan untuk mengevaluasi kesehatan dan perkembangan penyakit. Beberapa diantaranya penting bagi bidan untuk mengenalinya dalam rangka meningkatkan status kesehatan wanita. Pengujian ini termasuk pengukuran CD4 limfosit, muatan virus plasma, perubahan dalam hitung sel darah lengkap dan panel kimia.

  • 2.1.6 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan

HIV/AIDS

meliputi

penatalaksanaan

fisik,

psikologis, dan social. Penatalaksanaan medic terdiri atas :

Pengobatan suportif

  • - Nutrisi dan vitamin yang cukup

  • - Bekerja

  • - Pandangan hidup positif

13

  • - Hobi

  • - Dukungan psikologis

  • - Dukungan social

Pencegahan serta pengobatan infeksi oportunistik

Pengobatan antiretroviral

Obat antiretroviral ini bekerja melawan infeksi HIV itu sendiri dengan cara memperlambat reproduksi HIV itu sendiri. Terdapat 3 macam obat jenis ARV yaitu :

  • - Penghambat Nucleoside Reverse Transcriptase (NRTI) HIV memerlukan enzim yang disebut reverse transcriptase untuk melakukan replikasi diri. Jenis obat-obatan ini memperlambat kerja enzim reverse transcriptase dengan cara mencegah proses pengembangbiakkan materi genetic virus tersebut. Yang termasuk obat golongan NRTI adalah:

o

Zidovudin 300 mg PO 2 x sehari

o

Lamivudin 150 mg PO 2 x sehari

o

Didanosin

<60 kg 250 mg PO setiap hari atau 125 mg PO 2 x sehari >60 kg 400 mg PO setiap hari atau 200 mg PO 2 x sehari

  • - Penghambat Non-Nucleoside Reverse Transcriptase (NNRTI) Jenis obat ini juga mengacaukan replikasi HIV dengan mengikat reverse transcriptase itu sendiri, hal ini mencegah agar enzim ini tidak bekerja dan menghentikan produksi partikel virus baru dalam sel yang terinfeksi. Yang termasuk obat jenis yaitu :

o

Nevirapin 200 mg PO 2 x sehari

o

Delavirdin 400 mg PO 2 x sehari

  • - Penghambat protease (PI) Protease merupakan enzim pencernaan yang diperlukan dalam replikasi HIV untuk membentuk partikel virus baru. Protease memecah protein dan enzim dalam sel yang terinfeksi yang kemudian dapat menginfeksi sel lain. Penghambat protease

14

mencegah terjadinya pemecahan protein sehingga memperlambat produksi partikel virus baru. Obat-obatan yang termasuk golongan PI yaitu :

o

Saquinavir 400 mg PO 2 x sehari dengan RTV

o

Ritonavir (RTV) 600 mg PO 2 x sehari

o

Indinavir 800 mg PO setiap 8 jam

Saat untuk memulai pengobatan :

  • - Asimtomatik, CD4 > 500 tapi RNA HIV (viral load) tinggi > 30.000 kopi/ml

  • - Asimtomatik, CD4 > 350 ( boleh ditunda bila CD4>350 dan viral load rendah < 10.000 kopi/ml )

  • - Infeksi HIV dengan gejala Sekarang yang dianut adalah pengobatan kombinasi dengan 3 obat terdiri dari 2 inhibitor reverse transcriptase dan 1 inhibitor protease. Monoterapi hanya dipertimbangkan bila pengobatan kombinasi tidak dapat dilakukan atau pasien telah menggunakan monoterapi dalam waktu yang lama dan hasil klinis maupun pemantauan laboratorium tetap baik ( CD4 baik ).

  • 2.1.7 Pengaruh HIV/AIDS terhadap kehamilan, persalinan dan nifas Infeksi HIV-1 telah menjadi penyulit kehamilan yang penting dan banyak terjadi. Infeksi HIV selama kehamilan berhubungan dengan prognosis kehamilan yang buruk. Tinjauan sistematis terhadap literature menimbulkan konflik, tetapi tampaknya terdapat peningkatan resiko lahir mati, prematuritas, dan IUGR. Efek yang paling serius dari HIV-1 ini selama kehamilan adalah penularan secara vertical. Hal ini dapat terjadi selama kehamilan, periode intrapartum, atau pascapartum. DNA HIV-1 terdapat pada ASI sehingga penularan pascanatal dapat terjadi selama menyusui. Anak yang mendapat ASI beresiko lebih besar mengalami penularan dari ibu ke anak dibandingkan dengan anak yang tidak pernah mendapat ASI. Oleh karena itu ibu yang terinfeksi HIV-1

15

dianjurkan untuk tidak menyusui jika terdapat alternative lain yang aman dan terjangkau. Masih belum diketahui secara persis bagaimana penularan HIV dari ibu ke bayi namun angka penularan paling tinggi terjadi saat persalinan. Hal ini ditunjukkan dalam bagan berikut :

100 bayi terlahir pada ibu HIV + yang menyusui tanpa

dianjurkan untuk tidak menyusui jika terdapat alternative lain yang aman dan terjangkau. Masih belum diketahui secara
dianjurkan untuk tidak menyusui jika terdapat alternative lain yang aman dan terjangkau. Masih belum diketahui secara
 

5-10 bayi

 

±15 bayi

 

5-15 bayi

 

terinfeksi

terinfeksi saat

terinfeksi

dalam

lahir

melalui ASI

kandungan

 
5-10 bayi ±15 bayi 5-15 bayi terinfeksi terinfeksi saat terinfeksi dalam lahir melalui ASI kandungan 25-40
 

25-40 bayi terinfeksi HIV

 

Ada beberapa factor risiko yang meningkatkan kemungkinan penularan terjadi. Yang paling mempengaruhi adalah tingkat viral load ( jumlah virus yang ada dalam darah ) ibunya. Oleh karena itu, salah satu tujuan utama terapi adalah mencapai viral load yang tidak dapat terdeteksi. Viral load terutama penting saat melahirkan. Jangka waktu antara ketuban pecah dan bayi lahir merupakan salah satu faktor risiko penularan. Factor risiko lain termasuk prematuritas dan kurangnya perawatan HIV sebelum melahirkan. Ada beberapa pokok kunci yang harus diperhatikan :

Status HIV bayi dipengaruhi oleh ibunya Status HIV bayi tidak dipengaruhi sama sekali oleh status HIV ayahnya Status HIV bayi tidak dipengaruhi oleh status HIV anak lain dari ibu HIV

16

2.1.6 Efek infeksi HIV pada kehamilan

Tidak ada bukti tetap bahwa AIDS ibu dapat mengakibatkan embriopati janin. Selain itu tidak semua bayi yang dilahirkan ibu HIV memiliki penyakit ini juga. Perkiraan mengenai penularan vertical dari ibu ke janinnya berkisar 25-35 persen.

Telah menjadi dalil bahwa wanita dengan penyakit yang lebih berat, yang ditunjukkan dengan hitung T4 yang kurang dari 300/µl, lebih mungkin menularkan infeksinya pada janin. Wanita dengan T4 hitung kurang dari 300/µl dipercaya beresiko tinggi untuk menderita komplikasi infeksi pada kehamilannya. Infeksi ini mencakup infeksi oportunistik, infeksi masa nifas, ISK antepartum dan penyakit yang ditularkan lewat kontak seksual.

2.1.7 Perawatan pasien HIV yang hamil

Dasar evaluasi dari pasien hamil yang positif HIV harus mencakup riwayat yang rinci mengenai factor resiko penularan dan riwayat medis yang cermat termasuk pertanyaan tentang perubahan berat badan, nyeri kepala, diare, mual, muntah, anoreksia, demam, keringat malam, batuk, nafas pendek dan sakit tenggorokan. Pasien juga harus ditanya pajanan terhadap tuberculosis, varicela, atau herpes simplex karena semua factor ini dapat memaparkan pasien yang fungsi imunnya terganggu pada infeksi oportunistik. Pada pemeriksaan fisik, perhatian khusus harus diberikan pada rongga mulut (sariawan, leukoplakia), fundus mata (retinitis), paru, kelenjar getah bening, hati, vagina (candida) dan daerah peri rectal (herpes). Selain itu pemeriksaan neurologi lengkap sangat diperlukan

2.1.8 Peran bidan dalam menangani asuhan pada klien prakonsepsi dengan infeksi HIV

Pasien dengan HIV positif memiliki kebutuhan-kebutuhan khusus yang perlu dipertimbangkan. Adapun terapi yang dapat dilakukan oleh bidan antara lain:

17

  • 1. Membantu klien mempertahankan kontrol akan hidupnya dan membantu mereka menemukan mekanisme pertahanan yang sehat, termasuk sikap yang selalu positif dalam menghadapi begitu banyak tantangan dan stress dalam perjalanan penyakitnya.

  • 2. Membantu pasien menghadapi perasaan bersalah, penyangkalan, panik dan putus asa.

  • 3. Bekerja bersama pasien menciptakan perasaan self-respect (menghormati diri sendiri) dan menyelesaikan konflik mereka jika ada (misalnya homoseksualitas, penggunaan obat-obat terlarang, dan sebagainya)

  • 4. Membantu mereka berkomunikasi dengan keluarga, pasangan hidup dan teman-teman mengenai penyakit mereka dan rasa takut akan penolakan serta ditinggalkan. Juga membantu membina hubungan interpersonal yang memuaskan

  • 5. Membantu mereka membangun strategi untuk berhadapan dengan krisis nyata yang mungkin terjadi, baik dalam kesehatan maupun sosioekonomi dan hal-hal dalam kehidupan lainnya

  • 6. Membantu menemukan kasus-kasus HIV/AIDS dan melakukan konseling pra pemeriksaan, serta rujukan

  • 7. Membantu klien dengan HIV positif dalam masa kehamilam agar tercapai kesehatan yang optimal untuk mempersiapkan kelahiran bayinya.

18

2.2

Konsep Dasar Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil dengan HIV

Pengkajian

Tanggal :

Jam :

Tempat :

Oleh :

1. PENGKAJIAN DATA SUBYEKTIF

1 Biodata/Identitas

  • 1. Nama Alasan : untuk menghindari kesalahan dalam memberikan asuhan

  • 2. Umur Alasan : umur 18-35 tahun merupakan usia reproduksi yang mana jumlah penderita HIV banyak dijumpai pada usia reproduksi.

  • 3. Suku/Bangsa Alasan : untuk mengetahui rhesus, budaya dan kebiasaan.

  • 4. Agama Alasan : untuk memberikan asuhan yang berkaitan dengan kebiasaan yang dilakukan klien sesuai dengan agama.

  • 5. Pendidikan Alasan : untuk mengetahui tingkat pengetahuan sehingga mempermudah dalam pemberian informasi pada saat pemberian asuhan.

  • 6. Pekerjaan dan penghasilan Alasan : untuk mengetahui tingkat perekonomian dan pekerjaan yang merupakan faktor risiko terinfeksi HIV.

  • 7. Alamat dan no.telp Alasan : untuk mempermudah untuk menghubungi pasien.

  • 8. No.Register Alasan : pendokumentasian

2. Keluhan Utama Untuk mengetahui apa yang dirasakan ibu saat ini dan memungkinkan untuk mengetahui stadium HIV yang di derita ibu.

19

a.

Stadium Klinis 1

  • - Asimtomatis

  • - Limpadenopati persistent generalisata Penampilan/aktivitas fisik skala 1: asimtomatis, aktivitas normal.

  • b. Stadium Klinis 2

    • - Penurunan berat badan, 10% dari berat badan sebelumnya.

    • - Manifestasi mukokutaneus minor (dermatitis seborhhoic, prurigo, infeksi jamur pada kuku, ulserasi mukosa oral berulang, cheilitis angularis)

    • - Herpes Zoster, dalam 5 tahun terakhir.

    • - Infeksi berulang pada saluran pernapasan atas (misalnya sinusitis bakterial) Dengan atau penampilan ativitas fisik skala 2 : simtomatis, aktivitas normal.

  • c. Stadium Klinis 3

    • - Penurunan berat badan >10%

    • - Diare kronis dengan penyebab tidak jelas >1 bln

    • - Demam dengan sebab yang tidak jelas (intermittent atau tetap), >1 bulan

    • - Kandidiasis oris

    • - Oral hairy leukoplakia

    • - TB pulmoner, dalam 1 tahun terakhir.

    • - Infeksi bakterial berat (misal : pneumonia, piomiositis) Dengan atau penampilan/aktivitas fisik skala 3: lemah, berada di tempat tidur, <50% perhari dalam bulan terakhir.

  • d. Stadium Klinis 4

    • - HIV wasting syndrome, sesuai yang ditetapkan CDC

    • - PCP (pneumocytis carinii pneumonia)

    • - Ensefalitis toksoplasmosis

    • - Cryptococcosis ekstrapulmoner

    • - Infeksi virus sitomegalo

    • - Infeksi herper simpleks >1 bulan

  • 20

    • - Berbagai infeksi jamur berat.

    • - Kandidiasis esofagus, trachea atau bronkhus

    • - Mikobakteriosis atypical

    • - Salmonelosis non tifoid disertai setikemia

    • - TB, ekstrapulmoner

    • - Limfoma maligna

    • - Sarkoma kaposi’s

    • - Ensefalopati HIV Dengan atau penampilan/aktivitas fisik skala 4: sangat lemah, selalu berada di tempat tidur >50% per hari dalam bulan terakhir.

    • 3. Alasan Kunjungan Untuk mengetahui apakah pasien sudah pernah mendapatkan asuhan kebidanan sebelumnya.

    • 4. Riwayat menstruasi Dikaji untuk menentukan tanggal tafsiran persalinan. Hal ini memungkinkan bidan untuk memperkirakan tanggal kelahiran dan setelah itu, memperkirakan usia kehamilan saat itu. (Fraser, 2009)

      • - Menarche Menarche terjadi pada usia pubertas yaitu 12-16 tahun. (Fraser,

    2009)

    • - Siklus haid Panjang siklus haid yang biasa pada wanita ialah 28 hari ditambah atau dikurangi 3 hari. (Sarwono, 2010)

    • - Lama haid Lama haid biasanya berlangsung selama 3-5 hari. (Salmah, 2006)

    • - Teratur/tidak

    • - Sifat darah Darah haid berwarna merah, encer, tidak membeku, terkadang membeku jika banyak. (Obstetri Fisiologi, 1983)

    • - Dismenorhoe

    21

    • - Fluor albus Sedikit/sedang/banyak, tidak gatal, tidak bau, warna (putih, keruh, bening), kekentalan (kental, encer).

    • - HPHT Untuk mengetahui tanggal perkiraan lahir dengan menambahkan 9 bulan dan 7 hari pada tanggal hari pertama haid terakhir yang dialami ibu. (Fraser, 2009)

    5. Riwayat Obstetri (kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu) Untuk mengakaji adanya kemungkinan gangguan obstetrik pada kehamilan yang sekarang.

    6. Riwayat Kehamilan Sekarang

    • - Klien mengatakan bahwa kehamilan ini adalah kehamilan yg ke ... dan UK… mg

    • - Keluhan pada Trimester I Mual, muntah, pusing, sering kencing

    :

    • - Pergerakan anak pertama kali (Quickening) Pada kehamilan normal, pada primigravida gerakan janin mulai dirasakan pada minggu ke 20 sedangkan pada multigravida mulai dirasakan pada minggu ke 18 (Sarwono,2010). Gerakan anak normalnya rata-rata 34 kali perhari, apabila kurang dari 15 kali per hari maka dikatakan gerakan rendah. (Sarwono,2010).

    • - Imunisasi TT Imunisasi yang dianjurkan adalah imunisasi TT, imunisasi ini diberikan untuk mencegah tetanus pada bayi baru lahir dan pada ibu bersalin.

      • - Penyuluhan yang sudah didapat:

    Bila di cek kembali, seharusnya ibu telah mendapatkan:

    • - Persiapan persalinan

    - Enam Tanda bahaya/ kegawat daruratan obstetri dan cara

    mengatasinya

    22

    • - Persiapan komplikasi

    • - Personal hygine, termasuk kebersihan payudara dan vulva hygine

    • - Istirahat

    • - Senam hamil

    • - Aktivitas

    • - Kebutuhan seksual

    • - Gerakan Janin

    • - Obat dalam kehamilan

    • - Pentingnya Imunisasi TT

    • - Pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi

    • - Pemberian tablet Fe

    7. Riwayat kesehatan klien (pernah/sedang sakit) Untuk mengetahui stadium dari HIV yang diderita ibu, karena adanya penurunan sistem imun ibu yang memudahkan untuk terganggu kesehatannya. -

    Jantung Tanda dan gejala adanya penyakit jantung yang berat (Dekompensasi kordis) yaitu bising diastalik, peristaltik, bising jantung terus-menerus, kordiomegali, aritmia berat, bising jantung nyaring terutama bisa disertai thrill. (Sarwono, 2010)

    • - Hipertensi Hypertensi dibagi menjadi dua yaitu hipertensi essensial dan hipertensi ganas. Hipertensi essensial jika tekanan darah 140/90- 160/100. Hipertensi TD systole > 200 mmHg. (Manuaba, 2010)

    • - Asma Gejala asma biasanya penderita mengeluh nafas pendek, berbunyi, sesak dan batuk-batuk. (Sarwono, 2010)

    • - Diabetes Melitus (DM) Merupakan penyakit metabolic dengan penyebab yang beragam, ditandai adanya hiperglikemia kronis serta perubahan metabolism

    23

    karbohidrat, lemak dan protein akibat defek sekresi atau kerja insulin atau keduanya (Sarwono,2010).

    -

    Ginjal Ditandai dengan fatigue, gagal tumbuh, pucat, lidah kering, plyun, hipertensi, proteinun, nokturia. (Rostam Mochtar, 1998)

    -

    Hepatitis Kehamilan sendiri tidak akan memperberat infeksi virus hepatitis, akan tetapi, jika terjadi infeksi akut pada kehamilan bisa mengakibatkan terjadinya hepatitis fulminant yang dapat menimbulkan mortalitas tinggi pada ibu dan bayi (Sarwono, 2010)

    -

    TBC Gejala klinis infeksi tuberculosis adalah batuk dengan sputum minimal, hemoptysis, subfebris, penurunan berat badan, dan pada pemeriksaan foto toraks ditemukan gambaran infiltrate, kavitas dan limfadenopati mediastinum. Pada kehamilan dengan infeksi TBC risiko prematuritas, IUGR, dan berat badan lahir rendah meningkat, serta risiko kematian perinatal meningkat 6 kali lipat (Sarwono,

    2010).

    -

    HIV/AIDS Ditandai dengan penurunan berat badan, manifestasi mukokutaneus minor, herpes zoster, infeksi berulang pada saluran pernafasan atas. Kehamilan sendiri tidak memperberat infeksi virus ini tetapi bisa terjadi penularan vertikal dari ibu ke janin

    (WHO,2004)

    • 8. Riwayat kesehatan keluarga (ayah/ibu) Kemungkinan adanya penyakit genetik atau penyakit menular lainnya yang diderita keluarga yang dapat memperburuk kondisi ibu.

    • 9. Pola kebiasaan sehari-hari

      • - Pola makan: pada pasien HIV pola makan harus dijaga untuk menghindari terjadinya infeksi oportunistik.

    24

    • - Pola eliminasi: pada stadium tertentu pada penderita HIV, penderita mengalami diare >1 bulan.

    • - Pola istirahat

    • - Pola aktivitas: untuk mengetahui stadium HIV yang diderita ibu.

    • - Pola aktivitas seksual selama kehamilan: sebaiknya dikurangi atau pun menggunakan kondom.

    • - Pola kebiasaan: untuk mengetahui kemungkinan yang memperburuk kondisi ibu

    10.Riwayat Sosial Berisi riwayat perkawinan (kawin, umur dan lama), kehamilan yang diinginkan/tidak diinginkan, tradisi yang mempengaruhi kehamilan dan status emosional.

    DATA OBJEKTIF

    1. Pemeriksaan Umum -Pada pasien dengan HIV, dilihat kondisi umum ibu baik. Penimbangan berat badan harus terus dipantau dan juga pantau adanya tanda-tanda infeksi virus seperti panas mendadak, nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri otot, mual, muntah, sulit tidur, batuk, pilek dan lain-lain -Keadaan tanda-tanda vital normal, meliputi :

    TD : Ibu hamil dengan HIV tidak ada perbedaan tekanan darah

    dengan ibu hamil normal. Normal antara 100/60-140/90 mmHg (Chapman, 2006)

    Suhu : Suhu pada ibu hamil dengan HIV mengalami kenaikan daripada suhu tubuh normal. Normal antara 36 0 C – 37 0 C. Nadi : Ibu hamil dengan HIV tidak ada perbedaan jumlah nadi dengan ibu hamil normal. Nadi normal antara 80-110 x/menit (Depkes RI, 1994)

    RR : Pada ibu dengan HIV tidak ada peningkatan jumlah pernapasan. Normal 16-20 x/menit.

    -Lingkar Lengan Atas

    25

    Menurut Depkes RI, 1994 : 10 : LILA yang kurang dari 23,5 cm merupakan indikator kuat untuk status gizi yang kurang.

    2. Pemeriksaan fisik Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kondisi kesehatan ibu

    dan bayinya serta tingkat kenyamanan fisik ibu hamil. Informasi dari hasil pemeriksaan fisik dan anamnesis diolah untuk membuat keputusan klinik, menegakkan diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan atau perawatan yang paling sesuai dengan kondisi ibu. - Inspeksi

    • a. Muka Pucat/Tidak : iya

    Conjunctiva

    : pucat

    Sclera

    : Putih

    Oedem

    : Tidak ada

    Mulut/bibir

    : Kering

    • b. Leher Bendungan vena jugularis Pembesaran kelenjar limfe

    : tidak ada : tidak ada

    Pembesaran kelenjar thyroid : tidak ada (Manuaba, 2010)

    • c. Dada Payudara normal, saat hamil areola hiperpigmentasi, colostrums tidak ada. (Manuaba, 2010)

    • d. Abdomen Gerakan anak : belum ada Pembesaran uterus terkadang tidak sesuai dengan umur kehamilan. Karena adanya infeksi HIV menyebabkan gangguan pertumbuhan pada janin.

    • e. Genetalia -Vulva dan Vagina

    26

    Keluaran : Pada wanita hamil sering mengeluarkan cairan pervaginam lebih banyak. Keadaan ini dalam batas normal (tidak berwarna, tidak berbau, tidak gatal) Varices : tidak ada Oedem : tidak ada Kondiloma lata : tidak ada Kondiloma akuminata: tidak ada Kebersihan : Bersih Inf. Kelenjar Bartholini: tidak ada Inf. Kelenjar Skene : tidak ada -Perineum Ada atau tidaknya bekas luka episiotomy/robekan/sikatrik -Anus Hemoroid : tidak ada Wasir (haemorroid) dalam kehamilan terjadi pelebaran vena haemorroidalis interna dan pleksus hommorroidalis eksternal karena terdapatnya konstipasi dan pembesaran uterus. (Sarwono,

    2010)

    • f. Ekstrimitas Dilihat ada atau tidaknya pembengkakan (oedema) atau varises pada ekstrimitas atas maupun bawah.

    -

    Palpasi

    • a. Payudara Hamil 12 minggu ke atas keluar colostrums yang berasal dari kelenjar sinus yang mulai berekskresi. (Sarwono, 2010)

    • b. Abdomen Leopold I Digunakan untuk menentukan usia kehamilan dan bagian apa yang ada dalam fundus. Pada kehamilan/persalinan normal, bagian yang terdapat dalam fundus adalah bokong dengan ciri lunak, kurang bundar, kurang melenting. (Uliyah dkk, 2008).

    27

    Akhir bulan

    Tinggi fundus uteri

    1

    Belum teraba (palpasi)

    2

    Di belakang simfisis

    3

    1-2 jari di atas simfisis

    4

    Pertengahan simfisis-pusat

    5

    2-3 jari di bawah pusat

    6

    Kira-kira setinggi pusat

    7

    2-3 jari di atas pusat

    8

    Pertengahan pusat – proc. xyphoideus

    9

    3 jari di bawah Px atau sampai setinggi Px

    10

    Sama dengan kehamilan 8 bulan

    namun melebar ke samping.

    Pada ibu hamil dengan TB, TFU tidak sesuai dengan umur kehamilan. Leopold II

    Digunakan untuk menentukan letak punggung anak dan letak bagian kecil pada anak. Pada letak membujur dapat ditetapkan punggung anak yang teraba bagian keras, memanjang seperti papan dan sisi yang berlawanan teraba bagian kecil janin. (Uliyah dkk, 2008) Leopold III

    Digunakan untuk menentukan bagian apa yang terdapat di bagian bawah dan apakah bagian bawah anak sudah atau belum terpegang oleh pintu atas panggul (posisi tangan petugas konvergen, divergen atau sejajar). Pada kehamilan normal, bagian terbawah janin adalah kepala dengan ciri keras, bundar, dan melenting (Uliyah dkk, 2008) Leopold IV Digunakan untuk menentukan apa yang menjadi bagian bawah dan seberapa masuknya bagian bawah tersebut ke dalam

    28

    rongga panggul (tangan petugas dengan posisi konvergen, divergen atau sejajar). (Uliyah dkk, 2008) Menurut WHO, penurunan bagian terendah/terbawah dengan metode lima jari (perlimaan) (Sarwono, 2007)

    Periksa luar Periksa dalam Keterangan Kepala di atas pintu atas panggul, mudah digerakkan Sulit digerakkan :
    Periksa luar
    Periksa dalam
    Keterangan
    Kepala di atas pintu atas
    panggul, mudah
    digerakkan
    Sulit digerakkan : bagian
    H I – H II
    terbesar belum masuk
    panggul
    Bagian
    terbesar
    kepala
    H II – H III
    sudah masuk panggul
    H III +
    Bagian terbesar kepala
    sudah masuk panggul
    Kepala
    berada di dasar
    H III – H IV
    panggul
    H IV
    Kepala sudah berada di
    perineum

    c.

    Ekstrimitas

    Atas

    : Normal simetris, tidak ada oedema, tidak ada varices

    Bawah : Normal simetris, tidak ada oedema, tidak ada varices

    • - Auskultasi Denyut Jantung Janin normal yaitu antara 120-160x/ menit

    • - Perkusi

    29

    Pemeriksaan refleks patella normalnya (+)/(+). Tangkai bawah akan bergerak sedikit ketika tendon diketuk. Bila gerakannya berlebihan dan cepat maka hal ini mungkin pertanda adanya preeklampsia.

    3. Pemeriksaan Penunjang

    • - Pemeriksaan laboratorium

    a. Hemoglobin : Hemodilusi terjadi sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan 32-36 minggu. Bila hemoglobin sebelumnya sekitar 11 gr%, maka terjadinya hemodilusi akan

    mengakibatkan anemia fisiologis dan Hb itu akan menjadi 9,5-10 gr% (Winknojosastro 2005). b. Urine : Reduksi (untuk mengetahui adanya kadar glukosa dalam darah) dan albumin ( untuk mengetahui ada tidaknya protein dalam urin)

    • - Pemeriksaan ultrasonografi : menggambarkan keadaan janin dan hasil konsepsi lain dalam kandungan, mengetahui usia kehamilan dan perkiraan persalinan klien.

    • - Pemeriksaan lain-lain (bila perlu), seperti pemeriksaan CD4 dan juga pemeriksaan kemungkinan adanya penyakit infeksi lainnya. Karena pada saat hamil diharapkan viral load ibu serendah-rendahnya.

    • - Pemeriksaan panggul Memeriksa luas panggul baik panggul luar dan panggul dalam sehingga dapat mendeteksi apakah ibu dapat melahirkan secara spontan atau tidak, namun untuk pasien dengan HIV dianjurkan untuk melahirkan melalui operasi karena untuk mengurangi risiko terjadinya penularan HIV ke bayi. Ukuran panggul luar :

      • - Distancia Spinarum : nilai normal 23-26 cm Jarak antara spina iliaca superior kanan dan kiri.

      • - Distancia Cristarum: nilai normal 26-29 cm

    30

    Jarak yang terpanjang antara krista iliaca kanan dan kiri. Jika < 2- 3cm dari ukuran normal maka ada kemungkinan panggul pathologis.

    • - Conjugata Eksterna : nilai normal 18-20 cm

    Disebut juga Boudeloque yaitu jarak antara bagian atas simpisis dengan lumbal V (kelima).

    • - Lingkar Panggul

    : nilai normal 80-90 cm

    Dari pinggir atas symphisis ke pertengahan antara spina iliaca anterior superior dan trokantor mayor dan kembali melalui tempat- tempat yang sama di bagian lain.

    • - Pemeriksaan HIV Saat ini ada 2 standar untuk melakukan uji HIV yaitu dengan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dan Western Blot. Apabila setelah melakukan uji ELISA hasilnya positif maka penderita harus melakukan uji ELISA lagi, sebelum melakukan Western Blot untuk mengonfirmasi status HIV positif. ELISA awal dapat bereaksi silang untuk memberi hasil positif palsu jika digunakan tanpa uji konfirmasi. Western Blot akan dibaca positif bila ada antibody dua atau lebih “pita” protein ditemukan dalam HIV. Adanya pita tunggal tidak dapat meyakinkan dan mungkin hasil dari pajanan HIV atau sebuah temuan kronis. Diantara penyebab hasil menetap yang tidak dapat disimpulkan ini adalah autoimun atau penyakit vascular kolagen, aloantibodi dari kehamilan atau transfuse, dan infeksi HIV subtype jarang atau HIV 2. Hasil positif palsu pada ELISA dan Western Blot kurang dari 0,001 persen dalam area prevalensi yang rendah. Selain 2 uji standar tersebut, ada banyak uji lain yang digunakan untuk mengevaluasi kesehatan dan perkembangan penyakit. Beberapa diantaranya penting bagi bidan untuk mengenalinya dalam rangka meningkatkan status kesehatan wanita. Pengujian ini termasuk pengukuran CD4 limfosit, muatan virus plasma, perubahan dalam hitung sel darah lengkap dan panel kimia.

    31

    2.

    Perumusan Diagnosa atau Masalah Kebidanan

    -Diagnosa : G

    P

    Uk …minggu, keadaan umum ibu baik dengan HIV

    .. stadium I, II, III, IV. Janin hidup/mati,tunggal/ganda, letak

    .....

    janin/presentasi, intrauterine/ekstrauterine, keadaan janin baik/tidak. -Masalah: Masalah merupakan satu atau beberapa keluhan ibu yang di luar diagnose medis namun dapat berpengaruh bagi kehamilan baik melalui fisiologis maupun psikologis. Pada ibu hamil dengan HIV masalahnya yaitu:

    • a. Kecemasan ibu pada kondisi bayinya

    • b. Penurunan berat badan

    • 3. Diagnosa Potensial Abortus, IUGR, HIV pada bayi

    • 4. Identifikasi Tindak Kebutuhan Segera Merupakan pengidentifikasian rencana tindakan yang harus segera dilakukan kepada ibu dan atau janin berkaitan dengan diagnose potensial. Kebutuhan: KIE pola nutrisi dan PMTCT (Prevention Mother to Child Transmition)

    • 5. Perencanaan Beritahu hasil pemeriksaan kepada ibu R/ Bila mengetahui hasil pemeriksaan selain ibu dapat mengetahui perkembangan kehamilannya juga dapat melegakan perasaan ibu Health Education kepada ibu R/ Pemberian HE kepada ibu dapat menambah pengetahuan ibu serta kesiapan ibu dalam menghadapi persalinan dengan ketuban pecah dini, serta dapat mengevaluasi sejauh mana pengetahuan ibu tentang persalinan dan ketuban pecah dini Diskusikan dengan ibu tentang HIV pada ibu hamil dan komplikasinya ( Abortus, IUGR)

    32

    R/ Pengetahuan tentang HIV kepada ibu dan keluarga akan mengurangi tingkat kecemasan ibu dan keluarga Diskusikan dengan ibu tentang PMTCT (Prevention Mother To Child Transmition) yang meliputi rencana persalinan yang aman di rumah sakit R/ Pengetahuan tentang PMTCT dapat mengurangi angka resiko HIV pada janin Diskusikan dengan Ibu untuk menjaga pola makan dan nutrisi R/ Makanan yang bergizi akan meningkatkan imunitas dan asupan makanan bagi janin. Diskusikan dengan Ibu untuk istirahat yang cukup R/ Aktivitas yang berlebihan akan memperburuk keadaan ibu dan janin Beritahu ibu tentang tafsiran persalinan R/ Sebagai persiapan ibu dalam menghadapi persalinan Kolaborasi dengan team medis:

    • a. Kolaborasi dengan DSOG untuk pemeriksaan USG R/ untuk mengetahui keadaan janin dalam kandungan, mengetahui usia kehamilan dan perkiraan persalinan klien.

    • b. Diskusikan tentang dosis , jadwal dan tipe ARV (Anti Retroviral) . R/ pemberian ARV untuk profilaksis terhadap janin.

    • c. Pemeriksaan CD4 R/ untuk mengevaluasi stadium HIV yang diderita ibu.

    Menjadwalkan kunjungan ulang 1 bulan lagi R/ untuk mengetahui kondisi serta perkembangan ibu dan janin

    • 6. Penatalaksanaan Rencana Tindakan Penatalaksanaan rencana tindakan merupakan pelaksanaan asuhan kebidanan yang diberikan kepada ibu sesuai dengan keadaan dan kebutuhan ibu yang mengacu pada Rencana Tindakan.

    • 7. Evaluasi Telah melakukan penatalaksanaan rencana tindakan sesuai dengan perencanaan

    33

    BAB 3 TINJAUAN KASUS

    No. Register

    : 103538xx

     

    Hari/Tanggal

     

    Tempat

    : 16 Maret 2012 : URJ Poli Hamil 1 RSDS

    A.

    SUBYEKTIF

     

    1.

    Biodata/Identitas

     

    Nama Ibu

    : Ny. L

    Nama Suami

    : Tn. P

    Umur

    : 30

    Umur

    : 33

    Suku/Bangsa

    : Jawa

    Suku/Bangsa

    : Jawa

    Agama

    : Islam

    Agama

    : Islam

    Pendidikan

    : SMK

    Pendidikan

    : SMK

    Pekerjaan

    : Swasta

    Pekerjaan

    : Swasta

    Penghasilan

    : ±1.500.000 /bulan

    Alamat

    : Putat Jaya

    No. Tlp

    : 0857309699xx

    No.Tlp

     

    2.

    Keluhan Berat badan turun dan khawatir akan kondisi janinnya terkait dengan status HIV orang tuanya

    3.

    Riwayat Menstruasi

     
     

    -

    Menarche

    : 14 tahun

    -

    Siklus

    : 28 hari

    -

    Lamanya

    : 7 hari

    -

    Banyaknya

    : sedang

    -

    Sifat Darah

    : encer

    -

    Teratur/Tidak

    : teratur

    -

    Dismenorhoe

    : tidak ada

    -

    Fluor albus

    : tidak ada

    -

    HPHT

    : 18-12-11

     

    4.

    Riwayat Kehamilan Sekarang

     

    34

    - Kehamilan ini merupakan kehamilan kedua dan pernah mengalami keguguran. - ANC pertama di Poli Hamil
    -
    Kehamilan ini merupakan kehamilan kedua dan pernah mengalami
    keguguran.
    -
    ANC pertama di Poli Hamil RSDS
    -
    Pada bulan Januari 2012, ibu melakukan tes pack sendiri dan hasilnya
    positif. Kemudian pada tanggal 11 Februari 2012 ibu ke UPIPI dan
    dinyatakan hamil 6 minggu.
    -
    Imunisasi TT : TT CPW
    -
    Penyuluhan yang sudah pernah didapat :
    -
    Aktivitas
    -
    Istirahat
    -
    Pemeriksaan Laboratorium :
    ∑ Pemeriksaan tanggal 12/02/2012:
    Hb
    : 12,0 g/dl
    Glukosa darah : 81 mg/dl
    ∑ Pemeriksaan CD4 terakhir bulan 9/09/2011 : 352
    5.
    Riwayat Kontrasepsi
    Ibu tidak menggunakan kontrasepsi apa pun setelah mengalami keguguran
    pada kehamilan yang pertama.
    6.
    Riwayat Obstetri yang Lalu
    No
    Kehamilan
    Persalinan
    Bayi/Anak
    Nifas
    KB
    Ket
    Suami
    Anak
    UK
    Pnylt
    Penol.
    Jenis
    Tmpt
    Pnylt
    Seks
    BB
    Hid
    Peny
    ASI
    ke
    up
    ulit
    PB
    Mati
    1
    2
    1
    3
    Abortus
    dokte
    kure
    RSDS
    bln
    (februari
    r
    t
    2010)
    2
    H
    A
    M
    I
    I
    N
    I
    L
    7.
    Riwayat Penyakit yang Sedang atau Pernah Diderita
    -
    HIV

    35

    Ibu mengetahui bahwa dirinya terinfeksi HIV sejak tahun 2008, didapat dari suami pertama yang merupakan pecandu narkoba dan telah meninggal pada tahun 2008. Berat badan ibu terus menurun dengan pola makan yang biasa. Kemudian ibu memeriksakan kondisinya dan dinyatakan positif HIV. Ibu mulai mengkonsumsi ARV sejak tanggal 9 November 2008.

    • - Tidak ada riwayat penyakit jantung, hipertensi, asma, TBC, ginjal dan hepatitis.

    • 8. Riwayat Penyakit Keluarga

      • - Suami ibu yang pertama menderita HIV dan telah meninggal pada tahun 2008.

      • - Suami ibu yang sekarang menderita HIV sejak sebelum menikah.

      • - Dalam keluarga ibu tidak ada yang pernah atau sedang menderita DM, Jantung, hipertensi, asma, TBC dan hepatitis.

  • 9. Pola Kehidupan Sehari-hari

    • - Nutrisi Pola makan : ibu makan 3x sehari. Tidak ada pantangan dalam makan dan perubahan frekuensi makan.

    • - Pola kebiasaan Ibu dan suami tidak merokok, tidak meminum minuman beralkohol, tidak mengkonsumsi napza dan jamu-jamuan. Obat yang di konsumsi ibu : vitamin dan ARV ( duviral dan neviral)

    • - Aktivitas dan istirahat Ibu tidak pernah tidur siang. Ibu bekerja sejak jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Ibu biasa tidur malam jam 22.00-04.30.

    • - Hubungan seksual Ibu sedikit mengurangi frekuensi berhubungan seksual dengan suami dan saat berhubungan suami menggunakan kondom. 10. Riwayat Sosial Pernikahan :

    36

    • - Nikah 2 kali

    • - Umur menikah yang kedua : istri 30 tahun, suami 33 tahun.

    • - Lama menikah 3 tahun Kehamilan ini direncanakan

    B.

    OBYEKTIF

    Pemeriksaan Umum

    • 1. Keadaan Umum : baik

    • 2. Kesadaran : compos mentis

    • - BB sebelum hamil

    : 55 kg

    • - BB saat ini

    : 50 kg

    • - Tinggi Badan

    : 156 cm

    • - Lila

    : 25 cm

    • 3. Tanda-tanda Vital

    • - TD

    : 110/70 mmHg

    • - Nadi

    : 80 x/menit

    • - Respirasi

    : 18 x/menit

    • - Suhu

    : 36,8 o C

    Pemeriksaan fisik

    • a. Wajah : konjungtiva merah muda, sklera putih, tidak ada oedema, mulut bersih, gigi tidak ada cariees, tidak terdapat cloasma gravidarum, tidak ada pernafasan cuping hidung dan sianosis pada bibir.

    • b. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar limfe dan kelenjar tiroid.

    • c. Abdomen

     

    -

    Inspeksi

    :

    tidak

    ada linea

    nigra dan

    tidak terdapat luka

    bekas operasi apapun

     

    -

    Palpasi

    :

    -

    Leopold 1

    : TFU 2 jari atas sympisis. Teraba ballotement

    • d. Ekstremitas : tidak ada oedema.

    • 4. Pemeriksaan laboratorium

    37

    -

    Urine :

    reduksi : -

    ; albumin : -

    • C. ANALISA Diagnosa : G 2 P 00010 12/13 minggu, ballottement +, keadaan umum ibu baik dengan HIV stadium II Masalah : Penurunan berat badan dan khawatir akan kondisi janinnya

    • D. PENATALAKSANAAN

      • 1. Menjelaskan hasil pemeriksaan dan kondisi ibu, ibu mengerti tentang penjelasan yang diberikan

      • 2. Memberikan KIE tentang PMTCT agar ibu tidak khawatir tentang janinnya, ibu mengerti penjelasan yang diberikan petugas

        • 3. Memberikan HE tentang pola nutrisi, ibu mengerti penjelasan yang diberikan

        • 4. Memberitahukan pada Ibu tafsiran persalinan yaitu tanggal 25 September 2012, ibu sudah mengetahui tanggal perkiraan lahirnya

        • 5. Berkolaborasi dengan dokter SpOG untuk penanganan serta USG untuk evaluasi umur kehamilan dan kesejahteraan janin. Hasil USG : Janin/Tunggal/Hidup/Intrauterine CRL : 5,34 ≈ 12 minggu Nasal Bone : + NT

    : 0,86

    • 6. Menganjurkan Ibu untuk rutin kunjungan ke poli UPIPI dan rajin minum ARV, ibu mengerti penjelasan yang dberikan

    • 7. Menjadwalkan kunjungan ulang ke Poli Hamil 1 bulan lagi, ibu bersedia kembali

    BAB 4 PEMBAHASAN

    38

    HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus. Virus ini merupakan jasad renik yang dapat menyebabkan terjadinya AIDS. AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) adalah suatu penyakit yang ditandai dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Pada pengkajian data, ibu mengeluh berat badan turun. Berat badan ibu turun 5 kg. Ibu mengetahui dirinya terkena HIV sejak tahun 2008 didapat dari suami pertama yang sudah meninggal. Suami yang sekarang juga menderita HIV. Ibu mengkonsumsi ARV sejak tahu dirinya terkena HIV. Pada pemeriksaan perut TFU 2 jari di atas sympisis dan teraba ballotement. Menurut teori, virus HIV dapat ditularkan melalui kontak seksual (Prasko, 2011). Pada kasus dapat diketahui bahwa ibu terkena HIV karena tertular dari suaminya yang penderita HIV. Sesuai dengan derajat berat infeksi HIV menurut ketentuan WHO (Fazidah, 2004) ibu berada pada stadium 2 HIV dimana berat badan turun sebanyak 10% dari berat badan sebelumnya. HIV dalam kehamilan dapat meningkatkan lahir mati, prematuritas, IUGR, dan efek paling serius adalah penularan secara vertikal, yaitu dari ibu ke janinnya. Penatalaksanaan HIV meliputi pentalaksanaan fisik, psikologis, dan sosial (Nasronudin, 2007). Masalah dalam kasus ini adalah penurunan berat badan dan khawatir akan kondisi janinnya. Oleh karena itu ibu diberikan konseling tentang PMTCT untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi dan mengurangi dampak epidemi HIV terhadap ibu dan bayi termasuk rencana persalinan yang aman di rumah sakit, HE tentang pola nutrisi, kolaborasi dengan dokter SpOG untuk penanganan serta USG untuk evaluasi umur kehamilan dan kesejahteraan janin, menganjurkan ibu untuk rutin kunjungan ke poli UPIPI dan rajin minum ARV, menjadwalkan kunjungan ulang ke Poli Hamil 1 bulan lagi. Adapun rencana asuhan yang diberikan sebagai asuhan kebidanan sudah disesuaikan dengan diagnosa dan masalah yang ada. Pada evaluasi tindakan dan asuhan kebidanan terlihat bahwa semua planning telah dilakukan dengan baik.

    BAB 5

    PENUTUP

    39

    5.1

    Simpulan

    Kehamilan dengan HIV merupakan maslah yang kompleks mengingat HIV dapat menular ke janin dan dapat memperberat kondisi kesehatan ibu. Simpulan yang dapat diambil dari uraian asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan HIV di atas bahwa dari hasil pengkajian data subyektif dan data obyektif, mahasiswa mampu membuat diagnosa masalah maupun kebutuhan, serta memberikan intervensi yang tepat. Jika intervensi dapat dilakukan dengan baik maka akan didapatkan hasil sesuai dengan yang diinginkan.

    • 5.2 Saran

    1. Bagi Institusi Pendidikan Menambah kepustakaan yang telah dimiliki dan diharapkan juga dapat menambah kajian baru serta dapat dijadikan bahan rujukan untuk penyusunan laporan yang akan datang.

    2. Bagi Mahasiswa lain Dapat dijadikan pertimbangan dasar atau bahan data untuk penyusunan laporan selanjutnya.

    DAFTAR PUSTAKA

    40

    Brooker, Chris. 2009. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta : EGC

    Candra, Asep. 2010. Penularan HIV dari Ibu ke Bayi Kian Meningkat.

    Cunningham, F. Gary, dkk. 2006. Obstetri William, Edisi 21. Jakarta : EGC

    Fraser, Diane M. dan Margaret A. Cooper. 2009. Myles: Buku Ajar Bidan, Edisi 14. Jakarta : EGC

    Kesehatan. Jakarta : Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI http://www.odhaindonesia.org/content/kehamilan-dan-hiv

    Manuaba, IBG, Chandranita M dan Fajar 2010. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan, dan KB untuk pendidikan bidan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

    Nasronudin.2007. HIV&AIDS : Pendekatan Biologi Molekuler, Klinis dan Sosial. Surabaya : Airlangga University Press

    Prasko. 2012. Pengertian, Cara Penularan, Tanda, Pencegahan HIV/AIDS.

    Varney, Helen. 2003. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC

    Wiknojosastro, H 2005, Ilmu kebidanan ed.3, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

    Ziva.

    2008.

    Pengaruh

    HIV/AIDS

    Terhadap

    Kehamilan.

    41