Anda di halaman 1dari 12

ILMIAH Volume 1 No.

3, 2009

Emi Yulia Siska. Akuntansi Sektor Publik

KONSEP ANALISIS STANDAR BIAYA (ASB) DALAM AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


Emi Yulia Siska
Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Univ. IBA E-mail : emiyulia@yahoo.com ABSTRACT cost standard stipulating have the purpose to guarantee the estimation that appointed is economical efficient estimation. cost standard need to be appointed in the form of regional head regulation so that it would be a guide that is understood by the entire skpd. cost standard analysis will be standard guide that carried out to analyze activity spontanity done by skpd in one year estimation. The arrangement of cost standard analysis uses 2 methods that is activity costing and traditional costing. ABSTRAK penetapan Standar Biaya bertujuan untuk menjamin bahwa anggaran yang ditetapkan merupakan anggaran yang efisien dan ekonomis. Standar Biaya (ASB) perlu ditetapkan dalam bentuk peraturan Kepala Daaerah sehingga menjadi pedoman yang dimengerti dan ditaati oleh seluruh SKPD. ASB merupakan standar/pedoman yang digunakan untuk mnganalisis kewajaran kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu SKPD dalam satu tahun anggaran. Penyusunan ASB digunakan dua metode penentuan biaya per unit: Biaya per unit tradisional dan biaya per unit berdasarkan aktivitas. Kata Kunci : Analisis Standar Biaya, SKPD PENDAHULUAN Penganggaran merupakan suatu proses yang cukup rumit pada organisasi sektor publik, termasuk di antaranya pemerintah daerah. Hal tersebut berbeda dengan penganggaran pada sektor swasta. Pada sektor swasta anggaran merupakan bagian dari rahasia perusahaan yang tertutup untuk publik, namun sebaliknya pada sektor publik anggaran justru harus diinformasikan kepada publik untuk dikritik dan didiskusikan untuk mendapat masukan. Anggaran sektor publik merupakan instrumen akuntabilitas atas pengelolaan dana publik dan pelaksanaan programprogram yang dibiayai dari uang publik. Penganggaran sektor publik terkait dalam proses penentuan jumlah alokasi dana untuk tiaptiap program dan aktivitas dalam satuan moneter. Tahap penganggaran menjadi sangat penting karena anggaran yang tidak efektif dan tidak berorientasi pada kinerja akan dapat menggagalkan perencanaan yang telah disusun. Anggaran merupakan managerial plan for action untuk memfasilitasi tercapainya tujuan organisasi. Banyak aspek yang muncul dari adanya reformasi keuangan daerah. Namun, yang paling umum menjadi sorotan bagi pengelola keuangan daerah adalah adanya aspek perubahan mendasar dalam pengelolaan anggaran daerah (APBD). Perhatian utama adalah adanya paradigma baru dalam manajemen anggaran daerah. Paradigma yang menuntut lebih besarnya akuntabilitas dan transparansi dari pengelolaan anggaran, dan dengan memperhatikan asas keadilan dan kepatutan. Aspek utama budgeting reform adalah perubahan dari traditional budget ke performance budget. Perubahan paradigma anggaran daerah dilakukan untuk menghasilkan anggaran daerah yang benar-benar mencerminkan kepentingan dan pengharapan masyarakat daerah setempat terhadap pengelolaan keuangan daerah secara ekonomis, efisien dan efektif. Reformasi anggaran daerah dimulai dengan penyusunan anggaran daerah yang tidak lagi mengacu kepada PP No. 6 tahun 1975 tentang Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah, dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja. Perubahan kebijakan tentang anggaran terjadi mengikuti perubahan kebijakan pengelolaan keuangan negara.Salah satu bentuk perubahan kebijakan tersebut dengan mulai diberlakukannya PP No. 105 Tahun 2000, selanjutnya diganti dengan PP No. 58 Tahun 2005, yang diikuti dengan diterbitkannya Permendagri 13 tahun 2006. Implikasi dari perubahan peraturan membawa dampak terhadap perubahan paradigma dan proses pengelolaan keuangan daerah yang pada akhirnya membawa konsekuensi pada perubahan proses perencanaan program dan kegiatan dalam rangka penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD). Undang-Undang yang dimaksud yang membawa perubahan dalam pengelolaan keuangan daerah, yaitu: 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

ILMIAH Volume 1 No. 3, 2009 3. 4. 5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;

Emi Yulia Siska. Akuntansi Sektor Publik kegiatan. Pogram/ kegiatan yang dapat mencapai tujuan yang telah direncanakan merupakan proses penganggaran yang efektif. Penilaian terhadap keefektifan suatu program/ kegiatan dapat dilihat dari pencapaian hasil dan target dari program yang telah telah ditetapkan, dengan cara membandingkan keluaran dengan hasil. Semakin besar kontribusi keluaran terhadap pencapaian tujuan maka semakin efektif suatu program atau kegiatan. Keefektifan merupakan pertimbangan utama dalam penganggaran program/ kegiatan karena salah satu azas pengelolaan keuangan daerah adalah efektif. Azas pengelolaan keuangan daerah yang lainnya adalah sebagai berikut: 1. Ekonomis Pengertian ekonomis adalah praktik pembelian barang dan jasa pada kualitas yang diinginkan dan pada harga terbaik yang dimungkinkan (spending less). Pengertian ekonomis mencakup juga pengertian bahwa pengeluaran daerah hendaknya dilakukan secara berhatihati (prudency) dan keuangan daerah harus digunakan secara optimal tanpa pemborosan (hemat). Suatu kegiatan operasional dikatakan ekonomis bila dapat menghilangkan atau mengurangi biaya yang dianggap tidak perlu. 2. Efisiensi Efisiensi merupakan usaha untuk melaksanakan tugas dengan usaha yang pantas (melakukan sesuatu dengan benar). Efisiensi merupakan pencapaian keluaran yang maksimum dengan input tertentu atau penggunaan input terendah untuk mencapai keluaran tertentu. Suatu program atau kegiatan dikatakan efisien apabila mampu menghasilkan keluaran tertentu dengan input (input) serendah-rendahnya. 3. Efektivitas Efektivitas merupakan perbandingan antara outcome dengan output (keluaran). Kegiatan operasional dikatakan efektif apabila proses kegiatan mencapai tujuan dan sasaran akhir kebijakan (spending wisely) 4. Transparansi dan Akuntabilitas Anggaran APBD yang disusun harus dapat menyajikan informasi secara terbuka dan mudah diakses oleh masyarakat meliputi tujuan, sasaran, sumber pendanaan pada setiap jenis/objek belanja serta korelasi antara besaran anggaran dengan manfaat dan hasil yang ingin dicapai dari kegiatan yang dianggarkan. Oleh karena itu, setiap pengguna anggaran harus bertanggungjawab terhadap penggunaan sumber daya yang dikelola untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Untuk mewujudkan azas efisiensi dan ekonomis dalam penyusunan APBD, perlu ditetapkan indikator-indikator terlebih dahulu,

Paket perundang-undangan tersebut diterjemahkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang khusus mengatur pengelolaan keuangan pada tingkat pemerintah daerah. Pedoman lebih rinci untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (PERMENDAGRI) Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Dalam PP No. 58 Tahun 2005 pasal 36 ayat 2 dinyatakan bahwa proses penyusunan Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKASKPD) dalam rangka penyusunan APBD didasarkan pada tiga pendekatan yaitu: a. kerangka pengeluaran jangka menengah daerah; b. penganggaran terpadu; c. dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja. APBD disusun dengan berdasarkan pendekatan berbasis kerja mengandung pengertian bahwa anggaran yang disusun seharusnya lebih mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja (keluaran, hasil, manfaat dan dampak) daripada menitikberatkan alokasi biaya atau input semata dengan mengabaikan hasil yang akan dicapai. Dalam anggaran berbasis prestasi kerja, ada dua hal penting yang ditekankan, yaitu hasil (keluaran, hasil, manfaat, dan dampak) dan input. Output (keluaran) menunjukkan barang atau jasa yang dihasilkan dari program atau kegiatan sesuai dengan input yang digunakan. Input (masukan) adalah besarnya sumber-sumber: dana, sumber daya manusia, material, waktu dan teknologi yang digunakan untuk melaksanakan suatu program atau kegiatan. Dalam pendekatan kinerja, setiap penggunaan sumber-sumber yang direncanakan dalam APBD seharusnya dapat dikaitkan dengan barang atau jasa yang akan dihasilkan. Jumlah rupiah yang dianggarkan (input) untuk melaksanakan program/ kegiatan seharusnya digunakan untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan. Tidak dimungkinkan untuk menganggarkan sejumlah rupiah tertentu yang tidak ada kaitan dengan hasil. Hubungan antara masukan dan hasil tersebut menunjukkan prestasi kerja suatu program atau kegiatan. Diharapkan dengan pelaksanaan dari anggaran program/ kegiatan akan dapat dicapai hasil (keluaran, hasil, manfaat, dan dampak) yang direncanakan dari pelaksanaan sebuah program/

ILMIAH Volume 1 No. 3, 2009 antara lain indikator masukan (input) berupa sumber dana, sumber daya manusia, dan metoda kerja. Indikator tersebut digunakan sebagai standar dalam penyusunan anggaran program/ kegiatan dan sebagai standar dalam penilaian terhadap kewajaran oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) atas anggaran program/ kegiatan yang diajukan oleh tiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Standar yang digunakan oleh SKPD dalam menentukan jumlah rupiah dianggarkan dari rekening belanja dan total belanja kegiatan adalah Standar Satuan Harga (atau biasa juga disebut Standar Biaya / Standar Harga Barang dan Jasa (SHBJ)). Sementara, standar yang digunakan oleh TAPD dalam menentukan kewajaran anggaran belanja kegiatan yang diajukan oleh tiap SKPD adalah Analisis Standar Belanja (ASB). Penetapan Standar Biaya dan ASB bertujuan untuk menjamin bahwa anggaran yang ditetapkan merupakan anggaran yang efesien dan ekonomis. Standar Biaya dan ASB perlu ditetapkan dalam bentuk Peraturan Kepala Daerah sehingga menjadi pedoman yang dimengerti dan ditaati oleh seluruh SKPD. Pada akhirnya, diharapkan bahwa penentuan jumlah rupiah belanja yang dianggarkan merupakan proses yang transparan dan akuntabel. ASB merupakan standar atau pedoman yang digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja atau biaya setiap program atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu SKPD dalam satu tahun anggaran. ASB merupakan pendekatan yang digunakan oleh TAPD untuk mengevaluasi usulan program, kegiatan dan anggaran setiap SKPD dengan cara menganalisis beban kerja dan belanja dari usulan program atau kegiatan yang bersangkutan. Ada dua macam kewajaran yang harus dinilai yaitu kewajaran beban kerja dan kewajaran belanja. Penilaian terhadap kewajaran beban kerja usulan program atau kegiatan dalam hal ini dikaitkan dengan komponen dan tingkat pelayanan yang akan dicapai, jangka waktu pelaksanaan, serta kapasitas satuan kerja untuk melaksanakan kegiatan. Ukuran kapasitas satuan kerja dapat diproksikan/ digantikan dengan jumlah waktu/ jam kerja normal pegawai negeri yang tersedia. Hubungan antara kapasitas satuan kerja normal tersebut dengan jumlah waktu/ jam yang dibutuhkan untuk melaksanakan seluruh kegiatan yang menjadi tugas pokok fungsi SKPD merupakan salah ukuran kewajaran beban kerja. Pengukuran kapasitas normal satuan kerja bukan sebuah pekerjaan yang mudah karena melibatkan kemampuan masing-masing individu dalam menyelesaikan pekerjaan. Kapasitas normal individu dalam melakukan suatu kegiatan berbedabeda untuk masing-masing individu. Beban kerja Program atau Kegiatan yang diusulkan oleh suatu SKPD dapat dinilai kewajarannya antara lain berdasarkan

Emi Yulia Siska. Akuntansi Sektor Publik pertimbangan hal-hal sebagai berikut: 1. Kaitan logis antara program atau kegiatan yang diusulkan dengan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Kebijakan Umum APBD dan Prioritas dan Plafon APBD (KUA dan PPA). 2. Kesesuaian antara program atau kegiatan yang diusulkan dengan tugas pokok dan fungsi SKPD yang bersangkutan. 3. Kapasitas kerja SKPD yang bersangkutan untuk melaksanakan program atau kegiatan pada tingkat pencapaian yang diinginkan dan dalam jangka waktu satu tahun anggaran. Penilaian terhadap kewajaran anggaran belanja dari usulan program atau kegiatan dikaitkan dengan indikator kinerja dan standar biaya yang berlaku. Dalam kebijakan anggaran Pemerintah Daerah, kemungkinan ditetapkan plafon atau batas atas anggaran belanja bagi setiap SKPD. Plafon anggaran tersebut merupakan salah satu aspek yang dipertimbangkan untuk menilai kewajaran belanja setiap program atau kegiatan yang dianggarkan oleh SKPD. Disamping itu, kewajaran belanja suatu program atau kegiatan seharusnya dikaitkan dengan indikator kinerja dan standar biaya. Pengembangan alat-alat kelengkapan Pengelolaan Keuangan Daerah, antara lain : 1. Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah 2. Standar Pelayanan Minimal (SPM); 3. Analisis Standar Belanja (ASB) 4. Tolok Ukur Kinerja (ukuran keberhasilan kerja) dan 5. Standar Biaya KONSEP ANALISIS STANDAR BIAYA 1. Konsep Yang Mendasari Analisis Standar Biaya Pada bagian terdahulu telah diuraikan bahwa diungkapkan bahwa azas-azas penganggaran daerah adalah efektif, efesien, ekonomis, serta transparan dan akuntabel. Penyusunan RKA-SKPD dengan pendekatan anggaran berbasis prestasi kerja bertujuan untuk menjamin bahwa APBD yang dihasilkan merupakan anggaran yang efektif mencapai sasaran. Pada bagian berikut akan diuraikan tentang konsep anggaran berbasis prestasi kerja terlebih dahulu sebelum pembahasan tentang konsep-konsep yang mendasari analisis standar belanja (ASB). 2. Pendekatan Anggaran Berbasis Kinerja 2.1. Pengertian Anggaran Berbasis Kinerja Anggaran berbasis kinerja (performance based budgeting/ PBB) merupakan implementasi dari sistem manajemen organisasi sektor publik yang berbasis kinerja (performance-based management/ PBM). Sistem ini muncul sebagai respon dari tuntutan masyarakat terhadap

ILMIAH Volume 1 No. 3, 2009 organisasi sektor publik untuk memperbaiki kinerja, khususnya tuntutan terhadap organisasi pemerintah baik pusat dan daerah serta perusahaan milik pemerintah, dan organisasi sektor publik lainnya. Secara teori anggaran kinerja menghubungkan pengeluatan dana (input) dengan hasil yang diinginkan. Pada saat proses penyusunan anggaran, pemerintah sudah diharapkan untuk memperkirakan keluaran dan hasil dari tiap-tiap program, kegiatan, serta pelayanan yang dinginkan. Penetapan target pencapaian pada saat penganggaran adalah agar pengeluaran dana akan memberikan manfaat maksimum bagi masyarakat sebagai pihak yang dilayani. Konsep penganggaran kinerja agar memberikan manfaat yang terbaik bagi masyarakat disebut dengan value for money (VFM) Konsep VFM bertujuan untuk menjamin bahwa masyarakat telah telah memperoleh manfaat maksimum dari penganggaran atas barang dan jasa yang dibutuhkan serta sumber daya manusia yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan. Beberapa elemen mungkin bersifat subyektif, sulit diukur, tidak berwujud dan disalah artikan. Karena itu dibutuhkan pertimbangan dalam menentukan apakah value for money (VFM) telah dicapai dengan baik atau belum. VFM tidak hanya mengukur biaya barang dan jasa melainkan juga memasukkan gabungan dari unsur kualitas, biaya, sumber daya yang digunakan, ketepatan penggunaan, batasan waktu, dan kemudahan dalam menilai apakah secara bersama kesemua unsur tersebut membentuk value yang baik. Secara umum, prinsip-prinsip yang mendasari anggaran kinerja adalah konsep value for money (VFM) yang terdiri dari ekonomis, efisien dan efektivitas (3E) dan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance) termasuk adanya pertanggungjawaban para pengambil keputusan atas penggunaaan uang yang dianggarakan untuk mencapai tujuan, sasaran, dan indikator yang telah ditetapkan. 2.2. Proses Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan yang dilakukan oleh Daerah adalah dalam rangka mencapai cita-cita atau visi yang telah dicanangkan. Pada Pemerintahan Daerah, cita-cita, visi dan misi ini tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 20 tahunan dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 5 tahunan, RPJMD harus bersumber dari RPJP. Dalam RPJMD selain termuat visi dan misi juga analisis masalah yang dihadapi. Muatan dalam RPJMD masih abstrak dan masih dalam tataran konsepsual. Untuk dapat dioperasional dalam kegiatan tahunan maka disusunlah rencana operasional yang disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). RKPD ini berisi tentang tentang penjabaran dari RPJMD,

Emi Yulia Siska. Akuntansi Sektor Publik memuat prioritas pembangunan, rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal, serta program SKPD, lintas SKPD, dan lintas kewilayahan daerah. RKPD juga memuat kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Dalam RKPD juga dituangkan indikator kinerja yang merupakan rencana capaian kinerja yang diharapkan dari pelaksanaan program kerja yang ditetapkan. RKPD ditetapkan dalam bentuk Peraturan Kepala Daerah sehingga hanya mengikat eksekutif saja dalam pelaksanaannya. Agar dapat menjadi dokumen yang memuat komitmen antara Pemerintah Daerah (eksekutif) dan DPRD (legislatif) maka disusunlah Kebijakan Umum APBD (KUA) yang merupakan dokumen kesapakatan antara DPRD dan Pemerintah Daerah. KUA yang berisi program kegiatan RKPD yang berfungsi sebagai pedoman penyusunan APBD yang memuat proyeksi pendapatan daerah, alokasi belanja daerah, sumber dan penggunaan pembiayaan yang disertai dengan asumsi yang mendasarinya Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). PPAS berisi plafon atau batas atas jumlah rupiah yang diperkenankan dianggarkan dari tiap program/ kegiatan yang tertuang dalam RKPD. Batas atas/ plafon jumlah rupiah untuk tiap program/ kegiatan tersebut dijabarkan dalam rincian belanja untuk masing-masing kegiatan yang termuat dalam Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA SKPD) yang diajukan oleh SKPD. Penyusunan angka-angka rupiah tiap rincian belanja dalam RKASKPD harus mengikuti Standar Biaya/ Standar Harga Barang dan Jasa. Dalam rangka menjamin bahwa RKA SKPD yang dihasilkan merupakan anggaran yang efesien dan ekonomis maka RKASKPD tersebut harus dianalisis kewajarannya dengan menggunakan instrumen Analisis Standar Biaya (ASB). Dengan mekanisme analisis kewajaran tersebut diharapkan APBD yang disusun dari RKASKPD tersebut juga merupakan APBD yang efesien. Setelah APBD disetujui oleh DPRD maka ditetapkan APBD tersebut dalam Peraturan Daerah sebagai dasar realisasi/ pelaksanaan dan pengeluaran dana. Realisasi dari rencana anggaran dalam APBD ditujukan untuk pencapaian indikatorindikator kinerja yang dituangkan dokumen KUAPPAS, RKPD, maupun RPJMD. Pelaksanaan APBD dikatakan berhasil bila dapat mencapai hasil indikator kinerja yang telah ditetapkan. Pelaksanaan APBD yang dapat memenuhi tujuan yang telah ditetapkan merupakan penganggaran yang efektif. Laporan yang menunjuk pencapaian kinerja dari pelaksanaan APBD adalah LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi

ILMIAH Volume 1 No. 3, 2009 Pemerintah). Sementara laporan menunjukkan pengeluaran rupiah dalam satu tahun dituangkan dalam Laporan Realisasi Anggaran. Bagan yang menunjukan aliran dokumen perencanaan tersebut dituangkan dalan bagian berikut. Pembahasan tentang ASB tidak bisa dilepaskan dari pemenuhan azas pengelolaan keuangan daerah yang ekonomis, efesien, efektif, dan transparan. ASB juga harus selalu dikaitkan dengan pendekatan anggaran berbasis prestasi kerja karena instrumen ASB dan Standar Harga Satuan adalah untuk menjamin bahwa APBD yang dihasilkan merupakan APBD yang ekonomis dan efesien tanpa mengurangi pencapaian kerja (indikator kinerja) yang telah ditetapkan. Efektifitas pencapaian indikator kinerja yang telah ditetapkan tidak harus dengan biaya yang banyak. Demikian sebaliknya, biaya yang efesien, ekonomis, dan hemat tidak harus menghambat pencapaian indikator kinerja. ALUR DOKUMEN PERENCANAAN
RPJPD Berisi Visi, Misi dan permasalahan Daerah 20 tahun mendatang Berisi Visi, Misi, tujuan, sasaran, dan program tahun 5 mendatang untuk

Emi Yulia Siska. Akuntansi Sektor Publik Dalam Ilmu Akuntansi, ASB termasuk dalam lingkup pembahasan Akuntansi Biaya dan Akuntansi Manajemen. Dalam kedua pokok bahasan tersebut, penentuan standar efesiensi ASB pada dasarnya adalah penentuan biaya per unit untuk masing-masing kegiatan. Ada beberapa metoda penentuan biaya per unit (costing) yang dapat digunakan, yaitu: a. metode penentuan biaya per unit tradisional (traditional costing), dan b. penentuan biaya per unit berdasar aktivitas (activity based costing). Dibanding traditional costing, ABC dinilai lebih informatif dan dapat menghasilkan informasi yang lebih akurat. Dalam konsep tradisional, semua biaya yang tidak dapat ditelusur langsung ke output/ produk dibebankan berdasarkan alokasi. Alokasi merupakan pembebanan biaya ke produk, di mana hubungan antara biaya dengan output/ produk diasumsikan. Hal ini yang menyebabkan pembebanan menjadi tidak akurat atau tidak mencerminkan biaya sesungguhnya diserap oleh suatu output/produk. Masalah tersebut dapat dipecahkan dengan menggunakan konsep ABC, karena dalam konsep ABC, biaya yang tidak dapat ditelusuri langsung (direct tracing) ke output/ produk ditelusuri dengan menggunakan hubungan sebab akibat (penelusuran penggerak/ driver tracing) untuk mengetahui output/ produk/ aktivitas apa yang menyerap biaya dan apa yang menjadi pemicu diserap biaya tersebut. Bagian berikut akan dijelaskan tentang konsep dan mekanisme ABC serta bagaimana konsep tersebut dapat digunakan dalam ASB untuk organisasi pemerintah. Namun sebelumnya akan dibahas tentang perilaku biaya, yang merupakan konsep yang mendasari pembebanan biaya ke produk/ aktivitas 1. Biaya dan Perilaku Biaya Dalam konsep pembebanan biaya, baik tradisional maupun ABC, keduanya menggunakan klasifikasi biaya variabel dan biaya tetap. Oleh karena itu harus dipahami terlebih dahulu tentang perilaku biaya agar dapat mengidentifikasi biaya ke dalam klasifikasi kedua biaya tersebut. Biaya (cost) merupakan pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan unit moneter, untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan akan memberikan keuntungan di masa ini atau masa yang akan datang. Biaya dapat diklasifikasikan berdasarkan hubungannya dengan produk, waktu pengakuan, volume produksi, dan lain-lain.

SPM

RPJM D

Berdasark an Sasaran dirumusk an

Dengan mempertimbang kan Standar Pelayanan

RKPD

KUA& PPAS Dokume n untuk menilai kewajara n kegiatan

Standar Harga Barang dan

RKA

SAB

Sebagai dasar untuk menentu kan jumlah

Pelaksanaa n

LAKIP Berisi Capain Kinerja dan dibandingkan dengan indikator pada RKPD menjadi dasar bagi evaluasi kinerja Lapora n Realisa

Evaluas i penilaia

Pendekatan ASB ASB merupakan instrumen untuk menilai kewajaran anggaran belanja kegiatan yang diajukan oleh tiap-tiap SKPD. Penilaian kewajaran belanja ini bertujuan agar anggaran yang dihasilkan merupakan anggaran yang efesien dan ekonomis. Pada dasarnya, ASB adalah dokumen standar efesiensi untuk penganggaran belanja tiap kegiatan.

ILMIAH Volume 1 No. 3, 2009 1.1. Klasifikasi Biaya Berdasarkan Variabilitas Volume Output a. Biaya Variabel (Variabel Cost) Pada perusahaan bisnis, biaya variabel adalah biaya yang bila dikaitkan dengan volume (pemicu timbulnya biaya) secara total biaya tersebut jumlahnya akan berubah sesuai dengan proporsi perubahan aktivitas (volume produksi), akan tetapi secara per unit akan selalu tetap (tidak berubah jumlahnya) meskipun volume produksi berubah-ubah. Dengan kata lain, total biaya variabel akan bertambah apabila volume produksi bertambah. Biaya variabel biasanya dapat diidentifikasikan langsung dengan aktivitas yang menimbulkan biaya. Hubungan antara biaya variabel dengan aktivitas (volume produksi), dapat dinyatakan dalam bentuk grafik sebagai berikut :
a) Biaya Variabel Total 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000
B ia y aS e w aP e rU n it

Emi Yulia Siska. Akuntansi Sektor Publik b. Biaya Tetap (Fixed Cost) Pada perusahaan bisnis, biaya tetap adalah biaya yang secara total, biaya tersebut tidak berubah jumlahnya meskipun aktivitas (jumlah produksi) berubah, jumlah biaya tetap per unit akan menurun, jika aktivitasnya meningkat. Contoh biaya tetap adalah biaya sewa gedung yang disewa secara tetap per bulan. Biaya sewa gedung tersebut tidak akan berubah jumlahnya, meskipun gedung tersebut tidak dimanfaatkan untuk kegiatan maupun digunakan untuk banyak kegiatan. Hubungan antara biaya tetap dengan unit produksi dapat dinyatakan dalam bentuk grafik sbb :
Biaya Tetap (Total)
70 Biaya Sewa (Ribuan) 60 50 40 Series1 30 20 10 0 1000 2000 3000 Unit Produksi (Ribuan)

Total Biaya Bahan (ribuan rupiah)

Biaya Tetap (Per Unit)


700 600 500 400 Series1 300 200 100 0
15 00 30 00 50 0 10 00 20 00 25 00

Unit Produksi

b) Biaya Variabel per Unit


Biaya Per Unit (rupiah) 600 500 400 300 200 100 0 500 1000 1500 2000

Unit Produksi (Ribuan)

Unit Produksi

Seperti dalam organisasi bisnis dalam organisasi pemerintahan, biaya variabel adalah biaya yang apabila dikaitkan dengan volume (pemicu timbulnya biaya) secara total biaya tersebut jumlahnya akan berubah sesuai dengan proporsi perubahan aktivitas (volume kegiatan). Contoh biaya Variabel pada Pemerintahan Misalnya Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah hendak membangun jalan dan setiap satu kilometer jalan memerlukan 1 ton aspal. Ketika jumlah kilometer yang dikerjakan meningkat proporsional dengan jumlah kilometer yang dikerjakan. Jika yang dikerjakan 10 km maka biaya variabel aspal menjadi 10 juta rupiah (diasumsikan 1 ton aspal seharga 1 juta rupiah), sedangkan jika km jalan yang dikerjakan 1000 km maka biaya variabel aspal yang dikeluarkan sebesar 1 milyar rupiah.

Contoh biaya tetap dalam pemerintahan misalnya biaya sewa sebulan untuk buldozer keruk untuk kegiatan pembangunan jalan adalah sebesar Rp. 3.000.000,- dengan kapasitas pengerukan tanah sebanyak 10.000 m3 per bulan. Jika jumlah satuan kerukan tanah sebesar 1.000 m3 maka biaya sewa buldozer tetap Rp. 3.000.000,- demikian pula jika satuan pengerukan tanah sebesar 1.000 m3 maka biaya sewanya tetap Rp. 3.000.000,Biaya Semi Variabel Biaya semi variabel merupakan campuran antara biaya variabel dengan biaya tetap. Biaya semi variabel memiliki sifat: meskipun tidak ada aktivitas, biaya ini tetap ada dan totalnya akan berubah jika aktivitas juga berubah tetapi perubahannya tidak proporsional. Contoh biaya ini adalah biaya telepon, listrik. Biaya telepon dalam satu bulan selalu ada diatas nol, meskipun dalam satu bulan pemakaian pulsa jumlahnya nol. Berikut ini adalah contoh belanja daerah yang termasuk biaya semi variabel: c.

ILMIAH Volume 1 No. 3, 2009 1. 2. 3. 4. Belanja telepon Belanja air Belanja listrik Belanja kawat/ faksimili/ internet

Emi Yulia Siska. Akuntansi Sektor Publik Menurut dapat tidaknya dikendalikan, biaya dapat dikelompokkan menjadi biaya terkendali dan biaya tidak terkendali. Biaya terkendali adalah biaya dimana manajer dapat mempengaruhi ada tidaknya dan besar kecilnya biaya tersebut. Klasifikasi Biaya menurut Data yang Digunakan Menurut data yang digunakan, biaya digolongkan menjadi: biaya sesungguhnya (actual cost), biaya standar, biaya masa yang akan datang. Biaya yang sesungguhnya adalah biaya yang dicatat sebesar nilai yang sesungguhnya pada saat yang terjadi. Biaya standar adalah biaya yang yang dicatat sebesar nilai standarnya. Biaya masa yang akan datang adalah biaya yang dicatat dengan taksiran biaya yang akan terjadi pada masa yang akan datang

Grafik biaya semi variabel dinyatakan dalam bentuk grafik sbb :


Biaya (Y)

2.

Y= a + bX

a
Aktivitas (X)

a. Untuk merencanakan, menganalisis, mengendalikan atau mengevaluasi biaya pada tingkat aktivitas yang berbeda, biaya semi variabel harus dipisahkan dalam komponen tetap dan komponen variabel. Pemisahan biaya semivariabel menjadi komponen tetap dan komponen variabel mendasarkan asumsi linieritas yang memiliki persamaan: Y = a + b X, dimana: Y : Total Biaya a : Komponen Tetap b : Biaya variabel per unit X : Volume/Aktivitas Pemisahan biaya semivariabel dapat menggunakan salah satu dari 3 (tiga) metoda berikut: i. High Low Method ii. Scatterplott Method iii. Regresi Linier Klasifikasi Biaya menurut Hubungannya dengan Pengambilan Keputusan Apabila dikaitkan dengan pengambilan keputusan, biaya diklasifikasikan menjadi: Biaya relevan dan biaya tidak relevan terhadap pengambilan keputusan. Biaya relevan adalah biaya-biaya yang digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan tertentu. Contoh: untuk menerima penawaran pengadaan alat tulis kantor dari pemasok, biaya harga beli dan ongkos pengiriman merupakan biaya yang relevan untuk pembuatan keputusan tersebut. Akan tetapi biaya harga beli dan biaya pemesanan tidaklah relevan dengan pembuatan keputusan untuk menerima penawaran tersebut. 1. Klasifikasi Biaya menurut Dapat Tidaknya Dikendalikan

Activity Based Costing Dalam sistem tradisional, pembebanan biaya ke produk menggunakan penelusuran langsung untuk biaya yang dapat ditelusur langsung ke produk/ output (secara fisik dapat diamati aliran biaya ke tiap-tiap produk). Untuk biaya yang tidak dapat ditelusur langsung digunakan alokasi sebagai dasar pembebanan. Biaya yang dapat ditelusur langsung biasanya merupakan biaya variabel, yaitu biaya yang berubah secara proporsional sesuai dengan perubahan output/ unit yang diproduksi, sedangkan biaya yang tidak dapat ditelusur langsung biasanya merupakan biaya tetap atau biaya semi variabel, yang perubahannya tidak dipengaruhi secara langsung oleh unit produk/ output/ aktivitas. b.

Pengertian ABC Perhitungan biaya berdasarkan aktifitas (activity based costing/ ABC) adalah suatu sistem perhitungan biaya berdasarkan aktifitas yang diperlukan untuk menghasilkan output. Jadi ABC menelusuri biaya ke aktivitas baru kemudian ke produk/ output. Asumsi yang mendasari adalah bahwa aktivitas mengonsumsi sumber daya dan bahwa produk pada gilirannya mengonsumsi aktivitas. Dalam sistem ABC, pembebanan biaya ke produk/ output menekankan penelusuran langsung (direct tracing) dan penelusuran penggerak (driver tracing), yang menggunakan hubungan sebabakibat. Penelusuran penggerak digunakan untuk biaya yang tidak dapat ditelusur secara langsung ke produk, yaitu untuk biaya tetap dan semivariabel. Dalam ABC dasar yang digunakan untuk membebankan biaya adalah pemicu biaya (cost driver). Pemicu biaya adalah jumlah aktifitas yang dapat memicu timbulnya biaya. ABC menggunakan penggerak biaya aktivitas berdasarkan unit maupun non unit.

ILMIAH Volume 1 No. 3, 2009 Langkah utama dan pertama dalam konsep ABC adalah mengidentifikasi aktivitas, sebelum membebankan biaya ke produk. Identifikasi aktivitas ini akan menghasilkan beberapa aktivitas yang harus ada dalam suatu proses kegiatan tertentu. Aktivitas ini dikelompokkan dalam tingkatan aktivitas sesuai dengan variabilitas biaya yang mempengaruhinya. Setiap aktivitas dalam suatu tingkatan akan dicari pemicu dari aktivitas (activity driver) yang akan menimbulkan biaya (cost driver). Klasifikasi level aktivitas, pemicu aktivitas untuk masing-masing level akan dijelaskan berikut. Tingkatan Aktivitas (Activity Level) Ada empat tingkatan aktivitas dalam konsep ABC, yaitu: 1. Aktivitas tingkat unit (unit level activity), yaitu aktivitas yang dilaksanakan setiap kali suatu unit diproduksi, sehingga biaya dari aktivitas ini bervariasi sesuai dengan perubahan unit yang diproduksi. Contoh aktivitas pada level ini adalah, pengoperasian mesin dengan pemicu aktivitasnya jam mesin, perakitan dengan pemicu aktivitasnya jam tenaga kerja langsung, dan lain-lain. 2. Aktivitas tingkat kelompok (batch level activity), yaitu aktivitas yang dilaksanakan setiap kali batch (kelompok produk) diproduksi, sehingga biaya aktivitas ini bervariasi sesuai dengan jumlah batch. Tetapi biaya ini tidak dipengaruhi oleh jumlah unit yang ada dalam suatu batch. Contoh aktivitas dan pemicu aktivitas dalam level ini adalah set-up mesin, inspeksi, pemindahan bahan dengan pemicu aktivitasnya jam atau lamanya aktivitas tersebut. 3. Aktivitas tingkat produk (product level activity), yaitu aktivitas yang dilaksanakan untuk mendukung berbagai produk yang dihasilkan oleh perusahaan, sehingga biaya aktivitas ini bervariasi sesuai dengan jenis produk. Tetapi biaya ini tidak dipengaruhi oleh jumlah batch apalagi jumlah unit yang diproduksi dalam satu jenis produk. Contoh aktivitas pada level ini adalah pengembangan prosedur pengujian, desain, pemasaran dan lain-lain. Pemicu aktivitas pada level ini misalnya banyaknya jenis produk, banyaknya perubahan desain produk, jam desain dan lainlain. 4. aktivitas tingkat fasilitas (facility level activity), yaitu aktivitas yang dilaksanakan dalam rangka mempertahankan proses produksi seluruh pabrik. Biaya dalam level aktivitas ini tidak dipengaruhi oleh jenis produk, batch apalagi unit. Biaya dalam level ini benar-benar tidak dapat ditelusur ke produk, namun dalam beberapa kasus dapat dicari pemicu aktivitasnya. Contoh aktivitas c.

Emi Yulia Siska. Akuntansi Sektor Publik level fasilitas (pemicunya) adalah manajemen pabrik, landscaping, pendukung program komunitas, keamanan, pajak kekayaan, dan penyusutan pabrik. Adaptasi Konsep ABC dalam Organisasi Pemerintah ABC dalam konteks bisnis direkomendasikan untuk perusahaan yang memiliki diversifikasi produk atau perusahaan yang memiliki berbagai jenis produk dengan karakteristik yang sangat berbeda. Oleh karena itu sebelum mengadaptasi konsep ABC dalam konteks organisasi pemerintah, beberapa pertanyaan berikut harus di jawab. Pertanyaan pertama adalah apa yang dimaksud produk, dan unit output dari suatu produk dalam organisasi pemerintah? Pertanyaan kedua adalah apakah ada diversifikasi produk dalam organisasi pemerintah? Tujuan pemerintah adalah memberi pelayanan yang optimum (memuaskan dengan biaya tertentu sesuai dengan kapasitas yang dimiliki pemerintah) kepada masyarakat. Dalam konteks bisnis tujuan ini adalah laba. Untuk memperoleh laba perusahaan harus memproduksi produk untuk dijual. Dalam konteks organisasi pemerintah, proses produksi adalah membuat program dan menentukan jumlah biaya yang dibutuhkan oleh program tersebut. Untuk melaksanakan program tersebut dibuat beberapa jenis kegiatan, kegiatan ini akan dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang nantinya akan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat yang merupakan sasaran dari program. Jadi pelayanan yang optimal diperoleh dari pemanfaatan sumber daya manusia yang dimiliki dikurangi dengan semua pengeluaran yang digunakan untuk meningkatkan sumber daya manusia. Dengan gambaran tersebut, maka yang dimaksud dengan produk adalah jenis-jenis kegiatan yang dirancang untuk melaksanakan program. Sedangkan output adalah jumlah sumber daya manusia yang berhasil ditingkatkan kualitasnya melalui kegiatan tersebut. Untuk mencapai jumlah output tertentu, kadang-kadang tidak dapat dicapai dalam satu kegiatan, tetapi harus dilakukan beberapa kali kegiatan (batch) yang sejenis. Jenis-jenis kegiatan dalam organisasi pemerintah jumlahnya sangat banyak dan memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Misalnya kegiatan pelatihan dan pemberian bantuan merupakan contoh aktivitas/produk yang memiliki karakteristik berbeda. Dengan terjawabnya kedua pertanyaan tersebut, maka adaptasi konsep ABC dalam organisasi pemerintah dapat dilakukan. Untuk lebih jelasnya, berikut akan dihubungkan tingkatan kegiatan dalam konsep ABC dengan tingkatan kegiatan dalam organisasi pemerintah, yang dapat dilihat dalam tabel 2.1. d.

ILMIAH Volume 1 No. 3, 2009 Tabel 2.1. Gambaran Tingkatan Kegiatan dalam Organisasi Pemerintah
Level Activity dalam ABC Tingkatan aktivitas dalam organisasi pemerintah Aktivitas Belanja Facility Level Program Pelatihan Tingkat SKPD Product Level Macam Pelatihan: A B C Pegawai: Barang dan Jasa: Modal: Berapa jenis kegiatan Batch Level Unit Level Activity Pelatihan A di daerah X dengan peserta 50 orang Barang dan Jasa:

Emi Yulia Siska. Akuntansi Sektor Publik Pertama kita harus mengelompokkan aktivitas tersebut ke dalam 2 (dua) kelompok aktivitas,yaitu: batch dan unit.
Aktivitas tingkat batch belanja pegawai belanja sewa gedung belanja sewa sarana mobilitas belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor belanja perjalanan dinas Alasan pengelompokan: biaya dalam kelompok ini hanya dipengaruhi oleh frekuensi kegiatan dan tidak dipengaruhi secara langsung oleh output kegiatan Jumlah ini menjadi biaya tetap, biaya ini hanya akan berubah bila frekuensi kegiatan berubah Aktivitas tingkat unit belanja bahan habis pakai belanja makan dan minuman

di

Pegawai: Barang dan Jasa: Modal:

Pelatihan A di daerah: X Y Z Pegawai: Barang dan Jasa: Berapa kali kegiatan yang sejenis dilakukan

Pemicu

Jumlah Peserta

Alasan pengelompokan: biaya dalam kelompok ini hanya dipengaruhi secara langsung oleh output kegiatan, jika output bertambah maka biaya bertambah. Jumlah ini menjadi biaya variabel, dengan tarif variabel per unit diperoleh dengan membagi jumlah ini dengan jumlah output

Dalam organisasi bisnis Total Biaya = Biaya pada level facility + (Biaya pada level produk + biaya pada level batch + biaya pada level unit). Biaya per unit diperoleh dengan membagi total biaya dengan jumlah unit yang diproduksi. Hal ini karena dalam organisasi bisnis produk dibebani biaya pada semua level. Hal ini berbeda dalam konteks organisasi pemerintah. Biaya produk adalah biaya kegiatan. Untuk menghitung biaya kegiatan hanya dibebani biaya pada level batch dan level unit untuk setiap jenis kegiatan. Ini berarti persamaannya adalah: Y = a + b X, dimana: Y: Total Biaya a : biaya tetap (biaya dalam level batch) b : biaya variabel per unit output X : jumlah output Namun demikian jika mau ditarik ke tingkatan aktivitas yang lebih tinggi, maka akan diperoleh dua persamaan lagi, yaitu a. Pada Level Program Y = a + b1 X1 + b2X2 + b3X3 dimana: b. Pada Level Jenis Kegiatan Y = a + b1 X1 + b2X2 dimana: Untuk menemukan rumusan persamaan tersebut dapat dicari dengan menggunakan data masa lalu atau kalau tidak (belum) ada dapat digunakan dengan analisis teknik, berdasarkan tingkat kewajaran biaya yang mempertimbangkan VFM. Misalnya pada kegiatan bimbingan/ pelatihan teknis dengan output 50 0rang per kegiatan. Kegiatan ini mempunyai beberapa aktivitas rincian objek belanja terdiri dari aktivitas belanja pegawai, aktivitas belanja sewa gedung, aktivitas belanja bahan habis pakai, aktivitas belanja cetak dan penggandaan, aktivitas belanja sewa sarana mobilitas, aktivitas belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor, aktivitas belanja makan dan minuman, dan aktivitas belanja perjalanan dinas.

KONSEP BELANJA MENURUT PERMENDAGRI NO. 13 TAHUN 2006 Struktur APBD berdasarkan Permendagri No. 13 tahun 2006 terdiri atas: anggaran Pendapatan Daerah, anggaran Belanja Daerah dan anggaran Pembiayaan Daerah. Klasifikasi Kelompok, Jenis, Obyek dan Rincian Obyek pada anggaran Pendapatan dan anggaran Belanja SKPD sama dengan pengklasifikasian anggaran Pendapatan Daerah dan anggaran Belanja Daerah pada Struktur APBD. Pengklasifikasi belanja langsung dan belanja tidak langsung, ditujukan dalam rangka untuk memudahkan penilaian terhadap kewajaran biaya suatu program atau kegiatan. Dalam struktur anggaran SKPD, anggaran belanja langsung dibebankan pada Kelompok Belanja Langsung. Pembedaan Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung didasarkan dari pemikiran bahwa beberapa kelompok belanja tidak dapat diidentifikasikan indikator pencapaian kinerja. Beberapa belanja tidak dapat dihindarkan keberadaaannya walaupun hubungan antara jumlah rupiah yang dianggarkan dengan rencana capaian kinerja tidak dapat diidentifikasikan/ ditunjukkan. Pembebanan anggaran belanja langsung ke dalam anggaran SKPD lebih lanjut dibebankan ke dalam jenis belanja, dengan rincian sebagai berikut: (i) Anggaran belanja langsung untuk kegiatan yang outputnya berupa bukan barang modal (bukan aset tetap) atau kegiatan non investasi dalam struktur anggaran SKPD dibebankan dalam Jenis Belanja: (a) Belanja Pegawai (b) Belanja Barang dan Jasa. (ii) Anggaran belanja langsung untuk kegiatan yang outputnya berupa barang modal (aset tetap) atau kegiatan investasi dalam struktur anggaran SKPD dibebankan dalam Jenis Belanja: (a) Belanja Pegawai (b) Belanja Barang dan Jasa (c) Belanja Modal

ILMIAH Volume 1 No. 3, 2009 Dalam struktur anggaran SKPD, anggaran belanja tidak langsung dibebankan pada Kelompok Belanja Tidak Langsung. Pembebanan anggaran belanja tidak langsung lebih lanjut dibebankan ke dalam jenis Belanja Pegawai, Belanja Bunga, Belanja Hibah, Belanja Subsidi, Belanja Bantuan Sosial, Belanja Bagi hasil, Belanja Bantuan Keuangan, dan Belanja Tidak Terduga. a. Karakteristik Kegiatan Pada hakekatnya, ASB adalah menentukan jumlah rupiah yang paling atau mendekati efesien untuk suatu setiap kegiatan yang di anggarkan. Jumlah rupiah ini menjadi standar dalam penilaian kewajaran anggaran yang diajukan. Untuk menentukan kewajaran biaya tiaptiap kegiatan, maka kegiatan-kegiatan dikelompokkan dulu untuk memudahkan penentuan kewajaran biaya, karena kegiatankegiatan mempunyai karakteristik yang berbeda. Berdasarkan bentuk output (keluaran) kegiatan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar kegiatan yaitu: a.1. Kegiatan yang Menghasilkan Barang Fisik Karakateristik kegiatan-kegiatan dalam kelompok besar kegiatan fisik ini akan menghasilkan keluaran dalam bentuk barang yang berwujud (fisik). Keberadaan wujud (fisik) barang tersebut dapat dilihat kasat mata, dapat dirasa dan dapat diraba dengan alat pancaindera manusia. Kelompok besar kegiatan ini biasa disebut dengan kegiatan fisik. Ada dua jenis kegiatan yang dapat dikatagorikan sebagai kegiatan fisik, yaitu: a.1.1. Kegiatan dalam rangka untuk pengadaan/ pembelian aset tetap Kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini bertujuan untuk membeli atau mengadakan/ membangun sendiri barang yang dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah Daerah lebih dari satu tahun. Jumlah rupiah pembelian/ pengadaan sendiri barang dan belanja-belanja lain yang terjadi dalam kegiatan tersebut akan dilaporkan sebagai aset tetap dalam neraca pemerintah daerah. Terdapat dua jenis biaya pada kegiatan dalam rangka untuk pengadaan/ pembelian aset, yaitu: i. Harga pembelian barang atau jumlah rupiah yang dikeluarkan untuk membuat/ membangun barang. Biaya tersebut dalam Permendagri No. 13 tahun 2007 disebut sebagai belanja pengadaan/ pembelian aset tetap. ii. Biaya-biaya selain belanja pengadaan/ pembelian aset tetap yang dikeluarkan untuk dalam rangka pelaksanaan kegiatan tersebut. Biaya ini biasanya disebut sebagai biaya administrasi proyek. Gabungan kedua jenis belanja yaitu belanja pengadaan/ pembelian aset tetap dan biaya administrasi proyek adalah total belanja modal.

Emi Yulia Siska. Akuntansi Sektor Publik Jumlah rupiah yang dilaporkan sebagai aset tetap dalam neraca pemerintah daerah. Harga pembelian barang atau jumlah rupiah yang dikeluarkan untuk pembuatan/ pembangunan barang dihitung dengan cara mengalikan harga satuan dengan volume. Dengan asumsi harga satuan merupakan standar yang efisien maka harga pembelian atau pembuatan barang sudah efesien. Pada kegiatan dalam rangka pengadaan/ pembelian aset tetap yang patut ditentukan standar biaya efesiensi adalah pada jenis biaya administrasi proyek. Untuk menentukan standar biaya yang efisien untuk biaya administrasi proyek dengan mempertimbangkan standar pemberian honorarium yang ditetapkan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas). a.1.2 Kegiatan dalam rangka Pemeliharaan Aset Tetap Kegiatan ini bertujuan: 1. untuk menjaga/ memelihara aset tetap yang dimiliki daerah tetap memiliki manfaat atau agar aset tetap tidak berkurang manfaatnya; 2. untuk meningkatkan manfaat dari aset tetap pemerintah daerah; 3. untuk mempertahankan/ meningkatkan umur ekonomis.

Mirip seperti kegiatan pengadaan/ pembelian aset tetap, ada jenis belanja yang dianggarkan dalam kegiatan ini, yaitu: Jumlah rupiah yang dikeluarkan untuk memelihara aset tetap pemerintah daerah. Biaya-biaya selain jumlah rupiah tersebut di atas yang dikeluarkan untuk dalam rangka pelaksanaan kegiatan tersebut. Biaya ini biasanya disebut sebagai biaya administrasi proyek. Jumlah rupiah yang dikeluarkan untuk memelihara aset tetap pemerintah daerah dihitung dengan cara mengalikan harga satuan dengan volume. Dengan asumsi harga satuan merupakan standar yang efisien maka harga pembelian atau pembuatan barang sudah efesien. Pada kegiatan dalam rangka pemeliharaan aset tetap yang patut ditentukan standar biaya efesiensi adalah pada jenis biaya administrasi proyek. Untuk menentukan standar biaya yang efisien untuk biaya administrasi proyek dengan mempertimbangkan standar pemberian honorarium yang ditetapkan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas). Kegiatan Non Fisik Ada dua jenis kegiatan yang dapat dikatagorikan sebagai kegiatan non Fisik, yaitu: - Kegiatan dalam rangka memenuhi kebutuhan rutin organisasi Karakteristik kegiatan ini adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan harian atau bulanan

ILMIAH Volume 1 No. 3, 2009 (rutin/ periodik) dalam satu tahun anggaran sebagai konsekuensi dari kewajiban Pemerintah Daerah secara periodik kepada Pegawai/ Personalia yang bersifat Tetap, dan kewajiban untuk pengeluaran belanja lainnya (misalnya untuk kegiatan pengadaan Barang/ Jasa, Pemeliharaan dan Perjalanan Dinas) yang umumnya diperlukan secara periodik. Untuk memudahkan pemahaman, kegiatan-kegiatan tersebut dikatagorikan sebagai Kegiatan Periodik. Karakteristik kegiatan periodik, antara lain sebagai berikut: 1. Dianggarkan dalam rangka memenuhi kebutuhan periodik atau rutin tiap-tiap SKPD. 2. Jumlah rupiah belanja rutin/ periodik agak sukar dihubungkan secara langsung dengan output capaian kinerja tertentu. Walaupun sukar mengidentifikasikan output dari kegiatan periodik, pada hakekatnya, tujuan penganggaran kegiatan periodik adalah untuk memenuhi kebutuhan rutin harian/ bulanan SKPD sehingga pelaksanaan tugas pokok fungsi SKPD dapat berjalan lancar. Kinerja tiap-tiap SKPD dalam menjalankan tugas pokok fungsi seharusnya bisa dikaitkan dengan pencapaian sasaran tahunan pada Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) atau paling tidak pemenuhan Standar Pelayanan Minimum (SPM) tiap SKPD. Sehingga besaran rupiah yang dianggarkan pada kegiatan pemenuhan kebutuhan periodik seharusnya dapat dihubungkan dengan dengan indikator kinerja sasaran tahunan RKPD. Semakin besar target indikator kinerja akan membutuhkan dana/ jumlah rupiah anggaran yang lebih besar. Penentuan biaya yang efesien bagi kegiatan untuk pemenuhan kebutuhan periodik atau rutin adalah dengan meregresikan total biaya periodik untuk suatu kegiatan dengan realisasi target pencapaian indikator pada RKPD. Data tersebut ada pada Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). Bila capaian target indikator kinerja sukar untuk diidentifikasikan maka diganti dengan angka pada standar pelayanan minimum. Harus diakui bahwa penentuan indikator kinerja pada sasaran RKPD atau SPM bukan merupakan penelusuran langsung (direct tracing) yang menggunakan hubungan langsung sebabakibat, tetapi secara logika hubungan antara indikator kinerja (atau SPM) dengan belanja untuk kebutuhan rutin dapat dibenarkan. Seharusnya ada sebuah ukuran atau indikator yang mengukur tingkat keberhasilan penganggaran kegiatankegiatan untuk kebutuhan rutin. Selama ukuran/ indikator yang mengukur kinerja kegiatan rutin belum diterima baku maka harus ada indikator yang lain yang dapat menggantikan/ atau mewakili walaupun bukan ukuran terbaik. - Kegiatan dalam Non Fisik dan Non Periodik

Emi Yulia Siska. Akuntansi Sektor Publik Kegiatan ini berkaitan langsung dengan pelaksanaan tugas pokok fungsi SKPD, selain kegiatan pengadaan/ pembelian aset, dalam rangka mencapai sasaran yang ditetapkan dalam RKPD. Karakteristik kegiatan dalam kelompok ini adalah : Keluaran (output) kegiatan yang dihasilkan dari kegiatan ini tidak berwujud aset tetap; Kegiatan ini tidak dalam rangka memenuhi kebutuhan rutin harian/ bulanan SKPD; Kegiatan ini memuat jenis belanja pegawai dan belanja barang jasa. Uraian belanja pada kelompok kegiatan ini memiliki perilaku yang berbeda-beda. Misalnya pada kegiatan pelatihan, belanja cetak dan penggandaan memiliki perilaku sebagai biaya variabel, tetapi belanja sewa gedung memiliki perilaku sebagai biaya step. Pada kelompok kegiatan ini, harga satuan dikalikan volume, tidak langsung menjadi standar yang efesien untuk tiap kegiatan, karena beberapa belanja tidak terkait langsung dengan volume kegiatan atau pemicu biaya. Titik berat ASB adalah pada penentuan secara tepat standar biaya untuk setiap kegiatan yang ada. KESIMPULAN Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Analisis Standar Belanja (ASB) merupakan instrumen untuk menilai kewajaran anggaran belanja kegiatan yang diajukan oleh tiap-tiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). 2. Penilaian kewajaran belanja dalam ASB bertujuan agar anggaran yang dihasilkan merupakan anggaran yang efisien dan ekonomis, dimana ASB menjadi standar dalam pengukuran efisiensi untuk penganggaran belanja tiap kegiatan. 3. Ada 2 metoda penentuan biaya per unit (costing) yang dapat digunakan dalam penyusunan ASB yaitu: a. metoda penentuan biaya per unit tradisional (traditional costing), dan b. metoda penentuan biaya per unit berdasar aktivitas (activity based costing). DAFTAR PUSTAKA Hilton, Ronald W. 2008. Managerial Accounting (Edition 7th). McGraw Hill International. Meighs & Meighs. 1990. Accounting: The Basic for Business Decision (Eight Edition) McGraw Hill International. Peraturan Pemerintah (PP) No. 6 Tahun 1976 Tentang Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah, dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja. Peraturan Pemerintah (PP) No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah

ILMIAH Volume 1 No. 3, 2009 yang Khusus Mengatur Pengelolaan Keuangan Pada Tingkat Pemerintah Daerah. Peraturan Menteri Dalam Negeri (PERMENDAGRI) No. 13 Tahun 2006

Emi Yulia Siska. Akuntansi Sektor Publik Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Samiaji Sarosa. 2009. Sistem Informasi Akuntansi. Jakarta: Grasindo.