Anda di halaman 1dari 15

JAMINAN DAN AGUNAN PEMBIAYAAN

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Aspek-Aspek Hukum Perbankan Syariah

Disusun Oleh : Kelompok 9 Ahmad Syaugi Ari Hijrianto Gilang Fatwa 1111046100105 1111046100119 1111046100146

Dosen Pembimbing : Muhammad Maksum S.Ag.

PERBANKAN SYARIAH 5D FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2013/2014
Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan Page 1

BAB I PENDAHULUAN

Bank merupakan partner masyarakat dibidang keuangan, sehingga bank dijadikan sebagai tempat untuk melakukan berbagai transaksi yang berhubungan dengan keuangan. Meningkatnya kebutuhan masyarakat muslim Indonesia terhadap dunia perbankan, sehingga dibutuhkan lembaga-lembaga keuangan yang operasionalnya berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Pada tahun 1998 disahkanlah Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undangundang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang secara tegas dikatakan bahwa sektor perbankan di Indonesia terdiri dari dua macam yaitu bank konvensional dan bank berdasarkan prinsip syariah baik pada bank umum maupun bank perkreditan rakyat. Hal ini antara lain dinyatakan dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Perbankan, bahwa bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah. Sedangkan pada Pasal 1 ayat (4) menyatakan bahwa Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah. Prinsip syariah adalah perjanjian bedasarkan Hukum Islam antar bank dan pihak lain untuk menyimpan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan penyertaan modal (musyarakah), prinsip jual beli dengan memperoleh keuntungan (murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina). Berdasarkan penjelasan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, kegiatan usaha yang berdasarkan prinsip syariah antara lain adalah kegiatan usaha yang tidak mengandung unsur : Riba, Maisyir, Gharar, Haram dan Zalim. Secara garis besar, prinsip-prinsip pembiayaan pada perbankan syariah terbagi ke dalam empat kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu : pembiayaan dengan
Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan Page 2

prinsip jual beli, pembiayaan dengan prinsip sewa, pembiayaan dengan prinsip bagi hasil, pembiayaan dengan akad pelengkap Agunan merupakan jaminan tambahan (accessoir), dimana tujuan agunan ini adalah untuk mendapatkan fasilitas dari bank. Jaminan ini diserahkan oleh debitur oleh pihak yang membutuhkan dana pada bank. Dalam hukum Islam, seluruh mazhab hukum syariah tidak membenarkan meminta jaminan untuk akad yang bertujuan untuk melakukan transaksi berdasarkan kemitraaan. Namun dalam perbankan syariah, ada akad yang disebut dengan rahn, yang mengandung maknanya tetap dan tertahan. Bank syariah mengenakan agunan atau jaminan pada beberapa pembiayaan yang dikembangkannya. Alasan utama adanya agunan pada bank syariah adalah untuk melaksanakan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan dana pihak ketiga. Disamping tujuan tersebut , jaminan dalam pembiayaan murabahah bertujuan agar nasabah mampu menanggung kerugian akibat kelalaian nasabah karena setiap manusia bertanggung jawab atas perbuatannya dan kelalaian akibat perbuatan seseorang tidak dapat dibebankan kepada pihak lain.

Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan

Page 3

BAB II PEMBAHASAN Pengertian Jaminan dan Agunan Istilah Jaminan adalah terjemahan dari kata Zekerheid atau Cautie yaitu kemampuan debitur untuk memenuhi atau melunasi perutangannya kepada kreditor, yang dilakukan dengan cara menahan benda tertentu yang bernilai ekonomis sebagai tanggungan atas pinjaman atau utang yang diterima debitur terhadap krediturnya. Menurut UU NO.14/1967 (Tentang Perbankan) arti jaminan diberi istilah Agunan atau Tanggungan. Menurut UU NO.7/1992 diubah menjadi UU NO.10/1998 (Tentang Perbankan) arti jaminan yaitu keyakinan atas iktikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan perjanjian. Pasal 8 UU no 10 tahun 1998 jaminan adalah keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan. Sedangkan agunan adalah jaminan tambahan yang diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, baik berupa benda bergerak maupun benda tidak bergerak yang diserahkan oleh pemilik agunan kepada bank syariah, guna menjamin pelunasan kewajiban Nasabah Penerima Fasilitas (collateral). Jaminan dalam pembiayaan memilki dua fungsi yaitu: 1. Untuk pembayaran hutang seandainya terjadi wanprestasi atas pihak ketiga yaitu dengan jalan menguangkan atau menjual jaminan tersebut.

Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan

Page 4

2. Sebagai akibat dari fungsi pertama, atau sebagai indikator penentuan jumlah pembiayaaan yang akan diberikan kepada pihak debitur. Pemberian jumlah pembiayaan tidak boleh melebihi nilai harta yang dijaminkan. Menurut Prof Soebekti jaminan yang baik dapat dilihat dari:1 1. Dapat membantu memperoleh pembiayaan bagi pihak ketiga Tidak melemahkan potensi pihak ketiga untuk menerima pembiayaan guna meneruskan usahanya. Memberikan kepastian kepada bank untuk mengeluarkan pembiayaan dan mudah diuangkan apabila terjadi wanprestasi . Kedudukan jaminan dalam pembiayaan sebagai penguat bagi bank untuk menggelontorkan pembiayaan pada pihak ketiga diperbolehkan dalam fiqih. Penjaminan ini dikategorikan sebagai Rahn. Rahn yaitu menahan barang sebagai jaminan atas utang diperbolehkan dengan dasar hukum : 2 1. Al-quran ( Qs. Al Baqarah 283 Jika kamu dalam perjalanan ( dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh penulis, maka hendaknya ada barang tanggungan yang dipegang ( oleh yang berpiutang) 1. Hadits Hadits riwayat Bukhori dan Muslim dari Aisyah r.a berkata:

Prof Soebekti, Jaminan-Jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, Bandung : Alumni, h. 29.

DSN Mui, Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI,Jakarta : BI-MUI, 2006. h.150-152

Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan

Page 5

Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah membeli makanan dengan berutang dari seorang yahudi dan nabi menggadaikan sebuah baju beji kepadanya 1. Hadits nabi riwayat al-Syafii Al Daraquthni dan Ibnu majah dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda : Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Ia memperoleh manfaat dan menanggung resikonya. 1. Ijma Para ulama sepakat membolehkan akad Rahn asalkan barang yang digadaikan adalah sepenuhnya hak milik pihak ketiga. Dan pemberi gadai boleh memanfaatkan barang gadai secara penuh sepanjang tidak mengakibatkan berkurangnya nilai barang gadai tersebut. Namun ulama madzab Hambali berpendapat bahwa penerima gadai tidak boleh memanfaatkan barang gadai. Jaminan dalam pembiayaan bank syariah menempati posisi pendukung atau penguat bagi bank untuk memberikan pembiayaan bagi pihak ketiga. Akan tetapi sebaiknya jaminan bukanlah syarat mutlak pemberian pembiayaan melainkan sebagai penguat dari penilaian analisa kemampuan bayar dari pihak ketiga yang diperoleh dari penilaian aset dan usaha yang dijalankan oleh pihak ketiga ( debiturs). 1. Penilaian / taksasi ( Appraisal ) jaminan Jaminan yang diberikan selanjutnya perlu dilakukan appraisal guna mengetahui seberapa besar nilai harta yang dijaminkan. Penilaian atau appraisal didefinisikan sebagai proses menghitung atau mengestimasi nilai harta jaminan. Proses dalam memberikan suatu estimasi didasarkan pada niali ekonomis suatu harta jaminan baik dalam bentuk properti berdasarkan hasil analisa faktafakta obkjektif dan relevan dengan menggunakan metode yang berlaku. Barang jaminan dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu : 1. Tangible ( berwujud) seperti tanah, kendaraan, mesin, bangunan dll

Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan

Page 6

2. Intangible ( tidak berwujud) seperti hak paten, Franchise (Hak suara), merek dagang, Hak cipta dll 3. Surat-surat berharga. Adapun dasar penilaian sebuah jaminan di dasarkan atas beberapa hal yaitu : 1. Nilai Pasar ( Market Value) yaitu perkiraan jumlah uang yang dapat diperoleh dari transaksi jual beli atau hasil penukaran suatu properti pada tanggal penilaian antara pembeli yang berminat membeli dan penjual yang berminat menjual dalam suatu transaksi bebas ikatan yang penawarannya dilakukan secara layak dimana kedua belah pihak masing-masing mengetahui dan bertindak hati-hati tanpa paksaan 2. Nilai Baru ( reproduction) adalah nilai baru atau biaya penggantian baru adalah perkiraan jumlah uang yang dikeluarkan untuk pengadaan pembangunan / penggantian properti baru yang meliputi biaya, upah buruh dan biaya-biaya lain yang terkait. 3. Nilai Wajar (Depreciated Replacement cost) adalah perkiraan jumlah uang yang diperoleh dari perhitungan biaya reproduksi baru dikurangi biaya penyusutan yang terjadi karena kerusakan fisik, kemunduran ekonomis dan fungsional 4. Nilai Asuransi adalah nilai perkiraan jumlah uang yang diperoleh dari eral perhitungan biaya pengganti baru dari bagian-bagian properti yang perlu diasuransikan dikurangi penyusutan karena kekurangan fisik 5. Nilai Likuidasi adalah perkiraan jumlah uang yang diperoleh dari transaksi jual beli properti dipasar dalam waktu terbatas dimana penjual terpaksa menjual. 6. Nilai Buku adalah nilai aktiva yang dicatat dalam pembukuan yang dikurangi dengan akumulasi penyusutan atau pengembalian niali-nilai aktiva. Kedudukan jaminan atau kolateral bagi pembiayaan memiliki karakteristik khusus. Tidak semua properti atau harta dapat dijadikan jaminan pembiayaan, melainkan harus memenuhi unsur MAST yaitu:3 1. Marketability yakni adanya pasar yang cukup luas bagi jaminan sehingga tidak sampai melakukan banting harga
3

Budi Untung, Kredit Perbankan Di Indonesia, Yogyakarta: Andi, h. 58


Page 7

Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan

2. Ascertainably of value yakni jaminan harus memiliki standar harga tertentu 3. Stability of value yakni harta yang dijadikan jaminan stabil dalam harga atau tidak menurun nilainya 4. Transferability yaitu harta yang dijaminkan mudah dipindah tangankan baik secara fisik maupun yuridis 5. Secured yakni barang yang dijaminkan dapat diadakan pengikatan secara yuridis formal sesuai dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku apabila terjadi wanprestasi. Selanjutnya Jaminan akan diikat dengan hukum pengikatan. Hal ini mengacu pada surat edaran Bank Indonesia ( SE-BI) No 4/248/UPPK/PK tanggal 16 Maret 1972 disebutkan untuk bendabenda yang tidak bergerak memakai lembaga jaminan hipotik , Hak Tanggungan dan fiducia. Analisis Agunan Pembiayaan4 Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam analisis jaminan/agunan pembiayaan adalah: 1. Fungsi Agunan. Agunan (collateral) dapat dikatakan sebagai unsur pengaman lapis kedua (the second way out) bagi bank dalam setiap pemberian pembiayaan. Hal ini perlu diingat karena bagaimanapun baiknya analisis terhadap watak, kemampuan, permodalan, kondisi serta prospek usaha pemohon, apabila pembiayaan menjadi bermasalah, sumber pembayaran terakhir yang diharapkan oleh bank adalah dari penjualan agunan. Oleh karena itu, penilaian terhadap agunan wajib dilakukan sesuai penilaian prinsip kehati-hatian dan menggambarkan objektivitas penilaian yang wajar atas agunan pembiayaan yang dimaksud. 2. Agunan Pokok. Sesuai dengan penjelasan pasal 8 UU RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan perubahannya pada UU RI No. 10 Tahun 1998, tersurat bahwa agunan pokok adalah agunan yang pengadaannya bersumber dari dana pembiayaan bank. Agunan ini dapat berupa barang proyek atau hak tagih. Pengertian proyek atau hak tagih harus diartikan sebagai seluruh usaha yang dibiayai dengan pembiayaan sebagai satu kesatuan yang meliputi aset perusahaan (baik aktiva lancar maupun sebagai aktiva tetap). Aset tersebut di atas termasuk yang langsung dibiayai dengan pembiayaan maupun yang tidak langsung dibiayai dengan pembiayaan. Agunan bank dapat hanya berupa agunan pokok tersebut apabila berdasarkan aspek-aspek lain dari 5 C

http://coopast-exsist.blogspot.com/2011/11/agunan.html

Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan

Page 8

pembiayaan

telah

diperoleh

keyakinan

atas

kemampuan

pemohon

untuk

melunasi

pembiayaannya. Untuk jenis-jenis pembiayaan tertentu, dimungkinkan dilakukan penggantian agunan pokok dengan agunan lain yang mempunyai nilai likuiditas lebih tinggi. 3. Agunan Tambahan. Agunan tambahan adalah agunan yang tidak termasuk dalam agunan pokok di atas. Sebagai contoh agunan tambahan adalah aktiva tetap di luar proyek yang dibiayai, surat berharga, garansi risiko, jaminan pemerintah, lembaga penjamin dan lain-lain. Agunan tambahan menjadi wajib dipenuhi apabila pejabat pemrakarsa dan atau pemutus berdasarkan analisis atas watak, kemampuan modal, kondisi dan prospek usaha pemohon ditambah dengan agunan pokok yang ada, belum merasa yakin bahwa pemohon akan mampu membayar pembiayaan sesuai yang diperjanjikan. 4. Agunan Pembiayaan Konsumsi. Mengingat pengembalian pembiayaan konsumsi pada umumnya sulit diharapkan dari hasil penggunaan pembiayaan, dengan demikian agunannya diutamakan bersumber dari gaji, gaji pensiun, penghasilan lain, maupun aktiva tetap lainnya. Analisa Agunan/Jaminan (Collateral) dalam Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah5 Dalam pembiayaan mudharabah, bank menyediakan pembiayaan modal investasi atau modal kerja secara penuh atau 100 %, sedangkan nasabah atau pengelola dana menyediakan proyek atau usaha lengkap dengan manajemennya tanpa campur tangan bank, namun bank mempunyai hak untuk melakukan pengawasan. Keuntungan yang diperoleh dalam pembiayaan mudharabah dilakukan melalui tingkat perbandingan rasio (nisbah), sedangkan jika terjadi kerugian, bank yang menanggungnya kecuali jika kerugian itu dikarenakan kelalaian dan kesalahan nasabah, maka kerugian itu ditanggung oleh nasabah. Sedangkan pada musyarakah pihak bank menyediakan sebagian dari pembiayaan bagi usaha tertentu dan sebagian disediakan oleh mitra usaha. Pada pembiayaan musyarakah, bank dapat ikut serta dalam proses manajemen usaha yang dibiayainya. Pembagian keuntungan pada prinsipnya didasarkan atas prosentase modal yang diberikan masing-masing pihak, yakni pihak bank dan nasabah. Adapun jika terjadi kerugian, masing-masing pihak ikut menanggung kerugian sebanding dengan penyertaan

http://mhugm.wikidot.com/artikel:011

Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan

Page 9

modalnya, kecuali jika kerugian itu akibat kelalaian atau kesalahan nasabah, maka kerugian tersebut ditanggung oleh nasabah. Hal penting lainnya yang perlu disinggung adalah berkenaan dengan jaminan. Pasal 8 UU 10/1998 menyatakan kewajiban bagi bank dalam memberikan pembiayaan syariah, mempunyai keyakinan berdasarkan analisis mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan Nasabah Debitur mengembalikan pembiayaan. Terdapat lima pokok yang perlu dikaji seksama oleh Bank sebelum memberi fasilitas pembiayaan terhadap nasabahnya, yakni: watak, kemampuan, modal, agunan dan prospek usaha. Agunan merupakan salah satu kewajiban yang dipersyaratkan Undang-undang untuk diperjanjikan antara Bank dengan Nasabahnya dalam pembiayaan. Agunan sendiri ditetapkan menjadi 2 jenis, yang wajib serta agunan tambahan. Agunan wajib dapat hanya berupa barang, proyek atau hak tagih yang dibiayai dengan pembiayaan. Sedangkan agunan tambahan adalah barang yang tidak berkaitan langsung dengan obyek yang dibiayai. Dalam perspektif syariah, pengambilan jaminan diperkenankan. Prinsip Rahn, dalam prakteknya biasa dipergunakan baik sebagai perjanjian untuk menggadaikan barang atau sebagai jaminan. Secara tradisional, pengecualian hanya ditentukan atas akad yang bersifat bagi hasil, yakni: Mudharabah dan Musyarakah. Artinya untuk Mudharabah dan Musyarakah, jaminan bagi pengembalian modal merupakan hal yang tidak sah. Namun perkembangan di dalam praktek perbankan syariah, dan telah masuk ke dalam peraturan perundangan-undangan, jaminan bagi Mudharabah dan Musyarakah pun diperkenankan. Fatwa DSN No. 07/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh) menyatakan pada Ketetapan Pertama: Ketentuan Pembiayaan butir 7: Pada prinsipnya, dalam pembiayaan mudharabah tidak ada jaminan, namun agar mudharib tidak melakukan penyimpangan, Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dapat meminta jaminan dari mudharib atau pihak ketiga. Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad. Kemudian di Ketentuan nomor 3 huruf a butir 3 Fatwa DSN No. 08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah, menyatakan:
Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan Page 10

Pada prinsipnya, dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan, namun untuk menghindari terjadinya penyimpangan, LKS dapat meminta jaminan. Begitu pun dalam PBI 7/46/PBI/2005 Pasal 6 huruf o untuk Mudharabah dan Pasal 8 huruf o untuk Musyarakah, menetapkan: Bank dapat meminta jaminan atau agunan untuk mengantisipasi risiko apabila nasabah tidak dapat memenuhi kewajiban sebagaimana dimuat dalam akad karena kelalaian dan/atau kecurangan. Kesimpulan dari ketentuan-ketentuan tersebut adalah Bank dalam memberikan pembiayaan Mudharabah atau Musyarakah diperkenankan mengambil jaminan, tetapi pencairannya hanya dapat dilakukan bilamana Nasabah: terbukti melakukan pelanggaran (penyimpangan) terhadap syarat dan kondisi akad; lalai; dan/atau curang.

Hal ini berarti, khusus untuk pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah, jaminan tidak berfungsi sebagai Second Way-Out, pengganti pengembalian modal yang ditanamkan Bank di usaha/proyek Nasabah. Tetapi sebagai ganti rugi adanya pelanggaran, kelalaian dan kecurangan Nasabah. Faktor analisis resiko inilah yang membedakan fungsi jaminan dalam pembiayaan Mudharabah/Musyarakah dengan pembiayaan lain terutama yang berbasis jual beli (Murabahah, Salam, Istishna) atau Kredit. Murabahah atau Kredit misalnya, bilamana pengembalian macet dengan alasan apapun, bank dapat meminta pengganti dana yang dikeluarkannya dengan pencairan jaminan/agunan. Selebihnya berkenaan dengan penjaminan, terutama permasalahan administrasi pendaftaran serta pencatatan (security attachment), adalah sama sebagaimana penjaminan pada umumnya.

Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan

Page 11

KESIMPULAN

Istilah Jaminan adalah terjemahan dari kata Zekerheid atau Cautie yaitu kemampuan debitur untuk memenuhi atau melunasi perutangannya kepada kreditor, yang dilakukan dengan cara menahan benda tertentu yang bernilai ekonomis sebagai tanggungan atas pinjaman atau utang yang diterima debitur terhadap krediturnya.

Sedangkan agunan adalah jaminan tambahan yang diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, baik berupa benda bergerak maupun benda tidak bergerak yang diserahkan oleh pemilik agunan kepada bank syariah, guna menjamin pelunasan kewajiban Nasabah Penerima Fasilitas (collateral).

Jaminan dalam pembiayaan memilki dua fungsi yaitu: 1. Untuk pembayaran hutang seandainya terjadi wanprestasi atas pihak ketiga yaitu dengan jalan menguangkan atau menjual jaminan tersebut. 2. Sebagai akibat dari fungsi pertama, atau sebagai indikator penentuan jumlah pembiayaaan yang akan diberikan kepada pihak debitur. Pemberian jumlah pembiayaan tidak boleh melebihi nilai harta yang dijaminkan.

Dasar-dasar hukum jaminan : 1. Al-quran surat Al Baqarah 283 2. Hadits riwayat Bukhori dan Muslim, Hadits nabi riwayat al-Syafii Al Daraquthni dan Ibnu majah dari Abu Hurairah, 3. Ijma Para ulama sepakat membolehkan akad Rahn asalkan barang yang digadaikan adalah sepenuhnya hak milik pihak ketiga. Pemberi gadai boleh memanfaatkan barang gadai secara penuh sepanjang tidak mengakibatkan berkurangnya nilai barang gadai tersebut

Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan

Page 12

Jaminan dalam pembiayaan bank syariah menempati posisi pendukung atau penguat bagi bank untuk memberikan pembiayaan bagi pihak ketiga. Akan tetapi sebaiknya jaminan bukanlah syarat mutlak pemberian pembiayaan melainkan sebagai penguat dari penilaian analisa kemampuan bayar dari pihak ketiga yang diperoleh dari penilaian aset dan usaha yang dijalankan oleh pihak ketiga

Barang jaminan dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu : 1. Tangible ( berwujud) seperti tanah, kendaraan, mesin, bangunan dll 2. Intangible ( tidak berwujud) seperti hak paten, Franchise (Hak suara), merek dagang, Hak cipta dll 3. Surat-surat berharga. dasar penilaian sebuah jaminan di dasarkan atas beberapa hal yaitu : 1. Nilai pasar (Market value) 2. Nilai baru (Reproduction) 3. Nilai wajar 4. Nilai asuransi 5. Nilai likuidasi 6. Nilai buku hal-hal yang perlu diperhatikan dalam analisis jaminan/agunan pembiayaan adalah: 1. Fungsi Agunan. Agunan (collateral) dapat dikatakan sebagai unsur pengaman lapis kedua (the second way out) bagi bank dalam setiap pemberian pembiayaan. 2. Agunan Pokok. Sesuai dengan penjelasan pasal 8 UU RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan perubahannya pada UU RI No. 10 Tahun 1998, tersurat bahwa agunan pokok adalah agunan yang pengadaannya bersumber dari dana pembiayaan bank. 3. Agunan Tambahan. Agunan tambahan adalah agunan yang tidak termasuk dalam agunan pokok di atas. Sebagai contoh agunan tambahan adalah aktiva tetap di luar

Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan

Page 13

proyek yang dibiayai, surat berharga, garansi risiko, jaminan pemerintah, lembaga penjamin dan lain-lain. 4. Agunan Pembiayaan Konsumsi. Mengingat pengembalian pembiayaan konsumsi pada umumnya sulit diharapkan dari hasil penggunaan pembiayaan, dengan demikian agunannya diutamakan bersumber dari gaji, gaji pensiun, penghasilan lain, maupun aktiva tetap lainnya. Bank dalam memberikan pembiayaan Mudharabah atau Musyarakah diperkenankan mengambil jaminan, tetapi pencairannya hanya dapat dilakukan bilamana Nasabah:

1. terbukti melakukan pelanggaran (penyimpangan) terhadap syarat dan kondisi akad; 2. lalai; dan/atau

3. curang.

Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan

Page 14

DAFTAR PUSTAKA

Prof Soebekti, Jaminan-Jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, Bandung : Alumni, h. 29. DSN Mui, Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI,Jakarta : BI-MUI, 2006. h.150-152 Budi Untung, Kredit Perbankan Di Indonesia, Yogyakarta: Andi, h. 58 http://coopast-exsist.blogspot.com/2011/11/agunan.html http://mhugm.wikidot.com/artikel:011

Makalah Kelompok 9 Pembahasan Jaminan dan Agunan Pembiayaan

Page 15

Anda mungkin juga menyukai