Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Jamu atau obat tradisional sangat besar peranannya dalam pelayanan kesehatan masyarakat dan sangat potensial untuk dikembangkan. Menurut Notoatmodjo, 2007, jamu adalah sebutan untuk obat tradisional yang dibuat dari bahan-bahan alami berupa bagian dari tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dan bahan-bahan tersebut, yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Obat tradisional atau biasa disebut jamu merupakan salah satu pilihan yang cukup diminati oleh masyarakat masa kini dalam menyembuhkan penyakit atau menjaga kesehatan. Pembuatan obat tradisional ini umumnya berasal dari tanaman-tanaman tertentu karena memiliki kandungan zat yang berkhasiat. Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan obat tradisional di negara maju adalah usia harapan hidup yang lebih panjang, adanya kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu diantaranya kanker, serta semakin luas akses informasi mengenai obat tradisional di seluruh dunia. Khasiat alamiah dan kemurnian obat-obatan tradisional seringkali dinodai oleh pihakpihak yang tidak bertanggung jawab terutama produsen obat tradisional yang hanya mencari keuntungan finansial saja tanpa memperhatikan kemurnian dan resiko dari kandungan obat tradisional (Lusia, 2012)

Pencampuran bahan kimia obat dalam jamu atau obat tradisional telah diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 246/MENKES/PER/V/1990 tentang izin usaha industri obat tradisional dan pendaftaran obat tradisional. Di dalam peraturan ini di sebutkan bahwa sediaan obat tradisional tidak diperkenankan mengandung BKO (Bahan Kimia Obat) karena penambahan bahan kimia obat sembarangan dan secara liar berbahaya bagi kesehatan (Lusia, 2012). Salah satu jenis bahan kimia obat yang sering ditambahkan dalam jamu adalah piroksikam. Piroksikam sendiri memiliki efek analgetik dan anti inflamasi, hal ini dimanfaatkan oleh produsen jamu yang tidak bertanggung jawab untuk meningkatkan penjualan, dikarenakan konsumen menyukai produk jamu tradisional yang bereaksi cepat pada tubuh. Piroksikam dicampurkan dalam jamu dimaksudkan untuk menjadikan jamu berkhasiat secara instan. Pengunaan piroksikam secara sembarangan (tidak sesuai dosis) dalam jangka panjang dapat menyebabkan diare, penglihatan kabur, anoreksia dan hipertensi. Berdasarkan rilis dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM) tahun 2012, telah ditemukan 29 macam produk jamu yang mengandung Bahan Kimia Obat. Diantaranya jamu asam urat yang positif mengandung piroksikam yaitu dengan merek Remansyah Serbuk, Rhemalin, Pegal Linu Asam Urat Akar Dewa, Pegal Linu Cap Kuda Laut, Jamu Encok Asam Urat Akar Dewa Rasa Manis dan Rasa Pahit dan Pegel Linu Asam Urat Akar Dewa Serbuk.

Beberapa masyarakat di kota Makassar pada umumnya menggunakan jamu (sebagai pengobatan alternatif) karena mereka menganggap jamu relatif lebih aman dibanding obat sintesis, dengan alasan kepercayaan akan obat tradisional tersebut memiliki efek samping sangat kecil, bebas membeli, mudah di dapat dan harga terjangkau. Salah satu jamu yang banyak digunakan masyarakat adalah jamu asam urat.

B. Rumusan masalah Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu apakah jamu asam urat yang beredar di kota Makassar mengandung piroksikam? C. Tujuan Penelitian Mengidentifikasi adanya piroksikam dalam jamu asam urat yang beredar di kota Makassar. D. Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang keberadaan BKO (Bahan Kimia Obat) dalam jamu yang beredar di kota Makassar dan sebagai masukan kepada pihak yang berwenang (Badan POM) untuk mengkaji lebih lanjut. Serta sebagai informasi kepada masyarakat tentang jamu yang mengandung piroksikam.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

Obat Tradisional Obat tradisional dapat diartikan juga sebagai obat-obatan yang diolah secara tradisional, turun temurun berdasarkan resep nenek moyang, adat-istiadat, kepercayaan atau kebiasaan setempat baik bersifat magic maupun pengetahuan tradisional juga sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor sosial (kekeluargaan), faktor ekonomi (biaya), faktor budaya dan faktor kemudahan (Notoatmodjo, 2007). Obat tradisional adalah salah satu upaya pengobatan dan dimanfaatkan oleh masyarakat dengan tujuan untuk memelihara kesehatan dan menjaga kebugaran jasmani (promotif), mencegah penyakit (preventif),pengobatan penyakit (kuratif)dan untuk memulihkan kesehatan (rehabilitatif) (Notoatmodjo, 2007) Adapun persyaratan untuk mendaftarkann obat tradisional menurut permenkes RI/No.246/MENKES/PER/V/1990 dimaksud dalam pasal obat tradisional yaitu secara pengalaman terbukti aman dan bermanfaat untuk manusia. Bahan obat tradisional dan proses produksi yang digunakan telah memenuhi syarat yang ditetapkan dan tidak mengandung bahan kimia sintetik atau yang berkhasiat sebagai obat serta tidak mengandung bahan yang tergolong obat keras atau narkotik.

B. Bahan Kimia Obat Dalam Jamu Beberapa jenis jamu dinilai berbahaya karena didalamnya terkandung bahan kimia obat (BKO). Menurut temuan badan POM, obat tradisional yang sering dicemari BKO umumnya adalah obat tradisional yang digunakan pada penyakit-penyakit tertentu seperti tabel berikut : (Yuliarti, 2008) Kegunaan Obat Tradisional Pegal Linu/Encok/Rematik BKO yang sering ditambahkan Fenilbutazon, Metampiron, diklofenak sodium, piroksikam, parasetamol,

prednison atau deksametason Pelangsing Peningkat stamina/obat kuat pria Kencing manis/diabetes Sesak nafas/asma Sibutramin hidroklorida Sildenafil sitrat Glibenklamid Teofilin

Bahan Kimia Obat yang diidentifikasi terkandung dalam OT (Obat Tradisional) tersebut menunjukkan tren yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pada kurun waktu 2001-2007 temuan OT-BKO (obat tradisional berbahan kimia obat) menunjukkan tren ke arah obat rematik dan penghilang rasa sakit antara lain obat tradisional mengandung bahan obat Fenilbutason, Metampiron, Parasetamol, dan Asam Mefenamat. Sedangkan pada periode 2008 pertengahan 2011 temuan OT-BKO menunjukkan perubahan tren ke arah obat

pelangsing dan obat penambah stamina/aprodisiaka antara lain mengandung bahan obat Sibutramin, Sildenafil, dan Tadalafil (Lusia,2012) Mengenai OT-BKO, Dr. dr. Ari F Syam, Praktisi Klinis dari

Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM menjelaskan bahwa dari 21 jenis obat tersebut, ternyata tujuh mengandung zat kimia berupa obat anti radang non steroid (fenilbutason, piroksikam atau natrium diklofenak). Obat-obat yang terkandung dalam obat tradisional ini merupakan anti nyeri terutama untuk nyeri sendi dengan kerja kuat, tetapi tentu mempunyai efek samping kuat pula untuk saluran cerna atas terutama lambung dan usus dua belas jari (Lusia, 2012). Lebih lanjut efek samping yang ditimbulkan juga mulai dari luka permukaan, erosi bahkan luka yang dalam pada lambung atau usus dua belas jari (tukak pektikum). Secara klinis orang yang mengkonsumsi obat-obat ini merasakan tidak nyaman di sekitar ulu hati, nyeri atau panas ulu hati bisa disertai mual maupun muntah-muntah. Efek samping yang lebih berat antara lain berupa terjadinya perdarahan saluran cerna atas sampai timbul kebocoran pada lambung maupun usus dua belas jari (Lusia, 2012).

C. Piroxicam Menurut FI edisi IV (Depkes, 1995) piroxicam dapat di uraikan sebagai berikut : Nama Resmi Nama lain : Piroxicanum : Piroksikam

Nama Kimia

: 4 Hidroksi - 2metil N 2 piridil - 2H - 1,2 benzotiazin 3 - karboksamida1,1 dioksida

Rumus Molekul

: C15H13N3O4S

Rumus Bangun Berat Molekul Pemerian

: : 331,35 : Serbuk, hampir putih atau coklat terang atau kuning terang; kuning. tidak berbau, bentuk monohidrat berwarna

Kelarutan

: Sangat sukar larut dalam air, dalam asam-asam encer dan sebagian besar pelarut organik; sukar larut dalam etanol dan dalam larutan alkali mengandung air.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya.

Indikasi zat ini adalah penyakit inflamasi sendi misalnya arthritis rheumatoid, osteoarthritis, spondilitis ankilosa, dengan dosis 10-20 mg sehari. Efek samping tersering adalah gangguan saluran cerna, tukang lambung, dan efek samping yang ringan berupa pusing, rinitus, nyeri kepala dan eritem kulit. Zat ini tidak boleh digunakan pada wanita hamil, penderita tukak lambung, dan penderita yang sedang meminum antikoagulan (ISO, 2013)

D. Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi adalah cara pemisahan campuran yang didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam dapat berupa zat padat sedangkan fase gerak dapat berupa zat cair atau gas. Jenis-jenis kromatografi yang bermanfaat dalam analisis kualitatif dan analisis kuantitatif adalah kromatografi kertas, krmatografi kolom, kromatografi gas, kromatografi cair kinerja tinggi dan kromatografi lapis tipis (KLT) (Sastrohamijojo, 2007). Pemisahan secara KLT dikembangkan oleh Ismailoff dan schraiberpada tahun 1938. Tekhniknya menggunakan penyokong fase diam berupa lapisan tipis seperti lempeng kaca, aluminium atau pelat inert. Fase diam (adsorben) yang digunakan biasanya silika gel yang dapat langsung atau dicampur dengan bahan perekat misalnya kalsium sulfat untuk dilapiskan pada pelat. Pada pemisahannya fase gerakakan membawa komponen campuran sepanjang fase diam pada pelat, sehingga terbentuk kromatogram dimana pemisahan yang terjadi berdasarkan adsorpsi dan partisi (Yazid, 2005). Tekhnik kerja KLT menurut Auterhoff, 2002, dilakukan dengan cara menaikkan eluen pada pelat yang dicelupkan ke dalam pelarut pengembang. Sedangkan untuk melihat komponen penyusun yang sudah terpisah secara pengeluesi, dilakukan pengamatan lempeng melalui cahaya ultraviolet yang memberikan fluorensi pada lempeng. Dimana identifikasi senyawa yang tidak

berwarna pada lempeng dilihat di bawah lampu UV 254 yang ditandai ada atau tidaknya fluoresensi (Khopkar, 2005). Adapun teknik standar dari KLT dimulai dari penyiapan lempeng, dimana lempeng diaktifkan terlebih dahulu dengan cara dimasukkan ke dalam oven pada suhu 105c selama 30 menit, lalu chamber dijenuhkan dengan cara mencampur larutan elusi kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang sesuai, tutup rapat, kocok lalu tuang ke da;am chamber bertutup rapat. Sebelumnya chamber dilapisi dengan kertas saring lalu diisi cairan elusi kemudian tutup rapat selama 1 jam pada suhu kamar, setelah jenuh kertas saring dikeluarkan. Selanjutnya larutan uji yaitu larutan baku pembanding dan larutan sampel ditotolkan kira-kira 1,5 cm dari bagian bawah lempeng dimana jika sudah melewati batas yang diberikan, maka lempeng dikeluarkan dari chamber lalu di keringkan di udara (Roth, 1988). Kromatografi lapis tipis mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan kromatografi kertas diantaranya dapat menghasilkan pemisahan yang lebih sempurna, kepekaan yang lebih tinggi artinya meskipun jumlah sampel kecil (sedikit) masih dapat di deteksi, dapat dilakasanakan dengan mudah dan lebih cepat dan biaya relatif murah dengan bahan yang mudah dipakai serta ketelitian dan ketepatan yang memadai (Yazid, 2005). Identifikasi dari senyawa-senyawa yang terpisah pada kromatografi lapis tipis umumnya menggunakan harga Rf (Retardation faktor) yang didefinisikan sebagai berikut:

Rf =

Jarak titik pusat bercak dari titik awal Jarak pelarut dari titik awal

Dimana angka Rf bernilai antar 0,00 dan 1,00 hanya dapat ditentukan dengan dua angka desimal dimana jika angka Rf lebih tinggi dari Rf yang dinyatakan, kepolaran pelarut harus dinaikkan (Stahl egon, 1985). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan noda dalam KLT yang juga dapat mempengaruhi harga Rf diantara yaitu struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan, sifat dari penyerapan dan derajat aktifitasnya, tebal dan kerataan dari lapisan penyerap, pelarut dan derajat kemurniaannya, derajat kejenuhan dari uap bejana pengembangan yang digunakan, teknik percobaan, jumlah cuplikan yang digunakan, suhu ruang saat elusi dan kesetimbangan.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasi laboratorium untuk mengidentifikasi piroksikam pada beberapa jamu asam urat. B. Tempat dan waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia, Jurusan Farmasi, Politeknik Kementrian Kesehatan, Makassar. C. Alat dan Bahan 1. Alat yang digunakan : a. Batang pengaduk b. Beker gelas 100 ml c. Chamber d. Corong biasa e. Kertas saring f. Labu ukur 10. 50, 100 ml g. Labu erlenmeyer 250 h. Lampu UV 254 nm i. Lempeng silika gel j. Oven k. Pipet tetes l. Sendok tanduk

m. Tabung reaksi n. Timbangan analitik o. Tissu p. Vial 2. Bahan yang digunakan : a. Air suling b. Beberapa sampel jamu asam urat merek A, B, C, D dan E c. Kloroform d. Metanol e. Piroksikam (baku pembanding) D. Pengambilan Sampel Penelitian Sampel jamu asam urat diambil sebanyak 5 merek yang berbeda dari beberapa toko jamu yang ada di makassar. E. Pembuatan Larutan 1. Larutan Sampel Masing-masing sampel diambil satu bungkus lalu masukkan ke dalam gelas piala 100 ml, lalu tambahkan 50 ml air kocok sampai homogen. Saring ke dalam Erlenmeyer. Residu diambil lalu dibagi menjadi dua bagian dan dimasukkan dalam beker gelas yang berbeda. Masing-masing dilarutkan dengan 10 ml etanol dan 10 ml kloroform. Fraksi kloroform di saring, filtrat di uapkan di water bath hingga kering dan sisa kering dilarutkan dengan 1 ml

etanol. Sedangkan fraksi etanol disaring, kemudian filtrat diuapkan hingga hampir kering ( 1 ml). Kedua farksi larutan tersebut siap untuk dianalisis. 2. Larutan Baku Pembanding Ditimbang piroksikam sebanyak baku sebanyak 30 mg, dilarutkan dalam 10 ml etanol. Kemudian larutan siap untuk di analisis. 3. Larutan Pengelusi Dibuat larutan pengelusi kloroform-metanol dengan pembanding 1:9, yaitu dengan cara mengukur 1 ml kloroform dan 9 ml metanol, kemudian campur kedua pelarut tersebut ke dalam labu erlenmeyer 250 ml tutup rapat, kocok lalu tuang ke dalam chamber bertutup rapat. F. Pengujian KLT Larutan sampel dan larutan baku ditotolkan pada lempeng silica gel yang sama yang telah diaktifkan sebelumnya dengan cara lempeng dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105C selama 30 menit. Dimana lempeng silica gel berukuran 1 cm x 6 cm, batas bawah lempeng berjarak 1 cm dan batas atas 0,5 cm. Kemudian lempeng dimasukkan ke dalam chamber yang berisi cairan elusi yang telah dijenuhkan terlebih dahulu dengan kertas saring dengan cara kertas saring di masukkan ke dalam chamber yang telah berisi larutan elusi lalu ditutup rapat. Penjenuhan diakhiri setelah larutan elusi telah mencapai tinggi dari kertas saring. Setelah mencapai garis elusi, lempeng dikeluarkan dari chamber dan dilihat jumlah dan warna noda yang sejajar yang nampak pada lampu UV 254. Noda yang tampak di tandai dan diamati.

G. Pengumpulan Data Data dari hasil identifikasi yang diperolah berupa bercak warna pada permukaan lempeng yang tampak di bawah lampu UV, di amati lalu buat pembahasan serta kesimpulan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL Berdasarkan hasil penelitian dalm beberapa jamu asam urat mengenai keberadaan piroksikam dengan metode kromatografi lapis tipisdiperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 1: Hasil identifikasi piroksikam dalam beberapa jamu asam urat dengan pelarut kloroform secara KLT menggunakan elusi kloroform-metanol (1:9) Pengamatan No 1 2 3 4 5 Nama Pembanding A1 B1 C1 D1 Warna Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning Rf 0,77 0,68 0,67 0,76 0,77 Hasil Positif Positif Positif Positif Positif

Catatan : (+) mengandung piroksikam (-) tidak mengandung piroksikam

Tabel 2 : Hasil identifikasi piroksikam dalam beberapa jamu asam urat dengan pelarut etanol secara KLT menggunakan elusi kloroform-metanol (1:9) Pengamatan No 1 2 3 4 5 Nama Pembanding (P) A2 B2 C2 D2 Warna Kuning kehijauan Kuning kehijauan Kuning kehijauan Kuning kehijauan Kuning kehijauan Rf 0,72 0,72 0,77 0,62 0,72 Hasil Positif Positif Positif Positif Positif

Catatan : (+) mengandung piroksikam (-) tidak mengandung piroksikam

B. PEMBAHASAN Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berupa empat merek jamu asam urat yang berbeda dalam bentuk serbuk, dimana jamu asam urat ini yang paling sering dikonsumsi masyarakat dengan harga yang terjangkau di satu toko jamu di Kota Makassar. Untuk memastikan ada atau tidaknya kandungan piroksikam dalam sampel jamu tersebut, maka dilakukan pemeriksaan secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Dimana KLT merupakan suatu metode yang dapat memisahkan suatu campuran secara sederhana, mudah, cepat dan hemat biaya. Sebagaimana jamu yang mengandung bahan kimia obat dianggap berbahaya bagi masyarakat sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi adanya piroksikam dalam jamu asam urat. Identifikasi dilakukan dengan cara satu bungkus sampel jamu asam urat dimasukkan ke dalam gelas piala 100 ml, lalu tambahkan 50 ml etanol kocok sampai homogen. Lalu disaring ke dalam erlenmeyer, residu dibagi menjadi dua bagian dan dimasukkan dalam beker gelas yang berbeda. Masing-masing dilarutkan dengan 10 ml etanol dan 10 ml kloroform. Kemudian disaring dalam cawan lalu diuapkan di atas water bath. Kedua fraksi diidentifikasi secara KLT menggunakan eluen kloroform-metanol 1:9 Dari hasil KLT ke empat jamu asam urat tersebut menunjukkan harga Rf dari kedua fraksi berbeda-beda. Dengan pelarut etanol harga Rf sampel A1=B1P, C1=D1= P. Sedangkan pada pelarut kloroform harga Rf sampel

A2=D2=P, B2C2P. Ini disebabkan karena adanya pengaruh senyawa lain yang ada pada sampel, tetapi warna tiap totolan sampel menghasilkan warna kuning jika dilihat dari sinar UV254. Warna kuning yang sama dihasilkan dengan pelarut etanol maupun dengan pelarut kloroform, dimana sampel yang diidentifikasi dikatakan positif mengandung piroksikam jika memiliki warna noda dan ukuran Rf yang sama dengan larutan baku. Hasil dari penelitian yang dilakukan pada ke empat sampel jamu asam urat yang diidentifikasi menunjukkan adanya piroksikam di dalam jamu tersebut. Berdasarkan dari hasil tersebut, piroksikam yang terkandung dalam jamu asam urat ini merupakan anti nyeri terutama untuk nyeri sendi dengan kerja kuat, sehingga tentu mempunyai efek samping kuat pula untuk saluran cerna atas terutama lambung dan usus dua belas jari jika dosis yang digunakan sembarangan atau tidak sesuai(Lusia, 2012).

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka disimpulkan bahwa : Ke empat sampel jamu asam urat yang diidentifikasi positif mengandung piroksikam. B. Saran 1. Perlu dilakukan penelitian pada jamu asam urat lainnya karena kemungkinan mengandung BKO yang berbahaya bagi kesehatan (parasetamol, ibuprofen, dll) 2. Agar instansi yang terkait (BBPOM) dapat melakukan pengawasan yang lebih efektif sehingga produk-produk jamu yang mengandung bahan kimia obat tidak beredar lagi dipasaran.

Lampiran 1 SKEMA KERJA

Sampel + 50 ml air
(disaring)

Residu

Filtrat (fraksi etanol)

Filtrat (fraksi kloroform)

Larutan Baku

Uji KLT

ditotolkan pada lempeng dielusi dengan CH3Cl3 : methanol (1 : 9)

Noda diamati

Pengumpulan Data

Pengolahan Data

Kesimpulan

Lampiran 2

DAFTAR PUSTAKA Auterhoff dan Kovar, 2002, Identifikasi Obat, Terbitan kelima. Penerbit ITB, Bandung. Hal 34-35, 123. Departemen Kesehatan, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Jakarta Departemen Kesehatan, 1990, Peraturan No.246/Menkes/Per/V/1990, Jakarta Menteri Kesehatan RI

Khopkar, S.M, 2003, Konsep Dasar Kimia analitik. Penerbit UI, Jakarta. Hal 128 Lusia, 2012. Marak Penambahan Obat rematik dalam Obat Tradisional, http://health.kompas.com. Diakses 15 Februari 2013. Notoatmojo, S, 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. PT. Rineka Cipta Jakarta. Roth, H dkk, 1988. Analisis Farmasi. Penerbit Gadjah mada University, Yogyakarta, hal. 419 Stahl Egon, 1985, Analisis Obat Secara Kromatografi Dan Mikroskopi. Penerbit ITB, hal. 3-4 Sastrohamidjojo, H, 2007. Kromatografi Liberty. Yogyakarta. Hal 34-36. Yazid, E., 2005, Kimia Fisika Untuk Paramedis, ANDI, Yogyakarta, halm., 193, 194, 209. Yuliarti, Nurheti, 2008. Tips Cerdas Mengkonsumsi Jamu. Penerbit Banyu Media, Yogyakarta.