Anda di halaman 1dari 10

Doubling Time (DT) adalah waktu yang dibutuhkan sebuah massa tumor untuk tumbuh mencapai ukuran 2 kali

lipat. Ditentukan ukuran tumor saat pemeriksaan pertama dan kedua dalam volume, dan ditentukan interval waktu antara pemeriksaan pertama dan kedua. DT = 0, !"#$ % dimana % = ln &# ' ln&0 T# ' T0 DT = Doubling Time &0 = volume tumor pada saat pemeriksaan pertama &# = volume tumor pada saat pemeriksaan kedua T# ' T0 = interval waktu antara pemeriksaan pertama dan pemeriksaan kedua (dalam hari), biasanya adalah "0 hari. &olume tumor diukur dengan rumus ( & = )*" +abc a, b, dan c adalah radius tumor diukur dari tiga aksis tumor ,erdasarkan doubling time, maka dapat digolongkan sebagai berikut ( #. -ast growing ( doubling time sampai dengan "0 hari 2. .ntermediate growing ( doubling time "# ' !0 hari ". /low growing ( doubling time lebih dari !0 hari. 0arsinogenesis 0anker adalah suatu penyakit dimana ter1adi prole2erasi sel yang tidak terkontrol (Devita). 0anker ter1adi karena adanya kerusakan gen yang mengatur pertumbuhan dan de2erensiasi sel. 3danya mutasi ini dapat menimbulkan salah atur ( lebih atau kurang aturan). 4en yang mengatur pertumbuhan dan de2erensiasi sel itu disebut protoonkogen dan supersor gen. 5rotoonokogen yang telah mengalami mutasi sehingga dapat menimbulkan kanker disebut onkogen. 5ada kanker ter1adi tran2ormasi protoonkogen dan supresor gen sehingga ter1adi perubahan dalam cetakan protein dari yang telah diprogramkan semula, sehingga

ter1adi kekeliruan transkripsi dan translasi gen dan tebentuklah protein abnormal yang lepas kendali dari pengaturan normal, koordinasi pertumbuhan dan de2erensiasi sel. 5roses karsinogenesis adalah proses bertahap (multi6step proses), sedikitnya ada " tahapan, yaitu ( #. .nisiasi Dimana sel normal berubah men1adi premaligna. 5ada tahapan ini karsinogen bereaksi dengan D73, sehingga ter1adi ampli2ikasi gen (8ontoh ( gen 9:;2 sering mengalami over ekspresi sehingga ter1adi ampli2ikasi gen pada payudara). 2. 5romosi 5romotor adalah <at non mutagen tetapi dapat menaikkan reaksi karsinogen dan tidak menimbulkan amplikasi gen. /uatu promoter yang terkenal adalah eter6phorbol terdiri atas T53 (Tetradecanoyl 5horbol 3cetate) dan ;53 ( #2 ;etinol 5horbol 3cetate) yang terdapat pada minyak kroton. Dapat mengubah ekspresi gen seperti ( hyperplasia, induksi en<im dan induksi de2erensiasi. ". 5rogresi 5ada proses ini dapat ter1adi =utasi atau hilangnya gen. /aat progresi ini timbul perubahan dari binigna men1adi pra6maligna dan maligna. Dalam karsinogenesis ada " mekanisme yang terlibat ( a. Onkogen yang dapat menginduksi timbulnya kanker b. Tumor supresor gen yang dapat mencegah timbulnya kanker. c. 4en modulator yang dapat mempengaruhi ekspresi karakteristik gen dan mempengaruhi penyebaran kanker.

,ila ada kerusakan gen, tubuh berusaha mereparasi atau memperbaiki transkripsi gen yang rusak itu. 0erusakan transkripsi itu mungkin dapat atau tidak dapat diperbaiki lagi. ,ila transkripsi itu dapat diperbaiki dengan sempurna maka pada replikasi berikutnya terbentuklah sel baru yang normal. Tetapi bila tidak dapat diperbaiki dengan sempurna dengan sempurna akan terbentuklah sel baru yang de2ekti2. >alaupun sel itu de2ekti2 masih tetap ada usaha memperbaiki kerusakan transkripsi. ,ila berhasil akan terbentuk pula sel yang abnormal, yaitu sel yang mengalami mutasi, yang lama6kelamaan dapat men1adi sel kanker yang ganas. Karsinogen
Metabolisme

Ultimate Karsinogen
Reaksi dengan DNA

DNA Karsinogen Kompleks Reparasi Sempurna Direparasi ;eplikasi DNA Normal Reparasi Tidak Sempurna ;eplikasi DNA Rusak Pada sel anak DNA Normal Tidak Dapat ;eplikasi Mutasi (Trans2ormasi) DNA Tumor

3da beberapa teori karsinogenesis untuk menerangkan bagaimana kanker ter1adi, teori6teori itu didasarkan atas ( #. =utasi /omatik

0arena mutasi gen yaitu perubahan urutan letak nukleotida dalam utas untai D73, maka ter1adi perubahan kode genetik. .ni menimbulkan produksi abnormal, sehingga regulasi pertumbuhan dan de2erensiasi sel terganggu, men1adi lepas dari regulasi normal dan sel dapat tumbuh tanpa batas. 2. 5enyimpangan Di2erensiasi /el (Teori :pigenetik) =enurut teori epigenetic kanker timbul karena kerusakan anti6onkogen atau supresor gen sehingga onkogen yang represi2 men1adi mani2est. ". 3ktivasi &irus =enurut teori ini kanker ter1adi karena ada in2eksi virus yang menyisipkan gennya kedalam D73 inang yang dapat mengakti2kan protoonkogen men1adi onkogen. ). /eleksi sel Dalam menyeleksi sel mana yang boleh terus hidup dan berkembang, ter1adi kekeliruan. Disini ada sel yang mengalami mutasi atau trans2ormasi yang lepas dari seleksi dan terus berkembang men1adi sel kanker. 0anker dapat disebabkan ( #. 2. 0ongenital atau konstitusi genetika, dapat berupa ( 0erusakan struktural, 2ungsional dan sistem ker1a. 0arsinogen 3da beberapa karsinogen a. 0arsinogen 0imiawi ( 3lami dan buatan. b. /inar .onisasi ( /inar ini dapat mengionisasi air dan elektrolit dalam 1aringan (/inar ? dan @& ) c. &irus ( 3da " 1enis virus yang dapat menyebabkan kanker ( D73 virus, ;73 virus dan ;etro virus) d. 9ormon e. .ritasi kronik Aingkungan hidup ( 5eker1aan, Tempat tinggal dan 4aya hidup.

5eran hormonal pada proses karsinogenesis #. 4onadotropin 9ipotesis gonadotropin adalah hipotesis hormonal pertama yang men1elaskan patogenesis keganasan pada kandungan. 9ipotesis ini menyatakan bahwa keganasan kandungan berkembang sebagai konsekuensi stimulasi 1aringan yang berlebihan oleh hormon gonadotropin kelen1ar pituitary (A9, -/9). :2ek dari gonadotropin dapat berupa aktivasi gen gonadotropin-responsive di dalam sel yang kemudian bertrans2ormasi maligna, atau secara tidak langsung melalui stimulasi produksi steroid yang dapat menyebabkan trans2ormasi maligna. /e1umlah data penelitian yang ada tentang e2ek hormon gonadotropin terhadap proli2erasi dan trans2ormasi maligna menunu1ukkan hasil yang berbeda ' beda, sebagian studi menun1ukkan hasil peningkatan proli2erasi dan sebagian lainnya menun1ukkan tidak ada e2ek, sehingga hipotesis gonadotropin in belum dapat disimpulkan. 2. 3ndrogen /e1umlah penelitian in vitro menun1ukkan peningkatan proli2erasi sel organ kandungan dari sel yang normal setelah pemberian hormon androgen. Dalam studi eksperimental, pemberian hormon testosteron menstimulasi pertumbuhan sel epitel pada ovarium, yang menghasilkan pembentukan kista dan adenoma pada parenkim ovarium dan papiloma pada permukaan ovarium. ". :strogen :strogen berperan pada perkembangan endometriosis dan tumor clear cell pada ovarium. Aesi endometrium telah ditun1ukkan memiliki aberasi molekular yang memiliki ekspresi tinggi terhadap estradiol dan aromatase. Dalam se1umlah studi didapatkan estrogen adalah 2aktor risiko etiologi yang telah established untuk carsinoma pada ovarium dan carsinoma pada endometrium, dan dalam beberapa studi pada tumor clear cell. .nsidensi ter1adinya tumor endometrium dan clear cell yang menun1ukkan gambaran plateau sesudah menopause 1uga mendukung peranan etiologik estrogen pada pembentukan keganasan kandungan tersebut. ). 5rogesteron

/e1umlah penelitian menun1ukkan bahwa progesteron mungkin dapat melindungi dari perkembangan tumor kandungan. /ebuah studi menun1ukkan bahwa komponen progestin dari obat kontrasepsi oral memiliki e2ek apoptosis yang kuat terhadap epitel ovarium, yang dapat dimediasi dengan mengubah growth factor dan up-regulation dari ekspresi gen p$". /elain itu, studi 1uga menun1ukkan bahwa obat kontrasepsi oral kombinasi dengan potensi progestin yang tinggi memberikan perlindungan yang lebih besar dibandingkan obat yang potensi progestin rendah. Disimpulkan, level progesteron dapat berhubungan terbalik dengan angka risiko keganasan kandungan namun masih harus dikon2irmasi lagi dengan studi epidemiologi lebih lan1ut. 4ambaran @/4 mamma untuk tumor yang maligna 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 tepi ireguler densitas meningkat atau asimetri tidak ada hipoekoik halo ada posterior shadowing bilateral edge shadowing bisa B*6 distorsi parenkimal 8D/ ( peningkatan vaskularisasi Aesi taller than wider 0alsi2ikasi * mikrokalsi2ikasi ,isa multisentrik /kin thickening * penebalan kulit Distorsi parenkim pada 2ibroglandular bentuk bulat central hilar echo (6) parenkim hipoekoik

4ambaran lim2adenopati yang ganas * metastastik (

,;:3/T 8C7/:;&3T.C7 T9:;35D ,8T adalah mengangkat tumor dan 1aringan sekitarnya yang secara histologis tepi6 tepi 1aringan bebas sel kanker dengan mempertahankan 2aktor kosmetik payudara. ;adioterapi ad1uvant diberikan pada ,8T. Dang termasuk ,8T adalah segmental mastectomy, lumpectomy, tylectomy, wide local eEcision dengan atau tanpa deseksi aEilla. /yarat untuk ,8T ( 6 6 6 6 6 6 6 penderita cukup berpendidikan untuk mengerti risiko 1enis pembedahan ini, dan untung ruginya dibandingkan mastektomi dapat dilakukan 2ollow up yang teratur lokasi tumor di peri2ir (tidak di sentral) besar tumor proporsional dengan besar payudara, 1ika tidak harus langsung dilakukan rekonstruksi untuk mencapai kosmetik yang baik tumor tidak multi2okal dan multisentris (mamogra2i, =;.) pasien belum pernah mendapat radioterapi pada dada dan tidak menderita penyakit kolagen terdapat sarana dan 2asilitas yang baik untuk pemeriksaan patologi dan radioterpi 0ontraindikasi ,8T 0ontraindikasi 3bsolut ( 6 kehamilan adalah kontraindikasi absolut karena akan dilakukan radioterapi ad1uvant. 7amun, dalam banyak kasus dapat dilakukan ,8/ pada kehamilan trimester ke tiga dan memberikan radioterapi ad1uvan sesudah persalinan 6 6 pasien dengan dua atau lebih tumor primer pada kuadran yang berbeda pada payudara atau dengan mikrokalsi2ikasi bukanlah kandidat untuk ,8T riwayat terapi radiasi terdahulu pada regio payudara yang akan membutuhkan terapi ulang dengan dosis total radiasi yang sangat tinggi bukanlah kandidat untuk ,8T 6 batas operasi yang masih persisten posti2 mengandung sel tumor setelah upaya operasi yang dirasa cukup, suatu batas operasi yang masih positi2 secara mikroskopis membutuhkan peneriksaan lebih 1auh. 0ontraindikasi ;elati2 (

riwayat penyakit vaskular kolagen merupakan kontraindikasi relati2 karena pasien dengan penyakit ini menoleransi iradiasi dengan buruk. 5enyakit scleroderma dan lupus eritematosus 1uga merupakan kontraindikasi.

6 6

adanya tumor yang multiple pada kuadran yang sama dan kalsi2ikasi indeterminate haruslah dipertimbangkan dapat men1adi kandidat untuk ,8T ukuran tumor bukanlah kontraindikasi absolut untuk ,8T, meskipun sangat 1arang dilaporkan ,8T dilakukan pada tumor berukuran lebih dari ) cm. Dang harus dipertimbangkan adalah proporsional ukuran tumor yang besar terhadap payudara yang kecil, dimana operasi yang adekuat akan membutuhkan rekonstruksi untuk keperluan kosmetik. 5ada kasus seperti ini, dapat dipertimbangkan kemoterapi neoad1uvan

ukuran payudara bisa men1adi kontraindikasi relati2. Terapi iradiasi pada payudara yang besar dapat dilakukan bila terdapat alat dan tehnik untuk mendapatkan dosis radiasi yang adekuat.

5ersiapan pre operative 6 6 6 anamnesis pemeriksaan 2isik pemeriksaan penun1ang 6 laboratorium 6 pemeriksaan penun1ang ( @/4 mamma, mammogra2i, breast =;., 8T scan, pemeriksaan untuk staging ( E 2oto thoraE dan @/4 abdomen 5enggunaan @/4 dan mammogra2i untuk diagnosis tumor mamma telah lama digunakan, menggunakan kategori ,.6;3D/ (,reast .maging ;eporting and Data /ystem). 0ategori ,.6;3D/ adalah ( 0( .ncomplete, need 2urther eEamination #( 7egative 2( ,enign 2inding "( 5robably benign )( /uspicious abnormality $( 9ighly suggestive o2 malignancy ( 0nown biopsy ' proven malignancy

,reast =;. telah dipergunakan secara luas belakangan ini, dan dilaporkan memiliki sensitivitas hampir mencapai #00F untuk mendeteksi tumor payudara. 0arenanya breast =;. potensial berguna untuk mendeteksi lesi multisentris, ekstensi tumor payudara primer, dan sekarang men1adi standar mana1emen untuk screening pasien dengan metastasis aEilla dari tumor primer yang okult untuk preservasi payudara. ,entuk khusus dari 8T scan telah dikembangakan untuk imaging payudara dan dipergunakan secara luas untuk membedakan lesi unisentris dengan multisentris untuk mengoptimalisasi pemilihan kandidat ,8T. 5enelitian @ematsu menggunakan 8T scan helical " dimensi dapat menggambarkan volume lumpektomi dan memperkirakan batas positi2 dari tumor. Tehnik ini 1uga dilaporkan meningkatkan keberhasilan lumpektomi untuk ca lobular invasi2. ,reast conserving surgery Terdiri dari ( G G G Aumpektomi B diseksi aEilla Aumpektomi B /entinel node biopsy Huadrantectomy Bdiseksi aEilla

5ada ,8/ dilakukan eksisi tumor primer dengan atau tanpa diseksi aEilla, dilakukan atau tidaknya diseksi aEilla tergantung dari positi2 tidaknya sentinel node, yang di .ndonesia hanya dapat dilakukan di senter tertentu dengan 2asilitas pemeriksaan dengan radioakti2 (lymphatic mapping dan sentinel node biopsy) -ro<en section batas ' batas tumor. 3pabila eksisi tumor atau lumpektomi dilakukan tanpa pemeriksaan batas ' batas, maka operasi lebih lan1ut (re6eksisi) bisa diperlukan bila masih terdapat batas positi2 tumor. /edangkan bila batas ' batasnya negati2, maka tidak diperlukan operasi lebih lan1ut. /ementara bila didapatkan batas positi2 yang persisten, maka dapat dipertimbangkan untuk dilakukan mastektomi. 5enelitian menun1ukkan pentingnya 2ro<en section intra operati2 untuk batas ' batas operasi dalam mereduksi perlunya dilakukan operasi lan1utan. 5ada kasus ' kasus dimana tumor payudara berukuran sangat kecil atau tidak dapat dipalpasi, telah dikembangakan penggunaan @ltrasound intra operati2. /e1umlah studi melaporkan tehnik penggunaan ultrasoun2 intraoperati2 untuk melokalisasi tumor tuntuk memandu operator melakukan eksisi tumor payudara yang tidak dapat

dipalpasi. Tehnik ini disebut .ntraoperative @ltrasonographically 4uided :Ecisioned biopsy (.@4:). /ebuah studi menun1ukkan keberhasilan penggunaan @/4 untuk menentukan batas ' batas operasi, meskipun ada beberapa kasus (),IF kasus) dimana pasien memerlukan operasi ulang karena batas operasi yang masih positi2 tumor dan batas yang terlalu dekat (kurang dari # mm). 5ost Cperative Therapy 5ada ,8/ diberikan ;adioterapi sebagai pengobatan ad1uvan, yang prinsipnya adalah terapi lokoregional (penyinaran pada payudara, kelen1ar aEilla dan supraclavicula). Tu1uan pemberian radioterapi pasca ,8/ bertu1uan mengurangi risiko berkembangnya tumor rekuren. 5emberian radioterapi dengan dosis standar adalah $0 4y, dapat dilakukan booster bila ( potensial residi2 (pasca ,8/ dengan batas yang dekat tumor, tambah #0 4y), dan terdapat residu massa tumor (tambah 20 4y, sedangkan pada aEilla tambah #$ 4y). 5enelitian menun1ukkan bahwa pemberian radioterapi ad1uvan sesudah ,8/ mengurangi risiko rekurensi timbulnya tumor sampai dengan $# F dibandingkan pasien yang hanya men1alani ,8/. 5emberian radioterpai ad1uvan berman2aat mengurangi risiko berkembangnya tumor rekuren, namun 1uga memiliki e2ek samping 1angka pendek dan pan1ang. :2ek samping 1angka pendek termasuk warna kemerahan pada kulit, atau in2lamasi pada 1aringan paru. :2ek samping 1angka pan1ang yang mungkin ter1adi adalah penyakit vaskular pada 1antung dan pembuluh darah besar, kerusakan paru, berkembangnya tumor paru atau osteoradionekrosis.