Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

Peningkatan derajat kesehatan masyarakat sangat diperlukan dalam mengisi pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia. Salah satu

upaya peningkatan derajat kesehatan adalah perbaikan gizi masyarakat, gizi yang seimbang dapat meningkatkan ketahanan tubuh, dapat meningkatkan kecerdasan dan menjadikan pertumbuhan yang normal (Depkes RI, 2004). Namun sebaliknya gizi yang tidak seimbang menimbulkan masalah yang sangat sulit sekali ditanggulangi oleh Indonesia, masalah gizi yang tidak seimbang itu adalah Kurang Energi Protein (KEP), Kurang Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) dan Anemia Gizi Besi (Depkes RI, 2004 ). Khusus untuk masalah Kurang Energi Protein (KEP) atau biasa dikenal dengan gizi kurang atau yang sering ditemukan secara mendadak adalah gizi buruk terutama pada anak balita, masih merupakan masalah yang sangat sulit sekali ditanggulangi oleh pemerintah, walaupun penyebab gizi buruk itu sendiri pada dasarnya sangat sederhana yaitu kurangnya intake (konsumsi) makanan terhadap kebutuhan makan seseorang, namun tidak demikian oleh pemerintah dan masyarakat karena masalah gizi buruk adalah masalah ketersediaan pangan ditingkat rumah tangga, tetapi anehnya di daerah-daerah yang telah swasembada pangan bahkan telah terdistribusi merata sampai ke tingkat rumah tangga (misalnya program raskin), masih sering ditemukan kasus gizi buruk, padahal sebelum gizi buruk ini terjadi, telah melewati beberapa tahapan yang dimulai dari penurunan berat badan dari berat badan ideal seorang anak sampai akhirnya terlihat anak tersebut sangat buruk (gizi buruk). Jadi permasalahan sebenarnya adalah masyarakat belum mengatahui cara menilai status berat badan anak (status gizi anak) atau juga belum mengetahui pola pertumbuhan berat badan anak, sepertinya masyarakat atau keluarga hanya tahu bahwa anak harus diberikan makan seperti halnya orang dewasa harus makan tiap harinya.

Definisi Status Gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh (Sediaoetama, 2010). Anak adalah usia 0-18 tahun

Metode Penilaian Status Gizi Secara umum penilaian status gizi dapat dilihat dengan metode langsung dan tidak langsung (Proverawati, 2010).

a. Secara langsung Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu: 1. Antropometri Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan jaringantubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh. 2. Klinis Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh sepertikelenjar tiroid. Metode ini umumnya digunakan untuk survei klinis secara tepat (rapid clinical surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu, digunakan untuk mengetahui tingkat gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit.

3. Biokimia Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain darah, urin, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali dapat banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik. 4. Biofisik Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindnes). Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap

b. Secara Tidak Langsung Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi manjdai tiga (Proverawati, 2010) yaitu :

1. Survei Konsumsi Makanan Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secaratidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu. Survei ini dapat mengindentifikasikan kelebihan dan kekurangan gizi. 2. Statistik Vital Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan, dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi. Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.

3. Faktor Ekologi Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis, dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi, dan lain-lain. Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi.

Status gizi menurut Rusli et al (2011) ditentukan melalui antropometri yang diidentifikasi melalui grafik. Pemeriksaan antropometri meliputi pengukuran berat badan (BB), tinggi badan (TB), lingkaran kepala (LK), lingkar lengan atas (LILA) dan tebal lipatan kulit (TLK).

Berat Badan Berat badan merupakan penghitungan rerata dari status nutrisi secara umum yang memerlukan data lain seperti umur, jenis kelamin, dan PB/TB untuk menginterpretasikan data tersebut secara optimal. Berat badan diukur dengan timbangan digital atau timbangan dacin. Sampai anak berumur kurang lebih 24 bulan atau dapat bekerjasama dan berdiri tanpa dibantu diatas timbangan, penimbangan dilakukan dengan menggunakan timbangan bayi. Berat badan anak sebaiknya diukur dengan baju minimal atau tanpa baju dan tanpa popok pada bayi. Sebelum menimbang seharusnya timbangan dikalibrasi dengan mengatur jarum timbangan ke titik nol. Timbangan harus ditera minimal setahun sekali di Jawatan Metrologi setempat atau ditera sendiri dengan anak timbangan yang sudah diketahui beratnya setidaknya sebulan sekali dan setiap pemindahan timbangan. Berat badan dicatat dengan ketelitian sampai 0,001 kg pada bayi dan 0,1 kg pada anak yang lebih besar.

Panjang Badan atau Tinggi Badan Panjang badan atau tinggi badan mencerminkan status nutrisi jangka panjang seorang anak. Panjang badan diukur dengan menggunakan papan pengukur panjang untuk anak dibawah umur 2 tahun atau PB kurang dari 85 cm.

Pengukuran panjang badan dilakukan oleh dua orang pengukur. Pengukur pertama memposisikan sang bayi agar lurus di papan pengukur sehingga kepala sang bayi menyentuh papan penahan kepala dalam posisi bidang datar Frankfort (Frankfort horizontal plane) . Bidang datar Frankfort merupakan posisi anatomis saat batas bawah orbita dan batas atas meatus auditorius berada segaris. Pengukur kedua menahan agar lutut dan tumit sang bayi secara datar menempel dengan penahan kaki. Untuk anak yang dapat berdiri tanpa bantuan dan kooperatif, tinggi badan diukur dengan menggunakan stadiometer yang memiliki penahan kepala bersudut 90o terhadap stadiometer yang dapat digerakkan. Sang anak diukur dengan telanjang kaki dan pakaian minimal agar pengukuran dapat dilakukan dengan benar. Saat pengukuran anak harus berdiri tegak, kedua kedua kaki menempel, tumit, bokong, dan belakang kepala menyentul stadiometer, dan menatap kedepan bidan datar Frankfort. Pengukuran PB lebih panjang 0,5 sampai 1,5 cm daripada pengukuran TB. Bila anak diatas umur 2 tahun atau lebih dari 85 cm diukur dalam posisi berbaring maka hasilnya perlu dikurangi 1 cm sebelum diplot pada grafik pertumbuhan. Oleh sebab itu penting sekali mencatat pengukuran terutama saat peralihan PB menjadi TB. Pengubahan pengukuran dari PB menjadi TB dilakukan dengan ketelitian sampai 0.1 cm.

Lingkar Kepala Lingkar kepala paling cepat terjadi dalam 3 tahun pertama kehidupan. Pengukuran rutin LK (lingkar frontal oksipital) merupakan komponen dari pengkajian nutrisi pada anak sampai umur 3 tahun dan dikerjakan terutama pada anak yang mempunyai risiko tinggi gangguan nutrisi jangka pendek dibandingkan dengan BB krena pertumbuhan otak umumnya dipertahankan oleh tubuh saat terjadi masalah nutrisi. Lingkar kepala tidak dapat digunakan sebagai pengukuran status nutrisi pada anak dengan hidrosefalus, mikrosefali, dan makrosefali. Lingkar kepala diukur dengan menggunakan pita pengukur fleksibel yang tidak dapat direnggangkan. Panjang lingkar sebaiknya diambil dari lingkar

maksimum dari kepala, yaitu diatas tonjolan supraorbita dan melingkari oksiput. Saat pengukuran harus diperhatikan agar pita pengukur tetap datar pada permukaan kepala dan parallel dikedua sisi. Pengukuran dicatat dengan ketelitian sampai 0,1 cm.

Lingkar lengan atas (LILA) Lingkar lengan atas (LILA) dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan, sebuah penanda cadangan energi dan protein, dan dapat memberikan informasi mengenai kadar lemak tubuh. Pengukuran dilakukan dititik tengah lengan atas, ditengah antara ujung lateral akromion dan olekranon bila tangan dalam posisi fleksi dengan sudut 900 (diukur dan diberi tanda). Untuk pengukuran LILA, anak harus berdiri tegak lurus dengan lengan dilemaskan disisi tubuh. Pita ukur yang fleksibel dan yang tidak dapat meregang diletakkan tegak lurus dengan aksis panjang dari lengan, dirapatkan melingkari lengan, dan dicatat dengan ketelitian sampai ke 0,1 cm. Pengukuran ini sebaiknya dilakukan 3 kali dan nilai akhir diambil dari rerata ketiga hasil pengukuran tersebut.

Tebal Lipatan Kulit Triceps (TLK) Tebal lipat kulit trisep (triceps skinfold thickness) (TLK) adalah sebuah penanda cadangan lemak subkutan (energy) dan lemak tubuh total, dan memberi informasi mengenai lemak tubuh (fat patterning). Dalam mengukur, seorang anak harus dalam posisi tegak dengan lengan disisi tubuh. TLK diukur di pertengahan lengan atas, tepat ditengah otot trisep dilengan bagian belakang (diukur dan diberi tanda sebelumnya). Pengukur mencubit lemak dengan ibu jari dan jari telunjuk, sekitar 1 cm diatas titik tengah yang telah ditandai, dan menempatkan caliper tepat di atas titik yang ditandai. Empat detik setelah lengan caliper dilepaskan, hasil pengukuran diambil lalu caliper dilepaskan. Pengukuran ini sebaiknya dilakukan tiga kali, diambil reratanya dan dicatat dalam pembulatan 0,1 cm.

Pengkajian data antropometri Indikator status nutrisi sangat esensial dalam interpretasi klinik dari pengukuran pertumbuhan. Setiap pengkajian nutrisi memerlukan satu atau lebih indikator berikut ini untuk interpretasi

Persentil menurut umur dan jenis kelamin Jika tiap ukuran perkembangan digambarkan ke grafik pertumbuhan (growth chart), persentil individu seorang anak akan dapat dibandingkan dengan populasi acuan (reference population). Sebagai contoh, persentil-25 untuk BB menurut umur berarti seorang anak memiliki berat badan lebih atau sama dengan 25% populasi acuan untuk umur dan jenis kelamin yang sama, dan persentil-75 untuk BB menurut umur berarti seorang anak memiliki BB lebih atau sama dengan 75 % populasi acuan untuk umur dan jenis kelamin yang sama. Persentil dapat dengan mudah diinterpretasikan dan digunakan dalam praktek sehari-hari. Grafik pertumbuhan menyediakan acuan grafik pertumbuhan anak antara persentil-5 dan 95, dan sekarang persentil-3 dan 97. Dalam prakteknya, grafik pertumbuhan dengan persentil-5 dan 95 masih digunakan untuk skrining dan follow-up anak sehat, sedangkan growth chart dengan persentil-3 dan 97 digunakan untuk anak dengan penyakit kronis atau dengan risiko pada status gizi . Persentil BB menurut umur (BB/U) dan TB menurut umur (TB/U) juga dapat digunakan untuk skrining malnutrisi. Persentase BB ideal, sesuai dengan TB dan BB menurut umur, seringkali digunakan sebagai penanda wasting (kurus ) maupun obesitas. Persentil TB menurut umur dianggap cukup untuk menilai status gizi jangka panjang dan digunakan untuk skrining anak sehat dengan perawakan pendek (stunting). Tinggi badan menurut umur diinterpretasikan sebagai berikut; pendek (< persentil-3), normal (persentil-3 sampai 97), dan tinggi (> persentil-97).

Berat badan menurut tinggi badan Berat badan secara relatif dengan TB (BB/TB) memberikan berbagai informasi akan pertumbuhan dan status gizi pada seorang anak, dibandingkan dengan hanya salah satu dari BB menurut umur maupun TB menurut umur. Berat badan menurut TB lebih akurat dalam menetapkan dan mengklasifikasikan status gizi pada seorang anak. Pada anak berusia 0-6 tahun, BB/TB paling sering dinilai dengan menentukan sebuah persentil di grafik pertumbuhan CDC. Berat menurut TB diinterpretasikan sebagai berikut; BB kurang (<persentil-5), BB normal (persentil-5 sampai 95), dan BB lebih (> persentil-95), disamping dipakai untuk skrining anak sehat. Berat badan menurut TB juga dipakai untuk skrining klasifikasi malnutrisi energi protein. Indeks massa tubuh (IMT) juga merupakan pengukuran BB/TB. Pada grafik pertumbuhan CDC tersedia IMT untuk umur dan jenis kelamin mulai umur 2 sampai dengan 20 tahun. Dengan adanya grafik tersebut, IMT akan lebih sering digunakan sebagai sarana penilaian status nutrisi untuk anak. Namun demikian, karena BB dan TB anak berubah dari waktu ke waktu, maka titik potong IMT untuk mendiagnosis obesitas tidak menggunakan nilai IMT. Di Amerika serikat, persentil-85 IMT untuk umur dan jenis kelamin ditetapkan sebagai titik potong untuk menyebutkan anak mempunyai risiko kelebihan BB berat lebih (overweight), sedangkan persentil-95 dikatakan sebagai BB (overweight). International Obesity Task Force juga menetapkan titik potong IMT untuk anak berdasarkan penelitian potong lintang (cross-sectional) dari enam Negara (Brazil, Inggris, Hongkong, Belanda, Singapura, Amerika Serikat) dan mengacu pada titik potong IMT BB lebih dan obesitas pada orang dewasa. Berat badan lebih disesuaikan dengan IMT 25 pada usia 18 tahun dan obesitas disesuaikan dengan IMT 30 pada usia 18 tahun pada anak.

Grafik pertumbuhan CDC 2000 Di tahun 2000, CDC dan NCHS di Amerika Serikat menerbitkan grafik pertumbuhan yang telah direvisi dari grafik pertumbuhan sebelumnya (NCHS) yang disebut grafik pertumbuhan CDC, perubahan dari grafik pertumbuhan

NCHS tahun 1977 termasuk (1) grafik IMT (kg/m2) untuk anak lelaki dan perempuan (umur 2 sampai 20 tahun); (2) Persentil ke-3 dan ke-97 untuk semua jenis grafik dan persentil ke-85 untuk BB/TB dan grafik IMT menurut umur; (3) grafik TB untuk transisi dari pengukuran PB menjadi TB; (4) penambahan kisaran umur dari 18 tahun menjadi 20 tahun dan (5) penggunaan kombinasi pola pertumbuhan dari bayi yang di beri susu formula dan air susu ibu untuk sebagai referensi pola pertumbuhan. Grafik-grafik ini tersedia untuk anak lelaki dan perempuan mulai umur 0-36 bulan untuk BB, PB, dan LK. Disamping itu juga grafik berdasarkan umur dan BB/TB mulai umur 2 sampai 20 tahun untuk BB, TB, dan IMT menurut umur dan BB/TB.

Grafik pertumbuhan WHO 2006 Pada tahun 2006 Badan Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan grafik pertumbuhan terbaru berdasarkan studi antropometri yang dilakukan dibeberapa negara maju dan negara berkembang. Stadar referensi 2006 yang baru ini

mempunyai PB/TB menurut umur, BB/TB dan IMT menurut umur dari lahir sampai usia 60 bulan. Terdapat perbedaan antara grafik pertumbuhan CDC tahun 2000 dengan grafik pertumbuhan WHO tahun 2006. Grafik pertumbuhan CDC merefleksikan subjek penelitian yang lebih berat dan lebih pendek dari grafik WHO, sehingga menyebabkan prevalensi kasus gizi kurang yang lebih sedikit (kecuali dalam 6 bulan pertama kehidupan), dan penemuan jumlah kasus BB yang lebih besar (saat dibandingkan dengan standar WHO). Perbedaan metodologi dan jumlah subjek yang diambil pada umur muda dalam pembuatan grafik pertumbuhan WHO bila dibandingkan dengan grafik pertumbuhan CDC mengakibatkan anak-anak sehat yang diberi ASI mengikuti garis pertumbuhan sesuai dengan BB menurut Z-scores umur rerata pada grafik WHO, namun tampak seperti pertumbuhannya terganggu pada grafik CDC, mulai dari umur 2 bulan dan seterusnya. Beberapa perbedaan penting lainnya dengan melihat grafik BB/TB; grafik pada grafik WHO mulai lebih cepat dan lebih panjang dibandingkan grafik CDC. Grafik pertumbuhan WHO tampak dapat mengikuti pola perubahan pertumbuhan yang cepat berubah pada bayi (Rusli, 2011).

Penentuan status gizi dilakukan berdasarkan berat badan (BB) menurut panjang badan (PB) atau tinggi badan (TB) (BB/PB atau BB/TB). Grafik

pertumbuhan yang digunakan sebagai acuan adalah grafik WHO 2006 untuk anak kurang dari 5 tahun dan grafik CDC 2000 untuk anak kurang dari 5 tahun dan grafik CDC 2000 untuk anak lebih dari 5 tahun. Grafik WHO 2006 digunakan untuk usia 0-5 tahun karena mempunyai keunggulan metodologi dibandingkan CDC 2000. Subyek penelitian pada WHO 2006 berasal dari 5 benua dan mempunyai lingkungan yang mendukung untuk pertumbuhan optimal. Untuk usia diatas 5 tahun hingga 18 tahun digunakan grafik CDC 2000 dengan pertimbangan grafik WHO 2007 tidak memiliki grafik BB/TB dan data dari WHO 2007 merupakan smoothing NCHS 1981.

Tabel penilaian status gizi berdasarkan kelompok usia Usia 0-5 tahun >5-18 tahun Grafik yang digunakan WHO 2006 CDC 2000

Penentuan status gizi menggunakan cut off Zscore WHO 2006 untuk usia 0-5 tahun dan persentase berat badan ideal sesuai kriteria Waterlow untuk anak diatas 5 tahun

10

Tabel penentuan status gizi menurut kriteria waterlow, WHO, 2006, dan CDC 2000 Status gizi BB/TB (% median) Obesitas Overweight >120 >110 BB/TB 2006 > +3 > P95 WHO IMT CDC 2000

> +2 hingga +3 P85-P95 SD

Normal

>90

+2 SD hingga 2SD

Gizi kurang

70-90

< -2SD hingga 3SD

Gizi buruk

<70

<-3SD

<P5

Status Gizi lebih ( overweight/obesitas) ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh Bila pada hasil pengukuran didapatkan, terdapat potensi gizi lebih (>+1 SD) atau BB/TB 110% maka grafik IMT sesuai usia dan jenis kelamin digunakan untuk menentukan adanya obesitas. Untuk anak < 2 tahun, menggunakan grafik IMT WHO 2006 dengan kriteria overweight Z score > + 2, obesitas > +3, sedangkan untuk anak usia 2-18 tahun menggunakan grafik IMT CDC 2000. Ambang batas yang digunakan untuk overweight ialah diatas P85 hingga P95 sedangkan untuk obesitas ialah lebih dari P95 grafik CDC 2000 (Sjarih, 2011).

Usia 0-2 tahun

Grafik IMT yang dipakai WHO 2006

Alasan Grafik tersedia IMT (CDC 2000) tidak usia

untuk

klasifikasi

dibawah 2 tahun >2-18tahun CDC 2000 Dengan menggunakan grafik IMT CDC 2000 persentil 95, deteksi dini obesitas dapat ditegakkan

11

Cara menggunakan grafik CDC 2000 (BB/TB) adalah 1. Menentukan tabel yang digunakan pria atau wanita. 2. Mencari umur sesuai kasus. 3. Menentukan tinggi badan kemudian di plot pada grafik. 4. Menarik garis horizontal menuju persentile 50%. 5. Melanjutkan dengan menarik garis vertikal menuju persentile 50% berat badan. 6. Menghitung status gizi dengan membandingkan berat badan sekarang dengan berat badan ideal. 7. Hasil perbandingannya diinterpretasikan menggunakan kriteria Waterlow.

Menurut Hidayat et al (2008) Status gizi juga digunakan untuk menentukan adanya gangguan malnutrisi seperti KEP Klasifikasi KEP KEP ringan 80-90% BB ideal terhadap TB (WHO-CDC) KEP sedang 70-80% BB ideal terhadap TB (WHO-CDC) KEP berat =< 70% BB ideal terhadap TB (WHO-CDC)

Dalam menentukan status gizi dapat digunakan penghitungan indeks massa tubuh (berat (kg) : tinggi (m) : tinggi (m)). Interpretasi IMT menurut National Institute of Health (2010) adalah

Berat badan kurang IMT <18.5 Normal IMT 18.524.9 Berat badan lebih IMT 2529.9 Obesitas IMT >=30

Penentuan status gizi pada balita di Indonesia dapat pula ditentukan menggunakan KMS. Di Indonesia terdapat Kartu Menuju Sehat (KMS) yang dipakai baik untuk penyuluhan maupun sebagai alat monitor pertumbuhan dan gizi dimasyarakat merupakan modifikasi WHO 2005 yaitu berat badan terhadap umur anak Balita, dilengkapi dengan gambar perkembangan motorik kasar, halus dan berbahasa..

12

Garis pertumbuhan KMS terbaru yang digunakan berdasarkan SD score dimana garis merah adalah -3SD (Suroto, 2012). Tabel Standar Havard BB/U (% dari median-median dianggap 100%)
% Berat Badan 80-120% 70-80% 60-<70% <60% Klasifikasi Normal Mild/KEP ringan/KEP I Moderate/KEP sedang/KEP II Severe/KEP Berat/KEP III

Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi Ada beberapa faktor yang sering merupakan penyebab gangguan gizi, baik langsung maupun tidak langsung. Sebagai penyebab langsung gangguan gizi khususnya gangguan gizi pada bayi dan balita adalah tidak sesuai jumlah

giziyang mereka peroleh dari makanan dengan kebutuhan tubuh mereka. Beberapa faktor yang yang secara tidak langsung mendorong terjadinya gangguan gizi terutama pada anak balita antara lain (Proverawati, 2010): a. Pengetahuan Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari sering terlihat keluarga yang berpenghasilan cukup akan tetapi makanan yang dihidangkan seadanya. Dengan demikian kejadian gangguan gizi tidak hanya ditemukan pada keluarga yang berpenghasilan kurang akan tetapi juga pada keluarga yang berpenghasilan cukup. Keadaan ini menunjukan bahwa ketidaktahuan akan makanan bagi kesehatan tubuh menjadi penyebab buruknya mutu gizi makanan keluarga, khususnya makanan balita. b. Persepsi Banyak bahan makanan yang sesungguhnya bernilai gizi tinggi tetapi tidak digunakan atau hanyak digunakan secara terbatas akibat adanya prasangka yang tidak baik terhadap bahan makanan itu. Penggunaan bahan makanan itu dianggap dapat menurunkan harkat keluarga. jenis sayuran seperti genjer, daun turi, bahkan

13

daun ubi kayu yang kaya akan zat besi, vitamin A dan protein, dibeberapa daerah masih dianggap sebagai makanan yang dapat menurunkan harkat keluarga. c. Kebiasaan atau pantangan Berbagai kebiasaan yang bertalian dengan pantang makanan tertentu masih sering kita jumpai terutama di daerah pedesaan. Larangan terhadap anak untuk makan telur, ikan atau daging hanya berdasarkan kebiasaan dan hanya diwarisi secara turun temurun, padahal anak itu sendiri sangat memerlukan bahan makanan seperti itu guna keperluan pertumbuhan tubuhnya. d. Kesukaan jenis makanan tertentu Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan tertentu atau disebut sebagai faddisme makanan akan mengakibatkan tubuh tidak memperoleh semua zat gizi yang diperlukan. e. Jarak kelahiran yang terlalu rapat Banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa banyak anak yang menderita gangguan gizi oleh karena ibunya sedang hamil lagi atau adik yang baru telah lahir, sehingga ibunya tidak dapat merawat secara baik. Anak Dibawah usia 2 tahun masih sangat memerlukan perawatan ibunya, baik perawatan makanan maupun perawatan kesehatan dan kasih sayang. f. Sosial ekonomi Keterbatasan penghasilan keluarga turut menentukan mutu makanan yang disajikan. Tidak dapat disangkal bahwa penghasilan keluarga turut menentukan hidangan yang disajikan untuk keluarga sehari-hari, baik kualitas maupun jumlah makanan. g. Penyakit infeksi Infeksi dapat menyebabkan anak tidak merasa lapar dan tidak mau makan. Penyakit ini juga menghabiskan sejumlah protein dan kalori yang seharusnya dipakai untuk pertumbuhan.

14

DAFTAR PUSTAKA
CDC. Clinical Growth Chart. http://www.cdc.gov/growthcharts/clinical_charts.htm (Diakses 27 Agustus 2012).

Depkes, RI. 2004. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta Hidayat, B., Irawan, R.., & Nurul, S. 2008. Pedoman Diagnosis dan Terapi SMF Ilmu Kesehatan Anak. Surabaya: RSU Dokter Soetomo NIH .2010. http://www.nih.gov/news/health/dec2010/nci-01.htm Proverawati. 2010. Buku Ajar Gizi untuk Kebidanan. Jogjakarta: Nuha Medika

Rusli, D., Dewi, E., Mexitalia, M., & Sudaryati, S. 2011. Nutrisi Pediatri dan Penyakit Metabolik. Jakarta: Badan penerbit IDAI

Sediaoetama, 2010. Ilmu Gizi untuk mahasiswa dan profesi. Jakarta: Dian Rakyat

Sjarih, D., Nasar, S., Devaera, Y., & Tanjung. C. 2011. Asuhan Nutrisi Pediatrik. Jakarta: Badan Penerbit IDAI

Suroto, Emelia. 2012. Penggunaan Kurva Pertumbuhan Untuk Menentukan Status Gizi. Bandung: Rakernas dan Simposium Ilmiah PGHNAI

WHO.2006. Child Growth Standard. http://www.who.int/childgrowth/standards/en/ (diakses 28 Agustus 2012)

15