Anda di halaman 1dari 18

KARYA TULIS

ANALISIS KETERANDALAN BANGUNAN






Disusun Oleh:
Tito Sucipto, S.Hut., M.Si.
NIP. 19790221 200312 1 001













DEPARTEMEN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2009

Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan
keajaiban-Nya sehingga dapat menyelesaikan karya tulis mengenai Analisis
Keterandalan Bangunan.
Karya tulis ini berisi tentang gambaran umum mengenai analisis
keterandalan bangunan sebagai dasar pengelolaan dan pemeliharaan bangunan.
Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat memperkaya khasanah wawasan dan
pengetahuan di bidang ilmu dan teknologi kayu.
Tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Penulis mengharapkan saran dan
masukan yang konstruktif demi menyempurnakan karya tulis.

Medan, Desember 2009


Penulis
Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR................................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................................ ii
DAFTAR GAMBAR................................................................................................... iii
Pendahuluan ................................................................................................................ 1
Konstruksi Bangunan................................................................................................... 2
Kerusakan pada Bangunan........................................................................................... 6
Audit dan Pemeliharaan Bangunan.............................................................................. 11
Referensi ...................................................................................................................... 14































Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009



DAFTAR GAMBAR

Halaman
1. Kategori nilai kondisi bangunan dan predikatnya................................................... 13









































Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


ANALISIS KETERANDALAN BANGUNAN


Pendahuluan
Bangunan dibuat dari kayu, konkret beton, batu alam, dan lain-lain. Selain
rumah sebagai tempat berlindung, bangunan juga berfungsi sebagai perkantoran,
rekreasi, pertokoan, tempat ibadah, tempat pendidikan, dan sebagainya. Dengan
berjalannya waktu, bangunan akan mengalami penurunan keandalan dalam hal
kekuatan maupun nilai estetik. Penurunan ini disebabkan bangunan mengalami
kerusakan karena proses mekanis, fisis, kimiawi, biotis, maupun aktivitas manusia
(Sulaiman, 2004).
Kemunduran kualitas (deteriorasi) bangunan merupakan sesuatu yang tidak
bisa dihindari, namun lajunya bisa ditekan dengan tindakan pemeliharaan dan
perawatan. Pemeliharaan dan perawatan yang baik akan memberikan efek
penghematan biaya dan waktu, memberikan manfaat lebih lama, serta mendukung
kinerja bangunan yang lebih baik. Bangunan yang dipelihara dan dirawat akan
mencapai service life time sesuai yang direncanakan bahkan dapat melebihinya.
Bangunan yang tidak dipelihara/dirawat akan lebih cepat mengalami deteriorasi.
Dalam menjalankan berbagai fungsinya, bangunan harus kuat dan cukup
aman bagi manusia penggunanya sepanjang service life time-nya. Karena dengan
perjalanan waktu, bangunan mengalami kemunduran keterandalannya, maka harus
dilakukan pemeriksaan berkala kondisi suatu bangunan. Pemeriksaan ini
diperlukan agar dapat segera diambil keputusan mengenai tindakan-tindakan yang
harus dilakukan sehubungan dengan kondisi bangunan sesuai hasil pemeriksaan.
Keputusan-keputusan itu dapat berupa pembersihan, penggantian komponen,
renovasi, pengendalian hama, atau lainnya. Pemeriksaan ini disebut sebagai
kegiatan audit bangunan.
Kegiatan audit bangunan terutama sangat diperlukan untuk bangunan-
bangunan yang memiliki nilai sejarah, karena bangunan tipe ini tidak dapat begitu
saja dihancurkan dan diganti bangunan baru jika bangunan aslinya mengalami
kerusakan parah karena tidak adanya perawatan dan pemeriksaan. Bangunan
bernilai sejarah harus diperiksa berkala dan dilakukan perawatan intensif agar tetap
Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


berfungsi dalam memberi informasi sejarah, cara hidup, proses perubahan manusia
dan pendukungnya, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, terutama bagi generasi
yang akan datang.

Konstruksi Bangunan
Puspantoro menyebutkan bahwa ditinjau dari strukturnya, sebuah bangunan
dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu struktur bawah dan struktur atas. Struktur
bawah merupakan bagian bangunan yang berada di bawah permukaan tanah, yaitu
pondasi. Sedangkan struktur atas merupakan yaitu bagian bangunan yang berada
di atas permukaan tanah. Struktur atas terdiri dari badan bangunan dan atap.
Antara struktur bawah dan struktur atas terdapat lantai yang merupakan lapis
penutup tanah. Sedangkan antara badan bangunan dan atap terdapat lapis pembatas
yang disebut langit-langit atau plafon. Untuk mempelajari sebuah bangunan, perlu
ditinjau bagian-bagian sebagai berikut: atap, pondasi, rangka dinding, langit-langit,
dinding, kusen/daun, lantai, drainase halaman, dan utilitas (Sulaiman 2005).
Atap
Atap bangunan berfungsi sebagai pelindung bangunan dibawahnya dari
panas matahari, air hujan, dan tiupan angin. Puspantoro yang diacu dalam
Sulaiman (2005) menyebutkan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk pekerjaan
atap, yaitu: serasi dengan bentuk bangunan sehingga menambah keindahan
bangunan; dibuat dengan kemiringan tertentu sehingga cepat mengalirkan air
hujan; material pembuatnya tahan lama dan tidak mudah rusak oleh pengaruh
cuaca; memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Secara umum, konstruksi atap
dapat dibagi menjadi tiga bagian (Sulaiman 2005), yaitu kuda-kuda, rangka atap,
dan bahan penutup atap.
Kuda-kuda adalah bagian yang memberikan bentuk kepada atap dan
sekaligus berfungsi sebagai pendukung konstruksi atap. Konstruksi kuda-kuda ini
dapat dibuat dari rangka baja, beton, ataupun kayu. Kuda-kuda dibuat dengan cara
merangkai beberapa batang kayu membentuk suatu konstruksi rangka batang,
dengan bentuk dasar segitiga (Puspantoro dalam Sulaiman 2005). Bagian dari
kuda-kuda adalah kaki kuda-kuda, balok datar (bim balk), balok penggantung
(hanger), balok penyokong (skoor), dan balok gapit. Kaki kuda-kuda merupakan
Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


batang miring yang membentuk sudut kemiringan atap, berfungsi sebagai tumpuan
balok gording dan beban diatasnya. Balok datar adalah batang tarik yang menahan
gaya horizontal yang timbul karena adanya gaya yang bekerja pada kaki kuda-
kuda. Batang tegak yang menahan lenturan yang terjadi pada batang datar atau
disebut juga sebagai tiang kuda-kuda/tiang gantung/makelar adalah balok
penggantung. Sedangkan balok penyokong merupakan batang yang berfungsi
untuk menyokong kaki kuda-kuda agar tidak melentur oleh beban gording. Balok
gapit adalah dua batang kayu yang dipasang mengapit rangka kuda-kuda agar tidak
melentur ke samping.
Rangka atap adalah batang-batang lain sebagai pelengkap kuda-kuda dan
konstruksi atap, yang meliputi balok angin, balok gording, balok bubungan, balok
tembok, usuk atau kaso, reng, dan papan bubungan.
Penutup atap merupakan bagian yang merupakan pelindung bangunan dari
panas dan hujan yang berhubungan langsung dengan kondisi udara luar. Bahan
penutup atap haruslah terbuat dari materi yang tidak mudah rusak oleh pengaruh
panas, hujan dan udara. Beberapa bahan yang biasa digunakan untuk penutup atap
adalah genting, sirap, asbes gelombang, dan seng logam.
Kemiringan atap biasanya ditentukan oleh faktor keindahan dan selera,
serta bahan penutupnya. Kemiringan atap minimum untuk genting adalah 35
0
,
untuk asbes atau yang berukuran besar lainnya hanya 10
0
. Kemiringan atap
sebaiknya tidak melebihi 60
0
, karena selain mengkonsumsi kayu lebih banyak akan
menyebabkan bahan penutupnya mudah lepas. Untuk melengkapi pekerjaan atap,
diperlukan pekerjaan talang dan lisplank.
Rangka bangunan
Rangka bangunan dapat dibuat dari kayu ataupun konstruksi beton
bertulang dengan dinding dari pasangan bata merah atau batako. Terdapat
beberapa persyaratan untuk pembuatan rangka bangunan, yaitu: mempunyai
kekuatan dan stabil dalam memberi bentuk yang permanen serta mampu
mendukung konstruksi atap; memberikan keindahan yang anggun dan artistik;
memberi kenyamanan bagi penghuni; dan ekonomis, dalam arti sedapat mungkin
menggunakan bahan yang murah dan mudah didapat (Sulaiman 2005).
Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


Bangunan yang dinding-dindingnya terbuat dari pasangan bata, harus diberi
perkuatan konstruksi beton bertulang praktis, yaitu balok sloof, kolom, kolom
praktis, dan balok atas. Balok sloof dipasang di atas seluruh panjang pondasi, yang
berfungsi untuk mendukung dan meratakan beban tembok di atasnya dan
meneruskan ke pondasi di bawah. Kolom merupakan perkuatan rangka bangunan
dan dipasang di pada pertemuan-pertemuan tembok seperti pertemuan sudut dan
persilangan. Sedangkan kolom praktis sebagai perkuatan tembok dipasang pada
setiap jarak 3 m pada pada pasangan tembok lurus, di kanan dan kiri lobang pintu
dan jendela untuk pegangan dan jepitan kusen. Pada bagian atas pasangan bata
diberi balok penjepit yang disebut balok atas, yang berfungsi untuk meratakan
beban kuda-kuda dan rangka plafon ke dinding atau kolom di bawahnya.
Langit-langit
Langit-langit mempunyai fungsi sebagai batas tinggi suatu bangunan,
isolasi panas yang dating dari atap, meredam suara air hujan yang jatuh di atas
atap, dan sebagai tempat untuk menggantung bola lampu serta tempat peletakkan
kabel-kabel instalasi listrik.
Tinggi plafon dari permukaan lantai dibuat sedemikian rupa sehingga
menjaga kelancaran sirkulasi udara agar tidak pengap dan panas, dimana di daerah
tropis sebaiknya plafon dibuat dengan tinggi minimal 3 m. Bahan-bahan untuk
plafon bermacam-macam, diantaranya eternity, triplek, karpet, kaca, papan atau
reng, dan aluminium. Untuk memasang bahan-bahan ini diperlukan rangka plafon
yang dibuat dari batang-batang kayu.
Lantai
Lantai adalah pelapis penutup tanah dalam ruangan untuk berpijak
penghuni, sehingga kebersihan ruangan dapat tetap terjamin dan ruangan menjadi
tampak lebih rapid an sehat (sulaiman 2005). Lantai bangunan biasanya dibuat
lebih tinggi dari permukaan tanah halaman agar air dari halaman tidak masuk ke
bangunan.
Lantai-lantai ruangan harus diatur ketinggiannya sedemikian rupa sehingga
dapat mencegah mengalirnya air dari luar ataupun dari lantai kamar mandi. Lantai
ruangan harus dibuat dari bahan yang keras dan padat agar kuat menahan beban
benda di atasnya dan tidak mudah rusak oleh benturan benda lain. Bahan penutup
Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


lantai yang banyak dipakai dan memenuhi persyaratan bangunan adalah tegel, yang
dibuat dari campuran semen dan pasir dan dicetak dengan mesin sehingga padat,
keras, halus, dan indah.
Untuk memasang lantai, harus diberi dasar urugan pasir setebal 20 cm
sebagai bantalan untuk memperoleh permukaan lantai yang rata. Urugan pasir ini
kemudian disiram dengan air sampai jenuh.
Pondasi
Setiap bangunan memiliki struktur bangunan bawah yang disebut pondasi.
Pondasi adalah bagian bangunan yang berfungsi mendukung seluruh berat
bangunan dan meneruskannya ke tanah di bawahnya. Dalam pembuatan pondasi
diperlukan pekerjaan galian tanah. Dasar pondasi tidak boleh diletakkan pada
lapisan permukaan tanah setebal 50 cm (tanah humus) yang sangat labil dan tidak
mempunyai daya dukung. Untuk menjamin kestabilan, dasar pondasi diletakkan
pada kedalaman yang mencapai lapisan tanah asli yang keras. Lebar galian tanah
untuk memasang pondasi dibuat sesuai kebutuhan, makin berat beban bangunan
yang harus didukung tanah maka makin lebar pula dasar pondasinya.
Beberapa jenis pondasi yang dapat dipakai untuk bangunan rumah adalah:
a. Pondasi umpak. Pondasi ini umum dipakai untuk bangunan sederhana yang
terbuat dari rangka kayu dengan dinding dari papan atau anyaman bamboo.
Pondasi umpak dipasang di bawah setiap tiang-tiang penyangga. Untuk
memelihara keaweatan kayu-kayunya, pondasi umpak biasanya dibuat sampai
keluar dari permukaan tanah setinggi 1 m.
b. Pondasi menerus atau pondasi lansung, yaitu jenis pondasi yang banyak
dipakai untuk bangunan tidak bertingkat. Untuk seluruh panjang, jenis
pondasi ini mempunyai ukuran yang sama besar dan terletak pada kedalaman
yang sama. Pondasi menerus harus dipasang di bawah seluruh tembok
penyekat ruangan dan di bawah kolom-kolom pendukung yang berdiri bebas,
dan tidak boleh terputus-putus. Bahan pondasi menerus yang banyak dipakai
adalah pasangan batu kali yang dicampur dengan kapur, semen, dan pasir.
Bahan dari konstruksi beton bertulang juga dapat digunakan untuk pondasi
menerus, terutama untuk kondisi tanah yang sangat lembek.
Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


c. Pondasi setempat. Tipe pondasi ini digunakan bila kondisi tanah yang keras
berada sangat dalam, sehingga jika dibuat pondasi menerus akan menelan
biaya yang besar dan tidak efisien. Pondasi setempat dibuat di bawah kolom-
kolom pendukung bangunan. Pondasi ini dapat dibuat dalam dua macam
bentuk, yaitu pondasi pilar yang dibuat dari pasangan batu kali berbentuk
kerucut terpancung; dan pondasi sumuran yang dibuat dengan menggali tanah
berbentuk bulat hingga mencapai kedalaman tanah keras, kemudian diisi
adukan beton dan batu-batu besar tanpa tulangan.
d. Pondasi telapak (voetplat) yang dibuat dari konstruksi beton bertulang
berbentuk plat.
Drainase halaman
Sebuah bangunan haruslah memenuhi syarat-syarat kesehatan selain kuat
dan indah dan karena itu harus dilengkapi fasilitas sanitasi atau drainase halaman.
Fasilitas sanitasi ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu (Sulaiman 2005):
a. Penerima air buangan, yaitu kamar mandi, WC, bak dapur, dan tempat cuci.
b. Saluran pembuang, dari pipa tanah atau pipa beton.
c. Tempat pembuangan, yaitu riool kota, sungai, atau peresapan buatan.
Air buangan dari kamar mandi dan bak cuci dialirkan ke tempat
pembuangan. Bila tidak ada riool kota atau sungai di dekat bangunan, maka dibuat
tempat pembuangan buatan yang disebut sumur peresapan. Sumur peresapan ini
bertujuan untuk menampung air buangan untuk selanjutnya diresapkan ke dalam
tanah. Air buangan dari WC tida boleh langsung dibuang ke tempat pembuangan,
tapi dialirkan ke bak penghancur kotoran yang disebut septictanc. Septictanc ini
harus rapat air dan cukup udara segar untuk menjamin kelangsungan hidup bakteri
penghancur. Untuk mensuplai udara segar, maka bak dihubungkan oleh pipa hawa
dengan udara luar.

Kerusakan pada Bangunan
Cacat pada bangunanan dapat diartikan sebagai kegagalan atau kelemahan
suatu fungsi, performa, tatalaksana, atau syarat-syarat sebuah bangunan yang
berdampak terhadap struktur dan pelayanan bangunan tersebut (Sulaiman 2005).
Inspeksi terhadap bangunan diperlukan untuk membantu merancang performa
Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


terbaik dari bangunan tersebut. Hal-hal yang dapat menurunkan atau mengurangi
pengaruh cacat pada bangunan harus dicatat untuk menentukan secara dini prioritas
yang harus diperbaiki, dipelihara, atau ditingkatkan performanya.
Dalam masa penggunaannya, bangunan mengalami kemunduran akibat
kerusakan yang terjadi secara alami, ditambah lagi permasalahan yang
berhubungan dengan kualitas rancang bangun yang rendah, teknik perbaikan dan
pemeliharaan yang kurang baik yang mengurangi fungsional bangunan.
Kerusakan mekanis adalah kerusakan yang disebabkan oleh gaya, baik gaya
statis maupun gaya dinamis. Bentuk kerusakan ini misalnya berupa retakan,
patahan, atau pecahan. Kerusakan fisis merupakan pelapukan yang disebabkan
oleh faktor iklim (suhu dan kelembaban). Perubahan suhu dan kelembaban tersebut
kadang-kadang terjadi secara mendadak. Gejala pelapukan yang terjadi misalnya
berupa retakan-retakan mikro, keausan, pengelupasan lapisan cat, perubahan warna
asli kayu, pemudaran cat dan sebagainya.
Kerusakan kimia terutama disebabkan oleh air, baik berupa air kapiler
maupun air hujan. Disamping itu udara yang terpolusi dan unsur-unsur lemak juga
merupakan faktor pemacu yang tidak bisa diabaikan. Gejala pelapukan yang secara
makroskopis teramati misalnya berupa pembusukan.
Selanjutnya, pelapukan secara biotis yang disebabkan oleh pertumbuhan
jasad renik. Pertumbuhan jasad renik tersebut tidak hanya mengganggu secara
estetis saja tetapi juga mampu menimbulkan proses pembusukan ataupun noda dari
hasil sekresi zat-zat organik yang dihasilkannya. Beberapa jenis jasad renik yang
umumnya berperan adalah jamur, bakteri, dan lumut kerak. Di samping itu,
serangan serangga terutama rayap, merupakan salah satu faktor perusak yang
sangat membahayakan bahan bangunan dari kayu.
Yang terakhir, kerusakan karena faktor manusia yang bisa berupa kesalahan
rancang bangun, goresan benda tajam, corat-coret cat (vandalisme), kurangnya
perawatan, dan lain-lain.
Kerusakan bangunan adalah tidak berfungsinya bangunan ataukomponen
bangunan akibat penyusutan/berakhirnya umur bangunan, atau akibat ulah manusia
atau perilaku alam seperti beban fungsi yang berlebih, kebakaran, gema bumi, atau
sebab lain yang sejenis (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah 2002).
Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


Intensitas kerusakan bangunan dapat digolongkan atas tiga tingkat kerusakan,
yaitu:
a. Kerusakan ringan, yaitu kerusakan terutama pada komponen nonstruktural,
seperti penutup atap, langit-langit, penutup lantai dan dinding pengisi.
b. Kerusakan sedang, yaitu kerusakan pada sebagian komponen non struktural,
dan atau komponen struktural seperti struktur atap, lantai, dan lain-lain.
c. Kerusakan berat, yaitu kerusakan pada sebagian besar komponen bangunan,
baik struktural maupun non-struktural yang apabila setelah diperbaiki masih
dapat berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya
Beberapa penyebab kerusakan bangunan adalah:
1. Variabel klimatik
Variasi iklim berpengaruh terhadap desain bangunan, serta performa dan
umur pakai bangunan (Sulaiman 2005). Kondisi iklim lokal berpengaruh pada
faktor-faktor seperti topografi, vegetasi (pepohonan), bangunan (situasi dan
orientasi), dan aktivitas manusia (polusi) yang membentuk iklim mikro. Pola
perubahan iklim, seperti pemanasan global dan el nino, serta fenomena alam,
seperti hujan es, longsor, gempa bumi, gunung meletus, banjir, gelombang pasang,
tornado, merupakan faktor tersendiri yang menjadi pertimbangan dalam mendesain
bangunan.
2. Kilat
Kilat terjadi karena perbedaan potensial antara dua awan atau antara awan
dengan bumi. Kerusakan yang ditimbulkan berupa pengeluaran energi panas,
kebakaran, keretakan logam, dan beban lebih pada instalasi listrik. Perlindungan
harus diberikan pada bangunan dan struktur yang beresiko terhadap kilat.
3. Kerusakan oleh iklim dan pencemaran
Matahari, angin, dan hujan menyebabkan perubahan bahan bangunan oleh
proses mekanik dan kimia. Termasuk di sini, pengaruh embun, perubahan
temperatur yang ekstrim, pecahnya bahan menjadi cair, karbonasi (akibat asam
karbonat dari kombinasi air dengan karbondioksida atmosfer), oksidasi (kombinasi
kimia oksigen atmosfer), hidrasi (kombinasi kimia dan air), dan akibat ikatan-
ikatan kimia. Embun bisa menimbulkan maslaah kapilaritas dan pori-pori. Air
yang terserap ke dalam rongga bahan bangunan akan mendesak struktur internal
Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


dan mneyebabkan keretakan dan desintegrasi. Kerusakan yang teramati pada
bangunan adalah permukaan temboknya bisa runtuh dan lepas.
4. Cahaya dan radiasi elektromagnetik
Sinar matahari terdiri dari 50% sinar tampak, 40% inframerah, dan 10%
ultraviolet. Monitoring terhadap sinar tampak dan ultraviolet dapat dilakukan pada
situasi dimana bahan dan isi bangunan rentan terhadap kerusakan.
5. Penyaringan udara
Udara yang mengnadung partikel debudan kontaminan dapat memasuki
bangunan melalui rongga terbuka (pintu dan jendela) ataupun meresap melalui
retakan dan cacat bangunan. Di atmosfer terdapat gas-gas dan polutan.
Konsentrasi polutan tergantung kepada beberapa faktor seperti lokasi, atmosfer dan
klimatik. Sumber-sumber poluasi adalah sulfur dioksida (SO
2
), Nitrogen oksida
(NO
x
), ozon (O
3
), karbon dioksida (CO
2
), Radon (Rn), metana (CH
4
),
cloroflourkarbon (CFCs), hidroflourkarbon (HFCs), sulfur heksaflorida (SF
6
).
6. Kelembaban berlebihan dan peristiwa kimia
Kelembaban berlebihan yang disebabkan oleh munculnya air dan
penetrasinya, kondensasi, kebocoran, proses luapan konstruksi, akan
mengakibatkan munculnya kerusakan dan penurunan keterandalan bangunan.
Kondisi kelembaban yang tinggi dapat meneybabkan degradasi kimia dan biologi.
Unsur-unsur kimia dan komponen bahan bangunan yang digunakan di
dalam dan sekitar bangunan akan berinteraksi dengan manusia, proses alami dan
lingkungan. Contoh dari proses ini adalah berkaratnya logam, serangan garam
sulfat, karbonasi beton dimana karbonasi beton akan menyebabkanberkurangnya
proteksi terhadap daya lekat logam dan cepat berkarat.
7. Peristiwa fisika dan perubahannya
Bahan bangunan dipengaruhi oleh peritiwa fisika seperti panas,
kelembaban, kristalisasi larutan garam, cahaya, bunyi, listrik, dan magnetism.
Peristiwa fisika yang mempengaruhi bangunan antara lain pergerakan suhu,
pergerakan kelembaban yang berakibat pada deteriorasi dan pelapukan bahan, serta
kristalisasi larutan garam yang bisa menimbulkan efflorescense.


Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


8. Peristiwa biologi dan perubahannya.
Interkasi antara bangunan dengan tumbuhan dan hewan berpengaruh
terhadap kesehatan bangunan. Akar pohon dan vegetasi dapat memasuki pondasi
dan merusak strukturnya. Sulur-sulur tumbuhan merambat juga bisa menimbulkan
kerusakan pada bangunan, menimbulkan penyumbatan saluran, selokan, dan pipa.
J amur-jamur yang menginfestasi bangunan dapat menimbulkan pelapukan
dan penurunan niai estetik. J amur-jamur yang menimbulkan masalah pada
bangunan misalnya cendawan lapuk (mold), noda (stain), soft rot, white rot, brown
rot. Sedangkan tumbuhan tingkat rendah lain seperti lumut dan alga dapat tumbuh
membentuk koloni di permukaan bangunan.
Infestasi burung pada bangunan dapat menyumbat atap, menghalangi sistem
pembuangan air hujan dengan bahan-bahan sarangnya, serta mengotori permukaan
dinding dengan kotorannya. Sarang burung juga bisa mnejadi tempat
berkembangnya kutu, kepinding, dan serangga parasit lain. Tikus, kelelawar dan
binatang pengerat lain juga bisa menimbulkan bahaya kerusakan pada bangunan
dan penyakit bagi penghuninya. Serangga seperti kumbang dan rayap
memanfaatkan material bangunan dan isinya sebagai tempat tinggal dan sumber
makanan sehingga bisa menimbulkan kerusakan yang serius pada bangunan.
9. Pergerakan.
Bergeraknya bangunan berlangsung pada suatu tingkatan molekular yang
disebabkan oleh respon material ke stimuli seperti embun dan temperatur dan
adanya beberapa gaya eksternal yang mempengaruhi beban. Salah satu penyebab
pergeseran bangunan adalah kondisi tanah, misalnya kemiringan tanah,
ketidakstabilan tanah, kondisi air tanah (adanya sungai/arus bawah tanah), ataupun
struktur bawah tanah dan getaran lalu lintas dan mesin.
Pergerakan turunnya pondasi bangunan karena hilangnya dukungan tapak
terhadap pondasi disebut tanah amblas (subsidence). Tanah terangkat merupakan
meningkatnya volume tanah pada sebagian atau seluruh bangunan dan
menimbulkan pergeseran tapak karena lapisan bawah mengembang. Tanah longsor
pada perbukitan juga bisa menimbulkan masalah pada bangunan. Bangunan juga
bisa bergeser karena kegagalan pondasi yang disebabkan perubahan kondisi tanah
karena peristiwa kimia pada pondasi beton.
Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


10. Kebakaran
Resiko kebakaran adalah faktor yang harus diperhitungkan secara matang
dalam desain dan konstruksi bangunan sehingga dalam pembangunannya
digunakan bahan-bahan tahan api.
11. Faktor manusia
Aktivitas dan perilaku manusia saat mendesain dan membangun konstruksi
atau selama bangunan dipergunakan oleh penghuninya akan berpengaruh pada
keutuhan bangunan. Desain dan spesifikasi bahan yang tidak memenuhi standar,
pengerjaan dan pengawasan konstruksi yang buruk, dan kurangnya perawatan yang
baik akan menyebabkan kemunduran kualitas bangunan.

Audit dan Pemeliharaan Bangunan
Audit bangunan adalah proses sistematis untuk memastikan keseluruhan
sistem bangunan berada pada kondisi yang sesuai dengan tujuan desain dan
keperluan operasionalnya. Tujuan audit bangunan dapat diperoleh dengan
mereview arsip dokumentasi desain bangunan, bersamaan dengan verifikasi aktual
dari keberadaan arsitektural, elektrikal, mekanikal, dan proteksi kebakaran di
seluruh lokasi audit. Audit bangunan dilakukan oleh tim survei yang memiliki
kapabilitas dalam bidang desain/ konstruksi elektrikal, mekanikal, serta komunikasi
(Nova Building Audit Services 2007).
Menurut Department of Facilities Management of University of Colorado
(2003), audit bangunan adalah analisis mendalam dari kapasitas bangunan dalam
mendukung kebutuhan saat ini dan masa mendatang. Tipe area yang diperiksa
meliputi struktur, sistem mekanikal dan elektrikal, material berbahaya (asbes,
cat/lead, dan lain-lain), serta keselamatan hidup (life safety).
Menurut Cardon diacu dalam Sulaiman (2005), tugas ahli forensik dalam
mengukur keterandalan bangunan adalah menjawab pertanyaan:
a. Apa, dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana cara terjadi?
b. Siapa yang menyebabkan?
c. Siapa yang bertanggung jawab untuk kejadian tersebut?
d. Berapakah nilai perbaikan atau pergantian yang dibutuhkan?
e. Berapakah kerugian yang diderita dan siapa yang dilibatkan?
Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


Menurut Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2002),
perawatan bangunan adalah usaha memperbaiki kerusakan yang terjadi agar
bangunan dapat berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya. Pemeliharaan
bangunan adalah usaha untuk mempertahankan kondisi bangunan agar tetap
berfungsi sebagaimana mestinya atau dalam usaha meningkatkan wujud bangunan
serta menjaga terhadap pengaruh faktor perusak.
Prinsip perbaikan berhubungan erat dengan pemeliharaan bangunan,
didasarkan pada beberapa faktor, yaitu:
a. Mentaati kebutuhan spesifik (hukum, kesehatan, keamanan, kontrak).
b. Memenuhi kebutuhan fungsional dan penampilan.
c. Menghindari terjadinya cacat atau pembusukan.
d. Melindungi nilai dan kegunaan bangunan serta fasilitasnya.
e. Memenuhi standar yang diharapkan.
Bangunan dan pelayanannya tidak dapat diabaikan dari keusangan sebagai
hasil yang berhubungan dengan aspek fungsional, ekonomi, letak, sosial dan
perubahan dalam kebutuhan dan aspirasi pengguna bangunan. Umur dan
keusangan menurunkan nilai bangunan dan merupakan proses yang berkelanjutan,
tetapi keusangan ini dapat diperlambat dengan usaha perbaikan dan pemeliharaan
bangunan. Pemeliharaan dapat dijalankan pada tiap komponen struktur untuk
mengantisipasi kegagalan, atau dengan membuat suatu standar untuk memperbaiki
dan memelihara bangunan (Sulaiman 2005).
Analisis keterandalan bangunan dilakukan dengan cara:
1. Mengumpulkan data-data dan sejarah bangunan
Data dan sejarah bangunan diperoleh dengan mengumpulkan data-data
sekunder dari literatur-literatur perpustakaan dan internet.
2. Wawancara pengelola bangunan
Wawancara dilakukan terhadap pengelola bangunan untuk mengetahui
sejarah dan kondisi bangunan serta kerusakannya.
3. Inspeksi dan analisis kondisi bangunan
Inspeksi bangunan dilakukan secara langsung melalui pengamatan visual,
kondisi bangunan kemudian dicatat dalam form isian audit serta
didokumentasikan dengan kamera.
Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


Teknik pembobotan dilakukan terhadap kondisi bangunan yang diamati
untuk selanjutnya dinilai kondisi bangunan untuk mengetahui keterandalan
bangunan. Sedangkan kategori nilai kondisi bangunan dan predikatnya terdapat
dalam Tabel 1.

Tabel 1. Kategori nilai kondisi bangunan dan predikatnya
No.
Nilai kondisi
bangunan (%)
Predikat
kategori
Keterangan
1. 81-100 Baik bila kondisi pada komponen tersebut masih
berfungsi dengan baik dan ada pemeliharaan
rutin
2. 61-80 Sedang bila kondisi pada komponen tersebut masih
berfungsi meski tidak ada pemeliharaan rutin
3. 41-60 Rusak
ringan
bila kerusakan terjadi pada komponen non
struktural, seperti finishing, penutup atap,
pasangan plafon, pasangan keramik, pasangan
bata, plesteran
4. 21-40 Rusak
sedang
bila kerusakan terjadi pada sebagian komponen
non struktural maupun struktural seperti struktur
atap, struktur langit-langit, struktur beton, lantai,
dan lain-lain. Pada fasilitas utilitas kerusakan
yang terjadi sudah mengganggu fungsional
fasilitas tsb.
5. 0-20 Rusak
berat
kerusakan terjadi pada sebagian besar
komponen bangunan, baik struktural maupun
non struktural yang bila setelah diperbaiki masih
dapat berfungsi dengan baik sebagaimana
mestinya dengan pembiayaan yang cukup mahal
Sumber: Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2002)


Keterangan:
BB =bobot kegiatan
sn =skor nilai





Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009


Tito Sucipto : Analisis Keterandalan Bangunan, 2009
Referensi

Department of Facilities Management of University of Colorado. 2003. Building
Audit. www.fm.colorado.edu/planning/glossary/buildingaudit.
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah RI. 2002. Keputusan Menteri
Permukiman dan Prasarana Wilayah No.332/KPTS/M/2002 tentang Pedoman
teknis Pembangunan Gedung Negara. J akarta: PT. Mediatama Saptakarya
Istana Kepresidenan RI. 2004. Sejarah Istana Cipanas. www.presidensby.info/
istana/index.php/statik/sejarah/cipanas.html.
Nova Building Audit Services. 2007. http://www.nova-corp.com/Construction/
pdfs/CM_Infra_Build_Audit.pdf.
Nugroho, W. 2005. Tempat Soekarno mencari inspirasi. Kompas, Selasa 9
Agustus 2005. www.kompas.com/kompas-cetak/0508/09/Politikhukum/
1956094.htm.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan
Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum. J akarta.
Sulaiman. 2005. Keterandalan Konstruksi Bangunan Pendidikan [Thesis]. Bogor:
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Watt, D.S. 1999. Building Pathology Timber in Construction, Principles and
Practice. Blackwell Science. Leicester: De Monfort University.
Wilkipedia Indonesia. 2007. Istana Cipanas. http://id.wikipedia.org/wiki/Istana_
Cipanas.
Yap, K.H.F. 1997. Konstruksi Kayu. Bandung: Binacipta.