Anda di halaman 1dari 14

Pengambilan keputusan

Mata Kuliah : Kewirausahaan, Kepemimpinan dan Komunikasi Bisnis

oleh : Aldilla Rizki ( 0910230038) Anggriawan Setyo Wibowo ( 091023007) Alvin ( 0910233 ) Didik Prasetyo ( 091023009 ) Evanti Andriani ( 0910233013 ) Satia Yustisia ( 0910230126 ) Yudistira ( 0910233029 )

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2011


Pengertian - Menurut kamus Webster, keputusan adalah tindakan penentuan suatu pendapat atau langkah langkah tindakan. - Keputusan juga dapat diartikan sebagai pilihan yang didasarkan atas criteria tertentu mengenai alternatif kelakuan tertentu dari pada sebuah alternatif atau lebih. - Keputusan secara efektif adalah suatu seni di samping sebagai ilmu. Bentuk keputusan a) Ide atau Gagasan - Induktif : cara bepikir yang bersumber pada data statistik (khusus) dijadikan kesimpulan umum. - Deduktif : suatu cara yang menimbulkan ide baru atau menghubungkan ide dan hal hal yang sebelumnya belum berhubungan. - Kreatif - Kausatif : Suatu cara berpikir dengan menjelaskan apa yang akan terjadi akibat keadaan sebelumnya. - Problem Solving : cara berpikir yang mengungkapkan masalah yang perlu dipecahkan. b) Konsep Konsep adalah suatu ide yang sudah dirumuskan secara sistematis. Dalam konteks pengambilan keputusan konsep suatu keputusan yang memiliki dasar yang kuat, tujuan yang jelas. c) Pemilihan Alternatif : Penentuan sikap dari beberapa alternatif. d) Pendapat : suatu reaksi dari keadaan yang ada. e) Program : suatu keputusan yang dibuat untuk dilaksanakan. Macam macam Keputusan a) Dari Segi Tipe Keputusan yang diprogramkan : keputusan yang diproses melalui prosedur khusus guna menanggulangi berbagai masalah rutin dan terjadi berulang ulang. - Ciri cirinya : sering, berulang, rutin, lebih pasti dalam hal hubungan sebab akibat.

- Prosedur : berdasarkan pada kebijaksanaan peraturan dan prosedur pasti. Keputusan yang tidak diprogramkan : suatu keputusan yang diambil oleh seseorang pimpinan mengenai masalah yang unik dan komplek. - Misalnya : memilih alternatif, kreativitas. - Ciri cirinya : baru, tidak terstruktur, lebih tidak pasti dalam hubungan sebab akibat. - Prosedur : menghasilkan adanya kreativitas -> toleransi terhadap kebijaksanaa, pemecahan vosif kreatif b) Segi tingkat keputusan Suatu keputusan yang berorientasi pada masa dating ( jangka panjang ) - Contoh : ekspansi perusahaan, diversifikasi, kebijaksanaan pemerintah tentang moneter, kurang - Cirinya : tidak pasti, jangka panjang Keputusan taktis : suatu keputusan yang berorientasi pada aktivitas jangka pendek - Contoh : promosi jabatan, penyusunan anggaran belanja, pengaturan acara - Cirinya : hasilnya bersifat determinative, efektif, efisien. Keputusan teknis : suatu keputusan dalam rangka pelaksanaan putusan taktis. - Contoh : menetapkan waktu, pengawasan suatu proses, pengiriman barang, menyetujui / menolak kredit, alokasi pekerjaan. - Cirinya : efektif, efisien, skala terbatas. c) Segi level Keputusan administrative : suatu keputusan yang menyangkut pemberian landasan administrative pada suatu kegiatan. - Contoh : keputusan pembentukan suatu panitia melalui sebuah surat keputusan . - Cirinya : memiliki latar belakang, tujuan jelas. Keputusan operatif : suatu keputusan tentang pelaksanaan suatu program. - Contoh : ketentuan dalam bentuk juklak ( petunjuk pelaksanaan suatu program ) - Cirinya : bersifat teknis

d) Segi Frekuensi Keputusan rutin : keputusan yang dilakukan oleh suatu organisasi. - Contoh : pembentukan panitia penerimaan mahasiswa baru yang setiap tahun dibentuk. - Cirinya bersifat baku Keputusan insidentil : keputusan yang dibuat berdasarkan kebutuhan yang mendesak. - Contoh : keputusan tentang penghapusan uang lauk pauk buruh. e) Segi Daya Laku Keputusan darurat : suatu keputusan yang dikeluarkan untuk mengatasi suatu masalah yang berbeda / bertentangan dengan aturan yang ada karena aturan yang ada tak mampu mengatasi masalah yang mendesak. - Contoh : melarang warga masyarakat berkumpul lebih dari 5 orang untuk menghindari adanya demonstrasi. - Ciri : di luar aturan, bersifat mendesak, bersifat sementara Keputusan sementara : suatu keputusan yang dibuat untuk mengatasi masalah karena belum ada aturan yang memadai. - Contoh : pengangkatan seorang pejabat pengganti yang bersifat sementara sambil menunggu penjabat lebih memenuhi syarat. - Ciri : bersifat sementara. Keputusan tetap : suatu keputusan yang dibuat dan berlaku permanen, tidak boleh diubah sampai waktu yang sudah ditetapkan. - Contoh : keputusan tentang caleg - Ciri : tidak dapat diubah kecuali ada hal yang luar biasa. f) Segi Efek Efek ekonomi : suatu keputusan yang mempunyai pengaruh terhadap perekonomian - Misal : pemogokan akan berpengaruh pada keuntungan perusahaan Efek yuridis : suatu keputusan yang mempunyai pengaruh secara yuridis - Misal : keputusan tentang pembelian perusahaan yang akan bangkrut akan menyebabkan semua utang beralih tanggung jawab.

Efek politik : suatu keputusan yang akan berpengaruh terhadap kehidupan politik. - Misal : keputusan kenaikan harga minyak akan berpengaruh terhadap perolehan kursi Golkar pada pemilu. g) Berdasarkan Urgensi Keputusan vital : suatu keputusan yang memiliki pengaruh sangat luas. - Contoh : keputusan kembali ke UUD 1945, keputusan menyatakan perusahaan dalam keadaan pailit Keputusan penting : suatu perusahaan yang cukup berpengaruh pada kehidupan perusahaan - Contoh : keputusan penggantian direktur pemasaran Keputusan biasa : suatu keputusan yang sudah sering diadakan tanpa menimbulkan hal yang istimewa. - Contoh : keputusan mutasi pegawai Keputusan formalitas : suatu keputusan untuk memberikan landasan formal - Contoh : seseorang sudah mengajar secara fakta tetapi belum diberi mandat secara tertulis. h) Berdasarkan Alat - George Terry menemukan alat pengambil keputusan yakni : Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi - Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih bersifat subyektif. Inner feeling yang bersifat subyektif itu mudah terkena sugesti, pengaruh luar, rasa lebih suka yang satu dari pada yang lain ( preferences), dan faktor kejiwaan lainnya. - Sifat subyektif dari keputusan intuitif ini ada keuntungan : 1. Karena yang memutuskan itu seseorang, maka dapat segera diputuskan 2. Kalau pimpinan yang bersangkutan mempunyai olah rasa yang cukup tinggi, maka keputusannya banyak yang tepat 3. Keputusan intuitif ini lebih tepat untuk masalah masalah yang bersifat kemanusiaan. Pengambilan keputusan rasional - Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan yang rasional itu lebih bersifat objektif. Dalam masyarakat ,

keputusan yang rasional itu dapat terasa apabila kepuasan optimal masyarakat dapat terlaksana dalam batas batas nilai kemasyarakatan yang diakui saat itu. Pengambilan keputusan berdasarkan fakta - Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data. Sedangkan data merupakan bahan mentahnya informasi. Dengan demikian maka data harus diolah dulu menjadi informasi, kemudian informasi inilah yang dijadikan dasar pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman - Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis. Pengalaman dan kemampuan memperkirakan apa yang menjadi latar belakang masalh dan bagaimana arah penyelesaiannya sangat membantu dalam memudahkan dalam pemcahan masalah. Karena pengalaman, maka seseorang sudah dapat menduga permasalahannya walaupun hanya melihat sepintas lalu, dan mungkin ia sudah dapat menduga macam apa penyelesaiannya yang dianggap paling baik di antara bermacam macam alternatif pemecahan masalah. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang - Keputusan yang berdasarkan wewenang mempunyai beberapa keuntungan. Dalam hal ini Terry menyebutkan 3 keuntungan : 1. Usually readily accepted 2. Process authenticity 3. Provide permanency - Sebaliknya keputusan atas dasar wewenang pun ada kelemahannya. Dalam hal ini Terry mengatakan: on the other hand, authority- based decisions (1). May be come too routine and echo dislikd dictatorial practices, and (2). May be made one far removed from the actual problem so that a lack of intimacy and understanding of the factors involved, as well as an insufficient evaluation of the in reaching the decision, is present i) Berdasarkan Kelompok Keputusan Individu : suatu keputusan yang dibuat oleh seseorang pimpinan sendirian. - Kebaikannya antara lain :

1. 2.

3.

1. Keputusannya cepat ditentukan atau diambil, karena tidak usah menunggu persetujuan dari rekan lainnya. 2. Tidak akan terjadi pertentangan pendapat 3. Kalau pimpinan yang mengambil keputusan itu mempunyai kemampuan yang luas dalam bidang yang diputuskan, kepusannya banyak tepatnya. - Kelemahannya : Bagaimanapun kepandaian dan kemampuan pasti terbatas juga Keputusan yang terlalu cepat diambil dan tidak minta nasehat orang lain kerap kali meleset, kerap kali tidak sesuai dengan harapannya. Kalau terjadi kesalahan pengambil keputusan, itu merupakan beban berat bagi pimpinan seorang diri. Keputusan kelompok : suatu keputusan yang dibuat secara bersama sama dalam satu kelompok. Keputusan ini dapat dibagi: 1. Sekelompok pimpinan 2. Sekelompok orang orang bersama pimpinannya 3. Sekelompok orang yang mempunyai kedudukan sama dan keputusan kelompok - Kebaikannya : 1. Hasil pemikiran beberapa orang akan saling melengkapi 2. Pertimbangannya akan lebih matang 3. Kalau ada kesalahan pengambilan keputusan beban ditanggung bersama - Kelemahannya : 1. Jika yang membuat keputusan itu sekelompok orang, maka ada kemungkinan terjadi perbedaan endapat 2. Biasanya memakan waktu yang lama dan berlarut larut karena terjadi perdebatan perdebatan 3. Rasa tanggung jawab masing masing menjadi agak kurang, dan ada kemungkinan saling melemparkan tanggung jawab jika terjadi kesalahan.

Prinsip-prinsip Pengambilan Keputusan a. Teory Terry Menurut Terry, Faktor-faktor yang perlu di perhatikan dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :

o Hal-hal yang berwujud maupun yang tidak berwujud,yang emosional maupun rasional perlu di perhitungkan dalam pengambilan keputusan. o Setiap keputusan nantinya harus dapat di jadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi. o Setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi,tetapi harus lebih mementingkan kepentingan organisasi. o Jarang sekali ada satu pilihan yang memuaskan (oleh karena itu selalu buatlah alternative alternative tandingannya) o Pengambilan keputusan itu merupakan tindakan mental ini kemudian harus di rubah menjadi tindakan fisik. o Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang cukup lama. o Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. o Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian mata rantai kegiatan berikutnya. b. Teori John D. Millet Millet menyebutkan bahwa ada tiga factor yang harus dipenuhi oleh pimpinan dalam megambil keputusan yang tepat, yakni: o Kita harus memperhatikan perbedaan antara individu pria dan wanita, dimana pria umumnya lebih tegas (berani dan cepat mengambil keputusan), sedangkan wanita umumnya sering ragu-ragu. o Peranan bagi orang yang mengambil keputusan juga perlu diperhatikan. Kemampuan mengumpulkan data dan fakta yang cukup mendetail, kemampuan menganalisis dan mengintegrasi dengan mantap, kemampuan menggunakan konsep yang cukup luas tentang perilaku manusia secara fisik untuk memperkirakan perkembangan-perkembangan hari depan yang lebih baik. o Kita perlu menyadari adanya kemampuan yang terbatas dalam mengambil keputusan di bidang managemen. Keterbatasan ini dapat bersifat instisuional dan dapat juga bersifat pribadi. c. Menurut Penulis Menurut Penulis sendiri, dalam mengambil keputusan ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu: o Keputusan yang tidak bersifat vital harus disegerakan. o Keputusan yang bersifat vital, strategis jsngsn tergesa-gesa. o Keputusan seorang pemimpin besar harus berskala besar. o Seorang pemimpin harus sering mengambil keputusan.

o o o o

Jangan mengambil keputusan untuk masalah yang belum saatnya. Jangan mengambil keputusan yang tak akan dapat dilaksanakan. Jangan mengambil keputusan yang seharusnya dibuat oleh orang lain. Setiap keputusan harus konsisten.

Langkah-langkah Pengambilan Keputusan a. Model William Dunn Menurut Dunn, ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam pengambilan kepentingan kebijakan yang bersifat publik (public policy): o Masalah Kebijakan (Policy) o Alternatif Kebijakan (Policy alternatives) o Tindakan Kebijakan (Policy actions) o Habis Kebijakan (Policy Outcomes) o Pola Pelaksanaan Kebijakan (Policy Perfomances) b. Model Sondang Siagian Siagian mengemukanan urutan proses pengambilan keputusan sebagai berikut: o Definisi Masalah o Pengumpulan data o Analisis data o Penentuan alternative-alternatif o Pemilihan alternative terbaik o Memutuskan o Implementasi dan monitoring hasil o Evaluasi c. Model A Simon Tahapan proses pembuatan keputusan menurut Simon meliputi 4 hal: o Kegiatan-kegiatan intelejen, dalam bentuk mengamati lingkungan yang memungkinkan untuk pembuatan keputusan. o Kegiatan perancangan, dalam arti menemukan, mengembangkan dan mengadakan analisis serangkaian tindakan dalam rangka pembuatan keputusan. o Kegiatan pemilihan, yakni memilih tindakan tertentu dari bermacam-macam kemungkinan tindakan yang dapat ditempuh. o Kegiatan Peninjauan, dalam arti apa yang telah dipilih tersebut kemudian dilaksanakan, dan diadakan evaluasi. d. Model Prajudi

Prajudi mengemukakan pola proses pengambilan keputusan meliputi: o Seorang mula-mula harus menyadari dan menempatkan diri sebagai pimpinan dalam suatu organisasi yang bertanggung jawab sebagai pimpinan organisasi. o Masalah yang dihadapi lebih dahulu harus ditelaah, mengingat bahwa masalah itu mempunyai bermacam-macam sifat, bentuk dan kompleksitasnya. o Selain menelaah, masalahnya juga harus dianalisis situasi yang mempengaruhi baik organisasinya maupun masalahanya. o Kemudiaan perlu menelaah keputusan itu sendiri yang harus dibuatnya. o Setelah keputusan diambil, maka keputusan itu kemudian dilaksanakan. e. Model Herry Mintz Derg o 3 phase o 6 routine o Beberapa dynamic factors
Diagnosis Search Design Recognition Screen Judgement Evaluation Barganing Autorizzation

o Internal interrupt o New opinion interrupt o Eksternal interrupt f. Menurut Penulis o Menerima Tantangan Tantangan adalah sesuatu yang menggugah kemampuan seseorang. Tantangan ini dapat dalam bentu Peluang/kesempatan. Untuk memperhatikan peluang, perlu memperhatikan: a) Apakah peluang tersebut sungguh-sungguh; b) Apakah menyangkut diri kita?; c) Apakah relevan?; d) Apakah memiliki kredibilitas informasi?; e) Kalau dia ancaman, sejauh mana ancaman jadi kenyataan; f) Sejauh mana kerugian akan timbul;

g) Segera atau perlahan-lahan kerugian tersebut terasa; h) kalau ia merupakan peluang bisnis sejauh mana keuntungan yang akan diperoleh; (i) kalau dalam memanfaatkan peluang tersbut memerlukan ekperi atau patner kerja, apakah patner itu ada dan mungkin. o Menentukan Tujuan Dalam menentukan tujuan tersebut perlu memahami latar belakang atau masalah. Misalnya suatu kekuatan politik menjelang pemilu diisukan sebagai partai ragu terhadap Pancasila dan dianggap partai Gurem dan suka konflik. Disini ditemukan masalah: (a) Partai dianggap ragu terhadap pancasila; (b) Partai dianggap kecil; (c) Partai dianggap tidak kompak. Maka keputusan yang akan diambil harus bertujuan: (a) Menunjukkan partai setia pada pancasila; (b) Partai adalah partai besar; (c) Partai dalam keadaan kompak. o Mencari alternative Mencari alternative dapat dilakukan dengan: a) Himpun alternative sebanyak-banyaknya; b) Jangan mengevaluasi alternative pada awal; c) Apakah tiap alternative yang sudah ditemukan dapat dimodifikasi; d) Adakan konsultasi dengan ahli secara structural dan secara fungsional; e) Diskusikan alternative yang ada; f) Bersikap rasional; g) Hindari dichomoto; h) Memperhatikan beberapa factor: Apakah kita pernah menangani masalah serupa? Bagaimana? Dapatkah kita melakukannya dengan cara lain? Bagaimana orang lain menangani masalah ini? Mungkinkah situasi diubah untuk disesuaikan dengan kita? Bagaimana cara kita menyesuaikan diri dengan situasi? Dapatkah kita selesaidengan kerjasama? Tentang apa? dengan siapa? Bagaimana kalau kita coba dengan sebaiknya? Apa kira-kira yang akan terjadi kalau kita tidak melakukan apa-aopa? Apakah terdapat spesialisasi yang dapat membantu?

Apakah ada konsultan? i) Apakah ada saran-saran dari teman dekat o Evaluasi alternative Cara untuk mengevaluasi alternative adalah mencari kelebihan dan kelemahan setiap alternative dan mengaitkan pertimbangan alternative dengan: Faedah bagi kita Keuntungan dan kerugian bagi orang lauin Adakan rencana Pertimbangkan etika o Meramalkan akibat alternative Cara ini dilakukan dengan mengadakan perkiraan strategis dalam bentuk: Proyeksi, yakni perkiraan yang mengarah pada kecenderungan (tend) dari data yang sudah dikumpulkan. Prediksi, yaitu perkiraan yang dilakukan dengan melakukan analisis hubungan sebab akibat. Prakiraan dalam arti konjeksi, yang dimaksud disini adalah perkiraan didasarkan pada instuisi (perasaan). Hal ini sangat tergantung pada bakat dan pengalaman o Sintesa Dalam hal ini kita mengadakan pemaduan alternative mungkin kalau berbeda alternative dipadukan akan didapat alternative yang paling baik. o Inkubasi Masa ini adalah masa dimana alternative yang diputuskan didiamkan dalam arti tidak terbatas tetapi direnungkan siapa tahu ada inspirasi lain. Biasanya pada manusia ini bagi yang percama pada agama, akan meminta petunjuk pada Tuhan. o Memutuskan Tahap ini adalah tahap terakhir dari pengambilan keputusan yang bersifat final. Pengambil keputusan sudah merasa yakin bahwa putusannya tepat. Penyebab Kesalahan dalam Pengambilan Keputusan Keputusan yang diambil oleh manajer berorientasi pada penyebab suatu masalah secara tunitas. Kesalahan yang terjadi dalam pengambilan keputusan dapat mendatangkan resiko berupa tidak terpecahkannya suatu masalah. Terjadinya kesalahan dalam pengambilan keputusan dapat pula memperbesar terjadinya suatu masalah. Hasil dari penelitian yang

dilakukan oleh Slovic, FIschhoff, Lichtenstein, dan Charles H. Ford menyimpulkan sejumlah sumber penyebab kesalahan yang dilakukan oleh pengambil keputusan. Beberapa penyebab kesalahan itu antara lain meliputi indicator-indikator berikut: o Keengganan Banyak manajer yang merasa enggan untuk membuat keputusan dengan memikirkan pentingnya konsekuen yang akan timbul dari keputusan yang ditetapkan. o Keterbatasan Waktu Banyak keputusan yang harus ditetapkan oleh manajer dalam waktu yang relative terbatas. Dengan keterbatasan itu, mengambil keputusan akhirnya tidak sempat dan atau tidak mampu mengembangkan dan menguji konsekuensi maupun kontribusi beberapa alternative. o Kegagalan memisahkan antara gejala dengan masalah Gejala merupakan refleksi dari akar suatu masalah. Pengambilan keputusan seringkalui menyamakan antara gejala dengan masalah. Tanpa menyadari bahwa dengan memusatkan perhatian pada sebagai dasar pemecahan masalah dan pengambilan keputusan akan berakibat pada penetapan keputusan yang belum mampu menuangkan permasalahn yang sebenarnya. o Kegagalan dalam mendefinisikan kondisi, criteria, dan tujuan Dalam pengambilan keputusan, diperlukan secara dini untuk menetapkan kondisi yang efektif bagi tercapainya pemecahan masalah secara tuntas, sasaran yang diinginkan setelah keputusan diambil, apa yang akan terjadi bila suatu keputusan dilaksanakan, serta resiko sebagai konsekuensi logisnya. o Pembuatan kesimpulan dari sumber-sumber yang tidak dipercaya Merupakan perangkap kesalahan suatu keputusan, bila suatu subjektivitas tertentu dari sumber keputusan, bila suatu subjektivitas tertentu dari sumber informasi dijadikan factor o Kurang disadarinya factor yang dapat mempengaruhi praduga pengambil keputusan Banyak pengambil keputusan yang karena factor-faktor kekuasaan, keahlian, dan pengalaman orang lain yang mereka hadapi, mengakibatkan suatu pengambilan keputusan yang menyimpang dari situasi. o Tidak menggunakan metode secara sistematis

Kesulitan yang biasa terjadi pada waktu manajer akan menetapkan suatu keputusan adalah dihadapkannya sejumlah informasi, fakta-fakta dan tuntutan terhadap dirinya untuk mengembangkan alternative-alternatif. o Emosi yang memperkeruh proses pengambilan keputusan Pengambil keputusan tidak bisa melepaskan perasaan dalam pengambilan keputusannya. Bahkan pada umumnya orang pun akan menerima suatu keputusan juga dengan perasaannya dan kemudian merasionalkan. o Kegagalan untuk menetapkan Anggapan bahwa setelah keputusan ditetapkan merupakan aktivitas akhir dalam memecahkan suatu masalah, adalah anggapan yang salah. Dengan diperoleh keputusan, berarti merupakan langkah awal bagi penyelesaian secara tuntas suatu masalah.