Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM BOTANI FARMASI PRAKTIKUM 3 PENEBALAN DINDING SEL

KELOMPOK III : HAIRUDDIN MOHAMAD SUKRI HASAN MOH. SULISTIO NIKITA FAUZIAH INDAH SARI I GUSTI AYU ARI INDAH YANI INSYIRA F. BASRI NOSPA S. NUNE SITI ALIANA (821413093) (821413091) (821413095) (821413100) (821413098) (821413101) (821413111) (821413104)

VERA PUSPITASARI M. PAUWENI (821413107) ASISTEN : RUDIN SARIPI S.Si LABORATORIUM FARMAKOGNOSI DAN FITOKIMIA JURUSAN FARMASI FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN DAN KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO 2013

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM 2 KELOMPOK III : HAIRUDDIN MOHAMAD SUKRI HASAN MOH. SULISTIO NIKITA FAUZIAH INDAH SARI I GUSTI AYU ARI INDAH YANI INSYIRA F. BASRI NOSPA S. NUNE SITI ALIANA (821413093) (821413091) (821413095) (821413100) (821413098) (821413101) (821413111) (821413104)

VERA PUSPITASARI M. PAUWENI (821413107)

GORONTALO,

OKTOBER 2013

RUDIN SARIPI S.Si

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI DAN FITOKIMIA JURUSAN FARMASI FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN DAN KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO 2013

DAFTAR ISI COVER LEMBAR PENGESAHAN .....................................................................................i DAFTAR ISI .............................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 Latar Belakang ...............................................................................................1 Manfaat dan Tujuan Percobaan ......................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 2.2 2.3 Teori Umum ...............................................................................................3

Uraian Bahan ...............................................................................................5 Prosedur Kerja ................................................................................................13

BAB III METODE KERJA 3.1 3.2 Alat dan Bahan ...............................................................................................14 Cara Kerja ......................................................................................................14

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 4.2 Hasil Pengamatan ...........................................................................................15 Pembahasan ....................................................................................................27

BAB V PENUTUP 5.1 5.2 Kesimpulan .....................................................................................................18 Saran ................................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................19 LAMPIRAN ..............................................................................................................20

ii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Dinding sel memiliki hampir semua sel tumbuhan vaskular, dinding sel ini berfungsi sebagai pelindung. Beberapa sel tumbuhan tidak mempunyai dinding sel, misalnya sel spora yang motil pada alga dan jamur serta sel-sel seksual pada tumbuhan rendah maupun pada tumbuhan tinggi. Keberadaan dinding sel merupakan ciri khas yang membedakan sel tumbuhan dari sel hewan. Dalam banyak hal penentuan tipe sel tumbuhan tinggi dapat didasarkan pada struktur dinding selnya. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa struktur dinding sel berhubungan erat dengan fungsi sel yang di bungkus dinding tersebut. Berbeda dari organel lainya dinding sel mengalami perubahan sangat substansial dalam hal struktur dan komposisi selama perkembanganya. Sifat fisik dan kimia dinding sel dapat berbeda tergantung pada tipe sel yang diselubunginya. Polisakarida umumya merupakan bagian besar penyusun dinding sel. Selain itu juga dapat ditemukan protein, lemak dan mineral sedangkan pada tingkat perkembangan yang lebih lanjut dinding sel dapat mengandung lignin dalam jumlah sangat besar. Sel epidermis daun dan organ lain yang terbuka terhadap biasanya dilapisi lapisan yang terdiri atas lilin dan kutin sedangkan pada jaringan bergabus dinding lazim mengandung suberin. Dinding sel berstruktur kompleks dan biasanya atas terdiri tiga lapis, yaitu lamels tengah, dinding primer dan dinding sekunder. Lamela tengah merekatkan dinding primer dua sel yang bertetangga langsung, dinding sekunder menutupi dinding primer yang berarti dinding sekunder mengelilingi lumen sel secara lamgsung. Dinding primer terdiri selapos sedangkan dinding sekunder tersusun dari satu sampai beberapa lapisan dan sangat sering terdiri tiga lapisan. Lamela tengah, substansi interseluler yang melekatkan dinding primer dua sel yang bersebelahan disebut lamela tengah. Lamela tengah terutama tersusun dari senyawa pectin yang tampaknya berupa suatu campuran kalsium dan magnesium pektat.

Dinding primer, dibentuk di atas papan sel atau fragmoplas ( dalam proses pembelahan sel, papan sel kemudian menjadi lamela tengah ). Umumnya dinding primer dibentuk pada sel yang berkembang Dinding sekunder, umunya pada sel yang telah berkembang penuh terjadi penebalan dinding berikutnya; dinding sel yang terbentuk lebih kemudian itu disebut dinding sekunder. Dinding sekunder itu di anggap sebagai dinding suplemen dengan fungsi pokok mekanik. 1.2. Manfaat dan Tujuan Penelitian 1.2.1 Untuk meneliti penebalan pada dinding sel tumbuhan menggunakan mikroskop. 1.2.2 Untuk mengidentifikasi penebalan dinding sel yang terjadi pada tumbuhan biji asam jawa, bunga kembang sepatu, daun beringin, daun sukun, encarpium kelapa. 1.2.3 Untuk membedakan penebalan dinding sel yang sentripetal maupun penebalan dinding sel sentrifugal...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Umum 1. Lapisan Dinding Sel Dinding sel merupakan bagian sel yang bersifat mati. Dinding sel mempunyai struktur mempunyai struktur kompleks dan berdasarkan

perkembangan dan strukturnyadibedakan menjadi 3 bagian pokok yaitu : dinding primer, lamela tengah, dinding sekunder. a. Dinding Primer Dinding primer merupakan dinding pertama yang dibentuk sel baru. Dinding primer dibentuk diatas papan sel atau fragmoplas (dalam proses pembelahan sel, papan sel kemudian menjadi lamella tengah). Dinding primer tersusun dari selulosa, senyawa pektin, polisakarida yang bukan selulosa dan hemiselulosa. Kadang-kadang dinding primer menjadi berlignin. Komponen utama penyususn dinding sel adalah selulosa, merupakan molekul tunggal yang terdiri atas unit-unit rantai glukosa yang panjang lurus tak bercabang dengan ujung-ujung saling berhubungan. Dinding sel meristematik yang sedang membelah dan tumbuh adalah dinding primer. Tebal dinding primer tidak merata sehingga tampak bersling antara dinding yang tebal dan tipis. Perubahan pada dinding primer reversibel, dinding primer dapat kehilangan tebal yang telah diperoleh dan substansi kimianya mungkin digeser atau digantikan oleh substansi lainnya. Sebagai contoh sel kambium secara berkala menunjukkan perubahan tebal dan ciri koloidnya, demikian pula tebal dinding primer endosperma pada banyak biji dicerna selama perkecambahan.(Setjo, S., 2004) b. Lamela Tengah Substansi interseluler yang merekatkan dinding primer dua sel yan bersebelahan disebut lamela tengah. Lamela tengah terutam tersusun dari senyawa pectin yang tampaknya berupa suatu campuran kalsium dan magnesium pektat. Pada jaringan berkayu lamella tengah biasanya berlignin. (Setjo, S., 2004)

c. Dinding Sekunder Umumnya pada sel yang telah berkembang penuh terjadi penebalan dinding berikutnya; dinding sel yang terbentuk lebih kemudian itu disebut dinding sekunder. Dinding sekunder itu dianggap sebagai dinding suplemen dengan fungsi pokok mekanik. Umumnya sel-sel yang mempunyai dinding sekunder pada waktu dewasa kehilangan protoplas, tetapi sel-sel parenkima pada jejari xilem dan parenkima xilem mungkin mempunyai dinding sekunder juga. Dinding sekunder tersusun dari selulosa, polisakarida non-selulosa dan hemiselulos. Kadang-kadang jumlah lapisan dinding sekunder lebih dari tiga lapis, dan lapisan terdalam kadang-kadang hanya berupa sabuk spiral dan sabuk demikian ini disebut sabuk tersier. (Setjo, S., 2004) 2. Penebalan Dinding Sel Pertumbuhan dinding sel dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pertumbuhan permukaan dan pertumbuhan menebal. Pertumbuhan menebal nampak jelas pada dinding sekunder tetapi juga biasa terjadi pada dinding primer. Penimbunan bahan dinding diatas lapisan yang telah ada disebut aposisi, sedangkan penimbunan bahan dinding dengan cara penyisipan diantara bahan dinding yang telah ada dikenal sebagai intususepsi. Arah penebalan dinding sel secara aposisi biasanya sentripetal (penebalan kearah dalam), misalnya terdapat pada sel epidermis daun beringin pada pembentukkan sistolit. Arah penebalan dinding lainnya adalah secara sentrifugal (penebalan kearah luar), misalnya pada dinding luar butir polen dan spora lainnya, yaitu dalam pembentukkan eksin. Proses penebalan dinding dinding sel terdiri atas dua, yang pertama yaitu penebalan dinding primer adalah perkembangan dari lamela tengah yang mengalami perubahan primer karena adanya penebalan zat selulosa, hemiselulosa, pectin dan polisakarida. Dibentuk pertama-tama pada waktu pembelahan sel dan sel-sel yang dewasa dapat kembali (mampu membelah). Penebalan dinding sekunder adalah perkembangan lebih lanjut dari dinding sel primer karena adanya penebalan dari zat lignin. Dibentuk setelah dinding primer terbentuk (disebelah dalam permukaan dinding primer) dan tidak dapat bersifat embrional kembali atau bersifat mati.(Setjo, S., 2004)....

2.2 Uraian Bahan 1. Asam Jawa (Tamarindus indica) a. Klasifikasi tanaman asam jawa Dalam sistem matika taksonomi tumbuhan kedudukan tanaman asam jawa diklasifikasikan sebagai berikut: Regnum Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Leguminosales : Leguminoceae : Tamarindus : Tamarindus Indica L.

(Utami, Prapti., 2008) b. Morfologi Tanaman asam bukan tanaman asli Indonesia. Berdasarkan beberapa literatur disebutkan bahwa tanaman asam jawa beasal dari daerah sabana yang gersang di Afrika, tumbuh subur disundan. Di Indonesia, tanaman asam jawa banyak ditanam diberbagai wilayah. (Rukmana, R., 2005) Tanaman asam jawa termasuk suku johar-joharan. Suku ini meliputi 152 genera dan sekitar 2.8000 spesies. Sumber genetik tanaman asam jawa yang berkembang didunia dibedakan menjadi dua jenis, yaitu asam jawa dan asam manis. Asam jawa banyak tumbuh dipulau Jawa dan aderah-daerah lainnya di Indonesia, sedangkan asam manis dikembangkan di Thailand. Asam manis mulai ditanam dipulau Indonesia pada awal tahun 1980-an. (Rukmana, R., 2005) Tanaman asam jawa berumur panjang, lebih dari 200 tahun. Tinggi pohon antara 25-30 m dengan lingkar batang lebih dari 7 m. Pohon kuat dan kekar, kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan dan tidak rata permukaannya. Daun berbentuk seperti daun tanaman petai cina yakni bulat memanjang, kecil, dan tipis. Warna daun hijau sampai hijau tua. Helaian daun tersusun dalam tangkai daun. Duduk daun berhadapan seperti berpasang-pasangan. (Rukmana, R., 2005)

Bunga tanaman asam termasuk bunga majemuk berwarna kuning pucat dan kemerah-merahan.bunga akan membentuk buah setelah melalui proses penyerbukan sendiri atau penyerbukan silang dengan bantuan angin dan serangga . Tanaman asam dapat berbuah pada umur 13 tahun, meskipun ada juga yang dapat berbuah pada umur 6-8 tahun. Buah asam jawa berbentuk polong tipis, berukuran panjang 12-15 cm, dengan bobot antara 15-20 g. Buah asam jawa pada umumnya bengkok, kulitnya berwarna seperti karat besi, tipis, dan mudah pecah atau retak. Didalam polong terdapat daging buah yang membungkus biji. Daging buah berwarna cokelat sampai cokelat tua atau merah. Buah berukuran panjang mencapai 15 cm dan dapat berisi banyak biji, yaitu sampai 15 butir. Buah asam yang telah masak disebut asam kawak. Biji asam disebut klusung berbentuk bulat telur dan gepeng, serta bertekstur keras. Biji berukuran panjang 15 mm dan warna hitam mengkilap. (Rukmana, R., 2005) c. Kandungan Pulp asam jawa mengandung gula, asam tatrat, asam sitrat, asam asesat, asam askorbat, serta berbagai vitamin dan mineral penting lainya. Selain itu buah asam jawa juga mengandung gizi yang cukup tinggi dengan komposisi yang lengkap seperti : kalori (239 g), protein (2,80 g), lemak (0,60 g), karbohidrat (62,50 g), kalsium (74 mg), fosfor (113 mg), zat besi (0,60 mg), vitamin A, vitamin B, vitamin C, Air, dan bagian dapat dimakan (48 %). Setiap 100 gram mengandung nilai kalori sebanyak 239 kalori. Kulit bijinya mengandung phlobatanin serta bijinya mengandung albumin dan pati. (Rukmana, R., 2005) d. Khasiat Zat kimia yang terkandung dalam asam jawa bersifat anti radang, penurun panas, antibiotik, dan untuk menghilangkan bengkak. Berkhasiat mengobati asma, batuk, demam, panas, rematik, sakit perut, morbili, dan biduren. Selain itu juga bisa mengatasi sariawan, luka (luka baru dan luka borok), eksim, bisul, bengkak disengat lipan atau lebah, gigitan ular berbisa, dan rambut rontok. (Utami, Prapti., 2008)

2.

Kelapa (Cocos Nucifera) a. Klasifikasi tanaman kelapa Dalam tata nama atau sistematika taksonomi tanaman tumbuh-tumbuhan,

tanaman kelapa dimasukkan kedalam klasifikasi sebagai berikut: Regnum Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Monokotiledon : Palmales : Palmae : Cocos : Cocos Nucifera

(Warisno., 2003) b. Morfologi Seperti tanaman monokotil lainnya, tanaman kelapa mempunyai sistem perakaran serabut. Akar memiliki fungsi utama untuk menyerap air adn unsurunsur hara dari dalam tanah, serta untuk menunjang berdirinya batang kelapa agar tetap tegak ditempatnya (tidak roboh). Tanaman kelapa memiliki susunan perakaran yang kuat. Walaupun sudah cukup lama mati, akar-akarnya yang tua masih kuat dan utuh berada ditempatnya. Jumlah akar serabut berkisar antara 2.000-4.000 helai perpohon. Akar serabut bercabang-cabang membantuk rambut akar yang berfungsi sebagai penghisap air dan unsur hara tanaman. Akar serabut yang tumbuh kebawah dapat mencapai panjang 10-15 m, sedangkan akar yang tumbuh ke bawah dapat menembus tanah sampai 2-3 m, jika tidak terdapat lapisan cadas. Garis tengah akar serabut rata-rata 1 cm. (Warisno., 2003) Pada bagian ujung akar tidak terdapat rambut akar. Fungsi akar rambut digantikan oleh bagian akar yang berdinding lunak seperti gelembung-gelembung yang terdapat pada permukaan akar, dibelakang tudung akar. Batang kelapa tumbuh lurus keatas dan tidak bercabang, kecuali ditanam ditepi sungai, tebing, dan lain-lain. Setiap batang kelapa memiliki satu titik tumbuh yang terletak diujung batang, yakni yang membentuk daun-daun dan batang. Batang kelapa tidak memiliki kambium, sehingga tidak memiliki pertumbuhan sekunder. Jika terjadi luka pada batang tidak dapat pulih seperti semula, karena tidak terbentuk

kalus. Oleh karena itu batang akan selalu bertambah panjang atau meninggi. Pada umumnya tinggi batang kelapa dapat mencapai 30 m, dengan garis tengah batang antara 20-30 cm, bergantung pada keadaan iklim tanah, dan lingkungan lahan. (Warisno., 2003) Potongan melintang batang kelapa menunjukkan adanya berkas-berkas pembuluh yang cukup banyak. Di bagian luar, berkas-berkas pembuluh tersebut berkumpul dan bersambung dengan berkas-berkas pembuluh dari tangkai daun. Batang kelapa hanya berisi serabut-serabut kayu yang mengeras. Bagian ujung batang tanaman kelapa banyak mengandung zat gula. Bagian ini biasa disebut umbut atau pondoh yang merupakan titik tumbuh daun serta karangan bunga. (Warisno., 2003) Daun kelapa tersusun saling membalut satu sama lain, sehingga merupakan selubung yang runcing pada ujungnya. Daunnya menyirip genap dan bertulang sejajar. Daun memiliki pelepah daun, dimana terdapat anak-anak daun pada sisi kiri dan kanannya. Tajuk daun terdiri atas 20-30 buah pelepah. Pada pohon yang sudah dewasa, panjang pelepah berkisar antar 5-8 m, dengan berat rata-rata 15 kg, dan jumlah anak daun 100-130 lembar (50-65 pasang). Anak daun berukuran panjang antara 1-1,5 m, dengan tulang daun yang cukup keras ditengah-tengahnya. Pangkal pelepah daun berbulu halus dan berukuran cukup lebar. (Warisno., 2003) Bunga tanaman kelapa mulai berbunga pada umur antara 3-4 tahun, karangan bunga selalu tumbuh dari ketiak daun yang pada bagian luarnya diselubungi oleh oleh seludang tau mancung. Mancung merupakan kulit tebal yang berfungsi sebagai pelindung calon bunga, yang memiliki ukuran panjang sekitar 80-90 cm. (Warisno., 2003). Pada pangkal terdapat bunga betina, disusul dengan bunga jantan yang melekat pada cabang tanpa tangkai bunga. Penyerbukan bunga kelapa berlangsung dengan perantara serangga, misalnya lebah. Bagian bunga jantan memiliki 3 helai kelopak bunga, 3 helai daun mahkota, 6 helai benang sari, dan 1 putik. Sedangkan bunga betina yang telah mekar memiliki ukuran yang lebih besar mencapai 3 cm. Pada ujung bunga mahkota tampak sedikit keluar dan putik tidak bertangkai. (Warisno., 2003)..

Pertumbuhan buah kelapa mengalami tiga fase, yaitu fase pembesaran serabut, tempurung, dan lubang embrio, berlangsung selama 4-5 bulan. Pada fase ini, ruangan masih dipenuhi oleh air dan tempurung masih lunak. Fase kedua berlangsung selama dua bulan, yaitu fase penebalan tempurung, tetapi tempurung, tetapi tempurung belum mengeras. Fase ke tiga merupakam fase pembentukan putih lembaga atau endosperm. (Warisno., 2003) c. Kandungan Kandungan zat gizi pada tanaman kelapa adalah kalori, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, vitamin B 1, vitamin C, dan air. Air kelap mengandung 4% mineral, 2% gula. Air kelapa juga mengandung abu, air, dan zat pengatur tumbuh yang disebut sitokinin. (Warisno., 2003) d. Khasiat Airnya digunakan sebagai penawar racun, mengatasi muntah-muntah, kepala pusing, Menyembuhkan rambut rontok dan berubah, Menyembuhkan rambut rontok dan berubah, Membersihkan kulit kepala bayi yang kotor, dan Membersihkan koreng. (Warisno., 2003) 3. Kembang sepatu (Hibiscus rosesinensis) a. Klasifikasi tanaman kembang sepatu Dalam tata nama atau sistematika taksonomi tanaman tumbuh-tumbuhan, tanaman kembang sepatu dimasukkan kedalam klasifikasi sebagai berikut: Regnum Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Malvales : Malvaceae : Hibiscus : Hibiscus Rosasinensis

(Hembing., 2000) b. Morfologi Tumbuhan kembang sepatu merupakan peru yang tumbuh tegak dengan banyak percabangan. Tinggi 1-4 m, tumbuh dari dataran rendah sampai pegunungan. Daun tunggal berbentuk bulat telur dengan tepi bergerigi kasar dan

tulang daun menjari, ujung meruncing, panjang daun 3,5- 9,5 cm dan lebar 2-6 cm dengan daun penumpu berbentuk garis. Daun mempunyai tangkai dengan panjang tangkainya 1-3,7 cm. Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun, sedikit menggantung, dengan tangkai bunga beruas, warna bunga ada yang merah, dadu, orange, kuning, putih, dan sebagainya. Kembang sepatu biasanya ditanam sebagai pagar hidup dan tanaman hias karena bunganya yang indah dan berwarna macammacam. (Hembing., 2000) c. Kandungan Daun mengandung taraxeryl acetat dan bunga mengandung cyanidin diglucosid, hibisetin, zat pahit dan lendir.Kembang sepatu juga kaya akan Vit. C, mineral, serta antioksidan. (Hembing., 2000) d. Khasiat Rasa manis, netral, berkhasiat sebagai antiradang, antiviral, peluruh kemih, menormalkan siklus haid, peluruh dahak. Bunga berkhasiat untuk teberculosa, mimisan, disentri, infeksi saluran kemih, air kemih bernanah, keputihan,haid tidak teratur, malancarkan haid, serta bisul. Daun mengobati sariawan, gondongan, radang usus, radang selaput, radang selaput mata, serta demam karena malaria. (Hembing., 2000) 4. Sukun (Arthocarpus communis) a. Klasifikasi tanaman sukun Didalam ilmu tumbuh-tumbuhan tanaman sukun termasuk dalam klasifikasi sebagai berikut. Regnum Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Angiospermae : Dikotiledon : Urticales : Moraceae : Arthocarpus : Arthocarpus communis

(Suryo, Joko., 2000)

10

b. Morfologi Tanaman sukun memiliki ketinggian bisa mencapai 20 meter. Sukun bukan buah bermusim meskipun biasanya berbunga dan berbuah dua kali setahun. Kulit buahnya berwarna hijau kekuningan dan terdapat segmen-segmen petak berbentuk poligonal. Segmen poligonal ini dapat menentukan tahap kematangan buah sukun. Akar melekat pada batang dengan bentuk lebih besar dibandingkan cabang serta ranting akar. Akarnya berbentuk bulat, berwarna cokelat kehitamhitaman. Batang sukun berkayu dengan warna kulit hijau keabu-abuan, kulit bertekstur tidak keras dan beraroma spesifik. Daun sukun terletak pada cabang atau ranting dengan teratur secara spiral, berjarak antara 2-10 cm. Tangkai daun kukuh dengan panjang antara 3-5 cm. Daun tebalseperti belulang, kaku, berwarna hijau tua, mengkilap dibagian atasnya. Bunga nya berumah satu dimana tanda bunga jantan dan betina masing-masing terletak pada ketiak daun. Bunga jantan berbentuk menyerupai busa, panjang mencapai 25 cmatau lebih, berwarna kuning, mirip ekor kucing, terkulai kebawah. Buah termasuk kedalam buah majemuk, berbentuk tandan serta bulat atau bulat telur. (Pitojo, setyo., 2001) c. Kandungan Buah sukun mengandung niasin, vitamin C, riboflavin, karbohidrat, kalium, tamine, natrium, kalsium, dan besi. Pada kulit kayunya ditemukan senyawa flavonoid yang terprenilasi, yaitu artanol B dan sikloartobilosanton. Kedua senyawa tersebut telah diisolasi dan diuji bioaktivitas antimitotiknya pada cdc2 kinase dan cdc25 kinase. (Suryo, Joko., 2002) d. Khasiat Flavonoid adalah senyawa polifenol yang secara umum mempunyai struktur phenylbenzopyrone (c6-c3-c6). Flavonoid dan derivatnya terbukti memiliki aktivitas biologi yang cukup tinggi sebagai cancer prevention. Berbagai data dari studi laboratorium, investigasi epidemiologi, dan uji klinik kepada manusia telah menunjukkan bahwa flavonoid memberikan efek segnifikan sebagai cancer chemoprevention dan pada kemoterapi. (Suryo, Joko., 2002)

11

5.

Daun beringin (Ficus benyamina ) a. Klasifikasi tanaman beringin Kedudukan tanaman beringin dalam sistematika tumbuh-tumbuhan

diklasifikasikan sebagai berikut: Kerajaan Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Urticales :Moraceae : Ficus : Ficus benyamina

(Dalimartha, S.,1999) b. Morfologi tanaman beringin Habitat tumbuh di tanah dan ada yang bersifat hemi-epifit. Beringin merupakan tanaman yang memiliki kemampuan hidup dan beradaptasi dengan bagus pada berbagai kondisi lingkungan. Selain itu juga sering dijumpai di kawasan hutan Beringin merupakan tanaman yang mampu hidup di berbagai macam kondisi lingkungan yang ekstrim, salah satunya adalah diatas batu. Dengan akar yang kuat tanaman tersebut mampu mecengkram batu yang besar dan menahannya agar tidak jatuh ke bawah. Habitusatau perawakandari pohon beringin ( Ficus benyamina L.) Pohon besar, diameter batang bisa mencapai 2 m lebih, tinggi bisa mencapai 25 m. Batang tegak bulat, permukaan kasar, coklat kehitaman, keluar akar menggantung dari batang. Daun tunggal, lonjong, hijau, panjang 3 - 6 cm, tepi rata, letak bersilang berhadapan. Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun, kelopak bentuk corong, kuning kehijauan. Buah bulat kecil, panjang 0.5 - 1 cm perbanyakan dengan biji. struktur perakarannya yang dalam dan akar lateral yang mencengkeram tanah dengan baik. Manfaat daripohon beringin (Ficus benjamina L.) dengan sistem perakaran yang kuat dengan akar tunggang serta akar udara atau akar gantung dan merupakan tanaman yang mampu menjadi penahan erosi tanah. (Dalimartha, S.,1999)

12

c. Kandungan Akar udara mengandung asam amino, fenol, gula, dan asam oranye, rasanya sedikit pahit, bersifat astringen, dan sejuk. Daun, akar, dan kulit beringin mengandung saporin, flavonoid,serta polifenol. (Dalimartha, S.,1999) d. Khasiat Akar udara dapat digunakan untuk mengatasi pilek, radang amandel, nyeri pada rematik, dan luka memar. Daun bermanfaat untuk mengatasi influenza, radang saluran nafas, batuk rejan, malaria, radang usus akut, disentri dan kejang panas pada anak. (Utami, Prapti., 2008).

13

2.3

Skema Kerja SAMPEL

Hibiscus rosa-sinensis Dinding luar serbuk sari

Arthocarpus communis

Tamarindus indica

Cocos nucifera

Ficus benjamina

Penampang membujur daun Irisan melintang Endocarpium biji

Irisan membujur Endocarpium (batok) Penampang melintang daun

1 tetes aquades

Tutup dengan cover gelas

kaca preparat

Amati pada mikroskop

Gambar hasil penelitian

14

BAB III METODE KERJA 3.1. Alat dan bahan 1. Adapun alat dan bahan yang di gunakan adalah sebagai berikut: 1. Cawan 2. Deck glass 3. Kaca preparat 4. Mikroskop 5. Pinset 6. Pipet tetes 7. Silet tajam 8. Tisu 2. Bahan 1. Air 2. Alkohol 70% 3. Biji asam jawa (Tamarindus indica) 4. Bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) 5. Daun beringin (Ficus benyamina) 6. Daun sukun (Artocarpus communis) 7. Endocarpium kelapa (Cocos nucifera) 3.2. Cara kerja 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum. 2. Diambil mikroskop yang akan digunakan untuk mengamati objek. 3. Deck glass dan kaca objek di bersihkan dengan alkohol 70% agar bebas dari lemak dan debu. 4. Objek yang akan diteliti diiris setipis mungkin dengan cara melintang atau membujur. 5. Hasil irisan diletakkan diatas kaca objek, kemudian di tetesi dengan air menggunakan pipet tetes. 6. Ditutup menggunakan deck glass dan dipastikan tidak ada gelembung udara dalam preparat. 7. Kaca objek diletakkan diatas meja preparat pada mikroskop. 8. Objek diamati menggunakan mikroskop.

15

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan Nama Bahan Biji Jawa (Tamarindus Indica) ) Asam Gambar Keterangan
Perbesaran pada mikroskop 10 X 10

Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosasinensis)

Perbesaran pada mikroskop 10 X 10

16

Daun Beringin (Ficus benjamina) .

Perbesaran pada mikroskop 10 X 10

Daun Sukun (Artocarpus communis)

Perbesaran pada mikroskop 10 X 10

Kelapa (Cocos nucifera)

Perbeasaran pada mikroskop 10 X 10

16

4.2 Pembahasan Pada hasil pengamatan kami , pada irisan membujur permukaan endocarpium kelapa (Cocos nucifera) terdapat penebalan sentripetal (penebalan kedalam) sedangkan untuk bagian dinding selnya tidak tampak jelas disebabkan hasil gambar pengamatan atau gambar yang diambil tidak jelas , sedangkan pada literatur terdapat dinding sel primer , dinding sel sekunder , noktah dan saluran noktah . Dinding primer tersusun dari selulosa , senyawa pektin , polisakarida yang bukan selulosa dan hemiselulosa . Dinding sel sekunder tersusun dari selulosa , polisakarida non-selulosa dan hemiselulosa , dinding sekunder berbentuk cincin , sabuk spiral dan berupa ptongan-ptotngan di atas dinding primer . Noktah dibentuk secara berpasangan dengan letak saling berhadapan pada sisi-sisi dinding sel yang berlawanan , dan secara morfologis sering disebut pasangan noktah . Pada hasil pengamatan kami , pada irisan melintang epidermis daun beringin (Ficus benjamina) terlihat penebalan sentripetal (penebalan kedalam) dan terdapat sistolit walaupun ukurannya sangat kecil , demikian pula pada literatur terdapat penebalan kearah sentripetal yang tersusun atas selulosa yang membentuk bangunan seperti sarang lebah yang disebut sistolit. Sel yang mengandung sistolit disebut litokis,Sistolit biasanya terdapat pada sel epidermis daun banyak tumbuhan bunga Pada hasil pengamatan kami , pada irisan membujur daun sukun (Arthocarpus communis) terdapat penebalan kearah luar yang disebut penebalan sentrifugal . Selain itu terlihat trikoma yang berbentuk sisik . Hal tersebut sesuai dengan literature yang ada . Pada hasil pengamatan kami , pada irisan serbuk sari kembang sepatu (Hibiscus rose sinensis) terlihat penebalan sentrifugal (penebalan keluar) dan terdapat noktah sss, sama halnya pada literatur terlihat penebalan keluar yang disebut penebalan sentrifugal . Penebalan sentrifugal ini dapat berlangsung secara intususepsi . Penebalan intususepsi yaitu penebalan dinding sel dengan cara menyisipkan zat penebal diantara dinding lama , yaitu : mikrofibril yang baru diletakkan diantara mikrofibril yang lama. .

18

Pada hasil pengamatan kami , pada irisan biji asam jawa (Tamarindus indica) yang kami amati tampak tidak jelas disebabkan karena pengirisan pada biji asam jawa (Tamarindus indica) yang tidak tepat , karena biji tersebut terlalu tua sehingga sulit untuk diiris . Sama halnya seperti literature . .

19

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan dapat di tarik kesimpulan bahwa di dalam sel tumbuhan terdapat dinding sel yang bersifat mati. Penebalan dinding sel ada yang sentripetal (penebalan ke arah dalam) dan sentrifugal (penebalan kea rah luar). Pada permukaan endokarpium kelapa (Cocos nucifera) terlihat dinding sel primer , dinding sel sekunder , noktah dan saluran noktah. Pada epidermis daun beringin (Ficus benjamina). terdapat penebalan kearah sentripetal yang tersusun atas selulosa yang membentuk bangunan seperti sarang lebah yang disebut sistolit dan penebalannya berlapis-lapis. Pada daun sukun (Arthocarpus communis) terlihat trikoma yang bersisik yaitu rambut yang bersel banyak dan dibentuk dari sel epidermis. Pada bunga kembang sepatu (Hibiscus rose sinensis) terlihat

penebalan keluar yang disebut penebalan sentrifugal . Penebalan sentrifugal ini dapat berlangsung secara intususepsi . Pada biji asam jawa (Tamarindus indica) terjadi penebalan ke arah dalam atau yang disebut penebalan sentripetal. 5.2 Saran Alat-alat lab yang digunakan dalam pratikum III ( Penebalan dinding sel ) sudah bisa memenuhi semua kelompok. Tetapi dalam aturan pengelompokkan sebaiknya diadakan penambahan meja, agar setiap kelompok bisa berada pada tempatnya masing-masing dan agar lebih tertib. Diharapkan untuk setiap praktikan lebih siap dalam melakukan praktikum, meningkatkan pemahaman, ketelitian dan kekompakan dalam kinerja kelompok. Serta Praktikan dituntut mengetahui tata cara dan peraturan selama pratikum.

20

DAFTAR PUSTAKA Anonim., (2012) Album Photo [Internet] 3 Juli 2012., Available http://www. plantanatomy. webs.com [Diakses 1 November 2013] Department of Plant Biology. (2008) The Plant Cell [Internet] 20 Februari 2013,. Available from: http://www.plantbiology.siu.edu [Diakses 1 November 2013] Brumana, R., 2005, Asam Budidaya dan Pasca Panen, Yogyakarta, Kanisius. Hasan, H., dan Suryadi, AMA., 2013, Penuntun Praktikum Botani, Gorontalo : Universitas Negeri Gorontalo. Hembing., 2000, Ensiklopedia Tumbuhan Berkhasiat Obat Indonesia, Jakarta : Prestasi Insan Indonesia. Pitojo, S., 2001, Sukun Seni Budidaya, Yogyakarta : Kanisius. Setjo, S., 2004, Anatomi Tumbuhan, Malang : Universitas Negeri Malang. Suryo, J., 2002, Herbal Penembuh Wasir Dan Kanker Prostat, Yogyakarta : Bentang Pustaka. Utami, P., 2008, Buku Pintar Tanaman Obat, Tangerang : Agromedia Pustaka Warisno., 2003, Budidaya Kelapa Genjah, Yogyakarta : Kanisius. Woelaningsih, S., 1987, Anatomi Tumbuhan, Jakarta : UT.

21

LAMPIRAN Nama Bahan Biji Asam Jawa (Tamarindus Indica) Gambar

(Knox, P., 2013) Bunga Kembang Sepatu (hibiscus rosasinensis )

(Anonim.,2012) Daun Beringin ( Ficus benjamina )


3 2 1

Sistolit

1. Kutikula 2. Epidermis 3. Sistolit

(Department of Plant Biology.,2012)

22

Kelapa ( Cocos nucifera )

(Anonim., 2012) Daun Sukun ( Arthocarpus communis )

Dinding sel

(Anonim., (2012)

22

Anda mungkin juga menyukai