Anda di halaman 1dari 78

3

Buku Pedoman Energi Efsiensi


untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia
Studi Kasus
Energy Efficiency and Conservation
Clearing House Indonesia
Buku Pedoman Energi Efsiensi
untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia
3 Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Edisi Pertama 2012
3
Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Edisi Pertama 2012
Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral
Buku Pedoman Energi Efsiensi
untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia
Penulis:
Billy Gunawan, ASHRAE Indonesia Chapter, PT. GLWCA
Budihardjo, Departemen Teknik Mesin, Universitas Indonesia
Jimmy S. Juwana, Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN)
Jimmy Priatman, Universitas Petra Surabaya, Archi Metric, Surabaya
Wahyu Sujatmiko, Kementerian Pekerjaan Umum, Kandidat PhD di Institut Teknologi Bandung
Totok Sulistiyanto, Konsultan Teknik Mesin, Listrik, dan Energi, (EINCOPS) -koordinator tim editor
Ucapan Terima Kasih:
Ibu Maryam Ayuni yang telah memberikan dukungan bagi dokumen ini atas nama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia.
Jesper Vauvert dari Danish Energy Management A/S yang telah menjadi ketua tim ESP2 component 2 (EINCOPS) untuk proyek ini.
Mogens Krighaar dari Danish Energy Management A/S yang telah menjadi ketua tim ESP2 component 2 (EINCOPS) proyek ini.
Floris Van der Walt yang telah menyiapkan daftar isi serta memeriksa hasil kerja para penulis.
Kirsten Mariager yang telah memeriksa dan memberikan komentar selama penyusunan buku pedoman ini.
Totok Sulistiyanto yang telah memimpin kelompok penulis buku pedoman ini.
Lestari Suryandari dan Yodi Danusastro dari GBCI, yang telah menyiapkan data untuk Studi Kasus.
Billy Gunawan yang telah menulis sebagian besar Bab 6 pada Bagian 1 dan Bab 6 dan 8 dalam Bagian 2, Budihardjo yang telah menulis Bab 3 pada
Bagian 1 dan Bab 5 dan 9 pada Bagian 2, Jimmy S. Juwana yang telah menulis sebagian besar Bab 1, 2, 5, 8 pada Bagian 1 dan Bab 2, 7, 9 pada
Bagian 2, Jimmy Priatman yang telah menulis sebagian besar Bab 7 pada Bagian 1 dan Bab 3, 4 6 pada Bagian 2, serta seluruh penulis yang telah
memberikan komentar pada bab-bab lain. Jatmika Adi Suryabrata, Herman Endro, M. Idrus Alhamid, Ignesjz Kemalawarta, dan Rana Yusuf Nasir
yang telah menjadi panelis ahli yang telah berbagi ide, keahlian, serta pemahanman teori efsiensi energi dalam bidang masing-masing.
Wahyu Sujatmiko yang telah menyiapkan lampiran laporan iklim.
Sinarmas Land Plaza, ITSB Deltamas, Kementerian Pekerjaan Umum, PT. Dahana, and BCA Tower Grand Indonesia yang telah memberikan materi
untuk Studi Kasus.
Steven Ellis (EINCOPS) yang telah memeriksa versi Bahasa Inggris.
Ivan Ismed (EINCOPS) yang telah memeriksa terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia.
Satuan Tugas (Task Force) sebagai wakil pemangku kepentingan, yang telah memeriksa Buku Pedoman ini selama proses penyusunan. Berikut adalah
anggota-anggota dari Satuan Tugas ini:
Jatmika Adi Suryabrata, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, UGM, Yogyakarta; Herman Endro, HTII ALKI (Asosiasi Industri Luminer dan Kelistrikan
Indonesia); M. Idrus Alhamid, Departemen Teknik Mesin, Universitas Indonesia; Ignesjz Kemalawarta, Sinarmas Land - BSD City; Rana Yusuf Nasir, GBCI
- Direktur Teknologi dan Rating; Jimmy S. Juwana, LPJKN - Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN); Jesper Vauvert - Danish Energy
Management A/S; Totok Sulistiyanto - (EINCOPS); Floris Van Der Walt - Stategic Environmental Focus S. A. ; Kirsten Mariager - Danish Energy Mangement A/S;
Mogens Krighaar - Danish Energy Mangement A/S.
Tim untuk proyek ini: Energy Efciency in Industrial, Commercial and Public Sector (EINCOPS) dan staf Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan,
dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia telah memberikan dukungan dan dorongan penuh dalam penyusunan
dokumen ini. DANIDA telah mendanai proyek ini. (kontrak no.: 104.INDO.1.MFS.4).
Komentar dan perbaikan dapat dikirim kepada:
Direktorat Konservasi Energi, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Indonesia. Annex Building Lt. 5, Jl. H. R. Rasuna Said Blok X-2, Kav 07-08. Kuningan, Jakarta 12950. Tel: +62 21 5225180 ext. 2514, Tel/Fax: +62 21
5224483, email: harrisyh@yahoo.com atau rahadian.arafat@gmail.com, website: www.konservasienergiindonesia.info
atau kepada koordinator tim editor:
Totok Sulistiyanto email: totok.sulis@cbn.net.id
Edisi Pertama diterbitkan oleh Energy Efciency and Conservation Clearing House Indonesia di bawah Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan
Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia
Energy Efciency and Conservation Clearing House Indonesia, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral Indonesia, Danish Energy Management A/S, dan seluruh penulis. All rights reserved, 2012
ISBN: 978-602-17264-0-2 (no. jil. lengkap)
978-602-17264-3-3 (jil. 3)
Desain Grafs dan Produksi: Kira Kariakin, Danish Energy Management A/S
Box Breaker.

Fotograf: istockphoto.com (content); GBCI (cover)
Dicetak di Jakarta, Indonesia
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 5
Prakata
Buku Pedoman Efsiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia merupakan output
dari program Efsiensi Energi di Sektor Industri, Komersial, dan Publik (EINCOPS/Energy Efciency in
Industrial, Commercial and Public Sector). Program ini didukung oleh Pemerintahan Denmark kepada
Pemerintahan Indonesia dalam bidang Efsiensi Energi melalui program pendanaan yang disebut
dengan Danish International Development Assistance Environmental Support Programme II (DANIDA
ESP II), Component 2. Tujuan dari aktivitas EINCOPS ini adalah untuk mempromosikan program efsiensi
energi di seluruh Indonesia melalui berbagai aktivitas, yang sejalan dengan upaya pengurangan dampak
perubahan iklim.
Buku Pedoman Efsiensi Energi ini menyajikan gambaran umum yang menyeluruh, saran dan referensi
yang mutakhir, serta panduan praktis yang ditujukan kepada pemilik/pengembang bangunan. Buku
pedoman ini berisi cara-cara mendesain bangunan untuk meminimalisasi penggunaan energi dan pada
saat yang bersamaan masih memenuhi kebutuhan kenyamanan, kesehatan, dan keamanan di dalam
bangunan.
Program efsiensi dan konservasi energi di tingkat nasional bertujuan untuk mengurangi subsidi energi,
kesenjangan antara persediaan dan permintaan energi, emisi gas rumah kaca yang mempengaruhi
pemanasan global dan perubahan iklim, serta meningkatkan daya saing nasional. Konservasi energi
harus menjadi bagian dari seluruh tahap manajemen energi, mulai dari energi berkelanjutan di sisi
hulu (eksplorasi, eksploitasi, pengilangan, tenaga listrik, dan lain-lain) hingga penggunaan energi di sisi
hilir pada seluruh sektor seperti yang ditetapkan dalam UU No. 30/2007 tentang Energi dan Peraturan
Pemerintah No. 70/2009 yang mengatur pelaksanaan konservasi energi. Pada saat ini, persentase
konsumsi energi nasional dalam sektor komersial dan bangunan hanya sekitar 4% (industri 39,4%;
transportasi 32,2%; penggunaan non-energi 10,5%; rumah tangga 10,2%; lain-lain 3,4%), tapi dalam
20 tahun terakhir pertumbuhan konsumsi energi dalam sektor komersial dan bangunan mencapai
persentase tertinggi pada 8,58% (industri 5,1%; transportasi 6,4%; penggunaan non-energi 5,4%; rumah
tangga 3,1%, lain-lain 0,03%).
Buku Pedoman Efsiensi Enegi terbagi dalam tiga bagian: 1) untuk pemilik, pengembang, dan investor
bangunan; 2) untuk desainer profesional; dan 3) studi kasus efsiensi energi. Buku 1 dapat digunakan
oleh pemilik, pengembang, dan investor bangunan untuk memandu tim pengembangan proyek dalam
mempertimbangkan analisis biaya untuk memastikan konsumsi energi yang rendah, dan pada saat yang
bersamaan berusaha mencapai konsep desain yang lebih baik dan membangun secara lebih efsien
dengan cara-cara yang lebih ramah lingkungan. Buku 2 ditujukan untuk para desainer profesional,
arsitek, dan insinyur di bidang mekanik, listrik, struktur, dan lansekap untuk memandu desain mereka
agar memaksimalkan pencapaian efsiensi energi baik untuk membangun bangunan baru maupun
me-retroft bangunan yang sudah ada. Sebagai panduan tambahan, Buku 2 juga berisikan pedoman
teknis yang komprehensif yang dapat digunakan sebagai persiapan untuk pengembangan standar
(SNI) dan kode untuk bangunan di masa depan. Standar-standar serta kode-kode ini akan menjadi dasar
acuan mendesain bangunan dengan mempertimbangkan masalah biaya, efsiensi, lingkungan, serta
kesehatan.
Akhir kata, kami menyampaikan rasa terima kasih kepada para penulis, tim ahli, pemangku kepentingan,
dan semua pihak yang terlibat dalam persiapan dan pengembangan Buku Pedoman Energi Efsiensi
untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia.
Maryam Ayuni
Direktor Konservasi Energi
Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
6 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Daftar Isi
Prakata 5
1 Pendahuluan 8
2 Studi Kasus Efsiensi Energi dan Bangunan Bersertifkasi Hijau 9
2.1 Renovasi Efsiensi Energi Kantor EECCHI di Kementerian ESDM, Jakarta 11
2.2 Kampus ITSB, Kota Deltamas Bekasi 14
2.3 Kantor Sinarmas Land Plaza, BSD - Serpong 17
2.4 Menara BCA - Grand Indonesia, Jakarta 20
2.5 Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta 23
2.6 PT. Dahana, Kantor Manajemen Pusat, Subang, Jawa Barat 25
2.7 Rangkuman Pelajaran yang Didapatkan 28
3 Informasi Tambahan 29
3.1 Instrumen Kebijakan yang Berhubungan dengan Efsiensi Energi Bangunan 29
3.2 Standar Nasional Indonesia (SNI) yang Berhubungan dengan Bangunan 30
3.3 Pilihan Teknologi untuk Mencapai Bangunan yang Hemat Energi 32
3.3.1 Konstruksi Baru Desain/Selubung Bangunan 32
3.3.2 Retroft Desain/Selubung Bangunan 33
3.3.3 Pencahayaan 34
3.3.4 Alat-Alat Elektronik 35
3.3.5 Pemanasan, Ventilasi, dan AC 36
3.3.6 Sensor, Meteran, dan Sistem Manajemen Energi 37
4. Analisa Data Iklim Indonesia 38
4.1 Pendahuluan 38
4.2 Ulasan Literatur 38
4.3 Data Iklim Indonesia 41
4.4 PULAU SUMATRA 42
4.4.1 Medan 43
4.4.2 Jambi 44
4.4.3 Padang 45
4.4.4 Palembang 45
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 7
4.4.5 Bengkulu 46
4.4.6 Kerinci 46
4.5 PULAU JAWA 47
4.5.1 Jakarta 48
4.5.2 Bandung 49
4.5.3 Kalijati Subang 50
4.5.4 Semarang 50
4.5.5 Surabaya 51
4.5.6 Malang 52
4.5.7 Madiun 52
4.6 PULAU KALIMANTAN 53
4.6.1 Pontianak 54
4.6.2 Samarinda 55
4.6.3 Banjarmasin 55
4.6.4 Palangkaraya 56
4.6.5 Balikpapan 57
4.7 SULAWESI 58
4.7.1 Manado 59
4.7.2 Makassar 60
4.7.3 Palu 62
4.8 BALI DAN NUSA TENGGARA 62
4.8.1 Denpasar 63
4.8.2 Bima 65
4.8.3 Kupang 66
4.8.4 Mataram 67
4.8.5 Ruteng 68
4.9 MALUKU DAN PAPUA 69
4.9.1 Ambon 69
4.9.2 Jayapura 71
4.10 Referensi Data Iklim 74
5. Referensi 75
8 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Dalam beberapa tahun terakhir ini telah mulai
disadari bahwa, persyaratan konstruksi untuk
bangunan baru atau renovasi gedung yang telah
ada diharapkan dapat memberi manfaat yang
baik terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi
dari peningkatan kinerja energi bangunan. Hal ini
merupakan bagian penting dari pengurangan jejak
karbon yang berhubungan dengan desain, lokasi,
dan operasi bangunan. Dengan segala masalah
lingkungan yang disebabkan oleh emisi CO
2
,
penghematan energi menjadi topik yang penting
pada saat ini. Sektor bangunan menghasilkan
jumlah konsumsi energi listrik yang signifkan,
namun pada saat yang bersamaan juga memiliki
potensi untuk dilakukan penghematan energi.
Namun seberapa besar pengurangan energi
yang dapat dicapai? Bagaimana pendekatan
dapat dilakukan untuk menjalankan langkah-
langkah efsiensi energi? Teknologi apa yang dapat
digunakan? Bagaimana kontribusi Perangkat
Sertifkasi Bangunan Hijau (Green Building
Certifcation Tools) dapat berdampak dalam
penurunan Indeks Konsumsi Energi (IKE). Dan
seberapa besar emisi CO
2
yang dapat dihindari?
Dokumen ini akan menyajikan jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan seperti ini, yang didasarkan
pada metode yang secara umum telah terbukti
keberhasilannya dalam upaya penghematan
energi. Melalui beberapa studi kasus yang dibahas
secara rinci berbagai cara juga telah dilakukan
untuk melakukan penghematan energi. EINCOPS
bekerja sama dengan Green Building Council
Indonesia (GBCI) telah mendokumentasikan 6
(enam) bangunan yang dijadikan studi kasus
mulai dari proses desain sampai dengan hasil
akhir pencapaian kinerja bangunan yang
optimal. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk
mengembangkan, menganalisis, mengevaluasi,
dan mendokumentasikan teknologi, proses,
dan metode yang digunakan untuk mencapai
bangunan berkinerja tinggi. Deskripsi, dokumentasi,
dan evaluasi kinerja energi dari 6 bangunan yang
dijadikan studi kasus disajikan secara rinci. Selain
itu juga diharapakan dapat dijadikan pelajaran dari
masing-masing kasus bangunan tersebut dalam
hal desain, operasional dan evaluasi bangunan. Dari
setiap studi kasus dirangkum pengalaman yang
baik yang dapat dicontoh dan direkomendaikan
terhadap bangunan-bangunan sejenis.
Studi kasus ini menggabungkan seluruh pelajaran
yang didapatkan secara komprehensif. Studi
kasus ini mewakili berbagai jenis desain dan
penggunaan gedung, hal ini dijadikan acuan untuk
memahami kesuksesan yang dialami setiap jenis
bangunan. Kemudian kesuksesan ini ditujukan
sebagai rekomendasi, memberikan inspirasi untuk
mengubah bangunan-bangunan sejenis maupun
konsep yang akan diterapkan pada generasi
bangunan hemat energi selanjutnya. Para pelaku
proyek bangunan di masa depan dapat mengingat
pelajaran-pelajaran ini dan menyadari bahwa
aplikasi dari studi kasus ini dapat membantu
pencapaian sasaran penghematan energi. Pelajaran
yang didapatkan dari studi kasus ini diharapkan
menjadi pengalaman yang dapat dicontoh, dan
dapat membantu tim desain dalam mencegah
pengulangan masalah serta mengidentifkasi
letak-letak proses konstruksi bangunan yang
harus diubah untuk mendukung dan mencapai
bangunan yang hemat energi dan zero-energy.
Kemudian, studi kasus ini juga dapat dijadikan
tantangan dan pelajaran agar dapat mendorong
para pemangku kepentingan di bangunan
mengidentifkasi dan menetapkan teknologi terbaik
untuk mencapai bangunan hemat energi yang akan
diterapkan bagi bangunan-bangunan masa depan
di Indonesia.
1. Pendahuluan
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 9
2. Studi Kasus Efsiensi Energi dan Bangunan
Bersertifkat Gedung Hijau
studi kasus serta merangkum pelajaran yang
didapatkan ini akan mendorong pihak-pihak
lain untuk membangun gedung hemat energi
dan dapat membantu mencegah pengulangan
kesalahan. Selain itu, proses testing and
commissioning merupakan evaluasi awal yang
diterapkan secara nyata agar efsiensi energi
dapat terukur dan terdokumentasi.
EINCOPS dan GBCI menganalisis kinerja energi
dari 6 (enam) bangunan komersial yang dibangun
pada tahun ini untuk memahami cara kinerja
mereka serta memverifkasi sasaran desain yang
ada. Tim desain setiap bangunan menetapkan
konsep (sustainability) sebagai salah satu sasaran
dan sejak awal dimulai proyek telah menetapkan
sasaran meminilapisasi dampak penggunaan
energi dan lingkungan yang diakibatkan
oleh proyek tersebut. Dari awal, tim desain
menetapkan sasaran penghematan energi yang
agresif yang berkisar antara 30%-40% lebih baik
dibanding keadaan awal (baseline) yang dihitung
berdasarkan persyaratan minimal SNI (untuk
bangunan baru), sedangkan untuk bangunan
yang telah ada dengan cara membandingkan
kinerja sebelum dan sesudah retroft bangunan.
Beberapa tim juga memiliki sasaran yang ambisius
di aspek lingkungan/keberlanjutan yang lain,
seperti manajemen air, pilihan material bangunan,
atau pencapaian skor Greenship yang tinggi
(Platinum dan Gold) serta skor Green Mark.
Dalam fase Pengenalan Desain (Design
Recognition), semua gedung dalam studi kasus ini
yang mengikuti sertifkasi New Building Greenship
memiliki nilai termal selubung bangunan di
Masalah yang muncul dalam memperkenalkan
bangunan berkinerja tinggi ke pasar adalah
keengganan pemilik bangunan dan desainer
dalam mencoba teknologi dan proses inovasi baru
yang belum dipakai secara meluas (mainstream).
Pemilik bangunan umumnya tidak yakin bahwa
potensi-potensi penghematan energi dapat
dicapai. Oleh karena itu, harus ada orang yang
berani memulai menggunakan teknologi yang
akan membantu pencapaian sasaran tersebut.
Sejumlah pemilik dan desainer bangunan telah
memulai langkah besar untuk mengubah cara
mendesain dan merencanakan bangunan
komersial mereka agar mencapai target bangunan
hemat energi. Mereka telah mendokumentasikan
kinerja bangunan yang berkelanjutan dalam hal
energi serta mengidentifkasi pelajaran yang
didapat dari pengalaman mereka.
Untuk mengoptimalkan efsiensi bangunan,
dibutuhkan pemahaman akan desain teknis yang
akan memproduksi hasil terbaik, persyaratan
kinerja bangunan secara keseluruhan, serta
sasaran dan kebutuhan penghuni bangunan.
Proses desain terintegrasi dapat menggabungkan
elemen-elemen ini, mengoptimalkan kinerja
energi, sehingga bangunan hijau dan hemat
energi yang diinginkan dapat dicapai. Efsiensi
merupakan kata kunci agar bangunan hijau dapat
diwujudkan dengan waktu tercepat, termurah
dan penurunan konsumsi energi yang signifkan.
Studi-studi kasus dalam buku pedoman ini
menggambarkan pemilik dan desainer bangunan
yang telah menjadi pelopor keberadaan gedung
hemat energi di Indonesia. Dengan menerbitkan
Buku Pedoman Energi Efsiensi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia - 1 Pengembang dan Pemilik Bangunan Gedung 19
3. Brief Desain
Brief desain merupakan lini pertahanan pertama
bagi pemilk/pengembang bangunan terhadap
biaya investasi modal yang meningkat maupun
memastikan bahwa dirinya akan mendapatkan
keuntungan secara menyeluruh dari biaya
operasional yang lebih rendah melalui bangunan
hemat energi yang didesain dengan baik.
Brief desain pada dasarnya terdiri dari deskripsi
pilihan-pilihan proyek yang telah disetujui dan
berisi rincian mengenai tujuan dan parameter
untuk dipertimbangkan oleh konsultan proyek
ketika mendesain proyek tersebut. Brief desain
harus disusun untuk konsultan proyek sebagai
Kerangka Acuan (Terms of Reference) dalam
rangka menetapkan tujuan, persyaratan, batasan,
target, dan pendekatan desain klien untuk
diimplementasikan pada bangunan baru atau
proyek renovasi bangunan berskala besar.
Sebagai persyaratan minimal, brief desain harus
dapat membantu klien dan konsultan untuk
memahami peluang dan manfaat potensial
terkait dalam proyek yang dapat meningkatkan
efsiensi bangunan. Selain itu, brief juga harus
dapat memberikan latar belakang akan isu-
isu kunci untuk diatasi selama desain dan
implementasi bagi seluruh pihak yang terlibat
dalam proyek.
Brief desain yang dipersiapkan dengan baik
dapat digunakan selama proyek sebagai referensi
untuk memastikan bahwa persyaratan awal
dan tujuan pengembang dapat tercapai. Juga
harus dipahami bahwa brief desain merupakan
dokumen yang selalu dapat direvisi bila
dibutuhkan agar dapat merefeksikan segala
perubahan dalam kriteria, persyaratan, dan/atau
tujuan desain.
Bila proses pengadaan bagi konsultan, kontraktor,
dan penyedia material makin kompetitif, maka
tekanan bagi mereka untuk mengurangi biaya
menjadi semakin besar, sehingga diperlukan
STRUKTUR BRIEF DESAIN UMUM
Latar Belakang Proyek dan Informasi Fisik
Tujuan Proyek
Persyaratan Proyek
Jadwal akomodasi
Persyaratan lingkungan dalam ruangan
Pertimbangan estetika
Peluang dan Kendala
Situs
Iklim
Keuangan
Waktu
Target Kinerj
Keuangan
Energi
Pendekatan Desain dan Konstruksi
Strategi pengadaan
Pendekatan desain terintegrasi
Perencanaan dan lansekap
Desain selubung dan struktural
Desain pencahayaan dan listrik
Desain HVAC
Persyaratan operasi dan pemeliharaan
Pertimbangan decommissioning
10 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
bawah persyaratan SNI. Selain itu, beragam
strategi penghematan energi lainnya juga
digunakan, seperti pencahayaan alami, sensor
penghunian (occupancy sensor), pencahayaan
yang efsien, ventilasi alami, double glazing,
low e-glass, desain peneduh, sistem tata udara
dengan teknologi VRF (Variable Refrigerant Flow),
VSD (variable speed drive), lift dengan teknologi
VVVF (variable voltage and variable frequency),
kekedapan udara ruangan, dan atap hijau.
Bangunan-bangunan yang menjadi studi kasus
termasuk:
Renovasi Efsiensi Energi di Kantor EECCHI
Kementerian ESDM - Jakarta
Kampus Institut Teknologi dan Sains
Bandung (ITSB), Kota Deltamas Bekasi
Kantor Sinarmas Land Plaza, BSD
- Serpong
Menara BCA Grand Indonesia, Jakarta
Kantor Kementerian Pekerjaan Umum,
Jakarta
PT. Dahana, Kantor Manajemen Pusat,
Subang, Jawa Barat
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 11
2.1 Renovasi Efsiensi Energi di Kantor
EECCHI Kementerian ESDM,
Jakarta
I. PENDAHULUAN
Pada bulan Agustus 2009, Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral Indonesia dan Danish
International Development Assitance, melalui
program EINCOPS, menyetujui untuk melakukan
retroft kantor Energy Efciency Conservation
Clearing House Indonesia (EECCHI). Retroft ini
merupakan bagian dari kontribusi EECCHI dalam
meningkatkan kepedulian dan pengetahuan
mengenai efsiensi energi. Satu tahun dan enam
bulan kemudian, dengan proyek yang meliputi
seluruh lantai 5 Gedung Annex dari Gedung
Direktorat Jenderal Kelistrikan, EECCHI memiliki
kantor yang tidak hanya mencapai target yang
diinginkan, bahkan melebihi target pengurangan
energinya sebesar 40%. Kantor ini kemudian
melanjutkan operasinya sebagai model dan
percontohan untuk meningkatkan efsiensi energi
bagi perkantoran dan bangunan di Indonesia.
II. MOTIVASI PROJECT
Proyek retroft, meskipun tidak semewah
bangunan baru, tetap menyediakan ruang untuk
kreativitas serta dampak penghematan yang
besar. Perubahan kecil seperti menutup celah di
fasat bangunan (faade) dan bingkai jendela, serta
menambah isolasi dapat menghasilkan dampak
yang signifkan bagi efsiensi energi untuk sebuah
proyek retroft. Retroft juga lebih bermanfaat
dari perspektif keberlanjutan karena struktur
yang sudah ada digunakan kembali, terdapat
kesempatan untuk menggunakan kembali
barang-barang yang sudah ada, serta jejak karbon
dan polusi CO
2
yang dihasilkan lebih sedikit
dibandingkan konstruksi bangunan baru.
Retroft akan membutuhkan tantangan pemikiran
dan kreatiftas untuk memecahkan masalah-
masalah agar dapat memberikan solusi terhadap
ftur-ftur unik dari bangunan yang sudah
ada. Salah satu tantangan dalam retroft ini
adalah jendela yang sudah ada, yang memiliki
bingkai tidak standar sehingga membatasi ide
untuk mengganti bingkai dan memasang kaca
double-glazed.
III. DESAIN INTERIOR
Sebagai kantor percontohan, EINCOPS
menginginkan keseluruhan desain untuk tidak
hanya mendemonstrasikan efsiensi energi,
namun juga ftur-ftur untuk meningkatkan
kenyamanan dan suasana, dan pada saat yang
bersamaan, menambahkan elemen-elemen
berkelanjutan. Meskipun tidak berhubungan
secara langsung dengan peningkatan efsiensi
energi, peningkatan kenyamanan dapat
meningkatkan kenyamanan dan produktivitas
pekerja, dan sebagai kantor percontohan, perlu
ditunjukkan contoh nyata agar dapat mendorong
penggunaan material berkelanjutan.
Organisasi Ruangan
Menekankan gaya yang komunal, tata ruang
yang terbuka (open layout) dilihat awalnya
sebagai hal yang tidak wajar sebagai kantor
pemerintahan, namun Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral memahami tujuan kantor
sebagai percontohan dan setuju untuk mengubah
tata ruang yang lebih modern. Tata ruang yang
terbuka ini berhubungan dengan fungsi kantor
sebagai kantor berbasis proyek, sehingga akan
mendorong partisipasi tim. Gaya tata ruang ini
juga lebih baik dalam mendistribusikan sinar
matahari ke dalam kantor, sehingga mengurangi
kebutuhan pencahayaan buatan.
SASARAN PROYEK
HAL KONDISI YANG
SUDAH ADA
LEVEL YANG
DIREKOMENDASIKAN
GFA (Luas Lantai Bruto) 432 m
2
432 m
2
Indeks Efsiensi Energi (EEI) 170 kWh/m2/tahun 100 kWh/m2/tahun
Suhu Rata-Rata:
Pukul 9 pagi 3 sore
sebelum 9 pagi & setelah 3 sore
26
o
C
28 31
o
C
24 26
o
C
24 26
o
C
Kelembaban Relatif Rata-Rata
Pukul 9 pagi 3 sore
sebelum 9 pagi & setelah 3 sore
65%
75%
55%
55%
Tingkat Kebisingan Rata-Rata 57 dB 46 dB

Retrofitted area
DJEBTKE, Gedung Annex
12 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
e-glass, sedangkan di ruangan kementerian
menggunakan jenis kaca laminasi yang lebih
murah yaitu terdiri dari dua lapisan kaca (5 mm
+ 3 mm) yang disatukan ke dalam konfgurasi
sandwich dengan lapisan PVB (Polyvinyl butyral)
plastik berpermukaan penuh diantaranya. Kaca
yang dilaminasi ini juga memastikan keamanan
tambahan bila kaca pecah.

Pengurangan Kebisingan
Dengan menggunakan dua lapisan kaca
dengan rongga udara di antaranya membantu
meningkatkan isolasi suhu dan melindungi
ruangan dari kebocoran udara dan kebisingan.
Proteksi kebisingan dicapai tidah hanya
penggunaan kaca dobel tapi juga dengan dua
panel yang memiliki ketebalan yang berbeda
yang dipasangkan di atas plafon dan partisi-partisi
yang membatasi ruang kerja dengan luar gedung
maupun ruang koridor. Sedangkan prinsip
kaca ganda adalah adanya lapisan kaca kedua
ditambahkan di dalam jendela yang sudah ada
dengan rongga 50 mm.
Material Berkelanjutan
Meskipun tidak berkaitan langsung dengan
efsiensi energi, penggunaan material
berkelanjutan (sustainable materials)
meningkatkan suasana kantor dan berguna
untuk mempromosikan konstruksi berkelanjutan
lainnya. Cat yang dipakai di kantor adalah Low-
VOC, yang memiliki kandungan toksin yang
lebih rendah dibandingkan cat tradisional
dan menggunakan produk yang proses
pembuatannya tidak menyebabkan emisi
karbon tinggi dibandingkan cat tradisional atau
wallpaper. Lantai yang digunakan terbuat dari
parket bambu yang menambahkan kehangatan
dan artistik bagi kantor. Bambu merupakan
tanaman yang tumbuh dengan cepat dan
membutuhkan area yang lebih sedikit sehingga
mengurangi dampak lingkungan dari perkebunan
dan penggunaan lahan, sehingga lebih
bersifat produk yang berkelanjutan dan ramah
lingkungan. Material lokal, seperti meja dan kursi
kantor, digunakan ketika memungkinkan untuk
mengurangi jejak karbon akibat transportasi
material.
Skema Warna
Warna cat yang lembut dipilih untuk mengurangi
suhu psikologis ruangan dan pada saat yang
bersamaan membuatnya lebih menarik.
Sementara itu, warna yang lebih cerah pada kursi
yang disenadakan dengan furnitur berwarna lebih
lembut membantu refeksi cahaya secara alami.
Pencahayaan Alami
Dalam rangka meningkatkan penetrasi sinar
matahari ke dalam interior bangunan, tinggi
langit-langit (dengan batasan yang dibuka)
ditinggikan dari 2,4 m menjadi 4,0 m di
tengah-tengah ruangan kantor. Hal ini juga
meningkatkan kenyamanan visual dan suasana
kantor, serta memungkinkan sirkulasi sistem tata
udara lebih baik. Di luar jendela pada ambang
jendela, terdapat refector plat baja anti karat
yang membantu mengarahkan lebih banyak
sinar matahari ke dalam interior kantor. Hal ini
dilakukan setelah memastikan bahwa cahaya
akan direfeksikan ke langit-langit dan tidak
pada bagian yang akan mengganggu pengguna
ruangan karena silau. Cahaya alami yang masuk
kemudian diatur dengan menggunakan tirai
berlubang (perforated blinds). Ketika dibutuhkan,
tirai ini dapat mencegah sinar matahari yang
tajam dan pada saat yang bersamaan juga tetap
memungkinkan sejumlah cahaya masuk ke dalam
ruangan dan mencegah perasaan klaustrofobia
dari ruangan yang benar-benar digelapkan. Tirai
vertikal, yang cukup umum dan telah dipasang
sebelumnya, tidak akan merefeksikan cahaya
kembali ke ruang dengan mudah dan kurang
feksibel.
Jendela
Meskipun kaca ganda berbingkai (prefabricated
double-glazed glass) yang awalnya akan
diterapkan di kantor ini tidak digunakan
karena pertimbangan biaya, tim EINCOPS tetap
menggunakan peluang ini untuk memperbaiki
radiasi sinar matahari dan isolasi suhu dengan
menggunakan kaca yang lebih baik untuk
jendela. Di kantor utama EECCHI, semua kaca
luar digunakan kembali karena jenis kaca sudah
masuk kategori dengan koefsien peneduh
di kelas menengah, ruang clearing house
kaca sisi dalam menggunakan kaca jenis low
Kantor EECHI yang telah di-retroft
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 13
IV. DESAIN MEKANIS DAN LISTRIK
AC
Sistem AC yang dipilih adalah sistem multi-split
VRF (variable refrigerant fow). Sistem ini memiliki
satu unit Kondensor luar ruangan dan beberapa
unit evaporator dalam ruangan di atas langit-
langit. Sistem VRF memodulasi aliran refrigeran
yang disirkulasi di dalam sistem sesuai dengan
permintaan pendinginan (di dalam ruangan
dikontrol oleh thermostat). Secara keseluruhan
sistem ini 30-40% lebih efsien dibandingkan
sistem AC konvensional.
Beberapa ftur sistem AC ini:
Unit dalam ruangan dan tombol kontrol
memiliki sensor untuk mendeteksi suhu
ruangan dan mengendalikan unit dalam
dan luar ruangan untuk menyesuaikan
kecepatan fan sesuai dengan yang
dibutuhkan, yang berarti sistem ini ini
memiliki efsiensi beban parsial yang lebih
tinggi.
Produk LG Multi V III yang memiliki
rating Koefsien Kinerja (Coefcient of
Performance/COP) sebesar 4,27 dan
sebuah kompresor inverter BLDC yang
hemat listrik yang dapat secara otomatis
mendeteksi kecacatan dan kesalahan
(fungsi diagnostik sendiri) pada sistem
kontrol dalam dan luar ruangan.
Menggantikan fungsi refrigeran R-22
yang dinilai menyebabkan pemanasan
global, sistem menggunakan refrgeran
R410A yang bebas dari Ozone Depletion
Substance (ODS) dan memiliki Global
Warming Potential (GWP) yang rendah.
Pemasukan udara segar dikontrol
dengan sebuah Variable Speed Drive yang
menyesuaikan kecepatan rotasi kipas dan
dengan demikian jumlah udara segar
yang dihasilkan sesuai dengan faktor
beban dari kompresor yang diletakkan di
atap.
Lighting
Pencahayaan di kantor merupakan area lain di
mana intensitas cahaya dapat diatur lebih rendah
dibanding aturan konvensional.
Lampu fuoresen T5 (lampu Philips dengan
2 TLS yang masing-masing 24W), yang pada
saat itu merupakan lampu fuoresen paling
efsien yang tersedia, dipilih untuk kantor
EECCHI sementara LED smart downlight (Philips
LED Smart Downlight 18W) digunakan untuk
koridor. Kedua sistem pencahayaan memiliki
kontrol penghunian, sementara lampu T5 juga
memiliki sensor sinar matahari yang terintegrasi.
Pencahayaan dikelompokkan secara paralel
terhadap fasat bangunan (faade) tiap ruangan
dikelompokkan dalam dua baris. Dengan sistem
ini memungkinkan tiap baris untuk diaktifkan
on/of secara terpisah karena lebih banyak
sinar matahari yang tersedia di dekat jendela.
Saklar lampu diletakkan dekat pintu sehingga
lebih mudah untuk dicapai, dengan posisi
yang lebih baik dibandingkan pemasangan
sebelumnya. Pencahayaan umum bekerja dengan
prinsip: Menyalakan (ON) secara manual dan
mematikan (OFF) secara otomatis. Meskipun
sistem memiliki kemampuan untuk mematikan
lampu ketika tidak ada penghuni ruangan,
lampu masih dapat dinyalakan secara manual.
Hal ini diterapkan di gedung tersebut untuk
tidak memanjakan pengguna gedung serba
otomatis, dan memberikan fungsi edukasi bagi
yang perlu lampu dia harus menyalakan secara
manual, namun kalau lupa tidak ada satupun
yang mematikan lampu sementara ruangan telah
kosong, sistem akan otomatis mematikan lampu.

V. ANGKA-ANGKA PEROLEHAN TARGET
Penghematan Energi > 50%
Penghematan per
Tahun (1 Lantai)
Rp.22.302.000
Pengurangan Emisi CO2 22,45 ton
Pengurangan Kebisingan 19%
Fitur-ftur proses retroft pada saat konstruksi
14 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
2.2 Kampus ITSB, Kota Deltamas - Bekasi
I. PENDAHULUAN
ITSB (Institut Teknologi dan Sains Bandung)
yang didirikan di Kampus Kota Deltamas
Bekasi merupakan hasil dari kerja sama antara
pemerintahan kabupaten Bekasi dan Institut
Teknologi Bandung (ITB), salah satu institut
terkemuka di Bandung. ITSB memiliki dukungan
penuh dari ITB dalam implementasi dan
pengembangan standar akademik yang disetujui
dalam perjanjian bertanggal 27 Januari 2010. ITSB
dengan visi Universitas Berorientasi Eco-Industry,
diprogram untuk menghasilkan lulusan yang
kompeten di bidangnya dan dapat menjawab
kebutuhan masyarakat di era industrialisasi,
globalisasi, desentralisasi, dan pembangunan
nasional ini.
II. KAMPUS HIJAU
Desain Kampus ITSB didasarkan pada konsep
ramah lingkungan sesuai dengan prinsip ekologi
dengan ruang terbuka hijau yang cukup untuk
menyediakan kenyamanan bagi aktivitas kampus.
Bangunan kampus didesain sebagai persyaratan
rating Bangunan Hijau dan akan diformulasikan
berdasarkan alat rating Greenship GBCI.
Perusahaan yang menjalankan konstruksi Kampus
ITSB adalah PT. INTI TEKNO SUKSES BERSAMA,
yang berlokasi di Cikarang dan berpusat di
Jalan Tol Jakarta-Cikampek Km. 37 Hegarmukti,
Cikarang Center.

Setelah bangunan didirikan, prosedur
commissioning yang layak telah dijalankan
oleh PT. Narama Mandiri. Commissioning yang
layak dan evaluasi utilisasi energi merupakan
studi kuantitiatif rinci akan sistem elektrikal,
mekanikaldan HVAC, untuk mengidentifkasi
status kinerja atau efsiensi sistem. Hasilnya
digunakan untuk menghitung konsumsi energi
tahunan sesuai dengan aturan yang ditetapkan
oleh GBCI untuk mencapai persyaratan sertifkasi
Greenship New Building.

III. PENDEKATAN
Area Hijau
Area bervegetasi ini mengikuti Permendagri No. 1
Tahun 2007 dengan komposisi 60,7% area tanah
ditutupi dengan pohon berukuran kecil, sedang,
besar; tanaman dan pepohonan dengan jenis
tanaman sesuai dengan Permen PU 5/PRT/M/2008
tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH). Membuka
lantai dasar bangunan sehingga dapat menjadi
akses pejalan kaki yang aman dan nyaman selama
KONSEP BANGUNAN HIJAU ITSB
Luas Situs Fase 1: 16.000 m2; Fase 2: 24.000 m2; Fase 3: 14.000 m2
Rasio Cakupan Bangunan Maksimal 30%
GFA (Luas Lantai Bruto) /
Tinggi Bangunan
4.200 m
2
/ 4 lantai
Energi Langkah-langkah penghematan energi (44,2%); kombinasi sistem Split dan VRF
untuk HVAC; pencahayaan alami; selubung bangunan mengalami optimalisasi
OTTV; peralatan yang efsien
Lahan Area penghijauan dan pengurangan dampak pemanasan lahan dengan
pengaturan albedo; manajemen storm water; jalur sepeda, parkir, dan kamar
mandi (shower) untuk pengguna sepeda
Air Mengukur konsumsi energi; efsiensi air dengan menggunakan psaniter
yang ramah lingkungan (menghemat 18,06%) & penampungan air hujan
(menghemat 48,53%)
Material Menggunakan material: ISO 14001 atau setara (27%); material lokal yang
diproduksi dalam radius 1.000 km (87%); penggunaan refrigeran dan non-ODS
dasar (100%)
Kesehatan & Kenyamanan
Dalam Ruangan
Memonitor kadar CO
2
dan tingkat udara segar (100% sesuai dengan SNI); cat
rendah VOC, tidak menggunakan material yang mengandung formaldehida,
asbes, merkuri, dan styrofoam.
Manajemen Bangunan Commisioning yang layak; manajemen limbah (3r untuk limbah padat)
Analisis Biaya Analisis biaya antara bangunan hijau vs bangunan standar (biaya tambahan 8%);
analisis masa pengembalian = 7,7 tahun
Gedung ITSB, Cikarang yang telah mendapat Sertifkasi Greenship level Emas
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 15
minimal 10 jam dalam satu hari; menyediakan bus
jemputan, fasilitas pejalan kaki, parkir sepeda dan
kamar mandi (shower) untuk pengguna sepeda.
Esiensi Energi dan Konservasi

Memasang meteran kWh untuk mengukur
konsumsi listrik dalam empat kelompok beban
sistem; menjalankan penghitungan OTTV
berdasarkan SNI 03-6389-2000; Memasang
kisi-kisi cahaya eksternal: untuk memantulkan
cahaya matahari ke zona sinar matahari dalam.
Refektor eksternal dengan sirip GRC dan cat
elastomeric akan memperluas zona sinar matahari,
pemantulan difusi cahaya min 80% (menurut
standar DIN 5036). Metode penghitungan cahaya
matahari selama matahari bersinar adalah
dengan membagi zona sinar matahari ke dalam 3
bagian: zona luar, dalam, dan pencahayaan listrik.
Menggunakan unit VRF dan split untuk sistem
HVAC dengan COP terbaik dalam kisaran 3,5-4,2.

Konservasi Air
ITSB menggunakan air ledeng sebagai sumber
air utama. Meteran air dipasang di 4 area: input
dari PDAM, tempat pengolahan air (water
treatment plant/WTP), di atas pompa kolam,
dan satu lagi untuk mengukur output air dari
sistem penampungan air hujan. Runof dari air
hujan yang jatuh ke bangunan sebanyak 91%
dihitung oleh GBCI sebagai poin penampungan
air hujan dan digunakan untuk mengairi lansekap.
Penggunaan saniter air (water fxture) sesuai
dengan kapasitas buangan sub-standar mencapai
setidaknya 75% dari total unit saniter air yang
terpasang.
Sumber Daya dan Siklus Material
Tidak menggunakan CFC (chloro fuoro carbon)
sebagai refrigeran dan halon sebagai bahan
pemadam kebakaran. Menggunakan material
kayu tersertifkasi secara legal sesuai dengan
Peraturan Pemerintah tentang asal kayu.
Kesehatan dan Kenyamanan dalam Ruangan
Mendesain ruangan dengan menjamin
tercukupinya kebutuhan udara segar kepada
seluruh penghuni bangunan, setidaknya sesuai
dengan SNI 03-6572-2001; Dua ruangan dengan
kepadatan tinggi, yaitu ruangan rapat umum dan
kantor umum yang dilengkapi dengan sensor
karbon dioksida (CO
2
), yang memiliki mekanisme
untuk mengatur jumlah ventilasi udara luar
ruangan sehingga konsentrasi CO
2
dalam ruangan
tidak lebih dari 1.000 ppm. Sensor ini diletakkan
Lansekap vegetasi (softscape) sekitar 60% dari total lahan
16 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
1,5 m dari lantai di dekat return air grill. 75% dari
area disewakan bersih (net lettable area/NLA)
langsung menghadap pemandangan di luar.

Manajemen Lingkungan Bangunan
Mendirikan fasilitas untuk memilah dan
mengumpulkan berdasarkan tipe organik atau
tidak organik; melibatkan Professional Greenship
(GP), yang bertanggung jawab untuk jalur
langsung proyek dari tahap perencanaan dan
desain sebelum sertifkasi partisipasi; ketersediaan
pabrik kompos sampah pada lokasi situs
bangunan.
IV. ANGKA-ANGKA PEROLEHAN TARGET
Penghematan Energi 44.01%
Penghematan per Tahun Rp. 237.472.785
Pengurangan Emisi CO2 349,73 ton
Penghematan Air 19%
Keberadaan kolam mengurangi beban volume limpasan air hujan ke jaringan drainase kota.
Sistem manajemen pengelolaan sampah.
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 17
2.3 Sinarmas Land Plaza Ofce,
BSD - Serpong
I. PENDAHULUAN
Sebagai bagian dari komitmen mereka akan
kepedulian lingkungan, Sinarmas Land Plaza
telah menerapkan rsitektur hijau pada bangunan
ramah lingkungan yang berlokasi di BSD Green
Ofce Park. Bangunan ini telah menerima
berbagai sertifkasi dan penghargaan seperti Gold
Certifcation dari Green Mark Singapore, Best Ofce
Building (Bangunan Perkantoran Terbaik) dari Asia
Pacifc Property Awards, dan Finalis dalam Hong
Kong Green Building Award.
Sinarmas Land Plaza didesain dengan konsep
hijau, seperti dalam hal penghematan energi
dan air, pengurangan emisi karbon, dan daur
ulang air sebelum pembuangan drainase. Hal
ini berarti menjaga dan memelihara lingkungan
dan bumi sehingga memberikan kontribusi
penting bagi pengembangan hijau di Indonesia.
Dari sini diharapkan para pengembang lain
akan terinspirasi dan melakukan hal yang sama
untuk memelihara dan melestarikan lingkungan
bersama.

Proyek yang dijalankan di lahan seluas 28,8 ha
ini didedikasikan untuk Distrik Hijau pertama
di Indonesia bernama BSD Green Ofce Park di
BSD City, Tangerang, Banten, Indonesia. Proyek
yang dimulai berjalan selama (kuartal 1, 2, 3 & 4)
tahun 2009 dan mengalami proses commissioning
kemudian di tahun 2011 seluruh sistem mulai
dioperasikan. Proyek ini dimiliki sepenuhnya
oleh PT. Bumi Serpong Damai Tbk, anggota
Sinarmas Land Group, salah satu perusahaan
pengembangan properti terbesar di Indonesia.
II. MOTIVASI PROYEK
1. Untuk berpartisipasi pada upaya gerakan
hijau dunia untuk mengurangi dampak
pemanasan global
2. Untuk berpartisipasi dalam inisiatif
penghematan energi dan program
pengurangan emisi CO
2

3. Untuk mengimplementasi fasilitas
lingkungan yang bersih, hijau, dan sehat
untuk mendukung produktivitas para
pekerja
4. Untuk secara sadar menjalankan
program pelestarian lingkungan dengan
menghemat air, memasang sistem drainase
yang layak, memilih material bangunan
yang berlabel hijau, menjamin kualitas
udara dalam ruangan, dan memiliki sistem
manajemen bangunan yang cermat
III. PENDEKATAN

Proses desain rinci yang komprehensif disusun
oleh para konsultan yang mengintegrasikan
kriteria bangunan hijau dan parameter dalam hal
Arsitektur, Struktur, M&E, dan Efsiensi Operasi
Bangunan.
RANGKUMAN DATA MASTERPLAN (2010)
Luas lahan 282.220 sq.m
Rasio Cakupan Bangunan 25% - 35%
GFA (Luas Lantai
Bruto) Maksimum
183.300 m
2
Tinggi Bangunan 5 lantai
Jumlah Bangunan 10 Blok Perkantoran, Kantor
Pemasaran, Mall F&B
GFA (Luas Lantai Bruto)
per Blok Bangunan
Blok Perkantoran : 15.000
m
2
termasuk 1.200
lantai bawah tanah

Pemasaran: 3.000 m
2
The Breeze Mall: 30.000 m
2
GFA (Luas Lantai Bruto) Total 183.300 m
2
Persyaratan Parkir Mobil (1:60) 2000

Parkir mobil bawah tanah
untuk mencegah lalu lintas
tinggi di permukaan
Persayaratan Area Parkir Mobil 48.000 m
2
Konsep Pengembangan Keamanan jaringan jalan
terpadu, properti
Manajemen dan
infrastruktur
BSD Green Ofce Park
18 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
IV. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB
Secara umum seorang Greenship Professional
(GP) bertindak sebagai penasehat bagi Dewan
Komite Proyek. GP pada dasarnya menekankan
pentingnya dan menjalankan proses program
bagi pemilik bangunan dan seluruh tim ahli,
seperti Arsitek, Insinyur Sipil, Insinyur M&E,
Lansekap, dan desainer infrastruktur.
GP juga memvalidasi input desain bangunan
vs. output operasi sebenarnya yang diinginkan
(matriks efsiensi daya, air, IAQ, dll.)
V. TEKNIK STRATEGI PASIF
1. Terdapat total sebelas (11) bangunan
dengan tinggi maksimal lima (5) lantai, yang
diposisikan secara strategis (U-S) untuk
memitigasi penyerapan sinar ultraviolet dari
panasnya matahari.
2. Tata letak dan orientasi bangunan yang
layak, pembatasan struktur tinggi,
diasosiasikan dengan desain pola lansekap
hijau akan mengurangi Dampak Lahan
Panas (Heat Island Efect) sehingga tersedia
ruang sirkulasi udara dan tingkat suasana
yang nyaman
3. Menggunakan fasat bangunan dan aplikasi
atap hijau akan mengurangi dampak
radiasi panas ke dalam bangunan, sehingga
menyediakan pendinginan yang nyaman
pada lobi dekat pintu masuk utama dan
pendinginan pasif pada atrium

VI. PERANGKAT YANG DIGUNAKAN
1. Simulasi cahaya matahari
2. Simulasi aliran angin
3. Perhitungan ETTV 42w/m2
4. Photovoltaic digunakan pada lampu jalan
dengan lux yang lebih tinggi dan konsumsi
energi rendah
5. Sistem Manajemen Bangunan (Building
Management System/BMS) bagi seluruh
bangunan untuk memonitor dan
mengontrol penggunaan energi di seluruh
fasilitas yang ada
6. Tipe teknologi pencahayaan yang
digunakan di bangunan adalah LED
(Light Emitting Diode), lampu Fluoresen T5
dengan ballast elektronik & pengontrol,
dan CFL (Compact Fluorescent Lamp/CFL).
Penggunaan sinar matahari merupakan
faktor tambahan di seluruh area bangunan
7. Ventilasi udara alami memungkinkan aliran
udara melintas dalam ruangan gedung
(pendinginan pasif )
Analisis orientasi bangunan dan pergerakan angin.
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 19

VII. ANGKA-ANGKA PEROLEHAN TARGET
Penghematan Energi 31%
Penghematan per Tahun Rp.542.000.000
Pengurangan Emisi CO2 600 ton
Penghematan Air 23%
Daerah umum yang mendapat pencahayaan alami.
Transportasi hijau dalam kawasan antar-jemput
Orientasi bangunan terhadap lintasan matahari dan aliran angin
20 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
2.4 Menara BCA - Grand Indonesia,
Jakarta
I. PENDAHULUAN
Menara BCA (Grand IndonesiaI), yang mulai
beroperasi sejak tahun 2009, merupakan bagian
kantor prestisius dari Mega Projects Grand
Indonesia yang menggabungkan Perkantoran,
Mall Perbelanjaan, Apartemen, dan Hotel
berbintang lima. Bangunan inin memiliki 54
lantai dan luas sebesar sekitar 250.000 m
2
dan
penghunian sekitar 85%, memiliki Indeks
Konsumsi Energi (IKE) awal sebesar 250 kWh/
m
2
.tahun (2010). Angka ini merupakan IKE rata-
rata bangunan perkantoran di Jakarta. Desain
bangunan cukup baik dan modern, dengan fasat
bangunan yang menggunakan kaca low-e double
glazing dan berbagai ftur listrik dan mekanis
yang mendukung Sistem Manajemen (BMS -
Building Management System), lift/eskalator
menggunakan sistem kontrol canggih sehingga
mereka yakin akan mendapatkan poin yang
tinggi di GBCI untuk perolehan di kategori EEC
(Energy Efciency and Conservation). Manajemen
Bangunan memiliki kepercayaan untuk secara
langsung mengikuti sistem asesmen rating
GREENSHIP EB 1.0 dengan target Platinum.
Pada bulan Oktober 2010 akhirnya Management
Menara BCA bersama GBCI bersepakat untuk
menghijaukan bangunan mereka.
Menara BCA Grand Indonesia menggunakan
kaca ganda pada seluruh fasat bangunan agar
dicapai penggunaan AC yang efsien. Bangunan
ini, yang dikembangkan sejak 2008, memiliki
tingkat keberhasilan 35% untuk penghematan
energi. Selain itu, air limbah per orang per hari
dikurangi menjadi 40 liter dari yang biasanya
sebesar 50 liter. Kemudian area lahan terhitung
100% dijadikan lahan serapan air hujan yang akan
dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan air di
dalam gedung.

II. MOTIVASI PROYEK
Berdasarkan visi (To be The Shopping Land Mark
of Indonesia) dan misi perusahaan (Inspiring Life
Style) maka 8 motivasi proyek ditetapkan, yaitu:
KONSEP MENARA BCA UNTUK MEMATUHI GREENSHIP EB 1.O
GFA
(Luas Lantai Bruto)
250.000 m
2
Tata Guna Lahan Memenuhi persyaratan 1&2 untuk kebijakan tata guna lahan dan kebijakan pengurangan kendaraan bermotor; aksesibilitas
komunitas; pengurangan kendaraan bermotor; parkir sepeda dan kamar mandi (shower); hanya memenuhi satu dari tiga
poin lansekap; hanya memenuhi satu dari dua poin heat island efect; memenuhi persyaratan manajemen limpasan air
hujan; hanya memenuhi satu dari dua poin manajemen lahan; dan memenuhi persyaratan manajemen kawasan
Efsiensi Energi dan
Konservasi
Memenuhi kedua syarat kebijakan dan rencana manajemen energi serta kinerja energi bangunan minimal; seluruh poin
efsiensi kinerja energi bangunan dapat dipenuhi secara dioptimalkan; hanya memenuhi satu dari dua syarat testing,
recommissioning, atau retrocomissioning; memenuhi seluruh kinerja energi sistem; seluruh pengawasan & kontrol energi;
serta operasi dan pemeliharaan. Tapi tidak memenuhi persyaratan menggunakan energi baru terbarukan di lahan bangunan
Konservasi Air Memenuhi persyaratan kebijakan manajemen air; kontrol pengawasan air; memenuhi enam dari delapan poin efsiensi air
bersih; kualitas air; memenuhi satu dari lima poin air daur ulang; mendapat poin seluruh pengurangan air bawah tanah.
Tidak memenuhi syarat air daur ulang yang dapat diminum
Sumber Daya dan
Siklus Material
Memenuhi seluruh tiga persyaratan refrigeran dasar, kebijakan pembelian material, dan kebijakan manajemen limbah;
seluruh poin penggunaan non-ODS; seluruh poin praktik pembelian material; tiga dari empat poin praktik manajemen
limbah; dan seluruh manajemen limbah berbahaya. Tidak memenuhi syarat manajemen limbah berbahaya
Kesehatan dan
Kenyamanan
Dalam Ruangan
Memenuhi persyaratan kampanya larangan merokok; seluruh poin untuk kontrol asap tembakau dan dampaknya pada
lingkungan; seluruh pengawasan CO
2
dan CO; hanya dua dari enam poin polusi fsik dan kimia; hanya satu dari tiga polusi
biologis; seluruh poin untuk kenyamanan visual; level akustik; dan survei pengguna bangunan
Manajemen
Lingkungan
Bangunan
Memenuhi persyaratan kebijakan operasi dan pemeliharaan; tiga dari lima poin inovasi; hanya satu dari dua poin tujuan
desain & persyaratan proyek; seluruh poin untuk tim operasi dan pemeliharaan hijau; seluruh poin untuk penghunian/
penyewaan hijau; seluruh poin untuk pelatihan operasi dan pemeliharaan
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 21

a. Peningkatan Kualitas Jasa (Kenyamanan
dan Keamanan)
b. Peningkatan Kesadaran Pegawai akan
Pentingnya Perilaku Hijau
c. Peningkatan Lingkungan Kerja yang Sehat
d. Peningkatan Kesadaran Lingkungan
e. Pengurangan Risiko
f. Penghematan Biaya
g. Pencapaian Visi dan Misi Perusahaan
h. Peningkatan Pangsa Pasar
III. STRATEGI UNTUK MENGIMPLEMENTASIKAN
EFISIENSI ENERGI DAN BANGUNAN HIJAU
a. Memperkenalkan konsep bangunan hijau
kepada Dewan Direktur (BOD) dan Pemilik.
b. Komitmen BOD & Pemilik untuk
mengimplementasikan konsep bangunan
hijau di seluruh divisi (divisi keuangan,
pemasaran, hubungan penyewa,
pembelian, ft-out, operasi, dan teknik)
c. Menetapkan tim bangunan hijau dan
melatih tim mengenai konsep bangunan
hijau secara berkala
d. Memetakan kondisi yang sudah ada dan
menetapkan target
e. Konsultasi dengan GBCI secara berkala
IV. PENDEKATAN
Aksesibilitas
Setidaknya terdapat 5 tipe fasilitas umum dengan
pencapaian pada jalan utama dengan radius
sebesar 1.500 m dari lokasi gedung.
Menyediakan fasilitas pejalan kaki yang aman,
nyaman dan bebas dari akses kendaraan
bermotor; persimpangan untuk menghubungkan
setidaknya 3 fasilitas umum di atas dan/atau
stasiun kendaraan umum.

Pengurangan Kendaraan Bermotor (Sepeda & Bus
Feeder)

Pengurangan penggunaan kendaraan bermotor
prubadi dengan implementasi pilihan-
pilihan berikut: car pooling, bus feeder, voucher
transportasi umum, atau diskriminasi harga parkir.

Terdapat parkir sepeda yang aman sebanyak
1 unit per 30 pengguna bangunan, dan juga
tempat mengganti baju dan kamar mandi spesial
untuk setiap 25 pengguna sepeda yang parkir di
bangunan ini.
Manajemen Storm Water dan Pencapaian Konservasi Air

Keberadaan prosedur operasi standar dan
implementasi pemeliharaan dan inspeksi sistem
pipa secara berkala untuk mencegah kebocoran
dan keborosan air dengan menunjukkan
keseimbangan air dalam 6 bulan terakhir
untuk sertifkasi awal. Pengurangan efsiensi air
sebesar 28% dibandingkan dengan baseline SNI.
Menggunakan air daur ulang dengan kapasitas
cukup untuk kebutuhan air pengganti pada
menara pendingin. 80% dari total unit air keran di
area umum menggunakan auto stop.
Pencapaian Indeks Energi Bangunan dan Energi (EEC)

Indeks Efsiensi Energi selama 6 bulan terakhir dari
bangunan ini di bawah nilai dari referensi standar
SNI (250 kWh/m2.tahun) dengan pengurangan
total sebesar 48%. Bangunan telah menjalankan
commissioning atau retrocommissioning dengan
sasaran untuk meningkatkan kinerja (KW/TR)
pada peralatan MVAC (Mechanical Ventilation and
Air Conditioning/Ventilasi Mekanis dan AC) utama
dalam 1 tahun.
Menara BCA, PT. Grand Indonesia
22 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Telah menghemat konsumsi energi pada
pencahayaan listrik, lebih dari 20% daya untuk
pencahayaan sesuai daftar SNI 036197-2000.
Menggunakan minimal 50% ballast listrik
berfrekuensi tinggi pada area kerja bersama.
Menjalankan peningkatan efsiensi sistem AC
untuk pendingin sentrifugal sebesar 0,15 kW/TR di
bawah efsiensi pendingin minimal sebesar 0,656
kW/TR
Praktik Manajemen Limbah dan Manajemen Limbah
Berbahaya

Keberadaan Prosedur Operasi Standar (SOP),
Pelatihan, dan Pelaporan untuk mengumpulkan
dan memilah sampah berdasarkan tipe organik
dan an organik dalam 6 bulan terakhir untuk
sertifkasi awal, keberadaan SOP, Pelatihan, dan
Pelaporan untuk manajemen limbah berbahaya,
seperti bola lampu, batere, tinta printer, dan
material pembungkus cairan pembersih dalam 6
bulan terakhir untuk sertifkasi awal.
Penghematan Energi 18%
Penghematan per Tahun Rp.5.596.250.000
Pengurangan Emisi CO
2
4.986 ton
Pengurangan Konsumsi Air 28%
Keberadaan SOP dan laporan pada distribusi
barang bekas yang masih dapat dipakai dalam
bentuk furnitur, alat elektronik, dan spare part
melalui donasi atau pasar barang bekas dalam 6
bulan terakhir untuk sertifkasi awal.

V. ANGKA-ANGKA PEROLEHAN TARGET
IKE selama 6 bulan terakhir dibandingkan dengan standar
perkantoran (kWh/m
2
/tahun)
Proporsi dari pengguna energi di dalam gedung
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 23
2.5 Kantor Kementerian Pekerjaan
Umum, Jakarta
I. PENDAHULUAN
Tujuan utama dari konstruksi bangunan
berkinerja tinggi di Kementerian Pekerjaan
Umum adalah untuk gedung ramah lingkungan
kebanggaan nasional dan sebagai bangunan
contoh di Republik Indonesia. Bangunan PU
merupakan proyek pilot bangunan GREENSHIP NB
1.0 yang didirikan seiring persiapan Alat Rating
GREENSHIP.

Proses penerapan Desain Terintegrasi menjadi
tonggak sejarah yang sangat penting dan simbol
bangkitnya industri bangunan di Indonesia.
Bangunan ini memiliki 18 lantai dan sebuah
plaza parkir. Tim desain gedung ini memiliki
ambisi awal untuk mencapai level Platinum dari
rating Greenship dengan Indeks Efsiensi Energi
sebesar 200 kWh/m
2
dan menghemat 30% dari
baseline. Untuk mencapai prinsip-prinsip yang
ditetapkan digunakan OTTV rendah, desain
pasif, pencahayaan alami dengan pemasangan
rak cahaya, dan penggunaan sistem AC dengan
pendingin berefsiensi tinggi. Pada sistem HVAC,
digunakan 3 chiller berpendingin air 3 (2 berjalan
dan 1 standby) dan 2 menara pendingin dengan
beban pendinginan sebesar 0,540 kW/TR.

II. DESAIN SITUS HIJAU
Sejak awal perencanaan, konstruksi, operasi,
dan pemeliharaan, perhatian diberikan pada
aspek operasional untuk menjaga, memelihara,
mengurangi penggunaan sumber daya alam,
menjaga kualiitas udara dalam ruangan, dan
memberikan perhatian kepada penghuninya yang
mematuhi peraturan yang ada.
Bentuk dan Orientasi Bangunan. Bentuk
bangunan telah mengalami banyak perubahan
karena desain asli bangunan yang menyebabkan
sisi timur-barat akan selalu terkena cahaya
matahari langsung yang kemudian dilakukan
dimodifkasi menyebabkan dinding bangunan
yang menghadap timur dan barat lebih kecil
dari bentuk awal. Oleh karena itu, peningkatan
panas dari sinar matahari dapat dikurangi secara
signifkan. Bentuk dari bangunan yang sudah
ada juga menyebabkan banyak ruang kerja akan
mendapatkan sinar matahari dan pemandangan
dua sisi dinding yang menghadap utara dan
selatan. Bangunan PU memiliki bentuk massa
bangunan yang tipis, baik secara horizontal
maupun vertikal. Sisi yang tipis di atas bangunan
didesain untuk dapat menjadi peneduh sisi
bangunan sehingga yang berada di bawah dapat
menjadi lebih sejuk. Dalam desain, bangunan ini
memiliki area terbuka lebih banyak di sisi timur.
Hal ini dikarenakan cahaya di siang hari (matahari
berada di sisi barat) lebih panas dan terik.
KONSEP KANTOR KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM
Luas Situs 28.957 m
2
Rasio Cakupan
Bangunan
Maksimal 36,82%
GFA (Luas Lantai
Bruto)/Tinggi
Bangunan
Lantai dasar: 1.761 m
2
; Lantai biasa (Lantai 5-14): 1.353 m
2
;
Lantai atas (15-17): 1.518 m
2
/17 lantai + 1 lantai semi-bawah
tanah
Orientasi Bangunan Utara Selatan, untuk mengurangi terpaan matahari pada
area kerja pada bagian timur dan barat bangunan sehingga
dimodifkasi ke dalam bentuk yang lebih halus, sehingga
meningkatkan utilisasi pencahayaan siang hari
Zero run of Mengurangi run-of hujan di luar daerah, membuat kolam
penahanan/swale, membuat infltrasi lokal, optimalisasi
jaringan drainase di sekeliling bangunan
Kontrol suhu Pencapaian iklim mikro dengan: menyusun struktur, pola, dan
pemilihan vegetasi; membentuk sirkulasi udara agar mengalir
ke atas; manajemen O
2
dan CO
2
dengan menamam tumbuhan
padat dan berdaun lebar
Ramah Lingkungan Pemilihan material yang layak: meminimalisasi penggunaan
material alami; memilih produk dengan fnishing berpori;
menyediakan dan melengkapi fasilitas untuk pejalan kaki
(termasuk yang mengalami disabilitas)
Recycle Reduce
Reuse (Daur Ulang,
Mengurangi,
Menggunakan
Kembali)
Implementasi sistem tempat manajemen sampah; aplikasi
tanah dengan manajemen air yang layak; mengurangi
penggunaan air dengan meminimalisasi fush; penggunaan
daya listrik yang efsien untuk pencahayaan luar ruangan
dengan pilihan lampu dan sensor
Gedung Utama Kantor Kementerian PU
Bentuk dan orientasi bangunan desain awal yang tidak menguntungkan.
24 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Peneduh dan Reektor/Pemantul
Lidah pemantul cahaya sekaligus berfungsi
sebagai peneduh akan mengurangi panas
yang memasuki bangunan namun masih
menggabungkan cahaya dengan efsien.
Dengan lidah pemantul cahaya, cahaya yang
memasuki bangunan dipantulkan pada langit-
langit. Bayangan cahaya panjang pada lidah sisi
luar ditetapkan agar matahari tidak terlalu terik
bagi aktivitas manusia di dalamnya. Cahaya yang
masuk dan direfeksikan pada langit-langit tidak
akan terlalu terang namun masih menyediakan
cahaya yang cukup.
Sistem Pencahayaan

Sistem pencahayaan bangunan menggunakan
sistem pencahayaan pintar yang dikontrol
oleh panel kontrol utama sehingga cahaya
dapat dimatikan secara otomatis oleh sensor
gerakan dan sensor tingkat pencahayaan (lux).
Dengan demikian, penghematan energi dari
pencahayaan ruangan akan mudah untuk dicapai.
Sistem kontrol pencahayaan yang pandai dalam
bangunan dapat menetapkan status ON, OFF, dan
peredupan untuk setiap kelompok lampu. Sistem
ini merupakan implementasi penghematan
energi listrik untuk pencahayaan buatan dalam
bangunan. Sistem ini disebut MESL (Multi Channel
Energy Saved Load Control System) dan diproduksi
oleh Toshiba.

Sistem Daur Ulang Air
Sistem daur ulang air bekerja untuk mengolah
air kotor dan air yang telah digunakan sehingga
dapat digunakan kembali untuk menyiram toilet
atau menyiram tanaman. Dengan sistem ini,
penggunaan air dapat dihemat dan menjadi
salah satu aspek penting dalam mendukung
konsep bangunan hijau. Air buangan diolah
di STP (sewage treatment plant) lalu kemudian
diproses dan dibuang pada saluran kota
(mengikuti regulasi pengolahan air limbah). Air ini
kemudian mengalir pada sistem daur ulang lalu
diproses dan ditransfer ke tangki daur ulang di
bangunan utama dan tempat parkir. Hasil proses
pengolahan air dapat langsung digunakan untuk
menyiram toilet, menyiram tanaman, dan air
pengganti pada menara pendingin.
III. ANGKA-ANGKA PEROLEHAN TARGET
Penghematan Energi 56%
Penghematan
per Tahun
Rp.642.800.000
Pengurangan Emisi CO
2
947 ton
Penghematan Air 17,72%
Fungsi peneduh dan lidah pemantul untuk
memperkaya pencahayaan alami
Instalasi Pengolahan Air (STP) dari limbah dan air
hujan
Kontribusi pencahayaan alami dan kontrol otomatis
lampu.memperkaya pencahayaan alami
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 25
2.6 PT. Dahana, Kantor Manajemen
Pusat, Subang, Jawa Barat
I. PENDAHULUAN
Proyek kampus Dahana merupakan bagian dari
Energetic Materials Center (EMC), yang dimiliki
oleh PT DAHANA (Persero). Berlokasi di atas tanah
seluas hampir 600 (242 hektar), sebagai pusat
penelitian dan pengembangan, produksi, dan
penyimpanan material energi tinggi (yang paling
lengkap di ASEAN) untuk kebutuhan komersial
dan pertahanan. Kampus Dahana merupakan
bangunan pertama di Indonesia mencapai rating
tertinggi yaitu 83 poin untuk kategori Bangunan
Baru untuk Sertifkasi Greenship dari GBCI.
Pengembangan EMC merupakan hasil dari kerja
sama antara PT DAHANA (Persero) dengan PT PP
(Persero) sebagai kontraktor, sebagai hasil dari
sinergi antara beberapa BUMN, dengan dukungan
Kementerian BUMN. PT BNI, PT Telkom, PT
Binakarya, dan Jasindo juga terlibat dalam proyek
ini.

Dalam rangka mencapai sertifkasi ini, kampus
Dahana telah melewati beberapa tahap yang
telah ditentukan oleh tim asesmen. Pada 17 Juni
2011, kampus Dahana secara resmi didaftarkan
di GBCI. Setelah melewati serangkaian pengujian,
pada 10 Oktober 2011, GBCI mengeluarkan
Pernyataan Status sebagai Proyek yang Terdaftar.
Lalu, pada 20 Desember 2011, tahap asesmen
fnal dilakukan dan PT Management DAHANA
menerima sertifkat pada 20 Januari 2012.
II. DESAIN LAHAN HIJAU
Sejak awal dalam perencanaan, konstruksi,
operasi, dan pemeliharaan, perhatian diberikan
pada aspek operasional untuk menjaga,
memelihara, mengurangi penggunaan sumber
KONSEP KAMPUS DAHANA
Luas Tanah 24.800 m
2
Rasio Cakupan
Bangunan
Maksimal 40,55%
Luas Lahan Luas situs bangunan: 2.536 m
2
; Luas softscape: 14.744 m
2
;
Luas parkir dan jalan: 7.520 m
2
; area lantai yang dikondisikan
seluas 5.108,81 m
2
terdiri dari 2 lantai kantor, 4 lantai bangunan
multi-fungsi
Tata Guna Lahan Memenuhi seluruh persyaratan manajemen lahan hijau,
transportasi umum, sepeda, lansekap situs, mikroiklim dan
manajemen storm water. Namun tidak memenuhi pilihan lahan,
dan hanya satu yang memenuhi aksesibilitas komunitas
Efsiensi Energi
dan Konservasi
Memenuhi seluruh kriteria submeter listrik, kalkulasi OTTV,
pencahayaan alami, ventilasi, dampak perubahan iklim, dan
mencapai 10 dari 20 poin untuk langkah-langkah efsiensi energi
Konservasi Air Memenuhi seluruh kriteria meteran air, pengurangan
penggunaan air, peralatan air, daur ulang air, sumber air alternatif,
penampungan air hujan, dan efsiensi lansekap air
Sumber Daya
dan Siklus
Material
Memenuhi seluruh kriteria refrigeran dasar, produk yang
diproses secara ramah lingkungan, penggunaan non-ODS,
kayu bersertifkasi, desain modular, material lokal. Namun tidak
memenuhi syarat penggunaan bahan daur ulang bangunan dan
material
Kesehatan dan
Kenyamanan
Dalam Ruangan
Memenuhi syarat masuknya udara luar ruangan, pengawasan CO
2
,
kontrol asap tembakau di lingkungan, polusi kimia, pemandangan
luar, kenyamanan suhu. Namun tidak memenuhi kenyamanan
visual dan tingkat kebisingan
Manajemen
Lingkungan
Bangunan
Memenuhi manajemen air dasar, GP sebagai anggota tim proyek,
polusi aktivitas konstruksi, manajemen limbah yang maju,
commissioning yang layak, memasukkan data implementasi
bangunan hijau pada database, panduan ft-out, dan survei
penghuni
PT. Dahana yang berada di Pusat Material Energetic (EMC)
26 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
daya alam, menjaga kualiitas udara dalam
ruangan, dan memberikan perhatian kepada
penghuninya yang mematuhi peraturan yang ada.
100% Penghematan Air
Konsumsi air dengan pengurangan konsumsi air
dari sumber primer, di mana 100% dari seluruh
air diambil dari sumber, alternatif: sungai, hujan &
kondensat AC.
Irigasi Lansekap

Pemasangan sistem daur ulang air dengan
kapasitas yang cukup untuk keseluruhan
sistem untuk betutuhan fushing, irigasi, dan air
pengganti untuk menara pendingin.
Perangkat Lunak Modeling Energi
Menggunakan perangkat lunak modeling energi
untuk menghitung konsumsi energi dasar
(baseline) di bangunan dan bangunan yang
didesain. Setiap penghematan sebesar 2,5%
dimulai pada pengurangan energi 10% dari
bangunan baseline, lalu mendapatkan 1 poin
dari maksimal 20 poin (dibutuhkan untuk level
Platinum).
Pencahayaan Alami
Penggunaan cahaya alami yang optimal sehingga
setidaknya 30% lantai mendapatkan minimal
intensitas alami sebesar 300 lux. Digabungkan
dengan sensor lux otomatis untuk pencahayaan
buatan ketika cahaya alami kurang dari 300 lux,
maka 2 poin tambahan didapatkan.
Fasilitas daur ulang air dan kapasitas pengolahan
Dengan perhitungan simulasi komputer Indeks Konsumsi Energi turun menjadi 135.77 kWh/m2.year
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 27
Ventilasi
Tidak menggunakan AC pada ruang-ruang toilet,
tangga, koridor, dan lobi lift, serta elevator.
Sistem Pencahayaan
Sistem pencahayaan pada bangunan
menggunakan sistem pencahayaan yang
dikontrol oleh panel kontrol utama sehingga
bagian ruangan dibagi ke dalam 3 zona, di mana
setiap zona menggunakan sensor cahaya dan
gerakan.

Commissioning yang Layak
Menjalankan prosedur testing and commissioning
sesuai dengan instruksi GBCI, termasuk pelatihan
yang berhubungan dengan fungsi pemenuhan
dan optimalisasi kinerja peralatan/sistem dengan
perencanaan dan acuannya.
III. ANGKA-ANGKA PEROLEHAN TARGET
Penghematan Energi 35%
Penghematan per Tahun Rp. 210.176.443
Pengurangan Emisi CO
2
310 ton
Penghematan Air 100%
Hasil perhitungan beban pendinginan
Sistem otomatisasi pada sistem tata cahaya
Penggunaan sistem kombinasi sensor gerak dan sensor cahaya di area
perkantoran
28 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Pemilik bangunan menjadi motivator utama bagi bangunan hemat energi. Pemilik merupakan
kekuatan penggerak di setiap kasus. Pemilik bangunan menentukan sasaran dan mengambil
keputusan untuk menjaga agar proyek tetap berjalan dengan benar. Para arsitek dan insinyur
kemudian berusaha untuk mencapai sasaran sesuai keinginan dan keputusan pemilik bangunan,
sehingga dibutuhkan proses desain bangunan secara menyeluruh.
Menentukan sasaran penghematan energi yang dapat diukur pada permulaan proyek adalah hal
yang sangat penting dalam mencapai bangunan hemat energi. Dalam studi kasus, seluruh pemilik
bangunan dan tim desain menentukan sasaran penghematan energi yang agresif dari awal. Sasaran-
sasran ini contohnya seperti 40% lebih baik dibanding kinerja minimal SNI. Secara umum, yang paling
baik memutuskan sasaran kinerja energi yang paling optimal adalah hasil kesepakatan tim. dan
menggunakan simulasi energi untuk memahami dampak energi dari keputusan desain menghasilkan
kinerja energi yang terbaik.
Banyak keputusan yang tidak dimotivasi oleh biaya. Pemilik bangunan mengambil keputusan
berdasarkan nilai. Seringkali, pemilik akan mengeluarkan uang untuk ftur yang mereka sangat
inginkan pada bangunan merekaterutama ftur-ftur arsitektur. Sebaliknya, bila seorang pemilik
tidak menginginkan sebuah ftur terntentu, biaya menjadi alasan untuk menghilangkannya.
Teknologi yang tersedia pada saat ini dapat mengubah kinerja bangunan secara substansial. Teknologi
yang sudah tersedia (of-the-shelf) maupun yang terbaik (state-of-the-shelf) melalui penerapan yang
layak dapat digunakan untuk mencapai bangunan hemat energi. Meskipun demikian, strategi-strategi
ini harus diterapkan bersama dan diintegrasikan dalam desain, instalasi, dan operasi secara layak
dalam rangka menghemat energi. Tidak ada ukuran efsiensi tunggal atau daftar langkah-langkah
pencapaian bangunan hemat energi yang tersedia.
Pendekatan desain keseluruhan bangunan merupakan cara yang baik untuk menurunkan
penggunaan dan biaya energi. Pendekatan keseluruhan bangunan yang terpadu dimulai dengan
tim desain yang memiliki komitmen terhadap sasaran energi. Bangunan harus didirikan sebagai
suatu sistem bila teknologi akan diintegrasikan dalam desain dan operasinya. Hal ini meliputi
penggunaan simulasi komputer untuk membantu memandu proses desainsimulasi-simulasi
ini dapat menjalankan analisis trade-of untuk menilai dampak energi dari pilihan arsitektur serta
desain HVAC&L (heating, ventilation, air-conditioning, and lighting/pemanasan, ventilasi, AC, dan
pencahayaan).
2.7 Rangkuman Pelajaran yang Didapatkan
Berikut adalah daftar rangkuman pelajaran yang didapatkan yang berlaku bagi seluruh enam bangunan
yang menjadi studi kasus:
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 29
3. Informasi Tambahan
3.1 Instrumen Kebijakan yang
Berhubungan dengan Efsiensi
Energi Bangunan
A. Instrumen Hukum:
1. Undang-undang Republik Indonesia No. 28
Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
2. Undang-undang Republik Indonesia No.
32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup
3. Undang-undang Republik Indonesia No. 30
Tahun 2007 tentang Energi
4. Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi
Gas Rumah Kaca (Draft Peraturan Presiden
tentang RAN-GRK)
5. Nationally Appropriate Mitigation Actions/
NAMAs di Sektor Energi
B. Instrumen Fiskal:
1. Insentif untuk implementasi program
konservasi energi (Peraturan Pemerintah No.
70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi)
2. Pembebasan pajak impor, harga set-up
dan alokasi subsidi dari energi fosil menuju
energi baru dan terbarukan (berdasarkan
Green Paper yang dikembangkan oleh
Kementerian Keuangan)
C. Instrumen Institusional:
1. Kementerian ESDM sebagai Otoritas Energi,
Peraturan Menteri ESDM No 12 tahun
2012 tentang Pengendalian Penggunaan
Bhan Bakar Minyak
Peraturan Menteri ESDM No 13 tahun
2012 tentang Penghematan Pemakaian
Tenaga Listrik
Peraturan Mentari ESDM No. 14 tahun 2012
tentang Manajemen Energi
2. Kementerian Lingkungan Hidup (termasuk
mitigasi perubahan iklim)
Peraturan Menteri LH No 08 tahun 2010
tentang Kriteria dan Sertifkasi bangunan
Ramah Lingkungan
3. Kementerian Pekerjaan Umum
Peraturan Menteri PU No 45/PRT/M/2007
tentang Pedoman Teknis Pembangunan
Bangunan Gedung Negara
Peraturan Menteri PU No 30/PRT/M/2006
tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan
Aksesibilitas pada bangunan Gedung dan
Lingkungan
Peraturan Menteri PU No. 16/PRT/M/2010
tentang Pedoman Teknis Pemeriksaan Berkala
Bangunan Gedung
4. Institusi-institusi terkait
Inpres No. 013 Tahun 2011
Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta No. 38 tahun 2012 tentang
Bangunan Gedung Hijau
5. Otoritas Pasar Karbon
D. Instrumen Keuangan:
1. Unilateral (Anggaran pemerintahan nasional/
daerah, aktivitas CSR sektor swasta)
2. Dukungan negara donor (Bilateral/Multilateral)
3. Pasar Karbon (seperti CDM)
4. Pembiayaan Hijau (Green Financing)
30 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
3.2 Standar Nasional Indonesia (SNI) yang Berhubungan dengan Bangunan
1 SNI 02-2406-1991 Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan
2 SNI 03-1726-1989 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa
untuk Rumah dan Gedung
3 SNI 03-1726-2002 Tata Cara Perencanaan Ketahanan
Gempa untuk Bangunan Gedung
4 SNI 03-1728-1987 Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung
5 SNI 03-1733-2004 Tata Cara Perencanaan Lingkungan
Perumahan di Perkotaan
6 SNI 03-1735-1993
Tata Cara Perencanaan Bangunan dan
Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran
Pada Bangunan Rumah dan Gedung
7 SNI 03-2396-1991 Penerangan alami siang hari untuk rumah
dan gedung. Tata cara perancangan
8 SNI 03-2396-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan
alami pada bangunan gedung
9 SNI 03-2846-1992 Tata Cara Perencanaan Kepadatan Bangunan
Lingkungan, Bangunan Rumah Susun Hunian
10 SNI 03-3242-1994 Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman
11 SNI 03-3985-1995
Tata Cara Perencanaan Pemasangan Sistem Deteksi
Alarm Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran
Pada Bangunan Rumah dan Gedung
12 SNI 03-6196-2011 Prosedur Audit Energi Pada Bangunan Gedung
13 SNI 03-6197-2011 Konservasi Energi Sistem Pencahayaan
Pada Bangunan Gedung
14 SNI 03-6389-2011 Konservasi Energi Selubung Bangunan
Pada Bangunan Gedung
15 SNI 03-6390-2011 Konservasi Energi Sistem Tata Udara
Pada Bangunan Gedung
16 SNI 03-6575-2001 Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan
Buatan pada Bangunan Gedung
17 SNI 03-6572-2001 Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan
Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung
18 SNI 03-6573-2001 Transportasi Vertikal
19 SNI 03-6759-2002 Tata Cara Perancangan Konservasi
Energi pada Bangunan Gedung
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 31
20 SNI 04-0133-1987 Starter lampu fuoresen
21 SNI 04-0225-1987 Peraturan Umum Instalasi Listrik 1987 (PUIL 1987)
22 SNI 04-0225-2000 Persyaratan umum instalasi listrik 2000 (PUIL 2000)
23 SNI 04-0227-1994 Tegangan standar
24 SNI 04-1921.2-1995
Keamanan pemanfaat listrik untuk rumah
tangga dan sejenis. Bagian 2.41 : Persyaratan
khusus pompa listrik untuk cairan dengan
suhu tidak lebih dari 35 derajat Celcius
25 SNI 04-1925-2000 Instalasi dan sambungan rumah/
bangunan listrik pedesaan.
26 SNI 19-2454-1991 Tata Cara Pengolahan Teknik Sampah Perkotaan
27 SNI 04-3236-1992 Kawat feksibel berisolasi PVC tegangan
nominal 1000 V (NYAF)
28 SNI 04-3237-1992
Kabel feksibel kembar dua dan kembar
tiga berisolasi PVC untuk tegangan kerja
sampai dengan 380 V (NYY/NYD)
29 SNI 04-3238-1992
Kabel feksibel kembar dua sampai dengan
kembar lima berisolasi, berselubung PVC
tegangan nominal 380 V (NYIFY)
30 SNI 04-3593-1994 Instalasi listrik bangunan. Bagian 2 : Prinsip dasar
31 SNI 04-3559-1994 Mutu dan cara uji lampu fouresen
untuk penggunaan umum
32 SNI 04-3561-1994 Balast untuk lampu fouresen arus bolak balik
34 SNI 04-6507-2001 Lengkapan listrik - Pemutus-tenaga untuk proteksi
arus-lebih pada instalasi rumah tangga dan sejenisnya.
35 SNI 04-6973.1-2005 Luminer-Bagian 1: Persyaratan umum pengujian
36 SNI 04-6973.2.2-2005 Luminer-Bagian 2.2: Persyaratan khusus-Luminer tanam
37 SNI 04-6973.2.5-2005 Luminer-Bagian 2.5: Persyaratan
khusus-Luminer lampu sorot
38 SNI T-14-1993-03 Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi
Energi Pada Bangunan Gedung
39 Juknis Konservasi Energi 1992 Prosedur Audit Energi Pada Bangunan Gedung
40 Juklak Konservasi Energi 1992 Sistem Pencahayaan Pada Bangunan Gedung
32 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
3.3 Pilihan Teknologi untuk Mencapai Bangunan yang Hemat
Energi
3.3.1 Konstruksi Baru Desain/Selubung Bangunan
Desain yang efektif dan terpadu oleh arsitek, insinyur, pemasang
peralatan, kode/manufaktur yang sesuai untuk peruntukan gedung
Peralatan dan teknologi yang mudah digunakan dan memberi
kontribusi efsiensi energi dan energi terbarukan
Perangkat simulasi dan analisis yang dapat mengintegrasikan semua
komponen bangunan dan memprediksi kinerja energi keseluruhan
sistem
Peralatan elektrikal mutakhir seperti kotak kontak pintar, alat-alat kotrol
yang programmable dan addressable, alat-lalat listrik yang berlabel
hemat energi, alat-alat yang dapat menghindari konsumsi listrik
berlebihan (vampire loads)
Meminimalisasi kehilangan konversi daya karena pemilahan grup beban
dan karena perbedaan zona beban
Mengisolasi panel-panel struktur, mengoptimasi penggunaan isolasi
dengan pengujian Infra Red dan perangkat menganalisa kebocoran
panas.
Memilih jenis material konstruksi yang terjangkau dan tersedia luas
dengan karakteristik insulasi yang baik
Memilih material yang lebih baik dengan nilai efsiensi energi yang lebih
tinggi, material modular
Melakukan modeling dan membuat mock-up untuk teknologi yang
belum umum terpasang sebelum diimplementasi secara luas, memilih
material yang mempunyai kinerja yang lebih baik, lebih mudah untuk
dipasang, material modular
Unit dinding, lantai, dan langit-langit dipilih yang tipe modular dan
sudah diinsulasi
Konstruksi dan instalasi yang dimanufaktur sedemikian rupa
sehingga memberi dampak hemat energi, terjangkau, dan mudah
pemasangannya
Panel yang dengan mudah dapat dicat secara--spray on, pemasangan
struktural, dipilih teknologi atau bahan pipa, duct, saluran yang bisa
mengeliminasi pekerjaan dilapangan
Menentukan jenis label energi dan mewajibkan penghuni gedung
mengunakan produk berlabel hemat energi untuk mencapai zero
energy
Memasang sistem monitor penggunaan energi dan menentukan
batasan penggunaan energi (benchmarking)
Sistem informasi energi, Sistem agregasi data energi
Teknologi Net
Zero Energy
Teknologi Label
Teknologi Insulasi
Konstruksi Baru
Teknologi Dinding
Pencahayaan
Sinar Matahari
Teknologi
Penghunian yang
Dimanufaktur
Mengembangkan model pencahayaan alami yang lebih mudah dan
terjangkau yang menetapkan keuntungan penghematan energi
Alat modeling untuk memanfaatkan cahaya alami dipilih yang lebih
mudah dan terjangkau, dapat diukur, dengan dukungan desain yang
lebih baik
Peneduh jendela eksterior yang dapat di-retroft
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 33
3.3.2 Retroft Desain/Selubung Bangunan
Kesadaran/pelatihan/teknologi/perangkat lunak modeling energi
Fasilitas testing and comissioning untuk diterapkan di bangunan yang
sudah ada
Perangkat pengawasan bangunan, penghematan energi dan bisa
mengestimasi penggunaan energi
Memilih teknologi untuk pemanfaatan panas buang di bangunan
komersial
Menentukan metode lebih mudah untuk menetapkan kebutuhan,
pembiayaan
Memasang alat pematokan (benchmarking) energi
Aplikasi yang mempermudah pengujian sistem mekanikal elektrikal
Sistem agregasi data untuk dijadikan database bangunan
Punya kesepakatan atau kewajiban menggunakan produk berlabel
energi atau memenuhi persyaratan energi minimal
Jendela berglasur, kaca ganda vakum berisi 1 panel, low-E
Jendela kedap udara dan berisolasi sempurna
Pelatihan pendidikan desain
Jendela low-E dan PV yang terintegrasi, memastikan integrasi PV yang
mulus pada fenestrasi
Konsep untuk menerapkan dinding kaca dengan nilai-R sama dengan
dinding selanjutnya atau jendela ZNE (Zero Net Energy Window)
Memilih bahan dengan biaya lebih rendah & teknologi lebih baik
Mengembangkan material eksterior bangunan terisolasi
Desain selubung bangunan transitif
Unit dinding, lantai, dan langit-langit modular dan telah diisolasi.
Komponen prefabricated untuk konstruksi ZNE rendah biaya
Mengurangi jejak karbon dari material yang umum digunakan
Lapisan atap tenaga surya yang efsien dan kompetitif secara biaya
Atap pendingin/PV/pemanas air tenaga surya surya
AC tenaga surya
Mementukan teknologi/harga/standar
Tingkat kekedapan udara bangunan seringkali dilakukan dengan buruk
oleh kontraktor
Metode membuat ruangan kedap udara terlalu rumit dan tidak
dipahami oleh banyak praktisi
Pengujian pintu blower--murah & mudah
Membutuhkan kapabilitas fotograf IR untuk mengevaluasi sebaran
termal di bangunan dengan biaya yang terjangkau dan tersedia luas
Optimalisasi isolasi melalui scanning inframerah & perangkat lunak
analisis
Memilih material baru, lebih murah, dan lebih mudah dpasang
Perangkat atau metode untuk mengisolasi dinding lebih baik
Optimalisasi sistem isolasi melalui scanning IR & perangkat lunak analisis
Retrot Mendalam untuk
Bangunan Komersial
Teknologi Label
Retrot dan Teknologi
Jendela Konstruksi Baru
Teknologi Material
Bangunan Transformatif
Teknologi Atap Tenaga
Surya/Pandai
Teknologi Insulasi Retrot
Retrot & Teknologi
Penyegelan Udara
Konstruksi Baru
Teknologi Scanning
Infra-merah
34 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
3.3.3 Pencahayaan
Optimalisasi penggunaan teknologi fuoresen, SSL, halogen IR melalui
pengalaman aplikasi
Optimalisasi desain lampu, ballast/driver, luminaire, kontrol untuk
kemudahan instalasi, operasi, pemeliharaan
Kombinasi sumber cahaya yang lebih efsien, luminaire yang lebih
efsien, kontrol dan aplikasi lebih baik, dan penggunaan cahaya alami
yang lebih banyak
Integrasi penggunaan lampu LED ke dalam DCL untuk CRI yang
ditingkatkan
Dipilih rumah lampu tipe optik luminaire untuk cahaya plasma,
luminaire yang dapat membersihkan sendiri
Pemahaman lebih baik oleh ahli pencahayaan
Peningkatan efsiensi, peningkatan stabilitas seiring waktu, peningkatan
pemeliharaan lumen
Peredupan total sementara seluruh kualitas pencahayaan dijaga
Komponen SSL yang terstandardisasi, terjangkau, dan handal
memungkinkan desainer perlengkapan (fxture) memiliki kebebasan
untuk berinovasi dan memenuhi kebutuhan konsumen
Interface manusia dan peralatan yang lebih baik, kontrol yang lebih
murah dan handal. Mudah untuk mengubah pengaturan pada sensor.
Kalibrasi sendiri yang lebih murah dan sederhana
Mengatur level pencahayaan sesuai jam, sensor yang tidak mematikan
cahaya ketika ada penghuninya, sensor tidak menyalakan cahaya pada
ruangan yang kosong
Sambungan ke HVAC dan kontrol beban kotak kontak, lokasi sensor
hunian yang lebih baik, perlengkapan (fxture) pengguna di seluruh
bangunan
Sistem pencahayaan alami utama, sensor sinar matahari, desain skylight
Kontrol peredupan yang lebih murah, lebih sederhana, dan dapat
mengkalibrasi sendiri
Kontrol untuk pencahayaan sinar matahari vertikal yang lebih responsif,
handal, dan berumur panjang
Kualitas cahaya lebih baik bagi pengguna, Menggunakan standar
mesopic lighting yang dapat diakses oleh pengguna
Kebutuhan pasar untuk dihargai untuk luminaire yang efsien
Kontrol lampu kerja yang lebih baik oleh pengguna, termasuk lampu
yang dapat dipindahkan
Kemampuan untuk memiliki lampu kerja (Task light) yang dapat
dikuantifkasi untuk mengurangi tingkat cahaya dan konsumsi energi
cahaya keseluruhan
Desain luminaire untuk keperluan kerja dan renderasi untuk
menyediakan fungsi kedua pencahayaan secara sinergis
Teknologi
Pencahayaan
(Umum)
Teknologi Pencahayaan
dalam Keadaan Solid
Aplikasi Lampu
Kerja/Suasana dan
Teknologi Kontrol
Teknologi Kontrol
Pencahayaan
(Peredupan, Sensor
Penghunian)
Teknologi Luminaire
Teknologi Pencahayaan
Sinar Matahari
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 35
3.3.4 Alat-Alat Elektronik
Dipilih peralatan yang resposif terhadap kebutuhan dan keinginan yang
mudah oleh pengguna, interaksi penggunan
Dipilih peralatan yang ada konfgurasi sleep mode dan standby yang
terintegrasi baik dalam perangkat lunak atau perangkat keras.
Dipilih peralatan elektronik pintar, mempunyai kapabilitas untuk
memulihkan fungsionalitas penuh
Dipilih dengan sumber listrik DC yang memiliki keuntungan
penghematan energi yang dapat diprediksi dibandingkan AC, dalam
kondisi tertentu
Dipilih peralatan dengan perangkat keras yang hemat biaya dan
teknologi yang implementatif
Perlu pelatihan dari sisi keamanan dan pelatihan untuk desainer,
pemasang, petugas kode, dan pengguna akhir
Produk sistem DC memudahkan konversi tegangan, cara
pendistribusian beban dan koneksi peralatan.
Data mengenai potensi penghematan energi untuk perangkat
lunak dan sistem yang secara otomatis merangkum informasi untuk
pengguna yang kemudian bisa ditransmisikan, di terima dan dicetak
untuk bisa menrangkum fuktuasi penggunaan energi
Pendekatan optimal untuk menyampaikan tiga media: cable, TV, dan
telepon
Pengalaman visual optimal untuk pengguna TV dan komputer dengan
konsumsi energi display
Pengetahuan akan kinerja energi dan interakasi setiap komponen
pengguna energi
Optimalisasi penggunaan energi pada tingkat ketersediaan daya dan
komponen listrik lain sebelum optimalisasi efsiensi seluruh perangkat
Pengetahuan kinerja energi yang dapat disimpan dalam memory chip
mutakhir dan dan interaksi terhadap komponen pengguna energi
lainnya
Mematikan seluruh perangkat elektronik rumah tanpa menggangu
fungsionalitas--perangkat lunak atau chip strip yang pandai yang dapat
dipasang di produk apapun
Optimalisasi perangkat lunak untuk menggerakkan efsiensi sistem:
server yang super-efsien, TV/display super-efsien, desktop komputer
pribadi super-efsien
Produk dengan patokan kinerja tinggi (energi dan pengalaman
pengguna) di setiap kategori--contohnya TV, video game, DVR, dll.
Pengawasan daya terstandardisasi dan kontrol perangkat keras,
lunak, dan protokol untuk memungkinkan sleep/standby mode pada
perangkat
Sistem interlock standar & komponen yang tersedia pada OEM untuk
produk mereka
Pengawasan dan kontrol perangkat dan sistem
Teknologi Sleep Mode
Teknologi Sumber
Daya DC
Teknologi Penggunaan
dan Virtualisasi
Teknologi Esiensi
Level Komponen
Teknologi Sistem
Elektronik Lengkap
Peralatan Interlock
untuk Mengelola
Teknologi
Penggunaan Energi
36 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
3.3.5 Pemanasan, Ventilasi, dan AC
Perangkat keras tersedia; membutuhkan deteksi kesalahan dan kontrol
diagnostik yang lebih handal pada skala yang lebih kecil
Kontrol yang mudah untuk pengguna dan dapat mendiagnosis sendiri
untuk unit HVAC
Kontrol dan sistem economizer yang handal dan efektif
Pengaturan ventilasi/suhu/kelembaban sesuai dengan level granular
sebenarnya sehingga kontrol dapat didesain secara layak
Penggunaan energi prediktif; peringatan ketika target tidak dicapai
Deteksi Kesalahan dan
Pemeliharaan Prediktif
Pemulihan Panas
dan Economizer
Aliran Refrigeran Variabel
(Variable Refrigerant Flow)
Motor dan
Penggerak HVAC
Modeling, Pengujian
Lab dan Lapangan
Studi kasus untuk memvalidasi penghematan dan kehandalan energi
sistem
Penggunaan energi tinggi saat ini untuk distribusi panas dan pendingin
di atas kebutuhan ventilasi sebenarnya
Pertukaran dan kontrol pemulihan panas modular
Pemulihan panas buangan dari supermarket dan toserba yang
dimodular untuk pemanasan air domestik dan ruang
Informasi mengenai praktik terbaik kinerja energi, optimalisasi, dan
sistem kontrol mini-split
Sistem dan kontrol VRF untuk AC mini-split dan aplikasi pompa panas
Kecepatan variabel untuk segala hal dengan biaya rendah, kehandalan
tinggi, kontrol yang cepat dan akurat untuk enthalpy dan aliran udara,
kontrol yang dapat mengoptimalisasi sendiri
Standar teknologi, studi kasus, pendidikan, dan aplikasi yang efektif
biaya
Kecepatan variabel untuk segala hal dengan biaya rendah, kehandalan
tinggi
Kontrol kecepatan variable pada SELURUH sistem, kipas, kompresor,
pompa
Melakukan tes lapangan untuk membandingkan model bangunan
dengan penggunaan energi sebenarnya untuk menyediakan feedback
dalam rangka mengembangkan simulasi bangunan yang lebih akurat
Celah baru yang tidak diberi skor, Celah baru tanpa kuantifkasi, dan
pencapaian penghematan energi yang diprediksi dari sistem kontrol
zona distribusi HVAC
Kontrol untuk memenuhi kebutuhan udara dalam ruangan--tidak ada
udara ventilasi yang melebihi kebutuhan penghuni, mencapai apa yang
ruang penghuni butuhkan, distribusi HVAC efsien maksimal (jangan
gunakan pipa bila tidak dibutuhkan)
Meningkatkan pernagkat lunak simulasi energi bangunan dengan
kemampuan analisis parametrik agar dapat memberikan model variasi
di kondisi operasi nyata dengan lebih baik
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 37
3.3.6 Sensor, Meteran, dan Sistem Manajemen Energi
Paket sensor kontrol generik modular merespon terhadap suhu
penghunian, tingkat cahaya, kualitas udara, dan input pengguna
Praktik standar untuk seluruh perangkat listrik yang secara langsung
melayani pengguna termasuk logika kontrol pandai dan sensor untuk
memodulasi penggunaan energi agar kebutuhan pengguna dapat
dipenuhi secara optimal
Paket sensor/kontrol generik modular juga tersedia pada biaya yang
rendah
Sensor penghunian diintegrasikan pada perlengkapan cahaya (tangga,
garasi parkir, parkir luar ruangan, kantor pribadi)
Sensor yang mengintegrasikan sistem kontrol lain (pencahayaan, HVAC)
Solusi yang berorientasi pada konsumen yang mengkombinasikan
berbagai kebutuhan, penghematan energi dan kemaanan, kenyamanan,
dan penggunaaan konsumen lain
Perangkat Pandai,
Perangkat Pandai-
-Kontrol Tingkatan
Responsif terhadap
Pengguna dan
Teknologi Lingkungan
Teknologi Jasa
Manajemen Energi
Konsumen
Teknologi Teknik
Verikasi Penghematan
Rendah Biaya
Teknolgi Fasilitas
Pengukuran Daya Listrik
Pandai Real-time
Teknologi Sistem
Manajemen Energi dan
Pemeliharaan Usaha
Enterprise Energy
and Maintenance
Management Systems
Technology
Teknologi Kontrol
Interface Mudah/
Sederhana
Sistem manajemen kontrol harus diimplementasikan di tempat yang
layak serta merefeksikan pilihan pengguna/penghuni yang diketahui
Mendukung proyek demosntrasi, interface harus memungkinkan level
kemutakhiran pengguna yang berbeda-beda
Membutuhkan standardisasi protokol komunikasi/kontrol untuk
memungkinkan berbagai perangkat dan pendekatan interface
(telepon, kartu RFID, komputer pribadi, perangkat kontrol kemudahan
terintegrasi, dll.)
Jasa manajemen energi bundel agar efektif biaya
Paket kontrol modular yang murah terstandardisasi dan mudah
digunakan pengguna yang merespon suhu penghunian, tingkat cahaya,
kualitas udara, dan input pengguna
Sistem penagihan utilitas baru untuk menggabungkan informasi
konsumen dari sisi permintaan ke dalam rekening konsumen
Kurangnya keahlian manajemen energi
Harus mampu untuk mengatribusikan peningkatan dan dampak kinerja
energi
Mengubah data mentah menjadi informasi yang dapat ditindaklanjuti,
lingkaran feedback untuk desain sistem dan keputusan operasi yang
berkaitan dengan energi
Pengawasan verifkasi penghematan, koleksi data, dan perangkat
pengiriman pada chip yang murah dan dapat dipasang pada produk
apapun
Mengubah data mentah menjadi informasi yang dapat ditindaklanjuti,
pengetahuan konsumen
Panel distribusi yang didesain lebih baik, pematokan dan perbandingan
standar untuk menginformasikan keputusan
Meraup keseluruhan penghematan yang tersedia secara teori dengan
economizer HVAC air-side
Meteran beban efektif biaya dan akurat untuk menggerakkan peluang
penghematan energi instan dan jangka panjang
Pengumpulan data, analisis, dan feedback pelanggan
Integrasi manajemen energi ke dalam layanan konsumen
Perangkat lunak manajemen energi usaha
Proses, sintesis, dan penyimpanan data
38 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
4. Analisa Data Iklim Indonesia
4.1 Pendahuluan
Iklim didefnisikan sebagai sintesis kejadian cuaca
selama kurun waktu yang panjang, yang secara
statistik cukup dapat dipakai untuk menunjukkan
nilai statistik yang berbeda dengan keadaan pada
setiap saatnya (World Climate Conference, 1979).
Ilmu yang mempelajari seluk beluk tentang iklim
disebut klimatologi.
Terkait dengan perencanaan kenyamanan termal
hunian, data iklim yang dibutuhkan adalah
data radiasi matahari, temperatur, kelembaban,
kecepatan angin dan curah hujan. Di Indonesia,
salah satu sumber data adalah BMKG.
Pada penelitian ini disampaikan hasil analisis
statistik terkait data iklim untuk perencanaan
bangunan yang diambil dari sejumlah sumber,
yakni BMKG, dll.
4.2 Ulasan Literatur
Menurut sistem klasifkasi KppenGeiger,
Indonesia berada pada kelompok A (Iklim tropis/
megatermal). Iklim tropis berkarakter temperatur
tinggi (pada permukaan laut atau ketinggian
rendah) dua belas bulan memiliki temperatur
rata-rata 18C (64.4
o
F) atau lebih tinggi. Terbagi
menjadi: a. Iklim hutan hujan tropis (Af ):[3]
Mengalami kelembaban 60 mm (2.4 in) ke atas
sepanjang 12 bulan. Iklim ini terjadi pada garis
lintang 5-10 dari khatulistiwa. Di beberapa
wilayah pantai timur, dapat pula mencapai 25
dari khatulistiwa. Iklim ini didominasi oleh Sistem
Tekanan Rendah Doldrums sepanjang tahun, oleh
sebab itu tidak mengalami perubahan musim.
B. Iklim monsun tropis (Am), dan C. Iklim basah
dan kering atau sabana tropis (Aw). Indonesia
termasuk iklim hutan hujan tropis.

Menurut Koppen di Indonesia terdapat tipe-
tipe iklim Af, Aw, Am, C, dan D. Af dan Am =
terdapat di daerah Indonesia bagian barat,
tengah, dan utara, seperti Jawa Barat, Sumatera,
Kalimantan dan Sulawesi Utara. Aw = terdapat
di Indonesia yang letaknya dekat dengan benua
Australia seperti daerah-daerah di Nusa Tenggara,
Kepulauan Aru, dan Irian Jaya pantai selatan. C =
terdapat di hutan-hutan daerah pegunungan. D =
terdapat di pegunungan salju Irian Jaya.
Kriteria utama iklim A,B,C,D,E
Jenis Iklim Ciri-ciri iklim
A Suhu rata-rata bulan terdingin
minimal 18
o
C, curah hujan tahunan >
evapotranspirasi tahunan.
B Evapotranspirasi potensial tahunan rata-
rata > curahan tahunan rata-rata. Tidak
ada kelebihan air.
C Suhu rata-rata bulan terdingin -3 s.d 18
o
C .
Bulan terpanas > 10
o
C.
D Suhu rata-rata bulan terdingin < 10
o
C,
bulan terpanas >10
o
C.
E Suhu rata-rata bulan terpanas < 10
o
C,
untuk daerah tundra 0 s.d 10
o
C, untuk
daerah salju abadi < 10
o
C.
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 39
Kriteria tambahan Iklim Koppen:
Jenis Iklim Ciri-ciri iklim
f Tidak ada musim kering,basah
sepanjang tahun.
m Monsoon,dengan musim kering
pendek,dan sisanya hujan lebat
sepanjang tahun.
w Hujan musim panas
S Kondisi kering pada musim panas
W Kondisis kering pada musim dingin
Jenis Iklim Ciri-ciri iklim
a
Musim panas terik, suhu rata-rata
bulan terpanas > 22
o
C
b
Musim panas yang panas, suhu
rata-rata bulan terpanas <22
o
C
c
Musim panas yang sejuk dan
pendek, rata-rata kurang dari 4
bulan memiliki suhu > 10
o
C
d
Musim dingin yang sangat dingin,
suhu rata-rata bulan terdingin <
-3
o
C
h
Terik, suhu tahunan rata-rata >
18
o
C
k
Sejuk, suhu tahunan rata-rata <
18
o
C
Tiga jenis iklim yang mempengaruhi Indonesia
adalah:
1. Iklim Musim (Iklim Muson)
Dipengaruhi oleh angin musiman yang berubah-
ubah (biasanya 6 bulan), terdiri atas angin musim
barat daya (Muson Barat) dan angin musim timur
laut (Muson Tumur). Angin muson barat bertiup
sekitar bulan Oktober hingga April yang basah
sehingga membawa musim hujan/penghujan.
Angin muson timur bertiup sekitar bulan April
hingga bulan Oktober yang sifatnya kering yang
mengakibatkan wilayah Indonesia mengalami
musim kering/kemarau.
2. Iklim Tropis/Tropika (Iklim Panas)
Wilayah yang berada di sekitar garis khatulistiwa
otomatis akan mengalami iklim tropis yang
bersifat panas dan hanya memiliki dua musim
yaitu musim kemarau dan musim hujan. Iklim
tropis bersifat panas sehingga wilayah Indonesia
panas yang mengundang banyak curah hujan
atau Hujan Naik Tropika. Wilayah Indonesia
terletak di daerah tropis yang dilintasi oleh garis
Khatulistiwa, sehingga dalam setahun matahari
melintasi ekuator sebanyak dua kali. Matahari
tepat berada di ekuator setiap tanggal 23 Maret
Gambar 1. Klasifkasi Iklim menurut Koppen
40 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
dan 22 September. Sekitar April-September,
matahari berada di utara ekuator dan pada
Oktober-Maret matahari berada di selatan.
Pergeseran posisi matahari setiap tahunnya
menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia
mempunyai dua musim, yaitu musim hujan dan
musim kemarau. Pada saat matahari berada
di utara ekuator, sebagian wilayah Indonesia
mengalami musim kemarau, sedangkan saat
matahari ada di selatan, sebagaian besar wilayah
Indonesia mengalami musim penghujan.
3. Iklim Laut
Indonesia yang merupakan negara
kepulauan yang memiliki banyak wilayah laut
mengakibatkan penguapan air laut menjadi
udara yang lembab dan curah hujan yang tinggi.
Edvin Aldrian, membagi Indonesia terbagi
menjadi 3 (tiga) daerah iklim (Gambar 2), yaitu
daerah Selatan A, daerah Utara Barat B dan
daerah Moluccan C.
Unsur iklim yang sering dan menarik untuk dikaji
di Indonesia adalah curah hujan, karena tidak
semua wilayah Indonesia mempunyai pola hujan
yang sama. Diantaranya ada yang mempunyai
pola munsonal, ekuatorial dan lokal. Pola hujan
tersebut dapat diuraikan berdasarkan pola
masing-masing. Distribusi hujan bulanan dengan
pola monsun adalah adanya satu kali hujan
minimum. Hujan minimum terjadi saat monsun
timur sedangkan saat monsun barat terjadi hujan
yang berlimpah. Monsun timur terjadi pada bulan
Juni, Juli dan Agustus yaitu saat matahari berada
Gambar 2 : Tiga daerah iklim menggunakan metoda korelasi ganda, yang membagi Indonesia menjadi
daerah A (garis tegas), daerah monsun selatan; daerah B (titik garis putus-putus), daerah semi-monsun;
dan daerah C (garis putus-putus), daerah anti monsun. (Sumber: http://iklim.dirgantara-lapan.or.id/index.
php?option=com_content&view=article&id=85&Itemid=78)
Gambar 3. Curah hujan rata-rata Indonesia
(sumber: https://docs.google.com/present/view?id=dgnjdcv4_1084fdpr4wd3)
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 41
di garis balik utara. Oleh karena matahari berada
di garis balik utara maka udara di atas benua Asia
mengalami pemanasan yang intensif sehingga
Asia mengalami tekanan rendah. Berkebalikan
dengan kondisi tersebut di belahan selatan tidak
mengalami pemanasan intensif sehingga udara
di atas benua Australia mengalami tekanan
tinggi. Akibat perbedaan tekanan di kedua
benua tersebut maka angin bertiup dari tekanan
tinggi (Australia) ke tekanan rendah (Asia) yaitu
udara bergerak di atas laut yang jaraknya pendek
sehingga uap air yang dibawanyapun sedikit.
Dapat diamati bahwa hujan maksimum terjadi
antara bulan Desember, Januari dan Februari.
Pada kondisi ini matahari berada di garis
balik selatan sehingga udara di atas Australia
mengalami tekanan rendah sedangkan di Asia
mengalami tekanan tinggi. Akibat dari hal
ini udara bergerak di atas laut dengan jarak
yang cukup jauh sehingga arus udara mampu
membawa uap air yang banyak (monsun barat
atau barat laut). Akibat dari hal ini wilayah yang
dilalui oleh munson barat akan mengalami
hujan yang tinggi. Atas dasar sebab terjadinya
angin munson barat ataupun timur yang
mempengaruhi terbentuknya pola hujan
munsonal di beberapa wilayah Indonesia dapat
dikatakan wilayah yang terkena relatif tetap
selama posisi pergeseran semu matahari juga
tetap. Namun, perubahan diperkirakan akan
terjadi terhadap jumlah, intensitas dan durasi
hujannya. Untuk mempelajari hal ini diperlukan
data curah hujan dalam seri yang panjang.
Kaimuddin (2000) dengan analisa spasial bahwa
curah hujan rata-rata tahunan kebanyakan di
daerah selatan adalah berkurang atau menurun
sedangkan dibagian Utara adalah bertambah.
Hal lain yang patut dicatat adalah bawah iklim
di Indonesia telah menjadi lebih hangat selama
abad 20. Suhu rata-rata tahunan telah meningkat
sekiitar 0,3
o
C sejak 1900 dengan suhu tahun 1990-
an merupakan dekade terhangat dalam abad
ini dan tahun 1998 merupakan tahun terhangat,
hampir 1
o
C di atas rata-rata tahun 1961-1990.
Peningkatan kehangatan ini terjadi dalam semua
musim di tahun itu. Curah hujan tahunan telah
turun sebesar 2 hingga 3 persen di wilayah
Indonesia di abad ini dengan pengurangan
tertinggi terjadi selama perioda Desember-
Febuari, yang merupakan musim terbasah dalam
setahun. Curah hujan di beberapa bagian di
Indonesia dipengaruhi kuat oleh kejadian El Nino
dan kekeringan umumnya telah terjadi selama
kejadian El Nino terakhir dalam tahun 1082/1983,
1986/1987 dan 1997/1998.
3. Data Iklim Indonesia
Bersumberkan dari sejumlah data cuaca yang
diukur dari stasiun cuaca di Indonesia, berikut
disampaikan data rata-rata statistik iklim untuk
29 kota di Indonesia dalam 62 tabel. Kota-kota
tersebut tersebut berada dalam ragam elevasi,
dengan kota-kota utama umumnya adalah
daerah pantai, kecuali Bandung.
Gambar 4. Perubahan curah hujan rata-rata (Sumber: http://kadarsah.wordpress.com/2007/11/30/
mengenal-iklim-indonesia/)
42 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
4.4 PULAU SUMATRA
Hasil perhitungan rata-rata statistik kota-kota pantai pulau Sumatera menunjukkan bahwa kota-
kota tersebut memiliki rata-rata temperatur dan kelembaban udara yang hampir sama. Untuk kota
pengunungan, seperti Kerinci memiliki besar temperatur relatif lebih rendah sebagaimana tertera pada
data berikut:
Gambar 5. Topograf pulau Sumatra
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 43
Data untuk radiasi matahari total tahunan adalah hampir sama, berikut untuk dua
kota di Sumatera:
Selanjutnya disampaikan rincian data untuk masing-masing kota di Pulau
Sumatera sebagai berikut.
4.4.1 Medan
Polonia Airport (altitude 25 m)
City Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
Medan 27.84 32.09 23.39 90.92 4.29 13.61 43.54
Jambi 27.28 31.21 23.10 91.61 3.30 11.23 103.04
Padang 27.98 30.01 24.54 91.43 7.56 13.90 28.90
Palembang 27.07 31.33 23.21 91.37 4.84 11.61 40.27
Bengkulu 26.70 30.61 23.14 91.14 5.72 15.91 163.22
Kerinci 23.00 27.72 17.97 90.04 3.36 14.56 2.17
City
Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal Radiation
[kWh/m
2
]
Medan 1548 925 889
Palembang 1596 948 912
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
1973-2009 Jan 26.63 30.79 22.93 91.50 4.46 13.15 50.67
Feb 27.29 31.87 23.19 90.74 4.66 14.21 31.22
Mar 27.46 32.17 23.33 90.69 4.64 14.39 37.85
Apr 26.90 32.29 23.09 88.99 4.24 13.66 51.20
May 27.74 32.39 23.90 91.50 4.20 14.02 44.85
Jun 27.73 32.44 23.61 90.69 4.15 13.99 49.51
Jul 27.34 32.18 23.26 90.56 4.30 14.11 34.37
Aug 26.56 31.28 22.66 88.22 4.27 13.92 65.62
Sep 26.76 31.36 23.28 92.31 4.17 13.72 39.42
Oct 26.75 31.17 23.37 92.68 4.04 13.26 38.86
Nov 25.87 30.00 22.71 90.50 3.90 12.24 45.77
Dec 26.39 30.44 23.13 92.70 4.50 12.64 33.14
Average 26.95 31.53 23.20 90.92 4.29 13.61 43.54
Tabel 1
44 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
4.4.2 Jambi
Sultan Taha Airport (altitude 25 m)
Tabel 2
Tabel 3
Tabel 4
Years Bulan Temp Max Temp Avrg Temp Min RH Max RH Avg RH Min Wind Max Win Avg
2005-2011 Jan 31.20 27.21 23.03 94.84 80.21 55.34 21.65 3.69
Feb 32.02 27.72 23.10 94.16 78.06 51.18 21.51 3.43
Mar 32.50 28.02 23.38 94.56 77.97 50.31 24.44 3.79
Apr 32.70 28.35 23.81 94.60 78.38 50.77 22.29 3.45
May 32.93 28.47 23.94 95.10 79.26 50.74 20.85 3.44
Jun 32.84 28.28 23.61 94.79 78.03 49.79 20.91 3.47
Jul 32.66 28.12 23.38 95.14 78.44 49.50 23.90 3.48
Aug 32.44 27.95 23.32 95.44 78.84 50.46 21.99 3.44
Sep 32.15 27.80 23.26 95.83 80.17 52.49 20.74 3.26
Oct 31.66 27.63 23.23 95.96 81.16 54.33 20.59 3.12
Nov 31.22 27.46 23.36 95.74 81.90 56.58 21.62 3.21
Dec 30.72 27.12 23.29 95.44 82.21 58.76 20.85 3.36
Average 32.09 27.84 23.39 95.13 79.55 52.52 21.78 3.43
Periods Months
Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 124 68 86
Feb 122 78 63
Mar 143 84 81
Apr 135 78 77
May 141 79 87
Jun 131 73 83
Jul 135 81 77
Aug 137 79 81
Sep 123 80 58
Oct 123 81 60
Nov 113 71 63
Dec 121 73 74
YEARS 1548 925 889
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
2001-2009 Jan 26.79 30.24 23.37 92.32 3.90 11.06 283.45
Feb 27.14 30.92 22.98 91.76 2.83 10.40 161.04
Mar 27.18 31.09 22.91 91.92 2.30 214.98
Apr 27.41 31.50 23.20 92.25 2.38 10.33 5.04
May 27.83 31.72 23.65 92.37 3.67 11.26 4.04
Jun 27.51 31.53 23.10 91.41 3.55 11.57 144.08
Jul 27.36 31.19 22.88 90.71 4.33 11.96 21.79
Aug 27.32 31.46 22.73 90.24 4.02 12.18 97.50
Sep 27.77 31.57 23.10 89.60 4.18 12.53 3.65
Oct 27.25 31.56 23.04 91.31 3.03 11.59 5.06
Nov 26.97 31.21 23.12 92.72 2.33 9.81 125.85
Dec 26.85 30.53 23.09 92.69 3.11 10.85 169.97
Average 27.28 31.21 23.10 91.61 3.30 11.23 103.04
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 45
4.4.3 Padang
Tabing Airport (altitude 3 m)
Tabel 5
Tabel 6
Tabel 7
4.4.4 Palembang
Sultan Mahmud Airport (altitude 10 m)
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
1960-2009 Jan 26.51 28.10 24.23 92.80 11.51 17.78 51.96
Feb 27.33 29.21 24.31 92.25 8.23 14.47 22.81
Mar 27.67 29.71 24.34 92.14 6.79 12.91 22.67
Apr 28.51 30.64 24.69 91.63 5.45 11.17 19.38
May 29.08 31.22 25.01 90.95 6.28 12.20 10.69
Jun 29.06 31.13 25.05 90.39 7.14 13.21 33.46
Jul 28.73 30.93 24.67 90.31 7.60 14.12 22.55
Aug 28.90 30.99 25.06 89.88 8.35 15.36 29.33
Sep 28.53 30.73 24.88 90.78 7.55 13.89 34.49
Oct 27.99 30.15 24.52 92.17 6.70 13.24 47.81
Nov 26.49 28.59 23.42 90.48 5.89 12.39 26.02
Dec 26.92 28.69 24.27 93.43 9.24 16.05 25.62
Average 27.98 30.01 24.54 91.43 7.56 13.90 28.90
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
1973-2009 Jan 26.47 30.23 23.25 93.44 5.85 12.88 62.23
Feb 26.87 31.00 23.29 93.06 5.14 12.02 55.89
Mar 26.22 30.28 22.62 90.30 4.43 10.97 51.86
Apr 27.48 31.57 23.69 92.97 3.76 10.48 59.21
May 26.97 31.79 23.27 89.73 3.97 10.49 18.38
Jun 27.56 31.61 23.52 91.71 4.42 11.04 48.87
Jul 27.15 31.45 23.03 90.92 5.14 12.00 22.88
Aug 27.43 31.86 22.97 89.15 5.98 12.74 15.52
Sep 27.36 32.10 23.02 89.13 5.73 12.73 14.45
Oct 27.45 32.03 23.17 90.30 4.57 11.46 29.80
Nov 27.09 31.48 23.35 92.44 4.03 10.68 55.50
Dec 26.73 30.55 23.31 93.27 5.00 11.84 48.65
Average 27.07 31.33 23.21 91.37 4.84 11.61 40.27
Years Months Temp Max
(
o
C)
Temp Avrg
(
o
C)
Temp Min
(
o
C)
RH Max (%) RH Avg (%) RH Min (%) Wind Max
(km/h)
Win Avg
(km/h)
2005-2011 Jan 30.65 26.85 22.87 96.11 80.94 59.34 16.98 4.89
Feb 31.26 27.21 22.96 95.81 80.03 56.36 19.93 4.68
Mar 31.71 27.39 22.86 96.01 79.58 56.45 16.13 3.69
Apr 32.11 27.78 23.18 95.91 78.92 54.96 15.85 2.99
May 32.45 28.13 23.62 95.41 77.23 53.68 15.16 3.47
Jun 31.88 27.67 23.21 95.75 77.10 53.32 15.81 4.07
Jul 31.86 27.49 22.78 94.76 75.45 51.16 19.86 5.19
Aug 32.43 27.60 22.55 94.04 72.49 45.97 19.14 5.88
Sep 32.85 28.00 22.93 93.20 71.05 45.22 17.13 5.40
Oct 32.63 27.94 23.04 94.32 74.91 48.62 17.19 4.04
Nov 31.76 27.60 23.17 96.00 78.61 54.87 14.54 2.98
Dec 31.04 27.21 23.20 95.90 80.45 59.50 17.35 4.12
Average 31.89 27.57 23.03 95.27 77.23 53.29 17.09 4.28
46 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Tabel 8
Tabel 9
Tabel 10
4.4.5 Bengkulu
Bengkulu Airport (altitude 16 m)
Periods Months Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 124 75 71
Feb 121 78 61
Mar 147 82 88
Apr 132 81 70
May 142 72 97
Jun 147 72 109
Jul 119 75 66
Aug 127 77 70
Sep 139 86 71
Oct 140 91 66
Nov 129 85 62
Dec 130 74 62
YEARS 1596 948 912
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH%
Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h) Rain (mm)
2000-2009 Jan 26.76 30.65 23.35 92.29 5.08 14.38 152.59
Feb 26.99 30.88 23.55 91.54 5.21 15.34 204.45
Mar 27.03 30.89 23.58 91.72 5.19 15.52 235.11
Apr 27.33 31.15 23.73 92.33 4.64 14.21 291.80
May 27.48 31.42 23.45 91.77 4.48 13.88 67.88
Jun 27.24 31.10 23.43 91.17 5.38 15.66 98.85
Jul 26.91 30.91 23.02 91.11 6.02 15.90 171.55
Aug 24.07 27.75 20.33 81.13 6.82 17.13 130.12
Sep 26.99 30.82 23.16 91.16 8.56 20.61 99.54
Oct 26.46 30.59 23.27 93.05 6.58 17.16 92.46
Nov 26.58 30.70 23.44 93.16 5.92 16.34 216.56
Dec 26.52 30.39 23.41 93.26 4.78 14.77 197.75
Average 26.70 30.61 23.14 91.14 5.72 15.91 163.22
4.4.6 Kerinci
Kerinci Airport (altitude 782 m)
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
1994-2009 Jan 22.87 27.23 17.59 91.70 3.46 13.67 2.47
Feb 22.97 27.44 17.89 90.40 3.09 14.26 2.00
Mar 23.03 27.50 18.23 90.25 2.91 13.18 6.88
Apr 23.33 27.68 18.56 91.55 2.53 12.59 1.47
May 23.51 27.80 17.59 89.61 2.57 14.15 0.82
Jun 23.84 27.52 19.83 87.70 3.53 14.62 1.75
Jul 22.67 27.25 16.94 88.96 3.45 14.97 0.58
Aug 22.77 27.28 17.71 89.53 3.56 15.50 1.10
Sep 22.57 27.34 17.56 89.74 2.71 14.53 1.28
Oct 22.78 27.28 18.09 89.22 4.14 15.92 3.23
Nov 22.91 27.46 17.76 90.23 4.67 16.38 1.03
Dec 22.76 30.82 17.91 91.58 3.71 15.00 3.36
Average 23.00 27.72 17.97 90.04 3.36 14.56 2.17
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 47
4.5 PULAU JAWA
Daerah Jawa untuk kota tepi pantai seperti Jakarta, Semarang, Surabaya adalah tipikal daerah tropis
panas. Sedangkan untuk lebih rendah karena lokasi lebih tinggi adalah Madiun, Kalijati, daln lebih
rendah lagi Bandung dan Malang. Hujan di Jawa cukup tinggi. Beberapa daerah merupakan kota hujan
seperti Bogor dan Malang. Topograf lokasi tertera pada Gambar berikut:
Hasil rata-rata statistik menunjukkan bahwa kota daerah pantai seperti Jakarta, Semarang, Surabaya
memiliki temperatur yang lebih tinggi dari daerah pegunungan seperti Bandung dan Malang sebagai
berikut:
Jumlah radiasi tahunan cukup tinggi sebagai berikut:
Gambar 6. Topograf pulau Jawa
City Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave (m/s) Wind_max (m/s) Rain (mm)
Jakarta 27.78 31.73 23.62 78.13 7.92 24.50 155.57
Bandung 23.44 28.98 19.31 77.92 2.27 180.08
Kalijati 27.94 30.45 22.51 80.85 6.05 11.68 8.50
Semarang 27.54 31.77 24.13 75.30 0.57 184.13
Surabaya 27.58 33.83 22.17 75.90 3.20 174.81
Malang 24.22 28.96 19.41 86.02 8.94 18.63 3.71
Madiun 26.57 30.79 23.89 89.33 12.54 19.86 0.12
CIty Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal Radiation
[kWh/m
2
]
Jakarta - Kemayoran 1713 933 1108
Jakarta Halim 1693 929 1084
Bandung 1685 873 1174
Semarang 1860 943 1311
Surabaya 1882 967 1297
48 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Tabel 11
4.5.1 Jakarta
Kemayoran / North Jakarta (altitude 5 m)
Tabel 12
Tabel 13
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(m/s)
Wind_max
(m/s)
Rain (mm)
2001-2005 Jan 27.72 29.10 25.92 79.36 1.41 349.02
Feb 26.46 28.78 24.90 77.72 1.43 434.32
Mar 27.88 29.58 26.14 78.52 1.33 236.22
Apr 28.14 29.78 26.92 76.66 1.16 144.54
May 28.52 29.56 26.60 75.00 1.24 83.62
Jun 27.92 29.26 26.20 72.74 1.15 67.18
Jul 27.88 28.96 26.50 73.46 1.17 71.98
Agt 27.90 29.04 26.34 71.84 1.20 29.54
Sep 28.28 29.66 27.04 69.14 1.30 22.62
Oct 28.26 29.54 26.80 72.90 1.27 112.02
Nov 27.74 29.80 26.04 75.52 1.26 111.60
Dec 27.72 29.24 25.58 76.68 1.35 204.18
Average 27.87 29.36 26.25 74.96 1.27 155.57
Years Month Temp Max Temp Avrg Temp Min RH Max RH Avg RH Min Wind Max Win Avg
2005-2011 Jan 30.60 27.25 23.58 94.83 80.63 58.24 25.81 9.67
Feb 30.48 27.20 23.62 96.68 82.40 56.43 26.01 8.01
Mar 31.46 27.76 23.84 95.07 80.39 55.28 27.52 9.13
Apr 32.13 28.16 24.05 95.36 79.22 54.71 24.49 7.52
May 32.10 28.09 23.94 96.15 79.39 52.27 23.68 6.89
Jun 31.74 27.71 23.55 96.06 79.38 50.87 22.60 6.79
Jul 31.64 27.45 23.12 96.07 77.98 49.41 24.90 6.94
Aug 31.81 27.54 23.00 94.91 76.09 49.35 23.09 7.24
Sep 32.44 27.96 23.22 92.94 73.22 46.31 23.55 7.45
Oct 32.78 28.30 23.64 92.37 73.23 45.74 23.60 7.69
Nov 32.23 28.18 23.96 93.18 75.86 49.31 24.43 8.16
Dec 31.32 27.71 23.97 94.36 79.83 55.06 24.35 9.53
Average 31.73 27.78 23.62 94.83 78.13 51.92 24.50 7.92
Periods Months Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 138 71 96
Feb 124 73 71
Mar 157 77 107
Apr 138 80 82
May 147 78 104
Jun 147 64 124
Jul 129 72 85
Aug 141 75 94
Sep 154 81 101
Oct 166 93 98
Nov 144 93 70
Dec 128 76 75
YEARS 1713 933 1108
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 49
Tabel 14
Jakarta Halim Airport (altitude 30 m)
Tabel 15
4.5.2 Bandung
Husein Sastranegrara Airport climatic station (altitude 791 m)
Tabel 16
Periods Months Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 136 80 84
Feb 123 74 67
Mar 156 76 110
Apr 137 78 85
May 146 68 116
Jun 146 64 122
Jul 128 70 85
Aug 139 74 90
Sep 152 77 102
Oct 163 94 92
Nov 140 90 70
Dec 126 83 61
YEARS 1693 929 1084
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH%
Wind_ave
(m/s)
Wind_max
(m/s) Rain (mm)
2001-2005 Jan 23.28 28.42 19.82 80.60 2.63 174.78
Feb 23.02 27.38 19.98 81.80 2.75 337.24
Mar 23.48 28.74 19.84 81.20 2.37 293.12
Apr 23.74 29.08 19.64 80.80 1.77 207.02
May 24.00 29.36 19.46 78.40 1.95 145.38
Jun 23.14 29.10 18.50 75.80 1.95 91.36
Jul 22.84 28.94 18.30 75.20 2.16 92.04
Agt 23.20 29.50 18.18 71.00 2.06 48.10
Sep 23.64 29.72 18.80 73.40 2.35 84.72
Oct 23.86 30.04 19.26 75.80 2.66 188.66
Nov 23.68 29.10 20.00 80.60 2.16 263.74
Dec 23.38 28.38 19.90 80.40 2.37 234.80
Average 23.44 28.98 19.31 77.92 2.27 180.08
Periods Months Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 139 70 103
Feb 121 67 77
Mar 154 74 113
Apr 141 71 101
May 145 67 119
Jun 148 56 140
Jul 128 69 90
Aug 140 83 81
Sep 149 77 99
Oct 159 81 107
Nov 140 76 88
Dec 121 81 56
YEARS 1685 873 1174
50 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
4.5.3 Kalijati Subang
Kalijati airport (altitude 110 m)
4.5.4 Semarang
Semarang climatic station (altitude 3 m)
Tabel 17
Tabel 18
Tabel 19
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(m/s)
Wind_max
(m/s)
Rain (mm)
1963.00 Jan 25.52 28.14 22.88 93.48 10.78 16.61 23.94
Feb 26.01 29.02 22.59 92.21 9.28 16.93 18.31
Mar 26.54 29.58 22.65 91.01 9.42 17.56 15.40
Apr 27.82 30.64 23.07 89.53 3.21 7.50 4.49
May 28.49 31.04 22.93 85.67 2.90 7.25 0.82
Jun 28.32 30.94 22.00 79.70 4.10 9.21 0.44
Jul 28.01 31.10 20.46 72.78 5.16 10.54 0.00
Aug 28.58 30.52 20.68 72.98 5.15 10.50 0.00
Sep 29.09 30.99 22.22 64.22 4.87 10.59 0.00
Oct 29.98 31.51 23.48 66.93 4.63 9.58 0.47
Nov 29.72 31.50 24.24 73.49 6.08 11.55 2.88
Dec 27.17 30.45 22.88 88.23 6.98 12.38 35.27
Average 27.94 30.45 22.51 80.85 6.05 11.68 8.50
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(m/s)
Wind_max
(m/s)
Rain (mm)
2001-2005 Jan 27.14 30.32 24.38 83.40 0.34 294.60
Feb 26.42 29.60 24.08 83.80 0.57 423.80
Mar 27.72 30.62 24.46 82.60 0.44 214.20
Apr 27.94 32.06 24.82 74.80 0.61 251.00
May 28.04 32.22 24.70 73.20 0.75 126.20
Jun 27.46 31.98 23.46 71.60 0.62 127.00
Jul 27.38 32.52 23.64 69.60 0.80 34.40
Agt 26.78 32.46 22.52 66.80 0.67 21.20
Sep 27.70 33.20 23.84 68.00 0.76 108.40
Oct 28.48 33.42 24.58 71.60 0.46 169.20
Nov 28.04 32.16 24.52 76.00 0.41 232.00
Dec 27.36 30.70 24.60 82.20 0.35 207.60
Average 27.54 31.77 24.13 75.30 0.57 184.13
Periods Months Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 152 88 90
Feb 124 78 63
Mar 161 84 103
Apr 157 81 108
May 156 75 122
Jun 160 59 159
Jul 144 66 120
Aug 161 73 128
Sep 174 79 129
Oct 180 89 121
Nov 164 85 107
Dec 128 85 60
YEARS 1860 943 1311
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 51
4.5.5 Surabaya
Juanda Surabaya airport (altitude 5 m)
Tabel 20
Tabel 21
Tabel 22
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(m/s)
Wind_max
(m/s)
Rain (mm)
2001-2005 Jan 27.40 34.24 22.62 82.44 3.15 443.34
Feb 27.24 34.16 22.74 81.94 3.50 395.86
Mar 27.50 33.98 22.96 82.52 2.82 410.06
Apr 28.12 33.34 23.50 77.86 3.05 147.80
May 28.10 33.10 21.56 76.66 3.12 137.42
Jun 27.02 33.14 21.58 71.38 3.93 96.58
Jul 26.68 32.52 19.76 74.52 3.33 49.32
Agt 26.66 32.64 19.64 71.38 3.32 0.90
Sep 27.62 33.98 20.70 69.84 3.26 3.04
Oct 28.32 35.42 23.06 69.08 3.08 34.88
Nov 28.68 35.22 25.12 73.38 2.87 114.86
Dec 27.56 34.24 22.74 79.78 2.99 263.70
Average 27.58 33.83 22.17 75.90 3.20 174.81
Years Month Temp Max Temp Avrg Temp Min RH Max RH Avg RH Min Wind Max Win Avg
2005-
2011
Jan 31.58 27.95 24.66 90.84 76.77 59.31 25.23 11.54
Feb 31.27 27.74 24.38 93.82 79.43 60.99 27.06 10.83
Mar 31.31 27.89 24.67 93.39 78.13 61.22 22.68 8.48
Apr 31.08 28.00 25.17 91.47 77.33 62.00 19.83 8.21
May 30.86 27.82 24.99 90.97 75.09 61.07 21.93 9.23
Jun 30.53 27.21 24.10 89.88 72.79 58.07 21.94 9.83
Jul 30.38 26.74 23.20 88.29 69.88 53.57 23.63 10.41
Aug 30.61 26.72 23.03 85.58 66.56 49.81 26.55 11.34
Sep 31.86 27.51 23.57 85.22 64.04 45.24 25.19 10.38
Oct 32.72 28.58 24.92 84.87 65.07 46.15 25.15 10.96
Nov 32.59 28.78 25.39 87.46 69.03 51.25 21.26 9.06
Dec 31.61 28.07 24.81 91.52 75.91 58.32 21.30 8.47
Average 31.37 27.75 24.41 89.44 72.50 55.58 23.48 9.90
Periods Months Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 162 93 95
Feb 133 83 67
Mar 163 86 130
Apr 149 80 97
May 151 74 117
Jun 158 59 157
Jul 138 73 101
Aug 156 83 104
Sep 173 76 131
Oct 188 91 128
Nov 175 83 124
Dec 138 87 71
YEARS 1882 967 1297
52 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
4.5.6 Malang
Abdul Rahman Saleh Airport (altitude 526 m)
4.5.7 Madiun
Iswahyudi Airport (Altitude 110 m)
Tabel 23
Tabel 24
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
1994-1995 Jan 23.85 28.40 20.47 92.92 8.59 18.28 11.07
Feb 24.13 28.73 20.44 91.99 8.40 16.94 7.69
Mar 23.61 28.74 20.45 94.14 7.91 17.52 11.72
Apr 24.68 28.85 20.17 89.13 9.14 18.15 1.61
May 24.32 28.91 18.92 88.89 8.09 17.95 1.11
Jun 24.06 28.68 18.53 85.53 9.68 19.76 0.24
Jul 23.59 28.65 17.63 79.27 9.33 17.54 0.00
Aug 23.05 28.59 17.55 79.99 9.35 17.69 0.00
Sep 24.63 29.68 18.28 73.39 9.47 19.37 0.00
Oct 25.42 30.15 19.64 78.58 9.96 21.72 2.60
Nov 25.01 29.47 20.60 88.83 6.87 17.65 1.46
Dec 24.33 28.66 20.19 89.56 10.54 20.99 6.99
Average 24.22 28.96 19.41 86.02 8.94 18.63 3.71
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH%
Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h) Rain (mm)
1978 Jan 25.87 29.61 23.86 94.09 15.64 24.11 0.17
Feb 26.23 30.51 23.84 94.14 12.41 21.49 0.09
Mar 26.28 30.68 24.18 94.80 12.24 22.49 0.00
Apr 26.95 31.17 23.85 90.87 10.71 18.16 0.83
May 27.04 31.06 24.42 90.58 8.79 13.77 0.00
Jun 25.96 30.17 23.38 92.37 8.82 15.63 0.00
Jul 26.00 30.39 23.14 86.59 14.64 21.40 0.00
Aug 26.91 30.84 23.56 81.95 15.10 20.82 0.33
Sep 26.46 31.30 23.83 81.81 17.49 22.77 0.00
Oct 27.79 31.94 24.79 85.09 13.93 21.79 0.00
Nov 26.95 31.30 23.71 86.52 13.14 20.76 0.00
Dec 26.45 30.52 24.15 93.19 7.62 15.08 0.00
Average 26.57 30.79 23.89 89.33 12.54 19.86 0.12
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 53
4.6 PULAU KALIMANTAN
Daerah Kalimantan merupakan daerah curah hujan cukup tinggi. Hutan dan sungai yang cukup
menyebar di pulau membuat kelembaban rrlatif tinggi. Daerah tepi pantai relatif panas, terutama
Pontianak yang dilalui garis 0 derajat katulistiwa. Topograf lokasi tertera pada Gambar berikut:
Gambar 7. Topograf Pulau Kalimantan
Rata-rata data iklim kota-kota di Pulau Kalimantan hampir sama sebagai berikut:
Years Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH%
Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h) Rain (mm)
Pontianak 27.82 32.19 23.23 81.21 3.77 17.92
Samarinda 27.62 32.39 24.34 92.08 4.61 12.08 5.07
Banjarmasin 27.59 32.84 23.51 90.11 4.45 12.44 4.22
Palangkaraya 27.29 32.91 23.17 91.05 4.90 11.82 5.02
Balikpapan 27.60
54 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Rincian data adalah sebagai berikut.
4.6.1 Pontianak
Supadio Airport station (altitude 3 m)
Tabel 25
Tabel 26
Radiasi matahari cukup tinggi, seperti kota-kota lain di Indonesia:
Periods Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal Radiation
[kWh/m
2
]
Pontianak 1638 947 984
Banjarmasin 1806 936 1240
Balikpapan 1623 921 1003
Periods Months Air Temp (
o
C) Wind speed (m/s)
2000-2009 Jan 26,7 1,1
Feb 27 1,2
Mar 27,2 1
Apr 27,1 0,9
May 27,7 0,8
Jun 27,4 0,9
Jul 27,3 1,1
Aug 27,6 1,2
Sep 27,2 1,1
Oct 26,9 1
Nov 26,7 1,1
Dec 26,6 1,1
YEARS 27,1 1
Years Month Temp Max Temp Avrg Temp Min RH Max RH Avg RH Min Wind Max Win Avg
2007-2011 Jan 31.57 27.39 22.94 98.47 83.03 59.53 19.10 4.09
Feb 32.06 27.62 22.96 97.85 81.19 56.67 16.89 3.79
Mar 32.28 27.81 23.08 98.10 81.85 57T.11 19.71 3.59
Apr 32.74 28.23 23.55 97.72 81.45 57.87 16.71 3.59
May 32.99 28.38 23.63 97.58 80.74 55.78 15.47 3.26
Jun 32.53 28.09 23.35 96.97 79.25 54.13 15.12 3.39
Jul 32.36 27.74 23.03 97.27 78.92 52.81 17.63 3.77
Aug 32.42 27.94 23.25 96.39 77.50 52.39 15.78 3.95
Sep 32.54 28.07 23.35 97.11 79.33 53.60 17.19 3.68
Oct 32.13 27.72 23.11 98.28 83.05 58.61 20.85 3.70
Nov 31.50 27.55 23.33 98.41 83.82 61.99 19.09 3.95
Dec 31.18 27.23 23.24 98.76 84.41 63.67 21.56 4.47
Average 32.19 27.82 23.23 97.74 81.21 57.01 17.92 3.77
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 55
Tabel 27
Tabel 28
Tabel 29
4.6.2 Samarinda
Samarinda station (altitude 230 m)
4.6.3 Banjarmasin
Samsudin Airport station (altitude 20 m)
Periods Months Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 144 78 97
Feb 128 73 77
Mar 148 78 95
Apr 133 74 82
May 138 85 77
Jun 134 69 96
Jul 143 79 93
Aug 158 87 99
Sep 130 83 63
Oct 130 77 74
Nov 124 79 64
Dec 129 83 67
YEARS 1638 947 984
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
2001-2009 Jan 26.99 31.51 24.25 93.38 3.45 10.30 4.16
Feb 27.13 31.95 23.93 93.72 3.29 11.73 7.74
Mar 27.12 32.21 23.91 93.44 3.43 11.48 8.39
Apr 27.55 32.20 24.40 93.30 4.37 11.86 8.81
May 27.86 32.32 24.51 92.85 4.40 14.05 4.69
Jun 27.77 32.04 24.42 91.54 4.92 12.62 1.49
Jul 27.32 32.05 23.97 90.66 4.95 12.33 3.38
Aug 27.91 32.52 24.60 90.86 5.63 12.12 3.00
Sep 28.62 33.88 24.65 88.64 7.08 15.09 2.46
Oct 27.55 32.39 24.04 91.89 4.03 10.41 7.81
Nov 27.79 32.69 24.69 92.27 5.02 12.11 4.25
Dec 27.83 32.91 24.65 92.37 4.72 10.93 4.73
Average 27.62 32.39 24.34 92.08 4.61 12.08 5.07
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
2000-2009 Jan 26.45 30.34 23.66 94.40 4.54 12.21 7.24
Feb 27.09 31.76 23.73 92.67 4.62 11.07 6.20
Mar 27.37 32.34 23.85 91.85 4.61 10.95 4.60
Apr 28.07 32.89 24.53 91.61 3.99 9.65 5.38
May 27.47 33.37 24.30 92.41 3.63 10.37 5.76
Jun 27.86 32.98 23.55 88.89 3.65 9.56 1.83
Jul 26.95 32.76 22.17 87.68 4.19 12.03 1.64
Aug 27.75 34.10 22.49 84.70 4.68 13.95 0.84
Sep 28.76 35.31 22.73 83.53 6.25 16.95 0.69
Oct 28.01 33.82 23.29 88.72 4.52 15.34 3.76
Nov 27.91 32.85 23.87 91.40 4.51 13.39 5.05
Dec 27.42 31.51 23.94 93.51 4.27 13.85 7.63
Average 27.59 32.84 23.51 90.11 4.45 12.44 4.22
56 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Tabel 30
Tabel 31
Tabel 32
4.6.4 Palangkaraya
Tjilik Riwut Airport (Altitude 27 m)
Periods Months
Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 139 89 71
Feb 126 76 68
Mar 165 92 99
Apr 154 72 114
May 162 73 130
Jun 168 63 160
Jul 138 74 95
Aug 157 79 111
Sep 165 78 118
Oct 162 89 99
Nov 145 77 97
Dec 127 74 78
YEARS 1806 936 1240
Periods Months Air Temp (
o
C) Wind speed (m/s)
2000-2009 Jan 26,9 1,3
Feb 27,1 1,4
Mar 27,3 1,4
Apr 27,5 1,3
May 27,8 1,2
Jun 27,3 1,2
Jul 27,1 1,3
Aug 27,4 1,6
Sep 28,1 1,7
Oct 27,9 1,5
Nov 27,4 1,4
Dec 27,1 1,5
YEARS 27,4 1,4
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH%
Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h) Rain (mm)
2000-2009 Jan 26.63 31.29 23.04 92.72 4.84 12.69 5.31
Feb 26.86 31.97 23.27 92.41 4.67 12.01 6.97
Mar 26.71 31.96 22.97 93.11 4.24 10.73 8.55
Apr 27.84 32.94 24.26 92.27 4.24 10.53 6.13
May 27.83 33.56 24.26 91.80 4.03 10.42 6.99
Jun 27.34 32.65 23.27 90.97 3.71 9.48 0.67
Jul 26.65 32.56 21.81 89.65 4.70 11.18 0.39
Aug 27.60 33.87 22.53 87.57 5.74 13.79 0.20
Sep 28.15 34.64 23.08 86.82 6.81 14.61 0.50
Oct 27.25 33.55 23.01 90.78 4.79 11.49 5.31
Nov 27.36 33.61 23.35 91.94 5.84 13.98 6.40
Dec 27.21 32.35 23.14 92.51 5.13 10.93 12.85
Average 27.29 32.91 23.17 91.05 4.90 11.82 5.02
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 57
4.6.5 Balikpapan
Sepinggan Airport location (altitude 3 m)
Tabel 33
Tabel 34
Periods Months
Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 129 80 72
Feb 132 74 80
Mar 155 88 91
Apr 128 77 72
May 138 76 92
Jun 143 64 119
Jul 110 65 67
Aug 124 74 70
Sep 148 76 101
Oct 144 87 77
Nov 142 80 89
Dec 128 80 73
YEARS 1623 921 1003
Periods Months Air Temp (
o
C) Wind speed (m/s)
2000-2009 Jan 27,2 2,8
Feb 27,3 3,1
Mar 27,3 2,8
Apr 27,5 2,6
May 28 2,8
Jun 27,7 3,2
Jul 27,4 3,6
Aug 27,6 4
Sep 28,1 3,8
Oct 28,1 3,1
Nov 27,7 2,6
Dec 27,5 2,6
YEARS 27,6 3,1
58 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Gambar 8. Topograf pulau Sulawesi
4.7 PULAU SULAWESI
Sulawesi dikelilingi pengunungan sepanjang pulau sehingga relatif basah. Topograf Sulawesi di
sampaikan pada Gambar berikut:
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 59
Tabel 35
Tabel 36
Rata-rata temperatur dan kelembaban adalah berikut ini:
Jumlah total radiasi global tahunan adalah berikut ini:
Dengan rincian data statistik sebagai berikut:
4.7.1 Manado
Sam Ratulangi Airport (altitude 80 m)
City Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
Manado 26.93 31.90 22.43 88.81 5.43 12.87 7.46
Makassar 26.90 34.33 20.88 80.00 5.04 15.91 6.13
Palu 27.72 33.54 23.38 86.66 7.22 21.64 1.43
City Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal Radiation
[kWh/m
2
]
Menado 1993 853 1622
Makassar 1638 947 984
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH%
Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h) Rain (mm)
2000-2009 Jan 26.05 30.29 22.95 93.68 4.11 9.96 15.68
Feb 26.17 30.75 22.66 92.66 4.15 10.07 7.65
Mar 26.39 31.03 22.38 92.11 4.09 10.06 7.93
Apr 26.82 31.56 23.10 92.18 3.82 9.31 10.98
May 27.22 32.51 22.78 90.46 3.96 10.72 6.27
Jun 27.27 32.30 22.39 87.38 5.94 14.79 4.67
Jul 26.99 32.04 22.35 85.11 8.22 17.53 4.54
Aug 27.67 33.02 22.45 82.55 9.26 17.16 3.92
Sep 28.21 33.81 21.05 80.11 7.64 16.94 1.02
Oct 27.33 33.10 21.94 86.56 4.97 14.45 4.12
Nov 26.85 31.78 22.63 90.48 4.80 12.84 11.61
Dec 26.24 30.57 22.52 92.46 4.14 10.63 11.10
Average 26.93 31.90 22.43 88.81 5.43 12.87 7.46
Year Month Temp Max Temp Avrg Temp Min RH Max RH Avg RH Min Wind Max Win Avg
2005-2011 Jan 29.82 26.49 22.77 93.40 81.51 63.49 12.47 3.91
Feb 30.02 26.46 22.52 93.37 80.78 61.97 15.91 4.78
Mar 30.64 26.72 22.63 93.45 79.62 59.73 15.36 4.26
Apr 31.00 27.05 22.81 93.37 79.33 58.48 13.72 3.91
May 31.74 27.38 22.72 93.29 77.65 55.00 13.82 4.08
Jun 31.42 27.20 22.62 92.48 76.25 54.01 15.68 5.10
Jul 31.60 27.10 22.18 89.53 70.29 48.73 19.47 7.71
Aug 32.13 27.35 22.34 85.18 66.86 45.06 21.75 9.61
Sep 32.27 27.25 21.93 89.40 69.74 46.15 15.56 6.01
Oct 32.27 27.33 22.19 91.55 73.59 49.00 14.22 4.52
60 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Interpolated (Altitude 381 m)
Tabel 37
Tabel 38
Tabel 39
4.7.2 Makassar
Sultan Hasanuddin airport location (altitude 14 m)
Nov 31.37 27.05 22.59 93.23 79.03 56.93 13.65 3.90
Dec 30.53 26.84 22.82 93.49 80.64 61.81 12.12 3.65
Average 31.23 27.02 22.51 91.81 76.27 55.03 15.31 5.12
Periods Months Air Temp (
o
C) Wind speed (m/s)
2000-2009 Jan 25,1 1,1
Feb 24,9 1,4
Mar 25,2 1,4
Apr 25,4 1,1
May 25,6 1,3
Jun 25,4 1,3
Jul 25,4 2
Aug 25,6 2,5
Sep 25,6 1,6
Oct 25,5 1,3
Nov 25,4 1,1
Dec 25,4 1,2
YEARS 25,4 1,4
Periods Months Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 146 77 103
Feb 141 71 100
Mar 177 81 132
Apr 165 80 119
May 165 68 137
Jun 188 53 195
Jul 144 74 102
Aug 178 69 153
Sep 177 68 149
Oct 183 82 138
Nov 178 59 171
Dec 151 70 121
YEARS 1993 853 1622
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
2000-2011 Jan 26.10 33.90 21.60 88.00 4.86 14.36 24.24
Feb 26.10 33.60 21.60 87.00 5.24 13.68 10.93
Mar 26.00 32.80 21.70 90.00 5.08 12.65 4.17
Apr 28.10 34.40 23.80 66.00 4.90 14.52 5.91
May 27.40 34.20 21.80 84.00 4.89 13.39 3.18
Jun 26.40 33.50 17.60 81.00 4.99 12.25 0.92
Jul 26.20 34.40 17.90 77.00 5.24 12.77 0.98
Aug 26.80 35.90 17.90 67.00 5.19 15.88 0.00
Sep 27.80 35.90 19.60 65.00 3.39 21.96 2.72
Oct 28.00 36.60 21.40 78.00 4.90 20.74 1.13
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 61
Tabel 40
Tabel 41
Tabel 42
Interpolated (altitude 0 m)
Nov 27.40 34.00 22.70 85.00 5.30 20.38 4.72
Dec 26.50 32.70 23.00 92.00 6.47 18.32 14.67
Average 26.90 34.33 20.88 80.00 5.04 15.91 6.13
Year Month Temp Max Temp Avrg Temp Min RH Max RH Avg RH Min Wind Max Win Avg
2005-
2011
Jan 30.39 26.97 23.33 99.79 87.27 46.26 19.73 6.29
Feb 30.81 27.24 23.34 99.71 85.49 42.36 18.55 6.29
Mar 31.56 27.55 23.30 99.12 84.18 41.93 19.34 6.10
Apr 32.04 27.81 23.42 99.10 83.44 40.00 17.20 5.68
May 32.83 28.24 23.47 98.07 80.66 38.64 15.32 5.34
Jun 32.57 27.75 22.70 98.20 79.50 38.40 13.97 4.88
Jul 32.70 27.29 21.73 95.88 74.40 36.44 16.96 5.43
Aug 33.59 27.82 21.86 88.13 64.89 31.51 18.05 6.29
Sep 33.91 28.07 22.01 85.97 63.54 32.34 24.38 6.10
Oct 33.81 28.37 22.82 92.39 71.30 35.15 19.75 5.71
Nov 32.77 28.17 23.48 97.58 80.00 40.29 19.19 5.40
Dec 30.91 27.33 23.47 99.74 86.47 42.94 18.46 5.78
Average 32.32 27.72 22.91 96.14 78.43 38.85 18.41 5.77
Periods Months Air Temp (
o
C) Wind speed (m/s)
2000-2009 Jan 26,7 2.1
Feb 27 2.1
Mar 27,2 2.1
Apr 27,1 2
May 27,7 2.1
Jun 27,4 2.4
Jul 27,3 2.7
Aug 27,6 2.9
Sep 27,2 2.7
Oct 26,9 2.2
Nov 26,7 2
Dec 26,6 2.1
YEARS 27,1 2.3
Periods Months Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 144 78 97
Feb 128 73 77
Mar 148 78 95
Apr 133 74 82
May 138 85 77
Jun 134 69 96
Jul 143 79 93
Aug 158 87 99
Sep 130 83 63
Oct 130 77 74
Nov 124 79 64
Dec 129 83 67
YEARS 1638 947 984
62 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
4.7.3 Palu
Mutiara airport (altitude 6 m)
4.8 BALI DAN NUSA TENGGARA
Kota-kota utama Bali dan Nusatenggara adalah tipikal kota-kota pantai dengan temteratur udara rata-rata
tahunan yang cukup tinggi, seperti Denpasar, Bima, Kupang, dan Mataram. Adapun kota pegunungannya
memiliki temperatur yang lebih rendah seperti Ruteng di Pulau Flores. Berikut rata-rata temperatur tahunan:
Radiasi total tahunan cukup tinggi untuk beberapa kota pantai sebagai berikut:
Tabel 43
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
2000-2009 Jan 27.11 32.55 22.84 87.35 7.06 19.81 0.35
Feb 27.19 32.89 23.00 88.20 6.91 20.84 1.95
Mar 27.30 32.84 23.07 88.26 7.10 21.87 2.26
Apr 27.15 32.43 23.05 89.84 6.08 18.51 5.16
May 27.76 33.81 23.53 87.81 6.06 19.82 0.93
Jun 27.63 33.69 23.38 87.23 6.33 19.13 1.06
Jul 27.00 32.96 22.47 86.17 6.74 21.81 1.24
Aug 28.56 34.54 23.78 84.50 8.29 23.13 0.07
Sep 29.08 35.71 23.97 82.63 9.11 25.31 0.37
Oct 28.22 34.46 23.75 84.34 8.25 25.68 0.19
Nov 28.10 33.78 24.29 86.49 7.62 22.44 1.88
Dec 27.57 32.84 23.44 87.14 7.14 21.32 1.69
Average 27.72 33.54 23.38 86.66 7.22 21.64 1.43
Years Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
Denpasar 27.06 30.02 24.32 92.04 9.95 16.34 2.63
Bima 27.13 32.71 23.14 88.73 6.64 18.17 3.13
Kupang 27.31 32.77 22.20 86.98 8.13 17.68 4.23
Mataram 27.25 31.52 22.93 88.41 5.98 15.03 3.16
Ruteng 21.68 25.32 15.20 83.90 5.28 10.90 7.40
Periods
Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal Radiation
[kWh/m
2
]
Denpasar 2064 861 1730
Bima 1782 882 1288
Kupang 1864 850 1473
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 63
4.8.1 Denpasar
Bali dikelilingi pengunungan dengan kota utama Denpasar di daerah pantai yang cukup panas. Hujan masih
relatif banyak.
Berikut data iklim untuk Ngurah Rai Airport (elevation 1 m)
Tabel 44
Gambar 9. Tofograf pulau Bali
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH%
Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h) Rain (mm)
2000-2009 Jan 27.53 30.41 24.70 92.92 12.23 19.22 5.58
Feb 27.24 30.35 24.24 93.11 9.20 16.96 8.18
Mar 27.15 30.48 24.21 93.56 5.95 12.73 6.81
Apr 27.54 30.35 24.19 92.45 9.44 16.26 1.46
May 27.23 29.81 24.39 92.33 11.89 18.14 0.61
Jun 26.45 29.05 23.55 92.04 11.24 16.77 0.00
Jul 25.77 28.43 23.60 89.06 13.18 18.42 0.29
Aug 26.04 28.74 24.50 90.47 14.33 18.32 0.00
Sep 26.71 30.23 23.41 90.07 7.91 13.68 0.47
Oct 27.78 31.10 24.98 92.52 8.14 14.48 1.36
Nov 27.75 30.92 25.00 93.85 6.37 13.59 1.42
Dec 27.49 30.40 25.04 92.07 9.46 17.51 5.36
Average 27.06 30.02 24.32 92.04 9.95 16.34 2.63
64 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Tabel 45
Tabel 46
Periods Months Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 187 78 148
Feb 153 80 97
Mar 186 80 144
Apr 174 69 153
May 164 59 161
Jun 162 49 181
Jul 137 67 112
Aug 156 67 132
Sep 185 69 162
Oct 201 77 170
Nov 197 78 166
Dec 160 87 104
YEARS 2064 861 1730
Periods Months Air Temp (
o
C) Wind speed (m/s)
2000-2009 Jan 27,7 3,3
Feb 27,8 3,5
Mar 27,8 2,5
Apr 28 2,5
May 27,6 2,8
Jun 26,9 3,4
Jul 26,3 3,7
Aug 26,1 3,6
Sep 26,6 2,8
Oct 27,5 2,4
Nov 28,1 2,2
Dec 27,9 2,8
YEARS 27,4 3
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 65
4.8.2 Bima
Kota Bima berada di sebuah teluk dan cukup panas karena berada di daerah pantai. Namun secara
keseluruhan sepanjang pulau Sumbawa tersusun atas pegunungan yang cukup dingin. Hujan mulai sedikit
di bandingkan Bali dan Lombok.
Gambar 10 Tofograf Pulau Sumbawa dengan Kota Bima berada di dataran pantai
Data iklim diperoleh dari Mohammad Salah Airport (elevation 2 m)
Tabel 47 Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
2000-2009 Jan 27.46 32.51 24.06 91.91 3.65 14.89 5.35
Feb 26.93 31.92 23.97 93.24 3.48 14.46 7.61
Mar 26.78 32.34 23.54 93.87 3.07 13.85 10.31
Apr 27.11 32.60 23.12 91.16 3.82 15.76 0.50
May 26.90 32.23 22.67 87.84 6.94 20.71 0.26
Jun 26.03 31.51 21.43 87.78 7.22 19.24 0.17
Jul 25.44 31.28 20.61 83.95 10.30 23.54 0.00
Aug 26.46 32.31 21.85 82.96 11.67 25.08 0.00
Sep 28.10 34.32 23.32 81.98 12.60 25.14 0.30
Oct 29.25 35.44 24.58 84.64 9.41 20.58 1.15
Nov 27.92 33.48 24.44 92.22 4.11 12.62 4.57
Dec 27.19 32.55 24.15 93.23 3.44 12.23 7.36
Average 27.13 32.71 23.14 88.73 6.64 18.17 3.13
66 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
4.8.3 Kupang
Daerah Kupang relatif kering kurang hujan. Data iklim dari El Tari Airport (elevation 102 m).
Tabel 48
Tabel 49
Tabel 50
Periods Months Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 149 87 87
Feb 131 79 71
Mar 158 73 118
Apr 139 72 96
May 136 59 114
Jun 137 61 115
Jul 129 61 104
Aug 140 77 95
Sep 164 71 128
Oct 180 84 134
Nov 171 83 122
Dec 148 77 103
YEARS 1782 882 1288
Periods Months Air Temp (
o
C) Wind speed (m/s)
2000-2009 Jan 27,6 1,1
Feb 27,4 1,2
Mar 27,4 1,2
Apr 27,6 1,5
May 27,4 2
Jun 26,5 2,7
Jul 26,2 3,1
Aug 26,6 3,5
Sep 27,9 3,7
Oct 29,1 3,4
Nov 29 2,2
Dec 28 1,2
YEARS 27,6 2,2
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
2000-2009 Jan 26.88 30.59 23.99 95.12 5.28 13.26 17.28
Feb 26.76 31.44 23.08 93.40 4.48 12.64 11.44
Mar 26.95 32.48 22.53 91.85 3.77 11.88 2.44
Apr 28.16 34.05 22.65 87.33 7.09 16.35 0.41
May 27.57 32.93 22.57 84.71 11.84 19.49 0.66
Jun 25.80 32.35 19.80 79.91 9.02 18.93 0.00
Jul 26.15 32.08 20.22 75.90 12.58 26.14 0.02
Aug 26.77 32.50 21.23 82.38 12.46 22.11 0.00
Sep 27.91 34.18 21.56 87.26 10.08 19.93 0.00
Oct 28.25 34.67 21.84 85.48 7.91 18.56 0.00
Nov 28.87 34.25 23.08 85.31 8.06 18.62 2.82
Dec 27.63 31.69 23.87 95.15 5.02 14.32 15.76
Average 27.31 32.77 22.20 86.98 8.13 17.68 4.23
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 67
4.8.4 Mataram
Curah hujan masih cukup dengan adanya gunung Rinjani yang cukup tinggi di dekat Mataram Pulau
Lombok. Data iklim dari Selaparang Airport (elevation 3 m)
Tabel 51
Tabel 52
Tabel 53
Periods Months
Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 145 73 105
Feb 132 68 93
Mar 147 77 99
Apr 167 63 154
May 145 58 137
Jun 132 55 121
Jul 139 60 120
Aug 159 70 131
Sep 170 71 140
Oct 189 82 143
Nov 181 84 131
Dec 158 89 98
YEARS 1864 850 1473
Periods Months Air Temp (
o
C) Wind speed (m/s)
2000-2009 Jan 27,5 1,6
Feb 27,2 1,6
Mar 27,1 1,7
Apr 27,3 2
May 26,7 2,3
Jun 25,8 2,6
Jul 25,4 2,7
Aug 25,6 2,7
Sep 26,7 2,6
Oct 28 2,4
Nov 28,5 2,3
Dec 27,9 1,9
YEARS 27 2,2
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
2000-2009 Jan 27.39 31.48 24.04 91.02 5.21 13.44 4.95
Feb 27.23 31.44 23.58 91.47 7.28 17.77 2.58
Mar 27.06 31.51 23.22 91.68 4.64 15.07 2.18
Apr 27.14 31.94 22.77 89.54 4.22 12.85 2.02
May 27.30 31.73 22.25 86.56 6.13 15.53 3.35
Jun 26.85 31.22 21.45 86.87 5.96 16.28 1.98
Jul 26.28 30.45 21.17 83.19 7.04 15.70 0.00
Aug 26.47 30.81 21.46 85.11 7.79 15.68 1.29
Sep 27.50 31.87 22.85 84.97 7.78 15.45 1.57
Oct 28.11 32.55 23.93 89.03 6.00 15.59 4.12
Nov 27.60 31.70 23.84 91.97 4.35 13.23 11.78
Dec 28.11 31.51 24.65 89.52 5.35 13.74 2.05
Average 27.25 31.52 22.93 88.41 5.98 15.03 3.16
68 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
4.8.5 Ruteng
Ruteng merupakan kota pengunungan di Kab Manggrai barat Pulau Flores. Udara cukup dingin. Namun
curah hujan sedikit.
Gambar 11 Tofograf Pulau Flores dengan Kota Ruteng di pegunungan Manggarai Barat
Data iklim dari Satar Tacik Airport (elevation 1170 m).
Tabel 54
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH%
Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h) Rain (mm)
2005-2009 Jan 21.57 24.63 17.48 91.14 7.77 14.17 5.26
Feb 21.02 24.23 16.79 91.30 6.74 12.73 12.63
Mar 21.34 24.94 15.97 89.18 3.73 9.79 14.24
Apr 22.06 25.70 15.42 87.01 4.24 9.84 10.12
May 21.41 24.99 15.49 90.02 3.88 10.05 10.64
Jun 21.28 24.70 12.82 78.32 5.24 9.84 0.87
Jul 21.03 24.75 13.21 72.42 6.05 11.52 0.20
Aug 21.46 25.60 12.97 75.12 5.70 10.70 0.36
Sep 22.18 26.19 14.43 76.74 6.16 12.21 8.05
Oct 22.38 26.08 15.37 79.19 5.05 10.65 5.57
Nov 22.39 26.51 16.10 85.93 4.91 10.27 9.32
Dec 22.02 25.57 16.33 90.47 3.90 8.98 11.59
Average 21.68 25.32 15.20 83.90 5.28 10.90 7.40
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 69
4.9 MALUKU DAN PAPUA
Daerah Maluku dan Papua termasuk daerah yang tidak seperti Nusa Tenggara Timur, daerah Papua dan
Maluku relatif lebih mendapatkan hujan. Rata-rata temperatur untuk dua buah kota utama, yakni Ambon
dan Jayapura adalah hampir sama sebagai berikut:
Adapun data jumlah total radiasi matahari sebagai berikut:
Rincian data iklim diuraikan berikut ini.
4.9.1 Ambon
Iklim di Kota Ambon adalah iklim laut tropis dan iklim musim, karena letak pulau Ambon di kelilinggi oleh
laut. Oleh karena itu iklim di sini sangat dipengaruhi oleh lautan dan berlangsung bersamaan dengan iklim
musim, yaitu musim Barat atau Utara dan musim Timur atau Tenggara. Pergantian musim selalu diselingi oleh
musim Pancaroba yang merupakan transisi dari kedua musim tersebut. Musim Barat umumnya berlangsung
dari bulan Desember sampai dengan bulan Maret, sedangkan pada bulan April merupakan masa transisi ke
musim Timur dan musim Timur berlangsung dari bulan Mei sampai dengan bulan Oktober disusul oleh masa
pancaroba pada bulan Nopember yang merupakan transisi ke musim Barat. Curah hujan cukup.

Data iklim dari Pattimura Airport (elevation 3 m).
Tabel 55a
Years Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH%
Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h) Rain (mm)
Ambon 26.60 30.07 23.58 92.87 6.14 12.10 4.15
Jayapura 26.99 31.70 23.46 93.78 7.33 21.32 5.11
Periods
Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal Radiation
[kWh/m
2
]
Ambon 2091 858 1731
Jayapura 1735 943 1115
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH% Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h)
Rain (mm)
2004-2009 Jan 27.29 30.83 23.75 92.28 6.05 11.75 3.44
Feb 26.92 30.97 23.51 92.02 5.99 12.53 2.75
Mar 26.76 30.84 23.38 92.02 6.10 12.82 2.57
Apr 27.18 30.99 24.12 92.95 6.16 12.82 4.08
May 26.91 30.19 24.19 94.28 5.82 10.66 9.56
Jun 25.66 28.88 23.20 94.30 5.22 10.46 6.07
Jul 25.36 27.99 23.25 94.14 6.45 11.60 8.86
Aug 25.51 28.34 22.95 93.09 6.38 12.37 2.34
Sep 26.19 29.04 23.31 93.38 6.77 12.37 1.70
Oct 26.61 29.94 23.65 92.79 6.17 12.11 3.43
Nov 27.27 30.78 23.89 92.38 6.22 11.78 2.37
Dec 27.58 32.04 23.81 90.85 6.32 13.92 2.63
Average 26.60 30.07 23.58 92.87 6.14 12.10 4.15
70 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Monthly Rainfalls and Rainy Day in Ambon City
2001-2005
Tabel 55b
Tabel 56
Tabel 57
Month 2001 2002 2003 2004 2005
CH
Rainfalls
(Mm)
HH
Rainy
Days
CH
Rainfalls
(Mm)
HH
Rainy
Days
CH
Rainfalls
(Mm)
HH
Rainy
Days
CH
Rainfalls
(Mm)
HH
Rainy
Days
CH
Rainfalls
(Mm
HH
Rainy
Days
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
Jan
Feb
Mar
Apr
May
Jun
Jul
Aug
Sep
Oct
Nov
Dec
194
93
112
182
608
989
523
14
662
24
126
147
20
16
21
18
16
26
17
9
23
4
17
21
103
127
122
195
256
451
110
35
72
18
26
68
12
14
13
18
17
24
21
12
5
6
9
15
97
115
85
243
244
244
210
215
180
34
66
60
16
19
14
16
16
18
17
15
14
8
8
8
79,0
68,8
120,0
230,0
275,0
480,0
187,1
29,2
192,4
129,3
28,0
23,0
17
16
13
18
15
26
25
10
22
5
6
4
152,6
95,1
2001,1
273,7
540,3
164,1
534,5
233
107,2
201
144,6
207,3
21
13
11
20
25
23
26
16
15
31
9
21
Total 3.674 208 1.583 166 1.773 169 1.841 177 2853.5 231
Years Month Temp Max Temp Avrg Temp Min RH Max RH Avg RH Min Wind Max Win Avg
2005-
2011
Jan 31.17 27.43 23.75 91.95 76.25 58.01 14.35 6.43
Feb 31.19 27.31 23.56 91.34 76.14 58.30 18.58 6.55
Mar 31.23 27.49 23.73 90.76 75.48 57.61 16.35 6.84
Apr 30.51 27.18 23.82 92.15 79.14 63.56 15.28 6.31
May 29.28 26.57 23.76 92.85 82.71 70.30 14.84 6.72
Jun 28.27 25.86 23.44 93.86 84.56 72.92 16.07 7.29
Jul 27.53 25.35 23.22 92.44 82.99 72.67 16.69 8.16
Aug 27.55 25.14 22.82 92.29 81.66 68.74 15.27 7.50
Sep 28.32 25.64 22.95 93.98 82.94 69.97 14.11 6.77
Oct 29.83 26.65 23.35 93.32 80.35 64.64 13.97 6.54
Nov 30.73 27.35 23.85 91.37 78.30 62.19 16.54 7.29
Dec 31.01 27.43 23.77 92.41 78.19 60.45 15.65 6.54
Average 29.72 26.62 23.50 92.39 79.89 64.95 15.64 6.91
Periods Months Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 190 77 158
Feb 161 76 115
Mar 185 76 148
Apr 171 75 134
May 165 73 136
Jun 161 53 163
Jul 124 67 86
Aug 165 78 122
Sep 172 76 131
Oct 205 70 184
Nov 209 61 206
Dec 182 76 148
YEARS 2091 858 1731
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 71
4.9.2 Jayapura
Pulau Papua dikelilingi pengunungan dengan iklim tipikal seperti Maluku. Cukup hujan.
Periods Months Air Temp (
o
C) Wind speed (m/s)
2000-2009 Jan 28,3 2
Feb 28,2 2,2
Mar 28,1 2
Apr 27,7 1,8
May 27,1 1,8
Jun 26 2
Jul 25,4 2,3
Aug 25,6 2,4
Sep 26,4 2,1
Oct 27,3 1,8
Nov 28,2 1,9
Dec 28,3 1,9
YEARS 27,2 2
Tabel 58
Gambar 12 Iklim lokal setempat Pulau Papua
72 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
Data yang disampaikan di sini adalah data kota utama Sentani Airport (elevation 99 m).
Tabel 59
Gambar 13 Tofograf local setempat Pulau Papua
Years Month Tmean (
o
C) Tmax (
o
C) Tmin (
o
C) RH%
Wind_ave
(km/h)
Wind_max
(km/h) Rain (mm)
2000-2009 Jan 27.26 32.06 23.16 92.88 9.38 25.51 1.98
Feb 26.53 30.97 23.56 94.00 12.05 32.05 10.48
Mar 26.62 31.06 23.51 93.72 14.32 35.24 11.10
Apr 27.34 32.06 23.73 93.61 7.52 23.86 5.97
May 27.40 32.19 23.71 93.44 7.63 23.11 1.47
Jun 26.35 30.93 22.95 94.81 5.29 18.84 2.35
Jul 26.36 30.72 23.02 95.06 4.92 18.45 2.90
Aug 26.85 31.48 23.37 94.17 6.40 18.96 3.19
Sep 27.21 32.20 23.41 93.41 4.42 14.06 10.40
Oct 27.13 32.13 23.35 93.36 4.62 14.67 3.51
Nov 27.69 32.92 23.85 93.20 3.73 12.29 2.70
Dec 27.15 31.63 23.90 93.68 7.63 18.74 5.32
Average 26.99 31.70 23.46 93.78 7.33 21.32 5.11
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 73
Years Month Temp Max Temp Avrg Temp Min RH Max RH Avg RH Min Wind Max Win Avg
2008-
2011
Jan 31.84 27.30 23.35 92.98 78.48 58.85 29.48 9.27
Feb 31.56 27.21 23.32 94.43 80.45 59.80 26.07 6.54
Mar 31.60 27.38 23.47 93.43 79.59 59.35 23.83 6.94
Apr 31.69 27.47 23.52 93.89 80.80 61.22 22.15 5.18
May 31.65 27.52 23.67 94.29 81.11 61.61 19.82 4.56
Jun 31.22 27.03 23.10 94.98 82.12 62.53 18.43 3.99
Jul 31.10 27.02 23.04 93.47 79.53 60.83 18.94 4.81
Aug 31.51 26.98 22.98 93.33 78.73 58.70 20.13 5.38
Sep 31.94 27.46 23.16 92.88 77.38 56.79 24.13 5.58
Oct 32.19 27.56 23.27 92.88 77.73 57.02 18.30 4.48
Nov 32.44 27.81 23.58 92.34 78.66 58.06 18.31 4.11
Dec 31.90 27.88 24.19 91.94 78.84 60.60 21.43 6.17
Average 31.72 27.38 23.39 93.40 79.45 59.61 21.75 5.58
Tabel 60
Tabel 61
Tabel 62
Periods Months
Global Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Diuse Radiation
Horizontal [kWh/m
2
]
Direct Normal
Radiation [kWh/m
2
]
1986-2005 Jan 139 68 102
Feb 135 73 85
Mar 157 93 86
Apr 143 75 94
May 143 84 84
Jun 150 70 119
Jul 127 71 84
Aug 134 81 75
Sep 149 86 87
Oct 163 75 119
Nov 152 86 93
Dec 144 81 88
YEARS 1735 943 1115
Periods Months Air Temp (
o
C) Wind speed (m/s)
2000-2009 Jan 27,7 2,1
Feb 27,6 2
Mar 27,5 1,8
Apr 27,5 1,4
May 27,8 1,4
Jun 27,6 1,5
Jul 27,3 2,2
Aug 27,7 2,5
Sep 27,6 1,8
Oct 27,9 1,4
Nov 27,7 1,3
Dec 27,6 1,6
YEARS 27,6 1,7
74 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
4.10 Referensi Data Iklim
1. Data-data cuaca yang diperoleh dari sejumlah stasiun cuaca BMKG di Indonesia
2. www.wunderground.com
3. www.meteoronome.com
4. http://www7.ncdc.noaa.gov/CDO/cdodata.cmd
5. https://docs.google.com/present/view?id=dgnjdcv4_1046fp9k6qc6
6. http://iklim.dirgantara-lapan.or.id/
7. http://id.wikipedia.org/wiki/Klasifkasi_iklim_K%C3%B6ppen
8. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/32/World_Koppen_Map.
png/800px-World_Koppen_Map.png
9. http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera
10. http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Java_Topography.
png&fletimestamp=20070830184506
11. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/28/Borneo_Topography.png
12. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/3/3c/Peta_Sulawesi.jpg
13. http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Bali_Labeled.
png&fletimestamp=20061013085256
14. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/18/Sumbawa_Topography.png
15. http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Flores_Topography.png
16. http://ambon.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=4&Itemid=10
17. http://www.papua.go.id/view-detail-peta-14/iklim-daerah-pertanian.html
18. http://www.papua.go.id/view-detail-peta-21/topograf.html
19. http://kadarsah.wordpress.com/2007/11/30/mengenal-iklim-indonesia/
20. https://docs.google.com/present/view?id=dgnjdcv4_1084fdpr4wd3
Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan 75
5. References
a. Groth, Agas; Energy Efciency Building
Design Guidelines for Botswana. Danish Energy
Management A/S and the Government of
Botswana. Botswana, 2007.
b. ASHRAE; Handbook - Fundamentals. USA,
2009.
c. ASHRAE; ASHRAE Standard 90.1; USA.
d. ASHRAE; ASHRAE Journal. USA, August, 2004;
e. ASHRAE; ASHRAE Guideline 0 - The
Commissioning Process; USA, 2005.
f. Birkeland, J. ; Design for Sustainability - A
Sourcebook of Integrated Ecological Solutions;
Earthscan. UK, 2002.
g. Burke, Bill and Keller, Marian; Fundamentals of
Integrated Design for Sustainable Building; John
Willey and Sons, Inc. USA, 2009.
h. Carlsen, Robert D. and McHugh, James F;
Handbook of Construction Operation Forms and
Formats; Prentice Hall, Inc. USA,1978.
i. Danish Energy Management A/S; Passive Solar
Design Guidelines. UNDP, 2010.
j. DIN EN 16001: EMS in Practice, Federal Ministry
for the Environment, Nature Conservation and
Nuclear Safety. Germany, 2010.
k. Doty, Steve; PE, CEM; Commercial Energy
Auditing Reference Handbook. 2009.
l. Endro, Herman; Lighting System Training
for Energy Auditor; EINCOPS-Danida, Jakarta.
Indonesia, 2011.
m. Energy Efcient Elevators And Escalators;
Inteligent Energy Europe. 2010.
n. Gevorkian, P. ; Alternative Energy Systems in
Building Design; McGraw-Hill Co. USA, 2010
o. Gevorkian, P.; 2006; Sustainable Energy Systems
in Architectural Design - A Blueprint for Green B
uilding; McGraw-Hill. USA, 2006.
p. Hawaii Commercial Building Guidelines for
Energy Efciency. USA 2004.
q. Holtz , Michael J, A.I.A. ; Passive Solar Handbook
Volume I Introduction to Passive Solar Concepts,
United States Air Force. USA, 1980.
r. IESNA; IESNA Lighting Handbook 9th edition;
IESNA. USA.
s. International Energy Agency: Task 23 Integrated
Design Process. Germany, 2003.
t. International Energy Agency: Energy Efciency
Requirements In Building Codes, Energy
Efciency Policies For New Buildings, OECD/IEA.
France, 2008.
u. Jayamaha, Lal Dr. ; Energy-Efcient Building
Systems: Green Strategies for Operation and
Maintenance; McGraw-Hill Professional. New
York, USA, 2007.
v. Kotz, Philip; Clean System Approach to
Air Conditioning Heating, Piping and Air
Conditioning Journal.
w. Liska, Roger W. and Morrison Liska, Judith;
Building Maintenance Forms, Checklists and
Procedures; Prentice Hall. USA, 2001.
76 Pedoman Efisiensi Energi untuk Desain Bangunan Gedung di Indonesia 3 - Studi Kasus dan Informasi Tambahan
x. Low, Kenny; United World College South East
Asia (East Campus) - A High Performance Building
Case Study; Presentation. Singapore; 2012.
y. Mariager, Kirsten; Duct and Piping Guideline;
Danida. Vietnam, 2011.
z. Mariager, Kirsten; Energy Management
Handbook for Key Energy Buildings in Vietnam,
Danida. Vietnam, 2012.
aa. Mendler ,Sandra; Odell, William and Lazarus,
Mary Ann; 2006; The HOK Guidebook to
Sustainable Design; Second Edition; John Willey &
Sons, Inc.. USA, 2006.
bb. Nasir, Rana Yusuf Ir., Proper Testing &
Commissioning Presentation. Indonesia, 2012.
cc. Nasir, Rana Yusuf and Sulistiyanto, Totok;
Achieving High Performance Building Through
Green Building Rating Tools in Indonesia; Green
Buildings and Green Growth - The Enabling Role
of Standards and Trade. USA. 2011
dd. Osso, Annetto and all; Sustainable - Building
Technical Manual Green Building Design,
Construction, and Operations; Produced by
Public Technology Inc. US Green Building Council.
USA, 1996.
ee. Raftery et all; Calibration of a Detailed
simulation model to Energy Monitoring System
Data: A Methodology and Case Study; 2009.
f. Sander, John; Lowering Energy Consumption
using Lubricants; http://www.worldcement.com,
2010.
gg. Santanamouris, M. at all; Energy and Climate
in the Urban Built Environment; James & James
(Schinece Publishers) Ltd. UK 2001.
hh. Satwiko, Prasasto and Istiadji, Djoko;
Computer Simulation of Low Energy Building
Case Studies, Launching Week EINCOPS-Danida,
Jakarta. Indonesia, 2011.
ii. Satwiko, Prasasto and Istiadji, Djoko;
Architecture: Computer Simulation of Low Energy
Building- Case studies , Atma Jaya Yogyakarta
University. Indonesia, 2010.
jj. SNI (Indonesia National Standardization
Agency) 6197-2011 Konservasi Energi pada
Sistem Pendahayaan.
kk. SNI (Indonesia National Standardization
Agency) 6390 2011 Konservasi Energi pada
Sistem Tata Udara.
ll. SNI (Indonesia National Standardization
Agency) 03-6572-2001 Tata Cara Perancangan
Sistem Ventilasi Dan pengkondisian Udara Pada
Bangunan Gedung.
mm. SNI (Indonesia National Standardization
Agency) 6389:2011 :Konservasi Energi Selubung
Bangunan Pada Bangunan Gedung.
nn. Statistics book of Electricity and Energy
Number 22 2011.
oo. Sulistiyanto, Totok; 2009; Overview of EE and
Green Programs in Indonesia; APEC Expert Group
on Energy Efciency & Conservation Meeting No.
34. Taipei, China, 2009.
pp. Sulistiyanto, Totok; Capacity Development
Plan for Energy Efciency and Conservation in
Buildings, Green Buildings and Green Growth:
The Enabling Role of Standards and Trade, 37th
Meeting of the APEC Expert Group on Energy
Efciency and Conservation (EGEE&C 37) &
Associated Meetings. Washington DC., USA,
2012.
qq. Tetlow, Karin; New Elevator Technology: The
Machine Room-Less Elevator.
rr. Wordsworth, P. ; Lees Building Maintenance
Management - 4th Edition; Blackwell Science.
Australia, 2011.
Energy Efficiency and Conservation
Clearing House Indonesia