Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENGUJIAN CRINKLE BENANG 1.

MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dari praktikum ini adalah untuk mengetahui besarnya antihan yang kembali ke bentuk semula ( snarling ), sedangkan tujuan dari praktikum ini adalah untuk menguju dan menghitung besarnya nilai snarling tersebut menggunakan alat Crinkle Factor Meter. 2. TEORI DASAR Benang staple kapas hasil pemintalan mempunyai antihan tertentu. Karena benang hasil pemintalan tidak mengalami pemantapan twist antihan maka benang tersebut mempunyai kecenderungan untuk kembali ke bentuk semula (snarling). Besarnya antihan yang kembali ke bentuk semula ini dapat dihitung dihitung dengan skala pada alat crinkle factor. Pada prinsipnya pengujian crinkle factor yaitu dengan cara menggantungkan benang dengan dua ujung dan panjang tertentu kemudian diberi beban 0,5 gram untuk memberi tegangan awal, kemudian setelah beban dilepas maka benang tersebut akan melilit dengan panang lilitan tertentu. Panjang lilitan ini dapat diukur dengan alat crincle factor. Crincle factor (kesetimbangan twist) ini berpengaruh pada kelancaran proses persiapan pertenunan dan proses pertenunan. Kringkle ini akan menyebabkan benang dapat melilit satu sama lain sehingga pada saat proses penghanian jika benang saling melilit menyebabkan benang tersebut putus saat di tarik melalui sisir hani. Pada proses pertenunan jika benang lusi saling melilit maka pada saat pembukaan mulut lusi benang tersebut akan putus. 3. ALAT DAN BAHAN a. Crincle Factor Meter b. Beban 0,5 gram 4. LANGKAH KERJA a. Memutar handle ke posisi Free b. Mengaitkan benang pada pen atas yang pertama lalu putar tombol pada posisi 1 Cramp c. Menarik benang lalu mengaitkan pada pen bawah yang pertama lalu menarik kembali dan mengaitkan pada pen atas yang terakhir, memperhatikan tegangan benang jangan terlalu kendor

d. Setelah sampai pada pen atas yang terakhir memutar tombol pada posisi 1-5 Cramp e. Semua benang yang dikaitkan pada pen bawah satu per satu dikait oleh beban sambil dilepaskan dari pen bawah sehingga beban akan menggantung dan benang akan melilit f. Mengamati lilitan yang dibentuk oleh benang tersebut

5. DATA PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN No. 1. 2. 3. 4. 5. Crincle I 3,2 3 3,6 3,2 3,4 II 3,6 3,4 3,4 3,2 3,2 III 3,4 3,2 3 3,2 3 Jumlah Rata-rata IV 3,2 2,6 3,2 2,2 1,2 V 1,2 1,2 0,2 0 0 14,6 13,4 13,4 11,8 10,8

xi
2,92 2,68 2,68 2,36 2,16 12,8 2,56

(x- x i)2 0,129 0,014 0,014 0,04 0,27 0,719 0,1438

6. DISKUSI Pada prinsipnya pengujian crinkle factor adalah dengan cara menggantungkan benang dengan dua ujung dan panjang tertentu kemudian diberi beban 0,5 gram untuk memberi tegangan awal, kemudian setelah beban dilepas maka benang tersebut akan melilit dengan panang lilitan tertentu. Panjang lilitan ini dapat diukur dengan alat crincle factor. Crincle factor (kesetimbangan twist) ini berpengaruh pada kelancaran proses persiapan pertenunan dan proses pertenunan. Cringkle ini akan menyebabkan benang dapat melilit satu sama lain sehingga pada saat proses penghanian bila benang saling melilit menyebabkan benang tersebut putus saat di tarik melalui sisir hani. Pada proses pertenunan jika benang lusi saling melilit maka pada saat pembukaan mulut lusi benang tersebut akan putus. 7. KESIMPULAN Dari data percobaan dan perhitungan dapat diperoleh kesimpulan, yaitu : 1. Cringkle Factor 2. SD 3. CV : 2,56 : 0,42 : 16,4 %

BAB II PENGUJIAN GRADE BENANG 1. MAKSUD DAN TUJUAN Menguji contoh uji dan membandingkannya secara visual dengan papan standar grade kapas sehingga dapat ditarik kesimpulan termasuk ke dalam grade manakah contoh uji tersebut. 2. TEORI DASAR Didalam perdagangan agaknya kenampakan dari benang merupakan faktor yang penting dalam penentuan mutu harga dari benang. Pemeriksaan kenampakan benang meliputi satu atau beberapa hal antara lain : a. Kebersihan, yaitu mengenal banyak sedikitnya kotoran ( kulit biji, sisa-sisa daun dan kotoran-kotoran lainnya ). b. Kerataan benang, yaitu meliputi juga banyak sedikitnya nep dan slub, rata tidaknya twist dan sebagainya. c. Berbulu atau tidak. d. Warna. e. Kilat. f. Regangan. g. Cacat. Memang sulit menilai kenampakan benang begitu saja karena sifat penilaian yang subjektif. Bias saja terjadi sesuatu benang dinilai bagus kenampakannya oleh seseorang tetapi jelek oleh seseorang yang lainnya. Untuk menyeragamkan penilaiana itu biasanya orang menggunakan alat pembanding. Dalam hal ini kenampakan tertentu misalnya nep atau cacat dapat dengan menghitung jumlah nep atau cacat tersebut setiap panjang tertentu. Grade benang kapas ditentukan dengan cara membandingkan secara visual dengan photo standard grade. Standar ini terdiri dari lima papan yang dibalut yang masing-masing berskala nomer benang dengan jumlah benang untuk masing-masing skala nomer seperti pada tabel berikut :

JUMLAH BENANG PER INCHI PADA GRADING BENANG Nomer benang ( Ne1 ) 3,0 -. 7,0 7,0 - 6,5 16,5 - 32,0 32,0 - 65,0 65,0 - 125,0 Benang per inchi 16 20 26 38 48

Masing-masing papan berisi photo empat macam standard grade yaitu A, B, C, D. 3. ALAT DAN BAHAN a. Yarn inspector b. Benang contoh uji c. Papan hitan ukuran 140 x 240 mm d. Foto grade standar benang kaps dari ASTM 4. CARA KERJA a. Benang digulung pada papan hitam yang berukuran 140 x 240 mm dengan alat Yarn inspector atau seriplane, dengan tegangan benang yang cukup dan jumlah benang per inchi sesuai dengan nomor benang yang di uji. b. Membandingkan hasil gulungan dengan standar grade secara visual. c. Mencatat grade - nya. d. Dilakukan sebanyak tiga kali. 5. DATA PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN GRADE BENANG DAN INDEX NYA Grade A dan diatasnya B+ B C+ C Penilaian Excellent Very good Good Average Fair Index 130 120 110 100 90

D+ D BG Ne1 31,55

Poor Very poor Bilon grade

80 70 60

Pengujian standard grade antara Ne1 16,5 32,0 HASIL UJI GRADE BENANG

No 1 2 3

Grade Benang B B C+

Index 110 110 100 320 106,67

(x- x i)2 11,08 11,08 44,48 66,64 32,31

Grade benangnya adalah C+

6. DISKUSI Pada prinsipnya, pengujian ini dilakukan dengan menggulung Benang pada alat yarn tester berbentuk papan hitam dengan diberi tegangan benang yang cukup dan jumlah benang per inchi sesuai dengan ketentuannya. Benang yang sudah digulung dibadingkan dengan secara visual dengan foto standar grade yang telah ada dari ASTM. 7. KESIMPULAN Dari data percobaan dan perhitungan dapat diperoleh kesimpulan, yaitu : Grade dari benang contoh uji adalah C+ Index rata-rata adalah 106,67 SD = 5,77 CV = 5,4%

BAB III PENGUJIAN TAHAN GOSOK BENANG 1. MAKSUD DAN TUJUAN Menguji sampai sejauh mana ketahanan contoh uji terhadap gosokan atau gesekan dengan alat TNO. 2. TEORI DASAR Pada proses pertenunan benang lusi akan mengalami gesekan, dengan sisir gun, dan dengan dropper. Oleh karena terjadinya banyak gesekan kemungkinan lusi putus dan berbulu itu lebih banyak, dengan kata lain kekuatan lusi menjadi berkurang atau menurun. Sehingga untuk menanggulanginya sebelum lusi dipasangkan pada mesin tenun, lusi itu di kanji terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan ketahanan gosok benang, untuk menidurkan bulu pada benang ketika pertenunan nanti, meningkatkan kekuatan tarik, dan membuat benang lebih rata. Pada pengujian ketahanan gesek benang staple pada prinsipnya adalah mengesekkan benang staple tersebut dengan rolkawat yang mempunyai kekasaran permukaan tertentu. Penggesekan ini merupakan simulasi penggesekan benang pada proses pertenunan. Pada saat digesek benang tersebut diberi beban yang bertujuan memberi tegangan pada benang karena pada proses pertenunan selain mengalami gesekan benang juga mengalami tarikan atau tegangan. Pada alat penggesek benang digunakan benang sebanyak 30 sampel untuk sekali percobaan. Pada alat penggesek benang dilengkapi dengan alat pencatat jumlah gesekan Hasil study menunjukkan bahwa twist pada benang yang sedang mengalami proses penggesekan dinaik turunkan oleh jarum jarum penggesek. Akibatnya benang berputar pada porosnya.Sementara itu benang menjadi berbulu terutama timbul dari bagian benang yang tebal karena adanya gesekan, beberapa serat tercabut dari benang dengan arah tegak membentuk gelang yang melingkari benang. 3. ALAT DAN BAHAN a. TNO ( abrasion yarn tester ) b. Beban 50 gram c. Contoh uji

4. CARA KERJA a. Memasang benang sesuai gambar berikut : keterangan : 1. rol pengait 2. Dudukan rol pengait 3. benang 4. benang 5. logam penggesek 6. dudukan batang 7. beban b. Memasang kawat penggesek /penyilang pada benang c. Memposisikan counter jumlah gesekan pada posisi nol d. Menjalankan mesin dengan menekan tombol ON e. Setiap terjadi putus benang menghentikan mesin dengan menekan tombol OFF dan mencatat jumlah gesekan/gesekkannya, mesin dijalankan lagi f. Melakukannya sampai seluruh benang putus
4 6 7 5 1 3 2

5. DATA PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN Tabel uji tahan gosok n 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kekuatan gosok 2 7 26 26 26 26 26 26 26 29 n 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kekuatan gosok 30 30 30 30 30 30 34 34 42 42 n 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kekuatan gosok 42 43 50 53 53 53 63 63 65 68

(Grafik terlampir)

x
6. DISKUSI Pada prinsipnya, pengujian ini dilakukan dengan proses penggesekan pada alat TNO yang menunjukan bahwa twist pada benang yang sedang mengalami proses penggesekan dinaik turunkan oleh jarum-jarum penggesek, akibatnya benang berputar pada porosnya. Sementara itu benang menjadi berbulu terutama timbul dari bagian-bagian benang yang tebal. Karena adanya gesekan, beberapa serat tercabut dari benang dengan arah tegak membentuk gelang yang melingkari benang. 7. KESIMPULAN Dari data percobaan dan perhitungan dapat diperoleh kesimpulan, yaitu : Ketahanan gosok rata-rata adalah 46 SD = 33 CV = 71,33%

BAB IV PENGUJIAN KEKUATAN TARIK DAN MULUR BENANG PER HELAI I. MAKSUD DAN TUJUAN Mengetahui beban maksimal yang mampu ditahan benang pada saat putus dan mulur benang maksimal akibat penarikan oleh beban tersebut II. TEORI DASAR Kekuatan benang adalah daya tahan benang terhadap gaya yang bekerja pada benang secara maksimal sehingga benang putus. Kekuatan benang biasanya diidentikkan dengan beban maksimal yang mampu ditahan oleh benang pada saat putus, oleh karena itu biasannya satuan kekuatan benang biasanya dinyatakan dalam satuan berat (gram atau pound). Sedang kan yang dimaksud benang (staple) yang putus yaitu apabila serat-serat penyusun benang telah saling slip dan terlepas. Pada saat pengujian kekuatan tarik biasanya sering dilakukan juga pengujian mulur benang. Pengujian kekuatan benang dapat dilakukan dengan berbagai metode(jenis alat) yaitu: Constant rate of traverse(pengujian kekuatan tarik dengan penarikan tetap) Constant rate of loading (pengujian kekuatan tarik dengan beban tetap) Constant rate of elongation (pengujian kekuatan tarik dengan mulur tetap) Pada pengujian menggunakan alat IPT( Inclane Plane Tester) termasuk jenis pengujian dengan metode pengujian kekuatan tarik dengan beban tetap. Pada prinsipnya pengujian ini, yaitu Benang dijepit pada dua penjepit (pasif dan aktif) penjepit aktif bergerak menarik benang sedangkan penjepit pasif hanya menahan tarikan benang dari gerakan penjepit aktif. Kemudian penjepit aktif dihubungkan dengan kereta beban yang diletakkan pada rel. Pada saat pengujian rel kereta akan bertambah miring sehingga kereta akan bergerak turun dan penjepit aktif akan bergerak dan menarik benang yang tertahan pada penjepit pasif. Pada saat benang tidak mampu menahan beban karena tarikan dari penjepit aktif maka benang tersebut akan putus. Pada pergerakan penjepit aktif atau kereta dicatat oleh spidol pada papan diagram beban terhadap mulur benang. Besarnya beban maksimal yang mampu ditahan oleh benang ditunjukkan pada grafik yang dibentuk spidol pada papan diagram kearah vertikal sedangkan mulur ditunjukkan pada diagram horizontal. III. ALAT DAN BAHAN a. IPT b. Contoh uji c. Beban

IV. LANGKAH KERJA a. Mengatur jarak jepit sesuai dengan yang ditentukan serat beban yang akan dipakai. b. Memasang kertas grafik pada papan grafik c. Memasang contoh uji (benang) pada penegang dan lewatkan pada kedua penjepit kemudian kencangkan penjepit aktif diikuti dengan penjepit pasif d. Memasang spidol pada grafik tepat titik nol e. Menekan tombol on f. Memutar tombol NTke sebelah kanan sebelah kiri h. menekan tombol OFF Cara mencari derajat elastisitas : a. Menentukan titik 80% dari kekuatan terendah (sesuaikan dengan permintaan) b. Mengerjakan sesuai point 3, 4, 5, dan 6 diatas. c. Pada saat spidol mencapai titik kekuatan 80 % handle ditarik kesebelah kiri dan tombol NTdiputar ke sebelah kiri d. Menekan tombol OFF V. DATA PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN 1. 2. No benang Beban : Ne1 31,55 : 500 g 3. Grafik terlampir g. Pada saat benang putus handle ditarik ke sebelah kiri dan memutar posisi tombol NTke

Tabel Kekuatan dan Mulur Mulur ( No Kekuatan ( g ) ( x x )2 Mulur ( cm ) ) ( x x )2

1 2 3

325 315 310 950 361,67

69,38 2,78 44,48 116,64 38,88

3,4 4,2 4 -

6,8 8,4 8 23,2 7,73

0,86 1,18 0,072 2,112 0,704

Perhitungan 1. Kekuatan SD =

(x x) 2 n 1
116 ,64 3 1

CV

SD 100 % x

27,63 100 % 316 ,67

= 7,63 2. SD Mulur

= 2,4 %

(x x) 2 = n 1
=

CV

SD 100 % x

2,112 3 1

1,02 100 % 7,73

= 1,02 3. Tenacity = =

= 13 %

rata - rata kekuatan (g) kehalusan (Tex)

316,67 g 18,89 Tex


kekuatan (g) Nm ( Km) 1000

= 16,76 g/Tex 4. Breaking Length = = 5. Derajat Elastisitas = =

316,67 52,93 = 16,76 Km 1000 AC - AB 100 % AC

1,8 - 1,2 100 % 1,8

= 50 % 6. Thougness indeks = tenacity mulur (%) = 16,76 7,73 = 64,77 g/Tex

7. 8. 9.

Kyp (kekuatan yield point) Myp (mulur yield point) Elastic Stiffness

= 80 % kekuatan terendah = 0,8 310 = 248 g = AC = 1,8 cm =

Kyp 100 248 100 = = 81,03 Td Myp 170,02 1,8

VI. DISKUSI Pada pengujian menggunakan alat IPT( Inclane Plane Tester) termasuk jenis pengujian dengan metode pengujian kekuatan tarik dengan beban tetap. Pada prinsipnya pengujian ini, yaitu Benang dijepit pada dua penjepit (pasif dan aktif) penjepit aktif bergerak menarik benang sedangkan penjepit pasif hanya menahan tarikan benang dari gerakan penjepit aktif. Kemudian penjepit aktif dihubungkan dengan kereta beban yang diletakkan pada rel. Pada saat pengujian rel kereta akan bertambah miring sehingga kereta akan bergerak turun dan penjepit aktif akan bergerak dan menarik benang yang tertahan pada penjepit pasif. Pada saat benang tidak mampu menahan beban karena tarikan dari penjepit aktif maka benang tersebut akan putus. Pada pergerakan penjepit aktif atau kereta dicatat oleh spidol pada papan diagram beban terhadap mulur benang. Besarnya beban maksimal yang mampu ditahan oleh benang ditunjukkan pada grafik yang dibentuk spidol pada papan diagram kearah vertikal sedangkan mulur ditunjukkan pada diagram horizontal.

VII. KESIMPULAN
Dari data percobaan dan perhitungan dapat diperoleh kesimpulan, yaitu : a. Besar beban pada kereta disesuaikan dengan kertas grafik yang digunakan. b. Pada pengujian dengan IPT didapat : Kekuatan rata-rata SD kekuatan CV kekuatan Mulur rata-rata SD mulur CV mulur Tenacity : 316,67 g : 7,63 : 2,4 % : 7,73 % : 1,02 : 13 % : 16,76 g/Tex Breaking length Derajat elastisitas Thougness index Elastic stiffness MYP KYP : 16,76 Km : 50 % : 64,77 g/Tex : 81,03 : 1,8 cm : 248 g

DAFTAR PUSTAKA 1. Moerdoko Wibowo, S. Teks, Dkk, Evaluasi Tekstil bagian fisika, Institut Teklnologi Tekstil, Bandung, 1973. 2. ITT, Standar Cara Pengujian dan Toleransi Benang Kapas, Bandung, 1968 3. Jurnal praktikum evaluasi tekstil II