Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH CASE IV MANAGEMEN BENCANA

Kelvin Mandela Annizada Intan Pratiwi Firman Satrioaji Rahma Cita Halida Succi Islami Putri Nurul Amalia Desi Megafini Asiah Alfariza Sofia Putri Pramita Ines Parmawati M. Nur Irdal Iqbal

(1010211003) (1010211110) (1010211027) (1010211080) (1010211088) (1010211113) (1010211136) (1010211138) (1010211140) (1010211143) (1010211187)

Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta 2014

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr. wb. Salam sejahtera bagi kita semua . Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kami pun mengucapkan terima kasih kepada Ibu Kristin selaku tutor pada tutorial kami, yang telah memberikan bimbingan dan arahan sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini adalah sebuah intisari dari hal-hal yang telah kita pelajari selama tutorial berlangsung. Makalah ini dibuat agar kita dapat mengerti lebih dalam tentang bahasan kita dalam tutorial dan sebagai acuan pembelajaran bagi kita semua. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat diambil hikmahnya. Kami sadar makalah ini masih jauh dari sebuah kata kesempurnaan, namun mudahmudahan kita semua dapat mengambil semua ajaran yang terdapat di dalamnya. Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian saudara.

Jakarta,

Januari 2014

Penyusun

PERAN DOKTER PUSKESMAS SAAT BENCANA


Pendahuluan Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia secara geografis terletak pada wilayah yang rawan terhadap bencana alam baik yang berupa tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, banjir, dan lainnya. Disamping itu, akibat dari hasil pembangunan dan adanya sosio kultural yang multidimensi, Indonesia juga rawan terhadap bencana karena ulah manusia seperti kerusuhan sosial maupun politik, kecelakaan transportasi, kecelakan industri, dan kejadian luar biasa akibat wabah penyakit menular. Dalam memberikan pelayanan kesehatan pada berbagai bencana alam setiap tingkat, jajaran kesehatan memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Pengorganisasian 1. Tingkat Pusat, penanggung jawab adalah Menteri Kesehatan dibawah koordinasi Ketua Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana yaitu Wakil Presiden. Pelaksanaan tugas di lingkungan Kemenkes dikoordinir oleh Sekretaris Jenderal dalam hal ini Kepala Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan 2. Tingkat Provinsi, penanggung jawab adalah Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Dibawah koordinasi Satuan Koordinasi Pelaksanaan Penanganan Bencana yang diketuai Gubernur. Bila diperlukan dapat meminta bantuan Kemenkes. Pelaksanaan tugas di lingkungan DinKes dikoordinir oleh unit yang ditunjuk oleh KaDinKes dengan Surat Keputusan. 3. Tingkat Kabupaten/Kota, penanggung jawab adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dibawah koordinasi Satuan Pelaksana Penanganan Bencana yaitu yang diketuai Bupati/Walikota. Dapat meminta bantuan pada provinsi. Pelaksanaan tugas di lingkungan DinKes Kabupaten/Kota dikoordinir oleh unit yang ditunjuk oleh KaDinKes dengan Surat Keputusan. 4. Tingkat Kecamatan, penanggung jawab adalah Kepala Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota. Dalam pelaksanaan tugas pelayanan kesehatan dalam penanganan bencana di Kecamatan adalah kepala Puskesmas, dibawah koordinasi Satuan Tugas Penanganan Bencana yang diketuai Camat Pelaksanaan Kegiatan 1. Pra Bencana Kepala Puskesmas melakukan kegiatan:

a) Membuat peta geomedik daerah rawan bencana b) Membuat jalur evakuasi c) Mengadakan pelatihan d) Invetarisasi sumber daya sesuai dengan potensi bahaya yang mungkin terjadi e) Menerima dan menindaklanjuti informasi peringatan dini (Early Warning System) untuk kesiapsiagaan bidang kesehatan f) Membentuk tim kesehatan lapangan yang tergabung dalam satgas g) Mengadakan koordinasi lintas sektor

2. Saat Bencana Kepala Puskesmas di lokasi bencana melakukan kegiatan: a) Beserta staf menuju lokasi bencana dengan membawa peralatan yang diperlukan untuk melaksanakan triase dan memberikan pertolongan pertama b) Melaporkan kepada Kadinkes Kabupaten/Kota tentang terjadinya bencana c) Melakukan Initial Rapid Health Assessment(Penilaian Cepat Masalah Kesehatan Awal) d) Menyerahkan tanggung jawab kepada Kadinkes Kabupaten/Kota apabila telah tiba di lokasi e) Apabila kejadian bencana melampaui batas wilayah kecamatan, maka penanggung jawab adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

3. Pasca Bencana a) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar di penampungan dengan mendirikan Pos Kesehatan Lapangan b) Melaksanakan pemeriksaan kualitas air bersih dan pengawasan sanitasi lingkungan c) Melaksanakan surveilans penyakit menular atau gizi buruk yang mungkin timbul d) Segera melapor ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bila terjadi KLB penyakit menular dan gizi buruk e) Memfasilitasi relawan, kader, dan petugas pemerintah tingkat kecamatan dalam memberikan KIE kepada masyarakat luas, bimbingan kepada

kelompok yang berpotensi mengalami gangguan stress pasca trauma, memberikan konseling pada individu yang berpotensi mengalami gangguan stress pasca trauma f) Merujuk penderita yang tidak dapat ditangani dengan konseling awal dan membutuhkan konseling lanjut, psikoterapim atau pelayanan lebih spesifik.

POST TRAUMATIC STRESS DISORDER (PTSD)


Peristiwa-peristiwa traumatik dapat terjadi dalam kehidupan seseorang tanpa dapat diprediksi sebelumnya dan tanpa adanya persiapan apapun. Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda ketika dihadapkan pada peristiwa traumatik seperti ini. Pada beberapa orang, peristiwa traumatik ini membuatnya menjadi trauma. Tidak mampu menjalankan kesehariannya seperti biasa (sebelum peristiwa tersebut terjadi), bayangan akan peristiwa tersebut senantiasa kembali dalam ingatannya dan mengusiknya, juga merasa tak mampu

mengatasinya. Mereka yang mengalami hal demikian mungkin mengalami apa yang disebut dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Post-traumatic stress disorder dapat mempengaruhi mereka yang secara pribadi yang mengalami bencana atau musibah besar, mereka yang menjadi saksi atas kejadian tersebut, dan mereka yang membantu dalam kejadian tersebut, termasuk pekerja sosial dan petugas keamanan. Bahkan hal ini dapat terjadi di kalangan teman atau kerabat dari orang yang mengalami trauma (Smith & Segal. 2008). Post Traumatic Stress Disorder adalah gangguan kecemasan yang dapat terbentuk dari sebuah peristiwa atau pengalaman yang menakutkan/mengerikan, sulit dan tidak menyenangkan dimana terdapat penganiayaan fisik atau perasaan terancam (American Psychological Association, 2004). Post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah sebuah gangguan yang dapat terbentuk dari peristiwa traumatik yang mengancam keselamatan anda atau membuat anda merasa tidak berdaya (Smith & Segal, 2008).

Peristiwa yang dapat dikategorikan sebagai peristiwa traumatik pada umumnya mengandung tiga buah elemen sebagai berikut : 1. Kejadian tersebut tidak dapat diprediksi (It was unexpected) 2. Orang yang mengalami kejadian tersebut tidak siap dihadapkan pada kondisi / kejadian demikian (The person was unprepared) 3. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh orang tersebut untuk mencegah terjadinya peristiwa tersebut (There was nothing the person could do to prevent it from happening)

Peristiwa traumatik yang dapat mengarah kepada munculnya PTSD termasuk: Perang (War)

17

Pemerkosaan (Rape) Bencana alam (Natural disasters) Kecelakaan mobil / Pesawat (A car or plane crash) Penculikan (Kidnapping) Penyerangan fisik (Violent assault) Penyiksaan seksual / fisik (Sexual or physical abuse) Prosedur medikal - terutama pada anak-anak (Medical procedures - especially in kids) simptom PTSD telah dapat diidentifikasi dan ditulis dalam the 4th edition of the

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV).

1. Merasakan kembali peristiwa traumatik tersebut (Re-Experiencing Symptoms) Secara berkelanjutan memiliki pikiran atau ingatan yang tidak menyenangkan mengenai peristiwa traumatik tersebut (Frequently having upsetting thoughts or memories about a traumatic event). Mengalami mimpi buruk yang terus menerus berulang (Having recurrent nightmares). Bertindak atau merasakan seakan-akan peristiwa traumatik tersebut akan terulang kembali, terkadang ini disebut sebagai "flashback" (Acting or feeling as though the traumatic event were happening again, sometimes called a "flashback"). Memiliki perasaan menderita yang kuat ketika teringat kembali peristiwa traumatik tersebut (Having very strong feelings of distress when reminded of the traumatic event). Terjadi respon fisikal, seperti jantung berdetak kencang atau berkeringat ketika teringat akan peristiwa traumatik tersebut (Being physically responsive, such as experiencing a surge in your heart rate or sweating, to reminders of the traumatic event).

2. Menghindar (Avoidance Symptoms) Berusaha keras untuk menghindari pikiran, perasaan atau pembicaraan mengenai peristiwa traumatik tersebut (Making an effort to avoid thoughts, feelings, or conversations about the traumatic event).

Berusaha keras untuk menghindari tempat atau orang-orang yang dapat mengingatkan kembali akan peristiwa traumatik tersebut (Making an effort to avoid places or people that remind you of the traumatic event). Sulit untuk mengingat kembali bagian penting dari peristiwa traumatik tersebut (Having a difficult time remembering important parts of the traumatic event). Kehilangan ketertarikan atas aktifitas positif yang penting (A loss of interest in important, once positive, activities). Merasa "jauh" atau seperti ada jarak dengan orang lain (Feeling distant from others). Mengalami kesulitan untuk merasakan perasaan-perasaan positif, seperti kesenangan / kebahagiaan atau cinta / kasih sayang ( Experiencing difficulties having positive feelings, such as happiness or love). Merasakan seakan-akan hidup anda seperti terputus ditengah-tengah - anda tidak berharap untuk dapat kembali menjalani hidup dengan normal, menikah dan memiliki karir (Feeling as though your life may be cut short - you dont expect to live a normal life span, get married, have a career).

3. Waspada (Hyperarousal Symptoms) Sulit untuk tidur atau tidur tapi dengan gelisah (Having a difficult time falling or staying asleep). Mudah / lekas marah atau meledak-ledak (Feeling more irritable or having outbursts of anger). Memiliki kesulitan untuk berkonsentrasi (Having difficulty concentrating). Selalu merasa seperti sedang diawasi atau merasa seakan-akan bahaya mengincar di setiap sudut "Feeling constantly "on guard" or like danger is lurking around every corner". Menjadi gelisah, tidak tenang, atau mudah "terpicu" / sangat "waspada" (Being "jumpy" or easily startled).

Penanganan 1. Psikoterapi : terapi perilaku, desensitisasi, hipnoterapi. 2. Antidepresan 3. Antiansietas