Anda di halaman 1dari 43

ASSALAMUALAIKUM WR. WB.

IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAERAH X DENGAN MENGGUNAKAN METODE GEOMAGNETIK


DEWO KUSUMO ( 1110097000019 ) NURUL AQIDAH ( 1110097000016 ) APRIANTI NURANI ( 1110097000024 )

PENDAHULUAN
Ilmu geofisika merupakan bagian dari ilmu bumi yang mempelajari bumi dengan menggunakan prinsip-prinsip fisika. Penelitian geofisika digunakan untuk mengetahui kondisi bawah permukaan bumi yang melibatkan pengukuran di atas permukaan bumi dari parameter-parameter fisika yang dimiliki oleh batuan yang berada di bawah permukaan bumi. Maka dari pengukuran tersebut akan dapat diketahui bagaimana sifat-sifat dan kondisi di bawah permukaan bumi baik secara vertikal ataupun secara horizontal. Metode magnet merupakan salah satu metode yang digunakan dalam teknik geofisika. Pengukuran dengan menggunakan metode magnet yang paling banyak dilakukan adalah dengan menggunakan alat PPM (Proton Precession Magnetometer). Metode ini pada dasarnya dilakukan berdasarkan pengukuran anomali geomagnetik yang diakibatkan oleh perbedaan kontras suseptibilitas, atau permeabilitas magnetik suatu jebakan dari daerah magnetik di sekelilingnya. Disini perbedaan permeabilitas itu sendiri pada dasarnya diakibatkan oleh perbedaan distribusi mineral yang

Teori Dasar
1. Konsep Metode Magnetik

Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi intensitas medan magnetik di permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya variasi distribusi benda termagnetisasi di bawah permukaan bumi (suseptibilitas). Variasi yang terukur (anomali) berada dalam latar belakang medan yang relatif besar. Variasi intensitas medan magnetik yang terukur kemudian dijadikan dasar bagi pendugaan keadaan geologi yang mungkin. Data pengamatan magnetik lebih menunjukkan sifat residual yang kompleks.Dengan demikian, metode magnetik memiliki variasi terhadap waktu jauh lebih besar. Pengukuran intensitas medan magnetik bisa dilakukan melalui darat, laut dan udara. Metode magnetik sering digunakan dalam eksplorasi pendahuluan minyak bumi, panas bumi dan batuan mineral serta bisa diterapkan pada pencarian prospeksi

2. Gaya Magnetik Dasar dari metode magnetik adalah gaya Coulomb antara dua kutub magnetik m1 dan m2 (e.m.u) yang berjarak r (cm) dalam bentuk perumusan sebagai berikut :

3. Momen Magnetik Bila terdapat dua buah kutub magnet yang berlawanan +m dan m terpisah sejauh l, maka besar momen magnetiknya adalah :

Dengan adalah sebuah vektor dalam arah vektor unit berarah dari kutub negatif ke kutub positif. Momen magnet mempunyai satuan dalam cgs adalah gauss.cm3 atau emu dan dalam SI mempunyai satuan A.m2.

4. Kuat Medan Magnetik Kuat medan magnetik ialah besarnya medan magnetik pada suatu titik dalam ruangan yang timbul akibat adanya kuat kutub yang berada sejauh dari titik tersebut. Kuat medan magnet didefinisikan sebagai gaya persatuan kuat kutub magnet.

5. Intensitas Kemagnetan Sejumlah benda-benda magnet dapat dipandang sebagai sekumpulan benda magnetik. Apabila benda magnet tersebut diletakkan dalam medan luar, benda tersebut menjadi termagnetisasi karena induksi. Dengan demikian, intensitas kemagnetan dapat didefinisikan sebagai tingkat kemampuan menyearahkan momen-momen magnetik dalam medan magnetik luar dapat pula dinyatakan sebagai momen magnetik persatuan volume.

6. Suseptibilitas Kemagnetan Kemudahan suatu benda magnetik untuk dimagnetisasi ditentukan oleh suseptibilitas kemagnetan yang dirumuskan dengan persamaan : Besaran yang tidak berdimensi ini merupakan parameter dasar yang digunakan dalam metode magnetik. Nilai suseptibilitas magnetik dalam ruang hampa sama dengan nol karena hanya benda berwujud yang dapat termagnetisasi

7. Jenis-jenis Magnet Pada Batuan a. Diamagnetik Merupakan jenis magnet dimana jumlah elektron dalam atomnya berjumlah genap dan semuanya sudah saling berpasangan sehingga efek magnetisasinya paling kuat dalam medan polarisasi Contoh: kuarsa, marmer, air, kayu,

b. Paramagnetik Pada paramagnetik ini medan magnetnya hanya akan ada jika dimagnetisasi oleh medan magnet dari luar saja, sehingga jika pengaruh medan magnet dari luarnya dihilangkan maka pengaruh medannya akan menghilang juga.

c. Ferromagnetik Pada jenis magnet ini sebagian besar elektron tidak memiliki pasangan, sehingga sangat mudah terinduksi medan magnet dari luar serta memiliki sifat suseptibilitas magnetik yang besar. d. Antiferromagnetik Merupakan jenis material yang tidak umum seperti superkonduktor, pada jenis ini hampir mirip dengan ferromagnetik hanya saja spin magnetiknya bernilai lebih kecil atau sama, arah spin magnetiknya berlawanan dan tidak memiliki gaya magnet.

8. Medan Magnet Bumi Medan magnet bumi terkarakterisasi oleh parameter fisis atau disebut juga elemen medan magnet bumi,yang dapat diukur yaitu meliputi arah dan intensitas kemagnetannya. Parameter fisis tersebut meliputi: a. Deklinasi (D), yaitu sudut antara utara magnetik dengan komponen horizontal yang dihitung dari utara menuju timur b. Inklinasi(I), yaitu sudut antara medan magnetik total dengan bidang horizontal yangdihitung dari bidang horizontal menujubidang vertikalke bawah. c. Intensitas Horizontal (H), yaitu besar dari medan magnetik total pada bidang horizontal. d. Medan magnetiktotal (F),yaitu besar dari vector medan magnetik total. Medan magnet utama bumi berubah terhadap waktu. Untuk menyeragamkan nilai-nilai medan utama magnet bumi, dibuatlah standar nilai yang disebut International Geomagnetics Reference Field (IGRF) yang diperbarui setiap lima tahun sekali. Nilai-nilai IGRF tersebut diperoleh dari hasil pengukuran rata-rata pada daerah luasan sekitar 1 juta km2 yang dilakukan dalam

9. Koreksi Data Medan Magnetik Untuk mendapatkan anomali medan magnetik yang menjadi target survei, maka data magnetik yang diperoleh harus dibersihkan atau dikoreksi dari pengaruh beberapa medan magnetik yang lain. Secara umum beberapa koreksi yang dilakukan dalam survei magnetik meliputi a. Koreksi Harian Koreksi harian ini dilakukan terhadap data magnetik terukur untuk menghilangkan pengaruh medan magnet luar atau variasi harian.

B. Koreksi IGRF Koreksi ini dilakukan terhadap data medan magnet terukur untuk menghilangkan pengaruh medan utama magnet bumi dimana medan magnet IGRF adalah referensi medan magnet di suatu tempat. Dengan demikian nilai anomali medan magnet total atau target yang disurvei adalah :

10. Anomali Magnetik Pada Struktur Patahan Peristiwa patahan pada lapisan litosfer digambarkan seperti magnet yang terbelah menjadi dua bagian. Apabila pada peristiwa patahan terjadi perubahan sifat fisis batuan seperti terjadinya peristiwa metamorfosa batuan atau terjadi kenaikan lapisan akibat tekanan pada lapisan tersebut, maka akan terjadi perubahan nilai anomali magnetik. Tetapi, jika tidak terdapat perubahan fisis batuan maupun perubahan posisi, maka hal ini tidak akan menimbulkan perubahan anomali. Perubahan anomali magnetik juga dapat diakibatkan oleh hadirnya batuan pengisi rekahan patahan, dimana batuan tersebut adalah batuan mineral ataupun intrusi lava. Jika rekahan patahan terisi oleh batuan intrusi, maka hal ini akan menimbulkan lonjakan anomali. Perubahan nilai anomali juga dapat dikarenakan adanya perbedaan lapisan dimana terdapat perbedan kontras nilai suseptibilitas antara lapisan. Adanya perbedaan lapisan ini bisa dikarenakan adanya kenaikan lapisan akibat terjadinya patahan ataupun karena adanya lapisan baru hasil dari proses pengendapan.

METODE PENELITIAN 11. Peralatan Penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain 1 set komputer/ laptop dan software penunjang (Microsoft Excel 2010, Surfer 9, Geosoft dan Mag2dc). 12. Tahapan Penelitian Tahapan dalam penelitian ini berlangsung mulai dari pengolahan data dengan menggunakan software Surfer 9 dan Geosoft, dilanjutkan dengan filtering Upward Continuation dan Reduce to Pole dengan menggunakan software Geosoft, kemudian dilakukan penarikan penampang pada kontur yang telah dibuat di Surfer 9 untuk menjadi data masukkan ke software Mag2dc, lalu pemodelan data ke depan (forward modelling) berupa pemodelan kedepan dua dimensi data magnetik dengan software Mag2dc dan diakhiri dengan interpretasi .

13. Pembuatan Peta Kontur dengan software Surfer 9 dan Geosoft Pada tahap ini data dari Excel diolah untuk mendapatkan gambaran peta kontur data anomali magnetik lapangan daerah penelitian metode geomagnetik dengan menggunakan software Surfer 9 dan Geosoft. Dalam pembuatan peta kontur ini memakai dua software yang berfungsi sebagai perbandingan dalam mendapatkan gambaran peta kontur.

9189000

9188000

9187000

9186000

9185000

9184000

9183000

775000

776000

777000

778000

779000

780000

781000

Peta Kontur Anomali Magnetik Daerah Penelitian dengan Surfer 9

Peta Kontur Anomali Magnetik Daerah Penelitian dengan Geosoft

14. Proses Filtering dengan menggunakan software Geosoft Setelah mendapatkan nilai anomali magnet lokasi penelitian, dilakukan proses filtering pada peta kontur anomali. Hal ini dilakukan untuk memperhalus profil anomali yang diperoleh atau juga untuk menghilangkan efek-efek yang tidak diinginkan. Filter yang dipakai untuk mengolah data anomali adalah Upward Continuation, dimana filter ini berfungsi untuk menekan noise-noise atau benda-benda kecil yang memiliki sifat kemagnetan yang letaknya dekat dengan permukaan. Dan filter selanjutnya yaitu Reduce to Pole atau reduksi kekutub, hal ini dilakukan untuk mentransformasikan medan magnet dari tempat pengukuran menjadi medan magnet di kutub utara magnetik. Proses penerapan kedua filter dilakukan dengan menggunakan software Geosoft, dimana proses filter Upward Continuation dan Reduce to Pole diterapkan

Peta Kontur Filter Upward Continuation dengan Geosoft

Peta Kontur Filter Reduce to Pole dengan Geosoft

15. Penarikan penampang pada kontur di software Surfer 9 Pada tahap ini, setelah melakukan penarikan penampang, selanjutnya dilakukan proses digitize dan slice. Hasil dari digitize dan slice adalah data berupa nilai anomali magnetik daerah penelitian dan jarak lintasan pada penampang yang telah dibuat, yang merupakan data masukan untuk program Mag2dc sebagai suatu penampang melintang anomali. Setelah model anomali tergambar, maka dapat dilakukan pemodelan struktur bawah permukaan dengan memasukan beberapa parameter, antara lain : suseptibilitas batuan, kedalaman dan lainnya.

XY 9189000

9188000

X' Y'

9187000

9186000

9185000

9184000

9183000

775000 776000 777000 778000 779000 780000 781000 Peta Kontur Anomali Magnetik setelah dilakukan penarikan penampang

Line Pemodelan Lokasi X (Surfer)

Total Magnetic Intensity Lokasi X (Geosoft)

16. Pemodelan Ke Depan (Forward Modelling) Pada tahap ini, dilakukan analisa pada penampang melintang anomali magnetik lokal daerah penelitian. Dalam melakukan penarikan garis penampang perlu diperhatikan bentuk dari konturnya atau pola anomalinya.Bentuk yang dipertimbangkan adalah berupa tinggian atau rendahan anomali, kerapatan kontur sehingga dapat diperkirakan pola struktur geologi bawah permukaan yang berupa suatu patahan, suatu intrusi atau berupa lipatan.Dalam penentuan garis penampang harus berarah tegak lurus terhadap garis kontur, sehingga dapat diperkirakan pola struktur geologi dengan baik.

Contoh Penampang Melintang Anomali Magnetik

Pada tahap ini dilakukan interpretasi data dari model yang telah kita buat. Interpretasi data dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : a. Interpretasi Kuantitatif Interpretasi ini didasarkan pada analisa peta kontur anomali magnetik lokal yang telah diolah dan dilakukan filtering sebelumnya.Interpretasi ini bertujuan untuk menduga ada tidaknya benda penyebab anomali dan untuk melokalisir daerah yang mempunyai anomali. b. Interpretasi Kualitatif Interpretasi ini dilakukan dengan bantuan program Mag2dc, karena hasil dari Mag2dc berupa suseptibilitas suatu batuan. Interpretasi ini bertujuan untuk menentukan bentuk atau model dan kedalaman benda anomali atau struktur geologi melalui pemodelan matematis. Interpretasi kualitatif dilakukan dengan software Mag2dc. Pemodelan pada Mag2dc menggunakan metode Forward Modeling (pencocokan profile model dengan profil data lapangan) dengan metode Trial and Error atau cobacoba.

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Metode Geomagnet dan Struktur Patahan Metode geomagnetik adalah salah satu metode geofisika yang dijadikan survei awal sebelum melakukan survei lebih lanjut. Metode geomagnet ini dilakukan dengan cara mengukur intensitas medan magnet yang terjadi pada batuan-batuan yang ada disekitarnya akibat adanya proses induksi medan magnet bumi yang sudah ada secara alami di bumi ini. Metode ini digunakan untuk mengetahui keadaan struktur perlapisan bawah tanah. Berdasarkan dari asalnya, gaya-gaya geologi dapat dibagi menjadi dua, yaitu gaya dari luar (eksogen) dan gaya dari dalam (endogen). Karena pengaruh gaya eksogen dan endogen ini, batuan dapat terdeformasi atau berubah bentuk. Batuan yang terdeformasi ini disebut batuan yang mempunyai struktur batuan. Deformasi ini dapat berbentuk fold (lipatan) atau fault (sesar).

2. Data Geologi Survei geologi adalah survei yang bertujuan untuk meneliti manifestasi yang muncul ke permukaan seperti singkapan batuan ataupun struktur patahan yang terlihat jelas didaerah penelitian. Pada dasarnya, survei geologi merupakan penelitian awal dari rangkaian eksplorasi yaitu untuk mendapatkan data geologi disekitar daerah penelitian yang berfungsi untuk proses interpretasi pada tahap lebih lanjut. Berdasarkan peta geologi skala 1 : 100.000 lembar Arjawinangun, Bandung dan Garut yang dikompilasi oleh Ratman & Gafor (1998) menjadi peta geologi skala 1 : 500.000, tataan dan uturan batuan penyusun di wilayah Kabupaten Garut bagian utara didominasi oleh material vulkanik yang berasosiasi dengan letusan (erupsi) gunung api, diantaranya erupsi Gunung Cikuray, Gunung Papandayan dan Gunung Guntur. Erupsi tersebut berlangsung beberapa kali secara sporadik selama periode kuarter (2 juta tahun) lalu, sehingga menghasilkan material vulkanis berupa breksi, lava, lahar dan tufa yang mengandung kuarsa dan tumpuk menumpuk pada dataran antar gunung di Garut.

Struktur Geologi
Dari peta geologi yang disusun oleh Alzwar dkk, (1989) struktur geologi yang dijumpai di daerah pemataan adalah lipatan, sesar dan kekar. Lipatan yang terbentuk berarah sumbu barat barat laut-timur tenggara pada Formasi Bentang dan utara baratlaut-selatan tenggara pada Formasi jampang.Perbedaan arah sumbu inidisebabkan oleh perbedaan tahapan dan intensitas tektonika pada kedua satuan tersebut. Sesar yang dijumpai adalah sesar normal dan sesar geser, berarah jurus umumnya barat daya-timur laut.Sesar ini melibatkan batuanbatuan Tersier dan Kuarter, sehingga disebutkan bahwa sesar tersebut sesar muda.

Stratigrafi
Berdasarkan peta geologi yang disusun oleh M. Alzwar dkk (1989), dan Silitonga (1973) yaitu masing-masing peta geologi lembar Garut dan Bandung (Gambar 3), daerah pemetaan tersusun oleh batuan vulkanik, batuan sedimen dan setempat batuan terobosan. Batuan yang tertua dan tersingkap di daerah pemetaan adalah lava dan breksi andesit, serta tufa yang setempat terpropilitisasi.Sisipan batu gamping yang dijumpai berumur Oligosen Akhir hingga bagian Awal

Geomorfologi Bentang alam Kabupaten Garut Bagian Utara terdiri dari atas dua aransemen bentang alam, yaitu : Dataran dan cekungan antar gunung berbentuk tapal kuda membuka ke arah utara. Rangkaian-rangkaian gunung api aktif yang mengelilingi dataran dan cekungan antar gunung, seperti komplek G. Guntur - G. Haruman - G. Kamojang di sebelah barat, G. Papandayan - G. Cikuray di sebelah selatan tenggara, dan G. Cikuray - G. Talagabodas - G. Galunggung di sebelah timur. Bentang alam di sebelah Selatan terdiri dari dataran dan hamparan pesisir pantai dengan garis pantai sepanjang 80 km

Lintasan X-X

Lintasan X-X terdapat berbagai macam batuan penutupnya, pada profil lintasan X-X didapat nilai suseptibilitas yang rendah sekitar -0.318 yang diduga batuan tersebut merupakan batuan sedimen. Pada lintasan ini terdapat satu puncak anomali magnet yang cenderung lebih tinggi dari daerah sekitar.Oleh karena itu, adanya kenaikan dan penurunan anomali secara drastis diduga dari adanya patahan dan juga batuan yang lebih bersifat magnetik dibandingkan dengan sekitarnya yang ditandai dengan kenaikan anomali yang sangat tinggi pada bagian tengah. Pada lintasan X-X diduga terjadi sesar normal yang disebut juga sesar turun yang disebabkan seolah-olah menarik atau memisahkan kerak.Pada bagian atas lapisan diduga merupakan batuan beku seperti tufa andesit yang memiliki nilai suseptibilitas 0.0239 dan juga karena posisinya dekat dengan permukaan

Lalu pada lapisan dibawahnya diduga merupakan batuan beku (Igneous Rock) yang mempunyai nilai suseptibilitas -0.112 dan diduga bercampur dengan sebagian batuan beku sejenis.Pada lapisan di bawahnya juga diduga masih merupakan batuan beku karena nilai suseptibilitasnya berkisar 0.4981 dan juga diduga bercampur dengan batuan sedimen pada bagian tengahnya.Kemudian pada lapisan di bawahnya lagi diduga merupakan batuan sedimen dengan nilai suseptibilitas berkisar -0.318 yang diduga juga bercampur dengan batuan diorite pada bagian tengahnya dengan nilai suseptibilitas 0.0872. Pada lintasan X-X diduga terjadi sesar normal horst yaitu sesar yang hangingwallnya relatif turun terhadap foot wall.Atau sebaliknya, dapat dikatakan foot wall relatif naik terhadap hanging wall-nya.

Sesar Normal Horst Profil Lintasan X-X


Footwall Block

Hanging-wall Block

Hanging-wall Block

Lintasan Y-Y

Lintasan Y-Y terdapat berbagai macam batuan penutupnya, pada profil lintasan X-X terlihat batuanbatuannya masih sama dari lintasan sebelumnya

yaitu pada bagian atas dekat permukaan diduga batuan andesit dengan nilai suseptibilitas 0.0490 dan lapisan di bawahnya yang diduga batuan beku dan sedimen dengan nilai suseptibilitas 0.0387, 0.6198 dan -0.531. Pada bagian bawah tengah diduga diduga merupakan batuan diorite dengan nilai suseptibilitas 0.1024 yang bercampur dengan batuan sedimen.Dan pada horst tidak terjadi perubahan yang terlalu signifikan, karena jenisjenis lapisan batuannya masih mirip dengan lintasan sebelumnya.

Lintasan Z-Z

Pada Lintasan Z-Z masih didomonasi dengan batuan yang sama dengan batuan pada lintasan X-X dan Y-Y. Pada bagian atas dekat permukaan diduga masih didominasi oleh batuan yang sama yaitu batuan andesit dengan nilai suseptibilitas 0.0301. Pada bagian di bawahnya juga diduga masih didominasi dengan batuan beku bercampur batuan sedimen dengan nilai suseptibilitas -0.189, 0,1118 dan -0.501. Kemudian pada bagian bawah tengah juga diduga masih merupakan batuan diorite dengan nilai suseptibilitas 0.0152. Pada horst terjadi perubahan, yaitu pada bagian tengah semakin melebar bagian sesarnya atau patahannya antara Footwall Block dengan Hanging-wall Block. Kejadian ini diduga karena adanya aktivitas gaya-gaya geologi

Lintasan Gabungan

Tabel Nilai Suseptibilitas Magnetik Batuan dan Mineral (Telford, 1991)

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dari pemodelan data regional magnetik daerah D dapat diambil kesimpulan yaitu : Metode magnetik merupakan metode yang berdasarkan pengukuran anomali magnetik yang diakibatkan oleh perbedaan kontras suseptibilitas atau permeabilitas magnetik suatu jebakan dari daerah magnetik di sekelilingnya. Karakteristik dari metode geomagnetik yang diduga terdapat struktur patahan yang ditandai dengan adanya perubahan nilai anomali magnetik yang cukup besar dibanding dengan daerah sekitarnya. Dari pemodelan yang dibuat menggunakan Mag2dc, pada lokasi X diduga terdapat patahan yang berupa sesar normal yaitu Horst.

Pada Lokasi X, formasi batuan yang tersusun pada tiap lintasan dalam satuan SI yaitu :
Lintasan Nama Batuan X-X' Y-Y' Z-Z'

Batuan Andesit
Batuan Beku

0.0239
-0.112 0.4981

0.0490
0.0387 0.6198 -0.531

0.0301
-0.189 0.1118 -0.501

Batuan Sedimen
Mineral (Diorite)

-0.318

0.0872

0.1024

0.0152

TERIMA KASIH
WASSALAMUALAIKU M WR. WB.