Anda di halaman 1dari 75

Obat obat antibiotik

Pengolongan antibiotik
a.

Berdasarkan mekanisme kerja


Zat bakterisid, yaitu zat yang pada dosis biasa berkhasiat mematikan kuman (bakteri) contoh obat (penisilin, sefalosporin, polimiksin, basitrasin,rimpfapicin, asam nalidiksat, dan gol. kinolon, gol. Aminoglikosida, nitrofurantoin, INH, kotrimoksazol. Zat bakteriostatis, yaitu zat yang pada dosis biasa berkhasiat menghentikan pertumbuhan dan perbanyakan kuman, pemusnahan mikrba dilakukan oleh sistem imun dari tubuh sendiri contoh obat sulfonamid, kloramfenikol, tetrasiklin, makrolida, linkomisisn, asam fusidat.

Pengertian
Kemoterapi : terapi mengunakan obat obat kimiawi

untuk memberantas penyakit infeksi karena mikroorganisme : bakteri, fungi, virus, virus,protozoa, juga sel sel kanker (obat sitostatika), termasuk juga dalam golongan ini adalah obat cacing. Antibiotik : zat zat kimia yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman dengan mekanisme sebagai anti metabolit.

b.

Berdasarkan luas aktivitasnya


Antibiotika spektrum sempit (narrow-spectrum) yaitu antibiotika yang aktif terhadap beberapa kuman saja contoh : penisilin, eritromisin, klindamisin, kanamisin, asam fusidat (hanya bekerja terhadap kuman gram-positif); streptomisin, gentamisin, polimiksin-B, dan asam nalidiksat (hanya aktif terhadap bakteri gram negatif) Antibiotk spektrum luas (broad-spektum) yaitu antibiotik yang bekerja terhadap lebih banyak kuman baik bakteri gram positif maupun gram negati. Contoh obat sulfonamida, ampisilin, sefalosforin, kloramfenikol, tetrasikiln, rifampisin

Pengolongan bakteri
Pengolongan bakteri yang mempunyai makna

(manfaat) dalam poses terapi adalah pengolongan menurut dr. gram, secara garis besar bakteri dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu :
Bakteri gram positif : yaitu bakteri dengan stuktur

dinding sel tertentu sehingga memberikan warna (positif) terhadap pengecatan gram Bakteri gram negatif : yaitu bakteri dengan strutur dinding sel tertentu yang negatif terhadap pengecatan gram.

Mekanisme kerja antibiotika


Antibiotika melakukan aktifitasnya terutama

adalah dengan menghambat sintesa materi penting dari bakteri yaitu dinding sel, membran sel, protein sel, DNA/RNA dsb.

Pemilihan obat
Jika harus dipilih beberapa obat yang mempunyai

aktivitas dan sifat farmakokinetik kurang lebih sama maka dipilih obat dengan pertimbangan :
Zat bakterisid lebih dipilih daripada bakteriostatik Zat dengan daya penetrasi yang bagus kedalam organ atau

cairan cerebro spinal lebih disukai karena obat lebih mudah diserap kedalam organ tersebut contoh obat yg penetrasi pda jaringan bagus (amosilin, linkosin, rifampisin penetrasi kedalam jaringan mulut dan tenggorokan, penetrasi pada ccs :sulfonamid, kloramfenikol, rifampisin Zat Zat dengan pemakaian 1-2 kali sehari lbh disukai dari pada 3-4 kali sehari yang terikat protein plasma rendah lebih disukai

Penggunaan
Dosis selalu dipilih sedemikian tinggi hingga kadar

obat di tempat infeksi melampui MIC- dari kuman Frekwensi pemakain tergantung t1/2 obat Waktu terapiharus panjang untuk menjamin semua parasit mati biasanya terapi terus dilanjutkan 2-3 hari setelah gejala hilang, untuk lepra dan tbc sering kali butuh waktu bertahun-tahun

Pengunaan antibiotika yang sembarangan

Efek samping

(skema dan penakaran ) dapat menggagalkan terapi, dapat menimbulkan bahaya resistensi, supra infeksi, sensitasi Antibiotika yang terkenal dapat menimbulkan reaksi alergi (sensitasi) adalah penisillin, kloramfenikol, dan sulfonamid Supra infeksi , karena penggunaan antibiotik spektrum luas sehingga mengganggu keseimbangan antar bakteri didalam usus, obat yang sering menimbulkan adalah ampisilin, kloramfenikol, tetrasiklin

Penggunaan kombinasi
Pada umumnya kombinasi penggunaan

antibiotik tidak dianjurkan tetapi kombinasi dapat bermanfaat yaitu pada :


Infeksi campuran (basitrasin + polikmiksin) Untuk memperoleh potensiasi (sulfamotoksazol +

trimetropin) Untuk mengatasi resistensi (amoksisilin + as. Klavunolat) Untuk menghambat resistensi khususnya pada infeksi menahun (rifampisin+INH+ethabutol) Untuk mengurangi toksisitas (trisulfa dengan sitostatika)

Antagonisme dan sinergisme


Pada umumnya penggunaan kombinasi antibiotik

dari berbagai kelompok menghasilkan potensiasi(sinergisme) tetapi dapat juga menimbulkan antagonisme sebagai contoh pemberian penisilin dengan tetrasiklin hal ini karena penisilin aktif ketika bakteri tumbuh sedangkan tetrasiklin merupakan bakteriostatik.

Contoh antibiotik golongan betalaktam (penisilin dan sefalosporin) yang sering digunakan

Contoh penggunaan antibiotik


Penisilin

Penisilin-G dan turunannya merupakan

bakterisid terutama gram positif hanya beberapa kuman gram negatif Tak dapat dikombinasikan dengan bakteriostatik (tetrasiklin,kloramfenikl, eritromisin dan asm fusidat Efek samping yang perlu diwaspadai adalah reaksi alergi dan dapat menimbulkan shock anafilaksis bahkan kematian

Benzil penisilin (penisilin-G)


untuk radang paru-paru, radang otak,

pencegahan sifilis, gonorhoe Tidak tahan asam diberikan i.v. atau i.m. Ditribusi kejaringan intraseluler bagus, penetrasi kejaringan otak buruk tetapi menjadi lebih baik jika ada radang selaput otak Dosis infeksi umum sehari 1-4 MU dari garam long aktingnya. Semua penisilin dianggap aman bagi ibu hamil dan menyusui

Asam klavulanat
Efek antimikroba ringan, tetapi dapat

memblokir beta-laktamase dari bakteri stafilokokok, E. coli, Klebsiela, proteus, da H. influenzae Resorbsi dari usus kurang lebih 70% plasma tnya 65 menit Diberikan dalam bentuk kombinasi dengan amoksisilin 250/500mg + as. Klavunolat 125mg , dengan kombinasi ini efek amoksisilin meningkat 50x lebih kuat terhadap E. coli, H. ifluenzae, dan S. aureus.

Ampisilin
Golongan penisilin ini mempunyai spektrum luas,

merupakan penisilin yang tahan asam Banyak digunakan untuk infeksi pernafasan (bronkitis kronis), saluran cerna , saluran kemih, telingga, gonore,, kulit dan jaringan lunak. Resorbsinya dari usus 30-40% (dikurangi oleh makanan), plasma t 1-2 jam. Penetrasi ke CCS ringan tetapi dalm dosis sangat besar masih aktif untuk meningitis. Dosis : infeksi umum pemberian oral 4x sehari 500 -1000 mg. sebelum makan, saluran kemih : gonorhoe: 1x3,5 g + probenesid 1 g, tifus 4 x sehari 1-2 gram selama 2 minggu

Amoksisilin
Merupakan derivat hidroksi dari ampisilin Resorbsinya dari usus 80% Plasma - tnya hampir sama dengan

ampisilin, tetapi penetrasi kejaringan tubuh lebih baik, ekskresi bentuk utuhnya pada urin jauh lebih besar ca 70% sehingga lebih layak digunakan untuk infeksi saluran kencing dibanding ampisilin. Dosis oral 3xsehari 375-1000mg, anak2 3-10 thn 3xsehari 250 mg,1-3thn 3xsehari 125mg, 0-1 tahun 3xsehari 100mg

Sefalosporin Termasuk golongan beta laktam yang struktur,

khasiat dan sifatnya merip penisilin Merupakan antibiotik semi sintetik Tidak terlalu peka terhadap beta-laktamase Efek samping hampir mirip dengan penisilin Resistensi dapat timbul dengan cepat jadi tidak boleh digunakan sembarangan.

Menurut khasiat dan ketahanan terhadap betalaktamase dapat digolongkan

Generasi ke-1: efaloti,sefazolin,sefadrin,

sefaleksin dan sefadroksil Generasi ke-2 : sefaklor, sefamandol,sefmetazol, sefuroksim Generasi ke-3 : sefoperazon,sefotaksim, seftitokzim, seftriakson, sefotiam, sefiksim Generasi ke-4 : sefepim dan sefpirom

Penggunaan Sebagian besar sefalosporin diberikan parental terutama

di RS Zat generasi ke-1 sering digunakan peroral pada infeksi saluran kemih ringan dan obat pilihan ke-2 untuk infeksi saluran pernafasan dankulit yang tidak serius dan bila terdapat alergi untuk penisilin Zat2 geneasi 2/3 digunakan parental pada infeksi yang serius yg resisten amoksilin dan sefalosforin generasi ke1 biasa dikombinasi dengan aminoglikosida untuk memperkuat aktivitasnya biasanya untuk profilaksis bedah jantung usus, dan ginekologi Zat gen-3 setriaksondan sefotaksim sekaang dianggap sebagai obat pilihan pertama untuk gonore Penggunaan pada kehamilan dan laktasi hanya sefalotin dan sefaleksim, yang lain belum ada cukup data

Cotoh penggunaan
Sefaleksin Derivat tahan asam Digunakan untuk infeksi saluran kemih dan saluran pernafasan Dosis oral 4xsehari 250-500mg a.c.

Sefadroksil Sifat dan penggunaan hampir sama dengan sefaleksin dianjurkan pula untuk radang hulu tenggorokan (sakit tenggorokan) Dosis oral 2 dd 500-1000mg

Golongan aminoglikosida
Dapat digolongkan menjadi : Streptomisin Kanamisin, amikasin, dibekasin, gentamisin, netilmisin, tobramisin Neomisin, framisetin, dan paromomisin Merupakan antibiotik spektrum luas

pengunaan untuk terapi tbc Efek samping sangat besar, terjadi kerusakan pada organ pendengaran dan dapat merusak ginjal Obat golongan ini dapat melewati plasenta danmerusak ginjal pada janin.

Antibiotik golongan tetrasiklin


Merupakan antibiotik spektrum luas

Penggunaan untuk infeksi saluran nafas, kemih,

kulit dan mata Efek samping : sifat penyerapannya pda jaringan tulang dan gigi yang sedang tumbuh pda janin dan anak2 Tidak boleh diberikan pada ibu hamil, menyusui dan anak dibawah 8 tahun

Antibiotik lain yang penting


Kloramfenikol Digunakan khusus untuk infeksi salmonela

typhi(tifus) da menginitis dan sediaan salep/tetes mata Efek samping


Penghambatan pembentuka sel darah merah Anemia aplastis

Sediaan salep/tetes mata tidak boleh

diberikan lebih dari 10 hari Dosis untuk tifus perutdosis permulaan 1-2 g kemudian 4 dd 500-750 mg.p.c

Penggunaan pada ibu hamil dan menyusui


Penggunaan tidak dianjurkan khususnya pada

minggu2 terakhir kehamilan karena menyebabkan hypotermia pada neonatus (grey baby sindrom) hal inijuga terjadi pada tiamfenikol (obat sejenis kloramfenikol)

Antibiotik golongan sulfonamida dan quinolon


Sulfonamida dan quinolon adalah golongan antibiotik

yang penting untuk pengobatan infeksi saluran kemih (ISK) Antibiotika yang lain untuk infeksi ini adalah golongan penisilin/sefalosforin dan aminoglikosida

Jenis dan gejala ISK


ISK bagian bawah umumnya radang kandung

kemih dengan saluran kemih normal dengan gejala :


Sering kencing siang dan malam Sukar kencing Perasan sakit atau terbakar pada saat berkemih Nyeri perut dan pinggang Ada darah dalam urin Urin yang baunya abnormal

ISK bagian atas bergejala demam dan sakit

pinggang dilokasi ginjal

Faktor-faktor resiko timbulnya ISK


Jarang berkemin

Gangguan pengosongan kandung kemih


Hygiene pribadi kurang baik (misal

penggunaan pembalut pada wanita) bisa menyebabkan kolonisasi kuman hropatogen disekitar uretra Penggunaan kateter, hubungan seksual, dan karena adanya suatu infeksi lokal misal vaginitis Karena diabetes, pada diabetes akan meningkatkan daya lekat bakteri pada epitel SK

Pencegahan ISK
Minum air lebih banyak
Berkemih lebih sering Adakalanya infeksi menahun dan menjadi kronis

maka perlu kur antibiotika selama 3-6 bulan digunakan obat obat yang tak menimbulkan resistensi misalnya nitrofurantoin 50-100mg atau kotrimoksazol 1 tablet 400/80 Obat-obat ini sebaiknya diminum malam hari karena kuman-kuman ini lebih mudah memperbanyak diri pada saat kandung kemih penuh.

Pengobatan
ISK bagian bawah dapat diobati dengan

(pengobatan dianjurkan selama 7-10 hari):


Amoksisilin (3x250-500mg) Trimetoprim (2x200mg) Nitrofurantoin (3x50-100mg) Dari kelompok quinolon digunakan asam nalidiksat dan pipemidinat atau suatu fluorquinolon (siproflosasin, norfloksasin)

ISK bagian atas digunakan obat-obat

(pengobatan dianjurkan sampai sekitar 3 minggu):


Kotrimoksasol Amoksilin+asam klavulanat Fluorquinolon (siprofloksasin dan norfloksasin)

sulfonamida
Merupakan zat antibakteri dengan rumus

molekul H2N-C6H4-SO2NHR Merupakan kelompok obat pertama yang digunakan sebagai antibakteri. Resopsi pada usus dan lambung baik PP-nya berkisar antara 40%(sulfadiazin) 70% (sulfametazin dan sulfamerazin) 85%-97% (untuk derivat long akting sulfametoksipiridasin dan sulfadimetoksin) Difusi dalam jaringan baik kecuali obat dengan Protein Plasma (PP) tinggi Kadar dalam urin 10x kadar dalam plasma sehingga layak untuk pengobatan ISK

Contoh kombinasi sulfanilamida


Trisulfa, merupakan kombinasi dari 3

sulfonamida yaitu sulfadiazin, sulfamerazin dan sulfamezatin dengan perbandinagn yang sama Kotrimoksazol, adalah suatu kombinasi ulfametoksazol dan trimetoprim dalam perbandingan 5:1 (400+80 mg) berkhasiat sebagai bakterisid terhadap sebagian besar bakteri gram positif dan gram negatif, kombinasi ini memperkuat khasiat dan menurunkan resiko resistensi Kombinasi lain sulfa dan trimetoprim yang lain dengan sifat dan penggunaan mirip kotrimoksazol adalah :
Supristol (sulfamoxol 200 mg + trimetoprim 40 mg) Kelfiprim (sulfalen 200 mg + trimetoprim 250 mg) Lidatrim (sulfametrol 400 mg + trimetoprim 80 mg)

Penggunaan sulfonamida
Infeksi saluran kemih (sulfametizol, sulfafurazol

dan kotrimoksazol) Infeksi mata (sulfasetamida, sulfadikramida, sulfametizol) digunakan topikal Radang usus (sulfasalazin) Malaria tropika (kombinasi sulfadoksin dan pirimetamin) Meningitis (sulfadiazin) karena timbul resistensi maka obat ini sering diganti dengan ampisilin atau rimfampisin Kotrimoksazol sama efektifnya dengan ampisilin pada tifus perut, infeksi saluran pernafasan, radang paru-paru, serta gonore

Efek samping
Efek samping yang terpenting adalah kerusakan

parah pada sel-sel darah, oleh karena itu bila sulfonamida diberikan lebih dari 2 minggu perlu dilakukan monitaring darah Efek samping lainnya adalah reaksi alergi selama terapi sebaiknya pasien jangan terlalu banyak terkena sinar matahari. Gangguan saluran cerna Kristaluria di dalam tubuli ginjal, sering terjadi pada sulfa yang sukar larut dalam air seni yang asam misal sulfadiazin dan turunannya resiko ini dapat dikurangi dengan penggunaan trisulfa atau pemberian zat alkali misal natrium bikarbonat atau banyak minum air

Penggunaan pada kehamilan dan laktasi :


Harus dihindari penggunaan pada bulan-bulan terakhir

kehamilan karena resiko timbulnya icterus inti pada neonatus (akibat pembebasan bilirubin dari ikatan protein plasma) Penggunaan pada awal kehamilan belum cukup data Obat golongan ini masuk ke dalam air susu ibu
Kotrimoksazol tidak boleh diberikan pada usia

dibawah 6 bulan dan pada penderita gangguan fungsi hati dan ginjal.

Senyawa gol. quinolon

Digolongan menjadi 2 seta derivat longactingnya yaitu :


1.

2.

3.

Zat generasi pertama (asam nalidiksinat dan pipemidinat, hanya dapat digunakan pada ISK bawah tanpa komplikasi Zat geneasi kedua, merupakan senyawa fluorquinolon (norfloksasin, pefloksasin, siprofloksasin, ofloksasin, lomefloksasin, dan fleroksasin) obat ini lebih luas spektrumnya, kadar dalam darah lebih tinggi, t1/2 nya lebih panjang. Zat ini dapat digunakan juga untuk infeksi sistemis yang lain Zat-zat long acting (sparfloksasin, trovafloksasin, grepafloksasin) spektrumnya sangat lebar dan meliputi lebih banyak gram positif

Penggunaan
Asam nalidiksinat dan pipemidat terutama

berkhasiat terhadap kuman2 gram negatif (proteus, klebsiella, enterobakter, pseudomonas) hanya digunakan pada ISK bawah tanpa komplikasi Fluorquinolon lebih luas spektrumnya paktis semua gram negatif (gonococcus) serta kebanyakan gram positif termasuk campylobacter jejuni, chlamydiae, legionella, mycoplasma dan mycobacter tbc. Terhadap streptococcus, pneumococcus dan kuman anaerob kurang aktif.

Senyawa gol. Fluorquinolon dapat digunakan untuk ISK

atas berkomplikasi oleh kuman-kuman multi resisten misalnya jaringan ginjal, juga untuk infeksi saluran nfas serius, prostalitis kronis, infeksi kulit dan jaringan lunak oleh kuman-kuman gram negatif. Untuk menghambat meluasnya reisistensi,maka obat gol. Ini disarankan digunakan sebagai terapi cadangan untuk pemngobatan terhadap kuman-kuman yang resisten terhadap obat-obat standar. Sebagai pilihan pertama untuk ISK tanpa komplikasi sebaiknya digunakan trimetoprim, nitrofurantoin, sulfametizol

Efek samping
Efek samping yang sering adalah gangguan

lambung-usus, juga reakasi alergi, efek neurologi, efek psikis hebat Penggunaan pada kehamilan dan laktasi belum cukup data. Ada indikasi kelainan tulang rawan dan persendian pada binatang percobaan, sehingga tidak dianjurkan penggunaan pada wanita hamil dan selama laktasi karena senyawa ini dapat masuk ke dalam air susu ibu. Senyawa gol. Ini tidak boleh diberikan pada anak dibawah 16 th karena menimbulkan penyimpangan tulang rawan terutama asam nalidiksinat (jarang siprofloksasin dan ofloksasin)

Contoh penggunaan
Norfloksasin, untuk ISK (2 dd 400 mg) dan

gonore (single dose 800 mg), infeksi mata (4dd1 tetes obat mata 3mg/4ml Siprofloksasin, untuk ISK oral 2 dd 125-250 mg, sebagai infus i.v. 2 dd 100mg (laktat) Ofloksasin,untuk ISK tanpa komplikasi 1-2 dd 200 mg selama 7-10 hari, obat sekunder TBC paru 300-600 mg sehari.

Antimikotika (anti jamur)


Jamur atau fungi adalah tumbuhan yang tak memiliki klorofil,

sehingga tak mampu berfotosintesis untuk hidup. jamur hidup sebgai parasit pada organisme hidup atau saprofit pada organisme mati Kasus penyakit infeksi jamur yang utama adalah mycosis kulit oleh dermatofit serta infeksi mukosa mulut, broncia, usus, vagina dan lain lain oleh candida albicans Penyebaran luas infeksi jamur adalah karena, penggunaan antibiotika spektrum luas yang mengganggu keseimbangan flora normal, penggunaan kortikosteroid yg dapt menurunkan kekebalan tubuh, juga pemakain hormon kelamin misalnya pil anti hamil akan menstimulasi infeksi jamur ini Faktor2 hygiene,serta bertambahnya kotak internasional dibidang pariwisata dan perdagangan.

Spora dan serpihan kulit penderita infeksi jamur

merupakan sumber utama penularan. Tindakan umum untuk menghindari infeksi oleh jamur ini adalah memelihara kebersihan tubuh sebaik-baiknya terutama ketika berada pada tempat yang potensial merupakan umber ifeksi (kolam renang, kamar ganti pakaian, ruang olah raga

Infeksi jamur pada manusia dapat dibagi 2 yaitu :


Mycose umum (sistemis) jamur atau ragi tersebar

diseluruh tubuh atau menyebabkan infeksi dalam organ tubuh yg kadang dapat membahayakan jiwa contohnya actinomycose, aspergillose dan candidiasis (candidiasis pada saluran cerna dan alat pernafasan) Mycose permukaan (tinea) terbatas pada kulit, rambut, kuku, mukosa infeksi ini juga mencakup candidiasis vaginal, mulut dan alat cerna.

Beberapa dermatomikosis dan cara pengobatannya

Kutu air
Kutu air (tinea pedis), disebabkan oleh jenis

trichophyton dn merupakan dermatofit yang paling banyak timbul. Gejala berupa gatal2 diantara jari kaki, kemudian terbetuk gelembung dan pecah mengeluarkan cairan. Kulit menjadi lunak dan terkelupas sehingga memungkinkan infeksi sekunder Pengobatan dengan krem mikonazol atau ung.whitfield (as. Benzoat 5%,as.salisilat 5% dalam lanolin-vaselin), untuk kasus yang sulit dapat digunakan griseofulvin atau ketokenazol peroral.

Kuku kapur
Bercirikan kuku menebal, mengeras dan mudh

patah, berwarna keputih-putihan adakalanya tidak lurus. Sering menular dari kuku ke kuku Bila seluruh kuku sudah terinfeksi harus dicabut disusul pengobatan dengan terbinafin oral 1dd 250 mg terapi minimal 6-12 bulan

Panu (pityriasis versicolor)


Infeksi jenis ini banyak terjadi di daerah tropis, infeksi

berupa bercak putih dan kecoklatan merah pada tengkuk, dada,punggunng dan lengan. Terutama hipopigmentasi dimuka merupakan suatu masalah kosmetik. Penyebab adalah malassezia furfur Pengobatan dapat dilakukan denganlarutan salisilat 510% dalam spiritus, atau krem mikonazol/ketokonazol selama 2-3 minggu

Ketombe (dandruff, pityriasis capitis)


Bercirikan terlepasnya serpihan kulit kepala

berlebihan disertai gatal-gatal. Diperkirakan penyebabnya adalah pityrosporum ovale, penghuni normal kulit kepala yang sangat meningkat jumlahnya Pengobatan dapt dilakukan dengan shampo yang mengandung selenium sulfida 2,5 %, seng-pirithion 2%, dan piroctone olamine pada kasus hebat dianjurkan menggunakan gel ketokenazol 2%

candidiasis
Penyebabnya adalah candida albicans yang

merupakan flora normal selaput lendir pada saluran pernafasan, pencernaan, dan vagina Candidiasis dapat terjadi pada mulut, usus, kulit, vagina dan sistemik

Candidiasis mulut (sariawan)


Merupakan infeksi di mulut bergejala luka perih

dan bercak-bercak putih pada mukosa mulut dan lidah yang dapat menjalar ke tenggorokan dan oesophagus Sering terjadi karena penggunaan antibiotika spektum luas, kortikostreroid dan sitostatika juga pada pasien aids Pengobatan dapat dilakukan dengan flukonazol oral, pilihan kedua adalah itrakonazol dan ketokonazol oral dan pilihan ketiga adalah penggunaa lokal (suspensi nystatin, tablet hisap amfoterisin)

Candidiasis usus
Gejalanya adalah diare, nyeri perut, obstipasi,

dan terbentuknya banyak gas Penyebabnya adalah pemakaian antibiotik spectrum luas, kortikosteroid, juga penderita diabetes. Pengobatan dengan nistatin oral 3 dd 0,5-1 MU

Candidiasis vagina (vaginitis)


Infeksi pada alat kelamin wanita dengan gejala iritasi,

keputihan, gatal-gatal dan rasa terbakar Penyebabnya selain peyebab candidiasis yang umum kehamilan , hygine yg tak memadai, juga pil antihamil membantu terjadinya infeksi Pengobatan dapat dilakuak dengan mikonazol, klotrimazol dan ketokonazol dalam bentuk ovula (supp. Vaginal) selama 2-6 hari malam. Sama efektifnya dengan pengguanaan oral dari ketokenazol, itrakonazol, flukonazol sebagai single dose atau terbagi 2 dengan interval 8 jam

Pasangan pasien juga harus diobati karena

kemungkinan juga terinfeksi oleh jamur yang sama. Pada kandidiasis yang terus kambuh terapi dapat dilakukan secara intermiten untuk rentang waktu panjang.lokal ataupun oral Vaginitis yg lain disebabkan oleh protozoa trichomonas vaginalis (gejala mirip candidiasis) terapi menggunakan metronidasol 2 g single dose selama 6 hari (tidak boleh diberikan pada kehamilan dan laktasi)

Candidiasis kulit
Timbul pada tubuh yg lebab dan hangat, misalnya

ketiak dan lipatan paha. Kebanyakan infeksi menghinggapi orang gemuk dan penderita diabetes Gejala berupa kulit merah dan mengeluarkan cairan Pengobatan dapat dilakukan dengan krem mikonazol/ketokenazol

Candidiasis sistemik
Bercirikan rsa penat dan lemah, keletihan kronis

dan disertai perasaan ngantuk, lemah ingatan, nyeri otot dan persendian Pada sindroma ini candida menjadi parasit dan ganas. Setelah menembus mukosa usus, rgi ini melalui sirkulasi darah menyebar keseluruh organ dan jaringan ikat Pengobatan secara sistemis dengan ketokenazol atau itrakonazol ditunjang dengan diet ketat untuk menghambat perbanyakan jamur terutama gula dan produk2 yg mengandung ragi, buah-buahan manis, alkohol, susu dan daging babi Alternatif lain adalah penggunaan asam kaprilat dosis 2dd680mg selama minimal 1 tahun.

Pengolongan antimikotika
Antibiotika Griseovulvin, berkhasiat fungi statis tidak aktif terhadap candida, pityriasis vesikolor, efektif untuk infeksi kuku yang menahun Tidak boleh diberikan pada pasien hamil dan menyusui (berefek teratogen dan keguguran) Dosis 4dd125mg atu 500mg single dose p.c Nistatin untuk c. Mulut, vagina, usus Efek samping mual muntah, dapat diberikan pada ibu hamil Dosis oral 3 dd 0,5-1MU, vaginal selama 14 hari 1 tablet 100.000 UI

Senyawa imidazol
Mikonazol berkhasiat fungisid kuat efektif terhadap

dermatofit biasa dan candida Penggunaan sebagai krem/tablet vaginal Dosis : infeksi kulit 1-2 dd salep 2% selama 3-5 minggu, krem vaginal 2% malam hari selama 2 minggu Efek samping iritasi, alergi, dan rasa terbakar dikulit, Dapat digunakan untuk wanita hamil

Isokanazol, merupakan isomer mikonazol terutama

digunakan untuk kandidiasis vaginal (keputihan) Dosis 600 mg tablet tunggal penggunaan malam hari. Ekonazol derivat mikonazol, tyerutama untuk infeksi candida Dosis 1 ovula selama 3 hari pada malam hari Dapat digunakan untuk ibu hamil Klotrimazol, untuk vaginitis candida Dosis tablet vaginal 200 mg selama 3 hari Dapat digunakan untuk ibu hamil

Ketokenazol merupakan fungistatikum pertama yang

digunakan peroral, spektrumnya luas mirip mikonazol, digunakan untuk infeksi jamur sistemis yg parah Efek sampingnya berupa, gangguan alat cerna, pusing, gatal-gatal. Efek yang paling serius adalah hepatotoksik yang mengakibatkan hepatitis, bila digunakan peroral selama lebih dari 2 minggu harus dipantau fungsi hati setiap 14 hari. Penggunaan pada pria dapt menyebabkan terganggunya produksi sperma dan impotensi Dosis: oral 1 dd 200 mg pada waktu makan sampai 7 hari setelah gejala hilang

Asam organik
Asam salisilat merupakan fungisid terhadap

berbagai macam fungi pada konsentrasi 3-6 % dalam salep, juga bekerja keratolitik pada konsentrasi 5-10% seringkali dikombinasidengan asam benzoat (fungistatis) dan sulfur Biasnya digunakan untuk obat luar pada infeksi jamur yang ringan.

tuberkulostatika
Tuberkulostatika adalah obat obat yang digunakan untuk

terapi penyakit tuberkulosis (TBC) Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, infeki ini paling seing terjadi di paru-paru (80%), infeksi dapat menyebar melalui darah dan limfa ke organ lain, misalnya ginjal, tulang. Pada anak-anak sampai ke otak yang dapat menimbulkan radang selaput otak atau meningitis tuberculosis.

Gejala TBC antara lain :


Batuk kronis Demam dan berkeringat diwaktu malam Keluhan pernafasan Perasaan letih Hilang nafsu makan Berat badan turun Rasa nyeri di dada Dahak penderita berupa lendir yang mengandung

darah.

Infeksi primer adalah keadaan dimana setelah terjadi infeksi

melalui saluran pernafasan, di dalam gelembung paru terjadi peradangan dengan timbulnya benjolan-benjolan kecil, dan pada orang yang sistem imunnya bagus dapat memberatas basil ini dengan cara menyelubunginya dengan jaringan pengikat. Infeksi primer ini biasanya menjadi abses terselubung dan berlangsung tanpa gejala. Kadang-kadang saja disertai batuk dan nafas berbunyi. Pada orang dengan sistem imun yang lemah (anak-anak, manula, penderita AIDS) dapat timbul radang paru hebat. Basil TBC akan memperbanyak diri dalam makrofag dan benjolanbenjolan akan bergabung menjadi infiltrat yang akan menimbulkan rongga di paru2. dan jika ada hubungan antara paru2 dan cabang bronci maka akan terjadi TBC terbuka dengan adanya basil di dahak yang sangat berbahaya (sangat menular)

Penularan
Penyakit tbc ditularkan dari orang ke orang, terutama

melalui saluran pernafasan dengan mengisap atau menelan tetes-tetes ludah/dahak yang mengandung basil Mycobacterium tuberculosis atau adanya kontak antara tetes-tetes ludah tersebut dengan luka di kulit. Untuk membatasi penyebaran perlu sekali di periksa semua anggota keluarga yang dekat penderita sehingga penderita baru dapat dideteksi secara dini.

Pencegahan
Tindakan tindakan untuk mencegah penularan dari tetes

ludah atau dahak Ventilasi yang baik dapat mencegah penularan Vaksinansi BCG (diberikan intradermal 0,1 ml bagi anak-anak dan orang dewasa bayi 0,05 ml) Reaksi Mantoux untuk mengetahui belum atau sesudahnya orng terinfeksi TBC Kemoprofilaksis, anak-anak dibawah usia 1 tahun dari keluarga penderita TBC diberikan secara kontinue selama 6 bulan INH dan rimfampicin tersendiri atau bersamaan. Disamping itu diberikan imunisasi BCG dari strain bakteri yang resisten INH.

Pengobatan Pengobatan dapat dilakukan dengan

tuberkulostatika dan pasien pada umumnya dapat dirawat jalan. Lazimnya setelah 4-6 minggu tak ada bahaya infeksi lagi. Pengobatan terdiri dari dua fase yaitu :
Fase intensif terdiri dari terapi isoniazid (INH)

dikombinasi dengan rimfampisin dan pirazinamid selama 2 bulan. Untuk prevensi resistensi dapat ditambahkan streptomisin dan etambutol. Etambutol lebih disukai karena tidak menyebabkan ototoksisitas. Fase pemeliharaan menggunakan isoniasid (INH) bersama rifampisin selama 7 bulan, sehingga masa penggobatan menjadi 9 bulan Studi baru menunjukan bahwa kur singakat selama 6 bulan, 2 bulan dengan 4 obat dan 4 bulan dengan 2 obat sama efektifnya.

Faktor terpenting keberhasilan pengobatan terutama

disebabkan oleh kesetiaan/kepatuhan pasien minum obat. Terapi dilakukan sekian lama karena untuk memusnahkan semua mycobakteri (sarang infeksi ) dan semua basil yang tidur intraseluler sehingga penyakit tidak akan kambuh lagi. Seringkali pasien menghentikan pengobatan di tengah jalan karena sudah merasa enak (merasa sembuh) hal ini merupakam faktor penyebab kegagalan pengobatan yang utama, dan menyebabkan resitensi kuman TBC tehadap obat

Penggolongan obat
Obat TBC umumnya digolongkan menjadi obat

primer dan obat sekunder


Obat primer adalah obat yang paling efektif dan paling

rendah toksisitasnya. Tetapi menimbulkan resistensi jika diberikan tunggal. Obat gol. Ini adalah isoniazid (INH), rifampisin, pirazinamida, etambutol, streptomisin (kanamisin, amikasin) Obat sekunder adalah obat yang aktivitasnya lebih lemah dan biasanya hanya diberikan jika terjadi resistensi dan intoleransi terhadap obat primer.obat gol ini adalah klofazimin, fluorkinolon (ciprofloksasin, ofloksasin dll), sikloserin, rifabutin dan asam-paminoslisilat.

Pengobatan TBC pada wanita hamil dapat diberikan

obat obat primer isoniasid, rifampisin dan pirasinamida, etambutol dapat digunakan dalam keadaan tertentu. Streptomisin dan amikasin tidak boleh diberikan pada wanita hamil karena dapat menyebabkan ketulian pada janin.

Keterangan obat-obat tuberkulostatika


INH (isoniasid) merupakan obat yang paling kuat terhadap M.

Tuberculosis dalam fase istirahat dan bersifat bakterisid pada M. Tuberculosis yang sedang tumbuh pesat. Aktif terhadap kuman yang intrasel maupun ekstrasel selalu digunakan dalam bentuk kombinasi, penggunaan tunggal hanya untuk pencegahan pada orang yang sering berhubungan dengan pasien TBC. Efek samping yang terpenting adalah polineuritis yaitu radang saraf dengan gejala kejang dan gangguan pengelihatan juga perasaan tidak sehat, letih, lemah dan anoreksia. Untuk menghindari efek toksik ini dapat diberikan vitamin B6 1020 mg sehari dan B1 100 mg. Dosis dewasa dan anak 1 x sehari 4-8 mg /kg BB atau 300-400 mg sehari. Diberikan pagi hari bersama rifampisin sebelum makan.

Rifampisin, obat ini berkhasiat bakterisid luas terhadap

fase pertumbuhan M. Tuberculosis dan M. Leprae (penyebab lepra), baik yang terdapat di luar (ekstra sel) atau di dalam sel (intrasel) obat ini mematiakn kuman yang tidur selama fase pembelahan yang singkat. Manfaat utamanya adalah obat ini dapat mempersingkat terapi menjadi sekitar 6-12 bulan dari sebelumnya 2 tahun. Obat ini juga aktif untuk bakteri gram positif lain Untuk terapi gonore sangat efektif. Efek samping yang terpenting adalah penyakit kuning (icterus) terutama bila dikombinasi dengan INH, juga terjadi gangguan saluran cerna. Penggunaan pada minggu minggu terakhir kehamilan dapat menimbulkan pendarahan postnatal pada ibu dan bayi. Untuk mencegah hal ini dapat diberikan vitamin K. Dosis TBC 1x sehari 450-600 mg pagi hari sebelum makan. Dikombinasi dengan INH 300 mg dan pirazinamida 1,5-2 g sehari untuk terapi 2 bulan pertama.

Pirazinamida, bekerja bakterisida pada suasana

asam (pH 5-6) atau bakteriostatis tergantung pH dan kadar dalam darah Spektrum kerjanya sangat sempit hanya aktif pada M. Tuberkulosis. obat ini hanya diberikan pada fase pengobatan intensif pada fase pemeliharaan hanya jika terjadi multi resistensi. Distribusi kejaringan cerbrospinal baik sehingga dapat digunakan untuk meningitis tuberculosis. Efek samping adalah kerusakan hati (icterus) terutama pada dosis diatas 2 g sehari., obat ini juga menghambat ekskresi asam urat sehingga dapat menimbulkan serangan encok. Dosis oral 1 x sehari 30 mg /kg BB selama 2-4 bulan dan maksimum sehari 2 g.

Streptomisin, obat ini aktif terhadap banyak bakteri

gram positif, khusus aktif terhadap mycobakteria ekstrasel yang sedang aktif membelah. Efek samping toksis pada organ pendengaran dan keseimbangan, untuk itu tidak boleh digunakan dalam jangka waktu yang lama karena dapat menyebabkan ketulian yang permanen. Absorpsinya buruk sehingga hanya diberikan dalam bentuk injeksi i.m Dosis i.m 1x sehari 0,5-1g selama maksimum 2 bulan. Kanamisin, khasiat dan sifatnya hampir sama dengan streptomisin Dosis i.m./i.v. 3x sehari15 mg/kg BB. Maksimum 1 g sehari.

Etambutol, berkhasiat spesifik pada M. Tuberculosis

dan M. Atipis. Kerja bakteriostatisnya sama kuat dengan INH tetapi pada dosis terapi kurang efektif dibandingkan dengan obat-obat primer. Efek samping yang terpenting adalah neuritis optica (radang saraf mata) yang menyebabkan gangguan pengelihatan dan buta warna terhadap warna merah-hijau, reaksi ini muncul pada dosis besar (diatas 50 mg/kg BB/ hari) dan bersifat reversibel jika pemakaian dihentikan. Jika pemakain diteruskan dapat menyebabkan kebutaan. Sebaiknya jangan diberikan pada anak kecil. Dapat diberikan pada wanita hamil. Efek lain adalah penurunan ekskresi asam urat sehingga dapat menimbulkan encok. Dosis oral 1x sehari 20-25 mg/kg BB, selalu dikombinasi dengan INH