Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Trematoda atau cacing daun termasuk dalam filum Platyhelminthesdan hidup sebagai parasit. Banyak sekali macam hewan yang dapat berperan sebagai hospes definitif bagi cacing trematoda ,sebut saja kucing,anjing, sapi ,babi, tikus, burung, dan harimau. Tidak ketinggalan manusiapun merupakan hospes utama bagi cacing trematoda. Trematoda menurut tempat hidupnya dibagi menjadi empat yaitu trematoda hati, trematodaparu, trematoda usus, dan trematoda darah. (FKUI, 1998).

Pada makalah ini penyusun akan membahas tentang trematoda usus (fasiliopsis buski) dimana perlu di ketahui bahwa trematoda usus. Selain itu penyusun akan membahas tentang trematoda darah, cacing trematoda darah (schitosomiasis) adalah cacing yang berbentuk pipih dan tinggal di berbagai aliran darah. Biasanya cacing ini masuk ke tubuh manusia melalui makanan atau minuman yang mengandung parasit cacing ini dan mandi pada air yang kotor. 1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu trematoda ? 2. Bagaimana Klasifikasi dari trematoda usus dan darah? 3. Bagaimana struktur trematoda usus dan darah? 4. Bagaimana patogenesis trematoda secara khusus? 5. Bagaimana pencegahan dan pengobatannya?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui mengenai trematoda 2. Untuk mengetahui struktur trematoda 3. Untuk mengetahui bagaimana patogenesis trematoda secara khusus 4. Untuk mengetahui bagaimana pencegahan dan pengobatannya

1.4 Manfaat
Diharapkan penulis mengetahui bagaimana trematoda secara khusus dan bagaimana pengobatan dan pencegahannya.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian trematoda Trematoda adalah cacing yang secara morfologi berbentuk pipih seperti daun. Pada umumnya cacing ini bersifat hermaprodit, kecuali genus Schistosoma. Trematoda juga disebut sebagai cacing isap karena cacing ini memiliki
alat pengisap. Alat pengisap terdapat pada mulut di bagian anterior tubuhnya. Kegunaan alat isap adalah untuk menempel pada tubuh inangnya. Pasa saat menempel cacing ini mengisap makanan berupa jaringan atau cairan tubuh inangnya. Dengan demikian, Trematoda merupakan hewan parasit.

Alat reproduksi betina terdiri atas sebuah ovarium, reseptakulum seminalis, saluran laurer, ootip dan uterus. 2.2 Morfologi dan Daur Hidup Pada umumnya bentuk badan cacing dewasa pipih dorsoventral dan simetris bilateral, tidak mempunyai rongga badan. Ukuran panjang cacing dewasa sangat beraneka ragam dari 1 mm sampai kurang lebih 75 mm. Tanda khas lainnya adalah terdapat 2 buah batil isap, yaitu batil isap mulut dan batil isap perut. Beberapa spesies mempunyai batil isap genital. Saluran pencernaan menyerupai huruf Y terbalik yang dimulai dengan mulut dan berakhir buntu pada sekum. Pada umumnya trematoda tidak mempunyai alat pernapasan khusus, karena hidupnya secara anaerob. Saluran ekskresi terdapat simetris bilateral dan berakhir di bagian posterior. Susunan saraf dimulai dengan ganglion di bagian dorsal esophagus, kemudian terdapat seraf yang memanjang di bagian dorsal,ventral dan lateral badan. Cacing ini bersifat hermafrodit dengan alat reproduksi yang kompleks. Cacing dewasa hidup di dalam tubuh hospes definitif. Telur diletakkan disaluran hati, rongga usus, paru, pembuluh darah atau di jaringan tempat cacing hidup dan telur biasanya keluar bersama tinja, dahak atau urin. Pada umumnya telur berisi sel telur, hanya pada beberapa spesies telur sudah mengandung mirasidium (M) yang mempunyai bulu getar. Didalam air telur

menetas bila sudah mengandung mirasidium (telur matang). Pada spesies trematoda yang mengeluarkan telur berisi sel telur, telur akan menjadi matang dalam waktu kurang lebih 2-3 minggu. Pada beberapa spesies tremotoda telur matang menetas bila ditelan keong (hospes perantara) dan keluarlah mirasidium yang masuk ke dalam keong; atau telur dapat langsung menetas dan mirasidium berenang dalam air; dalam waktu 24 jam mirasidium harus sudah menemukan keong air agar dapat melanjutkan perkembangannya. Keong air di sini berfungsi sebagai hospes perantara pertama (HP 1). Dalam keong air tersebut mirasidium berkembang menjadi sebuah kantung yang berisi embrio, yang di sebut sporokista (S). Spoprokista ini dapat mengandung sporokista lain atau redia (R); 1 bentuknya berupa kantung yang sudah mempunyai mulut, faring dan sekum. Didalam dompet sporokista II atau redia (R), larva berkembang menjadi serkaria (SK). Perkembangan larva alam hospes perantara I mungkin terjadi sebagai berikut : M M M S S1 S R S2 R1 SK SK R2 SK : misalnya Clonorchis sinesis : misalnya Schistosoma :misalnya trematoda lainnya

Serkaria kemudian keluar dari keong air dan mencari hospes perantara II yang berupa ikan, tumbuh-tumbuhan air, ketam, udang batu dan keong air lainnya, atau dapat menginfeksi hospes definitive secara langsung seperti pada Schitosoma. Dalam hospes perantara II serkaria berubah menjadi metaserkaria yang berbebtuk kista. Hospes definitive mendapat infeksi bila makan hospes perantara II yang mengandung metaserkaria yang tidak dimasak dengan baik. Infeksi cacing Schistosoma terjadi dengan cara serkaria menembus kulit hospes definitive yang kemudian berubah menjadi skistosomula, lalu berkembang menjadi cacing dewasa dalam tubuh hospes. 2.3 Patogenesis Kelainan yang disebabkan cacing daun tergantung dari lokalisasi cacing dalam tubuh hospes, sselain itu ada juga pengaruh rangsangan setempat dan zat

toksin di keluarkan oleh cacing. Reaksi sistemik terjadi karena absorbsi zat toksin, sehingga menghasilkan gejala alergi, demam, sakit kepala dan lain-lain. Cacing daun yang hidup di rongga usus biasanya tidak memberi gejala atau hanya gejala gastrointestinal ringan seperti mual, muntah, sakit perut dan diare. Bila cacing hidup dijaringan paru seperti Paragonimus, mungkin menimbulkan gejala batuk, sesak napas dan mungkin terjadi batuk darah (hemoptisis). Cacing yang hidup di saluran empedu hati seperti Clonorchis, Opisthorchis, dan Fasciola dapat menimbulkan rangsangan dan menyebabkan peradangan saluran empedu, dapat menyebabkan penyumbatan aliran empedu sehingga menimbulkan gejala ikterus. Akibat lainnya adalah peradangan hati sehigga terjadi hepatomegali. Cacing Schistosoma yang hidup di pembuluh darah, ternyata terutama telurnya menimbulkan kelainan yang berupa peradangan, pseudo-abses dan akhirnya terjadi fibrosis jaringan alat yang diinfiltrasi oleh telur cacing ini, seperti dinding usus, dinding kandung kemih, hati, jantung, otak dan lain-lain. 2.4 Pemeriksaan laboratorium dan Pengobatan Diagnosis dibuat dengan menemukan telur dalam tinja, dahag, urin atau dalam jaringan biopsi, dapat pula dengan reaksi serologi untuk membantu menegakan diagnosis. Obat yang terbaik untuk mencegah cacing daun adalah prazikuantel (Biltricide, Distocide). a. Alat dan Bahan Pemeriksaan Alat yang digunakan dalam pemeriksaan adalah mikroskop

(Plympus), gelas objek, cover glass, mortir, tabung sentrifus, alat sentrifus, pipet tetes, tabung reaksi, rak tabung dan saringan. Sedangkan bahan yang digunakan adalah NaCL jenuh, NaOH 10%, Methylen blue, Aquadest danfeses. b. MetodePemeriksaan 1. Metode natif Segumpal tinja diletakkan di atas gelas objek, lalu diteteskan air dan diratakan. Kemudian ditutup dengan cover glass dan diperiksa di bawah mikroskop(10x10).

2.MetodeSentrifus Feses 2 gram ditambahkan sedikit aquadest, lalu digerus dengan mortir. Kemudian dimasukkan ke dalam tabung sentrifus setinggi tabung dan disentrifus selama 5 menit. Cairan jernih di atas endapan dibuang. Lalu ditambahkan NaCL jenuh setinggi tabung dan disentrifus lagi selama 5 menit. Tabung diletakkan di atas rak tabung dan diteteskan NaCL jenuh dengan pipet sampai permukaan cairan menjadi cembung dan didiamkan selama 3 menit. Lalu ditempelkan objek glass di atas permukaan cairan tadi dan ditutup dengan cover glass. Kemudian dimana di bawah mikroskop(10x10). 3.MetodeParfittandBanks Diambil 2 gram tinja dan digerus dengan morir. Lalu campuran tersebut dimasukkan ke dalam tabung reaksi sampai setinggi 1 cm dari mulut tabung dan didiamkan selama 10 menit sampai terlihat endapan. Cairan diambil dengan pipt tetes sehingga tinggal endapan saja. Kemudian ditambahkan air pada endapan tadi setinggi 1 cm dari mulut tabung dan dikocok. Lalu didiamkan lagi selama 10 menit sampai terlihat endapan. Cairan jernih dibuang, lalu diteteskan NaOH 10% sebanyak 3 tetes dan ditambah aquadest setinggi 1 cm dari mulut tabung, dikocok dan didiamkan selama 10 menit sampai terlihat endapan. Cairan jernih dibuang lagi. Kemudian diteteskan methylen blue sebanyak 3 tetes dan diaduk. Lalu diambil endapan yang paling bawah dan diletakkan di atas gelas objek dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop (10 x 10).

c. Hasil pemeriksaan dan pembahasan HasilPemeriksaan Dari hasil pemeriksaan feses kambing dengan metode natif, metode sentrifus tidak menemukan telur cacing Fasciola sp. Pada metode Parfit dan Banks terlihat adanya telur cacing trematoda.

2.4 Pencegahan Pencegahan penyakit oleh trematoda dapat di lakukan beberapa hal yaitu pengobatan penderita sebagai sumber infeksi, desinfeksi dan sanitasi pembungan tinja, urine atau sputum, kampanye antimolusca (pemberantasan keong air tawar). Serta pendidikan terutama menyangkut mandi serta makan. Menurut tempat hidup cacing dewasa dalam tubuh hospes, maka trematoda dapat dibagi dalam: a. Trematoda hati (liver flukes): clonorchis sinensis, opistrchis felineus, opis thorchis viverrini dan fasciola b. Trematoda usus (intestinal flukes): fasciolopis buski, echinostomatidae dan heterophydae c. d. Trematoda paru (lung flukes): paragonimus westermani Trematoda darah (blood flukes) schistosoma japonicum, scistosoma mansoni dan scistosoma haematobium.

Trematoda Usus Fasciolopsis Buski


a. Morfologi

Berbentuk pipih seperti daun Terlihat seolah-olah seperti daging. Mempunyai ukuran 20 70 x 5 20 mm Bagian anterior tidak terdapat tonjolan konis punggung Bagian posterior tumpulMempunyai 2 batil isap : 1 batil iasap pada oral dan mempunyai diameter 1 mm, berfungsi sebagai pengisap makanan 1 batil iasap pada ventral mempunyai diameter 1,6 mm, berfungsi untuk melekatkan diri. Saekumnya tidak bercabang-cabang.

b. Siklus hidup Proses siklus hidup cacing fasciolopsis buski melalui air yang terkontaminasi oleh feses yang mengandung telur cacing, kemudian telur cacing ini berubah menjadi mirasidium dan menginfeksi spesies keong yang hidup di air. Dalam tubuh keong (hospes 1), mirasidium bermetamorfosis menjadi sporokitsa dan keluar dari tubuh keong dalam bentuk serkaria. Selanjutnya serkaria ini hinggap di tumbuhan air (hospes 2) dan berubah menjadi metaserkaria yang bersifat infektif terhadap manusia. Apabila metaserkaria dari Fasciolopsis buski ini tertelan, manusia akan terinfeksi cacing ini. c. Patogenesis Cacing dewasa fasciolopsis buski melekat denan perantara batil isap perut pada mukosa usus muda seperti duodenum dan yeyenum, cacing ini memakan isi usus maupun permukaan mukosa usus pada tempat pelekatan cacing tersebut terdapat peradangan tukak (ulkus) maupun abses. Apabila terjadi erosi kapiler pada tempat tersebut , maka timbul pendarahan. Cacing dalam jumlah besar dapat menyebabkan sumbatan yang menimbulkan gejala ileus akut. Gejala klinis yang dini pada akhir masa inkubasi adalah diare dan nyeri uluhati (epigastrium) diare yang mulanya di selingi konstipasi, kemudian menjadi persisten warna tinja menjadi hijau kuning, berbau busuk dan berisi makanan yang tidak di cerna pada beberapa pasien nafsu makan cukup baik atau berlebihan walaupun ada yang mengalami gejala mual, muntah atau tidak memiliki selera (semua ini tergantung dari berat ringanya penyakit).

Trematoda Darah Schistosoma haematobium


a. Klasifikasi Kingdom Filum Kelas : Animalia : Platyhelminthes : Trematoda

Subkelas Ordo Family Genus Species b. Morfologi

: Digenea : Strigeidida : Schistosomatidae : Schistosoma : Schistosoma haematobium

Cacing dewasa jantan gemuk berukuran 10-15 x 0,8-1 mm. Ditutupi integumen tuberkulasi kecil, memiliki dua betil isap berotot, yang ventral lebih besar. Di sebelah belakang batil isap ventral, melipat ke arah ventral sampai ekstremitas kaudal, membentuk kanalis ginekoporik. Di belakang batil isap ventral terdapat 4-5 buah testis besar. Porus genitalis tepat di bawah batil isap ventral. Cacing betina panjang silindris, ukuran 20x0,25 mm. Batil isap kecil, ovarium terletak posterior dari pertengahan tubuh. Uterus panjang, sekitar 2030 telur berkembang pada saat dalam uterus. Kerusakan dinding pembuluh darah oleh telur mungkin disebabkan oleh tekanan dalam venule, tertusuk oleh duri telur dan mungkin karena zat lisis yang keluar melalui pori kulit telur sehingga telur dapat merusak dan menembus dinding pembuluh

darah. (Natadisastra, 2005)

Gambar. 1 Gambar morfologi Schistosoma haematobium

c. Daur Hidup Orang yang terinfeksi buang air kecil atau buang air besar di air, air kencing atau kotoran mengandung telur cacing. Telur cacing menetas dan cacing pindah ke keong, cacing muda pindah dari keong ke manusia. Dengan demikian, orang
8

yang mencuci atau berenang di air di mana orang yang terinfeksi pernah buang air kecil atau buang air besar, maka ia akan terinfeksi.Cacing atau serkaria (bentuk infektif dari Schistosoma haematobium) menginfeksi dengan cara menembus kulit pada waktu manusia masuk kedalam air yang mengandung serkaria. Waktu yang diperlukan untuk infeksi adalah 5-10 menit. Setelah serkaria menembus kulit, larva ini kemudian masuk ke dlaam kapiler darah, mengalir dengan aliran darah masuk ke jantung kanan, lalu paru dan kembali ke jantung kiri; kemudian masuk ke system peredaran darah besar, ke cabang-cabang vena portae dan menjadi dewasa di hati. Setelah dewasa, cacing ini kembali ke vena portae dan vena usus atau vena kandung kemih dan kemudian betina bertelur setelah berkopulasi. Cacing betina meletakkan telur di pembuluh darah. Telur dapat menembus keluar dari pembuluh darah, bermigrasi di jaringan dan akhirnya masuk ke lumen usus atau kendung kemih untuk kemudian ditemukan di dalam tinja atau urine. Telur menetas di dalam air; dan larva yang keluar disebut mirasidium. Mirasidium ini kemudian masuk ke tubuh keong air dan berkembang menjadi serkaria. (Muslim, 2009)

Gambar. 2 Daur Hidup Schistosoma Haemotobium

d. Daur hidup Setelah kontak dengan kulit manusia, serkaria masuk ke dalam pembuluh darah kulit. Lebih kurang 5 hari setelah infeksi, cacing muda mulai menjangkau vena portae dan hati. Kira-kira tiga minggu setelah infeksi pematangan cacing

dimulai sejak keluarnya dari vena portae. Setelah infeksi 10-12 minggu, cacing betina mulai meletakan telur pada venule. Efek pathogen terdiri atas: a. Reaksi lokal dan umum terhadap metabolit cacing yang sedang tumbuh dan matang b. Trauma dengan perdarahan akibat telur keluar dari venule. c. Pembentukan pseudoabses dan pseudotuberkel mengelilingi telur terbatas pada jaringan perivaskuler

Penyakit ini seringkali tidak memperlihatkan tanda-tanda awal. Di beberapa tempat tanda-tanda umum yang sering terlihat adalah adanya darah di dalam air kencing atau kotoran. Pada wanita tanda ini bisa juga disebabkan oleh adanya luka pada alat kelaminnya. Di daerah di mana penyakit ini banyak terjadi, orang yang memperlihatkan sekedar gejala-gejala yang tidak parah atau hanya sekedar sakit perut saja, patut diperiksa. (Sutanto, 2008) e. Pengobatan dan pencegahan Pengobatan terbaik penyakit ini adalah dengan obat-obatan. Menemui seorang petugas kesehatan untuk mengetahui obat apa yang harus digunakan, atau membaca buku kesehatan umum. Luka pada alat kelamin dan adanya darah di dalam air kencing juga merupakan tanda penyakit infeksi kelamin menular (STI = Sexually Transmitted Infections). Banyak wanita tidak mau berobat karena takut mereka akan dituduh mengidap penyakit STI. Jika tidak diobati akan memicu penyakit infeksi parah lainnya dan dapat membuat wanita jadi tidak subur (tidak dapat hamil). Obat Metrifonate, organoposforus cholinesterase inhibitor. Dosisnya 5-15 mg/ kg berat badan diberikan dengan interval 2 minggu. (Natadisastra, 2005) Penyakit cacing dalam darah tidak ditularkan secara langsung dari satu ke orang lain. Sebagian hidup cacing harus dihabiskan dengan hidup di dalam keong air jenis tertentu. Program masyarakat dapat diadakan untuk membasmi keongkeong ini agar mencegah penularan penyakit cacing dalam darah. Programprogram ini hanya berjalan baik jika orang mentaati langkah pencegahan yang

10

paling mendasar yakni: jangan buang air kecil atau buang air besar di dalam atau di dekat sumber air. Cara menghindari penyebab penyakit ini antara lain: a. Menghindari kencing atau buang air besar di dalam air atau dekat sumber air.

b. Hindari berenang di dalam air kotor. c. Gunakan perlindungan sepatu jika masuk ke air, misalnya memakai sepatu boot.

Schistosoma mansoni
a. Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Subkelas Ordo Genus Spesies : Animalia : Platyhelminthes : Trematoda : Digenea : Strigeidida : Schistosoma : Schistosoma mansoni

b. Hospes dan Nama Penyakit Hospes definitifnya adalah manusia, sedangkan hospes reservoirnya adalah kera Baboon dan hewan pengerat. Hospes perantaranya adalah keong air tawar genusBiomphalaria sp. dan Australorbis sp.. Habitat cacing ini adalah vena kolon dan rektum. Pada manusia cacing ini dapat

menyebabkan Skistosomiasis mansoni. (Onggowaluyo, 2001)

usus, Disentri

mansoni dan Skistosomiasis

c. Morfologi Bentuk cacing dewasa seperti S. haematobium, tetapi ukurannya lebih kecil. Cacing betina panjangnya 1.7 7.2 mm. Kelenjar vitelaria meluas ke pinggir pertengahan tubuh. Ovariumnya di anterior pertengahan tubuh, uterus pendek berisi 1 4 butir telur. Cacing jantan panjangnya 6.4 12 mm, gemuk

11

dengan bagian ventral terdapat ginaekoforalis, testes 6 9 buah dan kulit terdiri dari duri-duri kasar. Telur berbentuk lonjong, berwarna coklat kekuningkuningan, dinding hyalin, berukuran 114 - 175 x 45 64 mikron. Pada satu sisi dekat ujung terdapat duri agak panjang, telur berisi mirasidium.

(Onggowaluyo, 2001) d. Siklus Hidup Manusia terinfeksi oleh serkaria diair tawar melalui penetrasi pada kulit.Serkari amasuktubuh melalui sirkulasi vena ke jantung, paru-paru dan sirkulasi portal. Setelah tiga minggu serkaria matang dan mencapai vena mesenterika superior

usus halus, lalu tinggal disana serta berkembang biak (Abdul Ghaffar dan Gregory Brower, 2009).Telur yang dikeluarkan oleh cacing betina di dalam usus menembus jaringan sub mukosa dan mukosa lalu masuk kedalam lumen usus dan keluar bersama tinja. Telur yang berada di air tawar menetas dan melepaskan mirasidium yang kemudian berenang bebas mencari hospes perantaranya yaitu keong. Dalam tubuh keong mirasidium berkembang menjadi sporokista 1 dan 2 kemudian menjadi larva serkaria yang ekornya bercabang. Serkaria akan mencari hospes definitif dalam waktu 24 jam. (

selanjutnya

Onggowaluyo, 2001) Hospes definitifnya adalah manusia, sedangkan hospes reservoirnya adalah kera Baboon dan hewan pengerat. Hospes perantaranya adalah keong air tawar genusBiomphalaria sp. dan Australorbis sp.. Habitat cacing ini adalah vena kolon dan rektum. Pada manusia cacing ini dapat menyebabkan Skistosomiasis usus, Disentri mansoni dan Skistosomiasis mansoni. (Onggowaluyo, 2001) e. Patologi dan Gejala Klinis Patologi yang berhubungan dibagi menjadi dengan dua infeksi bidang

dengan Schistosma mansonidapat

utama, yaitu schistosomiasis akut dan kronis. Schistosomiasis akut bisa disebut juga demam Katayama. Hal ini terkait dengan timbulnya parasit betina bertelur (sekitar 5 minggu setelah infeksi), dan pembentukan granuloma sekitar telur
12

terdapat di hati dan dinding usus, menyerupai hepatosplenomegali dan leukositosis dengan eosinofilia, mual, sakit kepala, batuk, dalam kasus yang ekstrim diare disertai dengan darah, lendir dan bahan nekrotik. Gejala kronis akan tampak beberapa tahun setelah infeksi. Gejalanya seperti peradangan pada hati dan jarang ditemukan di organ lain (paru-paru). (Departement of Parasitology University Cambridge, 2010) f. Pengobatan dan pencegahan Natrium antimonium tartrat cukup efektif untuk pengobatan penyakit yang diakibatkan oleh parasit ini. Stiboven dapat diberikan secara intramuskuler. Nitridiasol juga efektif tetapi bukan sebagai obat pilihan. Obat lain yang cukup baik diberikan pr oral adalah oksamniquin dan nitrioquinolin. (Onggowaluyo, 2001) Pengendalian Schistosomiasis, dengan mengontrol setiap organisme yang memungkinkan untuk menularkan cacing. Hal ini bertujuan untuk

mencegah infeksi baru, biasanya oleh gangguan siklus hidup parasit. Pencegahan dan pengendalian dapat dicapai dengan sejumlah metode seperti berusaha untuk menghilangkan hospes perantara, penghapusan parasite dari hospes definitif, pencegahan infeksi pada inang definitive dan pencegahan infeksi pada hospes perantara. (Departement of Parasitology University Cambridge, 2010)

13

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Trematoda merupakan cacing pipih berbentuk daun yang hidup parasit pada manusia maupun hewan. Beberapa contoh dari cacing trematoda adalah cacing usus dan cacing darah. Contoh dari cacing trematoda usus adalah Fasciola buski, dan contoh dari cacing trematoda darah adalah Schitosoma mansoni.

3.2 Saran
Dengan selesainya makalah ini penyusun memberi sedikit saran yang semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. 1. Hendaknya kita mempelajari cacing parasit, salah satunya yaitu cacing trematoda agar mengetahui tentang pengertian, morfologi, siklus hidup, patologi, penyakit yang bisa ditimbulkan, dan pengobatannya. 2. Dan bagi rekan-rekan mahasiswa lain,kami harap bisa meneliti lebih lanjut tentang trematoda.

14

DAFTAR PUSTAKA
Adam, Syamsunir.1992.Dasar-Dasar Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Perawat.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC Gandahusada, srisasi Prof.dr. dkk (ed). Parasitologi Kedokteran. Edisi ketiga, 2002. balai Penerbit FKUI. Jakarta. Muslim, M.2005.Parasitologi Kedokteran EGC Untuk Keperawatan.Jakarta:Penerbit Buku

Kiranti Nurendah.(2001). Trematoda. [Online] Tersedia:

http://luppi-

palpie.blogspot.com/2011/05/trematoda_29.html> [April 2014]

15