Anda di halaman 1dari 19

BAB I LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS Nama Usia Jenis Kelamin Agama Alamat Status Pendidikan Pekerjaan No. RM : Ny. N : 41 tahun : Perempuan : Islam : Sindang Barang Jero GG. Bengkong No.2 RT 02/02 : Menikah : SLA : Ibu rumah tangga : 0-28-44-56

II.

ANAMNESIS Pemeriksa melakukan auto anamnesis pasien di Poliklinik Mata RS Marzoeki Mahdi pada hari Khamis, tanggal 2 April 20134.

Keluhan Utama Pasien datang dengan keluhan penglihatan kedua belah mata kabur sejak 1 tahun yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke Poliklinik Mata RS Marzoeki Mahdi dengan keluhan kedua belah mata mempunyai penglihatan kabur sejak 1 tahun yang lalu. Kabur yang dirasakan semakin bertambah secara perlahan-lahan. Pasien mengaku harus memincingkan matanya serta harus ada sinar cahaya untuk melihat jarak jauh dengan lebih jelas. Pasien juga menyatakan bahwa timbul nyeri kepala yang hilang timbul serta pegal-pegal pada bola mata. Pasien menyangkal penglihatan seperti melihat asap atau pelangi. Pasien juga menyangkal mata terasa sakit ketika menggerakkan mata, mata merah, mata berair, mata silau, mata gatal dan mata mengganjal.

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien sudah memakai kacamata plus sejak beberapa bulan yang lalu. Riwayat diabetes melitus, hipertensi, dan alergi disangkal oleh pasien.

Riwayat Penyakit Keluarga Pasien mengaku suami dan anak pasien juga memakai kacamata. Tidak ada riwayat diabetes melitus, hipertensi, dan alergi dalam keluarga.

Riwayat obat-obatan Menggunakan obat tetes Rohto jika mata terasa gatal.

Riwayat operasi Tidak pernah

Riwayat trauma Tidak pernah

III. PEMERIKSAAN FISIK A. Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tanda vital : Baik : Compos mentis :

Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi Suhu Pernafasan Kepala Mata Telinga Hidung Mulut Leher Jantung Paru Abdomen Ekstremitas : 80x/ menit : afebris : 22x/menit : normocephali : (status oftalmologi) : normotia, membrane timpani sulit dinilai, serumen -/: septum deviasi : -/-, sekret -/: sianosis -, T1-T1 tenang : KGB tidak teraba, tiroid tidak teraba membesar : BJ 1-2 reguler, murmur -, gallop : SN vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/: supel, nyeri tekan -, bising usus + (normal) : akral hangat, oedem

B. Status Ofthalmologi Mata Palpebra : Skuama Edema Luka robek OD OS

Konjungtiva : Warna Injeksi Penebalan Jernih Episklera Jernih Episklera -

COA : Iris : Pupil Lensa

Benda asing Sekret Edema

Kornea : Jernih Benda asing Infiltrat Sikatrik Arkus senilis + + -

Volume Isi

Cukup Aqueous humor

Cukup Aqueous humor

Warna Kripta

Coklat +

Coklat +

Besar Warna RCL/RCTL Posisi

3 mm Hitam +/+ Ortoposisi

3 mm Hitam +/+ Ortoposisi

Jernih IOL

+ -

+ -

Gerak bola mata

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pada pemeriksaan visus menggunakan kartu Snellen, ditemukan dan dikoreksi visus : VOD : 1.0 F S - 0.25 1,0 VOS : 1.0 S - 0.25 1,0

Additional kanan dan kiri masing-masing + 1,25

V. RESUME Pasien wanita, 41 tahun mengeluh kedua mata mempunyai penglihatan kabur sejak 1 tahun yang lalu. Kabur yang dirasakan semakin bertambah secara perlahan-lahan Pasien mengaku harus memincingkan matanya serta harus ada sinar cahaya untuk melihat jarak jauh dengan lebih jelas. Pasien juga menyatakan bahwa timbul nyeri kepala yang hilang timbul serta pegal-pegal pada bola mata Pada pemeriksaan fisik, status generalis dalam batas normal. Pada status ofthalmologi, didapatkan injeksi episklera pada kedua belah mata. Visus mata kanan 1.0 F dan mata kiri 1.0.

VI. DIAGNOSIS KERJA ODS myopia. ODS presbiopia.

VII. PENATALAKSANAAN Medikamentosa (ODS) Protagenta eye drop 4 x 1 tetes Oral Vitaminorum 2 x 1 tab

Non medikamentosa : a. Koreksi kacamata lensa sferis negatif dan Bifocal progressive Hipermetropia OD : S- 0.25 OS : S- 0.25 Presbiopia Add : + 1.25

b. Edukasi Untuk menjaga kesehatan badan dan mata Usahakan untuk cukup beristirahat Mengurangi pekerjaan dekat. Bila membaca jangan terus-menerus dan usahakan dalam posisi tegak. jangan membungkuk di atas buku. Kacamata harus terus dipakai. Penerangan haruslah sesuai, yang terbaik adalah penerangan dari atas dan belakang.

VIII. PROGNOSIS ODS : Ad vitam Ad visam : bonam : dubia ad bonam

Ad sanationam : dubia ad bonam

BAB II ANALISIS KASUS Dasar Diagnosis ODS Myopia ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan tambahan. Pada anamnesis hanya ditemukan adanya penglihatan kabur saat melihat jauh. Pada keadaan mata normal, daya bias normal dimana sinar jauh di fokuskan sempurna di daerah makula lutea tanpa bantuan akomodasi. Bila sinar sejajar tidak difokuskan pada makula lutea maka terjadilah keadaan penglihatan kabur. Pada kasus ini penglihatan pasien kabur saat melihat jauh, ada 2 kemungkinan dimana myopia terjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat atau akibat panjangnya sumbu bola mata dengan kelengkungan kornea dan lensa yang normal. Kabur tanpa mata merah yang dirasakan semakin bertambah secara perlahan-lahan menunjukkan tidak ada kelainan akut yang menyebabkan gangguan vaskularisasi retina, infeksi saraf retina atau koroid, tidak ada gangguan pembiasan pada media vitreous humor. Penyebab lain yang memungkinkan terjadinya penglihatan kabur secara perlahan adalah defek pada defek kornea, lensa atau posisinya yang berubah akibat tekanan intraokular yang meningkat. Pasien mengaku harus memincingkan matanya serta harus ada sinar cahaya untuk melihat jarak jauh dengan lebih jelas. Pemincingan mata mirip dengan efek pinhole yaitu bila dengan mengintip melalui lubang penglihatan menjadi lebih baik berarti ada kelainan refraksi yang masih dapat dikoreksi dengan kaca mata. Perlunya cahaya terang supaya cahaya dapat memantulkan imej atau warna obyek dengan lebih baik. Pasien juga menyatakan bahwa timbul nyeri kepala yang hilang timbul serta pegal-pegal pada bola mata. Pada keadaan kelainan refraksi yang tidak dikoreksi dengan betul atau penerangan waktu baca yang tidak betul dapat menimbulkan yang disebut sebagai astenopia akomodasi atau kelelahan waktu membaca. Terjadi kelelahan otot mata yang berakomodasi untuk melihat jauh dimana otot siliar akan berterusan mengendor untuk mencekungkan lensa supaya cahaya yang masuk dapat jatuh di makula lutea. Pada pemeriksaan fisik ditemukan visus oculus dextra 1.0 F dan oculus sinistra 1.0 Setelah melalui pemeriksaan subjektif dengan menggunakan metode trial and error, didapati bahwa kelainan refraksi pada kedua mata pasien ini dapat dikoreksi dengan menggunakan lensa sferis negatif 0.25 dekstra dan 0.25 sinistra sehingga visus kedua mata mencapai 1.0.

Dengan demikian, hasil pemeriksaan subjektif ini makin mengarahkan diagnosa pada myopia. Penderita ini juga didiagnosis dengan presbiopia karena usianya telah mencapai 40 tahun. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, biasanya mulai umur 40 tahun, setiap lensa mata akan mengalami kemunduran kemampuan untuk mencembung sehingga memberikan kesukaran melihat dekat. Secara terus-menerus, lensa menghasilkan serabut-serabut baru dan yang lama tertimbun di dalam nukleus. Nukleus menjadi keras dan membesar dan kelenturan lensa berkurang sehingga pada waktu berakomodasi, kelengkungannya tidak bertambah dengan memadai. Penanganan presbiopia pada kasus ini adalah dengan menambahkan koreksi lensa S+1.25 untuk oculi dextra dan sinistra. Nilai lensa sferis ini didapatkan sesuai dengan usia penderita, yaitu 41 tahun. Penanganan gejala simpomatis juga diberikan yaitu obat tetes yang

berfungsi menstabilkan dan sebagai pengganti lapisan cairan

mata pre corneal dan

mendorong mempercepat penyembuhan lesion epitel kornea karena fungsi koloid protektifnya. Diindikasikan untuk menghilangkan gejala iritasi lokal yang disebabkan debu, gas, atau gangguan lakrimasi. Manifestasi rangsangan pada mata disebabkan produksi cairan air mata yang kurang atau tidak cukup (mata kering). Selain itu juga sebagai pelicin untuk lensa kontak. Pasien diedukasikan untuk menjaga kesehatan badan dan mata dari sisi kebersihan, diet dan aktifitas. Usahakan untuk cukup beristirahat agar otot mata tidak terlalu lelah. Mengurangi pekerjaan dekat dan sentiasa bekerja dibawah cahaya terang. Bila membaca jangan terus-menerus dan usahakan dalam posisi tegak. Sesekali melihat ke arah yang lebih jauh atau sesuatu yang hijau untuk mengisirahatkan dari akomodasi. Jangan membungkuk di atas buku. Kacamata harus terus dipakai, jika nyeri kepala kacamata dilepas, bila nyeri hilang kacamata dipakai lagi. Jangan meninggalkan untuk memakai kacamata buat jangka waktu lama. Penerangan haruslah sesuai, yang terbaik adalah penerangan dari atas dan belakang agar cahaya yang masuk ke dalam bola mata cukup dan tidak menimbulkan silau. Prognosis penderita ini bonam, karena belum ditemukan adanya komplikasi seperti gluokoma.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

I.

ANATOMI

Kornea Kornea (cornum = seperti tanduk) merupakan selaput bening mata yangtembus cahaya dan pelindung struktur mata internal. Jaringan ini bersifat avaskular dan transparan. Kornea dewasa mempunyaitebal 0,54 mm di tengah, 0,65 mm di tepi, dan diameter 11,5 mm. Kornea memberikan kontribusi dari total kekuatan refraksi mata atausetara dengan 40 dioptri dari total 50 dioptri mata manusia. Dalam nutrisinya, kornea bergantung pada difusi glukosa dari aqueushumor dan oksigen yang berdifusi melalui lapisan air mata dan udara bebas.Sebagai tambahan, kornea perifer disuplai oksigen dari sirkulasi limbus. Kornea adalah salah satu organ tubuh yang memiliki densitas ujung-ujung saraf terbanyak dan sensitifitasnya adalah 100 kali jika dibandingkan dengan konjungtiva. Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus yang berjalansuprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran

Bowmanmelepas selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedualapis terdepan. Sensasi dingin oleh Bulbus Krause ditemukan pada daerah limbus. Dari anterior ke posterior, kornea memiliki 5 lapisan yang berbeda-beda yaitu epitel, membran bowman, stroma, membrane descemet, endotel.3

Humor aquaeus Humor aqueus diproduksi oleh korpus siliaris. Setelah memasuki kamera okuli posterior, humor aqueus melalui pupil masuk ke kamera okuli anterior dan kemudian ke perifer menuju sudut kamera okuli anterior.3

Lensa mata Lensa merupakan badan yang bening, bikonveks 5 mm tebalnya dan berdiameter 9mm pada orang dewasa. Permukaan lensa bagian posterior lebih melengkung daripada bagiananterior. Kedua permukaan tersebut bertemu pada tepi lensa yang dinamakan ekuator.

Lensamempunyai kapsul yang bening dan pada ekuator difiksasi oleh zonula Zinn pada

badansiliar. Lensa pada orang dewasa terdiri atas bagian inti (nukleus) dan bagian tepi (korteks). Nukleus lebih keras daripada korteks.4 Dengan bertambahnya umur, nukleus makin membesar sedang korteks makinmenipis, sehingga akhirnya seluruh lensa mempunyai konsistensi nukleus.4 Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu.1 - Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung - Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan, - Terletak di tempatnya.Keadaan patologik lensa ini dapat berupa.1 - Tidak kenyal pada orang dewasa yang akan mengakibatkan presbiopia, - Keruh atau spa yang disebut katarak, - Tidak berada di tempat atau subluksasi dan dislokasi. Lensa orang dewasa di dalam perjalanan hidupnya akan menjadi bertambah

besar danberat.Fungsi lensa adalah untuk membias cahaya, sehingga difokuskan pada retina. Peningkatan kekuatan pembiasan lensa disebut akomodasi.4

Badan kaca Badan kaca merupakan suatu jaringan seperti kaca bening yang terletak antara lensadengan retina. Badan kaca bersifat semi cair di dalam bola mata. Mengandung air sebanyak 90% sehingga tidak dapat lagi menyerap air. Sesungguhnya fungsi badan kaca sama denganfungsi cairan mata, yaitu mempertahankan bola mata agar tetap bulat. Peranannya mengisiruang untuk meneruskan sinar dari lensa ke retina. Badan kaca melekat pada bagian tertentu jaringan bola mata. Perlekatan itu terdapat pada bagian yang disebut ora serata, pars plana,dan papil saraf optik. Kebeningan badan kaca disebabkan tidak terdapatnya pembuluh darah dan sel .Pada pemeriksaan tidak terdapatnya kekeruhan badan kaca akan memudahkan melihat bagian retina pada pemeriksaan oftalmoskopi.3

10

Struktur badan kaca merupakan anyaman yang bening dengan diantaranya cairan bening. Badan kaca tidak mempunyai pembuluh darah dan menerima nutrisinya dari jaringan sekitarnya: koroid, badan siliar dan retina.2

II.

REFRAKSI Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri atas

kornea, cairan mata, lensa, benda kaca, dan panjangnya bola mata. Pada orang normal, susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjangnya bola mata demikian seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh. Dikenal beberapa titik di dalam bidang refraksi, seperti pungtum proksimum yang merupakan titik terdekat dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Pungtum remotum adalah titik terjauh dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas, yang merupakan titik dalam ruang yang berhubungan dengan retina atau foveola bila mata istirahat. Pada emetropia, pungtum remotum terletak di depan mata. Emetropia adalah suatu keadaan dimana sinar yang sejajar atau jauh dibiaskan atau difokuskan oleh sistem optik mata tepat pada daerah makula lutea tanpa melakukan akomodasi. Pada mata emetropia, terdapat keseimbangan antara kekuatan pembiasan sinar dengan panjangnya bola mata. Keseimbangan dalam pembiasan sebagin besar ditentukan oleh dataran depan dan kelengkungan kornea serta panjangnya bola mata. Kornea mempunyai daya pembiasan sinar terkuat dibanding media penglihatan mata lainnya. Lensa memegang peranan terutama pada saat melakukan akomodasi atau bila melihat benda yang dekat. Panjang bola mata seseorang berbeda-beda. Bila terdapat kelainan pembiasan sinar oleh kornea (mendatar, mencembung) atau adanya perubahan panjang (lebih panjang, lebih pendek) bola mata, maka sinar normal tidak dapat terfokus pada makula. Keadaan ini disebut sebagai ametropia.

11

III. Definisi

MIOPIA

Miopia adalah anomali refraksi pada mata dimana bayangan difokuskan di depan retina, ketika mata tidak dalam kondisi berakomodasi. Ini juga dapat dijelaskan pada kondisi refraktif dimana cahaya yang sejajar dari suatu objek yang masuk pada mata akan jatuh di depan retina, tanpa akomodasi. Miopia berasal dari bahasa Yunani muopia yang memiliki arti menutup mata. Miopia merupakan manifestasi kabur bila melihat jauh, istilah populernya adalah nearsightedness. Miopia adalah keadaan pada mata dimana cahaya atau benda yang jauh letaknya jatuh atau difokuskan didepan retina. Supaya objek atau benda jauh tersebut dapat terlihat jelas atau jatuh tepat di retina diperlukan kaca mata minus. Miopia atau sering disebut sebagai rabun jauh merupakan jenis kerusakan mata yang disebabkan pertumbuhan bola mata yang terlalu panjang atau kelengkungan kornea yang terlalu cekung. Miopia adalah suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan pembiasan sinar yang berlebihan sehingga sinar sejajar yang datang dibiaskan di depan retina (bintik kuning). Pada miopia, titik fokus sistem optik media penglihatan terletak di depan makula lutea. Hal ini dapat disebabkan sistem optik (pembiasan) terlalu kuat, miopia refraktif atau bola mata terlalu panjang. Miopia adalah suatu bentuk kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar yang datang dari jarak tidak terhingga oleh mata dalam keadaan tidak berakomodasi dibiaskan pada satu titik di depan retina.

12

Klasifikasi Secara klinis dan berdasarkan kelainan patologi yang terjadi pada mata, miopia dapat dibagi kepada dua yaitu : 1. Miopia Simpleks : Terjadinya kelainan fundus ringan. Kelainan fundus yang ringan ini berupa kresen miopia yang ringan dan berkembang sangat lambat. Biasanya tidak terjadi kelainan organik dan dengan koreksi yang sesuai bisa mencapai tajam penglihatan yang normal. Berat kelainan refraksi yang terjadi biasanya kurang dari -6D. Keadaan ini disebut juga dengan miopia fisiologi. 2. Miopia Patologis : Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia maligna atau miopia progresif. Keadaan ini dapat ditemukan pada semua umur dan terjadi sejak lahir. Tanda-tanda miopia maligna adalah adanya progresifitas kelainan fundus yang khas pada pemeriksaan oftalmoskopik. Pada anak-anak diagnosis ini sudah dapat dibuat jika terdapat peningkatan tingkat keparahan miopia dengan waktu yang relatif pendek. Kelainan refrasi yang terdapat pada miopia patologik biasanya melebihi -6 D. Menurut American Optometric Association (2006), miopia secara klinis dapat terbagi lima yaitu: 1. Miopia Simpleks : Miopia yang disebabkan oleh dimensi bola mata yang terlalu panjang atau indeks bias kornea maupun lensa kristalina yang terlalu tinggi. 2. Miopia Nokturnal : Miopia yang hanya terjadi pada saat kondisi di sekeliling kurang cahaya. Sebenarnya, fokus titik jauh mata seseorang bervariasi terhadap tahap pencahayaan yang ada. Miopia ini dipercaya penyebabnya adalah pupil yang membuka terlalu lebar untuk memasukkan lebih banyak cahaya, sehingga menimbulkan aberasi dan menambah kondisi miopia. 3. Pseudomiopia : Diakibatkan oleh rangsangan yang berlebihan terhadap mekanisme akomodasi sehingga terjadi kekejangan pada otot otot siliar yang memegang lensa kristalina. Di Indonesia, disebut dengan miopia palsu, karena memang sifat miopia ini hanya sementara sampai kekejangan akomodasinya dapat direlaksasikan. 4. Miopia Degeneretif : Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia maligna atau miopia progresif. Biasanya merupakan miopia derajat tinggi dan tajam penglihatannya juga di bawah

13

normal meskipun telah mendapat koreksi. Miopia jenis ini bertambah buruk dari waktu ke waktu. 5. Miopia Induksi : Miopia yang diakibatkan oleh pemakaian obat obatan, naik turunnya kadar gula darah, terjadinya sklerosis pada nukleus lensa dan sebagainya. Klasifikasi miopia berdasarkan ukuran dioptri lensa yang dibutuhkan untuk

mengkoreksikannya: 8 1. Ringan : lensa koreksinya 0,25 s/d 3,00 Dioptri 2. Sedang : lensa koreksinya 3,25 s/d 6,00 Dioptri. 3. Berat :lensa koreksinya > 6,00 Dioptri. Klasifikasi miopia berdasarkan umur adalah: 8 1. Kongenital : sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak. 2. Miopia onset anak-anak : di bawah umur 20 tahun. 3. Miopia onset awal dewasa : di antara umur 20 sampai 40 tahun. 4. Miopia onset dewasa : di atas umur 40 tahun (> 40 tahun).

Patogenesis Miopia dapat terjadi karena ukuran sumbu bola mata yang relatif panjang dan disebut sebagai miopia aksial. Dapat juga karena indeks bias media refraktif yang tinggi atau akibat indeks refraksi kornea dan lensa yang terlalu kuat. Dalam hal ini disebut sebagai miopia refraktif.7 Miopia degeneratif atau miopia maligna biasanya apabila miopia lebih dari - 6 dioptri (D) disertai kelainan pada fundus okuli dan pada panjangnya bola mata sampai terbentuk stafiloma postikum yang terletak pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi korioretina. Atrofi retina terjadi kemudian setelah terjadinya atrofi sklera dan kadang-kadang terjadi ruptur membran Bruch yang dapat menimbulkan rangsangan untuk terjadinya neovaskularisasi subretina. 7

14

Diagnosis Miopia Pasien dengan miopia akan menyatakan melihat jelas bila dekat malahan melihat terlalu dekat, sedangkan melihat jauh kabur atau disebut pasien adalah rabun jauh. Pasien dengan miopia akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah kelopak yang sempit. Seseorang miopia mempunyai kebiasaan memicingkan matanya untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek lubang kecil. Pasien miopia mempunyai pungtum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam atau berkedudukan konvergensi yang akan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat juling ke dalam atau esoptropia. Pada pemeriksaan funduskopi terdapat miopik kresen yaitu gambaran bulan sabit yang terlihat pada polus posterior fundus mata miopia, yang terdapat pada daerah papil saraf optik akibat tidak tertutupnya sklera oleh koroid. Pada mata dengan miopia tinggi akan terdapat pula kelainan pada fundus okuli seperti degenerasi makula dan degenerasi retina bagian perifer 2 .

Penatalaksanaan Dengan memberikan koreksi lensa Koreksi miopia dengan menggunakan lensa konkaf atau lensa negatif, perlu diingat bahwa cahaya yang melalui lensa konkaf akan disebarkan. Karena itu, bila permukaan refraksi mata mempunyai daya bias terlalu besar, seperti pada miopia, kelebihan daya bias ini dapat dinetralisasi dengan meletakkan lensa sferis konkaf di depan mata. Besarnya kekuatan lensa yang digunakan untuk mengkoreksi mata miopia ditentukan dengan cara trial and error, yaitu dengan mula-mula meletakkan sebuah lensa kuat dan kemudian diganti dengan lensa yang lebih kuat atau lebih lemah sampai memberikan tajam penglihatan yang terbaik 8 Pasien miopia yang dikoreksi dengan kacamata sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal. Sebagai contoh bila pasien dikoreksi dengan -3.00 dioptri memberikan tajam penglihatan 6/6, demikian juga bila diberi sferis -3.25 dioptri, maka sebaiknya diberikan koreksi -3.00 dioptri agar untuk memberikan istirahat mata dengan baik setelah dikoreksi 8

15

Komplikasi Komplikasi Miopia adalah : 1. Ablasio retina Resiko untuk terjadinya ablasio retina pada 0 sampai (- 4,75) D sekitar 1/6662.Sedangkan pada (- 5) sampai (-9,75) D risiko meningkat menjadi 1/1335.Lebih dari (-10) D risiko ini menjadi 1/148. Dengan kata lain penambahan faktor risiko pada miopia lebih rendah tiga kali sedangkan miopia tinggi meningkat menjadi 300 kali. 2 2. Vitreal Liquefaction dan Detachment Badan vitreus yang berada di antara lensa dan retina mengandung 98% air dan 2% serat kolagen yang seiring pertumbuhan usia akan mencair secara perlahan-lahan, namun proses ini akan meningkat pada penderita miopia tinggi. Halini berhubungan dengan hilangnya struktur normal kolagen. Pada tahap awal, penderita akan melihat bayangan-bayangan kecil (floaters). Pada keadaan lanjut, dapat terjadi kolaps badan viterus sehingga kehilangan kontak dengan retina. Keadaan ini nantinya akan menimbulkan risiko untuk terlepasnya retina dan menyebabkan kerusakan retina. Vitreus detachment pada miopia tinggi terjadi karena luasnya volume yang harus diisi akibat memanjangnya bola mata 8 3. Miopik makulopati Dapat terjadi penipisan koroid dan retina serta hilangnya pembuluh darah kapiler pada mata yang berakibat atrofi sel-sel retina sehingga lapangan pandang berkurang. Dapat juga terjadi perdarahan retina dan koroid yang bisa menyebabkan berkurangnya lapangan pandang. Miopi vaskular koroid atau degenerasi makular miopia juga merupakan konsekuensi dari degenerasi makular normal dan ini disebabkan oleh pembuluh darah yang abnormal yang tumbuh di bawah sentral retina.8 4. Glaukoma Risiko terjadinya glaukoma pada mata normal adalah 1,2%, pada miopia sedang 4,2%, dan pada miopia tinggi 4,4%. Glaukoma pada miopia terjadi dikarenakan stres akomodasi dan konvergensi serta kelainan struktur jaringan ikat penyambung pada trabekula. 2

16

5. Katarak Lensa pada miopia kehilangan transparansi. Dilaporkan bahwa pada orang dengan miopia, onset katarak muncul lebih cepat. IV. Presbiopia

Presbiopia yaitu hilangnya daya akomodasi yang terjadi bersamaan dengan proses penuaan pada semua orang. Seseorang dengan mata emetropik (tanpa kesalahan refraksi) akan mulai merasakan ketidakmampuan membaca huruf kecil atau membedakan bendabenda kecil yang terletak berdekatan pada usia sekitar 44-46 tahun. Hal ini semakin buruk pada cahaya yang temaram dan biasanya lebih nyata pada pagi hari atau apabila subyek lelah. Banyak orang mengeluh mengantuk apabila membaca. Gejala-gejala ini meningkat sampai usia 55 tahun, kemudian stabil tetapi menetap. 6 Presbiopia terjadi akibat lensa makin keras sehingga elastisitasnya berkurang. Demikian pula dengan otot akomodasinya, daya kontraksinya berkurang sehingga tidak terdapat pengenduran zonula Zinn yang sempurna. Pada keadaan ini maka diperlukan kacamata bifokus, yaitu kacamata untuk melihat jauh dan dekat. 6 Pada mata normal, maka pada saat melihat jauh mata tidak melakukan akomodasi. Pada waktu melihat dekat maka mata akan mengumpulkan sinar ke daerah retina dengan melakukan akomodasi 6 Penderita miopia akan memberikan keluhan setelah membaca, yaitu berupa mata lelah, berair, dan sering terasa pedas. Sering memerlukan sinar yang lebih terang untuk membaca. Membaca dengan menjauhkan kertas yang dibaca, sukar mengerjakan pekerjaan dengan melihat dekat terutama malam hari. 6 Presbiopia dikoreksi dengan menggunakan lensa plus untuk mengejar daya fokus lensa yang hilang. Lensa plus dapat digunakan dalam beberapa cara. Kacamata baca memiliki koreksi dekat di seluruh bukaan kacamata, sehingga kacamata tersebut baik untuk membaca tetapi membuat benda-benda jauh menjadi kabur. Untuk mengatasi gangguan ini, dapat digunakan kacamata separuh yaitu kacamata yang bagian atasnya terbuka dan tidak dikoreksi untuk penglihatan jauh. Kacamata bifokal melakukan hal serupa tetapi memungkinkan koreksi kesalahan refraksi yang lain. Kacamata trifokal memperbaiki penglihatan jauh di segmen atas, penglihatan sedang di segmen tengah, dan penglihatan dekat di segmen bawah.
17

Lensa progresif juga mengoreksi penglihatan dekat, sedang, dan jauh tetapi dengan perubahan daya lensa yang progresif bukan bertingkat. 8 Pada pasien presbiopia ini diperlukan kacamata baca atau adisi untuk membaca dekat yang berkekuatan tertentu, biasanya: + 1.0 D untuk usia 40 tahun + 1.5 D untuk usia 45 tahun + 2.0 D untuk usia 50 tahun + 2.5 D untuk usia 55 tahun + 3.0 D untuk usia 60 tahun Pemeriksaan adisi untuk membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan jarak kerja pasien pada waktu membaca. Pemeriksaan sangat subjektif sehingga angka di atas tidak merupakan angka yang tetap.6

18

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S.Ilmu Penyakit Mata. 3rd ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.2006. 1-12, 64-75 2. Universitas Sumatera Utara. Miopia. Accessed on 4 April 2014. Available at: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31809/4/Chapter%20II.pdf. 3. Lang GK. Opthamology. Thieme Stuttgart: New York, 2000 4. Radjiman T, dkk. Ilmu Penyakit Mata, Penerbit Airlangga, Surabaya, 1984. h:1-8 5. Ilyas S. Kelainan Refraksi Dan Kacamata. 2nd ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.2006. 1-14, 35-48 6. M. Dewi Universitas Sumatera Utara. Miopia. Accessed on 4 April 2014. Available at: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21414/4/Chapter%20II.pdf 7. Hardy RA. Retina dan Tumor Intraokuler dalam: oftalmologi umum ed 14. Vaughan DG, Asbury T, Eva PR (eds). Jakarta: Widya Medika, 2000;21 8. Hartono, Yudono RH, Utomo PT, Hernowo AS. Refraksi dalam: Ilmu Penyakit Mata. Suhardjo, Hartono (eds). Yogyakarta: Bagian Ilmu Penyakit Mata FK

UGM,2007;185-7.

19