Anda di halaman 1dari 1

VACARE DEO Maret 2014, Minggu 1

hidup sehari-hari kita disibukkan oleh berbagai pikiran lepas dari Tuhan. Jika kita sungguh-sungguh, kita akan belajar menemukan gelombang Allah. Perlahan-lahan tetapi pasti, kita akan mengalami betapa indahnya Tuhan. Tuhan juga menghendaki suatu sikap yang radikal, suatu keseriusan dalam usaha kita dan hati yang tidak terbagi yang diarahkan kepada-Nya. Tuhan ingin supaya kita betulbetul terbuka dan hati kita menjadi sunyi, artinya terarah seluruhnya kepada Tuhan serta merindukan Dia dan karunia kasihNya yang besar. Sikap tidak siap menerima Tuhan dalam kontemplasi seringkali disebabkan karena kurangnya cinta kepada Allah. Siapa yang mengasihi Tuhan, ingin melihat Tuhan sendiri, seperti ungkapan Teresa, Aku ingin melihat Allah. Tuhan tunjukkan wajah -Mu maka kami akan selamat. (Mz. 80:4) Teresa yakin bahwa Tuhan akan memberikan karunia kontemplasi pada tiap orang yang mempersiapkan diri. Inilah yang dikatakannya, Tuhan tidak akan menghalangi seorang pun untuk memperoleh kekayaannya. Berikan kepada Tuhan apa yang kamu miliki masing-masing dan Tuhan akan puas dengan itu semua... Ingatlah akan tujuan hidup kita di sini supaya kamu tidak menyimpan sesuatu pun untuk dirimu sendiri. Apakah yang ada padamu itu sedikit atau banyak, Dia menghendaki supaya kita mempersembahkan semuanya bagi Dia. Dan karunia yang diberikan kepadamu akan seimbang dengan keputusanmu untuk memberikan kepada Dia. Di sini perlu kita ingat juga apa yang dikatakan Yohanes Salib dalam Mendaki Gunung Karmel, Seperti mustahil 1 cahaya matahari tidak akan masuk ke dalam kamar kita bila kita membuka jendela , demikian pula mustahil bagi Allah tidak akan masuk ke dalam hati kita, bila kita membukanya. Oleh karena itu kita harus berani membayar harganya, sebab suatu barang yang sangat berharga pasti harganyapun juga sangat mahal. Dan kontemplasi yang disediakan bagi kita itu begitu berharga, sehingga kita juga harus berani membayar harganya.

PANGGILAN KEPADA KONTEMPLASI Rm. Yohanes Indrakusuma, CSE


Berdasarkan tulisan-tulisan Teresa Avila dan Yohanes Salib, dapat dimengerti bahwa perkawinan rohani merupakan tujuan dari hidup kristiani kita. Bagi para karmelit, jalan kontemplasi merupakan jalan dan rahmat istimewa yang dianugerahkan Tuhan bagi kita. Oleh karena itu, seandainyapun kontemplasi itu bukan merupakan sesuatu yang mutlak, namun tetap harus disadari nilainya yang sangat besar bila kita mencapai kontemplasi itu. Dalam kontemplasi ini kita sadari bahwa Tuhan sendirilah yang mengambil alih segala aktivitas kita, sehingga doa-doa kita mendalam dan perkembangan rohani pun lebih cepat. Dalam doa kontemplasi, bukan kita sendiri yang berjalan melainkan kita dibawa oleh Tuhan sendiri. Bukan kita yang harus berjalan dengan langkah-langkah kita yang kecil, tetapi kita digendong dan dibawa oleh Tuhan menurut waktu Allah dan kecepatan Allah. Pengenalan akan kesia-siaan dunia yang dihasilkan oleh kontemplasi ini, berbeda sekali dengan kelepasan yang dapat dicapai lewat penyangkalan diri dan mati raga secara aktif. Teresa mengatakan, bila orang dalam doa mengalami sentuhan dan jamahan Tuhan, dalam waktu setengah jam saja, orang itu bisa menginjak-injak dunia, artinya mampu melepaskan diri dari ikatan dunia dengan mudah. Inilah panggilan yang nyata bagi kita kepada kontemplasi. Kalau kita tidak mencapainya, mungkin karena kurang terbuka dan menanggapi. Teresa menegaskan dalam Puri Batin itu bahwa semua Karmelit dipanggil pada doa dan kontemplasi. Namun sayang, sedikit sekali yang mempersiapkan diri, yaitu untuk memperoleh mutiara yang amat berharga yang ditawarkan Tuhan kepada kita. Dewasa ini orang begitu merindukan dan mencari kontemplasi, karena ada kerinduan dan kehausan untuk mengalami kehadiran Tuhan. Sayangnya, sedikit saja yang berani membayar harganya. Kontemplasi mengandaikan tuntutan-tuntutan lebih tinggi dan konkret, antara lain silentium lahir dan batin serta penyangkalan-penyangkalan diri yang lebih radikal, hidup dalam ketaatan dan kelepasan, serta kerelaan hati yang besar. Teresa mengingatkan kita untuk betul-betul berusaha melakukan kebajikan-kebajikan agar bisa mencapai kontemplasi. Siapa yang merindukan kontemplasi juga harus mau dan rela untuk mempersembahkan kurban-kurban kepada Allah. Pada umumnya Tuhan dialami di dalam keheningan. Oleh karena itu, kalau kita lalai dalam doa atau pikiran macam-macam berkecamuk dalam doa, mungkin hal itu disebabkan karena dalam

Banyak orang membenarkan diri jika tidak berdoa karena sibuk bekerja. Apalagi jika masih usia produktif, apalagi jika punya keluarga. Orang berpikir bekerja segiat-giatnya sampai usia pensiun baru mencari Tuhan. Padahal jika kita mencari Tuhan dalam pekerjaan, melayani Tuhan di tempat kita bekerja, maka kita akan mengalami hidup yang penuh makna. Inilah tujuan hidup setiap orang Kristiani, yaitu melakukan kehendak-Nya dalam hidup kita sehari-hari. 1. Pernahkah Anda merasakan betapa sia-sianya segala sesuatu yang duniawi? 2. Sejauh mana kesia-siaan itu menyemangati hidup rohani Anda?

Pada zaman itu jendela dibuat dari kayu, bukan kaca, sehingga bila jendela dibuka, cahaya langsung masuk.