Anda di halaman 1dari 26

DATA RECOVERY DENGAN TESTDISK

Metode terbaik untuk menghindari kerugian akibat kehilangan data penting di komputer adalah dengan mempersiapkan diri dengan tooltool pilihan yang memungkinkan Anda menanggulangi permasalahan kehilangan data ini. Adapun teknik pencegahan dari kehilangan data yang paling manjur adalah menggunakan backup, baik secara redundan ataupun realtime. Sering kali memang kehilangan data terjadi begitu saja secara tiba-tiba. Karena itu walaupun sudah melakukan backup, penggunaan tool-tool untuk mengembalikan data-data yang sudah terhapus dari komputer tetap merupakan hal yang krusial. Software data recovery memungkinkan Anda mengembalikan data yang hilang jika dieksekusi di saat yang tepat, yaitu tidak lama setelah data tersebut hilang. Karena jika terlambat, data bisa hilang secara permanen.

1.1 Pengertian Data Recovery


Data Recovery merupakan proses mengembalikan data dari kondisi yang rusak, gagal, korup, atau tidak bisa diakses ke kondisi awal yang normal. Data yang dikembalikan bisa dari hard disk, flash disk dan media simpan lainnya seperti kamera digital, dan camcorder. Kegiatan recovery atau pengembalian data ini bisa karena kerusakan fisik dari peranti penyimpanan atau kerusakan logis/software yang memungkinkan sistem file tempat tersimpannya data tersebut tidak bisa dikenali karena tidak ter-mount dengan baik oleh sistem operasi.

Gambar 1.1 Komponen hard disk, salah satu komponen yang umum digunakan sebagai penyimpanan data

Kasus kehilangan data yang paling banyak terjadi umumnya adalah kegagalan logis, yaitu ketika sistem operasi gagal untuk mengenali sistem file, baik disk, partisi atau karena sistem operasinya yang rusak. Kasus yang juga umum menyebabkan kehilangan data adalah kesalahan penghapusan file secara tidak sengaja dari hard disk dan dari recycle bin. Apapun penyebabnya, tujuan dari data recovery adalah mengembalikan file yang sudah hilang tersebut kemudian memindahkannya ke tempat yang aman dengan cara menyalin/ meng-copy. 2

Kemudian proses setelah recovery data bisa ditindaklanjuti dengan pemartisian ulang hard disk dan memindahkan data-data yang berharga ke tempat lain secara terus menerus. Terutama dipisahkan dari tempat sistem operasi berada. Tipe kerusakan kedua adalah kegagalan di level disk. Misalnya sistem file yang tidak konsisten, partisi yang error atau hard disk yang rusak. Jenis kerusakan tipe kedua ini memungkinkan data sulit untuk dibaca. Dengan tingkat kerusakan yang bervariasi, solusi untuk data recovery bisa beragam, dari mulai memperbaiki sistem file, partisi, MBR (master boot record), atau recovery dari sisi hardware. Jika yang rusak adalah hardware-nya maka perbaikan harus digunakan oleh mereka yang kompeten dan menggunakan peralatan yang khusus. Karena fungsinya untuk mengembalikan data yang hilang maka proses data recovery ini bisa digunakan dalam konteks komputer forensik atau untuk mata-mata.

1.1.1 Penyebab Kerusakan Logis di Media Penyimpan


Untuk mencegah proses kehilangan data, kenali dahulu penyebab kerusakan media simpan yang menjadi alasan kenapa ada kerusakan data. Kerusakan jenis pertama adalah kerusakan logis, kerusakan ini umumnya disebabkan oleh matinya listrik yang membuat struktur sistem file ditulisi secara sempurna ke media simpan. Hasilnya sistem file dalam kondisi tidak konsisten. Ini bisa menjadi konsekuensi dari banyak masalah, seperti perilaku komputer yang menjadi aneh, seperti: 1. 2. 3. 4. Direktori yang rekursif (di bawah direktori ada direktori lagi dengan nama yang sama). Jumlah kapasitas hard disk menjadi negatif padahal masih ada ruang kosong di hard disk. Sistem menjadi crash. Kehilangan data. 3

Ada banyak program yang tersedia untuk menanggulangi inkonsistensi ini. Dan sebenarnya, tiap sistem operasi sudah memiliki alat dasar untuk memperbaiki. Windows misalnya punya chkdsk, linux punya fsck dan MacOS punya Disk Utility. Beberapa tool dari pihak ketiga juga tersedia yang memungkinkan hasil data recovery lebih baik. Bahkan misalnya jika disk sama sekali tidak bisa dikenali oleh sistem operasi. Namun, sering kali pengguna komputer salah mendiagnosa kerusakan logis sehingga dianggap sebagai kerusakan fisik hard disk. Misalnya ketika head read/write dari hard disk mulai terdengar suara klik klik maka kebanyakan pengguna menganggap bahwa ada kerusakan hard disk fisik. Walaupun bisa jadi benar, namun tidak selalu suara ngelitik menandakan bahwa hard disk rusak secara fisik. Kemungkinan lain adalah adanya firmware di driver ada yang error sehingga perlu di-flash ulang firmware di hard disk tersebut.

1.1.2 Menghindari Kerusakan Logis


Penggunaan sistem file terbaru yang menggunakan metode journaling seperti NTFS, EXT3 dan XFS bisa menurunkan kemungkinan terjadinya kerusakan file logis. Keunggulan sistem file ini adalah kondisi disk bisa dikembalikan ke dalam kondisi konsistennya. Sehingga data yang rusak bisa diminimalisir karena data yang rusak hanya data yang berada di cache hard disk saat terjadi kegagalan sistem. Namun, maintenance sistem secara teratur bisa lebih melindungi data Anda. Maintenance secara teratur bisa melindungi sistem file dari bug dan tidak kompatibelnya hardware penyimpanan yang dipakai. Ini umumnya terjadi saat drive menyimpan data di cache namun sudah melaporkan bahwa data sudah tersimpan di disk. Jika ternyata komputer mati karena listrik maka file yang tersimpan di cache tersebut otomatis hilang, dan sistem file akan berada dalam kondisi yang tidak konsisten di mana jurnal yang digunakan hancur atau tidak lengkap.

Salah satu solusi untuk hal ini adalah menggunakan hardware yang tidak melaporkan data sebagai sudah tersimpan padahal belum disimpan dan masih dalam posisi di cache saja. Teknik lainnya adalah menggunakan disk controller yang dilengkapi dengan baterai backup sehingga walaupun tidak ada listrik, media simpan dapat tetap menyimpan data dengan sempurna saat listrik sudah kembali menyala. Metode lainnya adalah menggunakan backup UPS (uninterruptible power supply) yang memungkinkan komputer terus bekerja bahkan seandainya listrik mati sehingga user bisa menyimpan data dan mematikan/shut-down komputer dengan aman. Berikut ini tip menghindari kerusakan data di komputer Anda: 1. Jangan letakkan file penting di direktori root/dasar: File yang diletakkan di direktori root sensitif kehilangan jika di-quick format karena entri file terletak di root. Sehingga ketika file hilang, sulit untuk dibangkitkan. Dalam kasus darurat, data terhapus yang terletak di dalam direktori dan bukan di root akan lebih bisa dibangkitkan kembali. Lakukan defragment hard disk secara reguler: Data aslinya disimpan dalam bentuk kluster yang berurutan. Jika tidak ada lokasi penyimpanan berurutan yang kosong maka penghapusan dan penulisan berulang akan membuat drive menjadi terbagibagi/ter-fragmen. Misalnya sebuah data: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) merepresentasikan 8 file ukuran kecil (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) sekarang file (2), (4), (7) dan (8) dihapus (1) (9) (3) (9) (5) (6) (9) (9) disk akan terfragmentasi jika user menyimpan file baru (9) yang ukurannya lebih besar Jika data dihapus dari disk, data baru bisa mengambil tempat kosong. Jika datanya lebih besar dari data yang terhapus maka data akan diletakkan di sampingnya yang dekat, namun tetap dalam kondisi terfragmen.

2.

Karena lokasinya yang terpisah-pisah, bagian head dari hard disk harus meloncat-loncat untuk membaca track, konsekuensinya kemampuan baca dan tulisnya melambat. Sehingga untuk meningkatkan efisiensi proses pembacaan dan penulisan data di hard disk, Anda perlu men-defragmen yang gunanya untuk mengatur ulang data yang terfragmen. Setelah didefragmen, data bisa kembali diatur, seperti contohnya berikut. (1) (9) (9) (9) (9) (3) (5) (6) kondisi setelah defragmentasi Sebuah disk yang terfragmentasi biasanya meningkatkan kemampuan data untuk di-recovery. Jika misalnya data terformat atau terkena virus, kemungkinan penyelamatan data akan lebih baik jika informasi yang ada di hard disk terfragmentasi dengan baik. Data yang sudah di-defragmentasi akan meningkatkan kemungkinan keberhasilan proses penyelamatan karena data yang lengkap diletakkan di tiap cluster pertama dari sebuah file. 3. Tidak menyimpan data penting di tempat penyimpanan dengan kapasitas minim: Kemungkinan recovery akan mengecil dengan semakin kecilnya ukuran disk. Karena itu data yang penting harus diletakkan di drive yang memiliki kapasitas simpan yang cukup lowong. Semakin kecil kapasitas drive akan semakin besar kemungkinan terjadinya fragmentasi. Jika menyimpan di floppy disk, lakukan fragmentasi setelah data disimpan: Disk merupakan sebuah media yang paling rentang dengan fragmentasi. Karena itu jika terpaksa menyimpan data di disk maka setelah data disimpan, lakukan defragmen di disk tersebut. Jangan gunakan drive sistem jika ingin melakukan penyelamatan data: Jangan instal software recovery di drive yang mengandung data yang ingin diselamatkan. Jadi, misalnya Anda ingin menyelamatkan data di salah satu partisi maka jangan jalankan software di partisi tersebut. Jika tidak, data bisa tertimpa dan kemungkinan penyelamatan data menjadi lebih sedikit. Paling aman gunakan flash disk atau dari peranti cabut yang bisa ditambahkan secara hot plug.

4.

5.

6.

Hindari bekerja dengan drive dan jangan menyimpan data saat terjadi proses penyelamatan. Jangan gunakan pula program seperti Windows Explorer atau software lain seperti Midnight commander yang akan melakukan operasi ke sistem file di hard disk. Gunakan hard disk cadangan untuk mem-backup file-file penting dan untuk melakukan recovery.

7.

1.1.3 Teknik Recovery


Ada 2 teknik umum yang biasa digunakan untuk menyelamatkan data dari kerusakan logis hard disk. Pertama pengecekan konsistensi data (consistency checking) dan yang kedua adalah pemahatan data (data carving). Walaupun pada umumnya kedua teknik ini bisa memperbaiki dan menyelematkan data, namun tidak ada software yang bisa 100% memperbaiki dan mengembalikan data ke dalam kondisi semula karena akan tetap ada sedikit kehilangan data (data loss) yang terjadi. Terutama di format file lama, seperti FAT yang sering kali membuat dua file bisa mengklaim tempat unit alokasi yang sama sehingga jika di-recover, pasti salah satu file akan hilang. Teknik pertama adalah pengecekan konsistensi. Tahapan ini melibatkan proses pemindaian struktur logis dari disk dan pengecekan strukutur tersebut untuk memastikan bahwa struktur konsisten dengan spesifikasi yang digunakan. Contohnya dalam kebanyakan sistem file, sebuah direktori minimal memiliki 2 entri. Pertama adalah satu titik (.) yang mengacu pada direktori itu sendiri sementara yang kedua adalah titik titik (..) yang mengacu pada direktori induknya. Sebuah program untuk perbaikan sistem file membaca tiap direktori dan memastikan bahwa entri-entri tersebut ada dan menunjuk ke direktori yang benar. Jika tidak, muncul pesan error yang menunjukkan adanya kesalahan kemudian memperbaikinya. Contoh software yang bekerja dengan cara seperti ini adalah chkdsk dan fsck. Namun, teknik seperti ini juga memiliki kekurangan, pertama jika sistem file rusak parah maka pengecekan konsistensi 7

akan gagal. Dalam hal ini, program untuk repair akan mendapatkan input yang acak adul dan sulit untuk dipindai. Yang kedua adalah keselamatan data terancam karena jika program tidak mendapatkan file data di tempat yang benar atau file data yang misterius akibat kerusakan sistem file yang parah maka program akan menghapus data secara otomatis. Teknik yang kedua adalah pemahatan data yang memungkinkan data yang tersimpan di tempat yang memiliki sistem file yang rusak bisa diekstrak dengan mengidentifikasi sektor dan kluster yang menjadi milik file tersebut. Teknik pemahatan data akan mencari di sektor mentah untuk memindai adanya signature/tanda tangan file tertentu. Karena tidak ada informasi alokasi maka pengguna harus menentukan ukuran blok dari data untuk dipahat jika menemukan signature file yang cocok. Teknik yang kedua ini lebih sulit karena mewajibkan awal file masih ada dan ada risiko pemahatan data yang salah. Selain itu file yang hendak di-recovery juga harus terletak di sektor yang berdekatan atau sekuensial, dan bukan di file yang terfragmentasi. Karena itu teknik pemahatan data ini merupakan teknik yang boros waktu dan sumber daya.

1.2 Aktifkan Test Disk


Software pertama yang bagus untuk recovery data adalah TestDisk. Software ini merupakan program data recovery yang bersifat free dan cocok banget dipakai untuk melakukan recovery data dari partisi yang hilang atau untuk mengembalikan disk yang tidak bisa dibooting menjadi bisa di-booting kembali yang umumnya disebabkan oleh kesalahan software, virus, atau human error (misalnya karena menghapus tabel partisi secara tak sengaja). Di antara fitur testdisk yang diklaim oleh developernya adalah: Recovery tabel partisi, mengembalikan partisi yang terhapus. Recovery boot sector FAT32 dari backup-nya.

Membangun ulang boot sector FAT12/FAT16/FAT32. Memperbaiki tabel FAT. Membangun ulang boot sector NTFS. Mengembalikan boot sector NTFS dari backup-nya. Memperbaiki MFT menggunakan mirror MFT. Mencari tahu lokasi superblok backup dari sistem file ext2/ext3 yang lazim digunakan di Linux. Menghadirkan kembali file yang terhapus dari sistem file FAT, NTFS dan ext2. Menyalin file dari partisi FAT, NTFS dan ext2/ext3 yang sudah terhapus.

TestDisk memiliki banyak fitur yang memungkinkannya cocok dipakai, baik oleh para pemula atau yang sudah berpengalaman. Bagi mereka yang belum terlalu mengetahui teknik data recovery, TestDisk dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi mendetil tentang drive yang tidak bisa booting untuk kemudian dikirimkan ke teknisi untuk analisis lebih lanjut. Adapun mereka yang lama berkecimpung di dunia data recover bisa sangat terbantu untuk melakukan onsite recover menggunakan TestDisk. TestDisk sendiri dapat dijalankan di beberapa sistem operasi berikut: DOS (baik dos asli ataupun dos box di Windows 9x). Windows (NT4, 2000, XP, 2003, Vista). Linux. FreeBSD, NetBSD, OpenBSD. SunOS. MacOS

Anda bisa men-download file source dan binari yang belum terkompilasi di situsnya. TestDisk dapat dipakai untuk menangani kehilangan data di sistem-sistem file berikut ini: BeFS (BeOS)

BSD disklabel (FreeBSD/OpenBSD/NetBSD) CramFS, Compressed File System DOS/Windows FAT12, FAT16 dan FAT32 Windows exFAT HFS, HFS+ dan HFSX, Hierarchical File System JFS, Journaled File System dari IBM. Linux ext2 dan ext3 Partisi terenkripsi LUKS dari Linux Linux RAID md 0.9/1.0/1.1/1.2 Linux Swap (versi 1 dan 2) LVM dan LVM2 (Linux Logical Volume Manager) Mac partition map Novell Storage Services NSS NTFS (Windows NT/2000/XP/2003/Vista/2008/Seven) ReiserFS 3.5, 3.6 dan 4 Sun Solaris i386 disklabel Unix File System UFS dab UFS2 (Sun/BSD) Journaled File System untuk XFS dan SGI

Cara menggunakan TestDisk cukup simpel, yaitu dengan membuka folder win dari folder utama kemudian mengklik file testdisk_win.exe. Aplikasi TestDisk ini berjalan di atas dos. Walaupun terlihat kurang menarik, tapi sebenarnya aplikasi yang berjalan di dos, lebih powerful karena bisa dijalankan tanpa harus masuk ke tampilan GUI dari sistem operasi sehingga bisa lebih menjangkau level bawah dari disk. Tapi tak mengapa juga jika dijalankan dari dalam jendela command dari Windows.

10

Gambar 1.2 Eksekusi testdisk_win.exe untuk membuka aplikasi testdisk

1.3 Log creation


Saat pertama kali diakses, TestDisk akan mewajibkan untuk membuat catatan log. Ada beberapa macam opsi pembuatan catatan log. Pertama adalah Create untuk membuat catatan baru, Append untuk menambahkan di catatan yang sudah ada, dan No Log untuk memilih tidak ada catatan.

Gambar 1.3 Pemilihan Create a new log file

11

Anda disarankan untuk memilih Create kecuali ada alasan untuk menambahkan data ke log yang sudah ada, atau misalnya Anda menjalankan aplikasi TestDisk ini dari media yang read only. Klik Enter untuk menuju ke tahap selanjutnya.

1.4 Disk Selection


Berikutnya muncul halaman Select a media, ini gunanya untuk memilih disk selection. Tampilannya seperti berikut. Anda dapat memilih disk dengan cara mengklik tombol atas atau bawah di numeric keyboard.

Gambar 1.4 Pemilihan disk untuk digarap

Anda bisa memilih hard disk yang ingin diuji atau yang memiliki masalah, misalnya yang memiliki partisi yang hilang. Klik Enter untuk memproses lebih lanjut.

1.5 Partition Table Type Selection


TestDisk menampilkan tipe partisi. Dan berikutnya muncul tampilan yang menjelaskan tipe partisi tabel dalam bentuk partition table type di bawah tulisan Please select the partition table type.

12

Gambar 1.5 Pemilihan partition table type

Anda tinggal memilih tipe tabel partisi yang ada. Umumnya nilai default yang ada sudah merupakan tipe yang benar karena TestDisk sudah melakukan pendeteksian secara otomatis terhadap tipe tabel partisi. Klik Enter untuk memproses langkah ini.

1.6 Menu TestDisk


Menu TestDisk menampilkan menu atau lazim disebut sebagai TestDisk Menu Items. Ada beberapa pilihan, yaitu Analyze untuk menganalisis, Advanced untuk mengakses utilitas sistem file, Geometry untuk mengubah ukuran geometris dari disk, options untuk mengubah opsi, mbr code untuk menulis kode MBR (master boot record) ke sektor pertama, delete untuk menghapus semua data di tabel partisi dan quit untuk kembali ke pemilihan disk/disk selection sebelumnya.

Gambar 1.6 Pemilihan TestDisk Menu

13

Gunakan menu Analyse untuk mengecek partisi yang ada sekarang dan untuk mencari partisi yang hilang (jika ada) di hard disk yang sudah dipilih sebelumnya. Kemudian klik Enter untuk memproses ke tahap selanjutnya. Maka struktur partisi Anda terlihat di daftar. Anda bisa memeriksa struktur partisi yang ada untuk melihat bagaimana kondisi partisi Anda. Dari sini bisa diketahui apakah ada masalah di partisi atau tidak?

Gambar 1.7 Struktur partisi

Jika ada partisi yang ditampilkan ganda, itu artinya partisi tersebut korup atau entri tabelnya invalid. Dari gambar di atas, misalnya, bisa dilihat ada 1 partisi utama bernama OS bertipe NTFS. Lalu ada 4 partisi extended, yaitu Drive data yang bertipe NTFS, lalu Linux yang bertipe EXT3, Drive Data2 yang bertipe FAT32 serta Drive Game yang bertipe NTFS. Tanda L di kiri menunjukkan bahwa partisi tersebut adalah partisi logis (logical partition). Klik pada Quick Search untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.

1.7 Mencari Partisi


Saat mencari partisi Anda bisa menentukan apakah akan menampilkan partisi yang dibuat dari Windows Vista, ketikkan Yes lalu klik Enter. 14

Gambar 1.8 Pembuatan partisi

Maka hasilnya ditampilkan secara langsung (real time). Anda bisa memilih partisi yang akan diproses. Untuk menampilkan file di partisi tersebut, tinggal klik P.

Gambar 1.9 Pemilihan partisi untuk diproses

Maka file-file di partisi akan terlihat. Untuk kembali ke tampilan pemilihan partisi, klik Q/quit, sementara untuk melihat isi file di dalamnya klik P. Maka semua direktori dan data ditampilkan dengan benar.

15

Gambar 1.10 Hasil partisi

Untuk melihat file lebih detil, klik pada tuts panah kanan di keyboard. Sehingga terlihat isi file-file dan direktori di bawah direktori yang dipilih. Contohnya seperti gambar berikut ini.

Gambar 1.11 Tampilan file

16

1.8 Membetulkan Partisi?


Anda bisa memakai TestDisk untuk membetulkan partisi Anda sehingga proses pengaksesan media simpan menjadi lebih bagus. Proses pembetulan partisi sangat mudah, berikut caranya di TestDisk: 1. 2. Perhatikan tampilan partisi seperti berikut, terlihat sekilas tidak ada partisi yang error. Pilih Deeper Search untuk melakukan pencarian lebih detil.

Gambar 1.12 Tampilan partisi standar

3. 4. 5.

Ketika semua partisi ada, dan data benar eksis maka Anda dapat langsung memilih Write untuk menyimpan struktur partisi. Jika kurang yakin hasilnya, pilih Deeper Search kemudian klik Enter untuk memproses. Deeper Search akan mencari partisi dengan lebih detil, misalnya backup FAT32, NTFS backup boot superblock, ext2/ext3 backup superblock untuk mendeteksi partisi lebih banyak. Proses pendeteksian silinder lebih detil akan dilangsungkan dengan waktu yang cukup lama. Tampilannya seperti berikut ini.

6.

17

Gambar 1.13 Tampilan pendeteksian partisi dari TestDisk

7.

Terlihat ada 2 partisi yang diberi tanda D artinya Deleted. Padahal keduanya mengacu pada tempat yang sama. Oleh karena itu Anda dapat melihat satu demi satu isi file tersebut dengan mengklik P di keyboard.

Gambar 1.14 Adanya tamplan ganda di partisi

8.

Yang pertama menunjukkan tampilan file yang benar, seperti terlihat di gambar berikut ini.

18

Gambar 1.15 Tampilan partisi pertama

9.

Adapun partisi kedua yang baru menampilkan tampilan partisi yang error.

Gambar 1.16 Tampilan partisi error

10. Gunakan tombol kanan kiri di keyboard untuk membuat partisi yang benar ke tipe Logical.

19

Gambar 1.17 Pengubahan partisi yang benar ke tipe Logical

11. Klik Q untuk quit kemudian set ke Write untuk menulisi partisi dengan benar.

Gambar 1.18 Pemilihan Write untuk menulisi partisi

12. Klik Enter untuk melangkah lebih lanjut. 13. Muncul konfirmasi Write partition table, confirm, klik Y di keyboard.

20

Gambar 1.19 Konfirmasi partisi

14. Muncul perintah You will have to reboot. Artinya Anda harus mem-booting ulang komputer agar penerapan diimplementasikan secara permanen.

Gambar 1.20 Perintah untuk reboot

21

1.9 Undelete
Undelete mampu digunakan untuk mengembalikan/recovery data yang sudah dihapus dari berbagai sistem file. Sebuah file ketika dihapus, datanya sebenarnya masih ada di dalam disk, dan sebenarnya masih bisa dibangkitkan lagi asalkan belum ditimpa dengan data baru. Jadi, asalkan belum ditimpa dengan data baru, TestDisk bisa menghidupkan kembali data yang sudah dihapus: 1. Di TestDisk menu, pilih Advanced, yaitu persis di bawah menu Analyze.

Gambar 1.21 Pemilihan menu Advanced

2.

Kemudian pilih salah satu partisi tempat data ingin dibangkitkan. Pilih menu Undelete.

Gambar 1.22 Undelete untuk partisi

22

3.

Jika memang di partisi tersebut tidak ada data yang bisa direcover maka muncul tulisan No deleted file found seperti gambar berikut ini.

Gambar 1.23 Tidak ada file terhapus yang ditemukan

4.

Pilih lagi partisi lain yang mengandung file yang bisa di-recover. Klik Undelete juga.

Gambar 1.24 Pemilihan undelete pada partisi lain

5.

Pilih file yang telah terhapus dengan tanda: di keyboard. Anda bisa memilih lebih dari satu file untuk di-recover sekaligus.

23

Gambar 1.25 Tanda titik dua untuk recover sekaligus

6. 7. 8.

Kemudian salin dengan klik tombol C besar di keyboard. Maka tampilan berpindah ke home folder tempat aplikasi TestDisk dijalankan. Pilih folder tempat file tersebut hendak disalin, lalu klik Y di keyboard.

Gambar 1.26 Perintah untuk menyalin

24

9.

Setelah penyalinan selesai, muncul tulisan Copy done seperti berikut.

Gambar 1.27 Penyalinan sudah selesai

10. Sim salabim, hasilnya file yang terhapus akan muncul di tempat penyalinan tersebut.

Gambar 1.28 File yang sudah dihapus muncul lagi di folder

25

***

26