Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

FENOMENA DASAR MESIN


MODUL XII
SALURAN UDARA SERBAGUNA


Oleh:
Kelompok 34
Anggota:
Ahmad Armansyah Fauzi 13111079
Iqbal Jauhari Roesdha 13111082
Abdullah Ahsanun Nasik 13111083
Restu Ikhsanul Fikri 13111087
Fuad Muthahari 13111090
Muhammad Faisal Fachri 13111102



Tanggal Praktikum:
28 Maret 2014
Tanggal Penyerahan Laporan:
2 April 2014














I. Tujuan Percobaan
1. Menunjukkan dan memperkenalkan cara-cara pengukuran kecepatan aliran udara.
2. Menentukan laju masa aliran udara.
3. Mengamati perubahan sifat-sifat termodinamika udara bila dipanaskan.
4. Mengamati perubahan sifat-sifat termodinamika udara bila didinginkan baik disertai dengan
pengembunan atau tidak.

II. Landasan Teori
Saluran udara serbaguna merupakan peralatan pengujian yang digunakan untuk mengamati
fenomena-fenomena yang berkaitan dengan sifat termodinamis udara. Fenomena yang dapat
diamati adalah :
- Perubahan entalpi (h)
- Perubahan kelembaban udara (relatif maupun mutlak)
- Perubahan temperatur
- Pengaruh laju aliran udara terhadap perpindahan panas
Karena ada perubahan laju aliran massa,maka kita dapat mengukur kecepatan aliran udara serta
dapat terlihat peristiwa lift dan drag. Dikarenakan ada pendinginan maka kita juga dapat melihat
fenomena bunga es.
Pengukuran Kecepatan Udara pada Sisi Masuk
Pengukuran ini menggunakan manometer untuk melihat beda tekanan statis antara tekanan udara
lingkungan dengan tekanan udara saluran sisi masuk. Untuk mendapatkan kecepatan udara kita
menggunakan persamaan bernoulli


Dengan asumsi tidak ada perbedaan ketinggian (z
1
=z
2
) dan kecepatan awalnya nol (v
1
=0) maka


Pengukuran Kecepatan Udara pada Saluran Udara
Pengukuran ini menggunakan manometer dan tabung pitot. Tabung pitot digunakan untuk
meperoleh beda tekanan antara tekanan total (stagnasi) dengan tekanan statis pada saluran yang
diukur. Dengan menggunakan persamaan bernoulli


Dengan asumsi tidak ada perbedaan ketinggian (z
1
=z
2
) dan kecepatan awalnya nol (v
1
=0) maka


Dikarenakan kecepatan pada suatu saluran tidak seragam maka kita perlu mengukur di berbagai
titik, kemudian kita rata-ratakan.

Faktor Kalibrasi
Harga kecepatan yang diperoleh dengan menggunakan tabung pitot perlu dikoreksi agar hasilnya
akurat.

Karena kita memiliki data kecepatan diberbagai titik maka data tersebut perlu dirata-ratakan

Kecepatan Udara Setelah Kalibrasi
Kecepatan udara yang telah dikalibrasi ditentukan dengan perkalian antara faktor kalibrasi dengan
kecepatan udara

Laju Aliran Massa Udara
Dalam psikometri, udara dibagi dua yaitu udara kering (tidak mengandung uap air) dan udara basah
(mengandung uap air). Pada praktikum ini kita menentukan laju aliran massa udara kering.



Besar laju aliran massa udara

Proses Perlakuan Udara


Proses Pemanasan dan Pendinginan
Kalor yang diterima selama proses adalah


III. Prosedur Percobaan
Sebelum menjalankan mesin, perlu diperhatikan air dalam botol (di atas pelembab harus
penuh), bila kosong akan menyebabkan heater dari pelembab terbakar. Setelah itu lakukan langkah-
langkah berikut:
1. Pasang manometer pada bagian masuk mesin dan set nol
2. Pasang manometer pada tabung pitot dan set nol
3. Pasang termometer bola kering dan termometer bola basah pada stasiun sebelum dan
sesudah pendinginan langsung
4. Pasang termometer bola kering pada stasiun sesudah pemanas listrik
5. Hubungkan terminal daya dengan jala-jala
6. Terminal daya pada posisi on
7. Atur posisi pelat geser
8. Masukkan ujung terminal daya kipas dan unit pendingin pada terminal daya (2 fasa)
9. Masukkan ujung terminal pemanas ulang pada terminal pemanas
10. Tekan tombol kipas
11. Tunggu 5 menit lalu lakukan pengukuran

IV. Data Pengamatan
Keadaan awal
o T
a
= 23,5
0
C = 296,5 K
o
0
= 1,22 kg/m
3

o
f
= 0,8 .
air
= 800 kg/m
3

o A = 300 x 150 mm
2
= 0,045 m
2

o Tekanan dalam ruangan (P
s
) = 100100 N/m
2

o Faktor koreksi manometer, sin = 0,2

Data pengukuran untuk Saluran Udara Serbaguna (SUS)

Heater
Kondisi
Bukaan
Katup
Posisi
pitot
y
statis
(mm)
y dinamis
(mm)
Pendinginan
(
o
C)
Pemanasan
(
o
C)
Tdb Twb
Low 50 %
1
2
3
4
5
4
3
3
4
4
4
23 21,5 25
Low 100 %
1
2
3
10
8
9
9
24 22,5 25
4
5
10
10
Medium 50 %
1
2
3
4
5
5
2
3
3
4
4
22 21,5 27,5
Medium 100 %
1
2
3
4
5
9
8
9
9
10
10
23,5 22 27


V. Perhitungan & Analisis
Dari data-data di atas, kemudian dilakukan proses perhitungan sbb :
Massa jenis udara
Dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
a
s
ud
T
P 293
101325
0
=

3
/ 19 , 1
5 , 296
293
101325
100100
22 , 1 m kg
ud
= =

Kecepatan Udara Awal pada Sisi Masuk
Contoh perhitungan (untuk kondisi low heater, bukaan katup 100%) :
A = A
statis statis
y h Faktor Koreksi Manometer
2 , 0 . 10 sin . = A = A u
statis statis
y h = 2 mm
3
10 2 . 81 , 9 . 800 . .

= A = A
statis f s
h g P = 15,696 N/m
2

19 , 1
2 . 696 , 15 2 .
=
A
=
ud
s
e
P
V

= 5,136 m/s


Hasil pengolahan data kecepatan udara masuk adalah sebagai berikut :
Heater
Kondisi
Bukaan
Katup
y statis h statis Pe Ve
Low 50% 4 0,8 6,2784 3,248374
Low 100% 10 2 15,696 5,13613
Medium 50% 5 1 7,848 3,631792
Medium 100% 9 1,8 14,1264 4,872561

Kecepatan Aliran Udara pada Saluran Udara
Contoh perhitungan kecepatan aliran udara dalam saluran (untuk kondisi medium heater,
bukaan katup 50% dan posisi pitot 1) :
y
dinamis
= 2 mm
2 , 0 . 4 sin . = A = A u
dinamis dinamis
y h = 0,8 mm
2784 , 6 10 8 , 0 . 81 , 9 . 800 . .
3
= = A = A

statis f d
h g P N/m
2

248374 , 3
19 , 1
2 . 2784 , 6 2 .
= =
A
=
ud
d
d
P
V

m/s

Untuk kelima data tersebut (setiap katup pada kondisi seperti di atas) kemudian dirata-rata :
5
3,248374 3,248374 3,248374 2,813174 2,813174
1
,
+ + + +
= =

=
n
V
V
n
i
i d
dm

074294 , 3 =
dm
V m/s

Hasil pengolahan data kecepatan aliran udara pada saluran udara adalah sebagai berikut :

Heater
Kondisi
Bukaan
Katup
Posisi
pitot
y
dinamis
h
dinamis
Pd V
d
V
dm

Low 50%
1 3 0,6 4,7088 2,813174
3,074294
2 3 0,6 4,7088 2,813174
3 4 0,8 6,2784 3,248374
4 4 0,8 6,2784 3,248374
5 4 0,8 6,2784 3,248374
Low 100%
1 8 1,6 12,5568 4,593794
4,922255
2 9 1,8 14,1264 4,872561
3 9 2 14,1264 4,872561
4 10 2 15,696 5,13613
5 10 2 15,696 5,13613
Medium 50% 1 2 0,4 3,1392 2,296947 2,884009
2 3 0,6 4,7088 2,813174
3 3 0,6 4,7088 2,813174
4 4 0,8 6,2784 3,248374
5 4 0,8 6.2784 3.248374
Medium 100%
1 8 1.6 12.5568 4.593894
4.922255
2 9 1.8 14.1264 4.872561
3 9 1.8 14.1264 4.872561
4 10 2 15.696 5.13613
5 10 2 15.696 5.13613


Faktor Kalibrasi
Contoh perhitungan untuk menentukan faktor kalibrasi (kondisi low heater, bukaan katup
50%) :
0.94641
3.248374
074294 . 3
= = =
e
dm
V
V
K
Faktor kalibrasi K yang digunakan adalah harga rata-ratanya (K
m
) yang diperoleh dari
persamaan berikut :
n
K
K
n
i
i
m

=
=
1

sehingga,
9272671 . 0
5
010199 . 1 794101 . 0 958359 . 0 94641 . 0
=
+ + +
=
m
K



Kecepatan Udara Setelah Kalibrasi
Kecepatan yang sebenarnya adalah kecepatan setelah dikalikan dengan factor kalibrasi.
Besarnya kecepatan tersebut (contoh perhitungan untuk kondisi medium heater, bukaan
katup 100%) adalah :

56424 , 4 ,922255 4 9272671 , 0 . = = =
dm m
V K V m/s

Laju Aliran Massa Udara
Contoh perhitungan laju massa udara (untuk kondisi medium heater, bukaan katup 100%) :
0,2444 56424 , 4 . 045 , 0 . 19 , 1 . . = = = V A m kg/s

Hasil pengolahan data untuk kecepatan pada saluran yang telah dikalibrasi dan laju aliran
massa udara adalah sebagai berikut :

Heater
Kondisi
Bukaan
Katup
V
dm
K V m
Low 50% 3,074294 0,94641 2,931400964 0,156977
Low 100% 4,922255 0,958359 4,455810117 0,244086
Medium 50% 2,884009 0,794101 2,754955633 0,147528
Medium 100% 4,922255 1,010199 4,460341531 0,238851

Enthalpi udara
Untuk menentukan enthalpi pada masing-masing tingkat keadaan pada saluran udara
serbaguna digunakan grafik psikrometrik (Psychrometric charts) dari Figure A-9 Fundamentals
of Engineering Thermodynamics, karangan Moran dan Saphiro.
- T.K. 1 adalah keadaan udara awal saat memasuki SUS yang dianggap sama dengan
keadaan udara di ruangan tempat pengujian.
- T.K. 2 adalah keadaan setelah udara melewati evaporator atau setelah mengalami
proses pendinginan.
- T.K. 3 adalah keadaan setelah udara melewati heater atau setelah mengalami
pemanasan dengan kelembaban konstan.

Hasil-hasil pembacaan diagram psikrometrik untuk masing-masing tingkat keadaan :

Heater
Kondisi
Bukaan
Katup
Pendinginan
(
0
C)
Pemanasan
(
0
C)
Enthalpi
Tdb Twb Tdb h1 h2 h3
Low 50% 22.5 21.5 25 54 63 65
Low 100% 24 22.5 25 54 66.5 68
Medium 50% 22 21.5 27.5 54 63 68
Medium 100% 23.5 22 27 54 64.5 68.5

Kalor Pemanasan (Q
h
) dan Kalor Pendinginan (Q
c
)
Besarnya kalor untuk pemanasan dan pendinginan dapat dihitung dengan menggunakan
rumus neraca energi untuk suatu system control volume :
)
2
( )
2
( 0
2 2
out
out
out out in
in
in in cv cv
gz
V
h m gz
V
h m W Q + + + + + =
Persamaan diatas dapat disedehanakan dengan menggunakan asumsi :
- z
in
= z
out

- V
in
= V
out

- W
cv
= 0
- m
in
= m
out

sehingga menjadi :
) .(
2 3
h h m Q
h
= ; untuk kalor pemanasan
) .(
2 1
h h m Q
c
= ; untuk kalor pendinginan

Berikut ini hasil pengolahan data untuk perhitungan besar kalor pemanasan (Q
h
) dan besar
kalor pendinginan (Q
c
) :







Analisis
1. Dalam praktikum kali ini, dua hal yang menjadi variabel peubah dan kami tinjau
pengaruhnya terhadap laju aliran massa, kalor pemanasan, dan kalor pendinginan, yaitu
bukaan katup dan heater.
2. Laju aliran massa udara yang melewati saluran dengan pembukaan katup penuh (100%)
lebih besar daripada pembukaan katup setengah (50%). Hal ini disebabkan kerja blower
Heater Bukaan Qc Qh
Low 50% -1.6246194 0.3610265
Low 100% -3.5085517 0.4210262
Medium 50% -1.4044848 0.7802693
Medium 100% -2.6528784 1.0106203
dapat maksimal karena tidak dihambat oleh katup, sehingga udara yang tersedot blower
atau yang melewati saluran udara serbaguna lebih besar.
3. Harga kalor pemanasan (Qh) pada heater lebih besar untuk yang medium heater (dengan
kondisi bukaan katup sama). Hal ini disebabkan karena daya yang dikeluarkan oleh medium
heater (1000 W) lebih besar daripada low heater (500 W), sehingga medium heater dapat
memberikan efek pemanasan yang lebih besar dan menghasilkan temperature lebih tinggi.
4. Harga kalor pemanasan (Qh) juga lebih besar pada kondisi bukaan katup penuh (100%)
untuk kondisi heater yang sama. Ini disebabkan laju massa aliran udara lebih besar pada
kondisi bukaan katup penuh.
5. Harga kalor pendinginan (Qc) bernilai negatif. Hal ini menunjukkan bahwa pada evaporator
terjadi proses perpindahan panas dari udara ke evaporator (kalor keluar dari udara).
6. Harga kalor pendinginan (Qc) lebih besar untuk kondisi bukaan katup penuh (dengan
menggunakan kondisi heater yang sama). Ini disebabkan karena laju massa aliran udara lebih
besar pada kondisi bukaan katup penuh.
7. Harga kalor pendinginan (Qc) juga lebih besar pada kondisi low heater jika dibandingkan
dengan medium heater (untuk kondisi bukaan katup yang sama). Hal ini disebabkan karena
udara pada keluaran evaporator yang terbaca oleh thermometer terkena efek pemanasan
dari heater (walaupun hanya sedikit), sehingga temperatur udara yang terbaca menjadi
lebih tinggi dari temperatur keluaran evaporator yang sebenarnya dan mengakibatkan harga
enthalpi (h
2
) menjadi lebih besar. Hal ini dapat terjadi akibat adanya kemungkinan kesalahan
pengukuran, seperti perlakuan pengukuran temperatur tidak sama untuk setiap kondisi
(interval waktu pengambilan data berbeda).

VI. Diskusi dan Kesimpulan
untuk kondisi low heater, maka didapat :
kecepatan aliran udara : bukaan 50% = 3.07 m/s
bukaan 100% = 4.92 m/s
faktor kalibrasi rata-rata = 0.927
laju aliran massa : bukaan 50% = 0.157 kg/s
bukaan 100% = 0.244 kg/s
kalor pemanasan udara melalui heater : bukaan 50% = 0.361 kJ/s
bukaan 100% = 0.421 kJ/s
kalor pendinginan pada evaporator : bukaan 50% = - 1.62kJ/s
bukaan 100% = - 3.51 kJ/s