Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PRODUKTIVITAS PERAIRAN

Oleh : Ahmad Waris Muhajirin Fandi Putra Prastida Eko Hardianto Dikky Ristian S 115080101111044 115080101111048 115080101111056 115080101111064

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, karunia dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Produktivitas Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak dan Ibu Dosen Pembimbing mata kuliah Produktivitas Perairan yang telah membimbing kami dengan pemberian materi di dalam kelas dan pada semua pihak yang telah membantu menyiapkan, memberikan masukan dan menyusun tugas ini. Akhirnya dengan segala keterbatasan serta pengetahuan, kami

menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan komentar yang dapat dijadikan masukan dalam menyempurnakan kekurangan kami di masa yang akan datang dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu

pengetahuan.

Malang, 27 Februari 2014

Penulis

DAFTAR ISI

COVER................................................................. Error! Bookmark not defined. KATA PENGANTAR ............................................................................................. i DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii DAFTAR GAMBAR ..............................................................................................iii 1. PENDAHULUAN .............................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1 1.2 Tujuan dan Manfaat ................................................................................... 2 2. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................... 3 2.1 Klasifikasi ................................................................................................... 3 2.2 Deskripsi .................................................................................................... 3 2.2 Morfologi dan FIsiologi ............................................................................... 4 2.3 Reproduksi ................................................................................................. 5 2.4 Siklus Hidup ............................................................................................... 6 2.5 Kegunaan Daphnia..................................................................................... 6 3. PENUTUP ....................................................................................................... 8 3.1 Kesimpulan ................................................................................................ 8 3.2 Saran ......................................................................................................... 8 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 9

ii

DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Daphnia sp .......................................................................................... 3 Gambar 2 Bagian Tubuh Daphnia Dewasa .......................................................... 4 Gambar 3 Daphnia yang bertelur ......................................................................... 5 Gambar 4 siklus hidup Daphnia ........................................................................... 6

iii

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jenis- jenis pakan alami yang dimakan oleh ikan sangat bervariasi, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Burayak ikan yang baru saja belajar mencari makan, pertama-pertama yang mereka makan adalah plankton. Bahkan ada juga beberapa ikan yang tetap setia sebagai pemakan plankton sepanjang hidupnya. Dalam usaha budidaya kita biasa menggunakan pakan alami plankton. Plankton adalah jasad renik yang melayang di dalam kolom air mengikuti gerakan air. Plankton dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu phytoplankton dan zooplankton. Secara ekologis, berbagai macam pakan alami dapat

dikelompokkan menjadi: plankton, nekton, bentos, perifiton, epfiton, dan neuston. Semuanya itu di dalam perairan akan membentuk suatu rantai makanan dan jaringan makanan. Diantara rantai dan jaringan makanan tersebut, yang memegang peranan sangat penting adalah phytoplankton. Sebab dari

phytoplanktonlah asal mula terjadinya bahan organic, yang kemudian dijadikan sumber bahan makanan oleh jasad-jasad lainnya. Jadi zooplankton dan biota air lainnya akan berkembang apabila telah tersedia cukup makanan yang berasal dari phytoplankton tersebut. Pada umumnya burayak ikan itu mula-mula makan plankton nabati (phytoplankton). Kemudian semakin bertambah besar ikannya, makanannya pun mulai bertambah pula. Mula-mula mereka beralih dari phytoplankton ke zooplankton. Salah satu zooplankton yang digunakan sebagai pakan alami dan perlu dibudidayakan sebagai sumber pakan ikan yang masih burayak ( benih ) diantaranya adalah Daphnia. Daphnia sangat cocok untuk benih ikan yang bukaan mulutnya belum bisa mengkonsumsi pakan buatan ( pelet ). Daphnia merupakan sumber pakan bagi ikan kecil, burayak dan juga hewan kecil lainnya. Kandungan proteinnya bisa mencapai lebih dari 70% kadar bahan kering. Secara umum, dapat dikatakan terdiri dari 95% air, 4% protein, 0.54 % lemak, 0.67 % karbohidrat dan 0.15 % abu. Kepopulerannya sebagai pakan ikan selain karena kandungan gizinya serta ukurannya, adalah juga karena daphnia dapat dibudidayakan secara massal sehingga produksi dapat tersedia dalam jumlah mencukupi, hampir setiap saat.

1.2 Tujuan dan Manfaat Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui klasifikasi, ciri morfologi, siklus hidup, cara reproduksi, habitat dan penyebaran dari daphnia. Sedangkan mafaat dari penyusunan makalah ini adalah dapat dijadikan sebagai bahan bacaan dan sumber referensi atau acuan bagi para pembaca, baik mahasiswa, masyarakat umum mapun para peneliti.

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Klasifikasi Daphnia sp menurut WIjayanti (2011) adalah sebagai berikut: Divisio Class Ordo Familia Genus Spesies : Arthropoda : Crustacea : Clodocera : Daphnidae : Daphnia : Daphnia sp

Gambar 1 Daphnia sp 2.2 Deskripsi Daphnia adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar, mendiami kolam atau danau. Daphnia dapat tumbuh optimum pada suhu perairan sekitar 21 C dan pH antara 6,5 - 8,5. Jenis makanan yang baik untuk pertumbuhan Daphnia adalah bakteri, fitoplankton dan detritus (Darmanto dkk, 2000). Menurut Pangkey (2009), Daphnia adalah krustasea berukuran kecil yang hidup di perairan tawar, sering juga disebut sebagai kutu air (Gambar 1 dan 2). Disebut demikian karena cara bergerak yang unik dari organisme ini di dalam air. Ada terdapat banyak spesis (kurang lebih 400 spesis) dari Daphniidae dan distribusinya sangat luas. Dari semua spesis yang ada, Daphnia dan Moina yang paling dikenal, dan sering digunakan sebagai pakan untuk larva ikan. Terdapat berbagai macam ukuran untuk Daphniidae, tergantung pada spesisnya. Moina yang baru menetas mempunyai ukuran sedikit lebih besar dari Artemia yang baru menetas dan dua kali lebih besar dari ukuran rata-rata rotifer dewasa. Daphnia yang baru menetas berukuran dua kali lebih besar dari Moina. Biasanya Daphnia berukuran 0,1 3 mm (Pangkey, 2009).

2.2 Morfologi dan FIsiologi

Gambar 2 Bagian Tubuh Daphnia Dewasa Pembagian segmen tubuh Daphnia hampir tidak terlihat. Kepala menyatu, dengan bentuk membungkuk ke arah tubuh bagian bawah terlihat dengan jelas melalui lekukan yang jelas. Pada beberapa spesies sebagian besar anggota tubuh tertutup oleh carapace, dengan enam pasang kaki semu yang berada pada rongga perut. Bagian tubuh yang paling terlihat adalah mata, antena dan sepasang seta. Pada beberapa jenis Daphnia, bagian carapace nya tembus cahaya dan tampak dengan jelas melalui mikroskop bagian dalam tubuhnya. Beberapa Daphnia memakan crustacean dan rotifer kecil, tapi sebagian besar adalah filter feeder, memakan algae uniselular dan berbagai macam detritus organik termasuk protista dan bakteri. Daphnia juga memakan beberapa jenis ragi, tetapi hanya di lingkungan terkontrol seperti laboratorium. Pertumbuhannya dapat dikontrol dengan mudah dengan pemberian ragi. Partikel makanan yang tersaring kemudian dibentuk menjadi bolus yang akan turun melalui rongga pencernaan sampai penuh dan melalui anus ditempatkan di bagian ujung rongga pencernaan. Sepasang kaki pertama dan kedua digunakan untuk membentuk arus kecil saat mengeluarkan partikel makanan yang tidak mampu terserap. Organ Daphnia untuk berenang didukung oleh antena kedua yang ukurannya lebih besar. Gerakan antena ini sangat berpengaruh untuk gerakan melawan arus (Waterman, 1960). Daphnia mempunyai bentuk tubuh lonjong, pipih dan beruas-ruas yang tidak terlihat. Pada kepala bagian bawah terdapat moncong yang bulat dan tumbuh lima pasang alat tambahan. Alat tambahan pertama disebut Antennula, sedangkan yang ke dua disebut antenna yang mempunyai fungsi pokok sebagai

alat gerak. Tiga lainnya merupakan alat tambahan pada bagian mulut (Darmanto dkk, 2000). 2.3 Reproduksi Mekanisme reproduksi Daphnia adalah dengan cara parthenogenesis. Satu atau lebih individu muda dirawat dengan menempel pada tubuh induk. Daphnia yang baru menetas harus melakukan pergantian kulit (molting) beberapa kali sebelum tumbuh jadi dewasa sekitar satu pekan setelah menetas. Siklus hidup Daphnia sp. yaitu telur, anak, remaja dan dewasa. Pertambahan ukuran terjadi sesaat setelah telur menetas di dalam ruang pengeraman. Daphnia sp. dewasa berukuran 2,5 mm, anak pertama sebesar 0,8 mm dihasilkan secara parthenogenesis. Daphnia sp. mulai menghasilkan anak pertama kali pada umur 4-6 hari. Adapun umur yang dapat dicapainya 12 hari. Setiap satu atau dua hari sekali, Daphnia sp. akan beranak 29 ekor, individu yang baru menetas sudah sama secara anatomi dengan individu dewasa. Proses reproduksi ini akan berlanjut jika kondisi lingkungannya mendukung

pertumbuhan. Jika kondisi tidak ideal baru akan dihasilkan individu jantan agar terjadi reproduksi seksual (Waterman, 1960).

Gambar 3 Daphnia yang bertelur Daphnia jantan lebih kecil ukurannya dibandingkan yang betina. Pada individu jantan terdapat organ tambahan pada bagian abdominal untuk memeluk betina dari belakang dan membuka carapacae betina, kemudian spermateka masuk dan membuahi sel telur. Telur yang telah dibuahi kemudian akan dilindungi lapisan yang bernama ephipium untuk mencegah dari ancaman lingkungan sampai kondisi ideal untuk menetas (Mokoginita, 2003). Daphnia mulai berkembang biak pada umur lima hari, dan selanjutnya setiap selang waktu satu setengah hari akan beranak lagi. Jumlah setiap kali

beranak rata-rata sebanyak 39 ekor. Umur hidup Daphnia 34 hari, sehingga selama hidupnya mampu menghasilkan anak kurang lebih 558 ekor

(Darmanto dkk, 2000). 2.4 Siklus Hidup Daphnia memiliki fase seksual dan aseksual. Pada kebanyakan perairan populasi Daphnia lebih didominasi oleh Daphnia betina yang bereproduksi secara aseksual. Pada kondisi yang optimum, Daphnia betina dapat

memproduksi telur sebanyak 100 butir, dan dapat bertelur kembali setiap tiga hari. Daphnia betina dapat bertelur hingga sebanyak 25 kali dalam hidupnya, tetapi rata-rata dijumpai Daphnia betina hanya bisa bertelur sebanyak 6 kali dalam hidupnya. Daphnia betina akan memulai bertelur setelah berusia empat hari dengan telur sebanyak 4 22 butir. Pada kondisi buruk jantan dapat berproduksi, sehingga reproduksi seksual terjadi. Telur-telur yang dihasilkan merupakan telur-telur dorman (resting eggs). Faktor-faktor yang dapat

menyebabkan hal ini adalah kekurangan makanan, kandungan oksigen yang rendah, kepadatan populasi yang tinggi serta temperatur yang rendah (Pangkey, 2009).

Gambar 4 siklus hidup Daphnia

2.5 Kegunaan Daphnia Kegunaan daphnia menurut Pangkey (2009) antara lain : a. Sebagai pakan hidup ikan konsumsi maupun ikan hias Daphnia sering digunakan sebagai pakan hidup untuk kultur larva ikan air tawar (beberapa spesis ikan carp), juga beberapa jenis ikan hias (guppy, sword tail, black molly, platy, koi carp, dsb.). Akhir-akhir ini,

permintaan akan ikan hias telah meningkat secara drastis. Nilai perdagangan dunia per tahun telah mencapai US $ 9 milyar. Budidaya ikan Koi (Cyprinus carpio vr. koi) telah berkembang secara pesat di berbagai belahan dunia termasuk India, Hongkong, Singapur dan Indonesia. Istilah Koi merujuk pada strain-strain ikan mas hias yang telah terseleksi secara genetic pada banyak generasi. b. Sebagai pakan hidup larva lobster air tawar c. Sebagai bahan uji toksisitas Daphnia sering digunakan secara luas untuk uji toksisitas baik secara akut maupun kronis bagi bahan-bahan kimia yang digunakan untuk pertanian dan industri yang terbuang ke ekosistim perairan. Daphnia memiliki siklus hidup yang relatif singkat, dapat dilakukan pada luas ruangan yang terbatas, dapat diaklimatisasikan pada kondisi laboratorium dan sensitif pada berbagai bahan pencemaran ekosistim perairan. d. Sebagai bahan baku penghasil kitin Kitin adalah polisakarida yang terdapat dibagian luar kerangka dari insekta, kepiting, udang dan lobster serta pada bagian dalam dari struktur tubuh invertebrata. Kitin tersusun atas komponen (1-4) yang terikat pada gula amino N-asetil-glukosamina dan merupakan sumber utama penghasil kitosan yang digunakan sebagai bahan penggumpalan, bahan penyembuh luka bakar, bahan stabilisator kertas dan bahan antara untuk obat-obatan serta gen. kitin dapat diekstraksi dari Daphnia.

3. PENUTUP 3.1 Kesimpulan Daphnia merupakan udang-udangan renik air tawar dari golongan Brachiopoda, yang berperan sebagai sumber pakan bagi ikan kecil, burayak dan juga hewan kecil lainnya. Kepopulerannya sebagai pakan ikan selain karena kandungan gizinya serta ukurannya sesuai bukaan mulut benih ikan atau udang, adalah juga karena daphnia dapat dibudidayakan secara massal. 3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA Darmanto., Darti Satyani., Adhisa Putra., Chumaidi., Mei Rochjat D., 2000. BUDIDAYA PAKAN ALAMI UNTUK BENIH IKAN AIR TAWAR. Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Instalasi Penelitian Dan Pengkajian Teknologi Pertanian. Jakarta. Mokoginita, 2003, Reproduksi daphnia sp, ikhwanabdillah.files.wordpress.com /2009/02/bab-ii.doc di akses pada tanggal 27 Februari 2014. Pangkey, H., 2009. Daphnia and Penggunaannya. Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol V (3): 33-36. Waterman, 1960, Morfologi daphnia sp, ikhwanabdillah.files.wordpress.com /2009/02/bab-ii.doc di akses pada tanggal 27 Februari 2014. Wijayanti, 2011. Keanekaragaman Jenis Plankton Pada Tempat Yang Berbeda Kondisi Lingkungannya Di Rawa Pening Kabupaten Semarang. SKRIPSI. Fakultas Pendidikan Matematika Dan Ilmupengetahuan Alam Ikip Pgri Semarang.