Anda di halaman 1dari 43

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Psikologi kerja sangat erat kaitannya dengan beban kerja. Beban kerja yang harus ditanggung dalam suatu unit organisasi erat kaitannya dengan efisiensi dan efektivitas suatu perusahaan. Hal ini dikarenakan beban kerja tersebut termasuk pada pengaturan sumber daya manusia yang merupakan sumber daya penting dalam perusahaan. Dampak beban kerja mental berlebih menyebabkan kelelahan, yang dapat menimbulkan kelalaian dalam menjalankan tugasnya hingga dapat menyebabkan kecelakaan dalam pekerjaan. Psikologi kerja adalah beban yang dialami atau diterima oleh seseorang ketika ia sedang melakukan suatu pekerjaan. Aspek psikologis adalah aspek yang tidak nyata, yang hanya dapat diukur berdasarkan akibat yang ditimbulkan dan dalam suatu pekerjaan dapat berubah setiap saat. Perhitungan beban psikologis seorang pekerja dapat dilakukan berdasarkan hasil pekerjaan faktor yang dapat diukur secara objektif maupun tingkah laku, dan penuturan si pekerja sendiri yang dapat diidentifikasikan. PT. RSK&E merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. Karyawan pada perusahaan ini dituntut untuk mampu dan terampil serta mempunyai semangat kerja yang tinggi untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Di perusahaan ini, analisa beban kerja (workload analysis) cukup mendapat perhatian yang serius karena pada prinsipnya bertujuan untuk membuat proses organisasi lebih efektif dan efisien. Salah satu faktor keberhasilan suatu perusahaan sangat bergantung pada kemampuan manajer dalam mengorganisir karyawan dimana faktor-faktor penentu yang dapat meningkatkan kemauan dan kemampuan karyawan dalam memenuhi target yang ditetapkan juga harus 1

diperhatikan. Pengukuran beban kerja yang dilakukan adalah secara subjektif dengan menggunakan metode NASA-TLX (National Aeronautics and Space Administration-Task Load Index). 1.2 Rumusan Masalah Dalam latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Berapa beban kerja yang diperoleh pada task 1 dan task 2? 2. Berapa perbandingan beban kerja antara task 1 dan task 2? 3. Apa saja faktor-faktor yang memengaruhi psikologi kerja?

1.3 Tujuan Penelitian Penelitian tentang pengukuran waktu kerja ini bertujuan untuk: 1. Menghitung beban kerja pada task 1 dan task 2. 2. Membandingkan beban kerja pada task 1 dan task 2. 3. Menentukan faktor-faktor yang memengaruhi psikologi kerja.

1.4 Batasan Masalah Berdasarkan permasalahan yang ada, maka penulis membatasi masalah pada pengukuran waktu kerja yang meliputi: 1. Pengukuran beban kerja mental didapat dari data-data kualitatif berdasarkan task 1 dan task 2. Task 1 adalah Tes Koran (Newspaper Test) dan task 2 adalah Toyota Game. 2. Pengukuran beban kerja mental secara subjektif menggunakan metode NASATLX (National Aeronautics and Space Administration Task Load Index). 3. Perhitungan perbandingan beban kerja mental task 1 dan task 2 menggunakan software SPSS. 4. Penelitian dilakukan di Laboratorium Rekayasa Sistem Kerja & Ergonomi FT Untirta. 2

1.5 Sistematika Penulisan Dalam sistematika penulisan, penulis membagi dalam beberapa bab sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, dan sistematika penulisan. BAB II LANDASAN TEORI Bab ini menguraikan teori-teori yang relevan dengan pemecahan masalah atau pencapaian tujuan dari penelitian. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini berisi metodologi yang digunakan untuk mencapai tujuan penelititan meliputi tahapan-tahapan penelitian dan penjelasan tiap tahapan secara ringkas disertai diagram alirnya. BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Bab ini berisi data beban kerja operator pada task 1 dan task 2, uji kenormalan data, perbandingan beban kerja mental pada masing-masing task. BAB V ANALISA Bab ini menjelaskan analisa mengenai beban kerja mental pada task 1 dan task 2, perbandingan beban kerja task 1 dan task 2, faktor-faktor yang memengaruhi psikologi kerja, hasil newspaper test. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini menyimpulkan inti dari seluruh uraian di atas dan memberikan saran bagi penelitian selanjutnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Psikologi Kerja Psikologi berasal dari bahasa yunani yaitu psycho yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Secara umum pengertian psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan dan tingkah laku manusia. Psikologi memiliki beberapa sub bidang seperti psikologi pendidikan, psikologi klinis, psikologi sosial, psikologi perkembangan, psikologi lintas budaya, psikologi industri & organisasi dan psikologi lingkungan. Psikologi industri dan organisasi (PIO) merupakan bidang khusus yang memfokuskan perhatian pada penerapanpenerapan ilmu psikologi bagi masalah-masalah individu dalam perusahaan, secara khusus menyangkut penggunaan sumber daya manusia dan perilaku organisasi. Psikologi industri adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia di tempat kerja dalam hubungannya dengan aspek pekerjaan untuk menurunkan masalah 4

manusia dalam melakukan suatu pekerjaan. Ilmu ini berfokus pada pengambilan keputusan kelompok, semangat kerja karyawan, motivasi kerja, produktivitas, stres kerja, seleksi pegawai, strategi pemasaran, rancangan alat kerja, dan berbagai masalah lainnya. (Pappu, 2002) Pekerjaan akan menimbulkan reaksi psikologis bagi pekerja yang melakukan pekerjaan tersebut, baik reaksi positif maupun negatif. Reaksi yang bersifat positif, yaitu senang, bergairah, merasa bahagia, dan sebagainya. Sedangkan reaksi yang bersifat negatif, yaitu bosan, acuh, tidak serius dan sebagainya. Definisi kerja adalah semua aktivitas manusia yang untuk menjamin kelangsungan hidupnya, baik sebagai individu maupun sebagai umat keseluruhan. (Lehman, 1953) Psikologi kerja merupakan beban yang dialami atau diterima oleh pekerja ketika ia melakukan suatu pekerjaan. Aspek psikologis hanya dapat diukur berdasarkan akibat yang ditimbulkan dan merupakan aspek yang tidak nyata. Aspek psikologis dalam suatu pekerjaan dapat berubah setiap saat. Seiring dengan berjalannya waktu, kemampuan seseorang dapat berubah. (Laboratorium RSK&E, 2013) Beberapa fungsi psikologi, yaitu (Laboratorium RSK&E, 2013) : 1. Untuk menjelaskan apa, bagaimana dan mengapa suatu tingkah laku dapat terjadi. 2. Untuk memprediksikan atau meramalkan apa, bagaimana dan mengapa tingkah laku tersebut terjadi. 3. Untuk mengendalikan tingkah laku pekerja sesuai dengan yang diinginkan.

2.2 Beban Kerja Tubuh manusia dirancang untuk melakukan aktivitas kerja sehari-hari yang memungkinkan manusia untuk dapat menggerakan tubuh dan melakukan pekerjaan. Pekerjaan mempunyai arti penting bagi kemajuan dan peningkatan 5

prestasi, namun di pihak lain dengan pekerjaan tubuh akan menerima beban dari luar tubuhnya. (Laboratorium RSK&E, 2013) Beban kerja (workload) merupakan sebuah isue yang semakin popular diperbincangkan, baik di forum ilmiah, di lingkungan pendidikan maupun di lingkungan perusahaan. Beban kerja timbul sebagai reaksi akibat terjadinya kelelahan yang dialami pekerja dalam bekerja secara terus menerus. Kelelahan dapat terjadi karena beberapa faktor seperti kerja otot statis, stasiun kerja yang tidak ergonomis, kondisi kesehatan pekerja dan masalah fisik pekerjaan itu sendiri. Beban kerja yang tinggi dapat mengurangi tingkat kewaspadaan (vigilance) pekerja dan berkurangnya daya ingat sesaat, yang pada akhirnya mempengaruhi keputusan untuk mengambil suatu tindakan dalam melakukan suatu pekerjaan. (Dwi Cahyadi, 2012) Beban kerja (workload) merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh seorang pekerja untuk menerima suatu pekerjaan sesuai dengan beban (demand) yang dibebankan kepada pekerja tersebut untuk mencapai tingkat performansi tertentu. Beban kerja juga dapat didefinisikan sebagai kemampuan tubuh seorang pekerja dalam menerima suatu pekerjaan. Beban kerja merupakan sesuatu yang muncul dari interaksi antara tuntutan tugas-tugas, lingkungan yang digunakan sebagai tempat kerja, keterampilan pekerja, perilaku dan persepsi dari pekerja. Beban kerja dibedakan menjadi beban mental dan beban fisik. (Nussbaum, 2007) Beban kerja fisik merupakan beban kerja yang timbul akibat aktivitas fisik pekerja. Misalnya pada perawat, beban kerja fisik perawat meliputi mengangkat pasien, memandikan pasien, membantu pasien ke kamar mandi, mendorong peralatan kesehatan, merapikan tempat tidur pasien, mendorong brankart pasien dan sebagainya. (Murni Kurnia, 2012) Beban kerja mental (mental workload) merupakan beban kerja yang timbul dan terlihat dari pekerjaan yang dilakukan, beban kerja mental terbentuk secara kognitif (pikiran). Beban kerja mental dapat didefinisikan sebagai evaluasi 6

operator atau pekerja terhadap selang kewaspadaan (kapasitas ketika sedang termotivasi dengan beban kerja yang ada) ketika melakukan suatu pekerjaan mental (metacontroller activity) untuk mencapai tujuan tertentu dalam melakukan suatu pekerjaan. Misalnya pada perawat, beban kerja mental yang dialami perawat, diantaranya bekerja shift atau bergiliran, mempersiapkan rohani mental pasien dan keluarga terutama bagi yang akan melaksanakan operasi atau dalam keadaan kritis, bekerja dengan keterampilan khusus dalam merawat pasien serta harus menjalin komunikasi dengan pasien. (Hancock, et all 1988)

2.2.1

Faktor yang Memengaruhi Beban Kerja

Beban kerja seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi beban kerja seseorang, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. (Laboratorium RSK&E, 2013)

2.2.1.1 Faktor Eksternal Faktor eksernal yang mempengaruhi beban kerja merupakan faktor beban kerja yang berasal dari luar tubuh seorang pekerja. Hal yang termasuk kedalam faktor eksternal beban kerja antara lain adalah tugas, organisasi dan lingkungan kerja. (Laboratorium RSK&E, 2013)

1.

Tugas Tugas yang dilakukan oleh seorang pekerja baik berupa fisik maupun mental. Tugas-tugas yang bersifat fisik, seperti sikap kerja, peralatan, beban yang diangkat, sarana informasi dan sebagainya. Sedangkan tugas-tugas yang bersifat mental, seperti tingkat kesulitan pekerjaan, tanggung jawab terhadap pekerjaan, dan sebagainya.

2.

Organisasi

Organisasi kerja yang dapat mempengaruhi beban kerja, seperti lamanya waktu bekerja, lamanya waktu beristirahat, model struktur organisasi, waktu kerja malam, sistem pelimpahan tugas dan sebagainya. 3. Lingkungan kerja Lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi beban kerja, yaitu lingkungan kerja fisik, lingkungan kerja kimiawi, liingkungan kerja biologis dan lingkungan kerja psikologis. Lingkungan kerja fisik, seperti intersitas penerangan, kebisingan, temperatur ruangan dan sebagainya. Lingkungan kerja kimiawi, seperti debu, gas-gas pencemar udara dan sebagainya. Lingkungan kerja biologis, seperti bakteri, virus, jamur, parasit dan sebagainya. Lingkungan kerja psikologis, seperti pemilihan dan penempatan tenaga kerja, hubungan antara pimpinan dan pekerja maupun hubungan antar sesama pekerja.

2.2.1.2 Faktor Internal Faktor internal beban kerja adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh pekerja sebagai akibat adanya reaksi dari beban kerja eksternal yang dialami. Reaksi tubuh tersebut dikenal sebagai strain, berat ringannya strain dapat dinilai secara objektif maupun subjektif. Penilaian secara objektif, yaitu penilaian melalui perubahan reaksi fisiologis. Sedangkan penilaian secara subjektif dapat dilakukan berdasarkan dengan harapan, keinginan, kepuasan dan sebagainya. Faktor internal meliputi faktor somatis dan faktor psikis. (Laboratorium RSK&E, 2013)

1.

Faktor somatis Faktor somatis merupakan faktor internal yang berkaiitan dengan jenis kelamin pekerja, umur pekerja, ukuran tubuh pekerja, kondisi kesehatan pekerja, status gizi pekerja dan sebagainya.

2.

Faktor psikis 8

Faktor psikis merupakan faktor yang berkaitan dengan motivasi, persepsi pekerja, kepercayaan, keinginan, kepuasan pekerja dan sebagainya. Hubungan antara kinerja pekerja dengan beban kerja dapat dilihat dalam kurva yang berbentuk U terbalik. Jika tingkat beban kerja seseorang rendah, maka orang tersebut akan mudah bosan dan cenderung kehilangan ketertarikan terhadap pekerjaan yang dilakukan. Jika tingkat beban kerja seseorang tinggi, maka orang tersebut akan mudah kelelahan dan kehilangan semangat untuk melakukan pekerjaan. (Laboratorium RSK&E, 2013) Kurangnya perhatian seorang pimpinan terhadap cara kerja para pekerjanya akan menimbulkan kebosanan pada kalangan pekerja, dan akibat dari kebosanan tersebut pekerja akan mencari alternatif pekerjaan lain atau mencari versi pekerjaan lain yang tidak mereka kuasai untuk menghindari kebosanan. Tingkah laku para pekerja ini dapat beakibat buruk bagi pekerjaan karena dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. Oleh karena itu, pengukuran beban kerja pada seorang pekerja perlu dilakukan untuk mengetahui beban kerja yang dialaminya dan mengevaluasi metode kerja serta memperbaiki sistem kerja yang telah ada agar menjadi lebih baik. (Laboratorium RSK&E, 2013)

2.2.2

Kriteria Pengukuran Beban Kerja Mental

Beberapa kriteria yang harus dimiliki untuk melakukan pengukuran beban kerja mental terhadap pekerja, yaitu (Laboratorium RSK&E, 2013) : 1. Sensitivitas Kriteria sensitivitas merupakan suatu pengukuran yang dapat membedakan situasi antara tugas yang satu dengan tugas yang lainnya berdasarkan intuisi atau perasaan untuk melihat perbedaan tingkat beban kerja mental. 2. Selektivitas Kriteria selektivitas merupakan suatu pengukuran yang tidak mempengaruhi bagian kerja mental secara umum seperti beban fisik dan beban emosional. 9

3.

Interferensi Kriteria interferensi merupakan suatu pengukuran yang tidak harus berhubungan dengan pemilihan tugas atau pekerjaan beban kerja pada pekerja.

4.

Reabilitas Kriteria rebilitas merupakan suatu pengukuran yang dilakukan secara benar atau nyata dan dapat dipercaya, hasil dari pengukuran tersebut dapat diulang setiap saat.

5.

Dapat diterima Yang dimakksud dengan kriteria dapat diterima yaitu teknik pengukuran beban kerja yang dilakukan harus dapat diterima oleh manusia atau pekerja yang sedang diukur.

2.2.3

Metode Pengukuran Beban Kerja

Untuk mengukur besarnya beban mental yang dialami pekerja dapat dilakukan melalui beberapa metode. Beberapa metode pengukuran beban kerja dapat dilakukan secara umum ada tiga cara, yaitu (Laboratorium RSK&E, 2013) :

2.2.3.1 Pengukuran Beban Kerja Secara Objektif Pengukuran beban kerja secara objektif meliputi pengukuran denyut jantung, pengukuran waktu kedipan mata dan pengukuran dengan metode lain. Pada pengukuran denyut jantung, peningkatan denyut jantung berkaitan dengan meningkatnya level pembebanan kerja. Pada pengukuran waktu kedipan mata, pekerjaan yang membutuhkan atensi visual berasosiasi dengan kedipan mata yang lebih sedikit dan durasi kedipan lebih pendek. (Laboratorium RSK&E, 2013)

10

2.2.3.2 Pengukuran Beban Kerja Secara Pemilihan Tugas Pengukuran beban kerja secara pemilihan tugas dilakukan dengan menggunakan metode SWAM (Statistical Workload Assessement Model). Metode SWAM merupakan pengukuran untuk menganalisa tugas beban kerja mental yang sederhana atau ringan yang membagi tugas dengan waktu yang diberikan. Namum metode ini memiliki kelemahan sehingga metode ini tidak banyak digunakan. Kelemahan tersebut yaitu tidak dapat memasukan jumlah data yang benar kedalam beberapa tugas sehingga waktu yang tersedia tidak dapat berjalan lancar dan pengukuran beban kerja mental yang dihasilkan tidak spesifik. (Laboratorium RSK&E, 2013)

2.2.3.3 Pengukuran beban kerja secara subjektif Pengukuran beban kerja secara subjektif merupakan pengukuran beban kerja mental dimana sumber data yang diolah merupakan data-data kualitatif. Beberapa jenis pengukuran secara subjektif yang telah dilakukan, yaitu pengukuran dengan NASA TLX (National Aeronautics and Space Administration-Task Load Index), pengukuran dengan metode SWAT (Subjektive Workload Assessement Technique) dan pengukuran dengan metode MCH (Modified Cooper Harper Scaling). (Laboratorium RSK&E, 2013)

A. NASA TLX (National Aeronautics and Space Administration-Task Load Index) NASA-TLX merupakan metode pengukuran subjektif yang sering digunakan dalam pengukuran beban kerja mental pada individu atau pekerja di berbagai industri atau perusahaan. Pada metode NASA TLX ini, terdapat beberapa komponen yang akan diukur dari setiap individu. Pada komponen kebutuhan mental, kebutuhan fisik, kebutuhan waktu, dan tingkat frustasi, skala yang

11

digunakan adalah rendah hingga tinggi. Sedangkan untuk pengukuran performansi digunakan skala baik hingga buruk. (Raras Mayang, 2012) NASA TLX merupakan suatu prosedur penilaian multidimensional yang memberikan kuantifikasi beban kerja yang berdasarkan pada rata-rata bobot ratting yang didasarkan pada 6 sub skala. 6 sub skala yang dilakukan dalam metode NASA TLX, yaitu (Laboratorium RSK&E, 2013) : 1. Kebutuhan mental atau mental demand (MD) Pekerjaan-pekerjaan dengan tipe memikir, memutuskan, menghitung, mengingat, melihat, mencari, dan sebagainya. Disimbolkan dengan pertanyaan, apakah pekerjaan tersebut mudah atau sulit, apakah pekerjaan tersebut sederhana atau kompleks dan apakah pekerjaan tersebut pasti atau penuh toleransi. 2. Kebutuhan fisik atau physical demand (PD) Pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan hal fisik, mendorong, menarik, mengangkat, memutar, seperti dan

membelokan

sebagainya. Disimbolkan dengan pertanyaan apakah pekerjaan tersebut berat atau ringan, apakah pekerjaan tersebut lambat atau cepat dan apakah pekerjaan tersebut memiliki waktu yang cukup untuk istirahat atau tidak. 3. Kebutuhan waktu atau temporal demand (TD) Pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan waktu. Disimbolkan dengan pertanyaan ada tidaknya tekanan waktu dalam pekerjaan tersebut dan apakah waktu yang tersedia dalam pekerjaan tersebut cukup, kurang, atau banyak. 4. Performansi atau own performance (OP) Berhubungan dengan tingkat kesuksesan dalam mencapai suatu tujuan dalam pekerjaan. Disimbolkan dengan seberapa besar tingkat kesuksesan

12

dalam melakukan pekerjaan untuk menyelesaikan tuuan pekerjaan tersebut. 5. Usaha atau effort (EF) Berhubungan dengan tingkat usaha yang dilakukan. Disimbolkan dengan pertanyaan seberapa besar usaha yang dilakukan atau dikeluarkan secara mental maupun secara fisik untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

6.

Stress atau frustation level (FR) Berhubungan dengan stres. Disimbolkan dengan pertanyaan seberapa besar tingkat keamanan dalam melakukan suatu pekerjaan, aman atau tidak aman. Seberapa tingkat stres yang dialami dalam melakukan suatu pekerjaan dan seberapa termotivasinya pekerja dalam melakukan suatu pekerjaan.

Terdapat beberapa nilai yang menunjukan besarnya tingkat beban kerja dan diklasifikasikan kedalam sebuah tabel. Klasifikasi beban kerja berdasarkan analisa NASA TLX, yaitu (Laboratorium RSK&E, 2013) :

Tabel 2.1 Klasifikasi Beban Kerja Berdasarkan NASA TLX

0 20 21 40 41 60 61 80 81 100

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Penjelasan indikator beban mental yang akan diukur berdasarkan metode NASA TLX dapat dilihat pada tabel penjelasan indikator beban mental dibawah ini (Ade Sri, 2013): 13

Tabel 2.2 Indikator Beban Mental Berdasarkan Metode NASA TLX

14

Langkah-langkah pengukuran beban kerja dengan menggunakan metode NASA TLX adalah sebagai berikut (Meshkati, 1988) : 1. Pembobotan Responden/pekerja diminta untuk membandingkan dua dimensi yang berbeda dengan metode perbandingan berpasangan. Total perbandingan berpasanganuntuk keseluruhan dimensi (6 dimensi) yaitu 15. Jumlah tally untuk masing-masing dimensi inilah yang akan menjadi bobot dimensi. 2. Pemberian Rating Dalam tahap ini, responden diminta memberikan penilaian/rating terhadap keenam dimensi beban mental. Penilaian yang diberikan tergantung pada responden. Skor akhir beban mental nasa TLX diperoleh dengan mengalikan bobot dengan rating setiap dimensi, kemudian dijumlahkan dan dibagi 15. bobot rating 15

Skor = 15

B. SWAT (Subjektive Workload Assessement Technique) Metode SWAT (Subjective Workload Assesment Tehnique) merupakan salah satu cara untuk mengukur beban kerja mental yang dikembangkan oleh Harry G. Armstrong untuk menjawab berbagai pertanyaan, seperti bagaimana cara mengukur beban kerja mental dalam lingkungan yang sebenarnya (Real World Environtment) secara alamiah dan obyektif dari sumber data yang bersifat kualitatif. Metode pengukuran subjektif beban kerja SWAT memiliki kelemahan, yaitu sangat tidak sensitif untuk beban kerja mental yang rendah dan itu memerlukan waktu penyortiran serta memakan tugas pra prosedur. (Kurniawan Yuli, 2011) Metode ini muncul sebagai akibat dari meningkatnya kebutuhan akan pengukuran subjektif yang dapat digunakan secara langsuung dalam pekerjaan. Pada metode ini tanggapan hanya diberikan melalui tiga deskriptor pada masing-masing faktor atau dimensi. Faktor atau dimensi yang dimaksud, yaitu beban waktu (time load), beban mental (mental effort load) dan beban psikologis (psychological stress load). Ada dua tahapan pekerjaan dalam melakukan metode SWAT ini, yaitu scale development dan event scoring. (Laboratorium RSK&E, 2013)

C. MCH (Modified Cooper Harper Scaling) MCH adalah skala rating yang paling banyak digunakan untuk menilai kualitas penanganan pada suatu pekerjaan. Sejak tahun 1960, beban mental yang dipaksakan oleh tugas kontrol manual khususnya pada kualitas handling pesawat telah diukur oleh skala cooper, yaitu Cooper-Harper (CH) dan kini metode tersebut telah dimodifikasi menjadi Modified Cooper Harper scaling 16

(MCH). Skala MCH adalah salah satu skala yang lebih divalidasi untuk pengukuran beban kerja subjektif pada kualitas penanganan pesawat. Skala tersebut terdiri dari 10 titik skala dengan format pohon keputusan. Hal tersebut membuat suatu ketentuan untuk melaksanakan tugas penilaian secara berurutan, untuk mencapai peringkat akhir secara disengaja dan hati-hati. Skala tersebut juga dapat diterapkan pada jenis beban kerja tugas, terutama untuk sistem yang mungkin memuat persepsi, meditasi dan kegiatan komunikasi dalam tugasnya. Nilai skala MCH yang terdiri dari 10 titik skala dengan format pohon keputusan berkisar mulai dari titik 1 yaitu mudah hingga titik 10 yaitu mustahil. (Kurniawan Yuli, 2011)

2.3 Stres dan Burnout Aspek lain dari psikologi kerja yang sering terjadi pada pekerja dan menjadi masalah bagi kesehatan peerja adalah stres dan burnout. Beban kerja berlebih dapat memicu timbulnya stres pada pekerja. Hampir semua pekerja mengalami stres, baik pada tingkat pimpinan maupun pekerjanya. Lingkungan tempat bekerja juga berpengaruh pada timbulnya stres, lingkungan kerja yang kurang baik sangat berpotensi untuk menimbulkan stres pada pekerjanya. Misalnya pada perawat, beban kerja yang berlebih pada perawat dapat memicu timbulnya stres dan burnout. Perawat yang mengalami stres dan burnout memungkinkan mereka untuk tidak dapat menampilkan performa kerja mereka secara efektif dan efisien dikarenakan kemampuan fisik dan kognitif mereka menjadi berkurang. (Dewi Kurnia, 2012) Stres yang timbul pada pekerja di lingkungan kerja tidak dapat dihindarkan, namun agar tidak mengganggu pekerjaan hal yang harus dilakukan adalah mengelola, mengatasi atau mencegah terjadinya stres dengan mengidentifikasi penyebab terjadinya stres pada pekerja di lingkungan kerja atau stressor. Setelah mengetahui penyebab stres pada pekerja, dilakukan pelatihan-pelatihan bagi 17

pekerja untuk meningkatkan rasa percaya diri dalam melaksanakan pekerjaan mereka dan meningkatkan higiene atau kondisi lingkungan kerja serta meningkatkan hubungan antar pekerja. (Laboratorium RSK&E, 2013) Kejenuhan kerja atau burnout adalah suatu kondisi fisik atau mental yang kurang baik akibat situasi kerja yang berat dalam jangka waktu panjang. Kejenuhan kerja atau burnout adalah suatu kondisi fisik, emosi dan mental

pekerja yang sangat drop yang diakibatkan oleh situasi kerja yang sangat menuntut dalam jangka waktu yang cukup panjang. (Muslihudin, 2009) Kejenuhan kerja merupakan sesuatu hal yang sering dialami pekerja dalam setiap pekerjaan, perawat merupakan salah satu profesi yang beresiko tinggi untuk mengalami stres dan beban kerja tinggi yang berakibat kejenuhan. Kinerja perawat adalah sesuatu yang dapat dirasakan langsung oleh para pasien. Apabila kinerja perawat buruk akan menyebabkan penurunan mutu pelayanan perawat bagi para pasien. Kejenuhan seringkali membuat pikiran kita menjadi terasa penuh dan mulai kehilangan rasional. Hal ini dapat menyebabkan keletihan mental dan emosional dan membuat minat terhadap pekerjaan dan motivasi menurun, pada akhirnya kualitas kerja akan menurun. Kejenuhan kerja juga dapat menjadi suatu masalah bagi organisasi apabila mengakibatkan kinerja menurun. Karena jika kinerja kerja menurun, maka produktivitas juga menurun. (Dale, 2011)

2.4 Newspaper Test (Pauli Krapelin Test) Newspaper test merupakan tes menghitung deretan angka di atas kertas sebesar kertas koran. Tes tersebut disebut juga dengan pauli kraepelin test. Tes pauli krapelin dikembangkan pertama kali oleh seorang psikiater bernama Emil Kraepelin. Newspaper test ini bertujuan untuk mengukur karakter seseorang pada beberapa aspek tertentu, yaitu (Akbar Sidiq, 2012) :

Aspek keuletan (daya tahan) 18

Aspek kemauan atau kehendak individu Aspek Emosi Aspek penyesuaian diri Aspek stabilitas diri Dalam tes ini responden hanya diminta untuk mengerjakan hitungan

sederhana, yaitu menjumlahkan deretan angka-angka. Namun yang menjadi masalah adalah jumlah deretan angka yang diberikan sangat banyak, yaitu sebesar lembaran koran. Sehingga tes tersebut menuntut konsentrasi, ketelitian, stabilitas emosi dan daya tahan yang prima dari responden. Semakin banyak kesalahan yang dibuat, menunjukkan bahwa responden tidak teliti, tidak cermat, tidak hatihati dan kurang memiliki daya tahan yang cukup terhadap stres atau tekanan pekerjaan. (Akbar Sidiq, 2012)

Contoh Tes Koran Pauli Kraepelin Jumlahkan deret angka-angka berikut (dibawah dan diatasnya) dan tulislah jawabannya diantara kedua angka yang anda jumlahkan. 3 5 2 9 7 4 7 8 3 1 9 2 9 8

Keterangan : Pada contoh diatas, angka yang dicetak tebal adalah jawaban penjumlahan dari dua bilangan yang berdekatan (yang dibawah dan diatasnya). 7+7 = 14 ; 7+2= 9 dan seterusnya. Jika hasil penjumlahan lebih dari dua digit, maka ditulis digit terakhirnya saja. Misal 4+9= 13 (ditulis angka 3 saja) 19

2.5 Toyota Game Jika pekerja berkonsentrasi pada pekerjaannya terlalu lama, mak tingkat kesigapannya akan semakin berkurrang. Oleh karena itu perlu dilakukan tes untuk menguji kesigapan dan kewaspadaan pekerja. Tes yang tepat untuk menilai kewaspadaan / vigilance adalah tes terhadap waktu reaksi, di mana waktu sering digunakan sebagai cara untuk menilai kemampuan dalam melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan beban kerja. Tes tersebut dilakukan dengan menggunakan suatu metode permainan (games) sebagai suatu metode untuk mengukur tingkat beban kerja terhadap waktu. Di beberapa negara maju, games dapat digunakan untuk menilai tingkat konsentrasi, kewaspadaan, dan kerja sama team dalam suatu kegiatan simulasi. Semakin lama waktu luang yang digunakan bagi si pemain untuk bekonsentrasi pada gamenya, maka akan semakin berkurang tingkat kesigapannya. (Lewis dan Maylor, 2007). Dengan games yang memanfaatkan fungsi tingkatan waktu diharapkan dapat menjadi suatu alternatif metode untuk dapat mengukur dan menunjukkan bahwa terjadinya beban kerja dalam suatu pekerjaan bisa terjadi karena adanya faktor kelelahan yang terkait dengan hubungan faktor waktu yang ditekankan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Tes toyota game merupakan tes memasangkan ring dan mur kedalam baut dengan jarak yang telah di tentukan dan dengan waktu yang telah ditetapkan. Di dalam tes ini, responden diminta untuk memasangkan ring dan baut kedalam sebuah baut yang telah disediakan agar menjadi sebuah produk. Jarak antar kepala baut dan mur, serta mur dan mur lainnya telah ditentukan. Responden diminta membuat produk tersebut sebanyak yang mereka bisa dalam batas waktu yang telah di tetapkan. Banyaknya jumlah produk menentukan tingkat ketelitian, kesigapan dan kewaspadaan responden. Hal tersebut dapat dilihat dari produk yang dihasilkan, jika jarak antar mur maupun antar kepala baut dan mur tidak sesuai, maka dapat dikatakan bahwa produk yang 20

dihasilkan gagal dan responden kurang teliti dan kurang waspada dalam mengerjakannya. (Dwi Cahyadi, 2012) Peranan games atau permainan dalam mengukur hubungan antara beban kerja terhadap waktu, yaitu sebagai alternatif metode untuk menunjukkan bahwa beban kerja bisa terjadi karena adanya faktor waktu penyelesaian dalam suatu pekerjaan. Dalam hal ini games adalah sebagai sarananya. (Dwi Cahyadi, 2012)

21

22

Mulai

Teori Pendahuluan

Latar Belakang

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Batasan Masalah

Melakukan Aktifitas Test 1

Melakukan Aktifitas Test 2

Pengisian Kuisioner Test 1

Pengisian Kuisioner Test 2

Pengumpulan Data 1 1. Data beban kerja operator pada test 1 2. Data beban kerja operator pada test 2

Pengolahan Data
Tidak

Uji Knormalan Data

Data Berdistribusi Normal


Ya

1. Penghitungan beban kerja metode menggunakan metode NASA TLX 2. Pengajian paired sample T-Tesk secara manual dan menggunakan software SPSS 15

Analisah Data

Simpulan dan Saran

23

Selesai

3.2 Deskripsi Flow Chart Penelitian Berikut ini adalah deskripsi dari flow chart penelitian: 1. Mulai Memulai penelitian. 2. Studi Pendahuluan Mencari referensi dan materi-materi yang berhubungan dalam pembahasan kali ini. Perumusan Masalah Merumuskan masalah-masalah yang berkaitan dalam penelitian. 3. Tujuan Penelitian dan Batasan Masalah Tujuan penelitian adalah jawaban dari perumusan masalah dan akan dibahas dalam kesimpulan. Sedangkan batasan masalah adalah pembatasan satu atau lebih masalah yang telah dipaparkan di latar belakang masalah yang akan diselesaikan di penelitian ini. 4. Melakukan kegiatan task 1 dan task 2 Melakukan kegiatan task 1 dengan menghitung angka-angka yang telah disiapkan yang dinamakan Newspaper Test. Sedangkan kegiatan task 2 membuat produk baut dan mur dengan cara dirangkai, tes ini dinamakan Toyota Game. 5. Mengisi kuisioner NASA TLX task 1 dan task 2 Mengisi kuisioner tentang perhitungan beban kerja setelah melakukan kegiatan task 1 dan task 2 dengan metode subjektif, yaitu NASA TLX. 6. Pengumpulan Data Mengumpulkan data kuisioner yang telah diisi. 7. Pengolahan Data Mengolah data yang telah dikumpulkan dengan software SPSS 20. 8. Uji Kenormalan Data Setelah diolah data dapat dilihat normal atau tidaknya. Jika tidak normal maka pengumpulan data akan diulang dengan menggunakan bilangan acak, jika data normal maka dilanjutkan dengan didapatkan nilai skor beban mental, dan membandingkan kedua task tersebut. III-3

24

9. Nilai skor beban kerja masing-masing task Perbandingan beban task 1 dan task 2 adalah hasil dari pengolahan data yang datanya sudah teruji kenormalannya. Sedangkan perbandingan beban task 1 dan task 2 adalah membandingkan adanya kesamaan atau perbedaan antara beban kerja task 1 dan task 2. 10. Analisa Hasil Pengolahan Data Menganalisis hasil pengolahan data yang telah didapatkan. 11. Simpulan dan Saran Simpulan adalah jawaban dari tujuan, dan saran agar penelitian selanjutnya dapat lebih baik. 12. Selesai Selesai penelitian.

25

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 Pengumpulan Data Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada task 1 dan task 2 yaitu newspaper test dan toyota game. Untuk mendapatkan data beban kerja digunakan metode NASA TLX (National Aeronautics Space Administration - Task Load Index). Hasil data yang diperoleh dari 13 operator adalah sebagai berikut. 4.1.1 Data Beban Kerja Operator Pada Task 1 Berdasarkan pengamatan hasil data beban kerja operator pada task 1 berupa newspaper test adalah sebagai berikut:

26

4.1.2 Data Beban Kerja Operator Pada Task 2 Berdasarkan pengamatan hasil data beban kerja operator pada task 2 berupa toyota game adalah sebagai berikut:

4.2 Pengolahan data Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada task 1 dan task 2, untuk mengetahui perhitungan beban kerja, kenormalan data, dan perbandingan beban kerja mental maka dilakukan pengolahan data beban kerja berdasarkan kuisioner NASA TLX. Hasil data yang diperoleh dari 13 operator adalah sebagai berikut. 4.2.1 Contoh Perhitungan Beban Kerja Mental 27

Contoh perhitungan beban kerja mental dengan metode NASA TLX dari operator Alfian Kello . Hari/Tanggal : Selasa/5 Maret 2013

Nama/Operator : Alfian Kello Task :1

Jenis Pekerjaan : Newspaper test Shift :1

1. Penjelasan indikator yang diukur Berikut adalah penjelasan indikator beban mental yang diukur.

2. Pembobotan 28

Pilihlah salah satu (beri tanda) dari pasangan kategori ini yang menurut anda lebih signifikan atau dominan menjadi sumber dari beban kerja mental. Contoh : Jika anda merasa bahwa dalam melakukan pekerjaan, fisik anda lebih berperan daripada mental maka lingkari kolom PD pada pasangan kategori PD/MD. Lanjutkan untuk pasangan kategori lainnya. 3. Peratingan Berilah point dan skor pada kolom skala untuk menunjukan berapa skala dari low hingga high (0-100) untuk menunjukan point yang anda pilih berdasarkan pertanyaan yang diberikan.

Contoh : Jika anda merasa bahwa aktivitas mental dan perseptual anda dituntut tinggi untuk melakukan pekerjaan maka menyatakan secara subjektif dalam skala 0-100. Lanjutkan untuk kategori lainnya.

A. Newspaper Test 1. Pembobotan

29

Keterangan: Kategori yang di bold adalah kategori yang operator pilih

2. Peratingan Tabel pengamatan task 1 newspaper test sebagai berikut:

30

31

3. Perhitungan Beban Kerja

4.2.2 Uji Kenormalan Data Pengujian normalitas dimaksudkan untuk mendeteksi apakah data yang akan digunakan sebagai pangkal tolak pengujian hipotesis merupakan data empirik yang memenuhi hakikat naturalistik. (Zulkifi Matondang, 1992) a. Menentukan hipotesa awal H0 = Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal. H1 = Sampel berasal dari populasi berdistribusi tidak normal. b. Menentukan tingkat kepercayaan = 100% - 95% = 5% = 0,05 95% confidence adalah tingkat keyakinan kita dalam melakukan perhitungan.

32

c. Kesimpulan H0 diterima karena Sig. (2-tailed) > 0,05 berarti sampel berasal dari populasi berdistribusi normal.

4.2.3 Perbandingan Beban Kerja Mental Pada Masing-masing Task a. Perhitungan Manual

33

Contoh perhitungan:

a.

b.

c.

Berikut ini adalah pengolahan data untuk membandingkan beban kerja mental masing-masing task secara manual: 1. Menentukan hipotesa awal 34

H0 = beban kerja task 1 = beban kerja task 2 H1 = beban kerja task 1 beban kerja task 2 2. Menentukan = 100% - 95% = 5% = 0,05 95% confidence interval merupakan tingkat keyakinan dalam melakukan perhitungan karena terdapat 2 tail, maka nilai dibagi 2, sehingga 0,025. sebesar

3. Menentukan t hitung

= 2,53 4. Menentukan ttabel ttabel = t/2 = t(0.025,12) ttabel = 2,197

35

5. Kesimpulan Berdasarkan perhitungan manual uji T diperoleh bahwa thitung = 2,53 dan ttabel = 2,197, sehingga thitung < ttabel yang berarti hipotesa H0 diterima yang berarti beban kerja task 1 = beban kerja task 2.

b. Menggunakan Software SPSS

Hipotesa :

H0 = Beban Kerja Task 1 = Beban Kerja Task 2 H1 = Beban Kerja Task 1 Beban Kerja Task 2

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan software SPSS 15 didapatkan hasil berupa mean yang menunjukan nilai rata-rata dari masing-masing task yaitu 70,6369 untuk task 1 dan 64,0485 untuk task 2, N menunjukan banyaknya data yang diambil yaitu 6 data. Nilai Correlation 0,459 < 1 yang menunjukan ada hubungan korealasi yang rendah antara task 1 dan task 2.

36

Dari hasil perhitungan software SPSS 20, diperoleh nilai t sebesar 2,528. Nilai t tersebut lebih kecil dari t tabel (ttabel = 2,197) sehingga menunjukkan bahwa hipotesa H1 diterima yang berarti beban kerja task 1 = beban kerja task 2. Pada uji kenormalan data, didapatkan hasil H0 diterima karena Sig. (2-tailed) > 0,05 berarti sampel berasal dari populasi berdistribusi normal.

37

BAB V ANALISA

5.1 Analisa Beban Kerja Mental Task 1 Berdasarkan pengamatan pada task 1 yaitu berupa Newspaper Test. Dalam newspaper test ini operator banyak mendapatkan beban mental. Beban kerja mental yang ada pada pekerjaan ini yang paling dominan yaitu sesuai dengan 6 kategori ialah kebutuhan mental atau mental demand (MD) karena operator bekerja dengan memikir, menghitung, dan melihat secara sulit dengan kompleks. Selain itu juga kebutuhan waktu sangat berpengaruh terhadap pekerjaannya dan kondisi yang stres pada operator karena dipengaruhi oleh kebisingan pada ketukan palu saat bekerja sehingga konsentrasi operator menjadi terganggu. NASA-TLX adalah salah satu metode perhitungan yang digunakan pada beban kerja mental pekerjaan ini. Dari penelitian pada task 1 yang dilakukan terhadap 6 operator, maka diperoleh nilai rata-rata hasil beban kerja sebesar 70,64. Nilai tersebut dalam klasifikasi beban kerja menurut analisa NASA-TLX terdapat pada tingkat tinggi untuk beban kerja. Itu artinya banyak hal-hal yang memengaruhi, berdasarkan analisa NASA-TLX ada 6 sub skala yaitu: kebutuhan mental, kebutuhan fisik, kebutuhan waktu, performansi, usaha, dan stres. Setelah melakukan penelitian beban kerja mental pada kelompok 3 yang terdiri dari operator Laura Natalia Sitorus 68; Diega Febriana 82; Gagah Anugerah A. 76; Fajar Rido Butar. B 72; Ferdwin Auliakbar 60; Andi Rahayu 72,67; Ulfi Silvia 62,678; Faisal Umam 73,67; Sastrawan Wijaya 48; Gina Andini 82,3; Puput Puspitasari 71,3; Rizki Akbar Rismawan 73,67; Alfian Kello 76

Hal demikian menggambarkan bahwa operator Gina Andini mendapatkan kebutuhan mental yang sangat tinggi untuk menghitung, memikir, mengingat 38

dalam pekerjaan tersebut, sedangkan pada operator Sarmidi cenderung lebih kecil hal ini bisa disebabkan karena operator tidak begitu mendapatkan beban kerja yang besar. Untuk operator lainnya itu relatif mendapatkan beban kerja mental pada sub kebutuhan waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya.

5.2 Analisa Beban Kerja Mental Task 2 Berdasarkan pengamatan pada task 2 yaitu berupa Toyota Game. Dalam toyota game ini operator banyak mendapatkan beban mental. Beban kerja mental yang ada pada pekerjaan ini yaitu sesuia dengan 6 kriteria pada NASA-TLX ialah paling dominan kebutuhan fisik atau Physical Demand (PD) karena pada pekerjaan ini diperlukan pekerjaan memutar. Selain itu juga kebutuhan waktu sangat diperlukan karena untuk menghasilkan produk yang banyak dengan waktu yang singkat. NASA-TLX merupakan salah satu metode perhitungan yang digunakan pada beban kerja mental pekerjaan ini. Dari penelitian pada task 2 yang dilakukan terhadap 6 operator, maka diperoleh nilai rata-rata hasil beban kerja sebesar 64,5. Nilai tersebut dalam klasifikasi beban kerja menurut analisa NASA-TLX terdapat pada tingkat sedang untuk beban kerja. Itu artinya tidak terlalu banyak hal-hal yang memengaruhi, berdasarkan pada analisa NASA-TLX ada 6 sub skala yaitu: kebutuhan mental, kebutuhan fisik, kebutuhan waktu, performansi, usaha, dan stres. Setelah melakukan penelitian beban kerja mental pada kelompok 3 yang terdiri dari operator Laura Natalia Sitorus 76,67; Diega Febriana 70,67; Gagah Anugerah A. 67,33; Fajar Rido Butar B. 72; Ferdwin Auliakbar 44; Andi Rahayu 61,33; Ulfi Silvia 66,67; Faisal Umam 55,67; Sastrawan Wijaya 55,33; Gina Andini 62,3; Puput Puspitasari 62; Rizki Akbar Rismawan 71,33; Alfian Kello 67,33.

39

Hal demikian menggambarkan bahwa operator Laura Natalia Sitorus mendapatkan beban kerja mental yang sangat tinggi untuk menghasilkan tingkat kesuksesan dalam pekerjaan tersebut, sedangkan pada operator Sarmidi cenderung lebih kecil hal ini bisa disebabkan karena operator tidak begitu mendapatkan beban kerja yang besar atau lebih tenang. Untuk operator lainnya itu relatif mendapatkan beban kerja mental pada sub tingkat kesuksesan dalam menyelesaikan pekerjaannya.

5.3 Analisa Perbandingan Beban Kerja Task 1 dan Task 2 Perbandingan beban kerja mental pada task 1 dan task 2 dilakukan untuk mengetahui apakah task 1 dan task 2 memiliki kesamaan atau berbeda, perbandingan tersebut dilakukan dengan dua cara yaitu perhitungan manual dan perhitungan dengan menggunakan software SPSS. Berdasarkan perhitungan manual uji T diperoleh nilai thitung sebesar 2,53 dan ttabel sebesar 2,19. Dikarenakan thitung > ttabel, sehingga Hipotesa H1 diterima yang berarti bahwa beban kerja task 1 beban kerja task 2. Dari hasil perhitungan software SPSS20 diperoleh nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,027. Dikarenakan nilai Sig. (2-tailed) < 0,05 menunjukan bahwa Hipotesa H1 diterima yang berarti bahwa beban kerja task 1 beban kerja task 2. Dan nilai Lower-Upper tidak melalui nol yaitu 0,90932 dan 12,26760 menandakan bahwa task 1 dan task 2 memiliki perbedaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa task 1 dan task 2 memiiki perbedaan. Hal tersebut terjadi karena perbedaan faktor eksternal dari kedua task tersebut.

40

5.4 Analisa Faktor-faktor yang Mempengaruhi Psikologi Kerja Berdasarkan pengamatan pada task 1 dan task 2 yaitu newspaper test dan toyota game didapatkan hasil bahwa untuk mengukur beban kerja mental secara subjektif pada praktikum kali ini dengan menggunakan metode NASA-TLX. NASA-TLX merupakan suatu prosedur penilaian multidimensional yang memberikan kuantifikasi beban kerja berdasarkan pada rata-rata bobot rating yang didasarkan pada 6 sub skala yaitu: kebutuhan mental, kebutuhan fisik, kebutuhan waktu, performansi, usaha, dan stres. Dari pengamatan yang dilakukan bahwa kebanyakan operator mengalami beban kerja mental dengan kriteria tekanan waktu pada pekerjaan newspaper test, sedangkan pada pekerjaan toyota game kebanyakan operator mengalami beban kerja mental pada kebutuhan mental tingkat kesuksesan, dan usaha dalam melakukan pekerjaannya. Hal ini dapat memberikan dampak psikologi bagi operatornya maka perlu ada perbaikan seperti, diberikannya waktu istirahat yang cukup, kondisi lingkungan motivasi, dan lain-lain. Kondisi tersebut merupakan faktor-faktor dari beban kerja mental. Ada 2 faktor beban kerja mental yaitu internal dan eksternal. Pada task 1 dan task 2 terdapat faktor-faktor yang memengaruhi beban kerja mental, yaitu: Task 1, Faktor internal berpengaruh terhadap kerja operator yaitu pada faktor kebisingan, psikis, motivasi, dan somatis seperti kondisi kesehatan. Operator dituntut untuk melakukan pekerjaannya dengan baik untuk melakukan suatu perbaikan sistem kerja pada PT. RSK&E. Sedangkan Eksternal yaitu: Lingkungan kerja fisik yang digunakan untuk melakukan pekerjaan tidak memberikan kenyamanan bagi operator dalam melaksanakan pekerjaannya akan menambah beban kerja mental, karena ketika operator sedang melakukan pekerjaan terdapat suara bising ketukan secara spontan yang menggangu maupun memecah konsentrasi operator. Hal tersebut membuat kinerja operator mengalami penurunan. Tugastugas yang bersifat mental yaitu tingkat kesulitan pekerjaan yang dapat 41

dikatakan sulit, dikarenakan dibutuhkan kegiatan melihat, memikir, konsentrasi, konsistensi yang cukup baik dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. Selain beberapa ketrampilan tersebut, operator dituntut

menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan waktu yang sangat cepat. Setelah itu pada Task 2 ada Internal dan Eksternal. Faktor internal yang terdapat pada pekerjaan task 2 merupakan faktor psikis yaitu faktor motivasi. Berbeda dengan task 1, pada task 2 pekerjaan yang dilakukan oleh operator ditentukan dengan cermat oleh PT. RSK&E. Setelah dilakukan penilaian maka untuk operator yang menghasilkan produktivitas tertinggi akan diberikan penghargaan. Dengan penghargaan tersebut operator termotivasi untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik mungkin guna mencapai produktivitas kerja yang tinggi. Eksternal yaitu tugas-tugas yang sifatnya fisik pada task 2 dapat dikatakan tidak membutuhkan banyak energi untuk menyelesaikannya, namun dibutuhkan tingkat ketelitian yang cukup tinggi, konsistensi, dan kecepatan. Operator dituntut untuk melakukan pekerjaan tersebut dengan cepat, namun tetap dalam ukuran yang telah ditetapkan. Sebagian besar operator mengalami kelelahan atau jenuh dengan tugas yang monoton, hal tersebut membuat kinerja operator menurun sebanding dengan jumlah waktu yang ditempuh dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. Hal ini dapat diperbaiki dengan pemberian tugas-tugas yang baru atau ada waktu istirahat yang cukup. Lingkungan kerja fisik yang kurang baik, hal tersebut dikarenakan temperatur ruangan kurang sejuk untuk pekerjaan yang membutuhkan kerja fisik.

42

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan Kesimpulan yang diperoleh dari pengamatan mengenai beban kerja mental terhadap task 1 dan task 2 pada psikologi kerja adalah sebagai berikut : 1. Nilai rata-rata beban kerja mental dengan menggunakan metode NASA TLX pada Task 1 sebesar 70,64 dan task 2 sebesar 64,05, dalam klasifikasi beban kerja, pekerjaan task 1 dan task 2 termasuk beban kerja tinggi. 2. Berdasarkan perhitungan manual uji T diperoleh nilai thitung sebesar 2,53 dan ttabel sebesar 2,19. Dikarenakan thitung > ttabel, sehingga Hipotesa H1 diterima yang berarti bahwa beban kerja Task 1 beban kerja Task 2. Maka terdapat perbedaan beban kerja mntal antara task 1 dan task 2. 3. Pada task 1 dan task 2 terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi beban kerja mental, yaitu faktor internal antara lain motivasi, keinginan dan juga kepuasan, faktor eksternal pada task 1 meliputi lingkungan kerja fisik yang kurang baik dengan adanya gangguan spontan berupa suara bising, tingkat kesulitan pekerjaan yang cukup sulit karena dibutuhkan ketelitian, pemikiran, dan kecepatan sedangkan pada task 2, yaitu tugas fisik yang diberikan yaitu memutar benda secara terus menerus dengan ketelitian jarak serta memindahkannya dan lingkungan kerja fisik dengan temperatur yang kurang sejuk. 6.2 Saran Saran yang dapat diberikan oleh PT. RSK&E untuk pengamatan terhadap beban kerja task 1 dan task 2 pada psikologi kerja adalah seagai berikut : 1. Dalam melakukan pengukuran beban kerja mental sebaiknya pengamat memahami secara mendalam mengenai indikator beban kerja mental dari metode NASA TLX. 2. Melakukan pengamatan secara sistematis. 43