Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

I.

LATAR BELAKANG Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah provinsi yang kaya akan potensi alam baik dari segi pertambangan maupun pertanian. Dari segi pertambangan, timah merupakan salah satu kekayaan alam Bangka Belitung dan dari sisi pertanian, Bangka Belitung sudah dikenal sejak lama sebagai salah satu daerah di Indonesia yang menghasilkan Lada. Sekitar tahun 1709 diketemukan timah, yang mula-mula digali di Sungai Olin di Kecamatan Toboali oleh orang-orang johor atas pengalaman mereka di semenanjung Malaka. Eksplorasi bijih timah dengan pemboran telah dilakukan sekurangnya awal abad 18 sejak itu teknologi pemboran timah berkembang baik peralatan maupun metodanya. Pemboran pada mulanya dilakukan dengan alat bor tusuk yang diperkenalkan oleh pendatang Cina di awal abad 18.Orang Cina menamakannya Ciam yang berarti ujung runcing sedangkan orang Belanda menamakanya Chinese Stick. Tanaman lada (Piper nigrum L) mulai dibudidayakan di daerah Bangka Belitung sekitar abad ke-16 Masehi dan mulai dikembangkan besar-besaran sekitar abad ke-18 Masehi. Pada daerah Bangka Belitung, pada mulanya lada ditanam di Kecamatan Muntok dan Jebus yang kemudian menyebar kearah barat seperti Desa Dalil dan Kecamatan Petaling. Lada merupakan tanaman yang pernah menjadi komoditas primadona di Pulau Bangka dan Belitung. Tidak sedikit masyarakat yang meningkat kesejahteraan hidupnya lantaran

bercocok tanam lada. Di saat masyarakat Indonesia di kawasan lain sedang dilanda kesulitan ekonomi, masyarakat Bangka Belitung ber-euphoria dengan berbagai kebutuhan barang mewah akibat tingginya harga jual lada,
1

yaitu mencapai level Rp. 100.000 per kilogram. Sejalan dengan dimulainya kehidupan sebagai propinsi baru di Indonesia, ketenaran komoditas ini pun mulai terkikis. Level harga Rp. 100 000 per kilogram pun seakan-akan hanya kenikmatan sekejap mata karena perlahanlahan harga jual lada menurun drastis sampai pernah bertahan lama pada level harga belasan ribu rupiah per kilogram. Maka dari itu, penulis berusaha membuat makalah yang berjudul Timah & Lada Sebagai Peradaban dari Bangka Belitung Untuk Indonesia.

II.

RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan beberapa masalah yang akan dikemukakan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah sejarah perkebunan lada & penambangan timah di Indonesia khususnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ? 2. Bagaimanakah gambaran perkembangan penambangan timah & perkebunan lada di Indonesia, khususnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ini ? 3. Apakah timah dan lada merupakan salah satu peradaban dari Bangka Belitung untuk Indonesia ?

III.

TUJUAN PENULISAN Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui sejarah penambangan timah & perkebunan lada di Indonesia khususnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 2. Untuk mengetahui potret kemajuan penambangan timah & perkebunan lada di Indonesia, khususnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 3. Untuk mengetahui apakah timah dan lada merupakan salah satu peradaban dari Bangka Belitung untuk Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN

A. SEJARAH PENAMBANGAN TIMAH DAN PERKEBUNAN LADA DI INDONESIA & BANGKA BELITUNG Aktivitas penambangan timah di Indonesia telah berlangsung lebih dari 200 tahun, dengan jumlah cadangan yang cukup besar. Cadangan timah ini, tersebar dalam bentangan wilayah sejauh lebih dari 800 kilometer, yang disebut The Indonesian Tin Belt. Bentangan ini merupakan bagian dari The Southeast Asia Tin Belt, membujur sejauh kurang lebih 3.000 km dari daratan Asia ke arah Thailand, Semenanjung Malaysia hingga Indonesia. Di Indonesia sendiri, wilayah cadangan timah mencakup Pulau Karimun, Kundur, Singkep, dan sebagian di daratan Sumatera (Bangkinang) di utara terus ke arah selatan yaitu Pulau Bangka, Belitung, dan Karimata hingga ke daerah sebelah barat Kalimantan. Penambangan di Bangka, misalnya, telah dimulai pada tahun 1711, di Singkep pada tahun 1812, dan di Belitung sejak 1852. Namun, aktivitas penambangan timah lebih banyak dilakukan di Pulau Bangka, Belitung, dan Singkep (PT Timah, 2006). Kegiatan

penambangan timah di pulau-pulau ini telah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda hingga sekarang. Dari sejumlah pulau penghasil timah itu, Pulau Bangka merupakan pulau penghasil timah terbesar di Indonesia. Sejak lama Bangka Belitung juga terkenal sebagai penghasil lada putih atau Muntok White Pepper kelas dunia. Bertanam Lada telah dilaksanakan secara turun menurun dan sudah merupakan budaya bagi masyarakat Bangka Belitung. Komoditi Lada memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perekonomian daerah. Namun
3

demikian, produksi lada di Provinsi Bangka Belitung terus merosot hingga menjadi 17.000 ton pada tahun 2006. Angka ini hanya 27% dari total produksi pada massa kejayaan lada tahun 1987, yaitu sekitar 62.000 ton. Luas Areal Perkebunan Lada pada tahun 2000 tercatat sekitar 80.000 hektar, namun pada tahun 2007 berkurang menjadi 35.842,44 ha atau secara total berkurang 55,20%. Produktivitas kebun lada rakyat saat ini hanya sekitar 800 hingga 1.000 kilogram per hektar. Produktivitas ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan produktivitas pada tahun 1986 yang bisa mencapai 2,1 ton per hektar. Kondisi ini menyebabkan petani semakin tidak bergairah memelihara tanaman lada. Kondisi seperti yang tergambar di atas, patut disayangkan karena lada pernah menjadi komoditas unggulan berabad-abad silam, bahkan menjadi trade mark Bangka Belitung di mancanegara.

B. GAMBARAN

PERKEMBANGAN

PENAMBANGAN

TIMAH

&

PERKEBUNAN LADA DI INDONESIA & PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SAAT INI. Sektor pertambangan merupakan salah satu sektor andalan karena hampir seluruh wilayah Bangka terdapat bahan tambang seperti timah dan bahan tambang galian golongan C dan lainnya dengan cadangan yang relatif masih besar. Bahan galian yang paling banyak dieksploitir selama ini dan telah banyak diusahakan secara besar-besaran oleh pemerintah adalah timah. Sedangkan bahan galian lainnya belum diusahakan secara besar-besaran dan masih dilaksanakan pengelolaannya oleh penduduk setempat atau oleh swasta dengan jumlah terbatas. Aktivitas penambangan timah di Indonesia telah berlangsung lebih dari 200 tahun, dengan jumlah cadangan yang cukup besar. Cadangan timah ini, tersebar dalam bentangan wilayah sejauh lebih dari 800 kilometer, yang disebut The Indonesian Tin Belt. Di Indonesia
4

sendiri, wilayah cadangan timah mencakup Pulau Karimun, Kundur, Singkep, dan sebagian di daratan Sumatera (Bangkinang) di utara terus ke arah selatan yaitu Pulau Bangka, Belitung, dan Karimata hingga ke daerah sebelah barat Kalimantan. Dari sejumlah pulau penghasil timah itu, Pulau Bangka merupakan pulau penghasil timah terbesar di Indonesia. Pulau Bangka yang luasnya mencapai 1.294.050 ha, seluas 27,56 persen daratan pulaunya merupakan area Kuasa Penambangan (KP) timah. Area penambangan terbesar di pulau ini dikuasai oleh PT Tambang Timah, yang merupakan anak perusahaan PT Timah Tbk. Mereka menguasai area KP seluas 321.577 ha. Sedangkan PT Kobatin, sebuah perusahaan kongsi yang sebanyak 25 persen sahamnya dikuasai PT Timah dan 75 persen lainnya milik Malaysia Smelting Corporation, menguasai area KP seluas 35.063 ha (Bappeda Bangka, 2000). Selain itu terdapat sejumlah smelter swasta lain dan para penambang tradisional yang sering disebut tambang inkonvensional ( TI ) yang menambang tersebar di darat dan laut Babel. Namun Penambangan timah yang telah berlangsung ratusan tahun, belum mampu melahirkan kesejahteraan bagi rakyat. Padahal, cadangan timah yang ada kian menipis. Tak heran, jika kemudian pertambangan timah di Bangka Belitung membawa dampak sosial berupa masalah kemiskinan dan kecemburuan sosial di sekitar wilayah pertambangan. Hal krusial yang memantik masalah itu muncul karena potensi timah yang berlimpah itu belum diatur secara optimal. Sehingga pendapatan berlimpah dari aktivitas penambangan pada akhirnya belum mampu mendukung bagi terwujudnya kemakmuran rakyatnya. Untuk perkebunan lada, Luas areal tanaman lada di Indonesia hampir seluruhnya dimiliki oleh perkebunan rakyat dimana pada tahun 2008 tercatat seluas 190.777 ha dengan total potensi produksi sekitar 79.726 ton. Di antara negara-negara produsen lada dunia, Indonesia termasuk salah satu produsen utama dunia bersama-sama dengan
5

India, Malaysia dan Brazil. Namun, selama 10 tahun terakhir, kontribusi lada Indonesia di pasar dunia semakin menurun. Ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2000, yaitu 63.938 ton (37% dari total ekspor dunia) dimana 34.256 ton atau 53,6%-nya merupakan lada putih asal Bangka-Belitung atau dikenal sebagai Muntok White pepper. Akan tetapi, produktivitas kebun lada rakyat saat ini hanya sekitar 800 hingga 1.000 kilogram per hektar. Produktivitas ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan produktivitas pada tahun 1986 yang bisa mencapai 2,1 ton per hektar. Kondisi ini menyebabkan petani semakin tidak bergairah memelihara tanaman lada. Lahan yang dahulu banyak humusnya sekarang sudah semakin berkurang. Teknik budidaya lada juga belum beranjak dari pola tradisional sehingga hasilnya tetap rendah. Situasi seperti ini menyebabkan ekspor lada dari daerah ini terus menurun dalam beberapa tahun ini. Pada tahun 2008, total ekspor lada putih Bangka Belitung sekitar 5.109,50 ton (AELI, 2009) atau terjadi penurunan sekitar 85,1% selama periode 2000-2008. Selain disebabkan oleh tidak kondusifnya kondisi pertanaman lada di lapangan, juga akibat ancaman dari negara-negara pesaing mulai terjadi, terutama Vietnam. Pada tahun 2003, Vietnam mulai mampu mengekspor lada putihnya sebanyak 4.500 ton dan meningkat menjadi 13.000 ton pada kwartal III tahun 2007 (Vietnam Pepper Association, 2007). Pada tahun yang sama, Indonesia hanya mampu mengekspor lada putih sebanyak 8.177 ton (AELI, 2009). Sebagai komoditas ekspor, lada mempunyai nilai ekonomi tinggi sehingga perspektif tanaman lada terhadap ekonomi daerah maupun nasional sangat besar. Di samping sebagai sumber devisa juga sebagai penyedia lapangan kerja dan pemenuhan bahan baku industri. Oleh karena itu, upaya mengembalikan kejayaan Muntok White Peper, yang saat ini produksinya jauh dari kondisi optimal merupakan langkah strategis bagi Pemerintah Pusat maupun

Pemerintah Daerah untuk mengembalikan posisi Indonesia umumnya


6

dan Bangka Belitung khususnya sebagai produsen dan eksportir lada putih terbesar dunia. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan beberapa langkah yang fundamental yang perlu dilakukan untuk mengembalikan kejayaan Muntok White Peper di Provinsi Kep. Bangka Belitung.

C. APAKAH

TIMAH

&

LADA

MERUPAKAN

SALAH

SATU

PERADABAN DARI BANGKA BELITUNG UNTUK INDONESIA ? Jika ada pertanyaan yang seperti ini, maka penulis akan menjawab : UNTUK SAAT INI, TIMAH & LADA BELUM BISA DIJADIKAN SEBAGAI PERADABAN DARI BANGKA BELITUNG UNTUK INDONESIA. AKAN TETAPI, JAWABAN INI BISA BERUBAH MENJADI YA, JIKA TIMAH & LADA DI BANGKA BELITUNG INI SUDAH DIKELOLA DENGAN BAIK. Mengapa bisa timbul jawaban yang seperti ini ??? Mari kita lihat & telusuri beberapa pernyataan berikut ini :

1. Masih

Terjadinya

penyelundupan

timah

yang

dilakukan

melalui aktivitas penambangan illegal. Pemberian ijin tambang inkonvesional (TI) di Bangka Belitung telah mengurangi pendapatan negara dan daerah akibat terjadinya penyeludupan, serta mengancam terkurasnya ketersediaan

cadangan timah di Bangka Belitung. Pemberian izin TI mungkin mendukung usaha pertambangan PT Timah sebagai BUMN dan PT Kobatin, sebab kedua perusahaan tersebut tidak perlu membuka area penambangan baru. Namun, keberadaan TI ini pada akhirnya justru memperburuk ketersediaan logam timah di Bangka Belitung dan membuat rusak lingkungan wilayah Bangka Belitung karena penambangan dilakukan di semua tempat. Mestinya, pemerintah pusat dan daerah serta BUMN di bidang pertambangan timah berperan lebih besar agar hasil penambangan seluruhnya masuk ke kas negara.
7

Bila kondisi seperti itu terwujud, jumlah produksi timah Indonesia bisa menyamai bahkan melampaui Cina yang mencapai 130.000 ton per tahun. Berdasarkan data tahun 2007, melalui penambangan legal, Indonesia menghasilkan timah sebesar 71.610 ton per tahun. Dari penambangan ilegal, sebanyak 60.000 ton per tahun. Kerugian Negara Akibat Penyelundupan Timah Pihak intelijen Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung, pada tahun 2006 melaporkan, nilai penyelundupan timah di Bangka Belitung mencapai sekitar Rp 10 miliar per bulan. Penyelundupan timah terjadi berkali-kali dan seolah menjadi suatu kelaziman. Pada akhir 2005, pernah terjadi penyelundupan timah sebanyak 714 karung pasir timah, atau senilai Rp 1 miliar. Timah yang diselundupkan ke luar wilayah Indonesia, umumnya berasal dari tambang-tambang rakyat (TI).

2. Masih kurangnya langkah fundamental untuk mendongkrak mengembalikan kejayaan lada. Upaya mengembalikan kejayaan Perkebunan lada diperlukan beberapa langkah yang fundamental. Langkah tersebut antara lain adalah peningkatan produktivitas, mutu hasil, efisiensi biaya produksi dan pemasaran, serta manajemen stok melalui

pengembangan inovasi teknologi dan kelembagaan. Demikian halnya pemberdayaan kelembagaan petani lada di Bangka Belitung perlu dilakukan karena umumnya petani yang mengusahakan tanaman lada memiliki banyak keterbatasan. Pemberdayaan kelompok tani akan menjadi salah satu faktor penting dalam upaya meningkatkan daya saing produk yang mereka hasilkan. Pemberdayaan kelompok tani selain diharapkan akan menunjang produktivitas kebun lada juga dapat meningkatkan mutu dan mengurangi masalah keragaman produk yang dihasilkan oleh masing-masing petani kecil, khususnya dari segi mutu.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Indonesia & Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejatinya adalah sebuah negara & provinsi dengan beragam kekayaan alam yang melimpah. Dari segi pertambangan, Bangka Belitung merupakan provinsi penghasil timah terbesar di Indonesia. Sedangkan dari segi pertanian, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi salah satu daerah penghasil lada di Indonesia. Namun, semua itu tak ada artinya jika hasil alam yang berupa Timah & lada, tidak dikelola dengan baik & benar. Tanpa adanya sebuah pengelolaan yang baik & benar, timah dan lada semata mata hanya hasil alam yang biasa biasa saja. Jika timah & lada di bangka belitung ini sudah dikelola dengan baik, maka kedua hasil alam ini akan menjadi sebuah peradaban untuk indonesia dengan hasil yang sangat luar biasa.

B. SARAN 1. Diharapkan bagi pemerintah & masyarakat untuk lebih tegas dalam hal mengelola pertambangan timah & perkebunan lada. 2. Diharapkan bagi pemerintah & masyarakat untuk menindak tegas segala bentuk kegiatan perusakan alam, serta kejahatan dalam pengelolaan Tambang Timah & Kebun Lada. 3. Diharapkan bagi pelajar yang berfungsi sebagai generasi penerus bangsa untuk mengetahui tata cara pengelolaan dan pemanfaatan , serta pelestarian timah & lada.
9

4. Diharapkan bagi pemerintah & masyarakat untuk melakukan pembinaan bagi para penambang timah & petani lada guna untuk meningkatan produktivitas, mutu hasil, efisiensi biaya produksi dan pemasaran, serta manajemen stok melalui pengembangan inovasi teknologi dan kelembagaan.

DAFTAR PUSTAKA

http://himataubbbabel.blogspot.com/2012/05/sejarah-tambang-timahdi-bangka.html http://repository.ipb.ac.id http://beritabangka.wordpress.com/sejarah-timah/ http://www.bangka.go.id/content.php?id_content=Asal_mula http://syabab78.blogspot.com/2013/02/lada-putih-di-antara-kejayaandan.html

10