Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pakan merupakan kebutuhan terbesar dalam budidaya perikanan. Biaya produksi untuk pakan mencapai 70 % dari total biaya produksi. Dewasa ini volume pakan komersil di pasar sangat beraneka baik jenis maupun komposisi. Hal ini tentu menuntut sensivitas dan selektifitas yang tinggi agar mampu memilih pakan yang berkualitas untuk budidaya perikanan. Sejauh ini isu terpenting terkait masalah pakan ikan adalah kesulitan memperoleh pakan yang memilki nutrisi dan sifat sesuai dengan kebutuhan serta kondisi biologis ikan / biota kultur itu sendiri. Sehingga hal ini menjadi salah satu inhibitor dalam pengembangan budidaya ikan Pakan ikan dikatakan bermutu jika mengandung nilai nutrisi dan gizi yang dibutuhkan oleh ikan. Menurut Murtidjo (2001) bahwa Pakan yang berkualitas mengandung 70 % protein, 15 % karbohidrat, 10 % lemak, dan 5 % vitamin, air, dan mineral. Kualitas pakan tidak hanya sebatas pada nilai gizi yang dikandungnya melainkan pada sifat fisik pakan seperti kelarutannya, ketercernaanya, warna, bau, rasa dan anti nutrisi yang dikandung. Kualitas pakan juga dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan. Pemilihan baku yang baik dapat dilihat berdasarkan indikator nilai gizi yang dikandungnya; digestibility (kecernaanya); dan biovaibility (daya serap). Pakan yang berkualitas akan mendukung tercapainya tujuan produksi yang optimal. Oleh karena itu pengetahuan tentang nutrisi, gizi, komposisi serta kualitas secara fisik perlu diketahui (Suryaingsih,2010). Ilmu nutrisi pakan ikan tidak terbatas pada cara pembuatan pakan saja. Pengetahuan tentang formulasi bahan dalam pembuatan pakan juga perlu diketahui. Komposisi suatu pakan perlu kita ketahui baik sebelum atau sesudah pembuatan pakan sebagai database dalam pembuatan pakan. Sebelum pembuatan pakan bobot masing-masing bahan harus diketahui untuk menghasilkan jumlah pakan dengan nilai nutrisi tertentu. Demikian juga setelah dalam bentuk pakan. Berdasrkan uraian sebelumnya maka pengetahuan mengenai cara pembuatan pakan (penyediaan bahan baku) dan teknik pengujian pakan (uji proksimat, uji daya tahan, uji daya apung, uji organolipstik, uji biologis) perlu dilatih melalui kegiatan praktikum.

Page | 1

1.2 Tujuan Praktikum Adapun tujuan praktikum ini adalah sebagai berikut : a. b. c. d. Mengetahui cara pembuatan pakan buatan. Mengetahui alat dan bahan baku pakan buatan. Mampu menghitung formulasi pakan ikan. Mengetahui uji proksimat protein pada pakan.

Page | 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Makanan buatan merupakan makanan yang dibuat dengan bentuk khusus sesuai keinginan dan diramu dari berbagai macam bahan. Lebih lanjut ditambahkan bahwa ada beberapa keuntungan dari pemberian pakan buatan yakni Pembudidaya dapat meningkatkan produksi melalui padat penebaran tinggi dengan waktu pemeliharaan yang pendek,pembudidaya dapat memanfaatkan limbah industri pertanian yang tidak terpakai untuk dijadikan pakan (Mudjiman, 2001). Untuk menunjang kelangsungan hidupnya dan juga untuk mempercepat pertumbuhannya, ikan membutuhkan nutrisi yakni zat-zat gizi yang terdapat dalam pakan yang diberikan. Setiap jenis ikan memiliki kebutuhan nutrisi baik jumlah maupun komposisi yang berbeda-beda menurut spesies, ukuran, jenis kelamin, kondisi tubuh dan kondisi lingkungan. Zat-zat gizi tersebut dapat digolongkan menjadi dua kelompok yakni zat gizi yang menghasilkan energi dan zat gizi yang tidak mengasikan energi (Afrianto, 2005). Kecepatan pertumbuhan ikan tergantung pada beberapa faktor dintaranya yakni jumlah makanan yang diberikan, ruang, suhu, dalamnya air dan faktorfaktor lainnya. Makanan yang dimanfaatkan ikan sebagian besar digunakan oleh ikan untk memelihara tubuh dan menggantikan sel yang rusak. Setelah itu baru digunakan untuk pertumbuhan ikan. Suatu makanan ikan, minimal mengandung protein, karbohidrat dan lemak. Pemberian makanan tambahan dapat meningkatkan produksi ikan yang dipelihara sampai tiga kali lipat disbanding dengan ikan yang hnaya memanfaatkan makanan alami (Asmawi, 1983). Pakan tambahan yang baik untuk ikan adalah pakan yang mengandung kadar protein 20-40 %. Selain dilihat dari kadar proteinnya, kulaitas dari pakan tambahan untuk ikan juga ditentukan oleh kehalusan dari bahanya. Semakin halus bahan baku pellet maka daya apung dari pelet tersebut akan semakin tinggi sehingga waktu yang dibutuhkan ikan untuk memakannya juga semakin panjang (Djarijah, 1998). 2.1 Bahan Baku Hewani (Tepung Ikan) Tepung ikan yang sudah memenuhi syarat dapat disimpan untuk persediaan selama dibutuhkan. Kadar air dalam tepung ikan sangat menentukan lama tidaknya tepung ikan tersebut dapat disimpan. Kelembaban gudang penyimpanan dan ventilasi gudang mempengaruhi lama dan kualitas bahan (Suriatna,1990).

Page | 3

Tepung ikan merupakan bahan makanan pokok ikan yang digunakan sebagai sumber protein hewan dan mineral, terutama kalsium dan fosfor. Bahan makanan tersebut mengandung protein yang memiliki kualitas jauh lebih baik karena mengandung asam amino yang diperlukan untuk ikan, terutama methionin dan lisin (Djangkaru, 1974). Tepung ikan yang baik berasal dari jenis ikan yang kadar lemaknya rendah. Bau khusus suatu jenis ikan kadang juga mempengaruhi daya tariknya, sehingga lebih merangsang. Untuk meningkatkan bau yang merangsang, ikannya dapat kita fermentasikan lebih dahulu menjadi bekasem. Ikan-ikan rucah (tidak bernilai ekonomis tinggi) dan sisa-sisa hasil pengolahan biasanya merupakan bahan baku yang penting untuk pembuatan tepung ikan. Secara umum tepung ikan mengandung protein sebanyak 22,65% (Mudjiman, 2000). 2.2 Bahan Baku Nabati 2.2.1 Tepung Kacang Hijau Tepung kacang hijau merupakan bahan yang penting untuk menyusun ramuan makanan ikan, karena nilai biologisnya cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena biji kacang hijaumengandung asam amino yang paling esensial diantara asam-asam amino lainnya. Oleh karena itu, dalam menyusun ramuan makanan ikan sebaiknya jangan melupakan tepung kacang ijo. Jumlahnya sebaiknya tidak kurang dari 10 persen. Makanan yang dicampur tepung kacang ijo aromanya juga menjadi lebih sedap (Mudjiman, 2001). 2.2.2 Dedak Halus Makanan tambahan, umumnya berbentuk tepung yang agak kasar. Dedak halus (bekatul) cocok untuk makanan tambahan. Dedak, selain dapat diberikan secara langsung, juga digunakan sebagai bahan campuran membuat pakan bagi ikan. Kandungan gizi dedak halus (bekatul) yang terbanyak adalah karbohidrat yaitu 28,26% (Kasno, 1990). Dedak halus (bekatul) menurut Djarijah (1998), sebaiknya dipilih yang masih segar dan tidak tercampur dengan potongan sekam. Bekatul harus kering dan tidak kasar. Bila bekatul digenggam, akan terasa lembut (halus) dan gumpalannya mudah pecah. Kondisi seperti ini berarti bekatul cukup baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pakan ikan. Tingkat kesegaran bekatul diketahui dengan mencium baunya. Bekatul segar berbau beras dan tidak berbau apek atau amoniak yang menyengat.

Page | 4

2.2.3 Tepung Terigu Menurut Mudjiman (2004), bahwa tepung terigu berasal dari hasil olahan biji gandum. Disamping kegunaannya sebagai sumber energi dalam pakan ikan, tepung terigu juga berguna sebagai bahan perekat sehingga pakan yang dihasilkan mempunyai tekstur yang baik dan tahan lama di dalam air. Tepung terigu merupakan bahan baku yang umum digunakan dalam proses pembuatan pakan ikan. Selain mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi, juga berfungsi sebagai perekat. Tepung terigu mempunyai kandungan protein 8,9%, lemak 1,3 %, karbohidrat 77,3 % dan air 12 % (Djajasewaka, 1985). 2.2.4 Tepung Jagung Kita mengenal dua macam jagung, yaitu jagung kuning dan jagung putih. Jagung kuning mengandung protein yang tinggi, dengan daya lekat yang kurang. Warnanya agak kekuning-kuningan, kuning muda, atau kecoklat-coklatan. Jagung putih berwarna putih agak keabu-abuan. Kandungan protein dan energinya rendah, dengan daya lekat yang tinggi. Sebagai bahan makanan ikan, jagung termasuk sukar dicerna. Bahkan mereka dapat menghambat pertumbuhan, walaupun kesehatan ikan tidak terganggu. (Sumeru, 1980). Menurut Suriatna (1990), bahwa jagung yang digunakan dalam penyusunan komposisi makanan ikan harus dalam bentuk jagung giling yang halus agar nantinya memudahkan pencampuran sehingga dapat diaduk merata. Penggunaan jagung sebagai bahan makanan ikan berkisar antara 10 % - 30 %, apabila penggunaannya terlalu banyak dapat menyebabkan kandungan protein pakan ikan rendah dan kandungan karbohidrat tinggi. Hal ini dapat menyebabkan zat-zat makanan yang terkandung di dalam makanan tidak seimbang terutama untuk protein dan energinya. 2.3 Bahan Tambahan (vitamin) Afrianto (2005), Vitamin merupakan senyawa organik yang penting bagi pertumbuhan, reproduksi dan kesehatan ikan serta sebagai pemacu metabolisme dalam tubuh ikan. secara umum vitamin dibagi menjadi dua kelompok, yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Golongan vitamin yang larut dalam lemak yakni vitamin A, D, E, dan K sedangkan vitamin yang larut dalam air yakni vitamin B dan C. Penggunaan vitamin dalam pakan buatan menggunakan premix (vitamin mix). Premix atau vitamin mix di formulasi untuk mengganti vitamin yang tidak tersedia secara lengkap atau hilang selama proses pembuatam pakan.

Page | 5

2.4 Alat Pembuat Pakan Mesin pencetak pellet ada dua macam; pencetak pellet basah dan mesin pencetak pellet kering. Biasanya mesin pencetak basah tidak bisa untuk mencetak pellet kering akan tetapi mesin pencetak pellet kering bisa mencetak pellet basah. Desain pencetak pellet basah umumnya lebih murah dan mesin ini banyak di buat dalam negeri oleh bengkel-benkel industri kecil tapi, ada juga diantara mereka yang memproduksi mesin pencetak pellet kering dan harganya dua sampai tiga kali lipat, karena pembuatanya lebih mahal.

Page | 6

BAB III METODELOGI PERCOBAAN

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum pembuatan pakan buatan dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2013, dilanjutkan dengan pengamatan uji Fisik pakan tanggal 29 Mei 2013, dan dilakukan uji Biologi dari tanggal 31 Mei sampai dengan tanggal 20 Juni 20013, praktikum dilaksanakan di Laboratorium Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Sedangkan uji Kimia (Proksimat) dilakukan di Balai Riset dan Standarisasi Industri Banda Aceh. 3.2. Alat dan Bahan Tabel 1. Alat dan bahan pembuatan pakan buatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 10 11 12 13 14 15 16 Alat dan Bahan Mesin ekstruder (pencetak pelet) Baskom Ember besar Ayakan Terpal Tepung ikan Tepung kedelai Bungkil kelapa Tepung jagung Tepung tapioca Dedak halus Vitamin Minyak Makan Mineral (NaCl) Air Tabel 2. Alat dan bahan uji Fisik No 1 2 3 Alat dan Bahan Gelas ukur Pakan buatan hasil praktikum Air Jumlah 3 unit 50 gram Secukupnya Jumlah 1 unit 7 unit 1 unit 1 unit 1 unit 613 gr 408 gr 204 gr 1787 gr 1192 gr 596 gr 25 gr 150 gr 25 gr Secukupnya

Page | 7

Tabel 3. Alat dan bahan uji Biologi No Alat dan Bahan 1 Akuarium 2 Timbangan 3 Penggaris 2 Bibit ikan lele 3 Air 3.3 Cara kerja 3.3.1 Cara kerja pembuatan pakan buatan Dihaluskan bahan-bahan sampai menjadi bubuk/tepung. Diayak semua bahan dan dimasukkan ke dalam masing-masing baskom secara terpisah berdasarkan jenis bahan. Dimasukkan bahan satu per satu berdasarkan takaran bahan yang paling sedikit sampai bahan yang takarannya paling banyak sambil diaduk hingga semua bahan tercampur rata. Ditambahkan air secukupnya sampai adonan menggumpal, tetapi juga jangan kelebihan air (adonan cair) karena jika adonan cair tidak dapat dicetak dan pakan akan rusak. Dimasukkan adonan pakan ke dalam mesin pencetak pelet sedikit demi sedikit. Pakan siap dijemur. 3.3.2 Cara kerja uji Fisik Dimasukkan air kedalam masing-masing gelas ukur sebanyak 500 ml. Dimasukkan pelet kedalam gelas ukung r yaberisi air untuk diamati daya apung pakan dan dicatat hasilnya. Pengamatan dilakukan 3 kali ulangan. Diamati daya tahan pakan dalam air sampai pakan hancur dan dicatat hasilnya dari ketiga ulangan. 3.3.3 Cara kerja uji Biologi Disiapkan 2 buah akurium dan masing-masing akuarium diisi air dengan ketinggian 20 cm. Satu akurium untuk perlakuan pakan buatan dan satu akurium lainnya untuk perlakuan pakan komersil (kontrol). Dimasukkan benih ikan lele ukuran 5 sampai 9 cm sebanyak 10 ekor ke masing-masing akurium dan diamati perkembangannya (panjang dan berat) ikan selama 3 minggu kedepan. Diberi pakan buatan dan pakan komersil untuk masing-masing perlakuan sebanyak 3% dari berat tubuh ikan. Diganti air akurium seminggu sekali. Jumlah 2 unit 1 unit 1 unit 20 ekor Secukupnya

Page | 8

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil 4.1.1 Hasil uji kimia Hasil uji protein telah terlampir di lampiran. 4.1.2 Hasil Uji Biologi Pada Ikan Lele Panjang dan berat ikan sampel untuk pakan komersil Sebelum dan sesudah No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Panjang (cm) 7,5 5 8 7 7 6 7 7,5 7 7 Berat (gram) 2 2 5 6 4 4 2 5 3 4

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Panjang (cm) 9 8 8 8,5 8 8 7,5 4 3 3

Berat (gram) 5 4 7 6.5 5 4.5 4 7 3.5 7

Page | 9

Panjang dan berat ikan sampel untuk pakan buatan Sebelum dan sesudah No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Panjang (cm) 8 7 6 6 6 6 6 6 6 6 Berat (gram) 5 7 5 3 4 4 4 3 4 4

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Panjang (cm) 8,5 10 8 9 9 8,5 8 9,5 8 8

Berat (gram) 6 8 7 5 4.5 4.5 5.5 5 4.5 4.5

Penghitungan FCR untuk ikan sampel yang diberi pakan komersil Total berat tubuh ikan Rata-rata berat tubuh ikan = 34 gr = 34 gr/10 = 3,4 gr FCR 3 % = rata-rata bobot tubuh ikan x jumlah = 3,4 x 10 x 3 % = 1,02 gr Jadi, pemberian pakan komersial untuk 10 ekor ikan 102 g, karena pemberian pakan 2x hari maka 102/2 = 0,51 g/pemberian

Page | 10

Penghitungan FCR untuk ikan sampel yang diberi pakan buatan Total berat tubuh ikan Rata-rata berat tubuh ikan = 43 gr = 43 gr/10 = 4.3 gr FCR 3 % = rata-rata bobot tubuh ikan x jumlah = 4.3 x 10 x 3 % = 1,29 gr Jadi, pemberian pakan komersial untuk 10 ekor ikan 1,29 g, karena pemberian pakan 2x hari maka 1,29/2 = 0,645 g/pemberian 4.1.3 Hasil Fisik Pakan WAKTU (menit) 0.01 2.52 10.01 WAKTU (menit) 0.13 3.07 5.41 WAKTU (menit) 0.12 2.40 10.56 KETERANGAN Dari Atas kebawah (mengapung) Retak Hancur KETERANGAN Dari Atas kebawah (mengapung) Retak Hancur KETERANGAN Dari Atas kebawah (mengapung) Retak Hancur

Page | 11

4.2 Analisa data dengan metode bujur sangkar latin Meramu pakan ikan dengan metode bujur sangkar latin Membuat pakan ikan dengan kadar protein 16%, menggunakan bahan baku terdiri dari tepung ikan, tepung usus ayam (jeroan), tepung daun singkong, tepung kanji dan dedak halus. Metode formulasi pakan dengan metode bujur sangkar latin, berdasarkan kelompok bahan baku dibagi dua yaitu : Bahan baku protein basal (Kadar protein < 20 %) Bahan baku protein suplemen (Kadar protein > 20 %)

Pengelompokkan bahan baku yang telah dipilih berdasarkan kadar protein dari setiap bahan baku, yaitu : Protein basal (<20 %) Tepung jagung Tepung Tapioka Dedak halus = 10,33 % = 2,6 % = 9,80 %

Protein suplemen (>20 %) Tepung ikan Tepung kedelai Bungkil kelapa = 53,90 % = 47,28 % = 20,50 %

Page | 12

Protein Basal

= 10,33% + 2,6% + 9,80% = 22,73% R = 22,73/3 = 7,58%

Protein suplemen

= 53,90%+ 47,28% + 20,50% = 121, 68%

= 121.68/3 = 40,56

Metode bujur sangkar latin Basal = 7,58 16% Suplemen = 40,46 8,42% + 32,98% Perhitungan komposisi Basal = 24,56% / 32,98% x 100% = 74,47% Suplemen = 8,42% / 32,98% x 100% = 25,53% Jadi, 5kg 0,2 kg = 4,8 kg (4800 gr). 24,56%

Page | 13

Komposisi basal dengan perbandingan (3:2:1) (3) tepung jagung (2) tepung tapioca (1) dedak halus = 3/6 x 74,47% x 4800 gr = 2/6 x 74,47% x 4800 gr = 1/6 x 74,47% x 4800 gr = 1787 gr = 1192 gr = 596 gr + = 3575 gr Komposisi suplemen dengan perbandingan (3:2:1) (3) tepung ikan (2) tepung kedelai (3) bungkil kelapa = 3/6 x 25,53% x 4800 gr = 2/6 x 25,53% x 4800 gr = 1/6 x 25,53% x 4800 gr = 613 gr = 408 gr = 204 gr + = 1225 gr Jadi, totalnya yaitu = Protein Basal + Protein Suplemen = 3575 gr + 1225 gr = 4800 gr (4,8 kg)

Page | 14

4.3. Pembahasan 4.3.1 Bahan Pakan Dan data Uji Kualitas Fisika Pakan Buatan Untuk kualitas fisik,pakan yang kami racik bersifat tenggelam,karena waktu yang terapung pakan tersebut sangat singkat,yaitu sekitar 3 detik saja. Ikan lele Lele mempunyai kebiasaan makan di dasar perairan atau kolam (bottom feeder). Berdasarkan jenis pakannya, lele digolongkan sebagai ikan yang bersifat karnivora (pemakan daging). Di habitat aslinya, lele makan cacing, siput air, belatung, laron, jentik-jentik serangga, kutu air, dan larva serangga air. Karena bersifat karnivora, pakan tambahan yang baik untuk lele adalah yang banyak mengandung protein hewani. Jika pakan yang diberikan banyak mengandung protein nabati, pertumbuhannya lambat. Pakan yang kami buat lebih dominan bahan yang mengandung protein nabati. Tempo hancurnya pakan yang kami racik kira-kira 35.90 menit, waktu yang cukup baik dalam suatu pelet yang baik, 4.3.2 Data Ikan Sebelum dan Sesudah Diberi Pakan Komersil dan Pakan Buatan (Uji Biologi) Dari data uji biologi yang kami, perkembangan yang terjadi pada ikan uji sangat memprihatinkan,bobot pada ikan uji tidak bertambah. Kejadian ini disebabkan ikan uji tidak memakan pakan buatan maupun pakan komersil. Padahal kualitas air sudah kami jaga dan pemberian pakan yang teratur. Ada beberapa penyebab dari ikan yang tidak mau memakan pakan : (a) Adaptasi pakan yg memerlukan waktu cukup panjang (b) Kualitas pakan buatan (terutama pelet). Tidak semua ikan menyukai pakan buatan (pelet) karena tergantung dengan bahan-bahan yang digunakan dan komposisinya. Pelet yang kurang baik cenderung tidak mengeluarkan aroma yang memancing ikan untuk memakannya. Biasanya kualitas pelet curah kurang bagus, karena itu kita memerlukan tes beberapa pelet dari beberapa sumber berbeda. Yang memberikan hasil terbaiklah yang kita pilih sebagai suplier utama. Selain itu, perubahan pakan dapat

mempengaruhi pola makan ikan bersangkutan. Misal, bibit yg peroleh

Page | 15

sebelumnya diberi pakan alami, akan tetapi di lokasi budidaya milik kamu diberi pakan pelet. Saudara kamu menggunakan pakan alami keong yang segar, yang mana memiliki bau yang begitu pekat, yang dapat memancing ikan untuk memakannya pakan akan langsung habis. 4.3.3 Uji proksimat pada pakan buatan Protein merupakan zat makanan yang mudah diabsorbsi oleh tubuh. Kebutuhan protein dan asam amino esensial bagi tubuh ditentukan oleh keseimbangan nitrogen (jumlah nitrogen masuk sama dengan jumlah nitrogen keluar). Padahal, keseimbangan nitrogen dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat konsumsi energi. Apabila kandungan energi dalam pakan kurang, untuk dapat memenuhi kebutuhan energi metabolisme dan pemeliharaan tubuh, maka nitrogen yang diserap tubuh akan berkurang. Hal ini terjadi karena banyak asam amino yang mengalami deaminasi dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi yang kurang tersebut (Buwono, 2000:31). Uji proksimat pada pakan yang kami racik memiliki kadar protein 18,82%, diharapkan protein yang dihasilkan dari hasil racikan adalah 16 %, ini disebabkan karena salah dalam pencampuran bahan bahan, pencampuran pertama hasil pakan sangat basah dan mengakibatkan pada saat pembentukan menjadi pelet bahan tersebut menjadi hancur. Untuk membuat pakan menjadi sedikit kering maka ditambahkan beberapa bahan lagi.

Page | 16

BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan Dari hasil pratikum ini, maka dapat saya simpulkan : pakan tambahan yang baik untuk lele adalah yang banyak mengandung protein hewani. Jika pakan yang diberikan banyak mengandung protein nabati, pertumbuhannya lambat. Pakan yang kami buat lebih dominan bahan yang mengandung protein nabati. Tempo hancurnya pakan yang kami racik kira-kira 35.90 menit, waktu yang cukup baik dalam suatu pelet yang baik, Ada beberapa penyebab dari ikan yang tidak mau memakan pakan : (a) Adaptasi pakan yg memerlukan waktu cukup panjang (b) Kualitas pakan buatan (terutama pelet). Uji proksimat pada pakan yang kami racik memiliki kadar protein 18,11 %, diharapkan protein yang dihasilkan dari hasil racikan adalah 16 %, ini disebabkan karena salah dalam pencampuran bahan bahan

5.2

Saran Diharapkan pratikum mata kuliah pembuatan pakan,pratikannya lebih

sedikit. Dikarenakan mata kuliah ini sangat penting untuk para mahasiswa yang ingin berbisnis di bidang budidaya.

Page | 17

DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, E. 2005. Pakan Ikan. Kanisius. Yogyakarta. Asmawi, S. 1983. Pemeliharaan Ikan dalam Keramba. PT Gramedia. Jakarta. Djajasewaka H., 1985. Teknologi Pakan Ikan. Yasa Guna : Jakarta. Djangkaru Z., 1974. Makanan Ikan. Kanisius : Yogyakarta. Djarijah S., 1998. Membuat Pellet Pakan Ikan. Kanisius : Yogyakarta. Kasno, S., 1990. Memelihara Ikan Bersama Udang. Penebar Swadaya. Jakarta. Mudjiman, A., 2000. Makanan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta. Sumeru. U.S., 1992. Pakan Udang Windu. Kanisius, Yokyakarta. Suriatna., 1990. Makanan Ikan. ITB : Bandung. Suryaingsih., 2004. Makanan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta. http://ikannila.com/Bagaimana%20Membuat%20Formula%20Pakan%20Ikan.htm Diakses pada 11 Desember 2011, Pukul 20.10 WITA. http://ikannila.com/index.htm. di akses pada tanggal 13 Desember 2011 pukul 18.50 WITA. http://www.geocities.com/wpurwakusuma/usaha_budidaya.html. diakses pada tanggal 14 Desember 2011 pukul 15.30 WITA.

Page | 18