Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

MANAJEMEN AGITASI AKUT

Disusun Oleh

Rizweta Destin 1102009253

Pembimbing : dr. Eri Achmad Achdiar Sp.KJ

Kepaniteraan Klinik Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Bagian Psikiatri RSUD Arjawinangun Maret 2014

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat-Nya dan karunia-Nya yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyusun tugas referat yang berjudul Manajemen Agitasi Akut. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan kepaniteraan di bagian ilmu kedokteran jiwa RSUD Arjawinangun. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Eri Achmad Achdiar Sp.KJ yang telah membantu menyelesaikan tugas referat ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahannya, baik dalam isi maupun sistematikanya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan wawasan penulis. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan makalah ini. Akhir kata, penulis mengharapkan semoga referat ini dapat memberikan manfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Wassalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Arjawinangun, Maret 2014

Penulis

DAFTAR ISI 1. KATA PENGANTAR.............................................................................................i 2. DAFTAR ISI... ii 3. PENDAHULUAN.................................................................................................. 1 4. TINJAUAN PUSTAKA. 2 5. KESIMPULAN. . 19 6. DAFTAR PUSTAKA. 20

BAB I PENDAHULUAN

Agitasi merupakan psikopatologi yang sering ditemui pada berbagai gangguan psikiatrik, misalnya skizofrenia, skizoafektif, gangguan bipolar, atau demensia. Pada pasien dengan skizofrenia, agitasi sering terjadi selama fase akut. Pada agitasi terlihat adanya ansietas yang disertai dengan kegelisahan motorik, meningkatnya respons terhadap stimulus internal atau eksternal, iritabilitas, peningkatan aktivitas verbal atau motorik yang tidak bertujuan. Agitasi merupakan gejala yang sangat menakutkan karena sering meningkat menjadi perilaku atau tindakan kekerasan (violent) dan destruktif. Kekerasan yaitu agresif fisik yang dapat mencederai orang lain. Yang sering menjadi korban kekerasan adalah keluarga, petugas medik atau pasien lainnya. Oleh karena itu, intervensi yang cepat sangat diperlukan untuk mencegah pasien melukai dirinya, keluarga atau orang lain.

BAB II PEMBAHASAN

1. DEFINISI AGITASI Menurut Asosiasi Psikiatri Amerika di dalam DSM-IV-TR, agitasi didefinisikan sebagai aktivitas motorik yang berlebih-lebihan terkait dengan perasaan ketegangan dari dalam diri. Gangguan perilaku yang kompleks yang dikarakteristikkan dengan agitasi terdapat pada sejumlah gangguan psikiatri seperti skizofrenia, gangguan bipolar, demensia (termasuk penyakit Alzheimer) dan penyalahgunaan zat (obat dan/atau alkohol). Agitasi (keresahan atau kegelisahan) adalah suatu bentuk gangguan yang menunjukkan aktivitas motorik berlebihan dan tak bertujuan atau kelelahan, biasanya dihubungkan dengan keadaan tegang dan ansietas. Pada beberapa literatur dikatakan bahwa agitasi adalah gangguan psikomotor yang memiliki karakterisasi peningkatan aktivitas motor dan psikologi pada pasien (adanya irritabilitas). Adanya gerakan berjalan bolak-balik dalam satu ruang tanpa alasan, gerakan memeras-meras tangan, melepas baju dan memakainya lagi dalam kondisi terbalik, dan tindakan motorik dan tak beralasan lainnya. Pada keadaan yang parah, gerakan yang ditimbulkan bisa membahayakan orang lain, seperti merobek-robek, menggigit kuku jari dan menggigit bibir sendiri yang menimbulkan potensi pendarahan akibat trauma.

Perilaku Fisik Non-agresif Kegelisahan umum Mannerism berulang Mencoba mencapai tempat yang berbeda Menangani sesuatu secara tidak sesuai Menyembunyikan barang Berpakaian tidak seusai atau tidak berpakaian Menghukum berulang

Perilaku Verbal Non-agresif Negativism Tidak menyukai apapun Meminta perhatian Berkata-kata seperti seseorang yang berkuasa Mengeluh Interupsi yang relevan Interupsi yang irelevan

Perilaku Fisik Agresif Memukul Mendorong Merebut barang Berperilau kejam terhadap manusia Menendang dan menggigit

Perilaku Verbal Agresif Menjerit Mengutuk Membuat suara aneh

2. PREVALENSI AGITASI Sebanyak 1,7 juta kunjungan ke ruang gawat darurat per tahun melibatkan pasien agitasi dan 20% - 50% dari kunjungan darurat psikiatri di Amerika Serikat melibatkan pasien yang beresiko agitasi. Skizofrenia (sebanyak 27%) dan gangguan bipolar adalah penyebab yang sangat umum dari agitasi. Agitasi pada pasien skizofrenia atau gangguan bipolar dapat dipercepat atau diperburuk oleh faktor yaitu laki-laki, usia yang lebih muda, riwayat penyalahgunaan zat, ketidakpatuhan terhadap antipsikotik, sejarah perilaku agresif secara fisik, dan karakteristik lingkungan di mana mereka ditempatkan (misalnya, bagian gawat darurat penuh sesak).

3. ETIOLOGI AGITASI Agitasi merupakan manifestasi dari penyakit medis, ansietas berat dan bagian dari kondisi psikiatri. Penting untuk menentukan diagnosis sebelum menentukan terapi yang digunakan. Diagnosis dilakukan atas dasar gejala yang ditemukan (tingkat kesadaran, bahasa, pikiran, dan lain-lain) serta informasi yang diberikan oleh keluarga anggota, teman, riwayat penyakit kejiwaan atau riwayat penyakit medis organik, faktor pencetus, penggunaan narkoba, onset. Gangguan mental organik Seperti dalam semua keadaan darurat psikiatri, prioritasnya adalah untuk menyingkirkan penyebab organik yang memerlukan pengobatan khusus. Gangguan sistemik pada sistem saraf pusat serta penyalahgunaan narkoba mempengaruhi fungsi otak dan dapat menghasilkan agitasi psikomotor yang umumnya bermanifestasikan suau sindrom kebingungan akut atau delirium, dengan karakteristik khusus yang ditunjukkan pada Tabel 1. Gangguan organik

yang dapat menyebabkan agitasi psikomotor ditunjukkan pada Tabel 2. Pasienpasien ini lebih sering dirawat di rumah sakit umum.

Gangguan psikotik Pasien dengan skizofrenia paranoid lebih sering menampilkan agitasi psikomotor, Muncul gejala positif pada fase eksaserbasi yaitu pikiran dan pembicaraan yang kacau dan halusinasi yang sering mengakibatkan perilaku agresif atau perilaku menyakiti diri sendri. Perbedaan antara skizofrenia atau pasien psikotik lain dengan delirium organik adalah kesadaran yang berubah pada delirium organik.

Kondisi kejiwaan lain yang juga terkait dengan agitasi psikomotor yaitu gangguan, bipolar fase manik, terutama ketika berkembang dengan gejala psikotik. Episode manik dapat bermanifestasi sebagai perilaku agresif, umumnya disertai oleh euforia, kesenangan bicara dan waham kebesaran.

Gangguan non-psikotik dan non-organik Kategori ini mencakup pasien dengan gangguan kepribadian non psikotik yang menampilkan gejala agitasi psikomotor sebagai reaksi dari faktor-faktor tertentu : a. Reaktif atau situasional agitasi (gangguan adaptif). agitasi muncul dikarenakan pasien tidak mampu beradaptasi. b. Stres akut disebabkan oleh situasi yang dirasakan sebagai hal yang tidak diinginkan. Pasien mungkin bereaksi dengan perilaku seperti kemarahan atau menampilkan gambaran apatis dan depersonalisasi. c. Stres emosional disebabkan oleh peristiwa kehidupan seperti kecelakaan, kematian anggota keluarga. d. Pada anak-anak, stres akut yang disebabkan oleh pelecehan seks atau penganiayaan.

Perbedaan antara agitasi karena kasus prikiatri dengan agitasi karena penyebab organik ditunjukkan pada tabel 3. No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Suggest Psychiatric Etiology Oriented Alert Gradual onset Psychiatric history Normal vital signs Normal physical exam Age < 40 years Auditory hallucinations Flattened affect Able to redirect Suggest Organic Etiology Disoriented Depressed level of consciousness Sudden onset No psychiatric history Abnormal vital signs Abnormal physical exam Age > 40 years (without psychiatric history) Visual hallucinations Emotional lability Unable to sustain attention

4. PATOFISIOLOGI AGITASI Beberapa literatur menyebutkan tentang mekanisme biologis yang mendasari agitasi sebagai sindrom terpisah dan spesifik. Gangguan pada neurotransmiter tertentu terlibat dalam patofisiologi agitasi (Tabel 4)

A. Depresi dan Agitasi Paofisiologi pada depresi dan agitasi melibatkan dua mekanisme yaitu terjadi aktivitas berlebihan pada aksis hipotalamus-piuitari-adrenal (HPA axis) dan peningkatan respon terhadap serotonin. Peningkatan terhadap aktivitas transmisi serotonin dapat menjadi pencetus ansietas dan agitasi pada individu yang rentan. Kelainan regulasi neurotransmitter lain yang dapat menyebabkan agitasi pada depresi yaitu penurunan fungsi dari asam -aminobutirat (GABA) dan peningkatan aktivitas noradrenergik. Pada keadaan ini, Diperlukan obat yang dapat meningkatkan fungsi GABA-ergik dan menurunkan transmisi nonadrenergik. Obat yang digunakan berfungsi sebagai agonis GABA-ergik (contoh asam valproate, benzodiazepine).

B. Dimensia dan Agitasi Terdapat tiga sistem yang berhubungan dengan agitasi pada dimensia, yaitu penurunan GABA-ergik, peningkatan sensitivitas terhadap norepinefrin dan penurunan fungsi serotonin. Asam valproate, agonis GABA-ergik dilaporkan efektif berfungsi sebagai antiagitasi pada pasien dimensia dengan agitasi. Antagonis dopamine digunakan pada pasien dengan peningkatan sensitifitas terhadap norepinefrin. Antagonis dopamine diindikasikan sebagai antipisikotik dengan dampak minimal EPS (ekstrapiramidal sindrom).

C. Psikosis dan Agitasi Agitasi sering terjadi pada episode akut psikosis dan terkai dengan gejala positif. Jalur dopaminergik merupakan jalur utama pada patofisiologi dari gejala positif dan diikuti oleh gangguan fungsi pada serotonergik, GABA-ergik dan glutamatergik. Pada psikotik akut menggambarkan sindrom gangguan mesokortikal yang disebabkan oleh aktivitas dopaminergik yang berlebihan dan gangguan glutamatergik pada neurotansmisi dopaminergic dan penurunan inhibisi GABA-ergik. Hal tersebut mengakibatkan penurunan aktivitas pada cortical prefrontal dan menimbulkan gejala negatif, positif dan kognitif. Gangguan fungsi pada jalur serotonergic juga dapat menjadi patofisiologi psikosis. Jalur serotonin 2A (5-HT2A) berhubungan dengan aktivitas dopaminergik. Antagonis 5-HT2A meningkatkan neurotransmitter dopamine.

5. FAKTOR RESIKO AGITASI Faktor-faktor tertentu dapat mengindikasikan peningkatan risiko perilaku kekerasan secara fisik. Faktor resiko terdiri dari faktor individu, faktor klinis, faktor situasi (Tabel 5)

6. TAHAP PREDIKSI AGITASI Beberapa gejala dapat berfungsi sebagai peringatan untuk menunjukkan pasien berperilaku kekerasan secara fisik (Tabel 6)

7. MANAJEMEN AGITASI Pengelolaan pasien agitasi didasarkan pada empat prinsip utama yaitu tindakan keselamatan, intervensi verbal, pengekangan fisik dan farmakologis. A. Tindakan keselamatan Tujuannya adalah untuk menjaga keamanan pasien, staf, keluarga, orang sekitar. Tindakan yang dilakukan saat dokter untuk melakukan pendekaan terhadap pasien, yaitu : a. Pastikan kehadiran penjaga keamanan (di rumah, kamar atau rumah sakit saat konsultasi). Pasien harus diberitahu tentang situasi tersebut. Kehadiran penjaga keamanan akan mencegah pasien melakukan tindakan agresif. b. Jika pasien berada di dalam ruang konsultasi atau ruang kerja, jalan keluar harus direncanakan dalam kasus perilaku kekerasan. Ruangan sebaiknya harus lebar, dengan dua pintu keluar dan pintu tersebut tidak bisa dikunci dari dalam. Jika memungkinkan, bel alarm harus tersedia dekat dengan dokter. Pasien tidak boleh ditempatkan pada sudut atau tempat yang jauh. Diperlukan tindakan pencegahan dengan menjauhkan benda-benda yang dapat digunakan sebagai senjata, termasuk pensil dan asbak. c. Hindari kontak dekat dengan pasien. Pasien tidak ditempatkan diantara dokter dan pintu keluar. d. Hindari tindakan membelakangi pasien. e. Buat suasana setenang mungkin, menghindari rangsangan eksternal, seperti musik, berteriak, lampu terang f. Waspadai tanda-tanda tindakan yang tiba-tiba B. Intervensi verbal Intervensi pertama yang dilakukan yaitu dengan mengembangkan dialog dengan pasien. Dalam fase ini, seorang anggota keluarga atau pendamping dapat dilibatkan. Tindakan ini efektif dalam kasus-kasus ringan sampai sedang, dan terutama dengan pasien gangguan jiwa. Langkah-langkah yang dilakukan yaitu : a. Memperkenalkan diri sebagai dokter b. Hormati ruang pribadi pasien dengan klinisi Minimum jarak 2 lengan Bila pasien memiliki gejala paranoid, jarak lebih diperlebar

c. Memberikan informasi. Pasien harus diinformasikan mengenai tindakan yang diambil. Hindari ancaman dan pemberian harapan. d. Bersikap meyakinkan tetapi tegas (tampak tenang dan mengendalikan situasi). Gunakan suara yang monoton Wajah dan sikap tubuh tenang ( tidak menyilangkan kaki atau tangan)

e. Gunakan percakapan yang tenang, pertanyaan pendek dan diulang hingga dapat dimengerti oleh pasien, aktif mendengarkan pasien, menghindari konfrontasi atau perlawanan terhadap ide atau sikap pasien. f. Menghindari kontak mata berkepanjangan. g. Mencoba untuk menawarkan sesuatu (makan atau minum) yang dapat mendukung dialog h. Waspadai tanda-tanda perilaku kekerasan seperti peningkatan volume suara, penggunaan bahasa yang kasar, ketegangan otot (mencengkeram kursi), gugup, hiperaktif (menggosok tangan, berjalan mondar-mandir). Tanda yang paling penting dari perilaku kekerasan adalah aktivitas motorik pasien. i. Kehadiran anggota keluarga harus dipertimbangkan. Keluarga dapat memberikan informasi mengenai pasien seperti riwayat pasien , riwayat penyalahgunaan zat, keadaan keluarga pasien, kehidupan sosial pasien dan keadaan pasien sekarang.

C. Pengekangan Fisik Pengekangan fisik digunakan sebagai pilihan terakhir ketika tindakan lain gagal. Namun, pengekangan fisik menjadi tindakan pertama dalam kasus agitasi ekstrim dengan risiko agresi atau percobaan bunuh diri. Pengekangan fisik juga diindikasikan pada pasien yang perilakunya gelisah dan menghambat tindakan terapeutik. Sebelum menerapkan pengekangan fisik, pasien harus diberitahu tentang alasan dan pilihan terapi yang diambil, memberikan pilihan terapi farmakologi.

Metode pengekangan mekanis fisik a. Prinsip dasar adalah tindakan pengekangan fisik merupaka indakan professional, dokter sebagai pengarah tindakan (pemimpin) dan bertanggung jawab terhadap pasien.

b. Menentukan rencana, satu orang berada di belakang kepala pasien dan staf lain akan memegang anggota tubuh pasien. Semua staf harus memakai sarung tangan. c. Pasien diturunkan ke lantai, menghadap ke atas. Dokter memberikan instruksi, memegang dan melindungi kepala pasien. Staf lain menahan anggota badan pasien (Gambar 2) dan memastikan imobilitas bahu, siku dan lutut (Gambar 3 dan 4) serta pada saat yang sama mengurangi risiko cedera, terutama patah tulang. Jika pasien gelisah, pasien diangkat melalui lutut dan siku dan didukung di bawah bahu, kemudian ditempatkan di tempat tidur. Pergelangan tangan dan pergelangan kaki diikat.Beberapa penulis merekomendasikan posisi decubitus lebih baik daripada posisi terlentang karena menghindari trauma kepala terhadap permukaan keras dari tempat.

D. Terapi farmakologis Tidak ada jenis obat yang dianggap terbaik untuk semua kasus agitasi, tetapi tiga kelas umum obat paling sering diteliti dan digunakan untuk agitasi yaitu antipsikotik generasi pertama, generasi kedua antipsikotik, dan benzodiazepin.

Antipsikotik Generasi Pertama Antipsikotik generasi pertama atau tipikal (FGA) memiliki sejarah panjang penggunaan untuk pengobatan agitasi. Mekanisme FGAs untuk menurunkan gejala tidak diketahui pasti tetapi diperkirakan FGAs menghambat transmisi dopamin pada otak manusia yang dapat mengurangi gejala psikotik yang mendasari penyebab agitasi. Selain itu, beberapa FGAs secara struktur memiliki kemiripan dengan neurotransmitter inhibisi asam gammaaminobutira (GABA) dan berinteraksi dengan GABA reseptor pada manusia dalam dosis tinggi. Fenotiazin merupakan kelas obat antipsikotik dengan potensi rendah seperti klorpromazin (Thorazine). Fenotiazin merupakan FGA pertama yang disetujui dan dipasarkan oleh US Food and Drug Administration (FDA) dan memiliki kecenderungan untuk menyebabkan hipotensi, antikolinergik, dan menurunkan ambang kejang dibandingkan dengan FGAs seperti haloperidol. Dengan demikian, fenotiazin tidak dipilih untuk pengobatan agitasi akut. Haloperidol merupakan FGA dengan potensi tinggi. Haloperidol merupakan turunan butirophenone yang bekerja sebagai antagonis selektif pada reseptor dopamin-2 (D2). Haloperidol disetujui FDA untuk penggunaan oral atau intramuskular pada skizofrenia, efektif dan aman untuk pengobatan agitasi akut. Haloperidol merupakan FGA yang paling umum digunakan saa ini untuk mangatasi agitasi akut. Droperidol, turunan butirophenone lain yang bekerja menghambat reseptor D2 belum disetujui untuk digunakan dalam pengobatan psikiatri tetapi disetujui sebagai pengobatan pra-anastesi untuk mengurangi mual dan muntah yang berhubungan dengan anestesi. Droperidol juga telah digunakan secara luas untuk mengobati agitasi. Haloperidol dan droperidol memiliki efek minimal aktivitas antikolinergik dan memiliki interaksi minimal dengan obat nonpsikiatri lain. Namun, kedua obat memiliki efek samping yang penting. Droperidol dan haloperidol berpotensi menganggu kerja jantung yaitu dengan memperpanjang

interval QTc. Penggunaan haloperidol dan droperidol harus dipantau terutama bagi pasien yang meminum obat lain yang dapat memperpanjang interval QTc, pasien yang sudah memilik kelainan jantung sebelumnya, atau pasien yang memiliki predisposisi perpanjangan interval QTc seperti ketidakseimbangan elektrolit (terutama hipokalemia dan hipomagnesemia), atau hipotiroidisme. Penggunaan haloperidol yang diberikan secara intravena, harus dilakukan pembatasan dosis menjadi 5 sampai 10 mg / hari dan diberikan dalam pemantauan EKG Selain efek samping pada jantung, haloperidol dan droperidol memiliki risiko efek samping sindrom ekstrapiramidal (EPS) seperti distonia atau sindrom neuroleptik maligna. Dosis obat yang tinggi juga dapat menyebabkan reaksi katatonik karena blokade dopamin sentral yang berlebihan. Gejala EPS terjadi pada 20% pasien agiasi yang diobati dengan haloperidol dan 6% pasien agitasi diobati dengan kombinasi haloperidol dan lorazepam. Pengobatan kombinasi lebih cepat menurunkan gejala agitasi. Haloperidol sering diberikan dalam kombinasi dengan obat lain seperti lorazepam, prometazin, atau difenhidramin. Haloperidol menjadi obat pilihan pada agitasi dengan keracunan alkohol. Dosis yang direkomendasikan untuk mengatasi agitasi pada psikotik yaitu 2-5 mg intramuscular untuk haloperidol yang diberikan setiap 1-4 jam. Pemberian haloperidol diberikan bersamaan dengan lorazepam 2 mg inramuskular atau clorpromazin 25-50 mg intramuscular setiap 1-4 jam.

Tabel 7. Perbedaan efek samping antipsikotik tipikal potensi tinggi dengan antipsikotik tipikal potensi rendah

Antipsikotik Generasi Kedua Antipsikotik atipikal atau disebut juga dengan antipsikotik generasi kedua (SGA). Generasi ini mulai dikembangkan pada tahun 1990 dan digunakan dalam onset akut. Olanzapin (Zyprexa), ziprasidon (Geodon), dan aripiprazol (Abilify) digunakan dalam bentuk injeksi intramuscular dan oral. Risperidon (Risperdal) dan quetiapin (Seroquel) tersedia dalam bentuk oral. Obat-obat ini bekerja sebagai antagonis pada reseptor D2 dan bekerja sebagai antagonis pada reseptor serotonin 2A (5-HT2A). Selain itu, antipsikotik atipikal bekerja pada reseptor jenis lain, seperti histamin, norepinefrin reseptor. Ziprasidon memiliki afinitas tinggi untuk reseptor serotonin dibandingkan dengan reseptor D2. Olanzapin dan quetiapin memiliki afinitas yang relatif lebih tinggi untuk reseptor histamin. Secara umum, SGAs memiliki risiko efek samping distonia atau akatisia yang rendah (1%). Sejumlah studi yang membandingkan kombinasi antipsikotik oral. Kombinasi risperidone dan lorazepam memiliki efek yang sama dengan haloperidol dan lorazepam yang diberikan secara injkesi intramuscular. Risperidone oral meiliki efek yang sama dengan haloperidol intramuskular.

Benzodiazepin Benzodiazepin seperti diazepam , lorazepam dan clonazepam bekerja sebagai inhibisi reseptor neurotransmitter GABA utama pada otak manusia . Obat-obat ini memiliki keberhasilan untuk mengatasi agitasi dan dipilih pada pasien agitasi dengan intoksikasi atau ketika etiologi agitasi belum ditentukan. Namun pada agitasi dengan psikosis , benzodiazepin hanya bekerja sementara dan tidak mengobati penyakit yang mendasari agitasi . Selain itu, obat-obat ini memiliki dampak sedasi yang tinggi dan memiliki potensi depresi pernapasan atau hipotensi bila digunakan secara parenteral pada pasien dengan gangguan pernapasan dan diberikan dengan kombinasi obat-obat yang memiliki efek depresi SSP.

Pedoman Khusus untuk Penatalaksanaan Agitasi Rekomendasi Umum 1. Penggunaan obat-obatan yang digunakan sebagai pengendalian (membatasi gerakan). Dokter harus menentukan diagnosa penyebab dari agitasi dan menentukan obat sesuai penyebab agitasi. 2. Pendekatan nonfarmakologis seperti intervensi verbal dan mengurangi stimulasi lingkungan ( ruangan yang tenang, pencahayaan yang rendah) harus dilakukan sebelum memulai terapi farmakologi. 3. Obat harus digunakan untuk menenangkan pasien, tidak untuk membuat pasien tidur. 4. Pasien harus dilibatkan dalam proses pemilihan obat (misalnya oral atau intramuskular). 5. Disarankan penggunaan obat oral jika pasien kooperatif

Agitasi Karena Intoksikasi 1. Obat Untuk intoksikasi terkait obat-obatan digunakan benzodiazepin sebagai pengobatan lini pertama. Pengobatan lini kedua pada pasien ini menggunakan antipsikotik atipikal.

2. Alkohol Obat untuk mengobati agitasi terkait dengan intoksikasi alkohol harus digunakan sesuia indikasi. Penggunaan benzodiazepin harus dihindari karena potensi untuk depresi pernapasan. Pengguaan antipsikotik dipilih untuk kasus ini. Haloperidol memiliki keamanan dan memiliki efektifitas yang baik sertia dan memiliki efek samping minimal terhadap pernapasan. Antipsikotik generasi kedua, seperti olanzapine dan risperidone belum diteliti dengan baik untuk intoksikasi alkohol.

Agitasi pada Gangguan Psikiatri 1. Pada agitasi dengan gangguan psikiatri (misalnya, skizofrenia,gangguan skizoafektif, gangguan bipolar) digunakan antipsikotik daripada benzodiazepin untuk mengobati gengguan psikiatri yang mendasari. 2. Antipsikotik generasi kedua lebih dipilih untuk mengaasi agitasi akut daripada haloperidol. Risperidone oral memiliki keamanan dan memiliki efektifitas untuk mengatasi agitasi akut. Pada pasien yang tidak kooperatif untuk menerima obat oral, dipilih ziprasidone intramuskular atau olanzapine intramuskular untuk mengatasi agitasi akut. 3. Jika dosis awal antipsikotik tidak cukup untuk mengontrol agitasi, penambahan benzodiazepin seperti lorazepam lebih dipilih untuk dosis tambahan dari antipsikotik yang sama atau antipsikotik kedua.

Agitasi Terkait dengan Delirium 1. Delirium adalah sindrom klinis yang berbeda yang sering dikaitkan dengan psikosis dan agitasi. Delirium merupakan gangguan medis yang mempengaruhi perubahan fungsi otak secara cepat. Hal ini dapat terjadi akibat dari penghentian suatu zat secara tiba-tiba (alkohol atau obat-obatan ) atau konsumsi awal dari obat atau obat, seperti antikolinergik pada pasien lanjut usia. 2. Pada delirium terjadi penurunan tingkat kesadaran dan gangguan dalam perhatian dan kognisi (memori) dalam onset akut (jam sampai hari) . Pada delirium terjadi halusinasi visual atau gangguan persepsi visual 3. Jika penghentian alkohol atau benzodiazepine adalah penyebab delirium , maka benzodiazepin merupakan obat pilihan.Clonidin juga dapat membantu dalam

mengurangi dampak penghentian alkohol atau benzodiazepin, sehingga dapat mengurangi delirium dan agitation. 4. Jika penghentian zat lain diduga sebagai penyebab delirium, maka dipilih zat lain yang memiliki sifat farmakologis serupa dengan zat sebelumnya ( nikotin pada penghentian nikotin). 5. Jika konsumsi zat baru merupakan penyebab delirium, maka gejala delirium akan mengilang dengan sendirinya. Namun, memerlukan terapi farmakologis untuk mengaasi agitasi. 6. Bila kelainan medis yang mendasari (hipoglikemia ,ketidakseimbangan elektrolit , hipoksia ) maka dilakukan pengobatan pada penyakit yang mendasari untuk mengatasi delirium dan agitasi 7. Penggunaan terapi farmakologis secara langsung diperlukan pada pasien agitasi dengan delirium bukan karena alkohol , penghentian benzodiazepine atau kekurangan tidur. Dipilih penggunaan antipsikotik generasi kedua. Haloperidol juga dapa digunakan dengan dosis rendah. Benzodiazepin harus dihindari karena dapat memperburuk delirium.

Agitasi dengan Penyebab yang Tidak Diketahui atau Lebih dari Satu Penyebab Pada pasien tidak menampilkan gejala psikosis (halusinasi, delusi berpikir, paranoid), direkomendasikan benzodiazepin sebagai pengobatan lini pertama. Antipsikotik dianjurkan pada pasien yang yang menampilkan gejala psikotik.

BAB III KESIMPULAN

Agitasi didefinisikan sebagai aktivitas motorik yang berlebih-lebihan terkait dengan perasaan ketegangan dari dalam diri. Gangguan perilaku yang kompleks yang dikarakteristikkan dengan agitasi terdapat pada sejumlah gangguan psikiatri seperti skizofrenia, gangguan bipolar, demensia (termasuk penyakit Alzheimer) dan penyalahgunaan zat (obat dan/atau alkohol). Pengelolaan pasien agitasi didasarkan pada empat prinsip utama yaitu tindakan keselamatan, intervensi verbal, pengekangan fisik dan farmakologis. Tindakan keselamatan bertujuan untuk menjaga keamanan pasien, staf, keluarga, orang sekitar. Intervensi verbal dilakukan dengan mengembangkan dialog dengan pasien. Pengekangan fisik digunakan sebagai pilihan terakhir ketika tindakan lain gagal. Pengekangan fisik diindikasikan pada pasien yang perilakunya gelisah dan menghambat tindakan terapeutik. Terapi farmakologis pada agitasi diberikan sesuai dengan penyebab yang mendasari.

DAFTAR PUSTAKA

a. Allen, Michael H. Emergency Psychiatry.American Psychiatry Publishing. Washington. 2005. p: 199-122 b. Moore DP, Jefferson JW. Handbook of Medical Psychiatry. 2nd ed. Philadelphia, Pa: Mosby; 2004:chap 155. c. National Institute for Clinical Excellence. Quick Reference Guide : Violence The Shortterm Management of Disturbed/Violent Behaviour in Psychiatric in-patient Settings and Emergency Department. United Kingdom. 2005. p: 6-7 d. V. Fernndez Gallego et al. Management of the agitated patient in the emergency department. Emergencias 2009; 21: p.121-123 e. Wilson et al. The Psychopharmacology of Agitation: Consensus Statement of the American Association for Emergency Psychiatry Project BETA Psychopharmacology Workgroup in Western Journal of Emergency Medicine. Volume 26 XIII, NO. 1 : February 2012. p:27-32