Anda di halaman 1dari 16

PERAN BIDAN DALAM MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI PADA PERSALINAN NORMAL DAN PATHOLOGIS

Makalah ini dibuat untuk memenuhi mata kuliah Bahasa Indonesia

disusun oleh : SHELA DAMAYANTI P3.73.24.1.13.090

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA III JURUSAN KEBIDANAN PROGRAM STUDI KEBIDANAN HARAPAN KITA TAHUN 2013
1

Kata Pengantar

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan rahmat dan karunia-nya sehingga saya dapat menyusun makalah ini dengan baik dan benar, serta tepat pada waktunya. Dalam makalah ini saya akan membahas mengenai Peran Bidan dalam Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi pada Persalinan Normal dan Pathologis Makalah ini telah dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu saya mengharap pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Jakarta, Desember 2013

Penulis

Daftar isi
Kata pengantar........................................................................................................................2 Daftar isi..................................................................................................................................3 Bab 1 Pendahuluan..................................................................................................................4 1.1 Latar belakang.............................................................................................................4 Bab 2 Pembahasan..................................................................................................................6 2.1 Peran bidan dalam menurunkan AKI dan AKB...........................................................6 2.1.1 Peran bidan............................................................................................................6 2.1.1.1 Pengertian......................................................................................................6 2.1.1.2 Peran dan fungsi bidan..................................................................................7 2.1.2 Angka Kematian Ibu dan Bayi.............................................................................10 2.1.2.1 Pengertian.........................................................................10 2.1.2.2 Penyebab...........................................................................13 2.2 Persalinan normal dan patologis..................................................................................14 2.2.1 Pengertian.............................................................................................................14 Bab 3 Penutup.........................................................................................................................15 3.1 Kesimpulan..................................................................................................................15 3.2 Saran............................................................................................................................15 Daftar Pustaka........................................................................................................................16

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Target pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi prioritas utama dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Dari target MDGs 102 per 100.000 Kelahiran Hidup (KH), pada tahun 2007 AKI telah mengalami penurunan dari 228 per 100.000 menjadi 118 per 100.000 KH. Sedangkan target AKB pada MDGs 23 per 1000 KH, pada tahun yang sama tercatat mengalami penurunan dari 34 per 1000 menjadi 24 per 1000 KH. Kementerian Kesehatan telah melakukan upaya mengatasi masalah dalam menurunkan AKI dan AKB diantaranya mendekatkan jangkauan pelayanan kebidanan kepada masyarakat. Dengan dibangunnya Pondok Bersalin Desa (Polindes) di setiap desa dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan cakupan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak, kata Wakil Menteri Kesehatan Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc.,Ph.D saat membuka acara Workshop Nasional Pelayanan Kebidanan (15/5).

Workshop Nasional Pelayanan Kebidanan diselenggarakan Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan dan Keteknisian Medik Kementerian Kesehatan bersama Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sekaligus dalam rangka memperingati Hari Bidan Sedunia tanggal 5 Mei yang mengangkat tema Midwives Save Lives.

Wamenkes menjelaskan makna Midwives Save Lives bahwa bidan berperan penting menjaga kelangsungan hidup ibu dan anak, terutama di daerah pedesaan. Bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan memiliki posisi penting dan strategis dalam penurunan AKI dan AKB, memberikan pelayanan yang berkesinambungan dan paripurna, berfokus pada aspek pencegahan melalui pendidikan kesehatan dan konseling, promosi kesehatan, pertolongan persalinan normal dengan berlandaskan kemitraan dan pemberdayaan perempuan serta melakukan deteksi dini pada kasus-kasus rujukan.
4

Pada kesempatan itu Wamenkes juga menyampaikan upaya lain dalam menurunkan AKI dan AKB yaitu pemberian kewenangan tambahan pada Puskesmas untuk penanganan kegawatdaruratan pada kasus Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED). Pemberdayaan RS sebagai sarana rujukan dalam penanganan kegawatdaruratan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) dan upaya standarisasi pelayanan kebidanan.

Kemenkes menghimbau bidan tetap semangat melayani dan menyelamatkan kehidupan ibu dan bayi, memberikan pelayanan kebidanan secara professional melalui peningkatan kemampuan analitik dan sesuai standar profesi. Sedangkan untuk IBI lakukan pembinaan anggota untuk implementasi standar profesi, peningkatan kompetensi, dan bersinergi dengan pemerintah dalam akselerasi penurunan AKI dan AKB untuk bersama-sama wujudkan program MDGs 2015.

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Peran bidan dalam menurunkan AKI dan AKB 2.1.1 Peran bidan 2.1.1.1 Pengertian

Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan kebidanan yang diakui oleh pemerintah, lulus ujian sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku dan mendapat izin yang sah dari dinas kesehatan. Bidan juga dapat didefinisikan sebagai seorang petugas kesehatan yang terlatih secara formal maupun nonformal (tetapi bukan seorang dokter) yang membantu kelahiran bayi serta perawatan maternal terkait.

Bidan dikenal sebagai profesional yang bertanggung jawab yang bekerja sebagai mitra perempuan dalam memberikan dukungan yang diperlukan, asuhan dan saran selama kehamilan, periode persalinan dan post partum serta melakukan pertolongan persalinan. Bidan adalah salah satu profesi tertua. Bidan terlahir sebagai wanita terpercaya dalam mendampingi dan menolong ibu dalam melahirkan bayinya sampai ibu dapat merawat bayinya dengan baik.

Suatu profesi yang berpengaruh besar terhadap keselamatan pasien. Sama halnya seperti dokter, apabila salah melakukan tindakan, maka akan membahayakan kondisi pasiennya. Bidan dikenal sebagai mitra perempuan, karena dituntut untuk memberikan asuhan kepada ibu hamil, dan berperan dalam proses persalinan. Peran bidan yaitu sebagai pelaksana, pendidik, pengelola dan peneliti.

2.1.1.2 Peran dan fungsi bidan Peran adalah perangkat tingkah laku yang diharapkan dan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat (Tim Media pena,2002 : 112 ). Peran bidan yang diharapkan, harus sesuai dengan kewenangan profesi bidan sebagai berikut. 1. Sebagai pelaksana Sebagai pelaksana bidan memiliki tiga kategori tugas yaitu tugas mandiri, tugas kolaborasi dan tugas ketergantungan. a. Tugas Mandiri/ Primer Tugas mandiri bidan yaitu tugas yang menjadi tanggung jawab bidan sesuai kewenangannya, meliputi: 1) Menetapkan manajemen pada setiap asuhan kebidanan yang diberikan. 2) Memberi pelayanan dasar pra nikah pada remaja dengan melibatkan mereka sebagai klien. 3) Memberi asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal. 4) Memberikan asuhan kebidanan kepada klien dalam masa persalinan dengan melibatkan klien/keluarga.

b. Tugas Kolaborasi Merupakan tugas yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya dilakukan secara bersamaan atau sebagai salah satu urutan dari proses kegiatan pelayanan kesehatan, yaitu.

1.

Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga.

2.

Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan resiko tinggi dan pertolongan pertama pada kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi.

3.

Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan dengan resiko tinggi dan keadaan kegawatan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga.

4.

Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dengan resiko tinggi dan pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan klien dan keluarga.

c. Tugas Ketergantungan / Merujuk Merupakan tugas yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya yaitu pelayanan yang dilakukan oleh bidan sewaktu menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan rujukan yang dilakukan oleh bidan ketempat/fasilitas pelayanan kesehatan lain secara horizontal maupun vertikal atau ke profesi kesehatan lainnya. 1) Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai dengan fungsi rujukan keterlibatan klien dan keluarga. 2) Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu hamil dengan resiko tinggi dan kegawat daruratan. 3) Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada masa persalinan dengan penyulit tertentu dengan melibatkan klien dan keluarga. 4) Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu dalam masa nifas dengan penyulit tertentu dengan kegawatdaruratan dengan melibatkan klien dan keluarga.

2. Peran sebagai pengelola Sebagai pengelola, bidan memiliki 2 tugas utama yaitu tugas pengembangan pelayanan dasar kesehatan dan tugas partisipasi dalam tim. Bidan bertugas mengembangkan pelayanan dasar kesehatan terutama pelayanan kebidanan untuk individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat di wilayah kerja dengan melibatkan masyarakat/ klien meliputi : 1) Mengkaji kebutuhan terutama yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk meningkatkan serta mengembangkan program pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya bersama tim kesehatan dan pemuka masyarakat. 2) Menyusun rencana kerja sesuai dengan hasil kajian bersama masyarakat 3) Mengelola kegiatan pelayanan kesehatan khususnya KIA/KB sesuai dengan rencana. 4) Mengkoordinir, mengawasi dan membimbing kader dan dukun atau petugas kesehatan lain dalam melaksanakan program/ kegiatan pelayanan KIA/KB. Bidan berpartisipasi dalam tim untuk melaksanakan program kesehatan dan sektor lain melalui peningkatan kemampuan dukun bayi, kader, dan tenaga kesehatan lain yang berada di wilayah kerjanya, meliputi : a. Bekerjasama dengan Puskesmas, institusi lain sebagai anggota tim dalam memberi asuhan kepada klien bentuk konsultasi, rujukan & tindak lanjut. b. Membina hubungan baik dengan dukun bayi, kader kesehatan, PLKB dan masyarakat. c. Melaksanakan pelatihan serta membimbing dukun bayi, kader dan petugas kesehatan lain. d. Memberikan asuhan kepada klien rujukan dari dukun bayi. 3. Peran sebagai pendidik Sebagai pendidik bidan mempunyai 2 tugas yaitu sebagai pendidik dan penyuluh kesehatan bagi klien serta pelatih dan pembimbing kader diantaranya adalah memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada individu, keluarga dan masyarakat tentang
9

penanggulangan masalah kesehatan khususnya KIA/KB serta melatih dan membimbing kader termasuk siswa bidan/keperawatan dan membina dukun di wilayah kerjanya. 2.1.2 Angka Kematian Ibu dan Bayi 2.1.2.1 Pengertian A. Angka Kematian Ibu Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll (Budi, Utomo. 1985).

Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan,yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup.

Kemudian kematian ibu dapat diubah menjadi rasio kematian ibu dan dinyatakan per 100.000 kelahiran hidup, dengan membagi angka kematian dengan angka fertilitas umum. Dengan cara ini diperoleh rasio kematian ibu kematian maternal per 100.000 kelahiran.

Rumus :

Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu yang disebabkan karena kehamilan, persalinan sampai 42 hari setelah melahirkan, pada tahun tertentu, di daerah tertentu.

10

Keterangan : Jumlah kelahiran Hidup adalah banyaknya bayi yang lahir hidup pada tahun tertentu, di daerah tertentu.

Konstanta =100.000 bayi lahir hidup. B. Angka Kematian Bayi Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.

Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.

Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.

Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah satu tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Adapun cara penghitungan untuk mengetahui jumlah Angka Kematian Bayi yang ada di daerah tertentu.

11

Angka Kematian Bayi dibagi menjadi dua : 1) Angka Kematian NeoNatal

Angka Kematian Neo-Natal adalah kematian yang terjadi sebelum bayi berumur satu bulan atau 28 hari, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Rumus :

Angka Kematian Neo-Natal =Angka Kematian Bayi umur 0-<1bulan

D 0-<1bulan =Jumlah Kematian Bayi umur 0 kurang 1 bulan pada satu tahun tertentu di daerah tertentu.

lahir hidup = Jumlah Kelahiran hidup pada satu tahun tertentu di daerah tertentu

K = 1000

2) Angka kematian Post Neo-natal

Angka Kematian Post Neo-natal atau Post Neo-natal Death Rate adalah kematian yang terjadi pada bayi yang berumur antara 1 bulan sampai dengan kurang 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Rumus:

Angka Kematian Post Neo-Natal = angka kematian bayi berumur 1 bulan sampai dengan kurang dari 1 tahun

D 1bulan-<1tahun = Jumlah kematian bayi berumur satu bulan sampai dengan kurang dari 1 tahun pada satu tahun tertentu & daerah tertentu.

lahir hidup = Jumlah kelahiran hidup pada satu tahun tertentu & daerah tertentu.

12

2.1.2.2 Penyebab

a. Kematian ibu

Rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi faktor penentu angka kematian, meskipun masih banyak faktor yang harus diperhatikan untuk menangani masalah ini. Persoalan kematian yang terjadi lantaran indikasi yang lazim muncul. Yakni pendarahan, keracunan kehamilan yang disertai kejangkejang, aborsi, dan infeksi. Namun, ternyata masih ada faktor lain yang juga cukup penting. Misalnya, pemberdayaan perempuan yang tak begitu baik, latar belakang pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan politik, kebijakan juga berpengaruh. Kaum lelaki pun dituntut harus berupaya ikut aktif dalam segala permasalahan bidang reproduksi secara lebih bertanggung jawab. Selain masalah medis, tingginya kematian ibu juga karena masalah ketidaksetaraan gender, nilai budaya, perekonomian serta rendahnya perhatian laki-laki terhadap ibu hamil dan melahirkan. Oleh karena itu, pandangan yang menganggap kehamilan adalah peristiwa alamiah perlu diubah secara sosiokultural agar perempuan dapat perhatian dari masyarakat. Sangat diperlukan upaya peningkatan pelayanan perawatan ibu baik oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat terutama suami.

b. Kematian bayi

Berdasarkan survei lainnya, yaitu Riset Kesehatan Dasar Depkes 2007, kematian bayi baru lahir (neonatus) merupakan penyumbang kematian terbesar pada tingginya angka kematian balita (AKB). Setiap tahun sekitar 20 bayi per 1.000 kelahiran hidup terenggut nyawanya dalam rentang waktu 0-12 hari pas-cakelahirannya. Parahnya, dalam rentang 2002-2007 (data terakhir), angka neonatus tidak pernah mengalami penurunan. Penyebab kematian terbanyak pada periode ini, menurut Depkes,

13

disebabkan oleh sepsis (infeksi sistemik), kelainan bawaan, dan infeksi saluran pemapasan atas. Selaras dengan target pencapaian Millenium Development Goals (MDGs), Depkes telah mematok target penurunan AKB di Indonesia dari rata-rata 36 meninggal per 1.000 kelahiran hidup menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup pada 2015.

2.2 Persalinan normal dan pathologis

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari uterus melalui vagina ke dunia luar (Wikjiosastro, 2002). Sementara menurut Irene dan Margaret (2002) persalinan adalah proses bergeraknya janin, plasenta dan membrane keluar dari uterus yang tidak disadari yang menghasilkan affacement dan dilatasi cerviks yang menghasilkan persalinan.Persalinan adalah suatu proses pengeluaran bayi, plasenta dan membrane dari uterus melalui vagina ke dunia luar yang menghasilkan persalinan.

Persalinan patologis disebut juga dengan dystocia berasal dari bahasa Yunani. Dys atau dus artinya jelek atau buruk, tocos artinya persalinan. Persalinan patologis adalah persalinan yang membawa satu akibat buruk bagi ibu dan anak. (Departemen of Gynekologi, 1999). Sementara persalinan normal menurut WHO adalah persalinan yang dimulai secara spontan, beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap selama proses persalinan. Bayi dilahirkan secara spontan dalam persentase belakang kepala usia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu, setelah persalinan ibu dan bayi dalam kondisi sehat. (Depkes, 2002).

14

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan Bidan adalah salah satu profesi yang berperan aktif dalam menekan angka kematian ibu dan bayi. Bidan selalu memberikan asuhan yang bermanfaat bagi ibu , guna keselamatan ibu dan janinnya. Bidan memberikan berbagai penyuluhan agar ibu selalu mengontrol segala asupan nutrisi dan gizi untuk ibu dan janinnya, selalu menyarankan ibu untuk melakukan chek up dan USG untuk melihat kondisi janinnya. Sebagian besar AKI dan AKB disebabkan karena adanya perdarahan, yang menyebabkan kondisi ibu anemi dan tidak sanggup lagi untuk melakukan proses persalinan. Oleh sebab itu, peran bidan sangat berpengaruh terhadap upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Upaya menurunkan kematian ibu merupakan masalah kompleks yang melibatkan berbagai aspek dan disiplin ilmu termasuk faktor sosial ekonomi dan budaya masyarakat sebagai mata rantai yang berkaitan. Sehingga, selain komitmen politik pemerintah sebagai pengambil keputusan yang akan menentukan arah dan prioritas pelayanan kesehatan, juga diperlukan partisipasi masing-masing individu dalam upaya pencegahan.

3.2 Saran

Tidak ada intervensi tunggal yang mampu menyelesaikan masalah kematian ibu. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk mengatasi hal ini melalui Strategi Menyelamatkan Persalinan Sehat, meskipun dalam pelaksanaannya masih menemui beberapa kendala, perlu untuk didukung. Kesehatan ibu adalah hal yang vital bagi keberlangsungan hidup manusia dan hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memelihara dan meningkat.

15

DAFTAR PUSTAKA

Uliyah, Musrifatul. 2012. Keterampilan Dasar Kebidanan 1. Surabaya: Health Books Sumiaty. 2011. Konsep Kebidanan. Jakarta: In Media http://bataviase.co.id/content/angka-kematian-bayi-di-indonesia-tinggi

16