Anda di halaman 1dari 4

SISTEM PERLINDUNGAN TANAMAN Ade Intan Christian 12/334973/PN/12968 Agricultural Extension and Communication Universitas Gadjah Mada

A. Dinamika Populasi dan Kehilangan Hasil Dinamika populasi adalah jumlah fluktuasi dalam kelompok individu yang keberadaannya dibatasi oleh tempat dan waktu. Pertumbuhan populasi hama diatur oleh faktor internal dan faktor eksternal yang berupa faktor biotik dan abiotik. Dinamika populasi dipengaruhi oleh interaksi antara organisme dengan lingkungannya. Kepadatan populasi dipengaruhi oleh faktor fisik berupa tanah, temperatur, kelembapan, intensitas cahaya dan arah angin. Faktor biologi juga berpengaruh terhadap populasi hama, misalnya kualitas makanan. Dinamika populasi di dalam ekosistem alami berbeda dengan dinamika populasi di dalam agroekosistem. Pada ekosistem alami tingkat densitasnya dibawah equilibrium position dan cenderung tetap. Sedangkan di dalam agroekosistem tingkat densitasnya senantiasa mengalami fluktuasi hingga mencapai economy threshold bahkan mendekati economy injury level. Serangan hama pada tanaman yang dibudidayakan dan biaya pengendalian hama akan menyebabkan penurunan pendapatan ekonomi atau kehilangan hasil produksi pertanian. Kehilangan hasil dapat terjadi pada waktu musim tanam, panen, dan pasca panen. Kehilangan hasil dapat dilihat melalui hubungan fungsional antara populasi hama atau intensitas serangan dengan hasil. Kehilangan hasil merupakan selisih hasil kali luas serangan dengan produksi tanaman sehat dikurangi dengan hasil luas serangan dikalikan dengan produksi tanaman terserang. B. Pest Management Adanya dinamika populasi hama maka diperlukan pest management.

Pengendalian hama terpadu merupakan upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang disebabkan oleh serangan organisme pengganggu tumbuhan dengan menggunakan satu atau lebih teknik pengendalian. Pengendalian hama terpadu dilakukan dengan teknik pengendalian organisme pengganggu tanaman yang berwawasan

lingkungan dan ekonomi. Pengendalalian dapat dilaksanakan dengan metode fisik, mekanik, kultur teknis, pengendalian hayati, varietas tahan hama, peraturan, dan kimiawi.

C. Ecosystem Services Ecosystem services adalah kontribusi secara langsung dan tidak langsung yang diberikan oleh ekosistem untuk kesejahteraan manusia. Kontribusi langsung atau tidak langsung bermanfaat bagi kelangsungan hidup dan kualitas hidup. Ecosystem services dibagi menjadi empat kategori utama : 1. Provisioning Services adalah kelompok produk yang diperoleh dari ekosistem seperti makanan, air bersih, kayu, serat, sumber daya genetik, dan obat-obatan. 2. Regulating Services adalah keuntungan yang diperoleh dari pengaturan proses ekosistem seperti pengaturan iklim, regulasi bahaya alam, pemurnian air dan pengelolaan limbah, penyerbukan, dan pengendalian hama. 3. Cultural Services merupakan manfaat non-material yang diperoleh manusia dari ekosistem seperti pengayaan spiritual, pengembangan intelektual, rekreasi dan nilai-nilai estetika. 4. Supporting Services bentuknya proses alami yang mendasari, seperti fotosintesis, siklus nutrisi, penciptaan tanah dan siklus air. Proses ini memungkinkan bumi untuk mempertahankan bentuk kehidupan dasar, apalagi seluruh ekosistem dan masyarakat. Tanpa jasa pendukung maka jasa lainnya tidak ada. D. Sustainability

Pembangunan pertanian secara berkelanjutan merupakan upaya pengelolaan konservasi sumber daya alam, teknologi, dan kelembagaan serta pemanfaatan komponen keanekaragaman hayati sedemikian rupa dapat menjamin pemenuhan kebutuhan manusia bagi generasi sekarang dan generasi selanjutnya. Pertanian berkelanjutan diharapkan mampu mengurangi kerusakan lahan sehingga mampu meningkatkan produksi pangan bermutu, melestarikan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang ada. Contoh aplikasi dalam pengelolaan hama adalah menggunakan musuh alami: predator, parasitoid, dan pathogen. E. International Trade Perlindungan tanaman dalam era perdagangan internasional menjadi satu kesatuan dengan kesehatan tumbuhan atau lebih sering di sebut sebagai Sanitary and Phytosanitary (SPS) yang ditetapkan oleh Word Trade Organization. SPS mengatur tentang hak dan kewajiban suatu negara melindungi kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan dari cemaran; kontaminasi hama, penyakit, organisme pembawa dan penyebab penyakit, cemaran, zat aditif, racun atau organisme penyakit yang terbawa pada makanan, minuman, hewan, tumbuhan dan produk-produk yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Ketentuan SPS-WTO yang mengikat dalam perdagangan global produk tanaman, maka setiap negara diminta untuk memenuhi tuntutan yang dipersyaratkan oleh pasar internasional. Sistem pengamanan penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Salah satu upaya ntuk mencegah pemasukan dan penyebaran organisme penggangu tanaman ke suatu negara atau daerah akibat efek perdagangan maka dibentuk karantina tumbuhan. Berbagai perjanjian bilateral, multilteral, konvensi dan kerjasama regional dilakukan guna mencegah penyebaran jenis OPT yang selama ini dianggap potensial merugikan tanaman pertanian atau tanaman lainnya. F. Consumer Behaviour Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen dipengaruhi oleh faktor sosial, personal, psikologi, dan kebudayaan. Perilaku konsumen dalam sistem perlindungan tanaman berkaitan dengan kebutuhan pestisida. Import kebutuhan pestisida saat ini lebih tinggi dibandingkan dengan produksi beras nasional.

Sehingga dengan fakta tersebut diketahui pestisida sangat diperlukan oleh konsumen dalam proses produksi pertanian.