Anda di halaman 1dari 11

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1. 2. 3. Latar belakang Rumusan masalah Tujuan makalah

..3 .................................................................2

..4 ..5 ..5

BAB II PEMBAHASAN 1. 2. 3. Pengertian Wakaf Sertifikasi Tanah Wakaf Contoh Kasus ....6 ..........8 ..10

BAB III PENUTUP 1. 2. Kesimpulan Saran ..11 11 12

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang maha Esa karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang landreform. Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.

Jakarta, Juni 2013

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN LATAR BELAKANG MASALAH

Hubungan manusia dengan tanah adalah merupakan hubungan yang bersifat abadi, baik manusia sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Selamanya tanah selalu dibutuhkan dalam kehidupannya, misalnya untuk tempat tinggal, lahan pertanian, tempat peribadatan, tenpat pendidikan, dan sebagainya sehingga segala sesuatu yang menyangkut tanah akan selalu mendapat perhatian.

Bagi sebagian besar rakyat Indonesia, tanah menempati kedudukan penting dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih lagi bagi rakyat pedesaan yang pekerjaan pokoknya adalah bertani, berkebun, atau berladang, tanah merupakan tempat bergantung hidup mereka.

Sebagai warga negara Indonesia yang baik, seseorang dituntut untuk melakukan sesuatu menurut ketentuan hukum yang berlaku. Demikian juga dengan urusan kekayaan atau kepemilikan lainnya seperti tanah harus dilakukan suatu pencatatan agar kelak dikemudian hari tidak menimbulkan suatu sengketa. Sebab, masalah tanah merupakan hal yang krusial dan sering dapat menimbulkan potensi sengketa yang berkepanjangan.

Pendaftaran tanah merupakan salah satu usaha dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dengan diselenggarakannya pendaftaran tanah, maka pihak-pihak yang bersangkutan dengan mudah dapat mengetahui status atau kedudukan hukum pada tanah tertentu yang dihadapinya, letak, luas, dan batas-batasnya, siapa yang mempunyai dan beban-beban apa yang ada diatasnya.

Di Indonesia masalah pertanahan memperoleh kedudukan yang penting. Gagasan luhur penggunaan dan pemanfaatan tanah untuk kesejahteraan masyarakat tertuang dalam pasal 33 ayat (3) UUD45 dan amandemen, yang berbunyi :

Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Pengaturan tentang pertanahan tersebut selanjutnya diatur dalam undangundangan tersendiri yaitu Undang-Undang No.5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok
3

Agraria yang lebih dikenal dengan Undang-Undang Pokok Agraria pasal 49, serta sejumlah peraturan lain sesudahnya, yaitu Undang-undang nomor 41 tahun 2004 tentang Wakaf. Untuk melengkapi Undang-undang tersebut, pemerintah juga telah menetapkan Peraturan Pemerintah nomor 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-undang nomor 41 tahun 2004.

TUJUAN MAKALAH

Tujuan penulis dalam pembuatan makalah yang bertemakan hukum tentang sertifikasi tanah wakaf antara lain :

a. Untuk mengetahui bagaimana tata cara pelaksanaan perwakafan tanah hak milik. b. Untuk mengetahui syarat-syarat wakaf dan macam-macam harta yang diwakafkan. c. Untuk mengetahui bagaimana kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pesertifikatan tanah wakaf setelah berlakunya UU No. 41Tahun 2004.

RUMUSAN MASALAH

Dalam makalah ini terdapat beberapa permasalahan mengenai hukum sertifikasi tanah wakaf, antara lain :

a. Apa yang dimaksud dengan wakaf dan syarat apa saja yang diperlukan agar menjadi seorang wakif? b. Bagaimana tata cara pelaksanaan perwakafan tanah hak milik? c. Bagaimana sertifikasi tanah wakaf? d. Bagaimana tata cara pengaturan tanah wakaf?

BAB II PEMBAHASAN

Ditinjau dari segi bahasa wakaf berarti menahan. Sedangkan menurut istilah syarak, ialah menahan sesuatu benda yang kekal zatnya, untuk diambil manfaatnya untuk kebaikan dan kemajuan Islam. Menahan suatu benda yang kekal zatnya, artinya tidak dijual dan tidak diberikan serta tidak pula diwariskan, tetapi hanya disedekahkan untuk diambil manfaatnya saja.

PENGERTIAN WAKAF

Pengertian wakaf menurut peraturan pemerintah no. 28 tahun 1977 adalah perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang memisahkan sebagian harta kekayaannya yang berupa tanah milik dan melembagakannya untuk selama-lamanya. Bagi kepentingan peribadatan atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran agama Islam.

Dari definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa wakaf itu termasuk salah satu diantara macam pemberian, akan tetapi hanya boleh diambil manfaatnya, dan bendanya harus tetap utuh. Oleh karena itu, harta yang layak untuk diwakafkan adalah harta yang tidak habis dipakai dan umumnya tidak dapat dipindahkan, mislanya tanah, bangunan dan sejenisnya. Utamanya untuk kepentingan umum, misalnya untuk masjid, mushala, pondok pesantren, panti asuhan, jalan umum, dan sebagainya.

Bagi seorang calon wakif atau ahli waris wakif, ada beberapa hal yang harus dilakukan sebelum melaksanakan ikrar wakaf atau mendaftarkan wakaf tanah yaitu mengadakan musyawarah dengan segenap anggota keluarga wakif atau ahli waris wakif, juga dengan nadhir yang ditunjuk dengan lembaga yang menerima manfaar harta wakaf (mauqufalaih). Dalam hal ini dianjurkan melibatkan perangkat desa yang memahami dan dapat membantu proses selanjutnya, sebelum diajukan ke Pejabat Pembuat Akta Tanah Ikrar Wakaf (PPAIW).

Kemudian Calon wakif dari pihak yang hendak mewakafkan tanah miliknya harus datang dihadapan Pejabat Pembantu Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) untuk melaksanakan ikrar wakaf. Untuk mewakafkan tanah miliknya, calon wakif harus mengikrarkan secara lisan, jelas dan tegas kepada nadir yang telah disyahkan dihadapan PPAIW yang mewilayahi tanah wakaf. Pengikraran tersebut harus dihadiri saksi-saksi dan menuangkannya dalam bentuk tertulis atau surat. Calon wakif yang tidak dapat datang di hadapan PPAIW membuat ikrar
5

wakaf secara tertulis dengan persetujuan Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten atau Kotamadya yang mewilayahi tanah wakaf. Ikrar ini dibacakan kepada nadir dihadapan PPAIW yang mewilayahi tanah wakaf serta diketahui saksi. Tanah yang diwakafkan baik sebagian atau seluruhnya harus merupakan tanah milik. Tanah yang diwakafkan harus bebas dari bahan ikatan, jaminan, sitaan atau sengketa. Saksi ikrar wakaf sekurang-kurangnya dua orang yang telah dewasa, dan sehat akalnya. Segera setelah ikrar wakaf, PPAIW membuat Akta Ikrar Wakaf Tanah.

Untuk mengurus dan mengelola tanah wakaf, keluarga wakif atau ahli waris wakif membentuk dan menunjuk nadhir. Dimana nadhir dituntut untuk melaksanakan tugasnya secara profesional dan transparan. Untuk itu pemerintah membuat peraturan tentang penunjukan nadhir dengan maksud agar dapat meningkatkan manfaat hanrta benda wakaf dan dapat dipertanggung-jawabkan kepada masyarakat. Nadhir mempunyai hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan.

1. Hak Nadir Nadir berhak menerima penghasilan dari hasil tanah wakaf yang biasanya ditentukan oleh Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten atau Kotamadya. Dengan ketentuan tidak melebihi 10 % dari hasil bersih tanah wakaf. Nadir dalam menunaikan tugasnya dapat menggunakan fasilitas yang jenis dan jumlahnya ditetapkan oleh Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten atau Kotamadya.

2. Kewajiban Nadir Kewajiban nadir adalah mengurus dan mengawasi harta kekayaan wakaf dan hasilnya, antara lain: a) menyimpan dengan baik lembar kedua salinan Akta Ikrar Wakaf b) memelihara dan memanfaatkan tanah wakaf serta berusaha meningkatkan hasilnya c) menggunakan hasil wakaf sesuai dengan ikrar wakafnya.

Wakaf akan ditangguhkan kepada nadhir agar tujuan wakaf dapat tercapai dengan baik, apabila faktor-faktor pendukungnya ada dan berjalan. Misalnya nadir atau pemelihara barang wakaf. Wakaf yang diserahkan kepada badan hukum biasanya tidak mengalami kesulitan. Karena mekanisme kerja, susunan personalia, dan program kerja telah disiapkan secara matang oleh yayasan penanggung jawabnya.

Pengaturan wakaf ini sudah tentu berbeda-beda antara masing-masing orang yang mewakafkannya meskipun tujuan utamanya sama, yaitu demi kemaslahatan umum. Penyerahan wakaf secara tertulis diatas materai atau dengan akta notaris adalah cara yang terbaik untuk pengaturan wakaf. Dengan cara demikian, kemungkinan penyimpangan dan penyelewengan dari tujuan wakaf semula mudah dikontrol dan diselesaikan. Apalagi jika wakaf itu diterima dan dikelola oleh yayasan-yayasan yang telah bonafide dan profesional, kemungkinan penyelewengan akan lebih kecil.

TATA CARA SERTIFIKASI TANAH WAKAF

A. 1. a. b. c. d. e.

Tanah yang sudah bersertifikat Persyaratan pembuatan Akta Ikrar Wakaf Sertifikat Hak atas Tanah dari BPN; Surat keterangan dari desa diketahui camat bahwa tanah tidak dalam sengketa; Surat keterangan pendaftaran tanah (SKPT) dari BPN; Wakif (orang yang berwakaf) menghadap langsung dengan ke PPAIW; Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf meneliti nadzir, kemudian menerbitkan surat pengesahan nadzir

f. g.

Wakif mengikrarkan wakaf di hadapan PPAIW, nadzir, dan dua orang saksi; PPAIW menerbitkan Akta Ikrar Wakaf rangkap tiga.

2. a. b. c. d. e.

Prosedur Pensertifikatan Tanah Wakaf di BPN, melampirkan: Sertifikat tanah; Ikrar Wakaf; Akta Ikrar Wakaf; Surat permohonan pensertifikatan yang ditujukan ke BPN; Sertifikat Wakaf diterbitkan oleh BPN.

B. 1. a.

Tanah yang belum bersertifikat Persyaratan Pembuatan Akta Ikrar Wakaf Surat-surat kepemilikan tanah;
7

b. c. d. e. f. g.

Surat keterangan dari desa diketahui camat bahwa tanah tidak dalam sengketa; Surat keterangan kepala BPN setempat bahwa tanah itu belum mempunyai sertifikat; Wakif (orang yang berwakaf) menghadap langsung dengan ke PPAIW; PPAIW meneliti nadzir, kemudian menerbitkan surat pengesahan nadzir Wakif mengikrarkan wakaf di hadapan PPAIW, nadzir, dan dua orang saksi; PPAIW menerbitkan Akta Ikrar Wakaf rangkap tiga.

2. a. b. c. d. e.

Prosedur Pensertifikatan Tanah Wakaf di BPN, melampirkan: Surat kepemilikan tanah; Ikrar Wakaf; Akta Ikrar Wakaf; Surat Pengesahan Nadzir; Surat Permohonan pensertifikatan yang ditujukan ke BPN;

f. Hak milik tanah akan dikonversi langsung ke atas nama wakif bila memenuhi syarat; tetapi g. Hak milik tanah akan melalui prosedur pengakuan hak atas tanah wakif terlebih dahulu apabila persyaratannya tidak memenuhi untuk dikonversi secara langsung. h. Kemudian berdasarkan akta ikrar wakaf, hak milik atas tanah dibalik atas nama nadzir;

CONTOH KASUS

Polres Purwakarta Usut Kasus Dugaan Penjualan Tanah Wakaf


Minggu, 27/01/2013 - 21:15 PURWAKARTA, (PRLM).- Polres Purwakarta masih terus melakukan penyelidikan atas dugaan pelaporan penjualan tanah wakaf pembangunan tempat pendidikan agama oleh ketua panitia lembaga tersebut. Pembangunan tempat pendidikan umat Islam tersebut sebagai wujud penolakan terhadap rencana pembangunan sarana pendidikan oleh umat lain di Desa Citeko, Kecamatan Plered, Purwakarta.

Kapolres Purwakarta Ajun Komisaris Besar Slamet Hariyadi melalui Kasatreskrim Ajun Komisaris Nanang Sukmajaya kepada "PRLM", Mingggu (27/1/13) kemarin membenarkan jajaran kepolisian masih menyelidiki laporan atas dugaan penjualan tanah wakaf di Desa Citeko, Kecamatan Plered, Purwakarta. Menurutnya, kasus dugaaan penjualan tanah itu sebelumnya dilaporkan oleh pelaporan berinisial H.A ke Polda Jabar, beberapa waktu yang lalu.

"Setelah menerima laporan dari masyarakat tersebut selanjutkan berkas penanganan kasus tersebut oleh Polda Jabar dikembalikan ke Polres Purwakarta," kata Nanang.

Dua kepala desa yaitu Hariri Kepala Desa Citalang, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta dan Andriani Kepala Desa Citeko, Kecamatan Plered ketika ditemui di Mapolres Purwakarta, Minggu (27/1/13) membenarkan kedatangannya ke Mapolres Purwakarta untuk diperiksa sebagai saksi kasus dugaan penjualan tanah wakaf di Desa Citeko, Kecamatan Plered, Purwakarta.

Dikatakan Hariri, dirinya diperiksa sebagai saksi karena mengetahui pembuatan surat pernyataan penjualan tanah wakaf oleh ketua panitia pembangunan Islamic Centre berinisial H. AS. Menurutnya, tanah wakaf tersebut merupakan tanah milik H. Mansur yang tinggal di Desa Citalang, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta.

"Akan tetapi dalam perjalanannya, oleh H. AS tanah wakaf untuk pembangunan sarana pendidikan umat Islam dijual kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta senilai Rp 450 juta," kata Hariri. Dikatakannya, pemilik tanah awalnya mempercayakan mewakafkan tanahnya seluas 5.297 meter persegi kepada ketua panitia yang merupakan tokoh di Kecamatan Plered.

"Eh tahu-tahunya pemberi tanah wakaf mendapat informasi kalau tanah yang diwakafkannya itu telah dijual," ujar Hariri. (A-86/A-108)***

JAWA BARAT

BAB III PENUTUP

A). KESIMPULAN

Dari makalah yang di sampaikan oleh penulis dapat disimpulkan bahwa wakaf adalah perbuatan hukum wakif (pewakaf) untuk memisahkan dan atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk kemaslahatan umum. Wakaf bertujuan untuk kepentingan ibadah atau kesejahteraan umum serta sertifikasi tanah wakaf sangat diperlukan demi tertib administrasi dan kepastian hak bila terjadi sengketa atau masalah hukum.

B). SARAN

Penulis meyarankan agar calon wakif atau calon ahli waris wakif mengetahui hal-hal apa saja yang diperlukan dalam melakukan perwakafan, seperti syarat-syarat yang harus di penuhi calon wakif, rukun wakif, dan tata cara perwakafan tanah hak milik agar tidak terjadi sengketa atau permasalahan hukum dan mendapat kepastian hukum serta mengikuti prosedur wakaf tanah yang terdapat pada Peraturan Pemerintah No 42 Tahun 2006 tentang pelaksanaan UU no 41 tahun 2004.

10

DAFTAR PUSTAKA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004


http://m.pikiran-rakyat.com/node/220592 http://kuaturi.blogspot.com/2013/02/tata-cara-sertifikasi-tanah-wakaf.html

Amin, Nasichun. 2010. Hukum Wakaf dan Sertifikasi Tanah Wakaf. Gresik : Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia (DMI).

11