Anda di halaman 1dari 6

BAB III ANALISA PROGRAM

3.1. Manajemen Terpadu Balita Sakit Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan terpadu dalam tatalaksana balita sakit. MTBS bukan merupakan program kesehatan,tetapi suatu standar pelayanan dan tatalaksana balita sakit secara terpadu di fasilitas kesehatan tingkat dasar. WHO memperkenalkan konsep pendekatan MTBS dimana merupakan strategi upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan bayi dan anak balita di negara-negara berkembang. Ada 3 komponen dalam penerapan strategi MTBS yaitu:

1. Komponen I : meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit (dokter, perawat, bidan, petugas kesehatan) 2. Komponen II : memperbaiki sistem kesehatan agar penanganan penyakit pada balita lebih efektif 3. Komponen III : Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan pemberdayaan keluarga dan masyarakat, yang dikenal sebagai Manajemen Terpadu Balita Sakit berbasis masyarakat).

Penyakit-penyakit terbanyak pada balita yang dapat di tata laksana dengan MTBS adalah penyakit yang menjadi penyebab utama kematian, antara lain pneumonia, diare, malaria, campak dan kondisi yang diperberat oleh masalah gizi (malnutrisi dan anemia). Langkah pendekatan pada MTBS adalah dengan menggunakan algoritma sederhana yang digunakan oleh perawat dan bidan untuk mengatasi masalah kesakitan pada Balita. Bank Dunia, 1993 melaporkan bahwa MTBS merupakan intervensi yang cost effective untuk mengatasi masalah kematian balita yang disebabkan oleh Infeksi Pernapasan Akut (ISPA), diare, campak malaria, kurang gizi, yang sering merupakan kombinasi dari keadaan tersebut.

Pendekatan MTBS di Indonesia pada awalnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan kesehatan dasar (Puskesmas dan jaringannya termasuk Pustu, Polindes, Poskesdes, dll). MTBS mengkombinasikan perbaikan tatalaksana kasus pada balita sakit (kuratif) dengan aspek gizi, imunisasi dan konseling ( promotif dan preventif)

3.2.Tujuan Untuk pelayanan kesehatan secara menyeluruh kepada seluruh masyarakat di wilayah kerjanya, Puskesmas Sekip melaksanakan fungsinya dengan menjalankan beberapa program yang salah satunya adalah program MTBS.

3.3. Hasil Pengkajian 3.3.1 Angka Penyakit yang di derita Balita di Wilayah Kerja Puskemas Sekip Persentase penyakit yang diderita balita di wilayah kerja Puskesmas Sekip Palembang adalah sebagai berikut : Tabel 3.1 Distribusi Penyakit yang diderita Balita di wilayah kerja Puskesmas Sekip Palembang No 1 2 3 4 5 6 7 Penyakit Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013

Berdasarkan data yang didapat di Puskesmas Swakelola Sekip pada program MTBS angka kesakitan anak balita paling banyak yang menderita penyakit ISPA dan angka kesakitan ISPA terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2010 angka kesakitan anak balita yang menderita penyakit ISPA sebanyak 11.226 orang, pada tahun 2011 angka kesakitan anak balita yang menderita penyakit ISPA mencapai 11.426 orang, dan pada tahun 2012 angka kesakitan ISPA mencapai 10.220 orang,

pada tahun 2013 angka kesakitan ISPA pada anak balita mencapai 12.997 orang. Itu artinya penderita ISPA di Puskesmas Swakelola Sekip Palembang setiap tahunnya mengalami peningkatan.

3.1.2 Perilaku Ibu Dalam pencegahan ISPA

Perilaku ibu dikelompokkan menjadi 2 kategori, yaitu baik dan tidak baik. Perilaku baik jika apabila responden mengetahui cara mencegah dengan menjauhkan anak dari penderita batuk, sedangkan perilaku tidak baik apabila tdak mengetahui cara mencegah ISPA dengan menjauhkan anak dari penderita batuk. Persentase perilaku ibu dalam pencegahan ISPA pada balita di Puskesmas Sekip Palembang Tahun 2014 adalah sebagai berikut :

Tabel 3.2 Distribusi Frekuensi Perilaku Ibu Dalam Pencegahan ISPA Pada balita di Puskesmas Sekip Palembang Tahun 2014. No 1 2 Perilaku Ibu Baik Tidak Baik Jumlah Jumlah 8 2 10 Persentase (%) 80 20 100

Dari data diatas dapat dilihat bahwa ibu dengan perilaku yang baik berjumlah 8 ibu (80 %) lebih sedikit dibandingkan dengan responden dengan perilaku yang tidak baik berjumlah 2 ibu (20%).

3.1.3. Pengetahuan Ibu dalam pencegahan ISPA

Tingkat pengetahuan ibu dikelompokkan menjadi 2 kategori, yaitu tinggi dan rendah. Pengetahuan tinggi apabila ibu mengetahui tanda dan gejala ISPA, sedangkan pengetahuan rendah apabila ibu kurang mengetahui tanda dan gejala ISPA. Persentase pengetahuan ibu dalam pencegahan ISPA pada balita di Puskesmas Sekip Palembang adalah sebagai berikut :

Tabel 3.3 Distribusi Frekuensi Pengetahuan di Puskesmas Sekip Palembang tahun 2014. No 1 2 Pengetahuan Ibu Tinggi Rendah Jumlah Jumlah 10 0 10 Persentase(%) 100 0 100

Dari data diatas dapat dilihat bahwa responden dengan pengetahuan yang tinggi berjumlah 10 ibu (100%) sedangakan dengan pengetahuan rendah tidak ada.

3.1.4 Kondisi Lingkungan Rumah dalam pencegahan ISPA

Berikut hasil pengkajian kondisi lingkungan rumah pada ibu dalam pencegahan ISPA pada balita di Puskesmas Sekip Palembang adalah sebagai berikut :

Tabel 3.4 Kondisi Lingkungan Rumah No 1 Kondisi Lingkungan Rumah Merokok dalam Rumah - Ya - Tidak Jumlah Penggunaan Obat nyamuk bakar - Ya - Tidak Jumlah Frekuensi 9 1 10 3 7 10 Persentase (%) 90 10 100 30 70 100

Dari data diatas dapat dilihat bahwa kondisi lingkungan rumah dalam pencegahan ISPA anggota keluarga ada yang merokok dalam rumah 9 orang (90%) dan yang tidak merokok dalam rumah hanya 1 orang (10%), sedangkan penggunaan obat nyamuk bakar yang masih menggunakan ada 3 orang (30%) dan yang tidak menggunakan obat nyamuk bakar 7 orsng (70%).