Anda di halaman 1dari 9

HUBUNGAN IKLIM DENGAN PETERNAKAN Faktor lingkungan yang langsung berpengaruh pada kehidupan ternak adalah iklim.

Iklim makro maupun iklim mikro dapat berpengaruh langsung terhadap penampilan produktivitas ternak. Pengaruh tidak langsung adalah ketersediaan hijauan pakan ternak yang cepat tua dan menyebabkan tingginya serat kasar, sedangkan penganah langsungnya adalah terjadinya stress panas atau dingin, sehingga ternak menderita stress atau ternak merasa tidak nyaman yang berakibat terhadap penurunan produksi dan reproduksi ternak. Untuk itulah perlu diketahui pengaruh iklim terhadap kondisi fisiologis ternak, sehingga dapat diupayakan pengendalian iklim, khususnya iklim mikro agar penampilan produktivitas ternak dapat ditingkatkan. Iklim mikro merupakan interaksi berbagai faktor iklim di suatu lokasi yang spesifik atau keaadaan iklim di sekitar ternak dimana ternak berada. Pada dasarnya faktor utama yang mempengaruhi tingkat produktivitas ternak atau perfomance adalah lingkungan dan genetik. Sehingga lingkungan yang berhubungan langsung dengan perfomance pada ternak merupakan faktor-faktor terpenting dalam penetuan karakter atau sifat dari ternak. Faktor lain yang harus diteliti dan diperhitungkan pada lingkungan usaha peternakan yaitu Faktor lingkungan makro faktor ini relatif banyak berorientasi kepada alam. Termasuk ke dalam kelompok lingkungan makro: Faktor Klimatik atau Iklim: Curah hujan Suhu ternak hanya dapat hidup pada selang suhu tertentu (heat tolerance) Kelembababn udara memengaruhi kesehatan ternak (terlalu tinggi kelembaban udara berkaibat pada gangguan saluran pernapasan) Radiasi sinar matahari sangat diperlukan untuk pertumbuhan Kecepatan angin gerak udara yang normal sangat baik untuk kesegaran lingkungan. Iklim merupakan faktor penentu ciri khas dan pola hidup dari suatu ternak. Misalnya, ternak pada daerah tropik tidak sama dengan ternak yang berada di daerah subtropis. Namun, pada saat ini telah mampu diatasi dengan penyesuaian pegaturan suhu tubuh secara langsung

seperti yang dilakukan oleh peternak di israel yang menggunakan Air Condition (AC) untuk beternak. Iklim sendiri merupakan bagian terpenting dari penentuan kerja status faali dari ternak. Pengaruh langsung iklim terhadap ternak adalah pada produktivitasnya. Penentuan status faali dari ternak sangat penting untuk diketahui karena dengan mengetahui status faali pada ternak, maka peternak dapat menentukan dan menemukan pengaruh lingkungan pada ternak. Karena pada dasarnya dengan mengetahui temperatur lingkungan, kelembaban, temperatur kulit, suhu tubuh, suhu rektal, respirasi dan denyut jantung, peternak akan mengetahui cara dan pengaruh buruk faktor-faktor iklim terhadap ternak serta untuk mengetahui pada termperatur dan kelembaban berapa ternak memilki produktivitas yang baik dan efisien, maka perlu adanya pengelolaan yang lebih lanjut dan intensif. Dalam usaha meningkatkan produktivitas ternak maka salah satu upaya lain selain iklim adalah perbaikan mutu makanan pakan ternak. Kelembaban udara dari suatu lingkungan kehidupan ternak merupakan salah satu unsur iklim. Dimana kelembaban lingkungan mempengaruhi kesehatan ternak. Kelembaban yang terlalu tinggi akan mempertinggi kejadian penyakit saluran pernapasan yang pada gilirannya memakai biaya perawatan kesehatan yang tinggi pada usaha produksi ternak. Kelembaban udara tinggi disertai suhu udara yang tinggi menyebabkan meningkatnya frekuensi respirasi. Karena faktor lingkungan juga berpengaruh terhadap tingkah laku ternak. Bila suhu lingkungan berada diatas atau dibawah comfort zone untuk mempertahankan suhu tubuhnya ternak mengurangi atau meningkatkan laju metabolisme. Produktivitas ternak dicerminkan oleh penampilannya ( performance ), sedangkan penampilan ternak merupakan manifestasi pengaruh genetik dan lingkungan ternak secara bersama. Penampilan ternak dalam setiap waktu adalah perpaduan dari sifat genetik dan lingkungan yang diterimanya. Ternak dengan sifat genetik baik tidak akan mengekspresikan potensi genetiknya tanpa didukung oleh lingkungan yang menunjang. Bahkan telah diketahui bahwa dalam membentuk penampilan, lingkungan berpengaruh lebih besar dari pada sifat genetik ternak. Iklim yang merupakan salah satu faktor lingkungan, selain berpengaruh langsung terhadap ternak juga berpengaruh tidak langsung melalui

pengaruhnya terhadap faktor lingkungan yang lain. Selain itu berbeda dengan faktor lingkungan yang lain seperti pakan dan kesehatan, iklim tidak dapat diatur atau dikuasai sepenuhnya oleh manusia.Untuk memperoleh produktivitas ternak yang efisien, manusia harus menyesuaikan dengan iklim setempat. Iklim yang cocok untuk daerah peternakan adalah pada klimat semi-arid. Daerah dengan klimat ini ditandai dengan kondisi musim yang ekstrim, dengan curah hujan rendah secara relatif dan musim kering yang panjang. Fluktuasi temperatur di awal dan musim san gat besar, lengas udara sepanjang tahun kebanyakan sangat rendah dan terdapat intensitas radiasi solar yang tinggi karena atmosfir yang kering dan lagit yang cerah. Meskipun curah hujan keseluruhan berkisar antara 254 sampai 508 mm, dapat terjadi lebat bila turun hujan tetapi kejadiannya sangat jarang.

A. Pengaruh Secara Langsung 1. Perilaku merumput Lamanya waktu merumput saat siang hari sangat dipengaruhi oleh iklim, bangsa, kualitas, tipe mamalia, dan pastur yang tersedia (padang rumput). Jika ternak digembalakan pada daerah bukan asalnya, maka masa merumput akan berkurang . 21. Pengunaan makanan dan pengambilan makanan Jika suatu tempat memiliki temperatur yang tinggi maka akan mempengaruhi pengambilan makanan pada ternak, semakin tinggi temperatur maka semakin sedikit makan karena akan lebih banyak minum. Jika temperatur lebih dari 40maka ternak akan berhenti memamah biak. 22. Air yang diminum (water intake ) Air sangat penting bagi ternak sebab air mempunyai peran yang penting dalam metabolisme ternak, selain itu air juga membantu ternak melepaskan panas

tubuhnya secara konduksi dan penguapan, keperluan air ini akan meningkat apabila temperatur naik. 43. Mempengaruhi efisiensi pengunaan makanan Ternak dapat mengalami heat stress apabila iklim suatu tempat panas, sehingga ternak tidak banyak melakukan gerak untuk menjaga suhu tubuhnya tetap stabil. 44. Hilangnya zat-zat makanan Semakin sering ternak berkeringat dan mengeluarkan air ludah maka akan semakin banyak zat makanan yang hilang. Ternak mamalia apabila mereka berkeringat maka mereka akan kehilangan air dan mineral dari dalam tubuhnya. 65. Pengaruh terhadap pertumbuhan Menurunnya nafsu makan pada ternak disebabkan temperatur yang sangat tinggi akibatnya feed intake ternak pun akan menurun dan juga mempengaruhinya lamanya merumput dan akhirnya juga mempengaruhi produktififtas dari ternak. 6. Pengaruh iklim terhadap produksi susu Sapi perah dapat menghasilkan susu 56 % pada daerah subtropics, berbeda dengan daerah tropis sapi perah lebih sedikit menghasilkan susu. Iklim juga sangat mempengaruhi kandungan susu, lemak, bahan kering. 87. Pengaruhi tingkah laku ternak Iklim dapat mengakibatkan ternak mengalami stress yang dapat dilihat dari tingkah laku ternak itu sendiri. Faktor internal dan eksternal merupakan faktor yang dapat menyebabkan strees pada ternak. Faktor Internal terdiri dari : penyakit ,vaksinasi ,penyapihan. Faktor Eksternal terdiri dari : cuaca ,makanan dan lingkungan B. Pengaruh Secara Tidak Langsung 11. Kualitas dan kuantitas makanan yang tersedia Seperti: makanan yang dimakan, air yang diminum, dan mempengaruhi kandungan gizi dari tanaman yang dimakan serta daya cerna yang rendah karena serat kasarnya sangat tinggi akan mempengaruhi daya produsi menjadi rendah 22. Adanya parasit dan penyakit Lingkungan dengan panas dan kelembaban yang tinggi merupakan tempat yang baik bagi jamur, parasit, nyamuk, lalat, dan penyakit lain. Pengaruh iklim secara tidak langsung terhadap parasit penyakit karena pada daerah tropis yang curah hujannya hanya cukup untuk tumbuhnya semak-semak. Dengan adanya semak-semak menyebabkan berkembangbiaknya nyamuk yang dapat mengakibatkan penyakit tidur dan dapat menyebabkan kematian yang mempengaruhi proses metabolisme ternak terserang. 33. Penyimpanan dan panangan hasil ternak Iklim tropis baik lembab/kering dapat merusak hasil ternak dan oleh sebab itu maka biaya prosessing dan penanganya bertambah Aklimatasi merupakan proses yang kompleks dimana seekor hewan menyesuaikan diri pada lingkungan dimana ternak tersebut hidup. Pada dasarnya semua hewan atau ternak yang berdarah panas disebut Hormoiotermis yaitu hewan atau ternak yang relatif berusaha mempertahankan suhu tubuhnya pada kisaran yang cocok agar terjadi aktifitas biologis yang optimum,

sedangkan untuk hewan atau ternak yang suhu tubuhnya tidak dipengaruhi lingkungan disebut Polikolitermis.

PENGARUH IKLIM TERHADAP TERNAK Kondisi Iklim di Indonesia Berdasarkan gambaran curah hujan, Mohr (1933) membagi daerah-daerah di Indonesia ke dalam 5 golongan, yaitu sebagai berikut : 1. Daerah basah, yakni daerah yang hampir setiap bulannya mempunyai curah hujan minimal 60 mm. 2. Daerah agak basah, yakni daerah dengan periode kering yang lemah dan terdapat satu bulan kering.

3. Daerah agak kering, yaitu daerah-daerah yang mengalami bulan-bulan kering sekitar 3-4 bulan setiap tahunnya. 4. Daerah kering, yakni daerah yang mengalami bulan-bulan kering yang lamanya mencapai 6 bulan. 5. Daerah sangat kering, yakni daerah dengan masa kekeringan yang panjang dan parah. Sementara Schmidt dan Ferguson (1951) membagi iklim di Indonesia menjadi 8 golongan, yaitu golongan A (sangat basah), golongan B (basah), golongan C (agak basah), golongan D (sedang), golongan E (agak kering), golongan F (kering), golongan G (sangat kering), dan golongan H (luar biasa kering). Pengaruh Iklim Terhadap Ternak Iklim sangat berpengaruh terhadap hewan ternak. Beberapa ahli mempelajari pengaruh iklim terhadap objek yang spesifik, di antaranya iklim berpengaruh terhadap bentuk tubuh (Hukum Bergmann), insulasi pelindung atau kulit dan bulu (Hukum Wilson), warna (Hukum Gloger), tubuh bagian dalam/internal (Hukum Claude Bernard), dan kesehatan dan produksi ternak. Temperatur lingkungan mempengaruhi penggunaan energi yang diperoleh ternak dari makanan, produksi panas, dan disipasi panas hewan ternak ke lingkungannya. Radiasi sinar matahari terhadap hewan ternak dapat menimbulkan dua bentuk gangguan umum, yaitu mutasi gen oleh radiasi kosmik dan kerusakan sel kulit oleh sinar ultra violet pada proses 'sunburn'. Hewan ternak mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim. Pengaruh langsung iklim terhadap ternak Penelitian pada pengaruh langsung iklim pada ternak telah didapatkan dari 2 sumber: pengamatan yang langsung ternak di lapangan dan pengamatan tehadap ternak yang dipelihara di laboratorium atau di kamar psychormetric. Kerugaian pengamatan langsung di lapangan adalah sukar menyelenggarakan percobaan lapanganyang cukup terkontrol, sedangkan kerugian pengamatan dengan memakai kamar psychrometric yaitu tidak banyak ternak yang dapat diselidiki pada waktu tertentu padahal sudah diketahui bahwa ada perbedaan-perbedaan yang besar antar spesies (Findlay, 1954), di antara bangsa stau tipe, bahkan di antara species (Worstell dan Brody, 1953) dan juga antara individu dalam satu breed (Payne dan Hancock, 1953) dan juga antara individu dalam satu breed (Payne dan Hancock, 1957) terhadap kemampuan mereka bertahan pada pengaruh langsung iklim. Semua ternak domestik termasuk hewan berdarah panas (homeotherm) yang berarti ternak berusaha mempertahankan suhu tubuhnya pada kisaran yang paling cocok untuk

terjadinya aktivitas biologis yang optimum. Kisaran yang normal pada jenis mamalia adalah 37-390 C, sedangkan pada burung adalah 40-400C dengan beberapa perkecualian. Untuk mempertahankan suhu tubuhnya terhadap suhu lingkungan yang sangat bervariasi, ternak domestik harus mempertahankan keseimbangan panas antara panas yang diproduksi oleh tubuh atau panas yang didapat dari lingkungannya dengan panas yang hilang ke lingkungannya. Perbaikan iklim Mikro kandang Upaya Perbaikan Iklim Mikro Kandang dan Respons Termoregulasi Kambing Jantan Peranakan Ettawa Melalui Penggunaan Berbagai Bahan Atap Masalah utama dari ternak yang dipelihara di daerah tropis basah, seperti di Indonesia, adalah tingginya radiasi matahari secara langsung sepanjang tahun, khususnya bagi ternak berproduksi tinggi, sehingga ternak dalam kondisi uncomfort karena beban panas yang berlebih. Respons dari masalah ini adalah ternak terpaksa meningkatkan aktivitas termoregulasi guna mengatasi beban panas yang dideritanya. Mekanisme fisiologis mengharuskan alokasi energi untuk kinerja produksi maupun reproduksi dipakai untuk mempertahankan keseimbangan panas tubuh. Dengan demikian, akan berdampak buruk yaitu penurunan produktivitas ternak. Salah satu care untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengendalikan panas yang diterima dan peningkatan panas yang terbuang oleh ternak, yaitu pemberian naungan atau atap dan pemilihan bahan atap yang lebih efektif dalam menciptakan kondisi iklim mikro kandang yang kondusif bagi ternak untuk berproduksi.Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh jenis bahan atap kandang terhadap kondisi iklim mikro kandang dan respons termoregulasi (frekuensi nafas,frekuensi denyut jantung, dan suhu rektal) kambing jantan peranakan ettawa (PE) di lingkungan panas alami. Sebanyak sembilan ekor kambing jantan PE gunakan dalam penelitian. Penelitian menggunakan ncangan acak lengkap (RAL) dengan tiga pelakuan jenis atap kandang, yaitu atap rumbia (PI), seng (P2), dan Genteng (P3), serta tiga ulangan pads masing-masing perlakuan. Data yang diperoleh dianalisis sidik ragam yang dilanjutkan uji berganda Duncan's pada taraf 5%. Selain itu uji beda dua rata-rata juga digunakan untuk mengetahui perbedaan respons peubah pada siang dan malam.

Hasil penilitian menunjukkan:(a) jenis atap tidak mempengaruhi suhu udara, kelembaban udara, dan radiasi matahari dalam kandang;(b) kandang beratap rumbia menyebabkan respons suhu rektal lebih rendah (P<0,05) dibandingkan dengan kambing yang ada di dalam kandang beratap genteng dan seng pada pengamatan siang, malam, dan rataan harian. Kandang beratap genteng menyebabkan suhu rektal ternak kambing lebih rendah (P<0,05)

dibandingkan ternak beratap seng pada pengamatan siang dan rataan harian, namun pada pengamatan malam hari tidak berbeda;

(c) kandang beratap rumbia menyebabkan respons frekuensi pernafasan lebih rendah (P<0,05)>0,05);(d) ketiga jenis atap kandang tidak menyebabkan perbedaan respons frekuensi denyut jantung (P>0,05) balk pada pengamatan slang hail, malam hail, maupun rataan harian;(e) ketiga jenis atap kandang tidak menyebabkan perbedaan respons pertambahan bobot badan harian (P>0,05) pada ternak k Klasifikasi Lingkungan Berdasarkan tumbuhan dan hewan yang hidup dominan di dalamnya, lingkungan hidup dapat digolongkan menjadi enam, yaitu kawasan tundra, hutan berdaun jarum, hutan bermusim, hutan tropik basah, padang rumput dan padang pasir. Secara umum, ada dua komponen lingkungan, yaitu abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah semua unsur lingkungan yang tidak bernyawa yang bersifat fisik, kimia, dan sosial, misalnya lahan, air, kandang dan nilai-nilai sosial budaya dan agama; sedangkan komponen biotik adalah semua unsur hayati yang ada dalam kehidupan, misalnya musim, tumbuh-tumbuhan, dan hewan lain. Pengaruh tidak langsung iklim terhadap ternak. Pengaruh iklim yang tidak langsung pada ternak terutama pada kuantitas dan kualitas makanan yang tersedia bagi ternak. Data dari hasil penelitian mengenai hal ini telah disimpulkan oleh payne (1969). Pengaruh tersebut tidak langsung dari iklim ini juga adalah penyakit dan parasit, juga pengaruhnya pada penyimpanan dan hasil ternak. 1. Persediaan makanan Factor-faktor yang penting yang membatasi pertumbuhan tanaman sehingga mengurangi kuantitas makanan yang tersedia adalah: suhu lingkungan, curah hujan, panjangnya hari dan idenditas radiasi cahaya. Perbedaan yang paling nyata dari pengaruh iklim ada pada daerah basah, kering dan agak kering yang menyebabkan 2 masalah besar pada makanan ternak, meskipun terdapat banyak pengecualian-pengecualian sehingga perbedaan-perbedaan itu menjadi kabur pada daerah-daerah yang beriklim sedang. 2. Parasit dan penyakit Panas dan kelembaban yang tinggi merupakan lingkungan yang baik bagi parasit internal dan eksternal, jamur dan vector penyakit. Parasit internal tidak begitu penting pada iklim agak kering tetapi parasit eksternal adalah penting meskipun parasit ini tidak begitu banyak di daerah iklim kering oleh karena jenis vegetasi di daerah ini mempengaruhi adanya insekta pembawa penyakit maka iklim mempunyai pengaruh tidak langsung yang besar terhadap produksi ternak. Pada daerah-daerah tropik afrika dimana curah hujan cukup untuk mendukung pertumbuhan semak-semak menyebabkan ternak. juga iklim yang mendukung perkembangan stomoxys spp.

3. Penyimpangan dan penanganan hasil ternak Semua iklim tropik baik lembab maupun kering mendukung cepat rusaknya bahan hasil ternak yang di simpan sehingga menaikkan ongkos prosesing dan penanganannya. Hal ini mempengaruhi produksi ternak secara tidak langsung oleh karena meningkatnya biaya prosesing penanganan dan penyimpanan seperti penambahan kapasitas kamar pendinginan akan menaikkan produksi bahan tertentu secara tidak ekonomis padahal tempat tersebut sebenarnya cocok untuk perkembangan industri peternakan sumber : Bonsma, J.C.(1949) Breeding cattle for increased adaptability to tropical and subtropical environments.J.agric. Sci.(Camb), 39, 204-21.