Anda di halaman 1dari 10

Makalah Sistem Hidrothermal

Hidrologi dan Hidrothermal

oleh

1. Muyassir 2. Alfi Syahrin 3. Titan Septiansyah 4. Hamzah Edward 5. Sayed Hubbul 6. Rifqi Muafa

1204108010097 1204108010008 1204108010032 1204108010068 1204108010071 1204108010041

Program Studi S1 Teknik Pertambangan

Fakultas Teknik

Universitas Syiah Kuala

2014

Kata Pengantar Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia serta izin-Nya kami mampu menyelesaikan makalah yang berjudul Sistem

Hidrotermal. Sholawat beserta salam juga tidak lupa pula kami curahkan kepada baginda Rasullullah SAW, serta keluarganya.

Maksud dari pambuatan makalah ini adalah untuk melengkapi tugas mata kuliah Hidrologi dan Hidrotermal. Dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyelesaian pembuatan makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna,hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang kami miliki. Oleh karena itu demi kesempurnaan makalah ini kami sangat mengharapkan saran dan masukan yang bersifat membangun.

Akhir kata kami mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan umumnya bagi Ibu Dinni Agustina selaku dosen Hidrolgi dan Hidrotermal beserta pembaca sekalian.

Daftar Isi

Kata Pengantar .................................................................................................................................... 2 BAB I .................................................................................................................................................... 4 PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 4 1.1. 1.2. Latar Belakang .................................................................................................................. 4 Tujuan .................................................................................................................................. 5

BAB II ................................................................................................................................................... 6 PEMBAHASAN ................................................................................................................................ 6 2.1. Sistem Hidrothermal ............................................................................................................ 6 2.2. Sirkulasi hidrotermal............................................................................................................ 6 BAB III ................................................................................................................................................. 9 PENUTUP............................................................................................................................................ 9 3.1. Kesimpulan ............................................................................................................................. 9 Daftar Pustaka .................................................................................................................................. 10

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Kebutuhan akan logam dasar pada akhir-akhir ini semakin meningkat. Hal ini diiringi oleh perkembangan kebutuhan dunia industri yang semakin pesat di masa sekarang ini. Kebutuhan masyarakat akan keperluan barangbarang pribadi serta bertambahnya jumlah penduduk yang semakin besar menjadi pemicu persoalan ini. Selain itu, semakin meningkatnya harga pasar logam dunia, memicu negara-negara saling mencari potensi endapan logam sebagai penambah devisa negara. Sehingga, tidak dapat dipungkiri lagi bahwasanya logam dasar menjadi salah satu komoditas yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern pada masa-masa kini.

Salah satu sumber penghasil logam dasar adalah endapan hidrotermal. Endapan ini dapat memiliki cadangan besar yang memiliki andil besar dalam menyediakan cadangan logam di dunia. Tipe endapan ini dapat mengandung endapan logam dalam jumlah besar dalam bentuk bijih maupun inklusi dalam mineral lain. Disamping itu, endapan epitermal merupakan salah satu sumber utama bijih emas. Kebanyakan endapan epitermal umumnya memiliki kadar emas dari 1 hingga 3.5 g/t (Corbett, 2001). Endapan ini dapat menghasilkan kadar yang cukup besar dengan berbagai macam logam lain yang dapat terakumulasi dalam suatu lokasi konsentrasi yang sama. Pada endapan Mineral Hill di Kanada dan Lihir di Papua New Guinea, emas epitermal dapat mencapai kadar 100 g/t (Corbett, 2002).

Endapan hidrotermal umum ditemukan pada batas tektonik lempeng (Corbett dan Leach, 1998). Tatanan ini memiliki sistem hidrotermal yang cukup aktif. Sirkulasi hidrotermal ini dapat membawa unsur-unsur dasar pembawa endapan logam. Tatanan seperti ini memungkinkan ditemukannya endapan ekonomis. Tatanan batas lempeng seperti ini umum berkembang pada daerah daerah seperti di Indonesia. Karena alasan inilah, endapan epitermal menjadi objek eksplorasi yang sangat menarik untuk dipelajari.

Hidrotermal juga merupakan salah satu solusi ketersediaan energi listrik di dewasa ini. Energi geotermal adalah energi yang dihasilkan oleh tekanan panas bumi. Panas ini bernilai sangat besar karena setiap penurunan 100 meter akan terjadi kenaikan suhu sebesar 3C. Panas bumi tertinggi terdapat dalam inti bumi. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa energy yang dihasilkan pun akan banyak juga. Pemilihan energi panas bumi sebagai sumber energi alternatif merupakan pilihan yang tepat. Pernyataan tersebut bukan tidak beralasan karena telah banyak negara-negara seperti Amerika Serikat dan Kanada yang menggunakan energi panas bumi untuk mencukupi kebutuhan energi mereka. Beberapa pemanfaatan energi tersebut antara lain adalah untuk memanaskan ruangan agar tetap bersih (steril) dengan cara ekonomis, energi pemompaan, dan yang lebih penting lagi adalah menyediakan kebutuhan akan energi listrik. Selain itu, geothermal bisa dijadikan salah satu solusi ketergantungan kita pada energi fosil

Tugas ini merupakan pengembangan dari mata kuliah Hidrologi dan hidrotermal yang di asuh oleh ibu Dinni agustina.

1.2.Tujuan Sebagai bahan infromasi dan pedoman bagi Mahasiswa teknik Pertambangan dalam mewujudkan pembangunan di nusantara pada sektor pertambangan. Sebagai referensi bagi para pelaku tambang. untuk mengetahui sistem hidrothermal beserta sirkulasi hidrotermal berdasarkan cara alirannya

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Sistem Hidrothermal Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai hasil differensiasi magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif ringan dan merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan. Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal dua macam endapan hidrothermal, yaitu : cavity filing, mengisi lubang-lubang (opening-opening) yang sudah ada di dalam batuan. metasomatisme, mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan dengan unsur-unsur baru dari larutan hidrothermal. Sistem hidrotermal didefinisikan sebagai sirkulasi fluida panas 50 - 500C >. Secara lateral dan vertikal pada temperatur dan tekanan yang bervariasi di bawah permukaan bumi. Sistem ini mengandung dua komponen utama, yaitu sumber panas dan fase fluida. Sirkulasi fluida hidrotermal menyebabkan himpunan mineral pada batuan dinding menjadi tidak stabil dan cenderung menyesuaikan kesetimbangan baru dengan membentuk himpunan mineral yang sesuai dengan kondisi yang baru yang dikenal sebagai alterasi ubahan hidrotermal. Endapan mineral hidrotermal dapat terbentuk karena sirkulasi fluida hidrotermal yang melindi (leaching), mentranspor, dan mengendapkan mineral-mineral baru sebagai respon terhadap perubahan fisik maupun kimiawi (Pirajno, 1992, dalamSutarto, 2004).

2.2. Sirkulasi hidrotermal Sirkulasi hidrotermal arti yang paling umum adalah sirkulasi air panas; hydros dalam bahasa Yunani yang berarti air dan yang berarti termos (panas). Sirkulasi hidrotermal terjadi paling sering di sekitar sumber panas bumi di dalam lapisan kulit. Hal ini umumnya terjadi di dekat gunung berapi aktivitas, tetapi dapat terjadi di kerak dalam berhubungan dengan intrusi granit, atau sebagai hasil dari Orogeny atau metamorfosa.

Sirkulasi hidrotermal dalam samudra merupakan bagian dari air laut melalui Mid Ocean Ridge System. Istilah yang mencakup dua sirkulasi yang paling dikenal, yaitu air panas di urat puncak ridge dan air yang jauh lebih dingin, menyebarkan aliran air melalui batuan sedimen dan dipanaskan lebih lanjut melalui batuan basalt di puncak ridge. Tipe pembentuk sirkulasi sering disebut dengan istilah Aktif dan yang terakhir Pasif. Dalam kedua kasus prinsipnya sama, yaitu dingin, debit air laut terporosok ke dalam batuan basalt di dasar laut dan terpanaskan di dalamnya dimana debit air ini muncul kembali ke antar muka batuan di samudra karena debit air yang lebih rendah disana. Sumber air panas yang berasal dari urat ridge aktif yang merupakan batuan basalt yang baru terbentuk dan untuk yang temperature paling tinggi berada di ruang utama magma. Sumber air panas yang berasal dari urat ridge pasif yang merupakan batuan basalt yang sudah lama terbentuk. Urat hidrotermal berlokasi diatas dasar lautan dimana percampuran fluida hidrotermal ke dalam samudra.

Sirkulasi hidrotermal tidak terbatas kepada lingkungan ridge samudra. Sumber air panas untuk peledakan hidrotermal, geyser, dan air panas merupakan air tanah yang dikonveksikan panas kebawah dan lateral ke urat air panas. Sel konveksi sirkulasi hidrotermal berada dimana saja di tempat yang tidak terduga seperti intrusi magma dan urat gunung api aktif yang berkontak langsung dengan air tanah.

Hidrotermal juga terpangaruh pada transportasi dan sirkulasi air dalam lapisan kulit dalam. Umumnya dari daerah batu panas ke daerah batu yang dingin. Penyebab konveksi hal ini dapat: Intrusi magma ke kerak Radioaktif panas yang dihasilkan oleh massa didinginkan dari granit Panas dari mantel Hydraulic kepala dari pegunungan, misalnya, Great Artesian Cekungan Dewatering dari batuan metamorf yang membebaskan air Dewatering terkubur sedimen

Sirkulasi hidrotermal, khususnya di lapisan kulit dalam adalah penyebab utama dari mineral pembentukan deposit dan landasan teori yang paling di genesis bijih.

Selama awal 1900-an, berbagai ahli geologi bekerja untuk mengkalsifikasikan cadangan panas hidrotermal yang diasumsikan telah terbentuk dari pengaliran larutan sisa magma berbentuk aqueous (cairan). Waldemar Lindgren mengembangkan sebuah klasifikasi berdasarkan penafsiran penurunan suhu dan kondisi tekanan fluida. Istilahnya terdapat bermacam sebutan, diantaranya hipotermal, mesotermal, epitermal, dan teleotermal didasarkan pada penurunan suhu dan peningkatan jarak dari sumber panas. Pada tahun 1985 John Guilberts dalam sistem Lindgren memasukkan cadangan hidrotermal sbb: Penaikan cairan hidrotermal, magmatik atau air meteoric Tembaga porifori dan deposit lainnya, 200-800C dengan tekanan sedang Batuan beku metamorf, 300-800C dengan tekanan rendah sampai sedang Vena Cordilleran, tekanan sedang untuk kedalaman dangkal Epitermal, 50-300C, kedalaman dangkal sampai menengah, dengan tekanan rendah

Sirkulasi cairan panas meteoric Jenis cadangan Mississippi Valley, 25-200C, dengan tekanan rendah Western US Uranium, 25-75C, dengan tekanan rendah

Sirkulasi air laut panas Cadangan Ridge Ocean, 25-300C, dengan tekanan rendah

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai hasil differensiasi magma.

sirkulasi hidrotermal yang paling sering kita dapatkan ialah di sekitar sumber panas bumi di dalam lapisan kulit, yang mana biasanya terjadi di sekitar gunung berapi aktif .

Hidrotermal resevoir diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu :

1. Entalpi rendah, mempunyai batas suhu <125C dengan rapat daya spekulatif 10 MW/km2 dan konversi energi 10%.

2. Entalpi sedang, mempunyai kisaran suhu 125C - 225C dengan rapat daya spekulatif 12,5 MW/km2 dan konversi energi 10%. 3. Entalpi tinggi, mempunyai batas suhu >225C dengan rapat daya spekulatif 15 MW/km2 dan konversi energi 15%.

Daftar Pustaka http://en.wikipedia.org/wiki/Hydrothermal_synthesis http://tolulima.blogspot.com/2012/12/makalah-geothermal.html http://en.wikipedia.org/wiki/Hydrothermal_circulation