Anda di halaman 1dari 71

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TINGKAH LAKU IKAN

Disusun Oleh:

Kelompok 14 / Trip III

AFIF RAHMAN ARIF AHMADI

26010312140094

14 / Trip III AFIF RAHMAN ARIF AHMADI 26010312140094 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

2013

i

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Resmi Praktikum Tingkah Laku Ikan ini telah disetujui dan

disahkan pada :

:

tanggal :

tempat :

hari

 

Menyetujui,

Koordinator Asisten

Asisten Pendamping

Aditya Widyawati NIM. 26010310110029

Irsad Adi Lazuardi NIM. K2C009006

 

Mengetahui,

Koordinator Praktikum

Dr. Aristi Dian Purnama Fitri, SPi, MSi NIP. 19731002 199803 2 001

ii

KATA PENGANTAR

Segala rahmat dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat

dan

rahmat-Nya,

sehingga

penyusun

dapat

menyelesaikan

laporan

resmi

praktikum Tingkah Laku Ikan ini dengan baik.

Dalam penyusunan laporan ini,

penyusun mendapatkan banyak bantuan

dari

berbagai

pihak

baik

berupa

bimbingan,

informasi,

kritik,

saran

serta

dukungan. Untuk itu penyusun menyampaikan terima kasih kepada:

 
 

1. Ibu

Dr.

Aristi

Dian

Purnama

Fitri,

S.Pi,

M.Si

selaku

dosen

dan

koordinator praktikum Tingkah Laku Ikan

pengarahan dan izin praktikum;

yang telah memberikan

2. Segenap dosen pengampu Mata Kuliah Tingkah Laku Ikan yang telah

memberikan bimbingan materi, Bapak. Taufik Yulianto, S.Pi, M,Si; dan

Bapak. Ir. Asriyanto, BSc.DFG.MS;

3. Segenap asisten praktikum Tingkah Laku Ikan atas bimbingan dan

kerjasamanya; dan

4. Rekan rekan PSP 2012 atas motivasi dan juga kerjasamanya.

Penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada laporan ini,

oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.

Akhirnya semoga laporan kami ini dapat diterima.

iii

Semarang,

Penyusun

November 2013

DAFTAR ISI

 

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

LEMBAR PENGESAHAN

ii

KATA PENGANTAR

iii

DAFTAR ISI

iv

DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR GAMBAR

vii

DAFTAR LAMPIRAN

viii

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

1.2. Tujuan Praktikum

1.3. Waktu dan tempat

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

 

2.1.1. Klasifikasi

2.1.2. Morfologi

2.1.3. Makanan dan kebiasaan makan

2.1.4. Habitat dan daerah penyebaran ikan Belanak

2.2.

Morfologi Mata Ikan

2.2.1. Retina mataikan

2.2.2. Vitrious humor

2.2.3. Lensa mata ikan

2.3.

Analisisa Penglihatan Ikan

2.3.1. Ketajaman penglihatan

2.3.2. Jarak pandang maksimum

2.3.3. Sumbu penglihatan

2.4.

Suara di perairan

.

2.5.

Organ Penerima Getaran Suara pada Ikan

2.5.1. Inner ear

2.5.2. Gelembung renang

2.5.3. Linea Lateralis

2.6.

LED (Light Emiting Dioda)

2.7.

Stress pada Ikan

2.8.

Tingkah Laku Ikan Terhadap Suara

2.9.

Tingkah Laku Ikan Terhadap Suhu

2.10.

Tingkah Laku Ikan Terhadap Cahaya

iv

III.

MATERI DAN METODE

3.1.

Materi

3.1.1. Alat

3.1.2. Bahan

3.2.

Metode

3.2.1. Analisis Penglihatan Ikan

3.2.2. Rangsang Suara

3.2.3. Rangsang Suhu

3.2.4. Rangsang Cahaya

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Mata

4.1.1. Struktur Mata

4.1.2. Ketajaman Penglihatan

4.1.3. Jarak Pandang Maksimum

4.1.4. Sumbu Penglihatan

4.2. Suara

4.2.1. Tingkah Laku Ikan Saat Kondisi Terkontrol

4.2.2. Tingkah Laku Ikan Saat Diberi Rangsang Suara

4.2.3. Tingkah Laku Ikan Setelah Diberi Rangsang Suara

4.3.Suhu

4.3.1.Tingkah Laku Ikan Setelah Diberi Rangsang Suhu Panas 4.3.2.Tingkah Laku Ikan Setelah Diberi Rangsang Suhu Dingin

4.4. Cahaya 4.4.1.Tingkah Laku Ikan Terhadap Lampu Putih

4.4.2. Tingkah Laku Ikan Terhadap Lampu Merah

4.4.3. Tingkah Laku Ikan Terhadap Lampu Biru

4.4.4. Tingkah Laku Ikan Terhadap Lampu Hijau

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

5.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

…………………………………………………

v

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1.

Morfologi ikan Belanak (Mugil dossumieri)

2.

Skema prosedur histologi pada praktikum tingkah laku ikan

3.

Skema prosedur dalam perlakuan terhadap pengaruh suara

4.

Skema prosedur dalam perlakuan terhadap pengaruh suhu

5.

Skema prosedur dalam perlakuan terhadap pengaruh cahaya

5.

Grafik hubungan panjang tubuh dengan diameter lensa

6.

Grafik hubungan panjang tubuh dengan kepadatan sel kon

7.

Grafik hubungan panjang tubuh dengan sudut terkecil

8.

Grafik hubungan panjang tubuh dengan ketajaman penglihatan

9.

Grafikh ubungan panjang tubuh dengan jarak pandang maxsimum

10.

Grafik hubungan gerakan operkulum dengan sebelum rangsang suara

11.

Grafik gerakan operkulum dengan rangsang suara frekuensi low, middle

dan loud

vi

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Alat yang digunakan dalam praktikum Tingkah Laku Ikan

2. Bahan yang digunakan dalam praktikum Tingkah Laku Ikan

3. Kepadatan sel kon pada setiap bagian dari retina mata

ikan Belanak besar

4. Kepadatan sel kon pada setiap bagian dari retina mata

ikan Belanak kecil

5. Data frekuensi suara low

6. Data frekuensi suara middle

7.

Data frekuensi suara loud

8. Respon ikan terhadap sumber cahaya

9. Jumlah bukaan operculum

10. Jumlah Bukaan operculum dan kibasan sirip dada

vii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Arah Sumbu Penglihatan

2. Analisa Penglihatan Mata

3. Data Frekuensi Suara

4. Tabel Respon Ikan

Halaman

5. Dokumentasi praktikum Tingkah Laku Ikan

viii

I.

1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Tingkah laku ikan diartikan sebagai perubahan-perubahan ikan dalam

kedudukan, tempat, arah, maupun sifat lahiriah suatu makhluk hidup

yang

mengakibatkan suatu perubahan dalam hubungan antara makhluk tersebut dan

lingkungannya yang pada gilirannya juga berpengaruh kembali pada makhluk itu

sendiri (Syandri, 1985 dalam Fitri, 2010).

Tingkah laku ikan sangat dipengaruhi oleh cara ikan beradaptasi dengan

lingkungannya. Tingkah laku tersebut diwujudkan dalam bentuk gerakan tubuh

baik dari dalam maupun dari luar tubuh ikan. Salah satu organ yang berperan

dalam membentuk tingkah laku ikan terhadap lingkungan adalah mata. Organ

mata pada dasarnya mempunyai prinsip kerja yang sama yaitu bekerja dengan

pengaruh cahaya, yang membedakan adalah ada mata yang peka terhadap cahaya

terang ada pula mata yang peka terhadap cahaya gelap. Kedua sifat ini berkaitan

dengan waktu keaktifan ikan. Ikan yang peka terhadap cahaya terang cenderung

aktif bergerak di siang hari dan disebut ikan diurnal, sedangkan ikan yang peka

terhadap cahaya gelap disebut ikan nocturnal karena ikan ini aktif bergerak di

malam hari (Fujaya, 2004).

Dalam

upaya

mengoptimalkan

penangkapan

ikan,

banyak

cara

yang

dilakukan orang, salah satunya adalah memanfaatkan tingkah laku ikan sebagai

dasar penentuan teknik pengoprasian alat tangkap dan merancang konstruksi alat

tangkap.

Hampir

tidak

pernah

ditemukan

alat

tangkap

maupun

teknik

pengoprasiannya yang tidak dikaitkan dengan tingkah laku ikan, baik secara

ix

individu maupun bergerombol. Oleh karena itu pengetahuan tentang tingkah laku

ikan sangat penting dalam usaha penangkapan ikan (Mulyadi, 2006).

Sebagaimana

ilmu-ilmu

terapan

yang

lain,

pengembangan

ilmu

dan

teknologi perikanan sangat ditentukan oleh pengetahuan dasar yang memadai,

antara lain fisiologi. Fisiologi adalah salah satu cabang biologi, yang berkaitan

dengan

fungsi

dan

kegiatan

kehidupan

dapat

lebih

mudah

dipahami,

bila

organisasi dan fungsi sel diketahui. Lebih mendalam fisiologi dapat didefinisikan

sebagai ilmu yang mempelajari fungsi, mekanisme dan cara kerja organ, jaringan

dan sel-sel organisme. Tiap jenis kehidupan, mulai dari mahluk hidup sederhana

seperti virus bersel satu sampai manusia yang memiliki sel-sel rumit mempunyai

sifat-sifat fungsional tersendiri, seperti juga pada ikan itu sendiri. Fisiologi ikan

mencakup penginderaan, komunikasi antar sel/organ, osmoregulasi, peredaran

darah, pernapasan, pencernaan, pertumbuhan dan reproduksi (Mulyadi, 2006).

Penelitian fisiologi dan histologi organ penglihatan terutama dari jumlah

dan susunan sel reseptor kon (cone), rod, dan diameter lensa ikan merupakan

fenomena yang menarik untuk dikaji agar dapat mengetahui pola tingkah lakunya,

khususnya dalam hal ketajaman penglihatan dan pembedaan warna. Sel kon

membentuk susunan mozaik dengan posisi satu sel kon tunggal dikelilingi oleh

empat sel kon ganda. Sel fotoreseptor membentuk mozaik dengan susunan satu sel

kon tunggal dikelilingi oleh empat sel kon ganda ( Fitri, 2009).

Mata merupakan salah satu indera yang sangat vital bagi kehidupan ikan.

Mata ikan telah beradaptasi dengan lingkungan air (hidrosfer), karena itulah ikan

merupakan

hewan

yang

sukses

melewati

seleksi

alam

sehingga

mampu

mempertahankan kelangsungan hidupnya sampai saat ini. Ikan hidup dalam air

x

yang bervariasi

kondisi

cahayanya.

Hal

tersebut

merupakan

cermin

sejarah

evolusi yang sukses dengan beragam tingkat iluminasi dan kisaran spektrum

gelombang cahaya (Razak dkk, 2005).

Pada kebanyakan ikan, mata adalah reseptor penglihatan yang sangat

sempurna.

Mata

ikan

memiliki

sistem

optikal

yang

mampu

melakukan

pengumpulan cahaya dan membentuk suatu fokus bayangan untuk dianalisis oleh

retina. Lensa mata ikan mengikuti aturan dasar fisik pembengkokan cahaya

sampai

retina.

Untuk

ikan

laut

dalam

kemampuan

mengumpulkan

cahaya

tergantung pada besarnya mata, meskipun secara proporsional mata yang lebih

besar dalam habitat ini tidak mengumpulkan cahaya sesuai dengan proporsinya.

Sebaliknya, ikan daerah litoral yang hidup membenamkan diri di dasar berpasir

mempunyai mata yang kecil. Hal ini menandakan bahwa ada kekuatan selektif

lain yang disesuaikan dengan besarnya mata (Fujaya, 2004).

Menurut Razak dkk (2005), kemampuan mata untuk melihat digunakan

ikan untuk menangkap mangsa atau makanannya, menghindari musuhnya dan alat

tangkap. Sekarang ini telah banyak dikembangkan alat tangkap yang disesuaikan

dengan tingkah laku ikan, dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi serta

kegunaan alat penangkapan tersebut. Mata semua mahluk hidup terbentuk dari

acuan yang sama, namun bentuknya beranekaragam seperti halnya beraneka

ragam habitat kehidupan di bumi kita ini. Ada mata yang gunanya untuk melihat

di malam hari, ada pula mata yang gunanya untuk melihat siang dan malam hari,

serta ada pula mata yang hanya mampu pada siang dan malam hari. Mata mereka

digunakan sebagai alat untuk pertahanan diri dan juga untuk berburu mangsa.

xi

1.2. Tujuan Praktikum

Tujuan pelaksanaan praktikum Tingkah Laku Ikan antara lain adalah untuk:

1. Mengetahui struktur mata ikan

2. Mempelajari proses histologi dan pewarnaan preparat untuk spesimen retina

mata ikan dan mempelajari struktur lapisan photoreceptor cell retina mata

ikan.

3. Menganalisis

indeks

ketajaman

penglihatan

(visual

acuity/VA),

sumbu

penglihatan

(visual

axis)

dan

kemampuan

jarak

pandang

maksimum

(maximum sighting distance) dari sampel.

4. Mengetahui berbagai respon dari ikan dari sumber cahaya yang ada.

5. Mengetahui berbagai respon dari ikan dari gelombang suara yang ada.

6. Mengetahui berbagai pola tingkah laku ikan dari gelombang suara yang ada.

7. Mengetahui berbagai tingkat stress pada ikan melalui respon dan tingkah

lakunya terhadap berbagai kondisi lingkungan yang ekstrim.

1.3. Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum Tingkah Laku Ikan dilaksanakan hari Rabu tanggal 26 November

2013 yaitu sectio mata ikan dan analisis ikan respon tehadap lampu LED (Light

Emitting Diode) dan pada hari Kamis, tanggal 27 November 2013, yaitu teknik

pembuatan dan pewarnaan preparat segar, analisis index visual acuity, visual axis

dan maximum sighting distance, respon ikan terhadap gelombang akustik, dan

stress

pada

ikan,

bertempat

di

Laboratorium

Fishing

Gear

Pemanfaatan

Sumberdaya Perikanan Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Kelautan,

Universitas Diponegoro, Jl. Prof Sudharto SH, Tembalang, Semarang.

xii

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Biologi Ikan Belanak (Mugil dossumieri)

2.1.1.

Klasifikasi ikan belanak (Mugil dossumieri)

Ikan Belanak berdasarkan sistematikanya dapat diklasifikasikan sebagai

berikut (Saanin, 1984):

Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

Ordo

Family

Genus

: Mugil

Species

: Mugil dossumieri

Genus : Mugil Species : Mugil dossumieri Gambar 1. Morfologi ikan Belanak (Sumber : Praktikan Tingkah

Gambar 1. Morfologi ikan Belanak (Sumber : Praktikan Tingkah Laku Ikan 2013 )

xiii

2.1.2. Morfologi ikan belanak (Mugil dossumieri)

Menurut Saanin (1984), ikan belanak mempunyai badan yang panjang,

bagian depan subsilindris, sedangkan bagian belakang agak kompres, kepala

mendatar pada bagian atas dan bila dipotong melintang berbentuk seperti segitiga,

celah insang lebar, mulut diujung dan mendatar, selaput agar-agar pada mata

berkembang dengan baik, menutupi iris secara penuh atau sebagian. Lebar ruang

antar mata lebih kurang dua kali diameter mata. Moncong depress, tulang rahang

atas nampak ketika mulut mengatup. Sirip punggung dengan jari-jari yang kuat,

pada yang jantan tinggi jari-jari keras sirip punggung kadang-kadang lebih pendek

dari pada panjang kepala tanpa moncong, dasar permulaan sirip punggung

pertama agak lebih dekat ke dasar sirip ekor dari pada ke ujung mulut. Permulaan

dasar sirip punggung pertama terletak pada sisik ke-9 atau ke-10 pada linea

lateralis pertama. Di depan sirip punggung pertama terdapat 18-19 sisik yang

dihitung mulai dari moncong. Permulaan dasar sirip punggung kedua bertepatan

dengan baris sisik yang ke 18, 19, atau 20. Setengah dari sirip dubur sebelum sirip

punggung yang kedua. Sirip punggung dan sirip dubur bersisik, berlekuk, sama

tinggi, lebih rendah atau lebih tinggi dari sirip punggung yang berjari-jari keras.

Sirip dada agak pendek. Pada ikan belanak yang besar umumnya lebih pendek

dari pada panjang kepala. Ujung sirip dada mencapai baris sisik yang ke-7 atau

ke-8 tanpa sisik-sisik tambahan atau dengan sisik-sisik tambahan tetapi kecil.

Panjang batang ekor kira-kira sama dengan tingginya atau 2/3 dari panjang

kepala. Warna kehijauan pada bagian atas dan keperakan pada bagian bawah,

sering kali terdapat garis hitam yang membujur sesuai dengan susunan sisik pada

sisi tubuh.

xiv

2.1.3. Makan dan kebiasaan makan ikan

Menurut Fujaya (2004), makanan dapat merupakan faktor yang sangat

menentukan bagi populasi, pertumbuhan dan kondisi ikan. Sedangkan macam

makanan suatu spesies ikan biasanya bergantung kepada umur ikan, tempat hidup

ikan dan waktu. Umumnya makanan yang pertama kali datang dari luar untuk

semua ikan dalam mengawali hidupnya. Kelimpahan suatu organisme makanan

yang ada disuatu perairan selalu berfluktuasi yang disebabkan oleh daur hidup,

iklim, dan kondisi lingkungan. Kelimpahan suatu organisme makanan potensial

sering mendominasi walaupun makanan tersebut akan dimakan oleh ikan ataupun

tidak dimakan (Lagler et al., 1977).

Satu spesies ikan yang ketika diambil contoh makanannya dapat saja

berbeda dengan waktu yang lain walaupun pengambilannya dilakukan pada

tempat yang sama. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh perubahan suasana

lingkungannya. Dasar dari studi kebiasaan makanan ikan adalah mempelajari isi

dari alat pencernaan ikan. Hasil dari studi ini dapat diketahui apakah ikan itu

sebagai pemakan plankton, ikan buas, bentuk makanan pokoknya serta makanan

kesukaan yang lainnya (Mulyadi, 2006).

Menurut Mulyadi (2006), beberapa metode yang mungkin dapat dipakai

untuk mempelajari kebiasaan makanan ikan, meliputi penentuan secara kualitatif

dan kuantitatif adalah sebagai berikut:

1. metode jumlah;

2. metode frekuensi kejadian;

3. metode perkiraan tumpukan dengan persen;

4. metode volumetric;

xv

5.

metode gravimetric;

6. penentuan indek relatif penting (IRP);

7. penentuan indek preponderance;

8. penentuan indek pilihan;

9. sampling dasar perairan; dan

10. teknik menghitung plankton.

Menurut

Beckman

dalam

Ridwan

(1979),

beberapa

faktor

yang

menentukan apakah suatu jenis ikan akan memakan suatu organisme makanan

adalah ukuran makanan, ketersediaan makanan, warna makanan, dan selera ikan

terhadap makanan. Jumlah makanan yang dibutuhkan oleh suatu jenis ikan

bergantung pada macam makanan, kebiasaan makanan, suhu air, dan kondisi

umum dari jenis ikan tersebut.

Menurut Beckman dalam Nurjanah (1982), kekurangan makanan adalah

kemungkinan yang paling umum ditemukan diperairan, serta faktor pembatas

yang serius terhadap populasi ikan diperairan umum. Faktor yang mempengaruhi

produksi makanan disuatu perairan adalah kondisi perairan itu sendiri.

2.1.4. Habitat dan daerah penyebaran

Ikan belanak hidup di laut dangkal yang beriklim hangat dan bervegetasi.

Namun, ada juga yang hidup di muara sungai dikawasan tropis, subtropis, dan

beriklim sedang. Ikan belanak mempunyai toleransi terhadap salinitas sekitar 0-38

ppt dan mempunyai toleransi terhadap suhu yang cukup luas. Di Indonesia, ikan

belanak banyak ditemukan di Sumatera (Bagan Siapi-api, Langkat, Pantai Deli,

Bengkulu, Trusan, Padang, Bintang, Padang), Jawa (Banten, Laut Jawa, Jakarta,

Semarang, Pasuruan, Perdana), Sulawesi (Makassar, Danau Sindarang, Sungai

xvi

Minlarang), Bali, Lombok, Flores, Timor, Buton (Sulistiono et al., 1992). Ikan

belanak juga banya ditemukan di Singapura, India, Andaman, Ceylon, New

Guinea, Philiphina, dan Australia (Weber dan de Beufort, 1922).

2.2. Morfologi Retina Mata Ikan

2.2.1. Retina mata ikan

Menurut Fujaya (2004), Retina ikan pada dasarnya tidak berbeda dengan

retina vetebrata lainnya. Bayangan dibentuk oleh lensa dan jatuh pada retina.

Retina memiliki struktur tipis berlapis-lapis dan transparan, yakni terdiri dari

lapisan epitelium berpigmen, fotoreseptor, sel bipolar, sel interpleksiform, sel

horizontal, sel amakrin, dan sel ganglion. Epitelium berpigmen mengelilingi ujung

fotoreseptor sensitif terhadap cahaya. Sel horizontal tersusun dalam

bentuk

mosaik berperanan sebagai perantara interaksi kromatik di antara jenis kon yang

berbeda (kon untuk warna biru, hijau dan merah), menjadi penghubung ke sel

bipolar, dan

menyusun

sebuah

jalur tambahan

menuju

lapisan

inti neuron.

Informasi

mengenai

penangkapan

photon oleh fotoreseptor dikirim ke otak

melalui bipolar kemudian ke sel ganglion.

Menurut Mulyadi (2006), Retina pada Ikan Tenggiri (A. solandri) terdiri

dari beberapa lapisan sel. Lapisan sel tersebut saling mengisi. Cahaya yang tiba di

retina, setelah melewati lensa dan humor akan melalui lapisan retina yang

berturut-turut

yaitu

sel

photoreceptor.

Pada

sebagian

besar

ikan

ekonomis

penting,

indera

penglihatan

merupakan

indera

utama

yang

memungkinkan

terciptanya pola tingkah laku mereka terhadap lingkungan. Indera penglihatan

akan mempunyai sifat khas oleh adanya beberapa faktor, yaitu:

1. Jarak penglihatan yang jelas;

xvii

2.

Kisaran dari cakupan penglihatan;

3. Warna yang jelas;

4. Kekontrasan; dan

5. Kemampuan membedakan objek yang bergerak.

Sebagian besar ikan dapat pula membedakan warna, biasanya untuk ikan

yang hidup

pada lapisan

air

yang dangkal

yang banyak

menerima

cahaya

matahari. Sedangkan untuk ikan laut dalam, banyak diantaranya yang tidak dapat

membedakan warna merah, bahkan ada diantaranya yang buta warna, contohnya

ikan

seafox.

Lapisan

coroid

terletak

di

antara

retina

dan

sclera.

Sclera

Elasmobranchia dan Teleostei agak keras dan karena adanya struktur rawan.

Sering sekali Teleostei memiliki satu atau dua sclera ossicles sebagai penunjang

terhadap struktur rawan tersebut. Mata ikan dilengkapi dengan tiga macam otot

oculomotor (Mulyadi, 2006).

Sebagian besar ikan mata letaknya lateral yaitu satu buah pada masing-

masing sisi. Namun pada beberapa ikan dasar, termasuk pari (Rajidae), sculpin

(Cottidae), dan goose fin (Lophiidae) mata terletak di bagian dorsal. Pada ordo

Pleuronectiformes kedua mata terletak pada salah satu sisi kepala. Pada ikan yang

hidup di gua-gua mata sangat tereduksi. Ada juga ikan buta misalnya ikan

Benthobathis. Disamping itu terdapat pula ikan-ikan yang dapat melihat di udara

sebaik di dalam air misalnya Periopthalmus (Fujaya, 2004).

2.2.2. Vitreous humor

Ruang di belakang lensa diisi oleh oleh cairan gel transparan yang

diistilahkan bervariasi. Ada yang menyebut vitreous body, vitreous humor dan

vitreous saja. Istilah yang digunakan ini adalah vitreous humor berfungsi sebagai

xviii

pendukung mekanisme yang mengelilingi jaringan okuler, bersifat viskoelastic

yang

berperan

sebagai

penyerap

tekanan

ketika

ada

gangguan

mekanisme.

Vitreous humor terdiri dari 98% air dan 0,1% kaloid serta sisanya adalah ion-ion

dan molekul-molekul yang larut dengan berat atom yang ringan. Indeks bias dari

vitreous humor hampir sama dengan air kira-kira 1.336. Disamping fungsi

mekanisme, cairan berupa gel ini berperan meneruskan cahaya agar sampai

menuju retina (Razak dkk, 2005).

2.2.3. Lensa mata ikan

Lensa mata yaitu lapisan kompak dengan bola mata transparan yang terbuat

dari protein non kolagen. Pada kebanyakan ikan daya akomodasinya, untuk

mengatur penglihatan dekat dan jauh merupakan hasil dari perubahan jarak antara

lensa dan retina. Sehingga cara kerjanya mirip dengan pergerakan lensa kamera.

Lensa mata ikan bergerak kedepan menjauhi retina untuk pandangan tertutup atau

dekat. Sebaliknya bergerak mendekati retina secara perlahan-lahan oleh bantuan

otot refraktor untuk pandangan jauh (Razak dkk, 2005).

Umumnya

ikan

tidak

memiliki

pelupuk

mata,

kecuali

pada

ikan

Elasmobranchia yang berupa membran dan dapat mengejapkan mata. Pada

beberapa Teleostei yang termasuk perenang cepat terdapat adipose eye-lid yang

berfungsi

untuk

pelindung

dan

merampingkan

kegembungan

mata

dibawah

permukaan kepala. Umumnya kornea mata ikan transparan dan tidak berpigmen.

Kornea tersusun atas dua lapisan yang dipisahkan oleh lapisan yang bersubstansi

gelatin. Lapisan dalam terdapat otot kornea mata yang berperan menekan mata

pada saat kontraksi dan membawanya pada posisi terbaik untuk akomodasi. Pada

xix

ikan ditemukan dua lapisan kornea yang diduga berguna sebagai pelindung mata

dari pasir dan detritus pada dasar perairan (Razak dkk, 2005).

Menurut Fujaya (2004), menambahkan bahwa hewan yang hidup dibawah

permukaan air, misalnya ikan karang memiliki kornea yang tidak bermanfaat bagi

optik karena petunjuk pembiasan sangat identik dengan air. Tetapi distribusi

pigmen berfungsi untuk menyaring cahaya pada siang hari. Biasanya korneanya

berwarna kuning bahkan lensanya juga, karena berfungsi mengurangi jumlah

cahaya

gelombang

pendek

yang

informasi bayangan.

tersebar

sehingga

mengurangi

kandungan

Iris pada mata membentuk pupil dan mengatur jumlah cahaya yang tiba di

retina. Elasmobranchii mempunyai otot pada iris dan karenanya dapat mengatur

bentuk pupil. Pada beberapa jenis ikan memiliki bentuk pupil yang tetap atau

lonjong. Sclera (Sclerotic coat) Atau selaput putih mata, yang merupakan bahan

liat dan elastis pada bola mata. Terbentuk untuk menguatkan bola mata. Pada

famili Petromyzonidae sclera berupa fiber dan kuat, untuk ikan Elasmobrancii,

misalnya ikan cucut dan pari pada sclera memiliki elemen tulang rawan dan juga

mengeras

berbentuk

pipih.

Sedangkan

untuk

teleostei,

sclera

berupa

fiber,

fleksibel, dengan orbit dan memiliki saraf optik di sekelilingnya. Viteous body

adalah ruangan dibelakang lenda yang diisi oleh cairan gel transparan. Berfungsi

sebagai pendukung mekanis yang mengelilingi jaringan okuler dan meneruskan

cahaya sampai menuju retina (Razak dkk, 2005).

xx

2.4.

Analisis Penglihatan Mata

2.4.1. Ketajaman penglihatan

Ketajaman penglihatan ikan adalah kemampuan ikan untuk melihat suatu

objek pada garis lurus yang digambarkan dalam bentuk hubungan timbal balik

yang diistilahkan dengan sudut pembeda terkecil (Minimum Separable Angle).

Dijelaskan pula bahwa sudut tampak minimum (Minimum Separable Angle) dapat

diukur

dengan

cara

memperhitungkan

jarak

dari

sasaran

penglihatan

menggunakan metode tingkah laku ikan. Ketajaman penglihatan pada hewan

merupakan

pengukuran

secara

terperinci

atau

detail

dari

kekuatan

daerah

pandangan. Hal tersebut diperlihatkan sebagai sudut pembeda terkecil (Minimum

Separable Angle) untuk membedakan dua sasaran penglihatan yang terdekat, yaitu

dapat diukur melalui pengujian histologi. Ketajaman penglihatan tergantung dua

faktor, yaitu pemisahan kekuatan dari lensa mata dan retina dimana kekuatan

lensa semakin besar jika mempunyai fokus yang panjang. Kemampuan melihat

objek di bagian retina mata tergantung pada kepadatan jumlah sel penglihatan.

Kepadatan sel kon akan tetap selama ikan hidup, dimana kekuatannya akan

meningkat sejalan dengan pertumbuhan lensanya. Daya penglihatan akan semakin

tajam

apabila hubungan

kepadatan sel konnya.

antara panjang fokus

lensa lebih

tinggi

dari

pada

Kepadatan sel kon menurun secara linier dengan bertambahnya panjang

tubuh ikan. Artinya terjadi pembesaran ukuran sel kon pada mata

bertambah

ukuran panjang tubuh, karena pada dasarnya kepadatan sel kon pada ikan akan

tetap selama hidupnya. Ukuran diameter lensa bertambah panjang disebabkan

bertambahnya ukuran panjang tubuh mengakibatkan penambahan ukuran dengan

xxi

bertambahnya ukuran panjang tubuh, yang ditandai pula dengan semakin besarnya

diameter lensa mata. Bahwa dengan diameter bola mata yang semakin besar maka

datangnya gambar suatu obyek benda melalui lensa mata menuju ke retina akan

semakin cepat karena sudut pembeda terkecil (Minimum Separable Angle, MSA)

yang dimiliki semakin kecil. Kepadatan sel kon terbesar terletak di bagian

temporal. Hal ini menyatakan semakin padat peta kontur sel kon maka semakin

besar ketajaman penglihatan pada mata ikan. Dengan menarik garis lurus dari

bagian temporal melalui lensa mata (bagian tengah bola mata) hingga bagian

nasal, terlihat bahwa sumbu penglihatan adalah lurus ke depan, yang berarti

bahwa sudut dari sumbu penglihatan adalah 0 o (Fitri, 2006).

2.4.2. Jarak pandang maksimum

Jarak pandang maksimum adalah kemampuan ikan untuk melihat suatu

objek benda secara jelas pada jarak tertentu. Kemampuan ini digunakan untuk

mengetahui kemungkinan pelolosan ikan dari suatu alat tangkap yang sedang

dioperasikan.

Menurut

Fitri

(2006),

semakin

meningkat

panjang

total

ikan

Belanak maka semakin besar pula kemampuan jarak pandang maksimum dalam

melihat

obyek

yang

dilihat.

Ukuran

panjang

tubuh

semakin

besar

maka

kemampuan untuk mendeteksi benda yang ada di hadapanya akan semakin jauh.

Untuk mengetahui jarak pandang maksimum ikan, terlebih dahulu perlu diketahui

nilai sudut pembeda terkecil (Minimum Separable Angle) dalam satuan menit.

Asumsi yang digunakan dalam perhitungan adalah keadaan perairan jernih (clear

water) dan tingkat pencahayaan dalam keadaan terang (ideal light condition).

Kemampuan jarak pandang maksimum ikan akan bertambah seiring dengan

bertambahnya ukuran panjang tubuh ikan. Selanjutnya jarak pandang maksimum

xxii

dapat diketahui melalui hubungan antara kepadatan sel penglihatan (visual cell

density) dan sudut penglihatan (visual angle), dimana ikan dapat membedakan

dua buah benda yang berbeda. jarak pandang maksimum ikan Belanak memiliki

jangkauan yang lebih jauh dibandingkan ikan kakap dengan obyek benda yang

dilihat berukuran sama karena indeks ketajaman penglihatan ikan Belanak lebih

besar dibandingkan ikan kakap sehingga akan berpengaruh terhadap jangkauan

penglihatannya. Jarak pandang maksimum ikan akan semakin meningkat dengan

semakin besarnya ukuran diameter objek benda yang dilihat. Berbeda dengan

ukuran diameter lensa, nilai kepadatan sel kon akan semakin menurun jika ukuran

panjang tubuh ikan bertambah, hal ini terjadi karena sel kon tersebut mengalami

perbesaran ukuran dengan semakin bertambahnya ukuran tubuh ikan.

2.4.3. Sumbu penglihatan

Sumbu penglihatan (visual axis) diidentifikasi untuk mengetahui kebiasaan

ikan dalam melihat makanan atau objek yang lain. Sumbu penglihatan diperoleh

setelah nilai kepadatan sel kon tiap bagian dari retina mata diketahui yaitu dengan

cara menarik garis lurus dari bagian retina yang memiliki nilai kepadatan sel kon

tertinggi menuju titik pusat lensa mata. Untuk menentukan sumbu penglihatan

terlebih dahulu perlu diketahui kepadatan sel kon pada area dorsal-temporal,

temporal atau ventral-temporal di retina mata ikan. Dari nilai kepadatan sel kon,

maka dapat ditentukan sumbu penglihatan yaitu dengan cara menarik garis lurus

dari bagian retina dengan sel kon menuju ke titik lensa mata, biasanya kearah

depan menurun (lower fore), arah depan (fore) dan arah depan-naik (upper-fore).

Menurut Tamura (1957) diacu dalam Fitri (2002), sumbu penglihatan (Visual

axis) diidentifikasikan untuk mengetahui kebiasaan dalam melihat makanan atau

xxiii

objek lain. Sumbu penglihatan diperoleh setelah nilai kepadatan sel kon tiap

bagian retina diketahui, dengan cara menarik garis lurus dari bagian retina yang

memiliki nilai kepadatan sel kon tertinggi menuju pusat lensa. Daerah retina yang

memiliki

kepadatan

sel

kon

tertinggi

pada

bagian

dorsal-temporal

dengan

perubahan arah pada diopter kearah depan menurun (lower-fore), maka sumbu

pengelihatan juga akan kearah depan menurun pada sudut 20 o .

Jika

kepadatan

tertinggi

sel

kon

di

bagian

ventral-temporl,

maka

perubahan

arah

pada

diopter

kearah

depan-naik

(upper-fore)

dan

sumbu

penglihatan juga akan kearah depan-naik (upper-fore) pada sudut 30 o . sumbu

penglihatan masing-masing jenis ikan dapat ditentukan setelah nilai kepadatan sel

kon tiap bagian dari retina mata ikan diketahui, yaitu dengan cara menarik garis

lurus melalui lensa mata. jumlah relative sel kon dan sel rod sangat bervariasi

pada berbagai species ikan. Nisbah sel rod dan sel kon yang tinggi terdapat pada

golongan ikan yang mengutamakan pengelihatan dalam mencari makan pada

siang hari dan sebaliknya ikan yang aktif pada malam hari memperlihatkan

jumlah rod yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah kon. Beberapa ikan

yang hidup di bagian tengan kedalaman air (mid water), selain mempunyai mata

yang lebar juga mempunyai sangat banyak rod pada retinanya. Jumlah rod ikan

nocturnal atau ikan laut dalam mencapai 20 juta per mm 2 .

2.4. Suara di Perairan

Suara ialah suatu gelombang mekanis bujur (longitudinal) yang merambat

melalui

udara,

air,

dan

perantara

bermateri

lainnya.

Sedangkan

gelombang

mekanis bujur yaitu suatu gelombang dengan titik - titik perantara bergerak sejajar

dengan arah perambatan gelombang. Suara merupakan salah satu faktor terpenting

xxiv

bagi hewan tingkat tinggi yang mempunyai organ-organ terspesialisasi untuk

menghasilkan

dan

mengamati

gelombang-gelombang

tersebut.

Dengan

menggunakan gelombang bunyi, hewan-hewan tersebut mampu berkomunikasi

satu

dengan

yang

lainnya

dan

untuk

memperoleh

informasi

tentang

lingkungannya termasuk yang hidup dalam air sebagai media komunikasi diantara

individu. (Alan H. Crom.1994).

Ada beberapa jenis ikan yang menjadikan suara sebagai alat komunikasi

dari lingkungan sekitar dan dengan individu yang lain. Fungsi suara erat kaitannya

dengan organ pendengaran yang dapat merespon suara dari luar, baik yang

mendekati sumber maupun yang menjauhi sumber. Ikan yang mendekati sumber

suara dikategorikan acoustictaksis positive, sedangkan bagi ikan yang menjauhi

sumber suara dikategorikan acoustictaksis negative. Secara garis besar pengunaan

akustik bawah air dalam kelautan dan perikanan dapat dikelompokkan menjadi

lima

yakni

untuk

survei,

budidaya

perairan,

penelitian

tingkah

laku

ikan,

mempelajari penampilan dan selektifitas alat-alat penangkapan ikan dan lain-lain.

Dalam penelitian tingkah laku ikan dapat digunakan untuk pergerakan/migrasi

ikan (vertical dan horizontal) dan orientasi ikan (tilt angel), reaksi menghindar

(avoidance) terhadap gerak kapal dan alat penangkapan ikan, respon terhadap

rangsangan (stimuli) cahaya, suara, listrik, hydrodinamika, kimia, mekanik dan

sebagainya (Priyatna, 2008).

2.5.

Organ Penerima Getaran Suara Pada Ikan

2.5.1.

Inner ear

Ikan dihadapkan pada kesulitan mendenagar di dalam air. Kerapatan

daging ikan tidak jauh berbeda dengan lingkungannya karena telinga bagian

xxv

dalam ikan terbungkus oleh tengkorak maka bunyi dapat di tangkap oleh tulang

tengkorak tersebut kemudian diteruskan ke jaringan telinga bagian dalam. Ikan

memiliki

telinga

dalam

sebagaimana

yang

dimiliki

manusia

yakni

kanal

semisirkular dan otolit tetapi tidak memiliki telinga luar dan tengah.

Ikan yang aktif pada malam hari, hidup dalam lumpur, atau hidup pada

daerah dengan tingkat penerangan yang rendah juga ikan predator yang tidak

membentuk kelompok lebih memanfaatkan indera pendengaran yang dimilikinya.

Ikan mempunyai lubang telinga untuk megindera suara. Organ tersebut terdiri atas

kanal yang berisi sel-sel yang sangat peka dengan bagian-bagian yang terbuka,

yang menghubungkannya dengan keadan air diselilingnya. Selain mendengar,

ikan juga mampu mengeluarkan suara. Kebanyakan suara yang dihasilkan tersebut

keluar

dengan

tidak

sengaja.

Misalnya

suara

keluar

saat

ikan

bergerak,

mengunyah dan menggigit makanan. Ada juga suara sebagai tanda bahaya jika

ikan dalam keadaan ketakutan atau terkejut, yang diartikan sebagai conditional

reflex (Fujaya, 2004).

2.5.2.

Gelombang renang

Gelembung renang merupakan organ penting yang dimiliki oleh ikan yang

letaknya terhimpit oleh tulang rusuk kiri dan kanan dibagian tengah antara kepala

dengan ekor. Tidak semua jenis ikan memiliki gelembung renang ini. Oleh sebab

itu ketika ikan bergerak menuju perairan yang dalam, gelembung renang ini akan

mengecil sebagai kompensasi untuk menyesuaikan tekanan yang ditimbulkan oleh

perairan tersebut. Selain sebagai organ pengatur hidrodinamik, gerakan dinding

gelembung renang juga mempunyai peranan dalam respon suara dari luar yang

selanjutnya dialirkan ke organ khusus.

xxvi

Selain gelembung renang sebagai pengatur hidrodinamika, organ ini pun

dapat

berfungsi

sebagai

reflector

dan

resonator

gelombang

suara

yang

mengenainya. Ikan itu tidak membutuhkan telinga tengah karena gelombang suara

cukup mudah menempuh air dan tubuh ikan yang setengah padat itu sendiri.

Tetapi penerimaan bunyi di dalam air secara baik menuntut adanya pengubah

yang terdiri dari bahan yang berbeda dengan bahan yang mengelilinginya. Pada

ikan yang baik pendengarannya gelembung renang yang berisi udara digunakan

untuk tujuan ini. Gelombang suara yang dihantarkan oleh air, yang mengenai

gelembung renang menimbulkan getaran yang dipancarkan melalui selaput organ

bagian tengah dan dengan begitu memperbaiki efisiensi pendengaran. Gelembung

tersusun atas selaput yang mampu bergetar pada satu sisi terhadap udara, yang

dapat dimanfaatkan dengan mudah, dan di sisi lain terhadap cairan, yang hampir

tidak dimanfaatkan. Gas lebih mudah digerakan dari pada cairan (Stevens, 1981).

2.5.3. Linea lateralis

Menurut

Saifurridjal

(2010),

Gurat sisi dan organ-organ

yang terkait

membentuk suatu peranan, selain sensitivitasnya pada perambatan suara, sistem

gurat sisi memberikan informasi tentang aliran laminar dan pusaran arus. Elemen

pendeteksinya adalah sel-sel rambut yang akan berpindah atau bengkok disebabkan

oleh

kekutan

mekanis.

Organ

perba

yang

terletak

pada

kanal

juga

terlihat

berkelompok pada kepala dan garis-garis sepanjang tubuh. Reseptor sel rambut

terbungkus dalam kapsul-kapsul gelatin pelindung yang tipis dan fleksibel. Ikan

sensitif terhadap arus oleh adanya gerakan-gerakan hewan lain yang ada disekitarnya

disebabkan oleh deteksi kerja gurat sisi. Ketika seekor ikan mendekat suatu benda,

pola arusnya terganggu, merubah distribusi tekanan hingga reseptor gurat sisi

xxvii

tersimulasi. Ikan-ikan yang buta, matanya tidak berfungsi dan biasa hidup di gua-

gua,

bernavigasi

menggunakan

sistem

gurat

sisi-nya

dengan

memanfaatkan

khususnya organ-organ yang terletak pada daerah kepalanya.

Linea lateralis mampu memberi respon suara dari luar melalui gerakan

relative fluida di sekitar tubuh ikan gurat sisi peka terhadap gerakan air yang

lemah. Gurat sisi tersebut tidak hanya dapat mengindera gerakan halus arus yang

di pantulkan oleh penghalang tak terlihat seperti karang, tetapi juga dapat

menemukan gangguan yang ditimbulkan oleh mangsa yang tersembunyi atau

musuh yang akan menyerang. Gurat sisi juga membantu sekelompok ikan supaya

tetap berada dalam formasinya, karena masing-masing ikan merasakan gelombang

yang ditimbulkan oleh yang lain (Priyatna, 2008).

2.6. LED (Light Emiting Dioda)

LED atau kepanjangannya Light Emitting Diode merupakan salah satu

jenis lampu yang menggunakan prinsip junction p-n dalam kerjanya. LED terdiri

dari sebuah chip bahan semikonduktor yang diisi penuh, atau di-dop, dengan

ketidakmurnian untuk menciptakan sebuah struktur yang disebut P-N junction.

Pembawa muatan elektron dan hole mengalir ke junction dari elektroda dengan

tegangan yang berbeda. Ketika elektron bertemu dengan hole, maka elektron akan

jatuh ke tingkat energi yang lebih rendah, dan melepas energi dalam bentuk foton.

Ketika LED diberi forward bias, maka akan muncul cahaya di junction nya,

cahaya yang muncul bergantung pada jenis bahan junction nya. LED disebut juga

sebagai lampu masa depan karena sifatnya yang tahan lama dan awet. Itu

disebabkan karena LED merupakan SSL (Solid State Lighting) sehingga

lampu

LED menjadi lebih tahan benturan dan tidak mudah rusak seperti layaknya lampu-

xxviii

lampu yang menggunakan gas (bohlam, neon/TL). Konon katanya, LED ini dapat

bertahan

lebih

dari

30.000

jam,

angka

tersebut

tentu

jauh

lebih

tinggi

dibandingkan dengan daya tahan lampu TL yang mencapai 5000 jam. LED juga

memiliki efisiensi yang cukup tinggi dibandingkan lampu-lampu konvensional

lainnya,mencapai 80-90%. Selain itu cahaya LED juga bersifat dingin karena

energi panas yang dihasilkannya sedikit. LED memancarkan cahaya infrared.

LED adalah jenis semikonduktor p-n junction yang bekerja pada kondisi forward

bias, yang dapat memancarkan radiasi dalam daerah ultraviolet, visible (sinar

tampak), dan infra merah pada spektrum elektromagnetic. Radiasi cahaya yang

dihasilkan LED infrared ini sebanding dengan arus forward bias yang diberikan

pada

LED

tersebut.

Led

infrared

berfungsi

elektomagnet kasat mata (Devy, 2009).

2.7. Stres pada Ikan

untuk

memancarkan

cahaya

Menurut Razak dkk (2005), hewan air akan memberikan respon fisiologis

terhadap perubahan lingkungannya sebagai tempat hidupnya. Perubahan suhu dari

keadaan normal menjadi lebih panas atau lebih dingin di suatu perairan dapat

dipengaruhi oleh keadaan alam seperti pemanasaan oleh matahari, perubahan

musim, gejala pergeseran dasar perairan, letusan gunung merapi bawah laut dan

sebagainya. Setiap jenis ikan biasanya mempunyai kisaran suhu di perairan yang

cocok. Dalam keadaan suhu normal metabolisme maupun tingkah laku ikan akan

berjalan dengan normal juga. Namun bila terjadi perubahan suhu, respon yang

diberikan

oleh

ikan

akan

menunjukan

penyesuaian

metabolisme

tubuhnya

terhadap

lingkungan

untuk

mempertahankan

kehidupannya.

Respon

yang

xxix

diperlihatkan

oleh

ikan

pergerakan ikan.

biasanya

berupa

perubahan

tingkah

laku

maupun

Suhu

organisme

di

adalah

salah

satu

perairan,

karena

faktor

yang

amat

suhu

mempengaruhi

penting

baik

bagi

kehidupan

aktivitas

maupun

perkembangbiakan dari organisme tersebut. Oleh karena itu tidak heran jika

banyak dijumpai bermacam-macam jenis ikan yang terdapat di berbagai tempat di

dunia yang mempunyai toleransi tertentu terhadap suhu. Ada yang mempunyai

toleransi

yang

besar

terhadap

perubahan

suhu,

disebut

bersifat

euryterm.

Sebaliknya ada pula yang toleransinya kecil, disebut bersifat stenoterm. Sebagai

contoh ikan di daerah sub-tropis dan kutub mampu mentolerir suhu yang rendah,

sedangkan ikan di daerah tropis menyukai suhu yang hangat. Suhu optimum

dibutuhkan oleh ikan untuk pertumbuhannya. Ikan yang berada pada suhu yang

cocok, memiliki selera makan yang lebih baik (Fujaya, 2004).

Menurut Mulyadi (2006), Suhu di perairan dapat mempengaruhi kelarutan

dari

oksigen.

Apabila

suhu

meningkat

maka

kelarutan

oksigen

berkurang.

Oksigen terlarut yang biasanya dihasilkan oleh fitoplankton dan tanaman laut,

keberadaannya sangat penting bagi organisme yang memanfaatkannya untuk

kehidupan, antara lain pada proses respirasi dimana oksigen dibutuhkan untuk

pembakaran

bahan

organik

sehingga

terbentuk

energi

yang

diikuti

dengan

pembentukan CO 2 dan H 2 O. Oksigen sebagai bahan pernafasan dibutuhkan oleh

sel untuk berbagai reaksi metabolisme. Oleh sebab itu kelangsungan hidup ikan

ditentukan

oleh

kemampuannya

memperoleh

oksigen

yang

cukup

dari

lingkungannya. Organisme perairan seperti ikan maupun udang mampu hidup

baik pada kisaran suhu 23 - 30°C. Perubahan suhu di bawah 23°C atau di atas

xxx

30°C menyebabkan ikan mengalami stres yang biasanya diikuti oleh menurunnya

daya cerna. Stres pada ikan juga dapat disebabkan oleh berbedanya media air

ketika ikan dipindahkan dari wadahnya. Ikan kadang mengalami perbedaan

lingkungan yang drastis sehingga menjadi stres (Mulyadi, 2006).

2.8. Tingkah Laku Ikan Terhadap Suara

Sejauh

ini,

semua

penelitian

menunjukkan

bahwa

ikan

memiliki

kemampuan mendengar baik menggunakan telinga dalam dan garis lurus yang

melintang sepanjang sisi tubuh ikan. Setiap spesies ikan memiliki kemampuan

dan sensitivitas berbeda dalam hal pendengaran. Sebagai contoh, ikan kod

Atlantik memiliki kemampuan mendengar yang cukup baik. Sementara, ikan

emas mampu mendengar suara berfrekuensi tinggi (Mulyadi, 2006).

Secara umum, ikan mampu mendengar suara berfrekuensi antara 30

1000 Hz, meski dengan adaptasi khusus beberapa jenis ikan mampu mendengar

suara dengan frekuensi lebih tingga yaitu antara 3000 5000 Hz. Bahkan,

beberapa spesies ikan tertentu mampu mendengar suara berfrekuensi sangat

tinggi. Sementara jenis lain misalnya belut Eropa sangat sensitif terhadap suara

infrasonik (Fitri, 2010).

Menurut Fujaya (2004), polusi suara juga mempengaruhi kehidupan ikan,

misalnya kemampuan bereproduksi, berkomunikasi dan menghindari predator.

Sebagai contoh, sejumlah penelitian melaporkan ikan hering Atlantik, kod dan

tuna sirip biru ternyata menghindari lingkungan yang terlalu berisik. Hal itu

berarti level kebisingan mempengaruhi distribusi ikan karena ikan cenderung

mengindari kawasan yang terkena polusi suara buatan manusia. Polusi suara dapat

secara signifikan mempengaruhi komunikasi antar ikan. Sejauh ini diketahui lebih

xxxi

dari

800

spesies

dari

109

keluarga

ikan

bisa

menghasilkan

suara

yang

berfrekuensi kurang dari 500 Hz. Ikan menghasilkan suara ketika bertarung

mempertahankan wilayah, memperebutkan makanan atau sedang menghindari

pemangsanya.

Menurut Saifurridjal (2010), Suara merupakan hasil getaran (vibrasi) fisik

media.

Kita biasa mengenal suara yang ditransmisikan melalui udara, suatu

media yang relatif rendah kerapatannya (densitasnya) yang sifat transmisinya

kalah dengan air suatu media yang lebih tinggi kerapatannya, dimana gelombang

suara berjalan hampir lima kali lebih cepat dari dalam udara. Untuk menganalisis

energi suara di dalam air

diperlukan lebih banyak energi, namun telah muncul

suara dalam air merambat mencapai jarak jauh dengan tingkat kehilangan yang

kecil dan dengan kecepatan tinggi.

Transmisi gelombang suara jarak jauh diperkuat oleh pemantulan dari

pemukaan air, dasar perairan, serta lapisan pada suhu berbeda. Suara ekstra di

dalam badan air yang disebabkan oleh gelombang, gesekan dari air yang begerak,

bergesernya pasir dan benda lain yang hanyut bersama aliran air dan angin. Laut

yang

diam

memiliki

tekanan

akustik,

sedangkan

laut

yang

berombak

memproduksi suara sekuat baling-baling pesawat kecil sedang terbang. Ikan

memperoleh manfaat getaran di dalam air dengan berbagai cara. Suara frekuensi

rendah dideteksi oleh gurat sisi, bisa disebut suara berdaya rendah. Syaraf akustik

berfungsi sebagai telinga pada bagian dalam maupun gurat sisi, menunjukkan

bahwa gurat sisi menolak interpretasi tentang getaran frekuensi rendah sebagai

suara.

Sejauh

ini,

semua

penelitian

menunjukkan

bahwa

ikan

memiliki

kemampuan mendengar baik menggunakan telinga dalam dan garis lurus yang

xxxii

melintang sepanjang sisi tubuh ikan. Setiap spesies ikan memiliki kemampuan

dan sensitivitas berbeda dalam hal pendengaran. Sebagai contoh, ikan kod

Atlantik memiliki kemampuan mendengar yang cukup baik. Sementara, ikan

emas mampu mendengar suara berfrekuensi tinggi (Mulyadi, 2006).

2.9. Tingkah Laku Ikan terhadap Suhu

Menurut Razak dkk (2005), hewan air akan memberikan respon fisiologis

terhadap perubahan lingkungannya sebagai tempat hidupnya. Perubahan suhu dari

keadaan normal menjadi lebih panas atau lebih dingin di suatu perairan dapat

dipengaruhi oleh keadaan alam seperti pemanasaan oleh matahari, perubahan

musim, gejala pergeseran dasar perairan, letusan gunung merapi bawah laut dan

sebagainya. Setiap jenis ikan biasanya mempunyai kisaran suhu di perairan yang

cocok. Dalam keadaan suhu normal metabolisme maupun tingkah laku ikan akan

berjalan dengan normal juga. Namun bila terjadi perubahan suhu, respon yang

diberikan

oleh

ikan

akan

menunjukan

penyesuaian

metabolisme

tubuhnya

terhadap

lingkungan

untuk

mempertahankan

kehidupannya.

Respon

yang

diperlihatkan

oleh

pergerakan ikan.

ikan

bjiasanya

berupa

perubahan

tingkah

laku

maupun

Suhu adalah salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme

di perairan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas maupun perkembangbiakan

dari organisme tersebut. Oleh karena itu tidak heran jika banyak dijumpai

bermacam-macam jenis ikan yang terdapat di berbagai tempat di dunia yang

mempunyai toleransi tertentu terhadap suhu. Ada yang mempunyai toleransi yang

besar terhadap perubahan suhu, disebut bersifat euryterm. Sebaliknya ada pula

yang toleransinya kecil, disebut bersifat stenoterm. Sebagai contoh ikan di daerah

xxxiii

sub-tropis dan kutub mampu mentolerir suhu yang rendah, sedangkan ikan di

daerah tropis menyukai suhu yang hangat. Suhu optimum dibutuhkan oleh ikan

untuk pertumbuhannya. Ikan yang berada pada suhu yang cocok, memiliki selera

makan yang lebih baik (Fujaya, 2004).

Menurut Mulyadi (2006), suhu di perairan dapat mempengaruhi kelarutan

dari

oksigen.

Apabila

suhu

meningkat

maka

kelarutan

oksigen

berkurang.

Oksigen terlarut yang biasanya dihasilkan oleh fitoplankton dan tanaman laut,

keberadaannya sangat penting bagi organisme yang memanfaatkannya untuk

kehidupan, antara lain pada proses respirasi dimana oksigen dibutuhkan untuk

pembakaran

bahan

organik

sehingga

terbentuk

energi

yang

diikuti

dengan

pembentukan CO 2 dan H 2 O. Oksigen sebagai bahan pernafasan dibutuhkan oleh

sel untuk berbagai reaksi metabolisme. Oleh sebab itu kelangsungan hidup ikan

ditentukan

oleh

lingkungannya.

kemampuannya

memperoleh

oksigen

yang

cukup

dari

Menurut Fujaya (2004), ikan umumnya bernafas dengan menggunakan

insang. Selain insang dan paru-paru, ada juga ikan yang memiliki alat pernafasan

tambahan yang biasanya mempu bertahan hidup dalam kondisi hypoxia bahkan

anoxia. Kebutuhan oksigen pada ikan sangat dipengaruhi oleh umur, aktivitas,

serta kondisi perairan. Semakin tua suatu organisme, maka laju metabolismenya

semakin rendah. Selain itu umur mempengaruhi ukuran ikan, sedangkan ukuran

ikan yang berbeda, membutuhkan oksigen yang berbeda pula. Semakin besar

ukuran ikan, jumlah konsumsi oksigen per mg berat badan semakin rendah. Selain

perbedaan ukuran, perbedaan aktivitas juga membutuhkan oksigen yang berbeda

pula. Ikan yang beraktivitas atau bergerak lebih banyak cenderung membutuhkan

xxxiv

banyak

oksigen

untuk

proses

respirasi.

Hal

ini

akan

meningkatkan

kadar

karbondioksida dalam perairan. Namun demikian, kelarutan oksigen ini sangat

ditentukan oleh kondisi perairan seperti suhu, salinitas dan sebagainya.

2.10. Tingkah laku ikan terhadap cahaya

Reaksi ikan terhadap cahaya dapat berbeda-beda, seperti fototaxis positif,

preferensi

untuk

intensitas

cahaya

optimum,

investigatory

reflex,

untuk

mengelompok dan mencari makan di bawah cahaya, serta disorientasi sebagai

akibat kondisi buatan dari gradient intensitas cahaya di bawah air (Sudirman et al

2004, dalam Ben-Yami 1987).

Cahaya lampu merupakan suatu bentuk alat bantu secara optik yang

digunakan

untuk

menarik

dan

mengkonsentrasikan ikan. Sejak waktu

lama

metode ini telah diketahui secara efektif di perairan air tawar maupun di laut,

untuk menangkap ikan secara individu maupun secara bergerombol. Kegunaan

cahaya lampu dalam metode penangkapan ikan adalah untuk menarik ikan, serta

mengkonsentrasikan dan menjaga agar ikan tetap terkonsentrasi dan mudah

ditangkap (Notanubun dan Wilhelmina, 2010).

Pola kedatangan ikan di sekitar pencahayaan ada yang langsung menuju

sumber cahaya dan ada juga yang hanya berada di sekitar sumber pencahayaan,

karena ketertarikan ikan berbeda-beda terhadap cahaya. Keberadaan ikan ini di

sebabkan ikan yang berhasil meloloskan diri tidak meninggalkan lokasi bagan.

Ikan-ikan ini diindikasikan adalah ikan yang memiliki sifat fototaksis positif dan

telah beradaptasi dengan cahaya masih terus bergerak mendekati dan hanya

menjauhi sumber cahaya jika ada predator (Sulaiman et al, 2006).

xxxv

III. MATERI DAN METODE

3.1.

Materi

3.1.1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum Tingkah Laku Ikan terdapat dalam

tabel 1.

Tabel 1. Alat yang digunakan dalam praktikum Tingkah Laku Ikan

No

Alat

Ketelitian

Kegunaan

1.

Alat bedah

- - - -

Untuk membedah kepala ikan Untuk membungkus spesimen Untuk menulis laporan sementara Untuk menyimpan sampel Untuk mengukur panjang tubuh ikan Untuk memotong spesimen Untuk penanaman spesimen Untuk mencatat Untuk mengikat spesimen Untuk mengukur diameter lensa ikan Untuk mengamati specimen Untuk dokumentasi Untuk menghitung kepadatan sel kon Untuk memotong kepala ikan Untuk tempat meletakkan ikan Untuk memperjelas gambar sel kon Untuk meletakan specimen mata ikan dan lensa setelah dibedah Tempat mengencerkan paraffin Untuk percobaan respon suara Untuk menghitung Untuk mengukur waktu

2.

Kassa

3.

Kertas folio

4.

Botol sample

5.

Penggaris

1 mm - - - - 0,05 cm 10 x 40 - - - - -

6.

Cutter

7.

Cetakan paraffin

8.

Alat tulis

9.

Benang jahit

10.

Jangka sorong

11.

Mikroskop

12.

Kamera

13.

Hand counter

14.

Pisau

15.

Sterofoam

16.

Spidol

17.

Beaker glass

1 ml

21.

Hot plate

-

22.

Notebook

-

23.

Kalkulator

-

25.

Stopwatch

1 sekon

3.1.2. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum Tingkah Laku Ikan tersaji dalam

tabel 2.

Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam Praktikum Tingkah Laku Ikan

No

Bahan

Kegunaan

1

Larutan Buoins

Merendam mata ikan selama 24 - 48 jam bertujuan agar bentuk sediaan sama dengan kondisi jaringan saat hidup pada proses fiksasi

3

Parafin

Media penyusupan penanaman dalam jaringan

5

Ikan Belanak

Ikan sampel yang akan diambil matanya

6

Alkohol

Merendam spesimen

7

Aquades

Membersihkan

3.2. Metode

Metode yang digunakan dalam Praktikum Tingkah Laku Ikan antara lain :

3.2.1. Analisis Penglihatan Ikan

Dalam analsis penglihatan ikan terdapat beberapa tahapan yaitu :

1. Fiksasi

Tahap ini berfungsi agar bentuk sediaan sama dengan kondisi jaringan saat

hidup. Larutan yang digunakan adalah larutan buoins yang merupakan larutan

majemuk yang terdiri atas asam pikrat, formalin, dan asam asetat pekat dengan

perbandingan 15:5:1. Sampel mata ikan yang telah direndam larutan buoins

kemudian direndam dalam alkohol 70.

2. Dehidrasi

Tahap ini berfungsi untuk mengeluarkan air dari dalam jaringan. Sebelum

menjalani proses dehidrasi, sampel mata ikan dipotong, diambil lensa matanya

kemudian diukur diameternya. Setelah diketahui posisi optic cleft, maka dapat

xxxvii

ditentukan bagian dorsal, ventral, nasal, dan temporal dari mata ikan tersebut.

Bola mata ikan pada bagian retina dibagi menjadi 24 bagian potongan, kemudian

dimasukkan

ke dalam

botol

sample

yang telah

berisi

alkohol

70.

Posisi

dehidrasi dilakukan dengan merendam sampel retina mata ikan pada alkohol 80%,

alkohol 90%, alkohol 95%, masing-masing selama 2 jam secara bergantian.

Kemudian

di

rendam

dalam

alkohol

murni

selama

12

jam.

Yang

terakhir

direndam larutan alkohol murni selama 1 jam.

 

3.

Penjernihan

 

Tujuan

penjernihan

adalah

untuk

menggantikan

tempat

alkohol

dalam

jaringan setelah proses dehidrasi. Sampel mata ikan dimasukkan ke dalam larutan

xylol-alkohol yaitu campuran antara larutan xylol dengan alkohol 100% dengan

perbandingan 1 : 1 selama 30 menit. Perendaman yang terlalu lama akan

mengakibatkan jaringan menjadi keras dan rapuh, selain itu kandungan zat-zat

berbahaya dalam larutan xylol dapat meracuni tubuh manusia.

4. Pencucian

Spesimen yang telah mengalami dehidrasi selanjutnya dicuci dengan cara

mencelupkan ke dalam air dalam waktu yang relatif singkat (10 - 30) detik.

Pencucian berguna untuk membersihkan sisa-sisa larutan dehidran dan fiksatif

yang masih menempel pada spesimen.

5. Infiltrasi

Tahap ini berfungsi untuk menyusupkan media penanaman dalam jaringan

media penanaman ini berguna untuk mempermudah proses penyayatan spesimen.

Media yang digunakan adalah parafin. Urutan infiltrasi adalah sebagai berikut :

xxxviii

a.

Parafin I dicairkan dahulu sampai bening dengan cara dipanaskan pada suhu

70

o C, kemudian spesimen direndam ke dalam parafin I selama 45 menit.

b.

Parafin II dicairkan dengan cara yang sama seperti parafin I kemudian

jaringan direndam ke dalam parafin II selama 45 menit.

c.

Parafin III dicairkan dengan cara yang sama seperti parafin I kemudian

jaringan direndam ke dalam parafin III selama 45 menit.

d.

Parafin IV dicairkan dengan cara yang sama seperti parafin I kemudian

jaringan direndam ke dalam parafin IV selama 45 menit.

6.

Penanaman jaringan (embedding)

Tahap

ini

berfungsi

untuk

mengeraskan/memadatkan

jaringan

agar

memudahkan

dalam

penyayatan.

Urutan

proses

embedding

adalah

sebagai

berikut:

a.

Alat blok, cashbath bersuhu 70 o C dan parafin dalm wadah parafin yang telah

dicairkan disiapkan.

b.

Parafin cair dituangkan sedikit ke tempat pemblokan (cetakan) lalu sampel

retina mata ikan diambil dari kain kassa dan ditata pada cetakan dengan

menggunakan pinset kemudian diberi tanda.

c.

Setelah sampel retina mata ikan ditata dan parafin dalam cetakan agak

mengeras, selnjutnya parafin cair dituangkan ke dalam cetakan sampai penuh.

d.

Parafin blok ditempatkan pada cold plate atau bantalan es yang bersuhu 5 o C

agar cepat membeku dan padat serta tidak pecah saat dilakukan penyayatan.

7.

Pengamatan

xxxix

Ikan Sampel FIKSASI Sampel Mata Ikan Larutan Bouins (24 jam) Alkohol 70% (2 jam) DEHIDRASI
Ikan Sampel
FIKSASI
Sampel Mata Ikan
Larutan Bouins (24 jam)
Alkohol 70% (2 jam)
DEHIDRASI
Alkohol 80% (2 jam)
Alkohol 90% (2 jam)
Alkohol 95% (2jam)
Alkohol absolute I (12 jam)
Alkohol absolute II (1 jam)
Xylol alcohol 90% (30 menit)
[[PENJERNIHAN
Xylol I (30 menit)
Xylol II (30 menit)
Xylol III (30 menit)

xl

Parafin I 70° (45 menit) INFILTRASI Parafin II 70° (45 menit) Parafin III 70° (45
Parafin I 70° (45 menit)
INFILTRASI
Parafin II 70° (45 menit)
Parafin III 70° (45 menit)
Isi cetakan dengan paraffin
setengah penuh
EMBEDDING
Masukkan jaringan dan
ditata
Tunggu hingga parafin agak mengeras,
lalu isi cetakan sampai penuh
Pengamatan dilakukan dengan
perbesaran 400 X
PENGAMATAN
Jaringan sel kon yang baik
kemudian di foto

Gambar 2. Skema Prosedur Histologi pada Praktikum Tingkah Laku Ikan

3.2.2. Analisis Ikan Respon Terhadap Lampu LED (Light Emitting Diode)

Prosedur dalam perlakuan analisis respon ikan terhadap lampu LED (Light

Emitting Diode) ialah :

1. Mengaklimatisasi ikan selama 2 hari untuk adaptasi dikolam

2. Mempersiapkan rangkaian LED dengan 4 warna berbeda (merah, biru, hijau,

dan putih)

3. Mengamati tingkah laku ikan sebelum diberi perlakuan dengan lampu LED

xli

4.

Mengamati respon ikan (negatif/positif) terhadap sumber cahaya selama 10

menit

5. Mengulang lagi perlakuan seperti pada no.4 dengan menggunakan sumber

cahaya yang berbeda-beda warna.

a.

AklimAklimitasiikanatisasi ikan

Persiapan rangkaian LED dengan warna berbeda

ikan Persiapan rangkaian LED dengan warna berbeda Pengamatan respon ikan (negatif/positif) Pengamatan kembali

Pengamatan respon ikan (negatif/positif)

warna berbeda Pengamatan respon ikan (negatif/positif) Pengamatan kembali dengan sumber cahaya yang berbeda- beda
Pengamatan kembali dengan sumber cahaya yang berbeda- beda warna
Pengamatan kembali dengan sumber cahaya yang berbeda- beda warna
Pengamatan kembali dengan sumber cahaya yang berbeda- beda warna

Pengamatan kembali dengan sumber cahaya yang berbeda- beda warna

Pengamatan kembali dengan sumber cahaya yang berbeda- beda warna
Pengamatan kembali dengan sumber cahaya yang berbeda- beda warna
Pengamatan kembali dengan sumber cahaya yang berbeda- beda warna
Pengamatan kembali dengan sumber cahaya yang berbeda- beda warna
kembali dengan sumber cahaya yang berbeda- beda warna Putih Hijau Biru Merah (+) Mendekati (-)
kembali dengan sumber cahaya yang berbeda- beda warna Putih Hijau Biru Merah (+) Mendekati (-)
kembali dengan sumber cahaya yang berbeda- beda warna Putih Hijau Biru Merah (+) Mendekati (-)
kembali dengan sumber cahaya yang berbeda- beda warna Putih Hijau Biru Merah (+) Mendekati (-)

Putih

Hijau

Biru

Merah

(+) Mendekati
(+)
Mendekati

(-)

Menjauhi

Gambar 3. Skema Prosedur Dalam Perlakuan Terhadap Pengaruh LED

3.2.3. Rangsang Suara

Prosedur dalam perlakuan terhadap pengaruh suhu ialah :

1. Aklimatisasi ikan sebelum perlakuan

2. Mengamati tingkah laku ikan sebelum diberikan rangsang suara

3. Memberikan rangsang suara pada ikan dengan perbedaan frekuensi

xlii

4. Mengamati

dan

menghitung

jumlah

gerakan

rangsang suara selama 1 menit

operculum

yang

diberikan

5. Mengamati tingkat stres ikan akibat perlakuan berdasarkan indikasi selain dari

gerakan operculum

b.

Aklimatisasi ikan

Pengamatan sebelum ada rangsang suara

b. Aklimatisasi ikan Pengamatan sebelum ada rangsang suara Pemberian rangsang suara Pengamatan dan penghitungan jumlah

Pemberian rangsang suara

sebelum ada rangsang suara Pemberian rangsang suara Pengamatan dan penghitungan jumlah gerakan operculum

Pengamatan dan penghitungan jumlah gerakan operculum

suara Pengamatan dan penghitungan jumlah gerakan operculum Pengamatan tingkat stress Gambar 4. Skema Prosedur Dalam

Pengamatan tingkat stress

Gambar 4. Skema Prosedur Dalam Perlakuan Terhadap Pengaruh Suara

3.2.3 Rangsang suhu

Prosedur dalam perlakuan terhadap pengaruh suhu ialah :

1. Aklimatisasi ikan sebelum perlakuan

2. Mengamati tingkah laku ikan sebelum diberikan rangsang suhu

3. Memberikan rangsang suara pada ikan dengan perbedaan suhu ekstrim

4. Mengamati

dan

menghitung

jumlah

gerakan

rangsang suara selama 1 menit

operculum

yang

diberikan

5. Mengamati tingkat stres ikan akibat perlakuan berdasarkan indikasi selain dari

gerakan operculum

xliii

a.

Aklimatisasikan

Pengamatan sebelum ada perubahan suhu

a. Aklimatisasikan Pengamatan sebelum ada perubahan suhu Pemberian es batu/air panas Pengamatan dan penghitungan jumlah

Pemberian es batu/air panas

sebelum ada perubahan suhu Pemberian es batu/air panas Pengamatan dan penghitungan jumlah gerakan operculum

Pengamatan dan penghitungan jumlah gerakan operculum

panas Pengamatan dan penghitungan jumlah gerakan operculum Pengamatan tingkat stress Gambar 5. Skema Prosedur Dalam

Pengamatan tingkat stress

Gambar 5. Skema Prosedur Dalam Perlakuan Terhadap Pengaruh Suhu

xliv

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Mata

4.1.1.

Struktur mata

Mata (penglihatan) pada ikan merupakan salah satu indera yang sangat

penting untuk mencari makan, menghindari predator/pemangsa atau dari

kepungan suatu alat tangkap. Walaupun ikan yang aktif serta pasif mencari makan

(seperti ikan-ikan dalam ekosistem terumbu karang) maka peranan matanya

sangatlah penting (Fitri, 2005).

Secara garis besar struktur mata pada ikan adalah sama dengan pada

organisme vertebrata lainnya, terdiri dari ruang depan, iris, lensa, ruang vitroeus

yang berisikan cairan kental yang dinamakan ”Vitroeus humor” dan dibatasi oleh

retina. Mata peka terhadap cahaya, dan komponen fungsionil utamanya ialah

retina yang pertumbuhannya berasal dari diensefalon. Diensefalon pada embrio

memperlihatkan sepasang evaginasi lateral yang dinamakan veskikula optic.

Bagian ujung distalnya dari vesikula ini memperlihatkan invaginasi yang

kemudian terbentuk cawan optic. Dinding sebelah dalam yang membatasi rongga

cawan, tumbuh menjadi retina, sedangkan yang sebelah luarnya tetap tipis

merupakan lapisan pigmen dari retina. Lapisan ektoderm di depan kapsula optik

akan membentuk plakoda yang mengalami invaginasi dan membentuk lensa.

Retina ialah selaput saraf yang terletak di bagian belakang dari rongga mata.

Unsur-unsur saraf dari retina terdiri atas batang dan kerucut yang peka terhadap

cahaya yang panjang gelombangnya bermacam-macam. Retina dan rongga bola

mata berada di sebelah dalam lapisan choroid yang berpigmen, dan terbuka pada

lubang pupil. Berkas cahaya masuk kedalam mata melalui pupil. Bagian dari

xlv

lapisan koroid di sekeliling pupil dinamakan iris. Mata agak datar pada bagian

anterior sehingga lensa yang cembung hampir menyentuh cornea yang merupakan

bagian transparan yang penting dari scleroid coatbiji mata. Lapisan choroid

terletak diantara retina dan sclera. Sclera Elasmobranchia dan Teleostei agak

kaku karena adanya struktur rawan. Sering kali teleostei mempunyai satu atau dua

scleral ossicles sebagai penunjang terhadap struktur rawan tersebut. Mata ikan

dilengkapi dengan tiga pasang otot oculomotor.

Peran kornea dalam memfokuskan cahaya sangat kecil karena perbedaan

indeks refraksi antara kornea dan air sangat kecil. Akibatnya lensa mata menjadi

lebih bulat dengan kemampuan membiaskan cahaya untuk meningkatkan

pemfokusan. Selain bentuk lensa yang bulat, pemfokusan cahaya dilakukan

melalui pergerakan lensa. Lensa mata ikan bergerak ke depan sebagaimana lensa

kamera untuk pandangan tertutup atau dekat dan bergerak mendekati retina secara

perlahan-lahan oleh bantuan otot refraktor pandangan jauh (Fujaya, 2004).

Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum struktur mata ikan, kami

menggunakan sampel mata ikan belanak (Valamugil seheli). Sebelum dilakukan

pembedahan mata ikan terlebih dahulu melakukan pengukuran pada tubuh ikan.

Ikan belanak besar memiliki panjang total 30 cm, dan panjang tubuh 24 cm. Ikan

belanak kecil mempunyai panjang total 25 cm dan panjang tubuh 19,5 cm. Setelah

mengukur panjang total dan panjang tubuh ikan selanjutnya dilakukan

pemotongan kepala ikan dan pengambilan sampel mata ikan pada kedua ikan

tersebut. Diameter lensa ikan belanak besar 1,65 mm dan diameter ikan belanak

kecil 1,55 mm. Hubungan antara ukuran panjang tubuh ikan dan diameter lensa

ditunjukkan dalam grafik di bawah ini.

xlvi

1.66 1 65 1.64 1.62 1.6 1.58 1 55 1.56 1.54 1.52 1.5 240 195
1.66
1 65
1.64
1.62
1.6
1.58
1 55
1.56
1.54
1.52
1.5
240
195
Panjang tubuh ikan (mm)
Diameter lensa (mm)

Gambar 6. Grafik Hubungan Panjang Tubuh dengan Diameter Lensa

Mata ikan telah melalui seleksi alamiah dan evolusi. Proses evolusi

tersebut telah memaksimalkan kemampuan fotoreceptor pada sistem penglihatan

ikan, dimana mata ikan dapat dapat menyerap puncak panjang gelombang yang

berbeda-beda. Kondisi ini didukung oleh banyaknya pigmen penglihatan pada

retina dan kemampuan menyerap matahari. Berbagai jenis ikan yang banyaknya

dijumpai pada lapisan air yang relatif dangkal, banyak menerima cahaya matahari

pada waktu siang hari dan pada umumnya ikan-ikan yang hidup di daerah tersebut

mampu membedakan warna sama halnya dengan manusia sedangkan beberapa

jenis ikan yang hidup di laut dalam, dimana tidak semua jenis cahaya dapat

menembus, maka banyak diantara ikan-ikan tersebut tidak dapat membedakan

warna atau buta warna (Harefa, 2011).

4.1.2. Ketajaman penglihatan

Pada ikan Belanak (Valamugil seheli) besar dengan panjang tubuh 24 cm

dan panjang total 30 cm memiliki diameter lensa 13,30 mm. Ikan Belanak

(Valamugil seheli) kecil memiliki panjang tubuh 19,5 cm dan panjang total 25 cm

xlvii

dan diameter lensa 11,25 mm.Pengamatan dan analisa diperoleh nilai ketajaman

untuk ikan belanak besar sebesar 0,10 mm. Pada ikan belanak kecil sebesar 0,07

mm. Hubungan

antara

panjang

tubuh

ditunjukkan dalam Gambar.

dengan

ketajaman

penglihata

dapat

0.12 0 10 0.1 0.08 0 07 0.06 0.04 0.02 0 240 195 Panjang tubuh
0.12
0 10
0.1
0.08
0 07
0.06
0.04
0.02
0
240
195
Panjang tubuh ikan (mm)
Ketajaman Penglihata (mm)

Gambar 7. Grafik Hubungan Panjang Tubuh dengan Ketajaman Penglihatan

Ketajaman penglihatan yang dimiliki ikan belanak semakin meningkat

dengan bertambahnya ukuran panjang tubuh, yang ditandai dengan semakin

besarnya diameter lensa mata. Hal ini disebabkan diameter bola mata yang

semakin besar maka datangnya gambar suatu objek melalui lensa mata menuju ke

retina akan semakin cepat, karena sudut pembeda terkecil yang dimiliki semakin

kecil. Dengan sudut pembeda terkecil yang akan mempertajam penglihatan ketika

melihat objek. Ketajaman penglihatan dari ikan belanak Besar

1,85673 mm

sedangkan ikan belanak kecil

0,1498 mm. Menurut Purbayanto et al dalam Fitri

(2005), ketajaman penglihatan semakin meningkat secara linier dengan semakin

bertambahnya ukuran panjang tubuh. Hal ini disebabkan bahwa dengan semakin

panjang ukuran tubuh ikan maka diameter bola mata semakin besar dan jumlah sel

xlviii

reseptor kon semakin sedikit maka datangnya gambar suatu objek benda melalui

lensa mata menuju ke retina akan semakin cepat karena sudut pembeda terkecil

yang dimiliki semakin kecil. Berikut grafik hubungan antara panjang tubuh

dengan sudut pembeda terkecil:

0.0025 0 00194 0.002 0 0015 0.0015 0.001 0.0005 0 240 195 Panjang tubuh ikan
0.0025
0 00194
0.002
0 0015
0.0015
0.001
0.0005
0
240
195
Panjang tubuh ikan (mm)
Sudut Pembeda Terkecil
(derajad)

Gambar

8.

Grafik

Hubungan Panjang Tubuh dengan Sudut Pembeda Terkecil

Diameter lensa ikan belanak akan semakin meningkat dengan bertambahnya

ukuran panjang tubuh ikan dan kepadatan sel kon akan semakin menurun secara

linier dengan bertambahnya ukuran panjang tubuh ikan belanak, dimana semakin

panjang tubuh ikan makan akan semakin besar diameter lensa mata ikan belanak.

Menurut Giovani dalam Fitri dan Asriyanto (2009), ketajaman penglihatan

ikan tergantung dari dua faktor yaitu diameter lensa dan kapadatan sel kon pada

retina. Diameter lensa mata ikan berbanding lurus dengan ukuran panjang tubuh

ikan yang artinya semakin panjang tubuh ikan maka diameter lensa mata ikan

akan bertambah pula. Hal ini terjadi karena diameter lensa mata ikan yang ikut

bertambah mengakibatkan gambar suatu objek yang

melalui lensa mata menuju

retina akan semakin cepat, karena nilai sudut pembeda terkecil semakin kecil. Hal

xlix

ini dapat dilihat dari ukuran panjang tubuh ikan belanak besar 360 mm maka

diameter lensanya adalah 6,3 mm, sementara ukuran panjang tubuh ikan belanak

kecil 250 mm memiliki diameter lensa sebesar 4,3 mm. Diameter lensa semakin

besar karena dengan bertambahnya panjang tubuh ikan mengakibatkan anggota

tubuh yang ada pada ikan juga akan semakin besar, termasuk diameter lensa mata

ikan tersebut. Dengan semakin besar diameter lensa maka ketajaman matanya

akan

bertambah

baik.

Hubungan

antara

panjang

tubuh

dengan

ketajaman

kepadatan sel kon dapat ditunjukkan dalam gambar.

86 85 85 84 83 82 80 81 80 79 78 77 240 195 Panjang
86
85
85
84
83
82
80
81
80
79
78
77
240
195
Panjang tubuh ikan (mm)
Kepadatan Sel Kon

Gambar 9.

Grafik

Hubungan Panjang Tubuh dengan Kepadatan Sel Kon

Menurut Tamura dalam Fitri (2005) hasil analisis histologi dari retina mata

Ephinephelus tauvina menunjukkan bahwa semakin panjang ukuran tubuh 110 -

280 mm BL maka kepadatan jumlah sel kon akan semakin menurun. Kenyataan

tersebut disebabkan terjadinya perbesaran pada ukuran sel kon pada mata karena

pada dasarnya kepadatan sel kon pada ikan akan tetap selama hidupnya.

l

4.1.3.

Jarak pandang maksimum

Pada

praktikum

yang

dilakukan

untuk

memperoleh

jarak

pandang

maksimum ikan, digunakan 4 objek, yaitu Pelampung PVC dengan diameter

36,05 mm, Pelampung gabus dengan diameter 6,3 mm, Pemberat timah dengan

diameter 9,2 mm dan Tali PE dengan diameter 1,35 mm. Diperoleh hasil, pada

ikan belanak besar mempunyai jarak pandang maksimum pada objek Pelampung

PVC sebesar 64,537 m, pada objek Pelampung gabus sebesar 34,51676 m, pada

objek pemberat sebesar 12,8205 m, dan pada objek Tali PE sebesar 6,8681 m.

Pada ikan belanak kecil mempunyai jarak pandang maksimum

pada objek

Pelampung PVC sebesar 5,1477 m, pada objek Pelampung gabus sebesar 1,3515

m, pada objek pemberat sebesar 1,033 m, dan pada objek Tali PE sebesar 1,1078

m. Berikut merupakan grafik hubungan jarak pandang maksimum dengan panjang

tubuh :

70 60 50 40 Pelampung PVC 30 Pemberat Tali PE 20 10 0 Jarak Pandang
70
60
50
40
Pelampung PVC
30
Pemberat
Tali PE
20
10
0
Jarak Pandang Maksimum
(m)

240

195

Panjang Tubuh (cm)

Gambar 10 . Grafik Hubungan Panjang Tubuh dengan Jarak Pandang Maksimum

Jarak

pandang

maksimum

yang

dimiliki

ikan

belanak

akan

semakin

meningkat dengan meningkatnya ukuran panjang tubuh. Artinya bahwa dengan

ukuran panjang tubuh yang semakin panjang maka kemampuan ikan untuk dapat

li

mendeteksi adanya benda dihadapannya akan semakin jauh. Selain itu, faktor

yang mempengaruhi besarnya jarak pandang maksimum ikan adalah besarnya

diameter objek yang dilihat.Semakin besar diameter objek yang dilihat, maka

semakin besar nilai jarak pandang maksimum ikan.

Menurut

Zhang

et

al

(1993)

dalam

Geonita

(2004),

jarak

pandang

maksimum adalah kemampuan ikan untuk melihat benda secara jelas pada jarak

tertentu.

Kemampuan

ini

dalam

penerapannya

digunakan

untuk

mengetahui

kemungkinan pelolosan ikan dari suatu alat tangkap yang sedang dioperasikan,

untuk mengetahui kemampuan jarak pandang maksimum ikan, terlebih dahulu

perlu diketahui nilai sudut pembeda terkecil/minimum separable angle dalam

satuan menit. Perhitungan diasumsikan bahwa keadaan perairan adalah jernih dan

tingkat pencahayaan dalam keadaan terang.

Menurut Fujaya (2004), bahwa dengan ukuran panjang tubuh yang semakin

besar maka kemampuan ikan untuk dapat mendeteksi adanya benda dihadapannya

akan semakin jauh. Selain itu, faktor yang mempengaruhi besarnya nilai jarak

pandang maksimum ikan adalah besarnya diameter objek yang dilihat. Semakin

besar diameter objek yang dilihat, maka semakin besar pula nilai jarak pandang

maksimum ikan.

Menurut Razak (2005), Jarak pandang maksimum adalah kemampuan ikan

untuk melihat suatu objek benda secara jelas pada jarak tertentu. Kemampuan

jarak

pandang

maksimum

ikan

berbeda

seiring

dengan

perbedaan

ukuran

tubuhnya. Untuk mengetahui kemampuan jarak pandang maksimum ikan, terlebih

dahulu perlu diketahui nilai sudut pembeda terkecil.

lii

4.1.4.

Sumbu penglihatan

Ikan belanak besar memiliki kepadatan sel kon tertinggi pada bagian 5

dengan jumlah 85. Ikan ini memiliki arah penglihatan lower fore dan letak

kepadatan sel kon pada dorso temporal. Optic cleft dari ikan ini mengarah ke arah

kiri. Ikan belanak kecil memiliki kepadatan sel kon tertinggi pada bagian 5

dengan jumlah 80. Menurut Taruma (1957) dalam Geonita (2004), menentukan

sumbu penglihatan terlebih dahulu mengetahui kepadatan sel kon yang biasanya

terletak pada daerah dorso-temporal, temporal, dan ventro-temporal di retina

mata ikan. Bidang pengllihatan yang dihasilkan dengan menarik garis lurus dari

bagian

retina

menuju

ketitk

lensa

mata,

biasanya

mengahadap

arah

depan

menurun (lower-fore), arah depan (fore), dan arah depan naik (upper-fore).

Pada ikan belanak (Valamugil seheli) besar dan kecil daerah sel kon yang

terbanyak berada pada daerah dorso-temporal, dengan arah sumbu penglihatan

lower-fore. Hal yang sedemikian ini menjadi ciri pelagis. Menentukan sumbu

penglihatan terlebih dahulu mengetahui kepadatan sel kon yang biasanya terletak

pada daerah dorso-temporal, temporal dan ventro-temporal di retina mata ikan.

Bidang penglihatan yang dihasilkan dengan menarik garis lurus dari bagian retina

menuju ke titik lensa mata, biasanya menghadap arah depan menurun (lower-

fore), arah depan (fore) dan arah depan-naik (upper-fore) (Halim, 2005).

Dari hasil pengamatan kami juga mendapatkan perhitungan tentang sudut

pembeda terkecil pada penglihatan mata ikan. Sudut pembeda terkecil pada mata

ikan besar yaitu 0,002 rad. Pada ikan kecil, sudut pembeda terkecilnya didapat

0,0002 rad. Menurut Razak (2005), pada daerah retina yang memiliki kepadatan

sel kon tertinggi pada bagian dorso-temporal dengan perubahan arah pada diopter

liii

ke arah depan menurun

(lower-fore) maka sumbu penglihatan juga akan ke arah

depan menurun pada sudut berkisar 26 0 . Kepadatan tertinggi sel kon di bagian

temporal, maka ada dua kemungkinan untuk perubahan arah pada diopter, jika

perubahan arah pada diopter ke arah depan

maka maka sumbu penglihatan juga

akan ke arah depan pada sudut 0 0 . Kepadatan tertinggi sel kon di bagian ventro-

temporal, maka perubahan arah pada diopter ke arah depan-naik (upper-fore)

maka sumbu penglihatan juga akan ke arah depan-naik (upper-fore) pada sudut

30 0 .

Sumbu penglihatan masing-masing jenis ikan dapat ditentukan setelah

nilai kepadatan sel kon tiap bagian dari retina mata ikan diketahui, yaitu dengan

cara menarik garis lurus melalui lensa mata. Sumbu penglihatan ikan kerapu

adalah arah depan atas (fore upper) dengan kepadatan sel kon terdapat pada

daerah ventro-temporal. Pada ikan kakap merah, sumbu penglihatan mengahadap

depan lurus (fore) dengan kepadatan sel konterletak pada daerah temporal (Fitri,

2009).

4.2.

Suara

4.2.1

Tingkah laku ikan saat kondisi terkontrol

Tingkah laku ikan nila (Oreochromis nilotikus) pada saat kondisi terkontrol

tidak begitu aktif. Pada kondisi ini, ikan lebih banyak diam dipinggir sudut

akuarium.

Salah

satu

faktor

yang

menyebabkan

ikan

tidak

aktif

adalah

kekurangan oksigen pada akuaium, pada saat ini aerator pada akuarium tidak

dijalankan. sesekali, ikan terlihat naik kepermukaan untuk mendapatkan oksigen.

liv

90 78 80 61 70 60 58 56 60 50 Bukaan 40 Operkulum Kondisi 30
90
78
80
61
70
60
58
56
60
50
Bukaan
40
Operkulum
Kondisi
30
terkontrol
20
10
0
1
2
3
4
5
Menit Ke-
Jumlah Bukaan Operculum

Gambar 11. Grafik Hubungan Jumlah Gerakan Operculum dengan Waktu Rangsang Suara Bukaan operculum pada ikan nila pada saat kondisi terkontrol rata-rata 62

kali permenit. Hal ini juga disebabkan lingkungan sekitar ikan yang kurang

mendukung. Lingkungan yang kurang mendukung akan mempengaruhi tingkah

laku ikan, seperti bukaan operculum, kibasan sirip, dan lain sebagainya.

4.2.2. Tingkah laku saat diberi rangsang suara

Tingkah laku ikan nila (Oreochromis nilotikus) pada saat diberi rangsang

suara dengan kadar suara rendah sedikit aktif. Suara ini merangsang kan untuk

merespon suara dan mendekati. Respon yang diberikan ikan pada menit pertama

ikan menjauhi suara dengan bukaan operculum sebanyak 88

kali. Pada menit ke

dua, ikan mendekati sumber suara dan berdiam dibawahnya, bukaan operculum

nya sebanyak 73 kali. dimenit ke tiga, ikan menjauhi sumber suara, dengan

bukaan operculum sebanyak 106 kali, menit ke empat ikan mendekati suara

dengan bukaan operculum sebanyak 103 menit. pada menit ke lima dengan kadar

suara rendah ikan mendekati kembali sumber suara dan berenang disekita sumber

suara, bukaan operculum sebanyak 104 kali.

lv

160 140 120 100 80 60 40 20 0 Jumlah Bukaan Operculum
160
140
120
100
80
60
40
20
0
Jumlah Bukaan Operculum

1

2

3

4

5

low100 80 60 40 20 0 Jumlah Bukaan Operculum 1 2 3 4 5 middle loud

middle80 60 40 20 0 Jumlah Bukaan Operculum 1 2 3 4 5 low loud Waktu

loud60 40 20 0 Jumlah Bukaan Operculum 1 2 3 4 5 low middle Waktu (menit

Waktu (menit Ke- ) Gambar 12. Grafik Hubungan Jumlah Gerakan Operculum dengan Waktu Rangsang Suara Respon yang diberikan ikan pada saat frekuensi suara ditambah menjadi

sedang berbeda dengan frekuensi rendah. Pada saat frekuensi suara dinaikkan,

tingkah laku ikan semakin aktif, pada menit pertama ikan mendekati sumber suara

dan berdiam dibawah sumber suara dan bukaan operculum sebanyak 88 kali,

dimenit ke dua bukaan operculum73 kali dan tingkah laku ikan merespon dengan

berenang disekitar sumber suara tersebut. Menit ke tiga, ikan menjauh dari

sumber suara tetapi bukaan operculum nya sebanyak 106 kali. Pada menit ke

empat, bukaan operculum melambat dan hanya 103 kali, tetapi respon ikan pada

menit ini dengan mendekati sumber suara dan berdiam di bawah sumber suara.

Menit kelima bukaan operculum sebanyak 104 kali dan tingkah laku ikan diam

dibawah sumber suara. Tingkah laku dan respon ikan pada saat frekuensi suara

dinaikkan menjadi lebih sedang (middle).

Sumber suara ini mempengaruhi

keadaan lingkungan ikan dan ikan yang ada didalam akuarium tersebut. sumber

suara tersebut menjadi daya tarik bagi ikan untuk mendekati sumber suara. Pada

kondisi frekuensi suara menjadi sedang (middle), bukaan operculum ikan semakin

mulai cepat. pada menit pertama bukaan operculum ikan sebanyak 99 kali dan

lvi

respon ikan mendekati sumber suara dan mengelilingi sumber suara. Pada menit

kedua ikan membuka operculum sebanyak 100 kali, tingkah laku ikan tidak jauh

berbeda dengan menit pertama. mendekati sumber suara dan berenang disekeliling

sumber suara. Di menit ke tiga, bukaan operculum ikan terjadi kenaikan menjadi

116 kali, tingkah laku ikan pun menjauhi sumber suara dan berdiam disudut

akuarium. Pada saat menit keempat bukaan operculum ikan semakin tinggi

sebanyak 136

kali dan tingkah laku ikan kembali mendekati sumber suara dan

berenang disekitar sumber suara. Menit ke lima ikan membuka

operculum

sebanyak 123 kali dan tingkah laku ikan berenang dan berdiam disekitar sumber

suara.

Sedangkan Pada kondisi frekuensi suara menjadi tinggi

(loud), bukaan<