Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH KONTROL DIRI DAN KEMATANGAN EMOSIONAL PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Oleh: KELOMPOK 5 MUHAMMAD YUSUF 1129040126

DARMAWATI A. 1129040139 SYAMSUDIAH SYAKIR 1229041027

PRIODI PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA DAN KOMPUTER JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2014

KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul Kontrol Diri dan Kematangan Emosional.

Dalam pembuatan makalah ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya Dosen kamu yang telam membimbing kami dalam mata kuliah profesi pendidikan dan telah memberi kesempatan dan memfasilitasi kepada penulis sehingga makalah ini bisa selesai dengan lancar.

Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata penulis sampaikan terimakasih. Makassar, april 2013

Penulis

DAFTAR ISI

SAMPUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB 1: PENDAHULUAN

BAB 2: PEMBAHASAN

BAB 3: KESIMPULAN

16

DAFTAR PUSTAKA

17

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berbagai permasalahan yang sering muncul dalam kehidupan ini banyak diakibatkan oleh ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan diri. Tawuran antar pelajar, mengambil hak milik orang lain (mencuri, merampok, korupsi), vandalism, penyalahgunaan obat terlarang dan free sex merupakan contoh perilaku yang timbul karena ketidakmampuan dalam mengendalikan diri (self control). Perkembangan self control pada dasarnya sejalan dengan bertambahnya usia seseorang. Semakin dewasa diharapkan mempunyai self control yang lebih baik dibanding saat remaja dan anak-anak. Namun demikian beberapa kasus menunjukkan hal yang sebaliknya, dimana beberapa permasalahan tersebut juga dilakukan oleh orang yang sudah dewasa. Mahasiswa yang telah beranjak dewasa (bertambahnya usia dan ilmu) tentunya diharapkan oleh masyarakat mempunyai self control yang lebih tinggi dibanding anak-anak SMA. Tentunya akan aneh jika bertambahnya usia tidak diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri, bahkan berbuat sesuka hati dengan membiarkan perilaku yang lebih mementingkan egosime tanpa menghiraukan konsekuensi yang akan diperoleh. Dalam pengendalian diri ini seringkali ditemui salah satu sebabnya yaitu kematangan emosional, maka dari itu, dalam makalah ini dibahas tentang Kontrol Diri dan Kematangan emosional itu sendiri.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan Kontrol Diri? 2. Apakah yang dimaksud dengan kematangan emosional dan apa yang mempengaruhinya? 3. Apasajakah Aspek Aspek yang terdapat dalam Kontrol Diri? 4. Bagaimanakah cara mengembangkan Kontrol diri?

C. Tujuan Adapun Tujuan pembuatan makalah ini, yaitu: 1. Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan Kontrol Diri. 2. Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan kematangan emosional dan apa yang mempengaruhinya. 3. Untuk mengetahui apasajakah aspek-aspek yang terdapat dalam Kontrol Diri? 4. Untuk mengetahui bagaimanakah cara mengembangkan Kontrol diri?

D. Manfaat Adapun Manfaat pembuatan makalah ini, yaitu: 1. Mahasiswa dapat mengetahui apakah yang dimaksud dengan Kontrol Diri. 2. Mahasiswa dapat mengetahui apakah yang dimaksud dengan kematangan emosional dan apa yang mempengaruhinya. 3. Mahasiswa dapat mengetahui apasajakah aspek-aspek yang terdapat dalam Kontrol Diri? 4. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimanakah cara mengembangkan Kontrol diri?

BAB II PEMBAHASAN A. Kontrol Diri 1. Pengertian Kontrol Diri Kontrol diri merupakan salah satu potensi yang dapat dikembangkan dan digunakan individu selama proses-proses dalam kehidupan, termasuk dalam menghadapi kondisi yang terdapat di lingkungan tempat tinggalnya. Para ahli berpendapat bahwa selain dapat mereduksi efek-efek psikologis yang negatif dari stressor-stessor lingkungan, kontrol diri juga dapat digunakan sebagai suatu intervensi yang bersifat pencegahan (Gustinawati, 1990). Kontrol diri merupakan satu potensi yang dapat dikembangkan dan digunakan individu selama proses-proses dalam kehidupan, termasuk dalam menghadapi kondisi yang terdapat dilingkungan yang berada disekitarnya, para ahli berpendapat bahwa kontrol diri dapat digunakan sebagai suatu intervensi yang bersifat preventif selain dapat mereduksi efek-efek psikologis yang negative dari stressor-stresor lingkungan. Disamping itu kontrol diri memiliki makna sebagai suatu kecakapan individu dalam kepekaan membaca situasi diri dan lingkungannya serta kemampuan untuk mengontrol dan mengelola faktor-faktor perilaku sesuai dengan situasi dan kondisi untuk menampilkan diri dalam melakukan sosialisasi (Calhoun dan Acocela, 1990). Kontrol diri dapat mencakup semua bidang perilaku, yaitu perilaku politik, sosial, spritual, budaya dan perilaku kerja. Pengaruh kontrol diri terhadap timbulnya tingkah laku seseorang dapat dianggap cukup besar, karena tingkah laku overt merupakan hasil proses pengontrolan diri seseorang.

Dalam pandangan Zakiyah Darajat bahwa orang yang sehat mentalnya akan dapat menunda buat sementara pemuasan kebutuhannya itu atau ia dapat mengendalikan diri dari keinginan-keinginan yang bisa menyebabkan hal-hal yang merugikan. Dalam pengertian yang umum pengendalian diri lebih menekankan pada pilihan tindakan yang akan memberikan manfaat dan keuntungan yang lebih luas, tidak melakukan perbuatan yang akan merugikan dirinya di masa kini maupun masa yang akan datang dengan cara menunda kepuasan sesaat. Menurut kamus psikologi (Chaplin, 2002), definisi kontrol diri atau self control adalah kemampuan individu untuk mengarahkan tingkah lakunya sendiri dan kemampuan untuk menekan atau menghambat dorongan yang ada. Goldfried dan Merbaum, mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu kearah konsekuensi positif. Definisi kontrol diri menurut Mahoney dan Thoresen, (dalam Robert, 1975) adalah komponen yang secara utuh (integrative) yang dilakukan individu terhadap lingkungannya. Individu yang memiliki kontrol diri yang tinggi akan menggunakan cara-cara yang tepat untuk berperilaku dalam kondisi yang berbeda atau bervariasi. Hurlock (1984) menyatakan bahwa kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan yang terdapat dalam dirinya. Calhoun dan Acocella (1990) mendefinisikan kontrol diri (self- kontrol) sebagai pengaturan proses-proses fisik, psikologis, dan perilaku seseorang dengan kata lain serangkaian proses yang membentuk dirinya sendiri.

Goldfried dan Merbaum (dalam Lazarus, 1976), mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif. Kontrol diri juga menggambarkan keputusan individu yang melalui pertimbangan kognitif untuk menyatukan perilaku yang telah disusun untuk meningkatkan hasil dan tujuan tertentu seperti yang diinginkan (Lazarus, 1976). Kontrol diri merupakan suatu kecakapan individu dalam kepekaan membaca situasi diri dan lingkungannya serta kemampuan untuk mengontrol dan mengelola faktor-faktor perilaku sesuai dengan situasi dan kondisi untuk menampilkan diri dalam melakukan sosialisasi. Kemampuan untuk mengendalikan perilaku, kecenderungan untuk menarik perhatian, keinginan untuk mengubah perilaku agar sesuai untuk orang lain, menyenangkan orang lain, selalu konform dengan orang lain, menutup perasaannya (Roosianti, 1994). Calhoun dan Acocella (1990), mengemukakan dua alasan yang mengaruskan individu untuk mengontrol diri secara kontinyu. Pertama, Individu hidup bersama kelompok sehingga dalam memuaskan agar tidak

keinginannya

individu

harus

mengontrol

perilakunya

mengganggu kenyamanan orang lain. Kedua, Masyarakat mendorong individu untuk secara konstan menyusun standar yang lebih baik bagi dirinya, sehingga dalam rangka memenuhi tuntutan tersebut dibuatkan pengontrolan diri agar dalam proses pencapaian standar tersebut individu tidak melakukan hal-hal yang menyimpang. Berdasarkan penjelasan di atas, maka kontrol diri dapat diartikan sebagai suatu aktivitas pengendalian tingkah laku, pengendalian tingkah laku mengandung makna yaitu melakukan pertimbangan-pertimbangan terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu untuk bertindak. Semakin tinggi kontrol diri semakin intens pengendalian terhadap tingkah laku.

B. Pengertian Kematangan Emosional Kematangan emosi diawali dengan pengertian emosi menurut Kamus Besar Psikologi Chaplin, (2001) mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Mappiare menyebutkan bahwa kematangan emosi sangat penting dalam keutuhan rumah tangga, dengang memiliki emosi yang matang dapat membina hubungan yang harmonis, menyesuaikan dengan pasangan, mencegah dan menyelesaikan konflik (1983). Hurlock menyatakan bahwa kematangan emosi adalah bahwa individu menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional, tidak lagi bereaksi tanpa berpikir sebelumnya seperti anak-anak atau orang yang tidak matang (1990). Selain itu Yusuf (2010) mengatakan bahwa kematangan emosi sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, apabila lingkungan tersebut kondusif dalam arti harmonis, saling mempercayai, menghargai cenderung dapat mencapai kematangan emosi. Menurut Murray (1992) individu yang memiliki banyak pengalaman atau usia yang dewasa belum tentu memiliki kematangan emosi. Berdasarkan pengertian dari beberapa para ahli dapat disimpulkan bahwa kematangan emosi adalah integrasi antara proses biologis, proses belajar, kondisi sosio-emosional lingkunganya untuk menilai situasi secara kritis yang akan mengekspresikan perasaan dengan yakin dan berani

diimbangi dengan berbagai pertimbangan.

1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kematangan Emosi Ada kematangan beberapa emosi faktor yang mempengaruhi 2000, perkembangan yang

seseorang

(Astuti,

Faktor-faktor

mempengaruhi Kematangan Emosi, para. 1), antara lain: a. Pola asuh orang tua Keluarga merupakan lembaga pertama dan utama dalam kehidupan anak, tempat belajar dan menyatakan dirinya sebagai makhluk sosial, karena keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama tempat anak dapat berinteraksi. Dari pengalaman berinteraksi dalam keluarga ini akan menentukan pula pola perilaku anak.

b. Pengalaman traumatic Kejadian-kejadian traumatis masa lalu dapat mempengaruhi perkembangan emosi seseorang. Kejadian-kejadian traumatis dapat bersumber dari lingkungan keluarga ataupun lingkungan di luar keluarga.

c. Temperamen Temperamen dapat didefinisikan sebagai suasana hati yang mencirikan kehidupan emosional seseorang. Pada tahap tertentu masing-masing individu memiliki kisaran emosi sendiri-sendiri, dimana temperamen merupakan bawaan sejak lahir, dan merupakan bagian dari genetik yang mempunyai kekuatan hebat dalam rentang kehidupan manusia.

10

d. Jenis kelamin Perbedaan jenis kelamin memiliki pengaruh yang berkaitan dengan adanya perbedaan hormonal antara laki-laki dan perempuan, peran jenis maupun tuntutan sosial yang berpengaruh terhadap adanya perbedaan karakteristik emosi diantara keduanya.

e. Usia Perkembangan kematangan emosi yang dimiliki seseorang sejalan dengan pertambahan usia, hal ini dikarenakan kematangan emosi dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan dan kematangan fisiologis seseorang.

C. Jenis dan Aspek-Aspek Kontrol Diri Block dan Block (dalam Lazarus, 1976) menjelaskan ada tiga jenis kualitas kontrol diri, yaitu over control, under control, dan appropriate control. Over control merupakan kontrol diri yang dilakukan oleh individu secara berlebihan yang menyebabkan individu banyak menahan diri dalam beraksi terhadap stimulus. Under control merupakan suatu kecenderungan individu untuk melepaskan impuls dengan bebas tanpa perhitungan yang masak. Appropriate control merupakan kontrol individu dalam upaya mengendalikan impuls secara tepat.

11

Berdasarkan Konsep Averill (1973), terdapat 3 jenis kemampuan mengontrol diri yang meliputi 5 aspek. Averill (1973) menyebut kontrol diri dengan sebutan kontrol personal, yaitu kontrol perilaku (behavior control), Kontrol kognitif (cognitive control), dan mengontrol keputusan (decisional control). 1. Behavioral control Merupakan kesiapan atau tersedianya suatu respon yang dapat secara langsung mempengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Kemampuan mengontrol perilaku ini diperinci menjadi dua komponen, yaitu mengatur pelaksanaan stimulus (regulated (stimulus merupakan

administration) dan kemampuan memodifikasi modifiability). Kemampuan mengatur

pelaksanaan

kemampuan individu untuk menentukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan, dirinya sendiri atau sesuatu diluar dirinya. Individu yang kemampuan mengontrol dirinya baik akan mampu mengatur perilaku dengan menggunakan kemampuan dirinya dan bila tidak mampu individu akan menggunakan sumber eksternal. Kemampuan mengatur stimulus merupakan kemampuan untuk mengetahui bagaimana dan kapan suatu stimulus yang tidak dikehendaki dihadapi. Ada beberapa cara yang dapat digunakan, yaitu mencegah atau menjauhi stimulus, menempatkan tenggang waktu di antara rangkaian stimulus yang sedang berlangsung, menghentikan stimulus sebelum waktunya berakhir, dan membatasi intensitasnya.

12

2. Cognitive control Merupakan kemampuan individu dalam mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau

menggabungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau untuk mengurangi tekanan. Aspek ini terdiri atas dua komponen, yaitu memperoleh informasi (information gain) dan melakukan penilaian (appraisal). Dengan informasi yang dimiliki oleh individu mengenai suatu keadaan yang tidak menyenangkan, individu dapat mengantisipasi keadaan tersebut dengan berbagai pertimbangan. Melakukan penilaian berarti individu berusaha menilai dan dan menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara memperhatikan segi-segi positif secara subjektif.

3. Decisional control Merupakan kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya. Kontrol diri dalam menentukan pilihan akan berfungsi baik dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan, atau kemungkinan pada diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan. Dari uraian dan penjelasan di atas,

13

maka untuk mengukur kontrol diri digunakan aspek-aspek sebagai berikut : a) Kemampuan mengontrol perilaku b) Kemampuan mengontrol stimulus c) Kemampuan mengantisipasi suatu peristiwa atau kejadian d) Kemampuan menafsirkan peristiwa atau kejadian e) Kemampuan mengambil keputusan Alasan penggunaan konsep dari Averill dalam mengukur tingkat kontrol diriyang dimiliki oleh individu yaitu dapat diketahui mengenai jenis kontrol diri yang digunakan oleh individu lebih jelas dan lebih rinci.Hal ini disebabkan pada konsep inidapat diketahui mengenai aspek-aspek yang digunakan oleh individu dalam melakukan proses pengontrolan diri. D. Cara Mengembangkan Kemampuan Kontrol Diri Untuk mengembangkan kemampuan kontrol diri, dapat dilakukan beberapa cara, yaitu: 1. Pertama, Anda perlu mengidentifikasi apa bidang kehidupan Anda, Anda perlu untuk mendapatkan lebih banyak kontrol diri . Di mana Anda menemukan diri kurang dalam pengendalian diri ? Daerah yang mungkin bisa, yaitu ; makan, perbelanjaan, minum, pekerjaan, perjudian, merokok, dan perilaku obsesif. 2. Cobalah mengidentifikasi emosi yang kurang kontrol, seperti

kemarahan , ketidakpuasan , ketidakbahagiaan , kebencian , kesenangan atau ketakutan . 3. Mengidentifikasi pikiran dan keyakinan yang mendorong Anda untuk berperilaku dengan cara yang tidak terkendali .

14

4. Beberapa kali sehari , terutama ketika Anda perlu untuk menampilkan kontrol diri , ulangi untuk satu atau dua menit salah satu afirmasi berikut : a. Saya sepenuhnya mengendalikan diri . b. Saya memiliki kekuatan untuk memilih emosi dan pikiran saya . c. Kontrol diri membawa saya kekuatan batin dan membuat saya sukses . d. Saya mengendalikan reaksi saya . e. Saya bertanggung jawab atas perilaku saya . f. Saya mendapatkan kontrol emosi saya . g. Akulah master hidupku . h. Hari demi hari saya kemampuan untuk mengontrol perasaan dan pikiran saya meningkat . i. Kontrol diri adalah menyenangkan dan kesenangan . 5. Visualisasikan diri Anda bertindak dengan pengendalian diri dan menahan diri . Ambil salah satu contoh di mana Anda biasanya bertindak dengan kurangnya kontrol , dan memvisualisasikan bahwa Anda bertindak dengan tenang dan dengan penguasaan diri . 6. kontrol diri Anda akan meningkatkan cukup , jika Anda bekerja pada pengembangan dan penguatan kemauan dan disiplin diri melalui latihan yang tepat . Ini sebenarnya langkah yang paling penting untuk mengembangkan kontrol diri . Dengan mengembangkan dan memperkuat kemauan dan disiplin diri , Anda mengembangkan dan memperkuat kontrol diri Anda .

15

BAB III KESIMPULAN Dari penjelasan di atas maka kami dapat menyimpulkan bahwasanya pengendalian diri dan kematangan emosional sangat penting dan

berhubungan untuk mengendalikan dan mengatasi kekhawatiran, kecanduan dan segala jenis perilaku yang tidak pas dengan kondisi yang seharusnya. Dengan pengendalian diri dan kematangan emosional, kita dapat

mengembangkan kesabaran dan toleransi serta merupakan alat yang penting dalam mencapai kesuksesan dan kebahagiaan.Pengendalian diri atau Penguasaan diri ( Self Regulation ) dan kematangan emosional merupakan satu aspek penting dalam kecerdasan emosi ( Emotional Quotient ). Aspek ini penting sekali dalam kehidupan manusia sebab musuh terbesar manusia bukan berada di luar dirinya, namun justru berada di dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, kemana pun seseorang pergi, maka orang tersebut selalu diikuti oleh Musuh nya. Sekalipun terkadang banyak orang berdalih bahwa lingkungannyalah yang membuat tidak bisa berkembang atau lingkungannya pula yang membuat dia stress, namun jika dicermati lebih lanjut, kemungkinan besar aspek penguasaan diri inilah yang belum berkembang secara optimal. Itulah sebabnya, Jack Paar pernah bertutur bijak tentang dirinya sendiri, Kalau menoleh ke belakang, kehidupan saya rupanya seperti jalan panjang penuh rintangan, dengan diri saya sebagai rintangan utamanya. Pengendalian diri atau penguasaan diri dan kematangan emosional merupakan aspek yang perlu dilatih sejak dini. Tidak ada aspek kemampuan untuk menguasai diri yang turun dari langit, melainkan diperoleh dari proses yang panjang dalam pengalaman hidup selama berhubungan dengan orangorang sekitar. Bahkan dalam sebuah kata bijak tertulis, Siapa yang menguasai diri ibarat mengalahkan sebuah kota.

16

DAFTAR PUSTAKA Dayakisni, Tri & Hudaniah (2003). Psikologi Sosial. UMM Press. Malang Gunawan W. Adi. Jurus Pengendalian Diri. http://adiwgunawan.com/awg.php?co http://azrl.wordpress.com/2008/10/26/mengendalikan-diri/ diakses pada tanggal 16 April 2014 Pukul 10:23 http://defabj.blogspot.sg/2013/03/makalah-teori-perkembangan-emosi.html diakses pada tanggal 16 April 2014 Pukul 10:23 http://ladesang.blogspot.sg/2012/06/kontrol-diri-self-control.html tanggal 16 April 2014 Pukul 10:23 diakses pada

http://www.psychologymania.com/2013/04/definisi-kontrol-diri.html diakses pada tanggal 16 April 2014 Pukul 10:23 http://www.psychologymania.com/2013/04/aspek-kontrol-diri.html diakses pada tanggal 16 April 2014 Pukul 10:23 http://riscaputantri.blogspot.sg/2012/10/kontrol-diri.html diakses pada tanggal 16 April 2014 Pukul 10:23 http://melisanti91.blogspot.sg/2013/04/pengertian-dan-faktor-yangmempengaruhi. html diakses pada tanggal 16 April 2014 Pukul 10:23 http://achmad-fachruroji.blogspot.sg/2012/04/k-ematangan-emosi-merupakanaspek-yang.html diakses pada tanggal 16 April 2014 Pukul 10:23 http://psi-didicelerous.blogspot.com/ diakses pada tanggal 16 April 2014 Pukul 10:23 http://www.wikihow.com/Develop-Self-Control diakses pada tanggal 16 April 2014 Pukul 10:23 http://www.successconsciousness.com/self_control.htm diakses pada tanggal 16 April 2014 Pukul 10:23 http://www.psychologymania.com/2013/04/aspek-kontrol-diri.html diakses pada tanggal 16 April 2014 Pukul 10:23

17