Anda di halaman 1dari 9

PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT DAN IDENTITAS NASIONAL

oleh: LASYITHA ANINDIYA

A. PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT

Kata filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah. Secara etimologi kata falsafah berasal dari bahasa Yunani philosophia, yang terdiri atas dua suku kata yakni philen yang artinya mencari atau mencintai dan Sophia, artinya kebenaran atau kebijaksanaan. Jadi philosophia berarti daya upaya pemikiran manusia untuk mencari kebenaran atau kebijaksanaan. Dalam arti praktis, filsafat ialah alam berpikir atau alam pikiran. Berfilsafat ialah berpikir, tetapi berpikir secara mendalam, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya dan sungguh-sungguh tentang hakikat sesuatu. Beberapa definisi Filsafat : 1. Plato (427 SM-348 SM). Ahli Filsafat Yunani, Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. 2. Aristoteles (382-322 SM), murid Plato : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, poltik dan estetika 3. Al Farabi (870-950 M) : Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam wujud bagaimana hakikat yang sebenarnya. Setiap bangsa berbudaya dan beradab menegakkan sistem kenegaraannya berdasarkan suatu sistem filsafat yang terjabar dan ditegakkan dalam konstitusi negara. Identitas dan integritas sistem kenegaraannya tersebut memancarkan ajaran dan nilai fundamental sistem filsafat dan

atau sistem ideologi negaranya. Identitas, integritas dan keunggulan sistem filsafat terpancar dari asas bagaimana bangsa itu menghargai kedudukan, potensi dan martabat manusia sebagai subyek di dalam Negara. Dalam hal ini kedudukan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia adalah dalam pengertian sebagai dasar filsafat. Sifat kefilsafatan dari dasar negara Indonesia terwujudkan dalam rumus abstrak dari kelima sila Pancasila. Filsafat Pancasila dapat didefenisikan secara ringkas sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila dalam bangunan bangsa dan negara Indonesia ( Syarbaini dalam Winarno). Untuk mendapatkan pengertian yang mendalam dan mendasar, kita harus mengetahui sila-sila yang membentuk Pancasila itu. Berdasarkan pemikiran filsafati, Pancasila sebagai filsafat pada hakikatnya merupkan suatu nilai ( Kaelan dan Winarno). Rumusan Pancasila sebagaimana terdapat dalam pembukaan UUD 1945 Alenia IV adalah sebagai berikut : 1. Ketuhanan Yang Maha ESa 2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab 3. Persatuan Indonesia 4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusuwaratan / Perwakilan 5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Kelima sila dari Pancasila pada hakikatnya adalah satu nilai. Nilai-nilai merupakan perasan dari Pancasila tersebut adalah : 1. Nilai Ketuhanan 2. Nilai Kemanusiaan 3. Nilai Persatuan 4. Nilai Kerakyatan

5. Nilai Keadilan Nilai itu selanjutnya menjadi sumber nilai bagi penyelenggaraan kehidupan bernegara Indonesia. Apakah nilai itu sebenarnya? Secara etimologi, nilai berasal dari kata value (Inggris) yang berasal dariu kata valere (Latin) yang berarti : kuat, baik, berharga. Dengan demikian secara sederhana, nilai (value) adalah sesuatu yang berguna. Nilai bersifat abstrak, seperti sebuah ide, dalam arti tidak dapat ditangkap melalui indra, yang dapat ditangkap adalah objek yang memiliki nilai. Nilai juga mengandung harapan akan sesuatu yang diinginkan. Nilai bersifat normative, suatu keharusan (das sollen) yang menuntut diwujudkan dalam tingkah laku. Nilai juga menjadi pendorong/motivator hidup manusia.

Pancasila disebut filsafat karena Pancasila memenuhi ciri-ciri sebagai filsafat yakni : 1. Sistematis 2. Fundamental 3. Universal 4. Integral 5. Radikal mencari kebenaran yang hakiki

Beberapa Pendapat bahwa Pancasila merupakan Sistem Filsafat : 1. Muh. Yamin (1962) Ajaran pancasila tersusun secara harmonis dalam suatu sistem filsafat 2. Soediman Kartahadiprojo (1969) Pancasila disajikan sebagai pidato untuk memenuhi permintaan memberikan dasar filsafat negara..

3. Drijarkoro (1957) .dengan semua itu kita hendak mengemukakan bahwa Pancasila sudah lama merupakan weltanshauung bagi bangsa Indonesia tetapi tanpa dirumuskan sebagai filsafat sehingga perlu. 4. Notonagoro (1976) Kata-kata dengan berdasar kepada dalam pembukaan UUD 45 menentukan kedudukan Pancasila dalam negara dalam pengertian dasar filsafat. 5. Roeslan Abduoelgani (1962) Pancasila adalah filsafat negara yang lahir sebagai collection ideologis dari seluruh bangsa Indonesia.

Berdasarkan ajaran filsafat Pancasila, terutama tentang kedudukan dan martabat kepribadian manusia, maka oleh pendiri negara (PPKI) dengan musyawarah mufakat ditetapkan dan disahkan sistem kenegaraan Indonesia merdeka, sebagai terumus dalam UUD Proklamasi 1945 seutuhnya. Karenanya, NKRI berdasarkan Pancasila, UUD 45 dapat kita namakan dengan predikat sebagai sistem kenegaraan Pancasila, sebagaimana terjabar dalam UUD Proklamasi 1945 untuk dibandingkan dan dibedakan dengan UUD 45 amandemen, dan atau UUD RI 2002. Memahami sistem kenegaraan Pancasila seutuhnya, akan signifikan melalui memahami sejarah Proklamasi dan UUD Proklamasi 45 seutuhnya. Di dalam Pembukaan UUD negara kita, tentang kedaulatan rakyat, terlukis dalam kutipan berikut: ......susunan negara Republuk Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta

dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Berdasarkan kepercayaan dan cita-cita bangsa Indonesia, maka diakui nilai filsafat Pancasila mengandung multi - fungsi dalam kehidupan bangsa, negara dan budaya Indonesia. Kedudukan dan fungsi nilai dasar Pancasila, dapat dilukiskan sebagai berikut:

Dalam filsafat Pancasila terdapat 3 (tiga) tingkatan nilai, yaitu nilai dasar, nilai instrumental dan nilai praktis.

1. Nilai Dasar Nilai yang mendasari nilai instrumental. Nilai dasar yaitu asas-asas yang kita terima sebagai dalil yang bersifat sedikit banyak mutlak. Kita menerima nilai dasar itu sebagai sesuatu yang benar atau tidak perlu dipertanyakan lagi. Nilai-Nilai dasar sandiri dalam Pancasila adala Nilai-nilai dari sila-sila Pancasila. Nilai dasar itu mendasari semua aktivitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai dasar bersifat fundamental dan tetap.

2. Nilai Instrumental Nilai sebagai pelaksanaan umum dari nilai dasar. Umumnya terbentuk norma sosial dan norma hukum yang selanjutnya akan terkristalisasi dalam peraturan dan mekanisme lembaga-lembaga negara.

3. Nilai Praksis Nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalam kenyataan. Nilai Praksis sesungguhnya menjadi batu ujian, apakah nilai dasar dan nilai instrumental itu benar-benar hidup dalam masyarakat Indonesia.

B. PANCASILA SEBAGAI IDENTITAS NASIONAL

Pancasila adalah identitas bangsa Indonesia. Di dalam pancasila terkandung nilai-nilai yang dianggap sebagai nilai yang baik, luhur dan dianggap menguntungkan masyarakat sehingga nilai tersebut dapat diterima. Pancasila digambarkan sebagai seperangkat nilai yang dianggap benar, baik dan adil dan menguntugkan itu dijadikan nilai bersama. Apabila sekelompok masyarakat bangsa menjadikan nilai dalam pancasila sebagai nilai bersama maka pancasila tersebut telah menjadi ideologi bangsa atau identitas nasional bangsa Indonesia. Sejak negeri ini diproklamasikan sebagai negara merdeka, telah sepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Konsekuensinya, Pancasila harus terus hidup dalam kehidupam masyarakat, lebih optimal sebagai kekuatan pemersatu

bangsa. Pancasila harus menjadi perekat perbedaan kultur yang terbangun dalam masyarakat plural. Menjadi identitas bersama oleh semua kelompok masyarakat, bisa juga dimaknai sebagai identitas nasional yang bisa menjadi media dalam menjembatani perbedaan yang muncul. Sayangnya, eksistensi Pancasila sebagai identitas nasional tidak difungsikan secara maksimal. Pancasila tidak lagi mewarnai setiap aktivitas yang berlangsung di tengah masyarakat. Pancasila bahkan tidak lagi ramai dipelajari oleh generasi muda. Pengaruh kekuasaan orde baru yang menjadikan Pancasila sekedar sebagai simbol, dan upaya memperkuat kekuasaannya. Menjadikan sosialisasi P4 (pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila) hanya mampu menghasilkan generasi cerdas penghafal nilai-nilai Pancasila dan para penatar ahli. Selain tidak mampu mengamalkannya, justru mereka sendiri yang mencedrainya. Tidak heran jika peningkatan pengetahuan tentang Pancasila seiring dengan tidakan korupsi dan ramainya pelanggaran hak-hak kemanusiaan. Belum lagi implementasi demokrasi Pancasila sebagai icon orde baru, masih sangat jauh dari sistem demokrasi yang berbasis kedaulatan rakyat. Tidak jauh beda dengan perilaku pemerintahan era reformasi. Pancasila dibiarkan tenggelam dari kehidupan masyarakat. Bukan hanya jauh dari wacana publik, Pancasila dianggap sebagai simbol orde baru semakin dilupakan oleh penguasa termasuk elit politik kita. Eforia demokrasi yang tidak terkendali juga semakin mengaburkan nilai-nilai Pancasila. Realitas tersebut tentu sangat kontraproduktif dengan upaya penguatan Pancasila sebagai dasar negara. Lebih khusus lagi bagi upaya menjaga lestarinya NKRI di bumi persada. Kehadiran Pancasila tidak sekedar sebagai ideologi atau patron setiap warga negara, namun juga sebagai landasan bersama (common platform). Pancasila merupakan identitas nasional yang berperan mewadahi berbagai peredaan maupun konflik yang seringkali muncul dalam sub budaya nasional.

Terdapat dua hal urgensi Pancasila dalam konteks sekarang ini, hal tersebut bisa di lihat dalam konteks internal dan eksternal. Pertama, aspek internal yang teridiri dari tiga hal mendasar, yaitu: (1) buruknya nama baik Pancasila oleh sejarah masa lalu mengharuskan adanya upaya serius untuk perbaikan (2) dampak otonomi daerah telah melahirkan sentimen etnik dan provinsialisme yang semakin menguatkan kecendrungan pada local-nationalism (3) sejak Pancasila tidak lagi menjadi asas tunggal dalam setiap organisasi manapun.

Tidak hanya melahirkan dikotomi antara Pancasila dan landasan organisasi khususnya pada tingkat pendukungnya (grass root), meski terlihat dalam tingkat wacana. Juga penguatan eksistensi Pancasila kurang dioptimalkan sebagai agenda utama atau common platform dalam kehidupan organisasi. Aspek eksternal khusunya adalah pengaruh globalisasi. Selain dampak positif, globalisasi juga menawarkan sekian banyak pengaruh, bukan hanya disorientasi dan dislokasi sosial, tetapi juga bisa mengakibatkan memudarnya identitas dan jati diri bangsa. Nilai-nilai Pancasila yang mendasar seperti gotong-royong, secara tidak langsung telah banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai individualisme yang sangat liberal. Segalanya serba uang telah mewarnai setiap transaski sosial, politik apalagi aspek ekonomi. Dominasi gaya kapitalis dengan seperangkan ide-ide dan nilai yang tidak sesuai dengan budaya bangsa juga semakin marak. Gaya pornografi yang semakin mewarnai berbagai media merupakan salah satu contoh kongkrit. Tidak ada kata terlambat bagi suatu perubahan dan perbaikan, apalagi itu menyangkut keselamatan bangsa dan keutuhan NKRI. Kesempatan ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk melakukan revitalisasi semangat dan cita-cita para pendiri negara kita untuk membangun

negara Pancasila. Berupaya semaksimal mungkin untuk memperkuat kesadaran hidup berbangsa dalam setiap aspek kehidupan. Komitmen kita pada eksistensi Pancasila sebagai dasar Negara sudah final. Simbol pemersatu dan identitas nasional yang bisa diterima berbagai kalangan harus terus dijaga. Mengharuskan tidak ada pilihan lain, kecuali Pancasila mesti terus di suarakan, memulihkan nama baiknya dengan cara membumikan susbstansi dan nilai yang dikandungnya. Sebagai konsep dan nilainilai normatif, tentu jauh dari kekeliruan, hanya para aktor yang seringkali menyalahgunakannya. Menghidupkan kembali wacana publik tentang Pancasila bukan didasari romantisme historis dan kerinduan belaka terhadap masa lalu. Tapi, suatu fakta riil akan pentingnya identitas nasional dalam membingkai dinamika yang kompleks.