Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Akhir-akhir ini kemajuan dan perkembangan teknologi semakin membaik. Kemampuan masyarakat untuk memajukan diri disesuai bidangnya juga semakin meningkat. Salah satunya yaitu melalui pengembangan usaha yang berhubungan dengan keselamatan kerja. Keselamatan kerja merupakan suatu hal yang penting di dalam sebuah kegiatan pekerjaan. Dimana keselamatan kerja merupakan titik utama dari proses kerja yang dilakukan. Untuk itu para pekerja diharapkan untuk bisa menerapkan behaviour based safety atau perilaku yang berdasarkan pada keselamatan dalam kegiatan pekerjaan mereka. Behaviour based safety atau perilaku yang berdasarkan keselamatan adalah kunci utama terjaminnya keselamatan di kalangan pekerja agar dapat terhindar dari potensi bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja di tempat kerja. Para pekerja diharapkan mampu memahami dasar-dasar keselamatan kerja sehingga mereka bisa berperilaku sesuai dengan dasar keselamatan kerja. Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami melakukan observasi di bengkel yang kami kunjungi yaitu bengkel las Sumber Agung yang beralamatkan di Jalan SoloPurwodadi Km 18 Gemolong Sragen.

B. Tujuan 1. Untuk mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan bengkel las Sumber Agung Jalan Solo-Purwodadi km 18 Gemolong Sragen 2. Menambah referensi bagi kami selaku penulis makalah ini dan sebagai calon ahli madya masyarakat. 3. Sebagai bahan bacaan bagi teman-teman, apabila suatu saat membutuhkan materi/referensi yang terkait dengan makalah yang telah kami susun.

C. Manfaat 1. Bagi Praktikan Mempermudahkan mahasiswa untuk belajar lebih dalam tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan bengkel las Sumber Agung Jalan Solo-Purwodadi km 18 Gemolong Sragen 2. Bagi Program Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja Memudahkan anak didiknya untuk menjalankan proses belajar secara mandiri dengan adanya praktikum yang mengharuskan setiap mahasiswa untuk mempelajarinya,sehingga menjadikan mahasiswa lebih kreatif terhadap hasil karya laporan mereka masing-masing.

BAB II PEMBAHASAN

A. Bengkel Las Sumber Agung Sejarah tentang berdirinya bengkel ini sekitar hampir 10 tahun yang lalu. Bermula dari sebuah usaha kecil mandiri yaitu bengkel sepeda onthel, bapak Wahyudi nama pemilik bengkel las tersebut menyulap bengkel las nya menjadi bengkel terbesar di daerah sekitar Gemolong, Sragen. Bengkel las ini menerima berbagai macam jenis las, mulai dari mengelas pagar, lemari besi, kursi kuliah, meja stainless, dan sebagainya. Bahan baku yang digunakan mulai dari yang bekas, maupun baru. Karyawan yang terdapat pada bengkel las ini terdapat hampir 20 orang. Untuk penerimaan para pekerjanya, pak wahyudi hanya mendapati orang-orang yang hanya ingin niat bekerja saja. Tidak harus terampil ataupun ahli dalam hal mengelas. Kecelakaan yang biasanya terjadi pada bengkel las ini adalah mata terkena asap dari uap pada saat proses pengelasan. Penggunaan alat pelindung diri seperti kacamata sudah di terapkan di tempat ini, namun para pekerja di bengkel las ini terkadang masih menganggap remeh fungsi dari kaca mata tersebut. Biasanya jika terjadi insiden kecelakaan seperti itu, bapak Wahyudi segera membawa pegawai nya ke rumah sakit atau klinik terdekat di daerahnya. Satu lagi kendala yang terdapat pada bengkel las ini adalah tempat yang dekat sekali dengan perlintasan kereta api. Tetapi, lagi-lagi pemilik meyakinkan bahwa mereka terutama pekerja sudah terbiasa dan hafal dengan jadwal kereta yang akan melintas pada perlintasan tersebut. Sehingga pemilik tidak perlu khawatir bahaya akan hal tersebut. Bengkel ini beroperasi setiap hari, Senin- Minggu mulai pukul 07.00 pagi 16.00 sore. Beralamatkan di jalan raya Solo Purwodadi, Gemolong, Sragen.

B. Behaviour Based Safety Bengkel Las Sumber Agung Behavior safety adalah adalah perilaku keselamatan manusia di area kerja dalam mengidentifikasi bahaya serta menilai potensi resiko yang timbul hingga bisa diterima dalam melakukan pekerjaan yang berinteraksi dengan aktivitas, produk dan jasa yang dilakukannya (Dewo P. Rahardjo, 2010).

Persentase penyebab kecelakaan kerja yaitu: i. 3% dikarenakan sebab yang tidak bisa dihindarkan (seperti bencana alam), ii. 24% dikarenakan lingkungan atau peralatan yang tidak memenuhi syarat dan iii. 73% dikarenakan perilaku yang tidak aman Terlihat dari presentase tersebut diatas bahwa penyebab paling besar kecelakaan kerja adalah akibat dari perilaku yang tidak aman. Pada bengkel las sumber agung penerapan bbs itu sendiri pun belum dapat di terapkan. Terlihat dari sikap para pekerja las, yang tidak mengenakan sarung tangan, maupun kaca mata. Selain itu penerapan 5R di bengkel las ini pun juga terlihat belum di terapkan sama sekali, mulai dari tidak teraturnya penempatan alat-alat, bahan dan lain-lain. Beberapa alasan mereka berprilaku tidak aman yaitu antara lain adalah, mereka belum pernah celaka saat proses pekerjaan mengelas tersebut, ingin cepat tuntas pekerjaan tersebut, sangat dikejar target, dan ketidakpahaman resiko dengan pekerjaaan terkait.

C. Perilaku Tidak Aman Pekerja Tindakan tidak aman merupakan kegagalan tenaga kerja dalam mengambil posisi kerja atau sikap kerja yang salah, tindakan tidak aman yang dilakukan tenaga kerja menyebabkan terjadinya kecelakaan. Tindakan tidak aman pada tenaga kerja pembuat tahu dilatarbelakangi oleh kurangnya pengetahuan dan kelelahan. tenaga kerja yang melakukan tindakan tidak aman dengan mengangkat beban dalam posisi yang salah, tenaga kerja menggunakan mesin yang kotor, berdiri dan duduk di dekat tempat yang berpotensi bahaya, meletakkan barang tidak pada tempatnya dan, tenaga kerja bermain-main dan tidak serius dalam bekerja. Berpengetahuan kurang mengenai tindakan keselamatan dan keluhan kelelahan yang dirasakan tenaga kerja selama bekerja, mengambil jalan pintas, percaya diri yang berlebih, memulai tugas dengan instruksi yang tidak tuntas, kerapian yang buruk, tidak memperdulikan prosedur keselamatan, ganguan mental dari pekerjaan, gagal merencanakan pekerjaan, menjalankan yang bukan tugasnya, gagal memberikan peringatan, menjalankan pesawat melebihi kecepatan, melepaskan alat pengaman atau membuat alat pengaman tidak berfungsi, membuat peralatan yang
4

rusak, diri, memuat sesuatu secara berlebihan, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, mengangkat berelebihan., melakukan perbaikan pada waktu mesin masih bejalan, bertengkar, berada dalam pengaruh alkohol atau obat-obatan.

D. Macam-macam Tindakan Tidak Aman Secara umum, HFACS (Human Factors Analysis and Classification System) mengklasifikasikan tindakan tidak aman (unsafe acts) menjadi kesalahan (errors) dan pelanggaran (violations). Kesalahan adalah representasi dari suatu aktivitas mental dan fisik seseorang yang gagal mencapai sesuatu yang diinginkan. Pelanggaran disisi lain mengacu pada niat untuk mengabaikan petunjuk atau aturan yang telah diciptakan untuk melakukan suatu tugas tertentu (Wiegman, 2007). Menurut Rasmussen, ada tiga jenjang kategori kesalahan yng dapat terjadi pada manusia, yaitu: 1. Salah sebab kemampuan (skill-based error) adalah suatu kesalahan manusia yang disebabkan oleh karena ketidakmampuan seseorang secara fisik atau tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu tugas tertentu. 2. Salah sebab aturan (rule-based error) adalah suatu kesalahan manusia karena tidak melakukan aktivitas yang seharusnya dilakukan atau melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan. 3. Salah sebab pengetahuan (knowledge-based error) adalah kesalahan manusia yang disebabkan karena tidak memiliki pengetahuan yang dibutuhkan untuk memahami situasi dan membuat keputusan untuk bertindak atau melakukan aktivitas (Saputra, 2008).

E. Perilaku Aman Pekerja Berbicara mengenai Behavior Based Safety atau Keselamatan Berbasis Perilaku, maka sangat jelas sekali bahwa basic atau landasan jalannya program ini adalah berdasarkan perilaku. Perilaku disini pasti sangat jelas berhubungan dengan perilaku manusia dalam hal bekerja di area kerja yang sangat banyak bersinggungan dengan alat-alat kerja, benda kerja, kendaraan kerja, langkah kerja, dan lainnya. Sebelum masuk lebih dalam ke pembahasan mengenai Behavior Based Safety, maka sebaiknya kita harus mengenali terlebih dahulu mengenai perilaku.
5

F. Faktor Penentu Perilaku Seseorang Meskipun perilaku adalah bentuk respons atau reaksi terhadap stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang), namun dalam memberikan respon sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang, namun respons tiap-tiap orang berbeda (Notoatmodjo, 2007). Faktor penentu perilaku terbagi atas 2 bagian: 1. Faktor internal, yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat bawaan dan berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar, misalnya tingkat pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi, jenis kelamin, dan sebagainya. 2. Faktor eksternal, meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non-fisik, seperti iklim, manusia, sosial, budaya, ekonomi, politik, kebudayaan dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang dominan mewarnai perilaku seseorang.

G. Teori Perubahan Perilaku Geller (2001) menyatakan bahwa untuk merubah perilaku-perilaku kritikal, maka fokus yang diperlukan adalah pada perilaku terbuka (overt behavior). Perubahan perilaku terjadi melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran tersebut terjadi dengan baik bila proses pembelajaran tersebut menghasilkan perubahan perilaku yang relatif permanen. Terdapat beberapa model dasar perubahan perilaku, yaitu: 1. Classical Conditioning adalah merubah perilaku dengan memberikan conditioned stimulus, perubahan tersebut menghasilkan conditioned response. Dalam penerapan program Behavior Based Safety (BBS), stimulus yang diberikan terus-menerus adalah melakukan observasi perilaku secara terus-menerus dan memberikan stimulus positif, pada akhirnya akan menghasilkan perubahan perilaku kerja aman (conditioned response of safe behavior). 2. Operant Conditioning adalah merubah perilaku dengan menghubungkan akibat yang didapatkannya. Kecenderungan untuk mengulangi perilaku tertentu dipengaruhi oleh lemahkuatnya reinforcement terhadap akibat yang didapatkan dari perilaku tertentu
6

tersebut, oleh sebab itu, dikatakan reinforcement memperkuat perilaku dan akan menambah kecenderungan perilaku tertentu itu diulangi lagi Penerapannya dalam program BBS adalah bila dalam melakukan observasi perilaku kerja didapatkan pekerja telah melakukan pekerjaannya dengan benar dan aman, maka pekerja tersebut harus diberi reinforcement agar pekerja tersebut mengerti bahwa yang ia lakukan sudah benar dan aman sehingga perilaku kerja aman (safe behavior) akan diulangi terus. Bila perilaku kerja aman (safe behavior) ini terus diulang, maka kecelakaan kerja dan lingkungan dapat dicegah. 3. Social Learning adalah merubah perilaku melalui pengaruh model. Orang dapat belajar dari mengamati apa yang terjadi pada orang lain dan diajari sesuatu sedemikian rupa dari pengalaman langsung. Penerapannya dalam program BBS adalah komitmen dan partisipasi manjemen beserta para pimpinannya secara aktif dan nyata dalam implementasi program BBS untuk menjadi model yang akan diikuti oleh seluruh jajaran dibawahnya secara aktif. Hal ini dapat mengurangi unsafe behavior menjadi safe behavior dalam bekerja. 4. Developing Job Pride Through Behavior Reinforcement Bila perilaku itu mendatangkan pengalaman yang positif seperti penghargaan, kesenangan, hadiah, kepuasan, dan lainnya yang positif, maka perilaku tersebut cenderung untuk diulangi. Behavior reinforcement berbeda dengan penghargaan kepada pribadi pada umumnya. Behavior reinforcement secara jelas berhubungan dengan sesuatu yang spesifik yang telah dilakukan oleh orang itu (Bird and Gemain, 1990, dalam Geller, 2001). Penerapannya dalam program BBS adalah penghargaaan atau perhatian positif lainnya perlu diberikan terhadap orang yang melakukan kerja aman (safe behavior).. Pemberian hukuman akibat dari perilakunya tidak akan merubah perilaku secara permanen sebab perilaku tersebut berubah karena takut mendapat hukuman. 5. Giving Feedback Proses perubahan perilaku memerlukan feedback sebagai mekanisme untuk meningkatkan kepekaan terhadap error generating work habits, terutama kekeliruan yang potensial menimbulkan kecelakaan. Ada lima karakteristik feedback, yaitu: a. Speed, lebih cepat feedback diberikan setelah terjadinya kekeliruan, lebih cepat pula tindakan perbaikan yang akan dilakukan. Selain itu, pekerja juga dapat belajar langsung dari kekeliruan tersebut. b. Specificity, lebih tajam feedback difokuskan pada kekeliruan secara spesifik, maka akan lebih efektif hasilnya.
7

c. Accuracy, feedback harus teliti, kekeliruan pada feedback menimbulkan tindakan yang keliru. d. Content, isi dari informasi yang akan disampaikan harus sesuai dengan perilaku yang diinginkan. Perilaku yang komplek memerlukan elaborasi informasi lebih rinci. e. Amplitude, feedback harus cukup menimbulkan perhatian terhadap pekerja, namun demikian feedback yang berlebihan dapat mengacaukan performance yang diinginkan. Setelah mengetahui dan mendalami mengenai perilaku, selanjutnya akan dibahas lebih dalam mengenai Behavior Based Safety. Behavior Based Safety (BBS) merupakan aplikasi sistematis dari riset psikologi tentang perilaku manusia pada masalah keselamatan (safety) ditempat kerja yang memasukkan proses umpan balik secara langsung dan tidak langsung. BBS lebih menekankan aspek perilaku manusia terhadap terjadinya kecelakaan di tempat kerja. Menurut Geller (2001), BBS adalah proses pendekatan untuk meningkatkan keselamatan kesehatan kerja dan lingkungan dengan jalan menolong sekelompok pekerja untuk: a. Mengidentifikasi perilaku yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja b. Mengumpulkan data kelompok pekerja. c. Memberikan feedback dua arah mengenai perilaku keselamatan dan kesehatan kerja d. Mengurangi atau meniadakan hambatan sistem untuk perkembangan lebih lanjut. Lebih lanjut, Cooper (2009) mengidentifikasi adanya tujuh kriteria yang sangat penting bagi pelaksanaan program Behavior Based Safety: a. Melibatkan Partisipasi Karyawan yang Bersangkutan BBS menerapkan sistem bottom-up, sehingga individu yang berpengalaman dibidangnya terlibat langsung dalam mengidentifikasi perilaku kerja tidak aman (unsafe behavior). Dengan keterlibatan pekerja secara menyeluruh dan adanya komitmen, kepedulian seluruh pekerja terhadap program keselamatan maka proses perbaikan akan berjalan dengan baik. b. Memusatkan Perhatian pada unsafe behavior yang spesifik Untuk mengidentifikasi faktor di lingkungan kerja yang memicu terjadinya perilaku tidak selamat para praktisi menggunakan teknik behavioral analisis
8

terapan

dan

memberi

hadiah

(reward)

tertentu

pada

individu

yang

mengidentifikasi perilaku tidak selamat. c. Didasarkan pada Data Hasil Observasi Observer memonitor perilaku selamat pada kelompok mereka dalam waktu tertentu. Makin banyak observasi makin reliabel data tersebut, dan safe behavior akan meningkat. d. Proses Pembuatan Keputusan Berdasarkan Data Hasil observasi atas perilaku kerja dirangkum dalam data persentase jumlah safe behavior. e. Melibatkan Intervensi Secara Sistematis dan Observasional Keunikan sistem Behavior Based Safety adalah adanya jadwal intervensi yang terencana. Dimulai dengan briefing pada seluruh departemen atau lingkungan kerja yang dilibatkan, karyawan diminta untuk menjadi relawan yang bertugas sebagai observer yang tergabung dalam sebuah project team. f. Menitikberatkan pada Umpan Balik terhadap Perilaku Kerja Dalam program Behavior Based Safety, umpan balik dapat berbentuk umpan balik verbal yang langsung diberikan pada karyawan sewaktu observasi, umpan balik dalam bentuk data (grafik) yang ditempatkan dalam tempat-tempat yang strategis dalam lingkungan kerja, dan umpan balik berupa briefing dalam periode tertentu dimana data hasil observasi dianalis untuk mendapatkan umpan balik yang mendetail tantang perilaku yang spesifik. g. Membutuhkan Dukungan dari Manager Dukungan dari manajemen sangat penting karena kegagalan dalam penerapan BBS biasanya disebabkan oleh kurangnya dukungan dan komitmen dari manajemen.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Keselamatan kerja dan behaviour based safety harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang ada untuk dapat mengurangi kecelakaan kerja yang ada di tempat kerja. 2. Untuk meningkatkan kualitas dan keahlian pekerja, sebaiknya diadakan suatu penyuluhan dan pelatihan untuk para pekerja.

B. Saran Behaviour Based Safety dimungkinkan dapat mengurangi potensi bahaya yang ada di tempat kerja, sehingga dapat menurangi kecelakaan kerja yang mungkin timbul, untuk itu implementasinya pun dibutuhkan tenaga kerja yang benar-benar paham dan mengerti tentang hal tersebut. Sebaiknya tenaga kerja atau pekerja juga harus dibekali dengan ilmu dan pengalaman yang cukup yang mungkin bisa berupa training, agar mereka dapat melakukan tugasnya sesuai dengan standart dan prosedur kerja yang ada.

10