Anda di halaman 1dari 8

KONTRAK PEKERJAAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah: Rancangan Listrik Gedung

Dosen Pengampu: Drs. JUWARTA, M.M.

Oleh: 1. Aris Setyawan 2. Ferri Witanto 3. Ikhwan Zuhri 4. Reza Bagus N. (2) (6) (11) (20)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK

POLITEKNIK NEGERI SEMARANG 2014

Pengertian Kontrak Pekerjaan


Kontrak pekerjaan adalah suatu perjanjian pemborongan pekerjaan yang dilakukan oleh pihak pemilik pekerjaan (Owner) dengan pihak kontraktor yang disahkan sebagai pemenang pelelangan secara tertulis. Maksud utama diadakannya kontrak pekerjaan adalah untuk menghindari

kesalahpahaman yang terjadi selama pelaksanaan proyek. Kesalahpahaman tersebut diantaranya: Mengenai pembayaran pekerjaan Mengenai waktu pelaksanaan Mengenai spesifikasi dari bahan atau material Mengenai hal lainnya yang mungkin dapat dipergunakan untuk keuntungan salah satu pihak.

Dokumen Kontrak
Dokumen kontrak adalah ikatan kerja antara pemilik pekerjaan dengan kontraktor secara tertulis yang berupa kontrak serta persyaratan lain yang meliputi persyaratan teknis, administrasi, dan yuridis formal yang merupakan kelengkapan dari ikatan kerja tersebut. Dokumen kontrak merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dokumen kontrak terdiri atas: Persyaratan umum kontrak (General Condition of Contract) Risalah penjelasan pekerjaan (Letter of Explanation) Perincian teknis (Spesification) Gambar kontrak (Bestek) Penawaran (Bidding Proposal) Perjanjian pemborongan atau kontrak (Formal Agreement)

Jenis Kontrak
Berdasarkan cara pelaksanaannya dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu: 1. 2. Fixed-price contract Reimbursable contract

1. Fixed-price contract

Adalah suatu kontrak pekerjaan atau perjanjian pemborongan pekerjaan antara pihak pemilik pekerjaan dengan pihak pelaksana pekerjaan dengan harga yang sudah ditetapkan atau disetujui pada saat penandatanganan kontrak. Dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu: a) Lumpsum Contract

b) Schedule of Price Contract c) Measure and Value Contract

- Lumpsum Contract Adalah suatu kontrak pekerjaan yang dilakukan dengan harga pekerjaan yang menyeluruh. Pemilik pekerjaan hanya menyebutkan jenis proyek, sedangkan perencanaan proyek yang meliputi jenis pekerjaan, jenis material yang dipergunakan, volumenya, serta harganya, ke semuanya dibebankan pada pihak kontraktor. Perhitungan proyek meliputi: Jenis bagian pekerjaan dari proyek. Material atau bahan yang diperlukan. Besarnya volume material. Harga satuan darivolume material. Total harga dari keseluruhan proyek, dll.

- Schedule of Price Contract Adalah suatu pekerjaan yang dilakukan oleh pemilik pekerjaan, dengan kontraktor tertentu. Pemilik pekerjaan hanya menyebutkan bentuk pekerjaan proyek serta material atau bahan yang diperlukan utnuk proyek yang bersangkutan, sedangkan volume serta harga masing-masing jenis material tersebut dibebankan pada pihak kontraktor. Pemilik pekerjaan menyebutkan: Jenis bagian pekerjaan dari proyek.
Material atau bahan yang diperlukan.

Kontraktor menyebutkan: Besarnya volume material. Harga satuan darivolume material.


Total harga dari keseluruhan proyek, dll.

- Measure and Value Contract Adalah suatu kontrak pekerjaan yang dilakukan oleh pemilik pekerjaan dengan suatu kontraktor tertentu, yang segala perhitungan proyek, termasuk material yangdiperlukan serta volumenya, sudah dipersiapkan oleh pihak pemilik pekerjaan. Pemilik pekerjaan menyebutkan: Jenis bagian pekerjaan dari proyek. Material atau bahan yang diperlukan. Besarnya volume material Kontraktor menyebutkan: Harga satuan dari volume material. Total harga dari keseluruhan proyek, dll. Hubungan kerja antara pemerintah, pemilik pekerjaan, konntraktor serta konsultan

Diatur Undang-Undang serta Peraturan Pemerintah sebagai pedoman serta acuan untuk menentukan langkah kegiatan, wewenang, dan tanggung jawab masing-masing pihak yang direalisasikan dalam bentuk perjanjian. Agar terjalin hubungan yang jelas antara pemilik dengan konsultan dilakukan Kontrak Pekerjaan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan. Ketentuan kontrak pekerjaan: 1. Kedudukan pihak pemilik pekerjaan serta konsultan; 2. Jenis pekerjaan dan ruang lingkup pelaksanaan; 3. Jangka waktu penyelesaian perencanaan;

4. Peraturan yang digunakan sebagai dasar penentuan batas tugas, kewajiban, tanggung jawab, hak, dan wewenang dari pimilik pekerjaan maupun konsultan perencana; 5. Sangsi, apabila terjadi kegagalan pelaksanaan tugas dan kewajiban; 6. Besarnya nilai kontrak: biaya pekerjaan perencanaan proyek hingga tata cara pembayaran.

Sebelum dilakukan kontrak pekerjaan perencanaan, pihak pemilik pekerjaan memberikan Surat Perintak Kerja (SPK) kepada pihak konsultan yang ditunjuk. Cara penunjukan/ pemilihan Konsultan: 1. Penunjukan Langsung Hanya Konsultan yang sudah dikenal dengan baik hasil karya perencanaan, berpengalaman, serta mampu melaksanakan dan menyelesaikan tugas perencanaan yang diberikan. 2. Perbandingan dari beberapa usulan perencanaan Dilakukan melalui undangan khusus atau melalui undangan terbuka (melalui iklan di media massa). Dalam undangan tersebut disertakan data lengkap, meliputi keinginan, maksud serta ruang lingkup pekerjaan yang diinginkan. Dari usulan perencaan, pemilik pekerjaan dapat menentukan konsultan yang paling baik, murah, bonafit serta memenuhi keinginan pekerjaan yang kemudian melakukan penunjukan dengan memberikan SPK. 3. Sayembara perencanaan Bertujuan mendapatkan suatu karya perencanaa yang optimal. Sifat: 1. Umum : undangan terbuka (melalui media massa) 2. Khusus : mengundang konsultan tertentu yang sudah dikenal Hubungan kerja pemilik pekerjaan, kontraktor, serta konsultan adalah Hubungan pemilik pekerjaan dengan konsultan sebagai perencana serta pengawas pekerjaan merupakan o Ikatan berupa kontrak perencanaan; o Pemberian jasa perencanaan atau pengawas proyek o Pemberian imbalan jasa, yaitu biaya perencanaan Hubungan pemilik pekerjaan dengan kontraktor merupakan: o Ikatan berupa kontrak pelaksanaan o Penyerahan hasil pelaksaan pekerjaan o Pemberian biaya pelaksanaan

Hubungan konsultan sebagai pengawas pekerjaan dengan kontraktor: o Ikatan berupa peraturan pelaksanaan dalam dokumen kontrak o Pelaksanaan persyaratan proyek o Realisasi pelaksanaan persyaratan

2. Reimbursable contract Sering pula disebut sebagai Cost Reimbursement contract atau Cost - Plus Contract. Reimbursable contract ini proses pembayaran pekerjaan dilakukan setelah pekerjaan selesai dikerjakan kontraktor. Artinya, setelah pekerjaan selesai , maka pihak pemilik pekerjaan baru melakukan pembayaran terhadap kontraktor bersangkutan, sejumlah biaya yang telah dikeluarkan, ditambah dengan sejumlah ongkos kerja (fee) sesuai dengan perjanjian dalam surat kontrak. Berdasarkan cara penentuan ongkos kerja (fee), Reimbursable contract dibedakan menjadi 3 bagian Cost - Plus a fixed contract Cost - Plus a percentage of cost Cost - Plus an incentive fee

Biasanya kontark ini dilakukan untuk proyek-proyek yang relative kecil atau bersifat pribadi. Cost - Plus a fixed contract Cost - Plus a fixed contract adalah suatu kontrak kerja secara Reimbursable, yang penambahan biaya sebagai ongkos kerja (keuntungan kerja) disebutkan dengan sejumlah harga tertentu sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Besarnya ongkos kerja sudah ditetapkan secara pasti sesuai kesepakatan dalam Surat Kontrak. Segala pengeluaran kontraktor, dibuktikan dengan bon pembelian material, yang kemudian pada akhir pelaksanaan proyek, bon diberikan kepada pemilik pekerjaan sebagai tanda bukti pengeluaran biaya untuk mengerjakan proyek. Kemudian, pihak pemilik pekerjaan mengganti sejumlah biaya sesuai dengan yang tertera pada bon pembelian, ditambah ongkos kerja sesuai yang tertera pada Surat Kontrak. Pihak Kontraktor tidak perlu memperhitungkan masalah lain yang mungkin terjadi seperti misalnya biaya tak terduga (overhead), pajak, perijinan dan lain-lain. Ada kalanya, bon pembelian ataupun kuitansi pengeluaran dapat langsung dimintakan penggantiannya, begitu material atau bahan untuk proyek sampai di tempat lokasi. Ada Kalanya pula kontraktor langsung meminta biaya untuk pembelian material atau bahan, ataupun meminta langsung pada pemilik pekerjaan untuk disediakan material atau bahan yang dibutuhkan. Kontrak ini , biasanya hanya dipergunakan untuk pekerjaan yang mendesak (urgen) yang tidak mungkin menunggu persiapan dibuatnya rencana proyek (Project Design).

Cost - plus a percentage of cost Cost - plus a percentage of cost adalah suatu kontrak secara Reimbursable, yang penambahan biaya sebagai ongkos kerja (keuntungan kontraktor) disebutkan dengan sejumlah persentase dari seluruh biaya yang dikeluarkan untuk proyek. Kontrak ini besarnya ongkos kerja tidak disebutkan dengan harga tertentu, melainkan dalam bentuk persentase dari total pengeluaran proyek. Besarnya persentase sesuai dengan kesepakatan yang tertera pada Surat Kontrak. Besarnya keuntungan dari kontraktor sesuai dengan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk proyek. Pihak kontraktor kemungkinan memperbesar ruang lingkup pekerjaan semula. Ataupun kemungkinan pihak kontraktor memperlama penyelesaian pekerjaan dengan alasan perlu adanya penamabahan pekerjaan baru, yang sebetulnya sudah menyimpang dari rencana semul. Hal ini berarti biaya yang dikeluarkan untuk proyek akan semakin besar, sehingga pendapatan kontraktor semakin besar pula. Besarnya persentase dari biaya proyek biasanya berkisar 5 % sampai dengan 25 % dari seluruh biaya yang dikeluarkan untuk proyek Kontrak ini, dipergunakan untuk pekerjaan yang sifatnya mendesak atau darurat yang tidak dimungkinkan menunggu adanya penyelasaian perencanaan proyek bersangkutan.

Cost - plus an incentive fee Cost - plus an incentive fee adalah suatu kontrak kerja antara pemilik pekerjaan dengan pelaksana pekerjaan (kontraktor) secara Reimbursable, yang penambahan biaya sebagai ongkos kerja (keuntungan kontraktor) tidak disebutkan besarnya, hanya dalam Surat Kontraknya disebutkan bahwa pihak pemilik pekerjaan akan memberikan insentif sebagai jasa pelaksanaan kontraktor. Dari Pasal 20, Keppres No. 29 Tahun 1984 disebutkan bahwa harga kontrak untuk pekerjaan pemborongan, harus merupakan harga yang tetap dan pasti sehingga dapat dikatakan bahwa perjanjian pemborongan (kontrak) harus dilakukan dengan harga yang pasti (fixed - price contract). Dengan demikian perjanjian pemborongan yang dilakukan dengan system haraga tidak pasti (Reimbursable) tidak dibenarkan (dilarang)

Isi kontrak
Pada umumnya, isi kontrak tergantung jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan, yang berpedoman pada Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS), risalah penjelasan pekerjaan, serta persyaratan umum kontrak.

Secara garis besar, isi kontrak seperti yang dijelaskan pada Pasal 20, Keppres No.29, Tahun 1984 tentang pelaksanaan APBN, yang ditentukan bahwa kontrak harus memuat ketentuan yang jelas mengenai : Pokok yang diperjanjikan dengan uraian yang jelas mengenai jenis jumlahnya. Harga yang tetap dan pasti, serta tata cara dan persyaratan pembayarannya. Persyaratan dan spesifikasi teknis yang jelas dan terperinci. Jangka waktu penyelesain atau penyerahan pekerjaan dengan disertai jadwal waktu pelaksanaannya yang pasti dengan persyaratan penyerahannya. Jaminan teknis tentang hasil pekerjaan yang dilaksanakan. Sangsi diberikan apabila pihak kontraktor tidak memenuhi kewajibannya. Penyelesaian perselisihan. Status hukum. Hak dan kewajiban dari pihak yang terkait dalam perjanjian yang bersangkutan. Penggunaan barang dan jasa hasil produksi dalam negeri secara tegas dan diperinci dalam lampiran kontrak.

Selain hal tersebut di atas dalam Surat Perjanjian (kontrak) dapat dimuat ketentuan mengenai pembayaran uang muka setinggi-tingginya 20% ( dua puluh persen ) dari nilai Surat Perjanjian kontrak.

Di samping ketentuan di atas, ditambahkan pula mengenai Pekerjaan tambah kurang Kenaikan harga (force majeure) Pembatalan pekerjaan Bea materai Peraturan tambahan yang dianggap perlu untuk disebutkan