Anda di halaman 1dari 17

IMPLEMENTASI TUGAS DAN FUNGSI PENGAWAS DALAM PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONALISME GURU PAI SMA/SMK

SE KOTA TARAKAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan yaitu untuk meningkatkan sumber daya manusia. Salah satu usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia ialah melalui proses pembelajaran di sekolah.[1] Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus-menerus dan dari sinilah pentingnya kepengawasan sebagai bagian dari sistem yang bertanggung jawab membina guru untuk meningkatkan kompetensinya, baik dalam merancang program-program kerjanya maupun untuk implementasi di ruang kelas dan sekolah. Enco Mulyasa menyatakan bahwa peningkatan sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan dan salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah pendidikan, sehingga kualitas pendidikan harus senantiasa ditingkatkan.[2] Penyelenggaraan pendidikan dapat dijamin kualitasnya, maka perlu ada pengawasan yang memadai dilakukan oleh pengawas, baik dilihat dari latar belakang pendidikan, pengalaman bekerja, dan kemampuan melaksanakan tugas kepengawasan secara profesional. Ditegaskan dalam Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 66 mengatur sebagai berikut pemerintah, pemerintah daerah, dewan pendidikan, dan komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan atas penyelenggaraan pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangan masing-masing.[3] Undang-Undang ini memberi kesempatan pemerintah dan masyarakat secara bersamasama melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pendidikan khususnya institusi satuan pendidikan dasar dan menengah sampai pada birokrasi. Meningkatnya kualitas penyelenggaraan pendidikan yakni profesionalisme guru dan kualitas pembelajaran peserta didik serta hasil belajar akan bermuara pada pembentukan karakter peserta didik. Tugas pokok pengawas satuan pendidikan adalah membina dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan baik teknis edukatif maupun teknis administratif pada satuan pendidikan tertentu. Pengawas sekolah untuk tingkat SLTP, SMA dan SMK berada pada kantor Dinas Pendidikan Kabupatn atau Kota, pengawas SLB berada di kantor dinas provinsi.[4] Secara ideal, tugas dan fungsi utama dari organisasi kepengawasan adalah meningkatkan kompetensi profesional guru PAI pada umumnya dan di Kota Tarakan pada khususnya. Pengawas berperan dalam meningkatkan kompetensi guru, dalam hal ini pengawas membimbing guru menjadi guru yang profesional. Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan, khususnya yang diselenggarakan secara formal di sekolah. Guru juga dapat menentukan terbentuknya karakter peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Dadang Suhardan menyatakan bahwa usaha apapun yang dilakukan pemerintah untuk mengawasi jalannya pendidikan dalam mendongkrak kualitas, bila tidak ditindaklanjuti dengan pembinaan gurunya, tidak berdampak nyata dalam kegiatan layanan belajar di kelas. Kegiatan pembinaan guru merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam setiap usaha peningkatan mutu pembelajaran.[5] Dalam Islam fungsi pengawasan dapat terungkap dalam ayat al-Quran S. Al-Fajr/89: 14.

Terjemahnya : Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.[6] Pengawasan yang dilakukan pengawas sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah harus benar-benar dapat diukur. Artinya, ada peningkatan kualitas layanan belajar yang cukup signifikan sebagai peningkatan profesionalitas guru PAI. Dengan demikian, pengeloaan institusi satuan pendidikan sebagai dampak dari pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat akan terus menerus dapat membangun karakter warga sekolah dan karakter peserta didik. Pemerintah sering melakukan berbagai peningkatan profesionalisme guru, antara lain melalui pelatihan, MGMP, seminar bahkan melalui pendidikan formal, dengan menyekolahkan guru pada tingkat yang lebih tinggi atau kualifikasi S1 bagi yang belum sarjana. Namun upaya tersebut menghasilkan suatu kondisi yang menunjukkan bahwa sebagian besar guru memiliki ijazah perguruan tinggi.[7] Pengawas pendidikan Islam harus mampu memahami kondisi guru dalam meningkatkan kompetensi guru PAI sehingga berdampak pada upaya pembentukan karakter peserta didik di SMA/SMK di kota Tarakan. Pengawas PAI yang bertugas di Kementerian Agama Kota Tarakan ditugaskan sebagai koordinator yang ditunjuk oleh Kementerian Agama Kota dan pengawas PAI dalam naungan Dinas Pendidikan Kota. Pengawas sebagai jabatan fungsional dalam melaksanakan tugasnya sudah menggunakan anggaran dari pemerintah. Standar tenaga pengawas sekolah paling tidak menunjukkan. (1) kualifikasi akademik yang ditunjukkan oleh tingkat pendidikan formal. (2) pengawas sekolah memiliki pengalaman kerja sebagai tenaga pendidik berstatus PNS. (3) rekruitmen tenaga pengawas sekolah terprogram dan teruji secara akademik. (4) pembinaan karier dan pembinaan profesi pengawas sehingga kompetensi profesional pengawas lebih baik dari kompetensi profesional guru. (5) pembinaan karier dan pembinaan profesi pengawas hingga kompetensi profesional pengawas sekolah merupakan jabatan karier tenaga kependidikan yang bergensi. (6) pemerintah kabupaten/kota dan masyarakat memberi dukungan yang kuat kepada pengawas.[8] Pendidikan akan bermutu jika sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat dapat terpenuhi. Peningkatan mutu akan dapat dipenuhi, jika pembinaan sumber daya manusia terjaga profesionalnya. Kemudian perlu menerapkan pengawasan yang intensif, agar semua pelaksanaan program dan kegiatan dapat memenuhi standar dan pencapaiannya terukur. Kecenderungan dalam masyarakat untuk menuntup profesionalisme dalam bekerja. Walaupun istilah ini sering digunakan tampa jelas konsepnya, namun hal tersebut menunjukkan repleksi dari adanya tuntunan yang bermutu, penuh tanggung jawab, bukan hanya sekedar melaksanakannya.[9] Dengan mencermati tugas dan peran pengawas yang begitu kompleks, tampaknya tugas yang berkaitan dengan upaya pembentukan karakter peserta didik melalui peran guru-guru PAI belum sepenuhnya dilaksanakan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah tenaga pengawas yang ada dikantor kementerian Agama Kota dan kantor Dinas Pendidikan Kota Tarakan. Pengawas pendidikan agama Islam kurang sementara jumlah sekolah cukup banyak. Dengan demikian kondisinya menyulitkan pengawas untuk mengakomodir kepentingan sekolah-sekolah secara rutin, selain keterbatasan tersebut pengawas yang ada juga belum dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara optimal, diantaranya belum ada singkronisasi program kerja pengawas dari Kantor Kementerian Agama dengan Kantor Kementerian Pendidikan Kota. Kalaupun pengawas tersebut telah memiliki program, implementasi program tersebut belum maksimal, apalagi tindak lanjutnya. Di lain pihak rendahnya kinerja guru-guru agama Islam dapat di lihat dari fenomena di lapangan antara lain: (1) Cara mengajar guru yang tidak sesuai dengan program kerjanya atau mungkin memang tidak punya program kerja, (2) kurang terampil dalam menggunakan media pengajaran, dan (3) belum dapat menentukan metode yang tepat dalam pengajaran, dan sebagainya.

Faktor tersebut disebabkan oleh motivasi yang ada pada guru itu sendiri, terutama ada atau tidaknya motivasi berprestasi, sehingga gambaran umum tentang profesionalisme guru PAI di SMA/SMK se Kota Tarakan belum memenuhi harapan-harapan dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam sebagai tumpuan utama dalam membentuk karakter peserta didik di sekolah. Pengawasan yang dilakukan oleh Kelompok Kerja pengawasan (Pokjawas) Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan sering tidak dilaksanakan secara efektif dan efesien, dengan kata lain kepengawasan hanya datang ke sekolah sebagai progress checking. Penulis melihat langsung fakta di lapangan bahwa pengawas pendidikan Islam sekarang kurang melaksanakan tugas kepengawasan kepada sekolah binaan di SMA/SMK se Kota Tarakan. Tugas dan fungsi sebagai pengawas kadang diabaikan dan diindahkan, malah pengawas tidak memfokuskan pada peningkatan kompetensi guru, sehingga proses pencapaian tujuan pendidikan dan pembelajaran tidak berjalan secara efektif dan efesien. Pengamatan penulis menggaris bawahi faktor-faktor para pengawas di SMA/SMK di Kota Tarakan tidak menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik yang dapat meningkatkan kompetensi guru PAI, yaitu kurangnya pengetahuan tentang kepengawasan, sementara guru-guru PAI selalu menjadi obyek yang disalahkan seperti peserta didik banyak yang tidak mentaati aturan sekolah, nakal, serlibat perkelahian antar pelajar bahkan melawan gurunya sehingga persoalan tersebut hampir semua pihak mengkambing hitamkan guru khususnya guru PAI yang notabene mengajarkan moral, akhlak dan etika pada peserta didik. Pada hal pengawas PAI sendiri tidak memberikan dorongan untuk pengembangan diri, membangun karakter, serta membuat guru-guru responsif dengan semangat yang menantang yang dapat meningkatkan mutuh pendidikan. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk mengkaji tentang Implementasi Tugas Pengawas Pendidikan Islam dalam meningkatkan Kompetensi Guru PAI SMA/SMK di Kota Tarakan (Dilema Pembentukan Karakter Peserta Didik). B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mengangkat rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana implementasi tugas kepengawasan pendidikan Islam dalam meningkatkan kompetensi guru pendidikan agama Islam SMA/SMK Negeri di Kota Tarakan? 2. Faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dan pendukung pelaksanaan tugas kepengawasan pendidikan Islam terhadap guru pendidikan agama Islam dalam upaya membentuk karakter peserta didik SMA/SMK Negeri di Kota Tarakan? 3. Bagaimana dilema yang terjadi dalam pembinaan yang dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam dalam upaya pembentukan karakter peserta didik SMA/SMK Negeri di Kota Tarakan?

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Implementasi ditinjau dari segi bahasa berasal dari kata implemen yang berarti alat, perabot, peralatan. Jadi kalau implementasi artinya pelaksanaan, penerapan terhadap implemen.[10] Implementasi juga diartikan laksana, sifat laku, perbuatan. Sedangkan istilah pelaksanaan didefinisikan sebagai proses, cara perbuatan melakukan (rancangan keputusan). Rumusan implementasi menurut Van Meter dan Van Horn (1975) adalah tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individul, pejabat-pejabat, atau kelompok pemerintah dan swasta yang diarahkan pada tercapatnya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan. (Wibawa, 1994). Berkaitan dengan implementasi kepengawasan pendidikan Islam, maka dalam Peraturan Menteri Agama RI Nomor 16 Tahun 2010 pasal 1 menjelaskan bahwa pengertian Pengawas Pendidikan Agama adalah guru agama berstatus Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan pengawasan penyelenggaraan pendidikan agama pada sekolah. Pada Pasal 18 diperkuat bahwa Pengawasan pendidikan agama pada satuan pendidikan dilakukan oleh Pengawas Pendidikan Agama. Adapun pengertian kompetensi adalah kecakapan, kewenangan, dan kemampuan melaksanakan sesuatu, yaitu dari kata kompeten yang berarti cakap, berkuasa memutuskan sesuatu atau berwenang.[11] Guru agama Islam adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik sesuai dengan kurikulum PAI. Karenanya guru yang berkompeten adalah guru yang mampu mendidik dan mengajar sesuai dengan kualifikasi ilmu dengan standar profesionalisme sebagai seorang guru, diantaranya adalah guru Pendidikan Agama Islam. B. Tugas dan fungsi Pengawas Pendidikan Islam Dalam Peraturan Menteri Agama yang sama Pasal 19 menjelaskan tentang tugas pengawas agama yaitu; 1. Pengawas pendidikan agama bertugas melakukan pengawasan terhadap terselenggaranya pendidikan agama pada sekolah yang meliputi penilaian, pembinaan, pemantauan, penelitian, pelaporan dan tindak lanjut dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan agama sesuai dengan standar nasional pendidikan agar tercapai tujuan pendidikan agama dan tujuan pendidikan nasional. 2. Pengawas pendidikan agama berwenang: a. Melakukan pemantauan, penilaian, dan evaluasi terhadap penyelenggaraanpendidikan agama di sekolah. b. Melakukan pembinaan terhadap guru pendidikan agama c. Melakukan penelitian tindakan kepengawasan, penelitian sekolah dan penelitian kelas terkait dengan penyelenggaraan pendidikan agama. d. Menyampaikan laporan tentang penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah, serta memberikan rekomendasi kepada pihak-pihak terkait tentang penyelenggaraan pendidikan agama. f. Memberikan penilaian guru pendidikan agama dan rekomendasi dalam rangka mutasi dan promosi. g. Menerapkan metode kerja yang efektif dan efisien dalam melaksanakan tugas sesuai dengan kode etik profesi;dan

h. Memberikan masukan untuk pengembangan pendidikan agama di sekolah. Peraturan tersebut di atas diperkuat oleh Permenag Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengawas Madrasah dan Pengawas Pendidikan Agama Islam pada sekolah pasal 1 yang mengatakan pengawas PAI pada sekolah adalah PNS yang diangkat dalam jabatan fungsional pengawas PAI yang tugas, tanggung jawab, dan wewenangnya melakukan pengawasan penyelenggaraan PAI pada sekolah. Menurut Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2012 tentang pengawas madrasah dan pengawas guru PAI Pasal 4 menyatakan tugas dan fungsi pengawas adalah; 1. Pengawas madrasah berfungsi; a. Menyusun program pengawasan bidang akademik dan manajerial b. Pembinaan dan pengembangan madrasah c. Pembinaan, pembimbingan dan pengembangan profesi guru madrasah d. Pemantauan, penerapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) e. Penilaian hasil pelaksanaan program pengawasan f. Pelaporan pelaksanaan tugas kepengawasan 2. Pengawas PAI pada sekolah berfungsi; a. Menyusun program pengawasan PAI b. Pembinaan, pembimbingan dan pengembangan profesi guru c. Pemantauan, penerapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) d. Penilaian hasil pelaksanaan program pengawasan e. Pelaporan pelaksanaan tugas kepengawasan. C. Kompetensi Pengawas dan Guru PAI SMA/SMK Pengawas Pendidikan Islam dalam melaksanakan tugasnya seyogyanya memiliki kompetensi sesuai dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Pasal 8, yaitu; kompetensi kepribadian, supervisi manajerial, supervisi akademik, evaluasi pendidikan, penelitian pengembangan, dan sosial. 1. Kompetensi kepribadian meliputi: a. Rasa tanggung jawab sebagai pengawas pendidikan agama. b. Kreativitas dalam bekerja dan memecahkan masalah baik yang berkaitan dengan kehidupan pribadinya maupun tugas jabatannya sebagai Pengawas Pendidikan Agama. c. Rasa ingin tahu akan hal-hal baru tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang menunjang tugas pokok dan tanggung jawab sebagai pengawas pendidikan agama. d. Motivasi kerja pada dirinya dan memotivasi pendidik dan peserta didik. 2. Kompetensi supervisi manajerial meliputi: a. Penguasaan metode, teknik dan prinsip-prinsip supervisi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan agama di sekolah; b. Penyusunan program kepengawasan berdasarkan visi, misi, tujuan dan program pendidikan agama di sekolah. c. Perancangan metode kerja dan instrumen yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pengawasan pendidikan agama di sekolah. d. Penyusunan laporan hasil pengawasan dan menindaklanjutinya untuk perbaikan program pengawasan pendidikan agama berikutnya di sekolah. e. Pembinaan guru pendidikan agama dalam pengelolaan dan administrasi pendidikan agama berdasarkan manajemen peningkatan mutu pendidikan agama di sekolah. f. Pembinaan guru pendidikan agama dalam melaksanakan bimbingan dan konseling pendidikan agama di sekolah. g. Mendorong guru pendidikan agama untuk merefleksikan kelebihan dan kekurangannya dalam melaksanakan tugasnya di sekolah. h. Pemantauan pengelolaan pendidikan agama di sekolah berdasarkan standar nasional pendidikan

dalam rangka peningkatan mutu pendidikan agama. i. Pemantauan pelaksanaan pembudayaan pengamalan ajaran agama di sekolah. 3. Kompetensi supervisi akademik meliputi: a. Pemahaman konsep, teori dasar, prinsip, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan pendidikan agama di sekolah. b. Pemahaman konsep, teori, teknologi, prinsip, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan proses pembelajaran dan bimbingan pendidikan agama di sekolah. c. Pembimbingan bagi guru pendidikan agama dalam menyusun silabus pendidikan agama di sekolah berlandaskan standar isi, standar kompetensi, kompetensi dasar, standar kompetensi lulusan, dan prinsip pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. d. Pembimbingan bagi guru pendidikan agama dalam memilih dan menggunakan strategi, metode, teknik pembelajaran dan bimbingan yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa dalam bidang pendidikan agama di sekolah. e. Pembimbingan bagi guru pendidikan agama dalam menyusun RPP pendidikan agama di sekolah, f. Pembimbingan bagi guru pendidikan agama dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan bimbingan di kelas dan atau di luar kelas untuk mengembangkan potensi siswa dalam bidang pendidikan agama di sekolah. g. Pembimbingan bagi guru pendidikan agama dalam mengelola, merawat, mengembangkan, menggunakan media pendidikan, dan fasilitas pembelajaran pendidikan agama di sekolah. h. Pemberian motivasi bagi guru pendidikan agama untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran dan bimbingan pendidikan agama di sekolah. 4. Kompetensi evaluasi pendidikan agama meliputi; a. Penyusunan kriteria dan indikator keberhasilan pembelajaran dan bimbingan pendidikan agama di sekolah b. Pembimbingan bagi guru agama dalam menentukan aspek-aspek yang penting dinilai dalam pembelajaran dan bimbingan pendidikan agama di sekolah c. Penilaian kinerja guru agama dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk meningkatkan mutu pendidikan agama di sekolah d. Pemantauan pelaksanaan pembelajaran dan bimbingan dan hasil belajar siswa serta menganalisisnya untuk perbaikan mutu pendidikan agama di sekolah e. Pembinaan guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan agama di sekolah f. Pengolahan data hasil penilaian kinerja guru pendidikan agama; dan g. Analisis faktor pendukung dan kendala dalam pengembangan pendidikan agama di sekolah sebagai bahan kebijakan. 5. Kompetensi Kompetensi penelitian pengembangan meliputi; a. Penguasaan berbagai jenis, pendekatan, dan metode penelitian dalam pendidikan agama b. Kemampuan menentukan masalah kepengawasan yang penting diteliti baik untuk keperluan tugas pengawasan maupun untuk pengembangan karirnya sebagai pengawas pendidikan agama c. Penyusunan proposal penelitian pendidikan agama baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif d. Pelaksanaan penelitian pendidikan agama untuk pemecahan masalah pendidikan agama, dan perumusan kebijakan pendidikan agama yang bermanfaat bagi tugas tanggung jawab pengawas pendidikan agama; e. Pengolahan data hasil penelitian pendidikan agama baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif

Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) dalam bidang pendidikan agama dan/atau bidang kepengawasan dan memanfaatkannya untuk perbaikan mutu pendidikan agama g. Penyusunan panduan, buku dan/atau modul yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pengawasan di sekolah sebagai tindaklanjut hasil penelitian h. Pelaksanaan penelitian tindakan kepengawasan dalam rangka peningkatan mutu supervisi pendidikan agama i. Pemberian bimbingan kepada guru pendidikan agama untuk merencanakan dan melaksanakan penelitian tindakan kelas dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran pendidikan agama di kelas; dan j. Kerjasama dengan kepala sekolah untuk melaksanakan penelitian tindakan sekolah dalam rangka peningkatan mutu pengelolaan pendidikan agama di sekolah. 6. Kompetensi sosial meliputi; a. Kemampuan untuk bekerja sama dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan kualitas diri untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai pengawas pendidikan agama b. Sikap aktif dalam kegiatan organisasi profesi pendidikan agama dan asosiasi pengawas pendidikan. c. Kemampuan untuk melakukan komunikasi yang baik dengan komunitas sekolah dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan tugas kepengawasan pendidikan agama. d. Sikap adaptif dengan lingkungan sosial budaya tempat bertugas. Pengawas dan Guru Pendidikan Agama Islam dalam kontek tugas dan tanggung jawabnya bersama-sama memiliki kompetensi untuk dapat mewujudkan tujuan pendidikan termasuk pembentukan karakter peserta didik di sekolah. Olehnya itu menurut Permen Nomor 16 tahun 2010 Pasal 16 menyatakan bahwa kompet ensi guru PAI, yaitu Guru Pendidikan Agama harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, profesional, dan kepemimpinan. 1. Kompetensi pedagogik meliputi: a. Pemahaman karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual b. Penguasaan teori dan prinsip belajar pendidikan agama c. Pengembangan kurikulum pendidikan agama d. Penyelenggaraan kegiatan pengembangan pendidikan agama e. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan agama f. Pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki dalam bidang pendidikan agama g. Komunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik; h. Penyelenggaraan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar pendidikan agama i. Pemanfaatan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran pendidikan agama dan j. Tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran pendidikan agama. 2. Kompetensi kepribadian meliputi: a. Tindakan yang sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia b. Penampilan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat c. Penampilan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa d. Kepemilikan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri, serta

f.

e. Penghormatan terhadap kode etik profesi guru. 3. Kompetensi sosial meliputi: a. Sikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif berdasarkan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi b. Sikap adaptif dengan lingkungan sosial budaya tempat bertugas; dan c. Sikap komunikatif dengan komunitas guru, warga sekolah dan warga masyarakat. 4. Kompetensi Profesional meliputi; a. Penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran pendidikan agama. b. Penguasaan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran pendidikan agama. c. Pengembangan materi pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama secara kreatif. d. Pengembangan profesionalitas secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif e. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri. 5. Kompetensi kepemimpinan meliputi: a. Kemampuan membuat perencanaan pembudayaan pengamalan ajaran agama dan perilaku akhlak mulia pada komunitas sekolah sebagai bagian dari proses pembelajaran agama. b. Kemampuan mengorganisasikan potensi unsur sekolah secara sistematis untuk mendukung pembudayaan pengamalan ajaran agama pada komunitas sekolah. c. Kemampuan menjadi inovator, motivator, fasilitator, pembimbing dan konselor dalam pembudayaan pengamalan ajaran agama pada komunitas sekolah. d. Kemampuan kemampuan menjaga, mengendalikan, dan mengarahkan pembudayaan pengamalan ajaran agama pada komunitas sekolah dan menjaga keharmonisan hubungan antar pemeluk agama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia D. Faktor Penghambat dan Pendukung Kepengawasan Pendidikan Islam di SMA/SMK Kota Tarakan. Pengawas dan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) merasa telah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, namun hal itu tidaklah cukup untuk menjadi dasar keberhasilan pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik, olehnya itu terdapat beberapa faktor penghambat dan pendukung yang harus diperhatikan guna melakukan koreksi terhadap pengembangan tugas-tugas kepengawasan serta meningkatnya kompetensi guru-guru PAI SMA/SMK di Kota Tarakan, adapun faktor penghambat dan pendukung tersebut adalah; 1. Penghambat a. Koordinasi yang kurang antara pengawas pendidikan Islam Dinas Pendidikan Kota Tarakan dengan pengawas kependidikan Islam Kantor Kementerian Agama Kota Tarakan. b. Terjadi ketidak seimbangan antara jumlah guru PAI dengan pengawas pendidikan Islam pada dua instansi tersebut c. Kompetensi tenaga kepengawasan belum mencapai standar yang diharapkan. d. Kurangnya pemerataan guru PAI pada sejumlah sekolah, dilain sisi terdapat sekolah yang tidak mencukupi jam wajib mengajar sehingga sulit bagi pengawas menertibkan program akademiknya. 2. Pendukung a. Guru-guru PAI SMA/SMK mayoritas memiliki kualifikasi pendidikan sarjana b. Guru-guru PAI memiliki wadah organisasi MGMP, assosiasi guru agama yang menghimpun kegiatan guru PAI. c. Jumlah guru-guru PAI SMA/SMK se Kota Tarakan cukup memadai E. Karakter yang Hendak Dicapai pada Peserta Didik Implementasi tugas kepengawasan pendidikan Islam dalam meningkatkan kompetensi

guru PAI berdampak langsung pada pembentukan karakter peserta didik, baik karakter itu berana kognitif, afektif maupun psikomotor. Adapun bentuk karakter yang hendak dicapai oleh pemerintah dalam program pendidikan budaya dan karakter bangsa (PBKB) adalah 18 Poin, yaitu; Religius Jujur Toleransi Disiplin Kerja Keras Kreatif Mandiri Demokratis Rasa Ingin Tahu Semangat Kebangsaan Cinta Tanah Air Menghargai Prestasi Bersahabat/Komunikati Cinta Damai Gemar Membaca Peduli Lingkungan Peduli Sosial Tanggung jawa

Pembinaan karakter peserta didik di sekolah-sekolah ditunjang oleh nilai falsafah yang sangat kuat bagi bangsa Indonesia, sehingga menjadi pendukung kelancaran program PBKB , adapun nilai-nilai tersebut adalah; 1. Agama 2. Pancasila Budaya sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa. 3. Tujuan Luhur Pendidikan Nasional F. Dilema Dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik SMA/SMK di Kota Tarakan Peran pengawas pendidikan Islam dalam upaya pembentukan karakter peserta didik merupakan peran tidak langsung, namun sifatnya sangat urgen karena pengawas sumber informasi utama bagi guru PAI dalam mengembangkan kompetensi. Pengawas tidaklah hanya progress checking dari kehadiran guru di sekolah, tapi lebih dari itu adalah membina, menilai dan melakukan pengembangan program untuk pembinaan guru secara maksimal. Karena itu pengawas, guru-guru PAI dan peserta didik adalah satu sistem kerja yang tak terpisahkan. Pengawas sebagai unsur pemantaun, guru PAI adalah pembina langsung di sekolah, sedangkan peserta didik mesin hitung yang digerakkan untuk membentuk dirinya menjadi cerdas dan berkarakter. Dalam hal inilah pentingnya semua guru mata pelajaran tidak boleh menutup mata, bahwa membentuk karakter peserta didik adalah tanggung jawab seluruh tenaga pendidik dan kependidikan. Guru-guru mata pelajaran non agama dan pendidikan kewarganegaraan tidak memahami bahwa PBKB bukan hanya domainnya guru PAI tapi juga seluruh bidang studi yang diajarkan pada peserta didik. Kalau sisten pendidikan berjalan sesuai dengan aturan dalam kontek pengawas berperan maksimal untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya plus guru PAI menakukan pembinaan secara penuh di sekolah, maka peserta didik yang berkarakter akan mudah terwujud karena memang peserta didik adalah mesing hitung yang cerdas, meskipun masing-masing peserta didik memiliki dasar karakter yang berbeda.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Pengawas pendidikan Islam sesuai dengan aturan Menteri Agama bertugas melakukan pengawasan meliputi penilaian, pembinaan, penelitian, pelaporan dan tindak lanjut dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk mencapai tujuan pendidikan Islam dan tujuan pendidikan nasional. Karena itu pengawas agama harus lebih berkompeten dari guru PAI, kapan terjadi sebaliknya maka tujuan pendidikan Islam dan tujan pembentukan karakter peserta didik sulit akan terwujud. 2. Antara satu pengawas dengan pengawas yang lain khususnya pengawas kependidikan Islam, seyogyanya terdapat koordinasi yang kompak baik dari pengawas Kementerian Agama Kota maupun pengawas dari Dinas Pendidikan Kota. Karena itu keseimbangan jumlah antara dua instansi tersebut. Di samping itu terdapat pemerataan jumlah pengawas dengan jumlah guru PAI. 3. Peran pengawas PAI tidak Cuma sekedar progress checking, tetapi mempunyai peran yang lebih besar dalam membina dan menilai guru PAI. Di samping itu peran semua unsur pendidik mengarahkan pendidikan dan pengajaran itu pada pembentukan karakter tampa menyerakan sepenuhnya pada guru PAI atau guru pendidikan kewarganegaraan.

B.

Saran-saran

1. Hendaknya Dinas Pendidikan Kota bersama Badan Kepegawaian Kota Tarakan melakukan pemerataan dan penertiban guru PAI pada setiap sekolah, hingga tidak terjadi penumpukan, sementara di tempat lain yang kosong guru Pendidikan Agama Islamnya. 2. Hendaknya Dinas Pendidikan Kota dan Kantor Kementerian Agama Kota melakukan pembinaan dan pelatihan untuk pengawas pendidikan Islam demi menjaga imege bahwa guru lebih berkompeten dari pengawas. 3. Hendaknya Pemerintah Kota Tarakan membentuk wadah konsolidasi guna memfasilitasi Dinas Pendidikan Kota dengan Kantor KementerianAgama Kota Tarakan, agar senantiasa bekerja sama dalam dalam mewujudkan visi misi peserta didik yang berkarakter sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

DAFTAR PUSTAKA Dadang Suhardan, Supervisi Proesional dan Layanan dalam Meningkatkan mutu Pembelajaran Pembelajaran di Era Otonomi Cet. III; Bandung:Alfabeta, 2010 Departemen Agama RI, al-Quran dan Terjemahnya Semarang, Karya Toha Putra, 2002 Departemen Agama RI, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005 E.Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan Cet. XI; Bandung : Remaja Rosdakarya, 2011 Muhammad Nurdin, Kiat Menjadi Guru Profesional Cet.1; Yogyakarta: Presma Sophe, 2004 Pius A. Partanto, dkk., Kamus Ilmiah Populer, Surabaya; Aloka, 1994 Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Cet. 1; Jakarta: Rineka Cipta, 2000 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI. No. 12 Tahun 2007 Tentang Standar Sekolah/Madrasah Peraturan Menteri Agama RI. No. 16 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Pendidikan Agama Pada Sekolah Peraturan Menteri Agama RI. No. 2 Tahun 2012 Tentang Pengawas Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Syaiful Sagala, Kemampuan Profesionalisme Guru dan tenaga Kependidikan Cet. III; Bandung: Penerbit Alfabeta, 2011 Udin Syefuddin Saud, Pembangunan Profesi Guru Cet.I; Bandung: Alfabeta, 2009 Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Cet.IV; Sinar Grafika, 2003 A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, (Cet. 1; Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 1
2

[1]Piet

Muhammad Nurdin, Kiat Menjadi Guru Profesional (Cet.1; Yogyakarta: Presma Sophe, 2004), h. 40.

Republik Indonesia, Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Cet.IV; Sinar Grafika, 2003), h. 42 Syaiful Sagala, Kemampuan Profesionalisme Guru dan tenaga Kependidikan (Cet. III; Bandung: Penerbit Alfabeta, 2011), h. 200. 5 Dadang Suhardan, Supervisi Proesional dan Layanan dalam Meningkatkan mutu Pembelajaran Pembelajaran di Era Otonomi (Cet. III; Bandung:Alfabeta, 2010),h. 12.
4

Departemen Agama RI, al-Quran dan Terjemahnya (Semarang, Karya Toha Putra, 2002), h. 805
E.Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan (Cet. XI; Bandung : Remaja Rosdakarya, 2011), h. 19-20. [8]Ibid., h. 203 [9]Udin Syefuddin Saud, Pembangunan Profesi Guru (Cet.I; Bandung: Alfabeta, 2009, h. 4 [10]Pius
7

A. Partanto, dkk., Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya; Aloka, 1994), h. 247

[11]Ibid.,

h. 353

A. PENDAHULUAN Semua negara dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia berusaha keras agar dapat menerapkan standar dalam menyelenggarakan pendidikannya. Tiap negara berlomba menetapkan kriteria minimal pada berbagai komponen strategis agar memenuhi standar mutu minimal sebagai modal dasar untuk mengembangkan persaingan. Keberhasilannya diukur dengan indikator-indikator yang paling strategis sehingga menggambarkan hasil nyata sebagai komponen utama penentu daya saing. Pendidikan yang bermutu tinggi atau berkualitas tinggi merupakan harapan setiap warga negara termasuk di Indonesia. Sebab pendidikan yang bermutu akan menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu pula. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bab II pasal 3, menyatakan bahwa Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah sangat serius menangani bidang pendidikan, sebab dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pendidikan adalah salah satu unsur paling penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan merupakan proses pendewasaan diri manusia itu sendiri serta selain itu pendidikan juga merupakan proses pembentukan pribadi dan karakter manusia. Kemudian, pada satu fokus yang lebih khusus yaitu pendidikan formal, manusia diberikan dasar-dasar pengetahuan sebagai pegangan dalam menjalani hidup dan menghadapi kenyataan hidup dimana didalam pendidikan formal dalam hal ini adalah sekolah menjadi suatu jenjang yang mungkin memang sudah selayaknya dilalui dalam proses kehidupan manusia. Kemudian dalam pendidikan sekolah itu, manusia juga selain melatih kedewasaan juga mengasah intelektualitasnya dan kompetensinya dalam tanggung jawab dan kesadaran. Seperti telah dituliskan sebelumnya, pada dunia sekolah, manusia dilatih intelektualitasnya dengan pengetahuan dan ilmu-ilmu yang diajarkan dalam proses pendidikannya pada jenjang-jenjang yang telah ada dan diatur. Untuk itu, pada pendidikan sekolah sangat diperlukan adanya perencanaan dalam pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan tersebut. Perencanaan yang dimaksud adalah kurikulum pendidikan atau sekolah yang di dalamnya terdapat standar-standar pembelajaran dan pengembangan intelektualitas manusia. Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervisi. Pengawasan bertanggung jawab tentang keefektifan program itu. Oleh karena itu, supervisi haruslah meneliti ada atau tidaknya kondisi-kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Dalam makalah ini akan membahas masalah tentang strategi pelaksanaan supervisi pendidikan pada lembaga pendidikan formal. B. PERMASALAHAN 1. Bagaimana strategi pelaksanaan supervisi pendidikan pada lembaga pendidikan formal ? 2. Apa saja pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan supervisi pendidikan? C. KAJIAN PUSTAKA Istilah supervisi baru muncul kurang lebih tiga dasawarsa terakhir ini (Suharsimi Arikunto, 2004). Kegiatan serupa yang dahulu banyak dilakukan adalah Inspeksi, pemeriksaan, pengawasan atau penilikan. Dalam konteks sekolah sebagai sebuah organisasi pendidikan, supervisi merupaka bagian dari proses administrasi dan manajemen. Kegiaan supervisi melengkapi fungsi-fungsi administrasi yang ada di sekolah sebagai fungsi terakhir, yaitu penilaian terhadap semua kegiatan dalam mencapai tujuan. Dengan supervisi, akan memberikan inspirasi untuk bersama-sama menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dengan jumlah lebih banyak, waktu lebih cepat, cara lebih mudah, dan hasil yang lebih baik daripada jika dikerjakan sendiri. Supervisi mempunyai peran mengoptimalkan tanggung jawab dari semua program. Supervisi bersangkut paut dengan semua upaya penelitian yang tertuju pada semua aspek yang merupakan factor penentu keberhasilan. Dengan mengetahui kondisi aspek-aspek tersebut secara rinci dan akurat, dapat diketahui dengan tepat pula apa yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas

organisasi yang bersangkutan. Good Carter memberi pengertian supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahanbahan pengajaran, dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran. Boardman et. Menyebutkan Supervisi adalah salah satu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secarr kontinyu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran dengan demikian mereka dapat menstmulir dan membimbing pertumbuan tiap-tiap murid secara kontinyu, serta mampu dan lebih cakap berpartsipasi dlm masyarakat demokrasi modern. Wilem Mantja (2007) mengatakan bahwa, supervisi diartikan sebagai kegiatan supervisor (jabatan resmi) yang dilakukan untuk perbaikan proses belajar mengajar (PBM). Ada dua tujuan (tujuan ganda) yang harus diwujudkan oleh supervisi, yaitu; perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan. Menurut Kimball Wiles (1967)Konsep supervisi modern dirumuskan sebagai berikut : Supervision is assistance in the development of a better teaching learning situation. Ross L (1980), mendefinisikan bahwa supervisi adalah pelayanan kapada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan pengajaran, pembelajaran dan kurikulum. Menurut Purwanto (1987), supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif. Dari uraian definisi supervisi diatas, maka dapat dipahami para pakar menguraikan defenisi supervisi dari tinjauan yg berbeda-beda.God Carter melihatnya sebagai usaha memimpin guru-guru dalam jabatan mengajar, Boardman. Melihat supervisi sebagai lebih sanggup berpartisipasi dlm masyarakat modern. Willem Mantja memandang supervisi sebagai kegiatan untuk perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan. Kimball Wiles beranggapan bahwa faktor manusia yg memiliki kecakapan (skill) sangat penting untuk menciptakan suasana belajar mengajar yg lebih baik. Ross L memandang supervise sebagai pelayanan kapada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan. Sedangkan Purwanto (1987) memandangkan sebagai pembinaan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif. Secara umum strategi mengandung pergerakan suatu garis-garis besar haluan atau cara untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Berdasarkan pengertian supervisi pendidikan yang telah dibahas sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa strategi supervisi pendidikan adalah cara-cara atau metode khusus untuk memberikan bantuan kepada guru dalam memperbaiki situasi belajar mengajar. Pendidikan formal adalah kegiatan yang sistematis, berstruktur, bertingkat, berjenjang, dimulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi dan yang setaraf denganya; termasuk ke dalamnya ialah kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum, program spesialisasi, dan latihan profesional, yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus. Selain pendidikan formal di Indonesia juga dikenal dengan adanya pendidikan non formal dan informal. Pendidikan non formal ialah setiap kegiatan terorganisasi dan sistematis, di luar sistem persekolahan yang mapan, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting dari kegiatan yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta didik tertentu didalam mencapai tujuan belajarnya. Sedangkan Pendidikan informal adalah proses yang berlagsung sepanjang usia sehingga setiap orang memperoleh nilai, sikap, ketrampilan dan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman hidup seharihari, pengaruh lingkungan termasuk didalamnya adalah pengaruh kehidupan keluarga, hubungan dengan tetanga, lingkungan pekerjaan, dan permainan, pasar, perpustakaan, dan media masa. D. PEMBAHASAN 1. Strategi Pelaksanaan Supervisi Pendidikan pada Lembaga Pendidikan Formal Secara umum strategi mengandung pergerakan suatu garis-garis besar haluan atau cara untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah di tentukan sebelumnya.Berdasarkan pengertian supervisi pendidikan yang telah dibahas sebelumnya,dapat disimpulkan bahwa strategi supervisi pendidikan adalah cara-cara atau metode khusus untuk memberikan bantuan kpda guru dlam memperbaiki situasi belajar mengajar. Adapun strategi dasar yang dapat dilakukan supervisor dalam supervisi pendidikan meliputi hal-hal berikut:

1) Meneliti dan mengamati pelaksanaan tugas kepsek atau guru 2) Menentukan apakah pelaksanaan tugas suatu sekolah baik atau buru 3) Memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang sesuai dg harapan supervisor 4) Memberikan bantuan kpd kepsek atau guru utk mengadakan perbaikan pelaksanaan tugasnya 5) Mengadakan kerja sama dengan kepala sekolah dan guru untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik. Teknik supervisi merupakan cara-cara yang ditempuh dalam mencapai tujuan tertentu, baik yang berhubungan dengan penyelesaian masalah guru- guru dalam mengajar, masalah kepala sekolah dalam mengembangkan kelembagaan serta masalah-masalah lain yang berhubungan serta berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan Teknik supervisi menurut Sahetian (2000) ada 2 macam yatu: 1. Supervisi yang bersifat individual, 2. Supervisi yang bersifat kelompok. Pembagian supervisi ini didasarkan pada aspek pelaksanaannya yaitu secara sendiri, dan secara kelompok. Teknik supervisi individual meliputi : supervisi kunjungan kelas dan supervisi obeservasi kelas. 1. Kunjungan kelas Yang dimaksud kunjungan kelas yaitu Kepala sekolah atau supervisor datang ke kelas untuk melihat cara guru mengajar di kelas. Dengan ini supervisi dapat melihat keadaan yang sebnarnya, tanpa dibuat-buat. Hal seperti ini dapat membiasakan guru agar selalu mempersiapkan diri sebaik-baiknya. 2. Observasi kelas Observasi kelas Melalui perkunjungan kelas, supervisor dapat mengobservasi situasi belajar-mengajar yang sebenarnya. Ada dua macam observasi kelas. Observasi Observasi langsung (direct observation) Dengan menggunakan alat observasi, supervisor mencatat absen yang dilihat pada saat guru Sedang mengajar. Observasi Tidak Langsung Orang yang diobservasi dibatasi oleh ruang kaca di mana murid-murid tidak mengetahui (biasanya dilakukan dalam laboratorium untuk pengajaran mikro). Sedangkan supervisi secara kelompok meliputi : 1. Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting) Fungsi komunikasi manajemen sekolah dapa terlaksana dengan baik apabila masing-masing sekolah mempunyai hak yang sama untuk mengemukakan pendapat, dan segala informasi yang ada dapat segera dengan cepat menyebar. Seorang kepala sekolah yang memenuhi fungsinya dengan baik, yaitu fungsi pengarahan (directing), pengkoordinasian(coordinating), dan pengkomunikasian (communicating), apabila dia tidak segan-segan menyelenggarakan pertemuan bersama dalam rapat dengan guru dan staf TU secara rutin. Dalam pelaksanaan rapat, masalah waktu, dan tempat mempunyai pengaruh besar terhadap sukses atau tidaknya pertemuan tersebut. Kepala sekolah atau supervisor sebagai penginisiatif rapat harus memperhitungkan berbagai segi didalam penetapan waktu dan tempat sehingga guru-guru dapat hair tanpa banyak merugikan penyelenggaraan pendidikan pengajaran umumnya, atau kepentingan pribadi guru yang bersangkutan, dan seupaya rapat membawa hasil yang diharapkan. 2. Mengadakan diskusi kelompok (group discussion ) Diskusi adalah pertukaran pendapat tentang sesuatu masalah untuk dipecahkan bersama. Diskusi merupkan cara utuk mengembangkan ketrampilan anggota-anggotanya dalam mengatasi kesulitankesulitan dengan jalan bertukar pikiran. Diskusi kelompok dilakukan sebagai metode untuk mengumpulkan data, namun juga dapat digunakan untuk mmpertemukan pendapat antar staf pimpinan saja. Diskusi kelompok dapat diselenggarakan dengan mengundang atau mengumpulkan guru-guru bidang studi sesuaidengan keperluannya. 2. Pendekatan yang Digunakan dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan Dalam menjalankan tugasnya sebagai supervisor, antara supervisor yang satu dengan yang lainnya mungkin saja menggunakan metode pendekatan yang berbeda. Thomas JJ Serjiovanni mengatakan bahwa pelaksanaan supervisi di sekolah sekarang didasarkan pada satu atau merupakan kombinasi dari 3 teori kepengawasan pada umumnya, yakni: Tradisional scientific management,human relasion,& neo scientific management. a. Tradisional scientific management.

Pendekatan ini melukiskan pandangan hasil supervise pendidikan yang otokratis. Guru-guru dianggap sbg alat management & dipakai untuk melaksanakan segala kewajiban yang telah di tentukan sesuai dengan keinginan-keinginan managemen. Pengawasan, efisiensi, & pertanggung jawaban Guru-guru sangat diperlukan.Situasi hubungan antara guru dan supervisor mirip sekali dg hubungan antara majikan dengan pembantunya, Sehingga system pengawasan terasa ketat dan kaku. Tugas supervisor sebagai inspektur yang fungsinya memberi arah, mengecek cara-cara guru mengajar, menilai dengan hasil belajar sesuai dengan informasi yang di sampaikan serba instruksi. Meskipun pendekatan ini sudah jarang digunakan, namun sisa-sisa pengaruh dari teori ini masih dapat ditemukan di sekolah-sekolah tertentu. b. Human relasions Supervisi yang dipengaruhi oleh pandangan ini mendasarkan pada proses administrasi & management secara demokrasi. Guru-guru dipandang sebagai manusia yang bulat dan memiliki hak-hak pribadi bukan sekedar paket energi, ketrampilan dan sikap-sikap yang dibutuhkan oleh apa administrator maupun supervisor. Supervisor bekerja untuk menciptakan suatu kepuasan pada guru-guru dengan jalan menunjukkan perhatian pada mereka sebagai manusia. Pendekatan demikian didasari oleh pandangan bahwa sifat yang mempunyai kepuasan akan berusaha bekerja keras dan mudah diajak bekerja sama, dipimpin dan dikontrol. Parsitipasi dijadikan metode yang penting, dengan tujuan membuat guru agar mempunyai perasaan bahwa mereka penting dan berguna bagi sekolah. Perasaan-perasaan pribadi & hubungan-hubungan yang menyenangkan merupakan kata-kata semboyan dari pendekatan ini. c. Neoscientific management Pendekatan ini lebih condong pada perhatian management ilmiah (pendekatan pertama) terhadap kontrol, pertangung jawaban, & efisiensi. Kata-kata semboyan gerakan pendekatan baru ini adalah kompetensi guru, sasaran-sasaran kegiatan dan analisa cost benefit. Dimensi tugas, perhatian terhadap jabatan, dan sasaran yang telah ditetapkan lebih ditekankan pada pendekatan ini, meskipun sering mengorbankan dimensi manusia. Pengawasan yang rasional, non pribadi dan teknis diterapkan sebagai pengganti sistem yang dijalankan pada pendekatan pertama. Asumsi dasarnya : apabila standarstandar kegiatan, sasaran-sasaran dan kompetensi tertentu dapat diidentifikasi, maka pekerjaan para guru akan dapat dikontrol dengan berpedoman pada standar-standar tersebut untuk meyakinkan bahwa proses pengajaran yang dilaksanakan telah berjalan dengan baik. d. Human resource Pendekatan ini hampir sama dengan pendekatan human relation, yaitu sama-sama memperhatikan kepuasan pribadi guru dalam proses supervisi. Hanya saja cara memandangnya yang berbeda secara kritis. Pendekatan human relation memandang kepuasan sebagai alat untuk menciptakan suatu kegiatan sekolah yang lancar dan efektif. Supervisor boleh jadi melibatkan guru dalam proses pengambilan keputusan,karena hal itu dianggap akan meningkatkan kepuasan guru. Guru-guru yang memperoleh kepuasan diduga secara otomatis akan mudah diajak bekerja sama, dipimpin dan karenanya efektivitas akan meningkat. Rasionalnya adalah guru-guru ingin merasa penting dan terlibat. Perasaan ini akhirnya akan melahirkan sikap baik guru terhadap sekolah, sehingga mereka mudah diatur. Sedangkan human resource memandang kepuasan sebagai tujuan yang diinginkan ke arah mana guruguru akan bekerja. Kepuasan akan diperoleh setelah segala aktifitas telah dikerjakan dengan berhasil. Dan keberhasilan dalam menyelesaikan pekerjaan ini merupakn komponen kunci daripada efektifitas sekolah. Supervisor melibatkan guru-guru dalam proses pengambilan keputusan didasarkan pada potensi yang mereka miliki dianggap mampu meningkatkan efektifias sekolah. Suatu keputusan yang baik dan komitmen guru yang tinggi terhadap keputusan yang diambil itu akan menjamin meningkatnya efektivitas kegiatan sekolah. Keberhasilan inilah yang nantinya akan meningkatkan kepuasan pada guru. E. REKOMENDASI Secara sederhana supervisi ialah pengawasan yang dilakukan untuk mencari kelemahan atau kekurangan yang ada kemudian diberikan solusi pemecahan atas kekurangan dan kelemahan yang ada. Supervisi pendidikan ini penting adanya terutama bagi peningkatan kualitas dan perbaikan terhadap berlangsungnya pendidikan.

Di dalam melakukan supervisi, seorang supervisor harus menguasai strategi, teknik dan pendekatanpendekatan yang dibutuhkan agar kegiatan supervisi tersebut berjalan dengan baik dan tepat. Tanpa menguasai strategi-strategi seorang supervisor akan kesulitan dalam melakukan kegiatan pengawasan atau supervisi. Jika sudah demikian, maka supervisi tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan, kekurangan dan kelemahan pada suatu lembaga pendidikan formal utamanya. Di lembaga pendidikan formal yang sejatinya mempunyai sistem yang lebih rapi, mempunyai kurikulum, standar-standar tertentu dan lain sebagainya pastilah seorang supervisor dalam melakukan supervisi wajib menggunakan strategi, teknik dan pendekatan-pendekatan tertentu agar lembaga pendidikan formal tersebut dapat memiliki kualitas atau mutu yang tinggi dan sesuai dengan 8 standar pendidikan yang telah dijelaskan pada pertemuan sebelimnya. Jadi intinya supervisor harus menguasai strategi dalam melakukan supervisi, terutama pada lembaga pendidikan formal. F. SIMPULAN 1. Adapun strategi dasar yang dapat dilakukan supervisor dalam supervisi pendidikan meliputi hal-hal berikut: Meneliti dan mengamati pelaksanaan tugas kepsek atau guru Menentukan apakah pelaksanaan tugas suatu sekolah baik atau buru Memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang sesuai dg harapan supervisor Memberikan bantuan kpd kepsek atau guru utk mengadakan perbaikan pelaksanaan tugasnya Mengadakan kerja sama dengan kepala sekolah dan guru untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik. Teknik supervisi individual meliputi : supervisi kunjungan kelas dan supervisi obeservasi kelas. Sedangkan supervisi secara kelompok meliputi: Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting) dan Mengadakan diskusi kelompok (group discussion ). 2. Dalam menjalankan tugasnya sebagai supervisor, antara supervisor yang satu dengan yang lainnya mungkin saja menggunakan metode pendekatan yang berbeda. Thomas JJ Serjiovanni mengatakan bahwa pelaksanaan supervisi di sekolah sekarang didasarkan pada satu atau merupakan kombinasi dari 3 teori kepengawasan pada umumnya, yakni: Tradisional scientific management,human relasion,& neo scientific management. G. DAFTAR PUSTAKA Kisbiyanto, 2008, Supervisi Pendidikan, Kudus: Stain Kudus Luk-luk Nur Mufidah, 2009, Supervisi Pendidikan, Yogyakarta: Teras Piet A. Sahertian, 2008, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Jakarta: Rieneka Cipta http://maswanispdyahoocoid.blogspot.com/2007/05/pentingnya-supervisi-pendidikan.html http://andinurdiansah.blogspot.com/2011/03/strategi-supervisi-pendidikan.html http://www.infodiknas.com/fkip-unisma-pendidikan-formal-pendidikan-non-formal-dan-pendidikaninformal/

PERAN STRATEGIS PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN Sebagaimana tercantum dalam Permendiknas RI no 63 Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP). Untuk melakukan Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh Pemerintah Provinsi kepada satuan atau program pendidikan formal dilakukan bekerjasama dan berkoordinasi dengan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) yang ada pada masing-masing Propinsi sebagai perwakilan Kementrian Pendidikan Nasional yang ada di daerah. Dan sebagai perpanjangan tangan LPMP di pada masing-masing Dinas Pendidikan Kab/Kota, yang melaksanakan penjaminan mutu untuk satuan atau program pendidikan adalah pengawas sekolah/madrasah yang langsung bertugas melakukan pendampingan pada sekolah-sekolah binaannya.

Didalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2010 Tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya, pada Pasal 5 menyatakan Tugas Pokok Pengawas Sekolah adalah melaksanakan tugas pengawasan Akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan, pemantauan pelaksanaan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan (SNP), penilaian, pembimbingan dan pelatihan profesional guru, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan. Pengawas sekolah dalam hal ini harus dapat berfungsi sebagai Mitra, Konsultan, Asesor, konselor dan motivator baik terhadap Kepala Sekolah dan guru-guru yang berada dibawah binaannya. Untuk melaksanakan tugas tersebut maka diperlukan seorang pengawas sekolah/madrasah yang profesional dengan kompentesi yang harus dimiliki oleh seorang pengawas adalah Kompetesi kepribadian, Supervisi Manajerial, Supervisi Akademik, Evaluasi Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan serta kompetensi sosial. Pengawas sekolah dalam pelaksanaan tugasnya adalah sebagai jembatan penghubung (mediator) antara sekolah dengan Dinas Pendidikan. Kebijakan-kebijakan dari Dinas Pendidikan atau Pemerintah disampaikan oleh Pengawas kepada masing-masing sekolah binaannya sebaliknya imformasi-imformasi dari sekolah binaan, maka pengawas yang akan menyampaikannya kepada pihak pengambil Kebijakan dalam hal ini Dinas Pendidikan baik secara lisan maupun bentuk laporan tertulis. Dari hal itulah maka peran pengawas sekolah/madrasah sangat strategis dalam rangka peningkatan mutu pendidikan secara umum. Untuk melakukan tugas tersebut maka pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional menerbitkan Permendiknas RI Nomor 12 Tahun 2007 bahwa untuk ditunjuk dan ditugaskan sebagai pengawas Sekolah/madrasah, sesorang harus mempunyai kualifikasi, al : Pendidikan Strata 2 (S 2) dengan berlatar belakang pendidikan Strata 1 (S 1) bidang kependidikan, pengalaman mengajar 8 tahun sebagai guru, 4 tahun sebagai Kepala Sekolah dan mempunyai sertifikasi pendidik. Maka dengan kualifikasi yang demikian diharapkan pengawas sekolah/madrasah akan mampu melakukan pendampingan terhadap Kepala Sekolah/madrasah juga mampu melakukan pembimbingan dan pelatihan professional terhadap guru-guru disekolah binaannya. Apabila hal ini dapat berjalan dengan baik maka peningkatan mutu pendidikan pada satuan pendidikan dapat selalu ditingkatkan dengan peranan yang strategis dari seorang pengawas sekolah/madrasah yang Profesional, Kreatif, Inovatif serta selalu Pro aktif dalam melakukan pembinaan ke sekolah/madrasah. Kementrian Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan Propinsi, Kab/Kota agar selalu memberdayakan secara optimal setiap pengawas sekolah/madrasah yang ada dan selalu bersinergi dalam rangka peningkatan mutu pendidikan ke depan. Semoga pendidikan yang bermutu yang menjadi dambaan dan harapan kita bersama dapat terwujudkan dengan adanya jalinan yang harmonis antara semua pihak. Semoga Allah SWT merestui, amien!!! (Penulis : Drs. HM. Suyanto, MH / Pengawas Sekolah Menengah Disdik Kab. Kuantan Singingi Hp. 081378401965)