Anda di halaman 1dari 2

1. Perlukan seseorang yang telah menerima transplantasi, mendapatkan transplantasi kedua?

Atau seseorang yang belum pernah mendapatkan transplantasi sama sekali menjadi prioritas utama? Tentunya untuk memberikan tranplantasi organ disesuaikan dengan ketersediian pendonor, indikasi , dan prognosis dari pelaksanaan langkah tersebut. Jika kondisi dilapangan sesuai dengan hal tersebut maka tidak menutup kemungkinan dilakukan tranplantasi kedua pada seseorang. Berdasarkan kondisi di lapangan, hal ini sangant jarang terjadi karena keterbatasan pendonor dan biaya yang dibutuhkan cukup besar. Seseorang yang belum pernah mendapatkan tranplantasi dapat mendapat menjadi prioritas utama jika memiliki prognosis yang baik jika dilakukan tranplantasi. Hal ini disesuaikan dengan kaidah Beneficient dari kaidah dasar bioetika kedokteran agar memberikan kebermanfaatan dan mampu meningkatkan kualitas hidup pasien. Jika harus dibandingkan keduanya, maka pasien dengan prognosisnya lebih baiklah yang menjadi prioritas. 2. Perlukah sesorang dengan gaya hidup tidak baik (merokok, peminum, pengguna narkotika, obesitas, dll) diberikan kesempatan untuk transplantasi organ? Setiap manusia memiliki kesempatan untuk hidup sesuai dengan Hak Asasinya sebagai manusia. Sebagai tenaga kesehatan yang profesional kita dapat memberikan kesempatan tranplantasi jika orang dengan gaya hidup tidak baik membutuhkan tindakan tersebut. Kita wajib untuk memberikan kepada pasien tersebut baik sebelum, saat, ataupun setelah tindakan tersebut untuk memberikan edukasi kepada pasien agar mengubah gaya hidupnya menjadi lebih baik. Tindakan ini tentunya sesuai dengan kaidah dasar bioetikan Justice. 3. Perlukah seseorang yang pernah mencoba bunuh diri mendapatkan transplantasi organ? Bagaiman jika ia mengulangi hal yang sama? Perlu, kejiwaan seseorang yang mengalami gangguan tentunya mengalami fluktuasi. Sehingga memerlukan tindakan rehabilitasi untuk memberikan edukasi yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Segala kemungkinan buruk yang dapat membahayakan dirinya seharusnya dapat kita cegah agar tindakan tranplatasi yang dilakukan tidak sia-sia. 4. Perlukah seseorang yang memiliki anak menjadi prioritas mendapatkan transplantasi organ? Apabila dibandingkan seseorang yang belum menikah? Orang yang lebih tua? Tidak perlu, segala tindakan tersebut harus disesuaikan dengan indikasi dan prognosis yang akan dicapai. Tetapi jika keadaan ketiga kondisi ini sama, maka

orang yang memiliki anak dapat diprioritaskan. Mereka dengan keluarga memiliki tanggungan hidup yang lebih besar untuk masa depan dirinya dan keluarganya. Setelah melakukan hal tersebut, kita juga tidak boleh menelantarkan pasien yang belum menikah dan orang yang sudah tua. Semua kondisi ini harus mendapatkan solusi dari masalah-masalah mereka. 5. Perlukah seseorang yang tidak mampu membeli terapi anti-penolakan tidak mendapat transplantasi? Tidak perlu, tidak semua tindakan tranplantasi terjadi penolakan dari sistem dalam tubuhnya. Meskipun hal tersebut dapat terjadi karena proses imunologis tunuh yang innate maupun adaptive. Setiap manusia memiliki kesempatan hidup yang sama, terlebih lagi jika sistem yang dibangun di Indonesia saat ini JKN. Maka tidak akan ada alasan seseorang tidak mampu membeli terapi immunsupressan.