Anda di halaman 1dari 7

NAMA NPM JURUSAN MATA KULIAH

: Imam Ansori : 150510110157 : Agroteknologi : Sistem Pertanian Berkelanjutan 1 (Organik)

TUGAS 1 1. Sebutkan dan jelaskan prinsip dasar hubungan tanah dan tanaman pada pertanian organic Pada perinsipnya tanah erat kaitanya dengan pertanian organik diman bantak faktor-faktor yang mempengaruhi seperti sifat fisik, kimia, dan bologis pada sifat fisik: tekstur: berkaitan dengan porositas, infiltrasi air & ketersediaan air tanah kedalaman lapisan olah: berhubungan dengan penetrasi akar berat jenis: berkaitan dengan laju infiltrasi, konduktivitas hidraulik & kapasitas menahan air (water holding capacity, WHC) stabilitas aggregat berhubungan dengan kandungan bahan organik & resistensi tanah terhadap erosi. Pada sifat kimia reaksi tanah (pH): berkaitan dengan ketersediaan unsur hara kapasitas tukar kation: berkaitan dengan koloid organik & koloid anorganik mempengaruhi produksi kandungan unsur hara: terutama unsur N, P, dan K. berkaitan dengan kesuburan tanh Pada sifat Biologi Respirasi & aktivitas mikroba di dalam tanah Proses dekomposisi & mineralisasi Karbon (C), Nitrogen (N)

2. Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah konversi tanah pertanian konvensional menjadi pertanian organic Konversi lahan 1. Lahan yang digunakan untuk produksi pertanian organik harus bebas dari bahan kimia sintetis. 2. Jika lahan yang akan digunakan untuk pertanian organik berasal dari lahan yang sebelumnya digunakan untuk produksi pertanian non organik, maka lahan tersebut harus dilakukan konversi dengan ketentuan sebagai berikut: a. Untuk tanaman semusim diperlukan masa konversi minimal 2 (dua) tahun, sedangkan untuk tanaman tahunan (tidak termasuk padang rumput) diperlukan masa konversi minimal 3 (tiga) tahun. Bergantung pada situasi dan kondisi yang ada, masa konversi bisa diperpanjang atau diperpendek, namun tidak boleh kurang dari 12 bulan. Keputusan penambahan atau pengurangan masa konversi tersebut dibuat oleh Lembaga Sertifikasi dengan mengacu pada ketetapan Otoritas Kompeten Pangan Organik (OKPO) berdasar masukan dari pakar yang kompeten. b. Prinsip-prinsip budidaya pertanian organik seperti tercantum dalam SNI Sistem Pangan Organik harus telah diterapkan pada lahan yang sedang dalam periode

konversi. Selama masa konversi tersebut dianjurkan tanah tetap diusahakan untuk budidaya tanaman.

c. Lahan yang telah atau sedang dikonversi ke lahan untuk produksi pertanian organik tidak di perbolehkan untukdiubah bolak-balik antara lahan pertanian organik dan non organik (konvensional) d. Jika lahan pertanian tidak dapat dikonversi secara bersamaan, maka perlu adanya batas yang tegas dan cukup antara lahan yang dalam konversi dengan lahan lainnya sehingga terhindar dari kontaminasi, seperti yang dapat terjadi pada saat penyemprotan pestisida yang dilakukan pada lahan non organik atau rembesan air pada lahan organik dari lahan non organik. Terutama juga pada lahan budidaya non organik yang

lokasinya berada di atas budidaya pertanian organik. e. Perlu adanya batasan yang jelas mengenai lahan yang diusahakan secara organik dan lahan non organik (konvensional). 3. Sebutkan dan uraikan managemen kesuburan tanah pada pertanian organic Untuk mengatur dan meningkatkan kesuburan tanah baik didalamnya terkait dengan peningkatan unsur hara maka dilakukan dengan pemupukan secara organic. Salah satu caranya adalah dengan pemberian pupuk guano karena menunjang ketersediaan N pada Inceptisol dan Serapan N sehingga meninkatkan hasil pertumbuhan tanaman. Adapun jenis pupuk anorganik yang sering digunakan petani pada tanaman budidaya yakni urea. Urea mempunyai kandungan nitrogen 46%, bersifat higroskopis dan mudah hilang dalam pencucian ysng intensif. Ditinjau dari pengertiannya, Kesuburan Tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tanaman yang diinginkan, pada lingkungan tempat tanah itu berada. Produk tanaman berupa: buah, biji, daun, bunga, umbi, getah, eksudat, akar, trubus, batang, biomassa, naungan, penampilan dan sebagainya. Oleh karena itu dengan menggunakan pupuk guano tesebut diperoleh beberapa manfaat diantaranya termasuk : banyak lur (cacing), menetralkan keasaman tanah, meningkatkan unsur hara tanah, akar lebih banyak, batang tanaman lebih besar, tanaman lebih kokoh dan kuat., daun lebih lebar dan tebal, warna daun hijau muda (pupus), daun tegak lurus, padi mentes (padat), beras lebih pulen, mengurangi gulma

4. Jelaskan dengan singkat rekayasa untuk meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah pada pertanian organic Pada pertanian organik peran bahan organik dalam meningkatkan kesehatan tanah sangat penting dalam hal ini tanah yang sehat diindikasikan dengan adanya beragam mikroorganisme di dalam tanah, baik sebagai dekomposer atau transformer senyawa organik menjadi anorganik, antagonis patogen, maupun sebagai simbion bagi tanaman, seperti mycorrhiza. Semakin banyak jumlah Dan jenisnya, semakin sehat kondisi tanah tersebut. Penambahan bahan organik secara teratur akan menjaga keseimbangan ekosistem di dalam tanah karena meningkatkan populasi dan aktivitas mikroorganisme di dalam tanah (Lumsden et al., 1983). Keterkaitan hubungan antarmikroba tersebut membuat sistem

biologi di dalam tanah tetap seimbang. Suatu kelompok mikroorganisme bisa menjadi antagonis atau predator bagi yang lainnya. Brundrett et al. (1996) menambahkan bahwa mycorrhiza sangat besar perannya pada tanah-tanah reklamasi yang kurang subur, salin, dan ber-pH ekstrem karena mampu berperan sebagai: pendaur nutrien dan konservasi tanah; transporter karbon dari tanaman ke organisme lain; antagonis berbagai patogen; suplai nutrien bagi tanaman, terutama senyawa yang sulit tersedia seperti P dan N; serta penetral ion logam beracun 5. Sebutkan bahan penyubur tanah yang diperbolehkan, dibatasi dan dan di larang pada pertanian organik (SNI- 2010) Tabel 1. Bahan yang diijinkan digunakan untuk penyubur tanah No. Jenis Bahan Keterangan 1. Kotoran ternak *) Diperbolehkan. Bahan yang berasal dari factory farming18 tidak diijinkan untuk digunakan. * Untuk kotoran yang dapat menyebabkan ketidak halalan harus dinyatakan dalam system mutunya.

Diperbolehkan . Sebaiknya digunakan setelah difermentasi dan/atau pengenceran yang tepat. Bahan yang berasal dari factory farming tidak diijinkan untuk digunakan. 3. Kompos dari kotoran ternak Diperbolehkan. Bahan yang berasal dari factory 18 farming tidak untuk digunakan.farming tidak Factory farming adalah sistem industri peternakan yang sangat bergantung pada diijinkan penggunaan input pangan dan obat-obatan yang tidak diijinkan dalam pertanian organik. diijinkan untuk digunakan.

2.

Cairan (slurry) atau urine ternak

No. 4. 5. 6. Guano

Jenis Bahan Sisa-sisa tanaman, mulsa, pupuk hijau Kompos dari sisa industri jamur, humus dari vermikultur Kompos dari limbah organik rumah tangga Kompos dari residu tanaman Limbah rumah potong hewan, industri perikanan dan pengolahan ikan. Produk samping industri pangan dan tekstil Serbuk gergaji, tatal dan limbah kayu. Abu kayu Batu fosfat alam Basic slag Batu kalium, garam kalium tambang (kainite, sylvinite ) Sulfat kalium (patenkali) Diperbolehkan. Diperbolehkan. Diperbolehkan.

Keterangan

7. 8. 9.

Diperbolehkan ---Diperbolehkan

10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Diperbolehkan. Dengan syarat tanpa ada perlakukan dengan bahan aditif sintesis. Diperbolehkan. Diperbolehkan. Diperbolehkan . Asalkan cadmiunnya tidak lebih dari 90 mg/kg P 2 O5 Diperbolehkan. Diperbolehkan. Asal kurang dari 60 % klorin. Diperbolehkan. Asalkan diperoleh dengan prosedur fisik tapi tidak diperkaya dengan proses kimia untuk meningkatkan solubilitasnya. ---------------Diperbolehkan. Tidak termasuk ammonium stillage Diperbolehkan. Hanya dari garam tambang. Diperbolehkan. Maksimum 90 mg/kg P 2 O5

17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24.

Kalsium karbonat alami (kapur tulis, batu kapur) Batuan magnesium Batuan magnesium kalkareous Garam epsom (magnesium sulfat) Gipsum (kalsium sulfat) Stillage dan stillage exstract Natrium klorida Aluminium kalsium fosfat

No. 25.

Jenis Bahan Trace elements (boron, tembaga, besi, mangan, molybdenum, seng) Sulfur Stone meal Clay (bentonit, perlit, zeolit) Organisme alami (cacing) Vermiculite Gambut Humus dari cacing tanah dan serangga Zeolit Arang kayu Chloride of lime (kapur clorida) Kotoran manusia Diperbolehkan.

Keterangan

26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36.

Diperbolehkan. ------------Diperbolehkan. Tidak termasuk bahan aditif sintesis, diijinkan untuk benih, kompos dalam pot. ---------Diperbolehkan Diperbolehkan. Sebaiknya diaerasi atau dikompos. Tidak diterapkan untuk tanaman yang langsung dikonsumsi manusia. Diperbolehkan Diperbolehkan

37. 38.

Hasil sampingan dari industri gula (vinasse) Hasil sampingan dari industri pengolahan kelapa sawit, kelapa dan coklat (termasuk tandan kosong, Lumpur sawit cocoa peat, dan empty cocoa pods) Hasil samping industri pengolahan ingredien dari pertanian organik

39.

Diperbolehkan

Catatan ---- tidak diatur oleh Negara manapun

6. Uraikan dengan singkat metoda pembuatan kompos secara aerob pada pertanian organic No
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Nama Bahan
Air bersih Gula Air cucian beras / daging / EM 4 Seresah Sekam/ dedak Pisang busuk Kotoran hewan Telor busuk Cangkang telur busuk

%
Secukupnya 0,5 kg 1 liter 35 10 35 10 5% 5%

Fungsi
Untuk melembabkan Untuk makanan bakteri Sebagai starter bagi pupuk Sumber unsur C Sumber unsur C Sumber unsur K Sumber banyak unsur. Mis. N, P, K, Ca Sumber unsur N Sumber unsur P dan Ca

Cara Pembuatan : Larutkan EM 4/air cucian beras/ air cucian daging dan gula Bahan-bahan pupuk organik diaduk hingga merata. Siramkan larutan EM 4/air cucian beras/ air cucian daging dan gula tadi secara merata hingga kandungan air 30-40% Gundukan bahan-bahan pupuk organik yang telah diaduk tadi pada tempat yang disediakan (lantai/karung/ember) hingga ketebalannya 15-20 cm, kemudian tutup dengan untuk menjaga kelembaban. Pertahankan suhu dalam gundukan pada kisaran 40-50 C dengan cara membuka dan mengaduk secara periodik (pengecekan setiap 5 jam atau 2 hari). Bila suhu terlalu tinggi akan mematikan mikroorganisme yang ada. Proses fermentasi bahan-bahan pupuk organik ini selesai dan siap digunakan setelah 4-7 hari dengan tanda pupuk berwarna hitam, gembur, tidak panas, dan tidak berbau (Indriani, 2005; Ginting, 2007)